Saya baru dapat pelajaran baru dari negeri kumpeni.
“Appointment” adalah kata yang saya asosiasikan dengan dunia kantoran, untuk menyebut janjian rapat. Atau kalaupun diperluas, yaaah, janjian dengan dokter.
Waktu awal datang ke negeri ini, saya terkejut karena “appointment” juga dipakai untuk gunting rambut. Sungguh, ketika itu saya rindu sekali dengan tukang gunting rambut di simpang dago langganan saya. Datang tinggal duduk, sambil menikmati asap sate kambing dari kedai sebelah.
Kedai gunting melayu di Ginza Plaza, bilangan Clementi, Singapura pun ndak perlu pakai “afspraak”. Tinggal datang, terus ambil nomor antrian kalau lagi jam sibuk. Sambil menunggu bisa jalan-jalan dulu, atau menunggu di Sakura Cuisine. (Nasi Nanasnya itu benar-benar alamak. Betul nggak Irzan?).
Saya pikir hanya sampai di situ keranjingan londo-londo ini terhadap “appointment”. Ternyata saya salah.
Tadi saya ke toko sepeda, mau minta servis sepeda. Dengan riangnya si penjaga toko membuka buku agenda (betul-betul buku agenda! di toko sepeda!). Dan isinya sudah penuh sampai minggu depan!
“Sebaiknya anda bikin “afspraak” dulu untuk hari Rabu minggu depan. Anda bisa datang pagi, terus ambil kembali sepedanya di sore harinya. Kalau mau tanpa “afspraak” boleh, tapi harus ditinggal sekarang dan baru bisa diambil hari Jumat sore paling cepat.”
Saya sempat melongo untuk mencerna kata-kata itu. Yaaah, daripada hidup beberapa hari tanpa sepeda di bike-infested country, lebih baik saya terima tawarannya.
Sambil saya membayangkan betapa kalau saya di Bandung, tinggal keluar ke tukang sepeda di pinggir jalan, biasanya langsung dikerjakan. Bisa ikutan jongkok sambil mengamati, atau ikut duduk di warung gorengan di sebelahnya. Ditemani teh botol dingin. Nikmat.
Hanya saja saya tidak begitu yakin, apakah harus terus memimpikan keadaan Bandung yang seperti itu, dengan si mamang tukang sepeda yang cuma bisa bikin bengkel di tepi jalan? Sama-sama tukang sepeda, tapi yang satu punya agenda yang penuh dengan “appointment” sampai minggu depan, satu lagi hanya bisa menunggu nasib.
Kalau tukang sepeda di Bandung bisa punya “izzah” yang sama dengan kolega mereka di Belanda, biarlah saya rela harus bikin “appointment” untuk servis sepeda. Daripada harus mengingat mereka duduk merokok di bengkelnya di tepi jalan, ditengah gerimis, menunggu pelanggan yang tak kunjung datang.
Eindhoven, 06.01.2004
# 9:11 pm