<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ery.djunaedy</title>
	<atom:link href="http://ery.djunaedy.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ery.djunaedy.com</link>
	<description>renung</description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 May 2012 13:13:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Menghafal</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/570</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/570#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 May 2012 13:13:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=570</guid>
		<description><![CDATA[Seorang Guru Besar ITB menyebutkan bahwa UN itu sesat. Salah satu argumen beliau adalah bahwa UN memaksa murid-murid untuk menghafal, bukannya menggunakan akal atau nalar. Saya tidak akan berkomentar tentang UN, tapi saya ingin mengingatkan bahwa menghafal itu adalah bagian penting dari pendidikan. Imam Al-Ghazzali suatu ketika pulang kampung setelah beliau selesai belajar. Beliau berjalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang Guru Besar ITB menyebutkan bahwa <a title="UN itu sesat" href="http://edukasi.kompas.com/read/2012/05/02/19545888/Guru.Besar.ITB.Sebut.UN.Sesat" target="_blank">UN itu sesat</a>. Salah satu argumen beliau adalah bahwa UN memaksa murid-murid untuk menghafal, bukannya menggunakan akal atau nalar. Saya tidak akan berkomentar tentang UN, tapi saya ingin mengingatkan bahwa menghafal itu adalah bagian penting dari pendidikan.</p>
<p><span id="more-570"></span></p>
<p>Imam Al-Ghazzali suatu ketika pulang kampung setelah beliau selesai belajar. Beliau berjalan kaki sementara keledainya penuh mengangkut buku yang dibawanya kembali setelah selesai mengaji. Di tengah jalan beliau dicegat oleh perampok, dan karena beliau tidak punya apa-apa lagi pada dirinya, si perampok mengambil keledai berikut barang bawaannya.<br />
Sang Imam kemudian berkeberatan dan memohon-mohon, &#8220;Tolong jangan kau ambil keledai itu, isinya hanya buku. Saya baru saja selesai belajar selama bertahun-tahun, dan itulah hasil pelajaran saya. Kalau kau ambil buku-buku itu, hilanglah sudah semua pelajaran yang sudah kulalui selama itu.&#8221;</p>
<p>Sang perampok menjawab dengan enteng, &#8220;ilmu macam apa yang kau pelajari itu? Masak ada ilmu yang bisa dicuri oleh perompak?&#8221;</p>
<p>Imam Al-Ghazzali menulis dalam bukunya, bahwa Allah-lah yang menakdirkan sang perompak itu berkata demikian. Setelah kejadian itu beliau tidak pernah lagi belajar, kecuali beliau mengahafalkan semua teks yang beliau pelajari. Yang sudah dihafalkan toch tidak bisa dicuri lagi?</p>
<p>Memang menghafal itu bukanlah syarat cukup dari sebuah pelajaran, tapi menghafal adalah syarat perlu, istilah jaman sekarang adalah pre-requisite. Kalau tidak menghafal, bagaimana bisa maju?</p>
<p>Imam Syafi&#8217;i ketika pertama kali meminta izin untuk diterima nyantri di bawah Imam Malik, beliau ditanya &#8220;anda sudah bisa apa?&#8221; Beliau menjawab &#8220;saya sudah hafal Al-Muwatta&#8217;&#8221;, buku karangan Imam Malik. Menghafal bukanlah akhir dari pembelajaran, ini semua orang tahu walaupun banyak yang nggak sadar. Yang banyak sekali dilupakan orang adalah, dalam dunia persilatan setingkat Imam Syafi&#8217;i dan Imam Malik, sebuah kualitas yang harus kita kejar, menghafal adalah awal dari proses pembelajaran. Imam Syafi&#8217;i diizinkan nyantri justru setelah beliau menghafal semua bahan pelajaran.</p>
<p>Ujian insinyur profesional (Professional Engineer) di Amerika biasanya berlangsung seharian (delapan jam). Peserta ujian dibebaskan untuk bawa buku apapun yang mereka mau. Secara teori, mereka bisa sih belajar sambil ujian. Tapi kalau mereka tidak menghafal semua materi sebelum ujian, waktu mereka hanya habis untuk membuka-buka buku.</p>
<p>Sama persis seperti salah satu mata kuliah yang saya ambil waktu kuliah di ITB, ujiannya terkenal susah karena sebenarnya juga menguji apa yang sudah kita pelajari sebelumnya. Ujiannya open book. Banyak mahasiswa yang secara enteng bilang, tenang aja kita bawa buku yang kita pelajari selama dua tahun terakhir, kita duduk ujian sambil belajar. Yang seperti ini biasanya terbukti sebagai mahasiswa kelas D. Yang kelas A, mereka akan menghafal dan tahu persis bagaimana mengerjakan semua soal dan hanya sekali-sekali membuka buku.</p>
<p>Bukankah orang Sunda menyebut aktivitas belajar di rumah dengan nama &#8220;<em>ngapalkeun</em>&#8220;?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/570/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Milis</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/559</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/559#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Mar 2012 23:15:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=559</guid>
		<description><![CDATA[Anda tahu milis kan? Itu loh, mailing list. Ajang diskusi virtual, di mana anda bisa mendaftarkan alamat email anda dan nanti anda akan menerima artikel yang dikirimkan oleh anggota milis itu. Saya hanya ingin menjelaskan apa saja pertimbangan saya untuk ikut sebuah milis, dan bagaimana saya mengikuti perkembangan posting di dalamnya. Semoga sharing pengalaman ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda tahu milis kan? Itu loh, <em>mailing list</em>. Ajang diskusi virtual, di mana anda bisa mendaftarkan alamat email anda dan nanti anda akan menerima artikel yang dikirimkan oleh anggota milis itu. Saya hanya ingin menjelaskan apa saja pertimbangan saya untuk ikut sebuah milis, dan bagaimana saya mengikuti perkembangan posting di dalamnya. Semoga sharing pengalaman ini ada manfaatnya, terutama agar kita semua tahu kapan harus mengirim komentar dan kapan harus tutup mulut.</p>
<p><span id="more-559"></span></p>
<p>Pertama: klasifikasi milis.</p>
<p>Saya membagi milis menjadi dua kategori besar: milis jaringan dan milis profesional. Milis jaringan adalah milis yang sifatnya primordial, yaitu untuk bersosialisasi. Yang termasuk kategori ini adalah milis alumni, milis angkatan, milis RT/RW, dll. Saya ada milis seperti ini karena saya ingin tahu perkembangan kawan-kawan alumni, atau perkembangan kampung di sekitar saya, blah blah blah, silakan lanjutkan sendiri. Dalam kategori ini saya ikut milis Alumni ITB, alumni TF-ITB, milis angkatan 89 TF-ITB. Saya juga ikut milis komunitas muslim asal Indonesia, baik di Singapura (tempat saya dulu tinggal) maupun di Amerika (tempat saya tinggal sekarang).</p>
<p>Milis profesional adalah milis yang saya ikuti karena saya ingin mendalami sebuah topik. Ini biasanya berkaitan dengan bidang kerja saya yaitu simulasi kinerja bangunan (building performance simulation). Ada juga bidang lain di luar bidang kerja saya yang saya ikuti dengan serius, yaitu masalah makanan, terutama makanan halal dan makanan karbo-rendah. Dalam kategori ini saya ikut milis building simulation, milis arsitek, milis tukang AC, serta milis HBE (halal baik enak).</p>
<p>Milis SD-Islam masuk dalam kategori milis profesional yang saya ikuti karena minat saya dalam bidang pendidikan dasar. Apalagi waktu itu (sekitar tahun 2002) adalah saat-saat anak kami pertama kali masuk SD, jadi saya ingin mengikut perkembangan pendidikan Islam. Baik itu topik tentang (a) bagaimana mengajarkan Islam kepada anak SD, atau (b) bagaimana kualitas sekolah Islam (SDIT, pesantren, dll) secara umum, atau (c) bagaimana kualitas pelajaran umum (terutama matematika dan sains) dalam sekolah Islam.</p>
<p>Yang  saya selalu utamakan adalah milis yang bisa bertindak sebagai dua kategori sekaligus, yaitu milis jaringan yang juga merupakan sumber informasi untuk suatu bidang kajian tertentu. Ini terjadi biasanya karena ada orang-orang yang menjadi nara sumber di milis jaringan yang pendapatnya di bidang tersebut sangat didengar.</p>
<p>Misalnya ada Pak Anton di milis HBE, beliau adalah aktivis makanan halal sejak sebelum jadi menteri. Beliau off-line ketika sibuk jadi menteri, tapi sekarang sudah muncul lagi. Artikel kiriman beliau ke milis selalu memberikan pelajaran baru.</p>
<p>Saya tidak berlangganan milis satupun dalam kategori islam. Dulu saya berlangganan milis is-lam@ di tahun 95an di jaman Andi (dan Rizal) Mallarangeng masih jadi pentolan milis. Sekarang tidak lagi. Kebutuhan saya tentang informasi perkembangan Islam dipenuhi oleh artikel (dan sentilan) yang dikirimkan oleh kawan-kawan baik di Imas (Singapura) maupun di Imsa (Amerika). Di milis Imsa ada Ustadz Syamsi Ali yang artikelnya sekalu memberikan wawasan baru tentang kehidupan muslim sebagai minoritas. Imsa juga punya relawan yang aktif memberikan informasi perkembangan Islam baik di tanah air maupun di Amerika.</p>
<p>Contoh lainnya adalah milis AlumniTF yang kebetulan punya anggota Pak KK yang mantan menteri, dan juga Abah Rama, yang sekarang sudah jadi guru bakat tingkat nasional. Dan banyak lagi anggota AlumniTF yang selalu memberi update tentang masalah teknologi serta pendidikan teknologi di Indonesia.</p>
<p>Itu adalah contoh milis jaringan yang bisa memenuhi kebutuhan saya di beberapa bidang yang saya minati.</p>
<p>***</p>
<p>Kedua: bagaimana saya mengikut milis</p>
<p>FYI saya mengikut sebanyak 27 milis lewat email, plus sekitar 10an blog yang saya ikuti melalui Google Reader. Saya tidak membaca email lewat telepon, jadi membaca email hanya melalui layar komputer.</p>
<p>FYI juga, saya tidak baca berita sama sekali. Saya punya tautan RSS dari beberapa media tanah air yang saya ikuti lewat Google Reader (Detik, Kompas, etc), tapi biasanya saya hanya klik sehari sekali, dan hanya membaca judulnya sekilas, lalu tekan &#8220;Mark all read&#8221;. Judul yang terbaca biasanya hanya sejumlah baris yang muat dalam layar komputer saya, selebihnya saya akan biarkan saja tanpa disentuh. Saya hanya baca berita kalau isunya dibahas di milis, dan itupun kalau tautannya disediakan.</p>
<p>FYI lagi, sebagai akademia saya harus membaca banyak artikel yang diterbitkan di berbagai jurnal ilmiah dan majalah profesi. Ini adalah prioritas saya dalam menambah informasi yang relevan untuk profesi dan minat saya. Waktu sisanya adalah apa yang bisa saya alokasikan untuk milis.</p>
<p>Dengan waktu yang sedikit itu maka saya sangat berharap bahwa waktu saya untuk milis memang berguna untuk tujuan awal ketika saya ikut milis, plus bonusnya tentu saja. Bonus, bukan efek samping. Artinya, membaca milis haruslah membuka wawasan baru. Rugi sekali rasanya kalau membaca milis tapi isinya hanya sampah.</p>
<p>***</p>
<p>Ketiga: volume milis.</p>
<p>Milis yang serius biasanya punya volume artikel yang tidak terlalu besar, relatif terhadap jumlah peserta milis. Berikut perbandingan volume posting dalam rentang waktu yang sama:</p>
<p>Milis SenyumITB, 7415 orang, 23,536 posting</p>
<p>Milis AlumniTF, 1042 orang, 25,615 posting</p>
<p>Milis arsitek, 2230 orang, 3650 posting</p>
<p>Milis SD-Islam, 1517 orang, 4987 posting</p>
<p>Milis EnergyPlus, 3116 orang, 3942 posting</p>
<p>Anda bisa menebak kan milis yang mana yang saya ikuti dengan serius, kan?</p>
<p>***</p>
<p>Kenapa saya tuliskan hal ini?</p>
<p>Trigernya adalah milis SD-Islam. Dari ribuan posting itu, hanya sebagian kecil saja yang berkenaan dengan Islam. Topik pendidikan atau topik pendidikan Islam adalah topik minoritas. Di milis ini, topik poligami lebih menarik untuk dibicarakan, atau tentang Ahmadiyah.</p>
<p>Milis ini, dan banyak milis-milis lainnya, akan sangat kehilangan gregetnya ketika informasinya sudah jadi sampah. Saya tidak mengatakan bahwa informasi tentang poligami atau Ahmadiyah tidak penting. Topik itu mungkin saja penting, tapi tidak di milis SD-Islam. Dalam konteks lingkup milis, informasi itu adalah sampah.</p>
<p>Yang saya sayangkan adalah akibatnya. Saya membayangkan bahwa di jaman teknologi seperti sekarang ini, orang-orang penting (i.e. mereka yang membuat keputusan penting) akan ikut memonitor topik-topik yang beredar di milis. Yang saya pikirkan bukan hanya pejabat di kementrian pendidikan, yang sepatutnya memantau milis untuk mengetahui suara di tingkat akar rumput. Tetapi yang jauh lebih penting adalah para pelaku pendidikan yang sehari-hari mengelola sekolah dasar Islam. Mana ada waktu untuk bertukar pikiran secara jernih kalau milis SD-Islam dipenuhi oleh artikel poligami?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/559/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Matematika pahala</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/565</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/565#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Mar 2012 22:38:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=565</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah hadits yang sangat masyhur, Nabi s.a.w. bersabda: Orang yang membaca Quran dengan mahir akan bersama malaikat sang pencatat yang mulia, dan orang yang membaca Quran dengan terbata-bata dan merasa sulit dengan bacaannya akan mendapat dua pahala. Hadits ini seringkali dipahami bahwa orang yang membaca Quran terbata-bata akan mendapatkan pahala berlipat, yang lebih banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sebuah hadits yang sangat masyhur, Nabi s.a.w. bersabda:</p>
<blockquote><p>Orang yang membaca Quran dengan mahir akan bersama malaikat sang pencatat yang mulia, dan orang yang membaca Quran dengan terbata-bata dan merasa sulit dengan bacaannya akan mendapat dua pahala.</p></blockquote>
<p><span id="more-565"></span></p>
<p>Hadits ini seringkali dipahami bahwa orang yang membaca Quran terbata-bata akan mendapatkan pahala berlipat, yang lebih banyak dari orang yang lancar bacaannya. Pahalanya berganda karena akan mendapatkan pahala orang yang membaca Quran, plus pahala kesusahan. Dalam konteks ini, kata &#8220;ajraani&#8221;  diujung hadits tersebut diterjemahkan sebagai &#8220;pahala ganda&#8221; atau &#8220;pahala dobel&#8221;.</p>
<p>Padahal hadits ini tidak sepatutnya dipahami seperti ini. Ada dua keberatan saya. Pertama, bagaimana mungkin orang yang baca Quran dengan &#8220;mahir&#8221;, yaitu lancar dan bertajwid, akan mendapatkan pahala lebih sedikit dari orang yang membacanya terbata-bata? Kedua, kalau dipahami seperti ini, maka bukankah tidak akan ada orang yang belajar untuk membaca Quran dengan baik dan benar? Untuk apa belajar baca Quran dengan benar kalau baca terbata-bata saja pahalanya sudah lebih banyak?</p>
<p>Tentu ada kesalahan logikan di sini. Pemahaman yang keliru itu sebenarnya berakar pada konversi matematika pahala. Kalau orang yang terbata-bata itu mendapatkan pahala lebih banyak, maka kita harus mengasumsikan bahwa &#8220;duduk setara dengan malaikat sang pencatat&#8221; adalah berharga satu pahala, sehingga orang yang membaca Quran terbata-bata mendapat lebih banyak pahala karena di hadits itu disebutkan mendapat &#8220;dua pahala&#8221;.</p>
<p>Dari mana kita bisa pasang harga bahwa kedudukan setara dengan malaikat sang pencatat itu berharga satu pahala? Buat saya, kedudukan itu berharga seribu pahala, bahkan sejuta pahala. Berapa tepatnya, tentunya kita hanya bisa menebak karena tidak disebutkan di dalam hadits tersebut.</p>
<p>Bahwa orang yang membaca Quran terbata-bata mendapatkan dua pahala, maka itu adalah benar adanya. Mereka mendapatkan pahala membaca Quran, serta pahala bersusah payah membacanya. Tapi ini tidak ada bandingannya dengan pahala orang yang membaca Quran dengan mahir.</p>
<p>Not even close.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/565/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Malam Minggu</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/546</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/546#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jul 2011 23:05:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=546</guid>
		<description><![CDATA[Ini cerita jaman dulu ketika tinggal di asrama Wisma Teuku Umar (a.k.a. Asrama Cicendo). Suatu malam minggu, seorang senior memberiku wejangan yang kudengarkan dengan seksama. &#8220;Dek, kau ini harus cepat cari cewek. Jangan tiap malam minggu duduk aja di asrama&#8221;, kata beliau. Dasar anak asrama, wejangan rasanya kurang nikmat kalau tidak disambung dengan ejekan. &#8220;Bek [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini cerita jaman dulu ketika tinggal di asrama Wisma Teuku Umar (a.k.a. Asrama Cicendo). Suatu malam minggu, seorang senior memberiku wejangan yang kudengarkan dengan seksama. &#8220;Dek, kau ini harus cepat cari cewek. Jangan tiap malam minggu duduk aja di asrama&#8221;, kata beliau.</p>
<p><span id="more-546"></span></p>
<p>Dasar anak asrama, wejangan rasanya kurang nikmat kalau tidak disambung dengan ejekan. &#8220;Bek ka turut that si gam nyan,&#8221; katanya sambil menunjuk senior yang lain yang juga sedang nonton TV, &#8220;tiep uroe nyng na ciet peugah haba cewek mantong, tapi troek malam minggu duek di asrama&#8221;. Artinya kurang lebih begini: &#8220;Jangan macam agam yang satu ini, tiap hari cerita cewek tapi giliran malam minggu duduk di asrama&#8221;. Maksudnya, kalau sudah cerita cewek tiap hari mbok ya malam minggu itu jangan cuman di asrama, tapi berangkat apel.</p>
<p>Saya yang waktu itu baru masuk asrama tentunya harus mendengar cerita senior ini dengan takzim.</p>
<p>Tak lama kemudian, datanglah salah satu dedengkot senior asrama ke ruangan TV. Saya tanya, &#8220;Nggak malam mingguan, Bang?&#8221;</p>
<p>Maka bersabdalah senior yang tak kunjung lulus ini:</p>
<blockquote><p>Dek, bek ka dengoe that si gam nyan. Aneuk asrama nyoe ka terkenal, menyoe ka malam minggu mandum jak u lua. Di asrama meusigak mandum peugah jak apel, tahu-tahu ka enteuk ka meusapat bandum bak Mak Icih.</p></blockquote>
<p>&#8220;Dek, jangan terlalu kau dengar apa kata dia&#8221;, katanya sambil menunjuk orang yang tadi menasehati saya, &#8220;Anak asrama ini sudah terkenal, kalau malam minggu dengan lagaknya keluar semua, dari asrama pamit mau apel, ternyata nanti semuanya saling kepergok di warung Mak Icih.&#8221;</p>
<p>***</p>
<p>Sampai lama menjelang saya menikah, saya masih tetap tinggal di asrama waktu malam minggu. Si Abang Senior secara berkala masih tetap dengan petuah lamanya, &#8220;Dek cepatlah kau cari cewek&#8221;. Suatu waktu, ketika saya sudah cukup senior di asrama, dan sudah berani bersuara, saya menjawab singkat, &#8220;Bang, nggak usahlah banyak cakap tentang masalah cewek. Kita buktikan saja nanti, kalau kita sudah menikah, istri siapa yang lebih cantik.&#8221;</p>
<p>Seluruh ruang TV jadi terbahak mendengar tantangan ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/546/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Penjaja</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/527</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/527#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jun 2011 02:34:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Economy]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Human resource]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=527</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Pak, semir Pak?&#8221; katanya menawarkan jasa semir sepatu waktu saya sedang ngobrol menunggu pesawat di Bandara Sukarno-Hatta. &#8220;Kamu temannya Mamad, ya?&#8221; tanya saya. Dia gelagapan mendengar pertanyaan saya, karena mungkin tidak mengharapkan pertanyaan itu. Dia tetap bengong, maka saya tanya lagi, &#8220;Kamu kenal sama Mamad, nggak?&#8221; Dia jawab, &#8220;Nggak, Pak&#8221;. &#8220;Naah&#8221;, sambung saya, &#8220;Mamad itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Pak, semir Pak?&#8221; katanya menawarkan jasa semir sepatu waktu saya sedang ngobrol menunggu pesawat di Bandara Sukarno-Hatta.</p>
<p>&#8220;Kamu temannya Mamad, ya?&#8221; tanya saya. Dia gelagapan mendengar pertanyaan saya, karena mungkin tidak mengharapkan pertanyaan itu. Dia tetap bengong, maka saya tanya lagi, &#8220;Kamu kenal sama Mamad, nggak?&#8221;</p>
<p>Dia jawab, &#8220;Nggak, Pak&#8221;.</p>
<p>&#8220;Naah&#8221;, sambung saya, &#8220;Mamad itu anak sebesar kamu yang baru saja menyemir sepatu saya.&#8221; Dia tersenyum kecut karena kehilangan calon pelanggan, kemudian terus pergi.</p>
<p><span id="more-527"></span></p>
<p>***</p>
<p>Mamad (kita sebut saja begitu namanya) memang sudah menyemir sepatu saya. Dia menghampiri saya untuk meminta menyemir sepatu saya. Ternyata dia berpasangan dengan kawannya.</p>
<div id="attachment_529" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2011/06/MamadSemir_2011-05-20-133606.jpg"><img class="size-medium wp-image-529" title="Mamad Tukang Semir di Bandara" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2011/06/MamadSemir_2011-05-20-133606-300x225.jpg" alt="Mamad Tukang Semir di Bandara" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Mamad Tukang Semir di Bandara</p></div>
<p>Ketika sudah selesai menyemir, mereka saya tanya &#8220;Jadi berapa yang saya harus bayar?&#8221;</p>
<p>Mereka menjawab, &#8220;Terserah bapak saja, seikhlasnya.&#8221;</p>
<div id="attachment_530" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-530" href="http://ery.djunaedy.com/archives/527/mamadsemir_2011-05-20-133557"><img class="size-medium wp-image-530" title="Mamad sedang sibuk nyemir" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2011/06/MamadSemir_2011-05-20-133557-300x225.jpg" alt="Mamad sedang sibuk nyemir" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Mamad sedang sibuk nyemir</p></div>
<p>Itu jawaban yang dari dulu saya tidak suka. Pertama, itu menunjukkan bahwa mereka tidak punya rasa percaya diri dengan layanan yang mereka tawarkan. Kedua, mereka juga bermain dengan perasaan pelanggan dengan menggunakan kata ikhlas. Semua orang juga bingung kalau harus menerjemahkan kata ikhlas menjadi berapa rupiah.</p>
<p>Karena itu saya damprat saja mereka, &#8220;Ya nggak bisa begitu dong, kalian harus bilang saya harus bayar berapa?&#8221;</p>
<p>Baru mereka buka mulut, &#8220;Lima ribu, Pak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu untuk berdua?&#8221; tanya saya. &#8220;Betul, Pak&#8221;, jawab mereka.</p>
<p>Jumlah itu saya rasa cocok dengan tingkat layanan yang mereka berikan. Bahwa mereka dengan berani menyebutkan jumlahnya, saya beri mereka tambahan uang. Bahwa mereka tidak berusaha mengambil kesempatan dalam kesempitan, yaitu dengan melakukan mark-up besar-besaran dengan mengandalkan rasa bersalah pelanggan yang sudah menerima layanan tapi belum bayar, itu juga saya berikan bonus tambahan uang.</p>
<p>Mereka pergi dengan senyum yang mengembang, dan saya pun senang sekali karena sepatu yang sudah kusam jadi tampak lebih terawat.</p>
<p>***</p>
<p>Ini berbeda dengan Sang Penjaja lainnya yang saya temui di pintu tol. Dari jauh sudah kelihatan, ada orang yang menjajakan lampu LED. Lampunya cukup kecil, yang dalam perkiraan saya harganya sekitar 10-15 ribuan.</p>
<p>Ketika dia mendekat, saya membuka jendela mobil. &#8220;Berapa satu, Pak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lima puluh ribu, Pak&#8221;, jawabnya.</p>
<p>&#8220;Hah, mahal amat! Nggak jadi, Pak.&#8221; jawab saya.</p>
<p>Seperti bisa ditebak, Sang Penjaja melesat mengikuti mobil yang sudah maju perlahan, &#8220;Maunya berapa, Pak?&#8221;</p>
<p>Saya bilang, &#8220;Nggak jadi, Pak, kemahalan.&#8221;</p>
<p>Dia terus mengikuti mobil yang bergerak perlahan. Kakak saya yang sedang menyetir sudah merasa tidak enak diikuti seperti itu. Dan tampaknya Sang Penjaja bisa menebak hal ini, dia kemudian memutar ke sisi pengemudi dan kembali berkata, &#8220;Maunya berapa, Pak?&#8221;</p>
<p>Saya bilang, &#8220;Nggak Pak, nggak jadi&#8221;.</p>
<p>Akhirnya Sang Penjaja itu mengeluarkan jurusnya yang terakhir, &#8220;Dua puluh ribu saja bagaimana Pak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak, Pak, nggak jadi.&#8221; jawab saya sebelum mobil kami meluncur ke dalam jalan tol, dan Sang Penjaja itu tidak mengikuti kami lagi.</p>
<p>***</p>
<p>Saya terkena omelan kakak dan ibu saya yang dari tadi hanya diam mengamati. Kenapa tidak dibeli saja, kan sudah murah?</p>
<p>Buat saya, ini bukan masalah harganya sudah murah. Tapi ini masalah mark-up yang tidak masuk akal.</p>
<p>Kalau saja sejak awal Sang Penjaja itu menawarkan barangnya seharga 20 ribu rupiah, saya akan beli tiga. Tetapi ketika dia menawarkannya seharga 50 ribu, maka hati saya bertanya-tanya. Ada dua kemungkinan. Pertama, barangnya memang segitu harganya, tapi kalau memang begitu saya memang tidak berniat membeli. Kemungkinan kedua, ya itu tadi. Dia melakukan mark-up yang luar biasa besarnya, dan sedang memancing di tengah ketidaktahuan pelanggannya.</p>
<p>Buat saya ini tidak jujur. Sekalipun harganya hanya 30 ribu perak, bahkan seribu perakpun, tetaplah tidak jujur. Kenyataan bahwa jumlahnya sangat kecil, justru mempertajam betapa tragisnya kondisi Sang Penjaja itu.</p>
<p>Saya memilih untuk tidak mendukung pola dagang seperti itu dengan tidak membeli dari Sang Penjaja. Sebaliknya, saya mendukung penuh Si Tukang Semir &#8212; Mamad ini ataupun Mamad-Mamad lain &#8212; dengan memberikan bonus berlipat karena kejujurannya dalam memberikan harga.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/527/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kontradiksi</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/522</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/522#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jun 2011 04:28:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Food]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=522</guid>
		<description><![CDATA[Misalkan anda diundang ke sebuah undangan makan malam, dan menunya sangat menjanjikan untuk menjadi pesta besar. Anda diminta datang dengan perut kosong dan nafsu makan yang besar, dan anda diminta untuk melakukan sesuatu untuk memastikan bahwa anda bisa makan banyak sekali nanti malam. Apa yang akan anda lakukan untuk membuat anda bisa makan banyak? Apapun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Misalkan anda diundang ke sebuah undangan makan malam, dan menunya sangat menjanjikan untuk menjadi pesta besar. Anda diminta datang dengan perut kosong dan nafsu makan yang besar, dan anda diminta untuk melakukan sesuatu untuk memastikan bahwa anda bisa makan banyak sekali nanti malam.</p>
<p>Apa yang akan anda lakukan untuk membuat anda bisa makan banyak?</p>
<p><span id="more-522"></span></p>
<p>Apapun yang anda lakukan, mestinya akan tergolong pada dua kategori saja. Pertama: mengurangi makan, misalnya tidak makan siang biar bisa makan banyak nanti malam. Kedua: menambah aktivitas, misalnya berjalan kaki satu dua kilometer menuju ke tempat makan malam.</p>
<p>Betulkan? Bahwa semua alternatif kegiatan yang anda lakukan untuk menambah nafsu makan nanti malam dapat digolongkan menjadi dua kategori itu, kan?</p>
<p>Pasti begitu, dan jawaban anda juga sudah pasti benar.</p>
<p>Yang harus anda sadari adalah bahwa kedua hal tadi, yaitu mengurangi makan dan menambah aktivitas, adalah dua hal yang selalu diulang-ulang oleh banyak orang sebagai solusi masalah kegemukan. Artinya, kalau anda tidak mau gemuk maka anda harus mengurangi makan (atau at least makan secukupnya) dan atau anda harus aktif bergerak dalam arti berolah raga.</p>
<p>Apa yang disarankan oleh banyak orang sebagai solusi masalah kegemukan, sebenarnya sama dengan alternatif kegiatan yang anda lakukan untuk menambah nafsu makan. Artinya apa? Banyak orang mau kurus dengan melakukan dua kegiatan ini, tapi ujung-ujungnya mereka malah tambah lahap makannya.</p>
<p>(credit: disadur dari buku <em>Why we get fat and what to do about it</em>.)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/522/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tengkleng Bola</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/514</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/514#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Dec 2010 14:27:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Food]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=514</guid>
		<description><![CDATA[Menghadapi pertandingan bola PSSI, saya melakukan persiapan yang cukup panjang. Pertanyaannya, apa sarapan yang sedap untuk menemani acara nonton bola yang berlangsung pukul 5 pagi waktu Amerika? Pilihan saya: tengkleng kepala kambing. Ini dia bahan aslinya, sekitar jam 9 malam: Tentang resepnya, saya ambil dari internet, kombinasi antara resep ini dan ini. Kombinasinya sudah lupa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menghadapi pertandingan bola PSSI, saya melakukan persiapan yang cukup panjang. Pertanyaannya, apa sarapan yang sedap untuk menemani acara nonton bola yang berlangsung pukul 5 pagi waktu Amerika?</p>
<p>Pilihan saya: tengkleng kepala kambing.</p>
<p><span id="more-514"></span></p>
<p>Ini dia bahan aslinya, sekitar jam 9 malam:</p>
<div id="attachment_516" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/TengklengBola_SebelumMasak_201012252028.jpg"><img class="size-medium wp-image-516" title="Tengkleng: persiapan nonton bola" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/TengklengBola_SebelumMasak_201012252028-300x225.jpg" alt="Tengkleng: persiapan nonton bola" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Tengkleng: persiapan nonton bola</p></div>
<p>Tentang resepnya, saya ambil dari internet, kombinasi antara resep <a title="Resep Tengkleng Rumah Wanita" href="http://www.rumahwanita.com/tag/tengkleng" target="_blank">ini</a> dan <a title="Resep Tengkleng Pawon Hani" href="http://pawonhani.blogspot.com/2009/03/resep-tengkleng-solo.html" target="_blank">ini</a>. Kombinasinya sudah lupa lagi nih, hanya resep Pawon Hani pakai santan, sedangkan saya memilih tidak pakai santan versi Rumah Wanita. Anda pasti ingat bahwa ini adalah percobaan kedua saya memasak tengkleng.</p>
<p>Hasilnya? Lihat gambarnya: bola, tengkleng dan kopi. Ini setelah dimasak sekitar delapan jam, dikurangi airnya, dan dibumbui lagi menjelang kick-off.</p>
<div id="attachment_517" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/TengklengBola_SarapanKopiBola_201012260636.jpg"><img class="size-medium wp-image-517" title="Tengkleng: bola dan kopi" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/TengklengBola_SarapanKopiBola_201012260636-300x225.jpg" alt="Tengkleng: bola dan kopi" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Tengkleng: bola dan kopi</p></div>
<p>Sarapan yang nikmat tentunya. Sayangnya, Indonesia dicukur 3-0 oleh pasukan Malaysia. Agak berkurang kenikmatan makan tengkleng ini.</p>
<p>Kesimpulan saya? Susah karena tidak ada referensinya. Dua-duanya baik tengkleng ataupunya bola.</p>
<p>Untuk tengkleng saya benar-benar tidak tahu rasa aslinya seperti apa, karena di Indonesia belum pernah makan. Hanya kali ini rasanya lebih enak dibandingkan percobaan saya yang pertama, karena saya mengurangi air rebusan kepala kambing sebelum dibumbui lagi. Bumbunya cukup sedap rasanya.</p>
<p>Untuk bola, ini pertandingan pertama yang saya tonton sejak adanya euphoria PSSI. Saya tidak punya referensi bagaimana garangnya PSSI yang pernah menggulung squad Malaysia 5-1. Yang saya dapatkan adalah pemain PSSI yang kocar-kacir setelah protes karena diperlakukan curang oleh penonton yang sibuk main petasan sambil menembakkan laser ke mata kiper. Setelah protes, PSSI kocar-kacir, sama sekali tidak fokus.</p>
<p>Kayaknya memang bola tengkleng membuat bolanya nanduk ke sana kemari.</p>
<div id="attachment_518" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/TengklengBola_HabisDah_201012260649.jpg"><img class="size-medium wp-image-518" title="Tengkleng: habis tiga kosong" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/TengklengBola_HabisDah_201012260649-300x225.jpg" alt="Tengkleng: habis tiga kosong" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Tengkleng: habis tiga kosong</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/514/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Renovasi Masjid Salman</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/498</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/498#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Dec 2010 06:26:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architecture]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=498</guid>
		<description><![CDATA[Ada hal yang menarik perhatian saya ketika menerima proposal renovasi Masjid Salman: ada aspek fisika bangunannya. Apa mungkin karena saya sudah lama tidak melihat proposal pembangunan masjid. Dulu yang namanya proposal pembangunan masjid mana ada komponen untuk peningkatan &#8220;tata suara&#8221; atau &#8220;tata cahaya&#8221;. Tapi di proposal ini ada. Dan yang disebut &#8220;tata suara&#8221; itu bukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada hal yang menarik perhatian saya ketika menerima proposal renovasi Masjid Salman: ada aspek fisika bangunannya. Apa mungkin karena saya sudah lama tidak melihat proposal pembangunan masjid. Dulu yang namanya proposal pembangunan masjid mana ada komponen untuk peningkatan &#8220;tata suara&#8221; atau &#8220;tata cahaya&#8221;. Tapi di proposal ini ada.</p>
<p><span id="more-498"></span></p>
<div id="attachment_502" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/Salman_TampakDalam.png"><img class="size-medium wp-image-502" title="Masjid Salman - Tampak Dalam" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/Salman_TampakDalam-300x200.png" alt="Masjid Salman - Tampak Dalam" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Masjid Salman - Tampak Dalam</p></div>
<p>Dan yang disebut &#8220;tata suara&#8221; itu bukan hanya masalah beli pengeras suara. Berikut kutipan descripsi pekerjaan itu:</p>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Pada beberapa titik di dalam masjid, suara ceramah cenderung bergema dan tak jelas, untuk itu perlu dilakukan penataan ulang suara di dalam masjid agar jamaah bisa menangkap butir-butir ceramah dan presentasi di dalam masjid.</div>
</blockquote>
<p>Ini namanya pelayanan jamaah, memberikan kenyamanan bagi jamaah masjid untuk beribadah, dengan menggunakan teknologi. Dan kalau anda teruskan ke bagian akhir proposal itu, memang rincian biayanya adalah untuk biaya konsultan serta peralatan pengukuran.</p>
<p>Masih ada bagian &#8220;tata cahaya&#8221;, yang permasalahannya sekarang lebih sederhana:</p>
<blockquote><p>Pada 4 pilar di bagian depan masjid, perlu dipasang lampu sorot berkekuatan kecil untuk  melayani jamaah yang akan membaca Al?Quran, sehingga meningkatkan pemanfaatan Al?Quran waqaf, dan menahan lebih banyak jamaah di dalam masjid di antara waktu shalat.</p></blockquote>
<div>Bagi yang pernah ke Masjid Salman, memang bagian depan itu terkadang tidak kondusif (terlalu remang-remang) untuk bisa membaca Al-Quran dengan nyaman. Saya hanya usul supaya lampu sorotnya dipilih yang hemat energi, syukur-syukur bisa LED.</div>
<div>***</div>
<div>Satu lagi yang menarik perhatian saya dari proposal ini, yaitu adanya rencana untuk memberi proyektor dan kamera. Saya yang sudah lama merindukan khutbah-khutbah dari Salman, tentunya berharap bahwa nantinya kita akan bisa mendapatkan rekaman acara-acara di Salman. Siapa tahu bisa siaran langsung.</div>
<div></div>
<div>Tentunya bukan hanya itu (tata cahaya dan tata suara), masih banyak aspek lain dari renovasi yang bisa anda sumbang, tergantung minat anda. WC dan tempat wudhu wanita misalnya, sejak dulu yang cuman sepotong kecil itu saja. Rencananya sekarang mendapat porsi yang cukup besar dari total rencana renovasi ini. Atau tempat bermain anak-anak.</div>
<p>Untuk lebih lengkapnya silakan lihat <a title="Proposal Renovasi Minor Masjid Salman" href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/RencanaRenovasiMinorMasjidSalman20101201.pdf" target="_blank">proposal lengkapnya di sini</a>. Dan tentunya jangan lupa ikutan menyumbang.</p>
<p>***</p>
<p>Bagaimana Masjid Salman sekarang? Berikut seluruh kompleks masjid tampak dari atas.</p>
<div id="attachment_501" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/SalmanBirdView.png"><img class="size-medium wp-image-501" style="padding: 0px; margin: 0px; border: 0px none initial;" title="Masjid Salman - Bird View" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/SalmanBirdView-300x235.png" alt="Masjid Salman - Bird View" width="300" height="235" /></a><p class="wp-caption-text">Masjid Salman - Bird View</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/498/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah preman tobat</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/465</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/465#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Dec 2010 20:08:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=465</guid>
		<description><![CDATA[Anda punya kawan yang jadi penulis buku? Pernah merasa kaget, lho kok dia bisa menulis buku? Nah, itulah yang saya rasakan waktu tahu Andi Bombang sudah menerbitkan buku. Ketika tahu bahwa bukunya adalah sebuah novel, wah, tambah penasaran lagi saya. Bukan apa-apa, saya tahu persis Andi Bombang jaman masih pakai seragam putih biru bercelana pendek. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="clear:both"><div style="float:left;padding-right:10px;padding-bottom:10px;"><a href='http://openlibrary.org/books/OL19141980M/Kun--_fayakun' ><img src='http://covers.openlibrary.org/b/id/6670772-M.jpg' alt='Kun-- fayakun' title='View this title in Open Library' /></a></div><div style="font-size:18px;font-weight:bold;"><a href='http://openlibrary.org/books/OL19141980M/Kun--_fayakun' title='View this title in Open Library' >Kun-- fayakun</a></div><div style="font-size:14px;"><a href='http://openlibrary.org/authors/OL5647750A/Bombang_Andi' title='View this author in Open Library' >Bombang Andi</a>; Diva Press 2007</div><div style="font-size:10px;"><a href="http://worldcat.org/isbn/9799634229" title="View this title at WorldCat">WorldCat</a>&#8226;<a href="http://librarything.com/isbn/9799634229" title="View this title at LibraryThing">LibraryThing</a>&#8226;<a href="http://books.google.com/books?as_isbn=9799634229" title="View this title at Google Books">Google Books</a>&#8226;<a href="http://www.bookfinder.com/search/?st=xl&ac=qr&isbn=9799634229" title="Search for the best price at BookFinder">BookFinder</a></div><span class="Z3988" title="ctx_ver=Z39.88-2004&amp;rft_val_fmt=info%3Aofi%2Ffmt%3Akev%3Amtx%3Abook&amp;rfr_id=info%3Asid%2Fery.djunaedy.com%3AOpenBook&amp;rft.genre=book&amp;rft.btitle=Kun--+fayakun&amp;rft.isbn=9799634229&amp;rft.au=Bombang+Andi&amp;rft.place=Banguntapan%2C+Jogjakarta&amp;rft.pub=Diva+Press&amp;rft.date=2007&amp;rft.tpages=626">&nbsp;</span></div>
<p>Anda punya kawan yang jadi penulis buku? Pernah merasa kaget, lho kok dia bisa menulis buku? Nah, itulah yang saya rasakan waktu tahu Andi Bombang sudah menerbitkan buku. Ketika tahu bahwa bukunya adalah sebuah novel, wah, tambah penasaran lagi saya.</p>
<p><span id="more-465"></span></p>
<p>Bukan apa-apa, saya tahu persis Andi Bombang jaman masih pakai seragam putih biru bercelana pendek. Nilai Bahasa Indonesianya memang selalu tinggi, dia termasuk murid favorit Pak &#8230; aah entah siapa nama Bapak Berambut Keriting itu, guru Bahasa Indonesia kami di SMP. Tapi menulis cerita? Apalagi sebuah novel?</p>
<p>Maka sangat kuatlah tekad saya untuk membuktikan sendiri kedigjayaan Bombang dalam mengolah kata. Bukunya saya cari, dan ternyata tidak terlalu jauh dari kampung saya: ada di perpustakaan University of Washington. Langsung saya pesan melalui Inter-Library Loan.</p>
<p>***</p>
<p>Begitu saya terima kiriman dari perpustakaan, saya langsung berdecak kagum. Ini bukan sembarang novel: ukurannya itu loh &#8212; 623 halaman. Orang kalau sudah bisa menulis cerita sepanjang itu, dan bisa meyakinkan penerbit bahwa ceritanya layak diterbitkan, pastilah bukan penulis sembarangan.</p>
<p>Itu kesan pertama saya.</p>
<div id="_mcePaste">Cap &#8220;spiritual thriller &#8212; citarasa lokal&#8221; terpampang gagah di sampul buku ini. Cita rasanya memang benar-benar lokal, as advertised. Cap &#8220;spiritual thriller&#8221; seperti yang dicantumkan di sampul buku itupun rasanya tidak berlebihan, sekalipun terkesan kurang tepat.</div>
<div id="_mcePaste">Kedua komponen &#8212; spiritual dan thriller &#8212; memang ada dalam buku ini. Tapi saya lebih melihat buku ini sebagai buku perjalanan spiritual, bukan buku thriller. Bahkan boleh dibilang buku ini adalah kisah perjalanan spiritual tokoh-tokoh cerita (bukan hanya tokoh utama) dari berbagai kalangan, yang nantinya mewakili berbagai skenario perjalanan spiritual masing-masing tokoh. Thriller hanyalah bumbu yang sangat tepat untuk kisah-kisah ini, karena bumbu ini akan menampilkan gambaran yang sangat kontras antara awal dan akhir kisah perjalanan spiritual mereka.</div>
<div>Ada dua hal yang menunjukkan kepada buku ini lebih tepat dikategorikan dalam genre spiritual dan bukan thriller. Pertama komposisi cerita. Sembilan bab pertama (260 halaman) buku ini memang berisi kisah aksi petualangan sang preman. Detil memang diceritakan lika-liku kehidupan kelompok preman. Mulai dari cara mereka mencari uang, struktur komando kelompok, sampai ke penyusunan strategi perang. Tetapi semua aksi petualangan itu seolah berhenti setalah bab sembilan. Di lima bab terakhir (sebanyak 360 halaman), mulailah lika-liku perjalanan spiritual sang preman. Benang merahnya adalah perjalanan spiritual, thriller hanyalah bumbu.</div>
<div>Kedua adalah tentang detil cara kerja polisi. Buku thriller tentunya akan memberikan porsi yang sama antara cara kerja preman dengan cara kerja polisi. Tapi tidak di buku ini. Rizal, tokoh polisi yang bertugas memburu Sang Kobra, ingin dikesankan sebagai polisi yang cerdas dan sukses. Tetapi sama sekali tidak ada penjelasan yang sama detilnya tentang mengapa Rizal selalu gagal dalam menangkap Sang Kobra. Yang terbaca adalah bahwa Rizal adalah tokoh simpul, tokoh penting dalam cerita yang akan ditampilkan pada titik-titik tertentu untuk memberikan kontras yang menyilaukan dalam alur cerita. Alur cerita perjalanan spiritual, bukan kisah thirller.</div>
<div>***</div>
<div>Sebagai buku perjalanan spiritual, buku ini merupakan jurnal yang sangat lengkap. Kegelisahan manusia dalam menjalani hidup diungkapkan secara gamblang melalui pertanyaan-pertanyaan Hardi Sang Preman dalam berbagai fase kehidupannya. Jawaban pertanyaan-pertanyaan itupun dibahas secara detil dalam perspektif sufi.</div>
<div>Perjalanan spiritual Hardi berawal ketika dia menemukan buku Al-Hikam karya Ibnu Athaillah di atas kapal tempatnya menyembunyikan diri dari kejaran polisi. Dua tahun dia berada di atas kapal, selama itulah dia mencari. Tentunya, persembunyiannya itu diselingi dengan beberapa aksi heroik Sang Jagoan, dalam menghadapi bajak laut misalnya, atau ketika menanggapi tantangan awak kapal untuk lomba panjat tiang layar. Aksi-aksi ini membuat perjalanan spiritual Hardi jadi lumayan enak dibaca.</div>
<div>Perjalanan spiritual itu sendiri banyak mengandung kebetulan-kebetulan, bahkan kejadian spiritual yang sifatnya gaib. Hardi misalnya mengalami kejadian aneh ketika berduaan dengan seorang pelacur begitu dia mendarat selepas dua tahun berkurung diri di atas kapal. Kejadian aneh yang membuatnya tidak sempat &#8220;menyentuh&#8221; perempuan itu. Atau kejadian jatuhnya handphone Hardi ke dalam kali, yang membuatnya putus hubungan dengan seluruh karib kerabatnya selama bertahun-tahun dia hidup di Karawang. Atau suara-suara gaib yang memanggil namanya ketika berusaha mencari seorang mursyid.</div>
<div>Kejadian-kejadian serta kebetulan-kebetulan itu akan membuat pembaca akan, apakah Hardi ini memang berniat taubat ataukah dia dipilih untuk taubat? Apakah kesadarannya itu timbul atas kemauannya sendiri, ataukah &#8220;takdir&#8221; menggariskannya untuk taubat? Tidak ada jawaban yang penulis tawarkan dalam konteks ini, mungkin sengaja biar pembaca bertambah penasaran.</div>
<div>Tapi untuk hal-hal lainnya penulis memberikan jawaban yang cukup lengkap. Beliau tidak segan-segan menuliskan berbagai masalah sufi dan tarekat dengan detil yang agak berlebihan. Tidak salah, misalnya, kalau dalam blognya <a title="Preman Tauhid" href="http://andibombang.com/preman-tauhid.html" target="_blank">Andi Bombang bercerita bahwa ada preman Bangka yang hafal lika-liku isi novelnya</a>. Novel ini memang bisa dijadikan primbon bagi mereka yang ingin memulai perjalanan dalam dunia tarekat. Tidak lengkap tentunya, tapi detil-detilnya bisa dipakai sebagai bahan dasar untuk bertanya.</div>
<div>Bagaimana proses baiat tarekat misalnya, dibahas cukup detil, bahkan diulang sampai empat kali untuk tokoh-tokoh yang berbeda. Perjalanan masing-masing tokoh ini berbeda, tentunya bisa memberikan ragam skenario yang cukup lengkap bagi mereka yang tertarik untuk memulai praktek tarekat.</div>
<div>***</div>
<div>Secara keseluruhan, buku ini bagus. Saya rekomendasikan sebagai bahan bacaan anda. Lebih dari itu, bagi saya pribadi, sebagai orang yang kenal dengan penulisnya, dan pernah lama sekali mendengar celotehan-celotehannya, saya bisa menyatakan dengan sungguh-sungguh bahwa buku ini sangat Bombang sekali. Bagaimana cerita ini ditulis, begitulah gaya beliau akan bercerita kepada anda. Buat saya, ini adalah nostalgia sekaligus obat kangen mendengar kabar dari Andi Bombang.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/465/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Brunch for My Wife &#8211; Mushroom Jack Fajita</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/477</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/477#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Dec 2010 18:19:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Food]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=477</guid>
		<description><![CDATA[I stayed home this morning to cook brunch for my wife. The menu: Chicken Fajita a-la Chilli&#8217;s. I tried this recipe before, and it was great. So, this is a re-run with a few modifcation. I will not list the whole recipe, but only the modification. Here is link for the recipe: Linda&#8217;s Mushroom Jack [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>I stayed home this morning to cook brunch for my wife. The menu: Chicken Fajita a-la Chilli&#8217;s. I tried this recipe before, and it was great. So, this is a re-run with a few modifcation. I will not list the whole recipe, but only the modification.</p>
<p><span id="more-477"></span></p>
<p>Here is link for the recipe: <a href="http://genaw.com/lowcarb/mushroom_jack_fajitas.html" target="_blank">Linda&#8217;s Mushroom Jack Fajita</a>.</p>
<p>The changes that I made:</p>
<ul>
<li>I use ground chicken instead of chicken breast. It was still halve frozen, so I put the marinade into the zipbag while it is thawing.</li>
<li>I do not use bacon, and I used beef breakfast instead. But this time I skip it altogether.</li>
<li>For the marinade: I skipped the salt and the liquid smode. Instead I used salty ABC soy sauce (Indonesian should know this). I replace the chile powder with ABC Chilli Sauce (Extra Hot).</li>
<li>I cook the veggies into one single step, instead of two as the original recipe.</li>
<li>For the toppings I usually use sour cream and avocado. But just when we are about to eat, we found out that our sour cream has gone bad. So we use mayo and avocado. Two tablespoon of mayo plus half of small avocado, mix it well.</li>
</ul>
<p>Here are some pictures of it:</p>
<div id="attachment_482" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/2010-12-10-1005-BrunchChickenFajita.jpg"><img class="size-medium wp-image-482" title="Mushroom Jack Fajita: On the Stove" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/2010-12-10-1005-BrunchChickenFajita-300x225.jpg" alt="Mushroom Jack Fajita: On the Stove" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Mushroom Jack Fajita: On the Stove</p></div>
<p>Put the veggies in the bottom of the serving plate, pour the shredded cheese, and top it up with the chicken.</p>
<div id="attachment_480" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/2010-12-10-1019-BrunchChickenFajita.jpg"><img class="size-medium wp-image-480" title="Mushroom Jack Fajita: Putting It All Together" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/2010-12-10-1019-BrunchChickenFajita-300x225.jpg" alt="Mushroom Jack Fajita: Putting It All Together" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Mushroom Jack Fajita: Putting It All Together</p></div>
<p>Enjoy:</p>
<div id="attachment_481" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/2010-12-10-1025-BrunchChickenFajita.jpg"><img class="size-medium wp-image-481" title="Mushroom Jack Fajita: On the Plate" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/2010-12-10-1025-BrunchChickenFajita-300x225.jpg" alt="Mushroom Jack Fajita: On the Plate" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Mushroom Jack Fajita: On the Plate</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/477/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

