<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ery.djunaedy &#187; Trips</title>
	<atom:link href="http://ery.djunaedy.com/cat/trips/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ery.djunaedy.com</link>
	<description>renung</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Sep 2010 19:53:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Sumatra in East Asia</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/427</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/427#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 01:17:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Food]]></category>
		<category><![CDATA[Signage]]></category>
		<category><![CDATA[Trips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[On our way home, I found this coffee in one of the gas station: Sumatra Coffee from East Asia Say what? Sumatra coffee grown in East Asia? Is this another trade trick to say that this particular Sumatra coffee was not grown in Sumatra island? I am not geography expert, but I have never heard Sumatra [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>On our way home, I found this coffee in one of the gas station:</div>
<div></div>
<div>
<dl id="attachment_428" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/08/20100804_SumatraEastAsia.jpg"><img class="size-medium wp-image-428" title="Sumatra Coffee from East Asia" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/08/20100804_SumatraEastAsia-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd">Sumatra Coffee from East Asia</dd>
</dl>
</div>
<div>Say what? Sumatra coffee grown in East Asia?</div>
<div></div>
<div>Is this another trade trick to say that this particular Sumatra coffee was not grown in Sumatra island? I am not geography expert, but I have never heard Sumatra is in East Asia.</div>
<div></div>
<div>PS: Sumatra is in South East Asia, in case you do not know.</div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/427/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masih ada harapan: tipiring</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/294</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/294#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 06:34:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Trips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Anda tahu tipiring kan? Ah itu loh, sesuatu yang saya dan anda kemungkinan sudah pernah melakukannya. Tipiring itu adalah tindak pidana ringan, misalnya buang sampah sembarangan, dan lain-lain. Anda semuakan lebih tahu apa tipiring favorit anda Dalam diskusi politik kecil-kecilan, saya sering bertanya kepada kawan-kawan, kalau anda jadi bupati atau walikota, apa yang akan anda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda tahu tipiring kan? Ah itu loh, sesuatu yang saya dan anda kemungkinan sudah pernah melakukannya. Tipiring itu adalah tindak pidana ringan, misalnya buang sampah sembarangan, dan lain-lain. Anda semuakan lebih tahu apa tipiring favorit anda <img src='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-294"></span>Dalam diskusi politik kecil-kecilan, saya sering bertanya kepada kawan-kawan, kalau anda jadi bupati atau walikota, apa yang akan anda lakukan pertama kali? Wah biasanya diskusi jadi seru sekali. Memang sih banyak yang akan bilang bahwa mereka akan mengumpulkan uang dulu, siapa tahu tidak terpilih lagi.</p>
<p>Setelah berbagai macam perdebatan, biasanya mereka akan balik nanya, kalau kamu mau <em>ngapain</em>? Ada beberapa versi sih, tapi ini yang paling sering saya ajukan. Kalau saya jadi bupati, saya akan fokus pada penanganan tipiring, di antaranya denngan membuat penjara khusus tipiring.</p>
<p>Argumentasi anekdotal yang saya jadikan pegangan adalah sejarah orang Aceh jaman kolonial. Terus terang saya tidak tahu apakah ini benar atau tidak, tetapi melihat kultur budaya Aceh yaaah, bukan tidak mungkin terjadi.</p>
<p>Ceritanya di jaman dulu, ketika jembatan masih sempit, orang harus bergantian untuk melewatinya, apalagi kalau bawa barang banyak. Dasar perangai orang Aceh yang tidak mau mengalah, terjadilah banyak perkelahian di jembatan. Akibatnya penuhlah penjara akibat perkelahian itu. Akhirnya dibuatlah peraturan baru untuk menangani kegawatan ini. Barangsiapa yang kedapatan berantam di jembatan akan dikenakan denda yang cukup besar, dan kalau dia tidak sanggup bayar, maka rumahnya akan dilelang untuk bayar denda.</p>
<p>Ternyata kalau urusannya sudah sampai ke masalah rumah, lelaki Aceh akan mendapatkan lawan yang tak mungkin dikalahkan: istri mereka. Mana ada istri yang mau rumahnya dilelang? Setelah diundangkannya peraturan itu, kontan perkelahian di jembatan bisa dihilangkan.</p>
<p>***</p>
<p>Justifikasi yang lebih serius saya dapatkan ketika membaca buku Malcolm Gladwell &#8220;<em>The Tipping Point</em>&#8220;. Di buku itu beliau bercerita tentang dua contoh kasus di mana pencegahan tipiring bisa menjadi titik balik menuju ke arah yang lebih baik.</p>
<p>Kasus yang pertama adalah kasus operator kereta api bawah tanah di New York City. Mereka ingin menaikkan pendapatan sekaligus meningkatkan citra mereka di mata penumpang. Salah satu terobosan penting yang dilakukan oleh manajemen baru adalah penegakan hukum bagi free-rider. Para free-rider ini dengan berbagai cara bisa naik metro dengan gratis.</p>
<p>Selama ini tidak ada upaya serius dalam menindak para free-riders ini. Siapalah yang ingin menindak tipiring yang disebabkan oleh tiket bernilai satu dua dolar? Tetapi manajemen baru berpendapat bahwa justru di sinilah titik awal perbaikan citra, sekaligus perbaikan pendapatan. Membiarkan para penerabas itu justru memberikan citra yang jelek bagi metro.</p>
<p>Pesan yang baru bagi para free-rider: you can try to get a free ride, but you will not get away with it. Para polisi diminta untuk menindak mereka yang tidak bayar, sekalipun ongkos penindakan (waktu sang polisi, dst) mungkin lebih besar dari denda yang diberikan. Tapi efeknya secara sistemik adalah luar biasa. Pendapatan meningkat dan citranya membaik.</p>
<p>Kasus yang sama adalah terjadi pada kawasan yang tindak kriminalnya tinggi. Salah satu upaya untuk membalik keadaan adalah dengan memperbaiki rumah-rumah yang di-<em>vandalize</em>, yang kaca-kacanya pecah. Ternyata ada lingkaran setan antara kaca-kaca yang pecah dengan tingkat krimnalitas: kaca yang pecah membuat para kriminal merasa <em>at home</em> di lingkungan itu, yang pada gilirannya menambah tingkat kriminalitas.</p>
<p>Karena itu ketika tanda-tanda vandalisme mulai diperbaiki, para kriminal pun tidak betah berada di kawasan itu. Akibatnya tingkat kriminalitasnya turun.</p>
<p>***</p>
<p>&#8220;Apa yang akan kamu lakukan tepatnya?&#8221; begitu biasanya diskusi akan berlanjut. Ayolah mari kita bermimpi.</p>
<p>Contoh pertama: pengendara motor yang jalan seenak udelnya, SIMnya akan dipotong dan motornya akan dilelang. Kalau motornya masih ngutang, maka setelah dipotong denda, kelebihannya akan dikembalikan kepada pemberi kredit. Kalau itupun masih kurang, yaah selesaikanlah sendiri. Kalau si pengendara ternyata bukan pemilik maka si pemilik motor pun akan dikenakan sanksi (peringatan atau denda) karena membiarkan motornya dipakai oleh orang yang tidak bertanggung jawab.</p>
<p>Si pengendara itu tidak boleh punya SIM dan tidak boleh punya motor selama waktu tertentu. <em>Repeat offenders</em> akan mendapatkan penanganan lebih khusus lagi.</p>
<p>Lho, nantikan mereka akan bikin SIM dan STNK di tempat lain? Silakan. SIM luar kota dan STNK luar kota akan mendapatkan hukuman yang lebih tinggi. Bukankah mereka ini &#8220;tamu&#8221;, kan seharusnya mengikuti aturan tuan rumah, malah bikin masalah, jelas hukumannya akah lebih berat.</p>
<p>Bagaimana dengan penjara khusus tipiring itu?</p>
<p>Nah itu contoh kedua: saya akan bikin penjara tipiring, dan meminta kejaksaan dan pengadilan untuk menugaskan jaksa dan hakim khusus di sini. Pelanggar pertama kali akan dikenakan denda. <em>Repeat offenders</em> akan dikenakan kurungan wajib minimal tiga hari.</p>
<p>Lhah dananya dari mana? Ya dari para pelanggar itu. Penjara tipiring ini adalah hotel prodeo, kalau mampir ke sini harus bayar: ongkos tidur, ongkos kamar mandi dan ongkos makan semuanya ditanggung oleh pelanggar dalam bentuk denda. Kalau tidak sanggup bayar denda maka akan dikenakan kerja paksa untuk membayar denda.</p>
<p>Walah, nanti bisa-bisa para pengangguran akan rame-rame jadi pelanggar tipiring, karena akan diberi pekerjaan. Tenang .. tenang .. one step at a time. Ini adalah efek negatif yang memang harus dipikirkan. Solusinya bisa dipikirkan sambil jalan, antara lain kemungkinan transmigrasi dan pengenaan corporal punishment seperti hukuman rotan a la Singapura.</p>
<p>Dan itu contoh ketiga: pelaku vandalisme akan dirotan seperti di Singapura.</p>
<p>***</p>
<p>Mimpi? Sebagian besar ya, memang. Tapi sebagian kecil ada yang bisa memberikan harapan.</p>
<p>Sopir taksi yang membawa saya dari pelabuhan feri ke bandara di Batam bercerita tentang kondisi pelabuhan yang rawan kejahatan. Saya bertanya kok suasanya agak-agak seram ya.</p>
<p>Dia bilang sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik Pak. Dulu di antara para supir seringkali terjadi perkelahian, dengan berbagai alasan di antaranya rebutan pelanggan.</p>
<p>Tapi sekarang sudah jauh berkurang karena ada peraturan baru. Bila anda kena pukul, anda tinggal minta visum dari dokter dan buat laporan ke polisi. Dendanya kontan satu setengah juta rupiah dikenakan kepada yang memukul.</p>
<p>Sekarang jarang sekali orang main pukul di Batam, apalagi main tusuk.</p>
<p>Waktu itu saya turun dari taksi dengan perasaan gembira sekali. Ternyata ide-ide penanganan tipiring bisa dilaksanakan dengan membawa perubahan positif. Sopir taksinya juga senang sekali karena dapat tip yang lumayan gede <img src='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/294/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Child abuse?</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/285</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/285#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 19:17:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Trips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[Apa hukuman yang layak bagi orang seperti ini? [foto koleksi pribadi, dijepret di Batam. Plat nomer sudah disamarkan] Bagi anda mungkin ini pemandangan biasa. Tapi coba perhatikan lagi foto di atas. Orang itu sudah kelewatan sekali. Memegang anak dengan satu tangan sambil naik motor? Belum lagi (foto bawah) ketika sang anak meronta, entah karena pegel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa hukuman yang layak bagi orang seperti ini?</p>
<p><span id="more-285"></span><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/05/childabuse1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-286" title="Child abuse?" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/05/childabuse1-300x225.jpg" alt="Child abuse?" width="300" height="225" /></a><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/05/childabuse2.jpg"> <img class="alignnone size-medium wp-image-287" title="Child abuse?" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/05/childabuse2-300x225.jpg" alt="Child abuse?" width="300" height="225" /></a></p>
<p>[foto koleksi pribadi, dijepret di Batam. Plat nomer sudah disamarkan]</p>
<p>Bagi anda mungkin ini pemandangan biasa. Tapi coba perhatikan lagi foto di atas. Orang itu sudah kelewatan sekali. Memegang anak dengan satu tangan sambil naik motor? Belum lagi (foto bawah) ketika sang anak meronta, entah karena pegel atau karena melihat sesuatu, orang itu harus membenarkan posisi anak sambil memegang kendali motor dengan satu tangan.</p>
<p>Supir taksi yang membawa saya juga setuju bahwa sang bapak sudah sangat keterlaluan. Waktu saya ambil kamera dan siap memotret, beliau langsung memelankan laju taksinya. &#8220;Potret saja, Pak, biar dimuat di koran. Bapak wartawan ya?&#8221; begitu katanya bersemangat. Saya harus memadamkan semangatnya dengan mengatakan bahwa saya bukan wartawan. Cuman blogger kecil-kecilan.</p>
<p>Kembali ke foto itu: ironisnya, dari gelagatnya, tampak sang bapak ingin menghibur anaknya dengan mengajak naik motor. Hiburan sambil membahayakan anak?</p>
<p>Saya serius menanyakan apa hukuman yang layak bagi orang ini, tapi sebelumnya saya ingin menceritakan nasib Miron (bukan nama sebenarnya).</p>
<p>Miron adalah seorang ayah dari tiga anak, pengungsi Afghan yang sudah cukup lama tinggal di Amerika. Suatu ketika beliau mengendarai mobil dalam keadaan mabuk, dan di dalam mobil itu ada anaknya yang masih kecil. Dia diberhentikan oleh polisi, dan ketika diuji napas kadar alkoholnya melebihi batas ambang. Dia langsung di tahan, dan anaknya di ambil oleh Dinas Sosial. Alasannya berlapis: sudahlah <em>driving under the influence</em>, ditambah lagi dengan membahayakan anaknya.</p>
<p>Anaknya itu memang bisa segera dikembalikan ke ibunya, tetapi ternyata setelah diinspeksi oleh Dinas Sosial ada tanda-tanda KDRT, sehingga anak-anaknya diambil oleh Dinas Sosial.</p>
<p>***</p>
<p>Kembali ke kasus bapak sontoloyo di atas. Kenapa kita tidak punya hukum yang tegas dalam masalah transportasi? Janganlah masukkan dulu masalah <em>child-endangerment</em>, masalah keselamatan saja dulu. Kenapa kita biarkan bonceng tiga bahkan bonceng empat? Kenapa kita biarkan anak kecil dibonceng di depan pengendara motor?</p>
<p>Ah ah ah .. jangan .. jangan gunakan argumen bahwa mereka adalah orang yang tidak mampu. Seolah-olah kita harus membiarkan orang-orang yang tidak mampu untuk memakai kendaraan apa saja yang penting <em>nyampe</em>. Janganlah berargumen bahwa kita harus membiarkan mereka mempertaruhkan nyawa seperti itu, <em>simply</em> karena mereka (dan kita semua) tidak bisa memberikan alternatif yang lebih baik.</p>
<p>Justru karena mereka orang kecil, orang yang tidak mampu, maka keselamatan mereka harus kita jaga. Saya jadi ingat gurauan kawan-kawan di Ujung Pandang dulu kalau melihat <em>daeng</em> tukang becak sedang bertengkar. Mereka bilang (degan logat Makassar yang kental) &#8220;Oo <em>daeng</em>, jangan ki bertengkar. Kalau baku tikam nanti malah nggak sanggup bayar ongkos rumah sakit&#8221;.</p>
<p>Dengan perspektif seperti gurauan kawan-kawan saya di atas, bukankah kalau anak kecil ini jatuh dari motor, maka mereka akan lebih terpuruk lagi secara ekonomi karena harus bayar ongkos rumah sakit? Belum lagi kalau anaknya jadi cacat, berapa ongkos sosialnya?</p>
<p>Sekali lagi: apa layaknya hukuman bagi bapak yang membahayakan anaknya seperti di atas?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/285/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persaingan usaha</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/236</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/236#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 05:58:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Economy]]></category>
		<category><![CDATA[Food]]></category>
		<category><![CDATA[Signage]]></category>
		<category><![CDATA[Trips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[Anda kenal Mang Oyo?  Saya pernah kenal dulu bertahun yang lalu ketika beliau masih aktif jaga warung. Beliau adalah pedagang bubur ayam yang cukup terkenal di Bandung. Dulu warungnya ada di depan SMP PGII, sekarang entah apa masih ada di sana atau tidak. Yang jelas warungnya sekarang ini cukup mentereng di Jalan Sulanjana tidak jauh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda kenal Mang Oyo?  Saya pernah kenal dulu bertahun yang lalu ketika beliau masih aktif jaga warung. Beliau adalah pedagang bubur ayam yang cukup terkenal di Bandung. Dulu warungnya ada di depan SMP PGII, sekarang entah apa masih ada di sana atau tidak. Yang jelas warungnya sekarang ini cukup mentereng di Jalan Sulanjana tidak jauh dari rektorat ITB.</p>
<p>Saya tidak tahu persis apa yang membuat Mang Oyo menampilkan spanduk seperti ini di depan warungnya:</p>
<p><span id="more-236"></span><img class="size-medium wp-image-237" title="Mang Oyonya masih hidup" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/03/persaingan01-300x225.jpg" alt="Bubur Ayam Mang Oyo" width="300" height="225" /></p>
<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_237" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px;">
<dd class="wp-caption-dd">Bubur Ayam Mang Oyo</dd>
</dl>
</div>
<p>Coba perhatikan tulisan merah di foto di atas: &#8220;<strong><em>Telah terdaftar di hak cipta</em></strong>&#8221;</p>
<p>Terdaftar di hak cipta? <em>Gimme a break!</em> Nama warung <strong>Bubur Ayam Mang H. Oyo Tea</strong> telah terdaftar di hak cipta? Entah bagaimana pendapat anda, tapi menurut saya ini agak kelewatan. Bubur ayam tepi jalan namanya sudah didaftarkan ke hak cipta? Yang tercetus dalam benak saya adalah betapa ketatnya persaingan usaha sampai-sampai warung pinggir jalan (yang nota bene tergolong sektor non-formal) terpaksa harus memformalkan diri dalam bentuk perlindungan hak cipta.</p>
<p>Tulisan merah di bawahnya lebih seru lagi: &#8220;<em><strong>MANG H. OYONYA MASIH HIDUP</strong></em>&#8221; Berarti Mang Oyo pernah dituduh sudah meninggal, kan? Apakah persaingan usaha sudah sebegitu tidak sehatnya sehingga Mang Oyo perlu memberikan pernyataan bahwa beliau masih hidup?</p>
<p>Saya tidak pernah bertemu Mang Oyo lagi dalam beberapa persinggahan saya yang terakhir ke warung beliau. Tetapi dari pernyataan di depan warung itu jelas sekali bahwa:</p>
<ul>
<li>Ada usaha untuk mencontek nama beken Mang Oyo (sehingga beliau mencatatkannya sebagai hak cipta)</li>
<li>Ada usaha untuk mengesankan bahwa beliau sudah meninggal, entah itu berhubungan dengan yang di atas atau berdiri sendiri</li>
</ul>
<p>***</p>
<p>Kembali ke laptop!</p>
<p>Anda pernah makan Surabi Imut? Kalau belum silakan nikmati foto-foto yang ada di sini [to be uploaded]. Dulu, waktu saya masih sering lewat di Jalan Setiabudi, Surabi Imut masih menempati tempat yang cukup mentereng di sebelah kiri jalan (kalau berjalan naik ke arah Lembang). Sekarang Surabi Imut menempati warung yang tidak representatif, tidak sebanding dengan nama Surabi Imut yang sudah cukup terkenal. Warung yang agak butut ini ada di kanan jalan, di seberang lokasi lama.</p>
<p>Pertanyaannya tentu saja: kenapa harus pindah? Apalagi ke tempat yang lebih jelek dibandingkan sebelumnya.</p>
<div id="attachment_238" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-238" title="Surabi Imut: Tempat Baru" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/03/persaingan02-300x225.jpg" alt="Tempat baru Surabi Imut: kurang representatif" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Tempat baru Surabi Imut: kurang representatif</p></div>
<div id="attachment_246" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-246" title="Surabi Imut: Suasana" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/03/persaingan04-300x225.jpg" alt="Suasana tempat baru Surabi Imut" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Suasana tempat baru Surabi Imut</p></div>
<p>Yang terdengar dari jauh sih sengketa dagang. Sang pemilik usaha ternyata bukan pemilik tempat, alias masih berstatus kontraktor. Melihat usaha makin maju, sang pemilik tempat ingin kebagian jatah yang setimpal. Akibatnya uang sewa dinaikkan. Karena adanya ketidaksepakatan, maka Surabi Imut hengkang ke seberang jalan.</p>
<p>Selesai sampai di situ? Ternyata tidak. Sang pemilik rumah meneruskan usaha surabi, entah beliau menjalankannya sendiri atau ada pengusaha surabi yang lain. Yang jelas di tempat lama masih berjualan surabi, sekalipun tanpa nama Surabi Imut, bahkan tidak ada namanya sama sekali. Di warung itu hanya tertulis papan nama &#8220;Surabi&#8221;.</p>
<div id="attachment_239" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-239" title="Surabi" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/03/persaingan03-300x225.jpg" alt="Surabi (tanpa nama)" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Surabi (tanpa nama)</p></div>
<p>Apa akibatnya? Semua pihak jadi korban tentu saja. Sang pemilik tempat lama jadi korban, karena konon kabarnya surabi yang di jual rasanya kurang <em>mak nyuss</em> dibandingkan dengan Surabi Imut. Lama-lama pasti akan ditinggalkan pelanggan. Belum lagi bila kita melihat masalah etika. Sang pemilik tempat lama tidak secara jantan menuliskan bahwa surabinya sudah bukan lagi Surabi Imut, sehingga (ini menurut perkiraan saya) banyak pelanggan lama Surabi Imut yang mampir ke sana karena menyangka itu masih Surabi Imut. Ini tentu saja terkategori tidak etis (hampir berderajat penipuan, walaupun secara legal tidak bisa disalahkan).</p>
<p>Bagi Surabi Imut sudah jelas ini merupakan hantaman. Pertama, lokasi adalah aset terbesar warung tepi jalan. Sekali lokasi sudah terdefinisi susah sekali untuk mengubahnya. Pindah lokasi, apalagi ke tempat yang lebih butut, adalah bencana bagi sebuah warung. Kedua, karena banyak pelanggan lama yang mampir ke tempat lama karena menyangka itu masih Surabi Imut, dan kemudian ternyata rasanya sudah lain, maka merek Surabi Imut menjadi terpukul.</p>
<p>Bukan hanya mereka (para pedagang yang bersengketa) yang merugi, pelanggan juga merugi. Kalau mereka pergi ke tempat baru, mereka akan makan surabi enak di tempat butut. Kalau mereka pergi ke tempat lama, akan lebih parah lagi karena surabinya saja sudah tidak enak, mau tempatnya bagus juga jadi butut.</p>
<p>***</p>
<p>Pertanyaan saya sederhana: kenapa persaingan harus berarti saling mematikan? Berapa banyak kita mendengar kisah serupa: ada warung yang harus pindah karena tuan tanah menaikkan harga sewa tak terkira banyaknya.</p>
<p>Padahal solusi menang-menang bisa dicapai dengan mudah dalam kasus-kasus seperti ini. Tuan pemilik tanah menyangka bahwa dia sebagai pemilik tanah berhak atas keuntungan usaha yang dilakukan di tanah miliknya. Kalau memang begitu pemikirannya, maka sang tuan tanah sudah berpikir sebagai <strong><em>pemilik</em></strong> usaha, kalau begitu tidak perlu lagi meminta uang sewa tetapi minta saham yang setimpal dari keuntungan usaha.</p>
<p>Bagi pemilik usaha, bila sang tuan tanah menaikkan nilai kontrak, maka seharusnya dia menawarkan kepemilikan kepada tuan tanah itu. Daripada pindah mencari tempat baru, dan kemungkinan nantinya menghadapi situasi yang sama dengan tuan tanah baru, kenapa tidak manawarkan sebagian saham kepada tuan tanah. Toch memang lokasi adalah modal penting dalam usaha warung makan.</p>
<p>Berapa besar sahamnya itu bisa dibicarakan, dan ini tentunya perlu keterbukaan dan saling percaya. Tapi bukankah itu adalah prinsip keberhasilan usaha? Konon sih katanya, maklum, saya sendiri bukannya pengusaha. Hanya seorang tukang jajan yang ingin menikmati makanan yang <em>mak nyuss </em>di tempat yang nyaman.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/236/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terminal bis pakai AC</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/191</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/191#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 09:35:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Trips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[Saya sudah lama mendengar tentang yang satu ini, tapi saya belum pernah merasakan bagaimana rasanya naik bis dari terminal yang pakai AC. Sampai semalam, sewaktu saya nyasar di terminal bis Ang Mo Kio di Singapura. Nyaman dan sejuk, sekalipun cukup padat. Dari luar sih tampaknya sama saja seperti terminal bis lainnya. Tapi dari dalamnya baru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sudah lama mendengar tentang yang satu ini, tapi saya belum pernah merasakan bagaimana rasanya naik bis dari terminal yang pakai AC. Sampai semalam, sewaktu saya nyasar di terminal bis Ang Mo Kio di Singapura. Nyaman dan sejuk, sekalipun cukup padat.</p>
<p><span id="more-191"></span></p>
<p>Dari luar sih tampaknya sama saja seperti terminal bis lainnya.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/amkterminaloutside.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-192" title="Ang Mo Kio terminal from outside" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/amkterminaloutside-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Tapi dari dalamnya baru terlihat bedanya.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/amkterminalinside.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-194" title="Ang Mo Kio terminal from inside" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/amkterminalinside-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Apa bisa kita bandingkan konsepnya dengan terminal Blok M di Jakarta?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/191/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makanan dalam penerbangan: pilih halal, vegetarian atau &#8230;?</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/142</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/142#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Oct 2008 14:52:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Food]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>
		<category><![CDATA[Trips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai muslim, salah satu hal yang sangat penting diputuskan ketika melakukan penerbangan jarak jauh adalah makanan apa yang harus kita santap selama penerbangan. Idealnya tentu saja kita harus menyantap makanan halal. Tapi pada kenyataannya tidak semudah itu. Posting ini membahas beberapa pilihan yang bisa kita ambil, sekaligus membahas kenapa dalam beberapa penerbangan terakhir saya memilih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai muslim, salah satu hal yang sangat penting diputuskan ketika melakukan penerbangan jarak jauh adalah makanan apa yang harus kita santap selama penerbangan. Idealnya tentu saja kita harus menyantap makanan halal. Tapi pada kenyataannya tidak semudah itu. Posting ini membahas beberapa pilihan yang bisa kita ambil, sekaligus membahas kenapa dalam beberapa penerbangan terakhir saya memilih makanan kosher.</p>
<p><span id="more-142"></span></p>
<p>Pilihan <strong>pertama</strong>: <em>do nothing</em>, makan apa yang disediakan. Pilihan ini tentu saja terbatas pada penerbangan yang mengklaim menyediakan makanan halal. Berikut petikan beberapa perusahaan penerbangan (dari situs masing-masing perusahaan).</p>
<p><em><strong>Garuda Indonesia</strong></em>:  ALL MEALS SERVED ON GARUDA INDONESIA ARE <em>HALAL</em>.</p>
<p><em><strong>Malaysian Airlines</strong></em>: All food served on Malaysia Airlines is Halal.</p>
<p><em><strong>Emirates</strong></em>: All meals on Emirates flights are suitable for Muslims and are prepared in accordance with the Halal method.</p>
<p>Yang saya permasalahkan dalam setiap klaim seperti ini adalah:</p>
<ol>
<li>Tidak ada pihak ketiga yang memverifikasi klaim itu. Tanpa adanya verifikasi ini (misalnya dalam bentuk sertifikat halal) maka status klaim ini sama seperti &#8220;<em>self-certified halal</em>&#8221; yang juga banyak kita temukan dalam produk makanan lainnya. Saya pribadi cenderung menghindari produk-produk yang statusnya <em>&#8220;self-certified halal</em>&#8220;.</li>
<li>Produk makanan yang konon halal itu tidak jelas apakah hanya <em>main dish </em>saja, atau juga termasuk <em>side dishes</em>. Yang jelas klaim &#8220;semua makanan&#8221; di situ tidak termasuk minuman, karena semua penerbangan itu menyajikan minuman beralkohol. Pengalaman saya pribadi dengan Garuda, ketika Garuda masih terbang ke Belanda, membuktikan hal ini. Ketika pramugarinya bersikeras bahwa makanannya halal, ternyata makanan itu juga menyajikan keju produk Belanda, yang kami sendiri selama tinggal di Belanda tidak pernah memakan merk itu.</li>
<li>Tidak adanya verifikasi ini semakin membuat kita bertanya-tanya bila pesawat berangkat dari tempat-tempat di mana makanan halal tidak selalu tersedia. Apakah perusahaan penerbangan itu sudah memiliki kerja sama dengan katering lokal di <em><strong>semua </strong></em>tujuan penerbangannya? Apakah pesawat yang terbang dari tempat-tempat tersebut membawa persediaan makanan untuk penerbangan kembalinya? Tidak ada kejelasan di sini.</li>
</ol>
<p>Saya tidak merekomendasikan pilihan pertama ini. Kalaupun anda ingin melakukannya, lakukan dengan sangat selektif. Misalnya, ketika terbang dengan Malaysian dari Kuala Lumpur, karena kateringnya kemungkinan besar sudah bersertifikasi halal. Tapi apakah anda akan melakukannya untuk penerbangan dari, misalnya, Finlandia? I do not think so.</p>
<p>Pilihan <strong>kedua</strong>: minta makanan muslim &#8211; kodenya MOML (moslem meal). Pilihan ini biasanya tersedia di hampir semua perusahaan penerbangan, tapi pilihan ini tergolong sebagai <em>special meals</em>, yang harus dimasukkan ke dalam data reservasi pada saat pemesanan, atau minimal 24 jam sebelum keberangkatan. Kebanyakan <em>airline </em>malah mewajibkan minimal tiga hari sebelumnya.</p>
<p><em>Problem solved</em>? Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Sekali lagi, mari kita lihat apa yang dimaksud dengan MOML dari berbagai perusahaan penerbangan (juga dari situs web masing-masing perusahaan).</p>
<p><strong><span style="color: #888888;"><em>Garuda Indonesia</em></span></strong>: MOML &#8211; Meal doesn&#8217;t contain pork, by product of pork or foodstuff containing alcohols. All meat product such as beef, lamb and chicken must be slaughtered according to Moslem rites. ALL MEALS SERVED ON GARUDA INDONESIA ARE <em>HALAL.</em></p>
<p><strong><em>Malaysian Airlines</em></strong>: MOML &#8211; All food served on Malaysia Airlines is Halal. Alcohol is forbidden; and the use of alcohol in cooking is prohibited. Meat such as beef, lamb and chicken must be slaughtered according to Muslim rites. Pork or pig products are forbidden.</p>
<p><span style="color: #888888;"><em>Emirates</em></span>: MOML &#8211; All meals on Emirates flights are suitable for Muslims and are prepared in accordance with the Halal method. This meal type can only be ordered for passengers routed on other airlines. It contains one or more of these ingredients: lamb, chicken, fish, eggs, vegetables, fruit and dairy products. It does NOT contain pork, alcohol, or non-Halal prepared meats.</p>
<p><strong><em>Singapore Airlines</em></strong>: MOML &#8211; No alcohol/pork/ham/bacon.</p>
<p><em><strong>United Airlines</strong></em>: Muslim meals &#8211; Below are the guidelines United follows when preparing Muslim meals. Prohibited: Pork, sausages, alcohol, eel, animal fats. Allowed: Fresh fruits and vegetables, yogurt, nuts, rice, corn, pasta, eggs, herbs and spices, cheese and dairy products, dried beans and peas. If locally available, poultry is slaughtered according to the specified Halal methods.</p>
<p>Perhatikan dalam definisi Singapore Airlines, tidak disebutkan syarat bahwa daging harus disembelih sesuai ajaran Islam. Dalam definisi United Airlines, daging dzabiha hanya akan disediakan bila &#8220;<em>locally available</em>&#8220;.</p>
<p>Berdasarkan pengamatan saya setelah beberapa kali terbang dengan meminta MOML, keberatan saya adalah:</p>
<ol>
<li> Yang diberikan sebagai MOML hanyalah <em>main dish</em>, sedangkan <em>side dishes </em>persis sama dengan penumpang yang lain.</li>
<li>Lagi-lagi, tidak ada jaminan bahwa yang diberikan kepada kita itu memang benar makanan halal. Apalagi dengan status kondisional a la <em>United </em>di atas, kita tidak tahu apakah pada saat tersebut <em>United </em>punya supplier halal (sehingga makanan yang diberikan adalah halal), ataukah pada saat itu tidak ada supplier halal (sehingga makanan itu sebenarnya tidak halal). Kalaupun kita tanyakan pada <em>cabin crew</em>, mereka sama sekali tidak tahu karena urusan katering kan ditangani oleh <em>ground staff</em>.</li>
</ol>
<p>Pilihan <strong>ketiga</strong>: memesan makanan vegetarian. Saya tidak akan berpanjang lebar dalam kategori ini. Intinya, apa yang terjadi pada pilihan kedua di atas juga terjadi pada pilihan ini. Hanya saja memang makanan vegetarian ini akan dipandang lebih tidak aneh dibandingkan dengan makanan muslim, sehingga kemungkinan kita mendapatkan makanan yang betul-betul vegetarian lebih besar ketimbang makanan muslim. Keberatan saya dengan pilihan ini persis sama dengan keberatan saya dengan pilihan kedua di atas.</p>
<p>Pilihan <strong>keempat</strong>: memesan makanan kosher. Inilah pilihan yang saya ambil dalam beberapa penerbangan terakhir dari Amerika. Berikut apa yang mereka sebutkan dalam situs web masing-masing.</p>
<p><em><strong>Malaysian Airlines</strong></em>: KSML &#8211; These meals must conform to Jewish religious laws. It is important that these rules are strictly adhered to. Pigs, rabbits and their products are forbidden. Animals and poultry such as cows and chicken must be slaughtered in a special manner called Shechita. Processed foods must be prepared under rabbinical supervision. Milk and milk products are not be used in the preparation of meat meals or served with or immediately after meals.</p>
<p><em><strong>Singapore Airlines</strong></em>: Kosher Meal: Pre-packed and sealed; contains meat.</p>
<p><em><strong>Garuda Indonesia</strong></em>: KSML -  These meals are prepared to comply to the Jewish Religious Laws.</p>
<p><em><strong>Emirates</strong></em>: There is no option for this.</p>
<p><em><strong>United Airlines</strong></em>: Kosher Meal &#8211; We purchase all kosher meals from a certified kosher vendor. They are prepared under rabbinical supervision and wrapped and sealed accordingly. During Passover we serve only kosher for Passover meals to customers who request kosher meals. United is working closely with Heart Smart Restaurants International to develop healthier choices for our kosher customers. Prohibited: Pork, sausages, cured meats, shellfish, rabbit meat. Allowed: Poultry, beef, lamb, liver, sweetbreads, eggs, cheese and dairy products, flour ingredient products, fresh fruits and vegetables, sugars and preservatives, potatoes, rice, herring and fish with scales.</p>
<p>***</p>
<p>Karena itu di penerbangan yang lalu dari Amerika, kami sekeluarga memesan makanan kosher. Ternyata memang sangat terjaga kualitasnya. Seperti tertulis di foto di bawah ini:</p>
<ol>
<li>Makanannya dibungkus dua lapis dan disegel.</li>
<li>Hanya penumpang yang boleh membuka segelnya, dan kemudian diserahkan lagi ke pramugari untuk dipanaskan.</li>
<li>Bahkan alat makannya pun (sendok, garpu dan pisau) disediakan di dalam kemasan yang disegel itu (emangnya ada alat makan yang kosher?)</li>
<li>Tidak boleh ditambahkan makanan lain selain yang di dalam kemasan bersegel.</li>
</ol>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/halalkosher013.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-156" title="halalkosher013" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/halalkosher013-300x225.jpg" alt="Cara penyajian" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Dalam penerbangan dari Portland ke Tokyo, makannya disediakan oleh vendor dari New York. Di kemasannya jelas tertulis bahwa makanan itu sudah disertifikasi sebagai makanan kosher. For whatever reason, dalam penerbangan sambungan dari Tokyo ke Singapura, makanannya disediakan oleh vendor dari Antwerp, Belgia. Waah, jauh benar makanan ini terbang untuk disajikan di Tokyo.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/halalkosher011.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-154" title="halalkosher011" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/halalkosher011-300x225.jpg" alt="Dari Antwerp ke Jepang" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Di foto berikut terlihat makanan yang masih dalam kemasan bersegel.  Makanan yang perlu dipanaskan disediakan terpisah, dan memang saya sendiri (penumpang) yang membuka segel kemasannya. Nampan plastik itupun, sekalipun ada tutupnya, juga dibungkus plastik rapat dan bersegel.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/halalkosher001.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-145" title="halalkosher001" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/halalkosher001-300x225.jpg" alt="Makanan Kosher" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Salah satu kekhawatiran yang masih tersisa dalam memilih makanan kosher adalah masih adanya kemungkinan disajikannya alkohol. Memang ada beberapa mazhab kosher yang membolehkan dipakainya minuman beralkohol (seperti wine, rhum, dll) dalam makanan. Tapi ini tetap bisa dijaga, karena dalam kemasannya pun disertakan daftar kandungan makanan, seperti terlihat di foto di bawah ini.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/halalkosher002.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-146" title="halalkosher002" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/halalkosher002-300x225.jpg" alt="Cara penyajian" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Dan akhirnya, makannya lengkap tersaji seperti di bawah ini. Cukup yummi.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/halalkosher007.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-151" title="halalkosher007" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/halalkosher007-300x225.jpg" alt="Siap disantap" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/142/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prata durian</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/143</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/143#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2008 13:49:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Food]]></category>
		<category><![CDATA[Trips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[In terms of roti prata, Singapore has moved a long way since I left in 2001. Now we can have prata with all sorts of flavor: strawberry, cheese and many other. Of course we can still have the classic prata kosong and prata telur. But then, Singapore&#8217;s creativity stops short of inventing the most delicious [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>In terms of <em>roti prata</em>, Singapore has moved a long way since I left in 2001. Now we can have <em>prata </em>with all sorts of flavor: strawberry, cheese and many other. Of course we can still have the classic <em>prata kosong </em>and <em>prata telur</em>.</p>
<p>But then, Singapore&#8217;s creativity stops short of inventing the most delicious flavor of all: <em>prata durian</em>. Well, most delicious, that is, in my not-so-humble opinion.</p>
<p><span id="more-143"></span></p>
<p>Here is what I have for ifthar yesterday: <em>prata kosong</em>, <em>durian</em>, and hot <em>teh tarik</em>. I thought I could have just bought this in a single stop, but no, I still have to buy the <em>prata </em>and the <em>durian </em>separately.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/14092008005.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-144" title="14092008005" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/14092008005-150x150.jpg" alt="Prata Durian" width="150" height="150" /></a></p>
<p>In case you are curious, I first have <em>prata durian </em>(or <em>canai durian</em>, as they call it there) more than 15 years ago in the village of Geudong in my hometown Aceh. Since I cannot buy <em>prata durian </em>any place else, this is what I have come up with: buy <em>durian </em>and buy <em>prata</em>, there you have it. Yummmy.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/143/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tempat kerja dan nongkrong di Singapura</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/140</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/140#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 09:20:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Trips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang bisa mengusulkan tempat kerja di Singapura? Ini bukan semata-mata tempat nongkrong, tetapi tempat di mana kita bisa serius bekerja barang tiga empat jam sekali duduk. Ada? Syaratnya gampang: bisa diakses oleh publik ada meja dan bangku tempat bekerja, plus colokan listrik untuk komputer ada akses internet, kalau bisa gratis nggak perlu merasa bersalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang bisa mengusulkan tempat kerja di Singapura? Ini bukan semata-mata tempat nongkrong, tetapi tempat di mana kita bisa serius bekerja barang tiga empat jam sekali duduk. Ada?</p>
<p><span id="more-140"></span></p>
<p>Syaratnya gampang:</p>
<ol>
<li>bisa diakses oleh publik</li>
<li>ada meja dan bangku tempat bekerja, plus colokan listrik untuk komputer</li>
<li>ada akses internet, kalau bisa gratis</li>
<li>nggak perlu merasa bersalah kalau harus duduk selama tiga empat jam sekaligus</li>
</ol>
<p>Yang sudah saya temukan adalah di National Library Building. Di lantai 5 ada Study Lounge yang cocok untuk bekerja dan belajar. Satu-satunya kekurangan adalah harus bersaing dengan anak-anak pelajar, mereka inikan percaya diri dalam masalah rebutan tempat. Kapasitasnya sih lumayan, bisa menampung sekitar 80 orang. Boleh bawa minuman dan makanan lagi.</p>
<p>Ada alternatif lain yang anda tahu? Tolong isi di bagian komentar di bawah ini, ya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/140/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dilarang duduk</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/106</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/106#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Dec 2007 05:43:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Signage]]></category>
		<category><![CDATA[Trips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/106</guid>
		<description><![CDATA[Tanda dilarang duduk (di Taipei Airport) ini benar-benar membuat kita bertanya-tanya, memang adakah yang pernah mencoba duduk di situ? Tapi kalau sampai dibuatkan tanda seperti itu, berarti trolley ini memang pernah dijadikan tempat duduk. Yang menjadi pertanyaan saya adalah, siapa yang salah: perancang trolley yang membuatnya terlihat nyaman untuk diduduki, atau pengguna yang begitu kreatif [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tanda dilarang duduk (di Taipei Airport) ini benar-benar membuat kita bertanya-tanya, memang adakah yang pernah mencoba duduk di situ?<br />
<span id="more-106"></span><br />
<a target="_blank" href='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2007/12/dilarangduduk02.jpg' title='Trolley tempat duduk'><img src='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2007/12/dilarangduduk02.thumbnail.jpg' alt='Trolley tempat duduk' /></a>   <a target="_blank" href='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2007/12/dilarangduduk01.jpg' title='Dilarang duduk di trolley'><img src='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2007/12/dilarangduduk01.thumbnail.jpg' alt='Dilarang duduk di trolley' /></a></p>
<p>Tapi kalau sampai dibuatkan tanda seperti itu, berarti trolley ini memang pernah dijadikan tempat duduk. Yang menjadi pertanyaan saya adalah, siapa yang salah: perancang <em>trolley</em> yang membuatnya terlihat nyaman untuk diduduki, atau pengguna yang begitu kreatif dalam mencari dwifungsi <em>trolley</em>?</p>
<p>[Belum tahu juga bagaimana caranya duduk di trolley? Perhatikan saja tanda dilarang duduknya baik-baik, nanti akan kelihatan bagian mananya yang diduduki. Anda lihat bagian samping yang bertuliskan "Welcome to Taiwan", nah di situlah tempat duduknya]</p>
<p>Menurut anda siapa yang salah?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/106/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A small world?</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/71</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/71#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Nov 2006 23:26:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Trips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/71</guid>
		<description><![CDATA[Saya ingin melakukan percobaan kecil-kecilan untuk membuktikan bahwa dunia memang kecil: bisakah saya menyampaikan foto berikut ini kepada yang bersangkutan, hanya dengan mengirimkan posting ini? Ini saya lakukan tanpa bermaksud menyaingi penelitian Roby Muhamad (is he the only Indonesian ever published in Nature?) yang dilakukan dengan jauh lebih metodik (klik di sini untuk melihat ringkasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya ingin melakukan percobaan kecil-kecilan untuk membuktikan bahwa dunia memang kecil: bisakah saya menyampaikan foto berikut ini kepada yang bersangkutan, hanya dengan mengirimkan posting ini? Ini saya lakukan tanpa bermaksud menyaingi penelitian <a target="_blank" title="Roby Muhamad" href="http://cdg.columbia.edu/~roby/">Roby Muhamad</a> (is he the only Indonesian ever published in Nature?) yang dilakukan dengan jauh lebih metodik (klik <a target="_blank" title="The Small World Program" href="http://smallworld.columbia.edu/description.html">di sini</a> untuk melihat ringkasan penelitiannya).</p>
<p><span id="more-71"></span></p>
<p>Alasan saya sebenarnya sederhana sekali. Waktu kami pergi ke Dufan beberapa waktu yang lalu, saya ingin bereksperimen dengan kamera saya, bisakah saya menangkap ekspresi wajah yang begitu <em>candid </em>tapi hanya bisa ditangkap dalam waktu yang sangat singkat? Tambahan lagi: tanpa tripod (maklum lupa bawa).</p>
<p>Akhirnya saya bereksperimen sambil menunggu anak dan keponakan saya antri berjam-jam untuk naik <em>Kora-kora</em>. Ketika saya selesai mengambil beberapa gambar (termasuk gambar di bawah ini), saya melihat betapa serunya mereka membahas petualangan mereka begitu mereka turun. Petualangan mereka naik <em>Kora-kora</em> ini merupakan family time, sayang sekali mereka tidak punya rekaman visual justru di saat kejadian. Hati saya tergerak untuk memberikan gambar ini kepada mereka, tapi sayang sekali mereka lewat begitu cepat tanpa sempat saya sapa.</p>
<p>Keinginan itu pasti akan terlupakan begitu saja kalau saya tidak teringat dengan penelitian yang dilakukan oleh Roby Muhamad. Inti penelitian itu adalah bahwa kita bisa menemukan hubungan antara kita dengan orang lain (yang sama sekali tidak kita kenal, dan tinggal di negara manapun) dengan membuat rantai kenalan dengan jumlah tertentu. Gampangnya: kenalannya kenalan saya adalah kenalannya kenalan kenalan dia (entah ada berapa orang dalam rantai kenalan itu). Silakan baca deskripsi singkatnya <a target="_blank" title="The Small World Program" href="http://smallworld.columbia.edu/description.html">di sini</a>.</p>
<p>Dari situ timbullah ide, kenapa saya tidak umumkan saja di internet, dan meminta bantuan semua orang (yang bisa menerima email saya dan membaca posting ini) untuk menemukan keluarga di bawah ini. Mestinya, dunia saya dan mereka tidaklah terlalu besar. Setidaknya, dunia kami pernah beririsan ruang dan waktu ketika kami sama-sama di sekitar wahana Kora-kora di Dufan.<br />
Yang ingin saya ketahui ada dua:</p>
<ol>
<li>Siapakah keluarga ini dan di mana mereka tinggal?</li>
<li>Berapa orang rantai kenalan antara saya dan mereka?</li>
</ol>
<p>Setelah ketemu, keinginan saya hanya ingin menghadiahkan foto ini kepada mereka.</p>
<p>Inilah foto mereka. Orang-orang yang duduk di baris terdepan (kalau saya tidak salah tebak) adalah satu keluarga. Kalau ternyata mereka bukan satu keluarga, yaaah, siapa saja dalam foto inilah.</p>
<p><a class="imagelink" title="Exhilarating Dufan" href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2006/11/exhilaratingdufan.jpg"><img id="image72" alt="Exhilarating Dufan" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2006/11/exhilaratingdufan.thumbnail.jpg" /></a><a class="imagelink" title="Exhilarating Dufan" href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2006/11/exhilaratingdufan2.jpg"><img id="image73" alt="Exhilarating Dufan" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2006/11/exhilaratingdufan2.thumbnail.jpg" /></a></p>
<p>Kepada siapapun yang menerima email ini, tolong tekan tombol &#8220;forward&#8221; dan teruskan email ini kepada kenalan anda. Siapa tahu kenalan anda kenal orang-orang ini. Jangan lupa tuliskan komentar anda di situs web saya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/71/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
