<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ery.djunaedy &#187; Technology</title>
	<atom:link href="http://ery.djunaedy.com/cat/technology/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ery.djunaedy.com</link>
	<description>renung</description>
	<lastBuildDate>Sun, 17 Jul 2011 23:05:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Tentang commissioning (atau tentang WC cebok)</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/204</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/204#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 14:27:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architecture]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Anda tahu commissioning? Dalam dunia perancangan bangunan, kata itu merujuk kepada satu fase dari desain bangunan, yaitu fase setelah fase konstruksi selesai tetapi sebelum serah terima kepada pemilik. Di fase commissioning ini semua kriteria desain yang telah dibangun dalam fase konstruksi diperiksa. Ada banyak sekali manfaat dari commisioning ini. Yang paling nyata tentu saja dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda tahu <em>commissioning</em>? Dalam dunia perancangan bangunan, kata itu merujuk kepada satu fase dari desain bangunan, yaitu fase setelah fase konstruksi selesai tetapi sebelum serah terima kepada pemilik. Di fase <em>commissioning</em> ini semua kriteria desain yang telah dibangun dalam fase konstruksi diperiksa.</p>
<p>Ada banyak sekali manfaat dari commisioning ini. Yang paling nyata tentu saja dengan commissioning kita bisa menemukan berbagai kekurangan atau kesalahan dalam desain. Manfaat lain adalah bahwa dengan commissioning ini sang pemilik bangunan mendapatkan jaminan bahwa semua target yang dia tetapkan dalam bangunan itu dapat dicapai (lhah, jangan-jangan di Indonesia pemilik bangunannya nggak punya target apa-apa).</p>
<p>Departemen Energi Amerika memperkirakan bahwa dengan melaksanakan commissioning yang benar saja maka pemborosan pendinginan dan pemanasan (AC dan heater) dapat dipangkas. Saya ulangi lagi begini: sekalipun sistem AC (dan pemanas) sudah dibeli sesuai dengan spesifikasi, sudah dipasang dengan benar, tetapi tidak diuji coba sebelum serah terima, maka sistem itu sebenarnya masih boros. Harus di-commissioning sehingga pemborosan dapat dipangkas.</p>
<p>Tapi saya tidak ingin berbicara tentang penghematan saat ini. Artikel ini sepenuhnya tentang kenyamanan.</p>
<p><span id="more-204"></span></p>
<p>***</p>
<p>Anda tahu WC cebok? Itu loh, WC yang ada selang pancuran yang bisa dipakai untuk cebok. Gambar di bawah ini adalah contohnya. Selang yang ada semprotannya itulah yang digunakan sebagai alat cebok.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/commissioningwc.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-205" title="WC cebok" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/commissioningwc-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p>Hubungannya dengan <em>commissioning</em>? Nah ini dia masalahnya. Semprotannya itu loh, di banyak tempat tidak pernah disetel dengan aliran yang nyaman untuk digunakan.</p>
<p>Bagaimanakan aliran yang nyaman itu? Aliran yang nyaman itu adalah ketika semprotannya ditekan <span style="text-decoration: underline;"><em>penuh</em></span>, aliran air yang keluar seharusnya sedang-sedang saja. Artinya cukup kuat untuk membersihkan kotoran, tetapi tidak akan muncrat ke mana-mana ketika alirannya itu terhalang sesuatu (misalnya terhalang tangan).</p>
<p>Semprotan cebok ini biasanya punya dua keran. Yang pertama di ujung selang plastik, nempel di tembok, yang ini biasanya keran putar. Yang kedua di semprotannya, biasanya berupa katup tekan. Setelan yang sangat umum terjadi adalah keran putarnya dibuka habis, sehingga pengguna diharapkan akan berakrobat dengan katup tekannya, mengira-ngira seberapa banyak harus ditekan supaya airnya tidak muncrat ke mana-mana.</p>
<p>Ini kan namanya setelan seenak perutnya, yang sama sekali tidak berpihak kepada pengguna. Jangan-jangan tukang pasangnya tidak pernah cebok di WC seperti ini, ya?</p>
<p>Setelan yang nyaman seharusnya keran putarnya tidak boleh dibuka terlalu lebar, secukupnya saja, sedemikian sehingga kalau katup tekan di semprotan ditekan habis, maka aliran air yang keluar adalah aliran yang nyaman.</p>
<p>Foto di atas sebenarnya ingin menunjukkan air yang muncrat ke mana-mana. Bekas air di dinding sampai ke pinggang orang dewasa, wah itukan berarti sampai ke kepala orang yang sedang duduk di WC itu. Kasihan benar korban air cebok ini. Ini bukan saya ya, saya tidak jadi pakai WC itu karena WCnya sudah basah kuyub. Akhirnya saya foto saja, tetapi air muncratnya tidak kelihatan.</p>
<p>***</p>
<p>Contoh lainnya (dua foto di bawah ini) adalah dua keran air di tempat cuci tangan yang letaknya bersebelahan. Yang satu alirannya luar biasa deras, sehingga kalau ada yang berani cuci tangan di keran yang ini, dijamin bajunya ikut basah.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/commissioningtap.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-206" title="Water tap - simply too much" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/commissioningtap-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Sedangkan di sebelahnya, aliran airnya cukup kecil, bahkan cenderung kecil. Tetapi cukup deras untuk digunakan.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/commissioningtap2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-207" title="Water tap - just nice" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/commissioningtap2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>***</p>
<p>Pertanyaannya tentu saja: ini salah siapa?</p>
<p>Bagi saya, ini adalah kesalahan kontraktor dan juga pemilik, kedua belah pihak bersalah karena tidak melakukan <em>commissioning</em> dengan baik. Pemilik seharusnya bersikeras agar semua fasilitas diuji coba sebelum diserahterimakan. Itu artinya, peralatan cebok itu diuji coba, semprotannya dibuka, alirannya dipegang. Kan tidak perlu menunggu ada yang berak dulu di WC itu untuk menguji aliran semprotan cebok itu. Di pihak kontraktor juga seharusnya memberi peringatan kepada pengguna, kalau memang aliran airnya terlalu keras (dan tidak bisa dikecilkan -  ini agak mengada-ada tapi who knows) agar tidak ada korban baju basah.</p>
<p>Kalau tidak ada commissioning, siapa yang jadi korban? Tentu bukan kontraktor ataupun pemilik bangunan, tetapi yang jadi korban adalah pengguna bangunan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/204/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bandara yang menyedihkan?</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/197</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/197#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jan 2009 14:05:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architecture]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=197</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu ada artikel di koran gratisan Today yang terbit di Singapura tentang Bandara Cengkareng dengan judul yang cukup provokatif: &#8220;A sad downward spiral, Jakarta&#8217;s airport leaves a poor impression&#8220;. Waktu membaca judulnya saya langsung mengira kalau artikel ini ditulis oleh orang Singapura, biasa ngalelewe. Tapi ternyata penulisnya Chappy Hakim, dari namanya pasti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu ada artikel di koran gratisan Today yang terbit di Singapura tentang Bandara Cengkareng dengan judul yang cukup provokatif: &#8220;<em>A sad downward spiral, Jakarta&#8217;s airport leaves a poor impression</em>&#8220;. Waktu membaca judulnya saya langsung mengira kalau artikel ini ditulis oleh orang Singapura, biasa <em>ngalelewe</em>. Tapi ternyata penulisnya Chappy Hakim, dari namanya pasti orang Indonesia.</p>
<p><span id="more-197"></span></p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/saddownwardspiral.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-198" title="A sad downward spiral" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/saddownwardspiral-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p>Artikel itu sendiri menyoroti dari sisi infrastruktur keselamatan dan keamanannya, sekalipun beliau juga bilang bahwa kenyamanan penumpang jauh dari mencukupi. Bahkan tingkat kejorokannya melebihi Stasiun Gambir. Selengkapnya silakan baca <a title="Today Online" href="http://www.todayonline.com/articles/291075.asp" target="_blank">di sini</a>, dan selanjutnya saya akan mengulas pengalaman penumpang sebagai pengguna bandara (yaitu saya sendiri waktu pulang akhir desember lalu).</p>
<p>***</p>
<p>Ada tiga hal yang bagi saya sangat penting untuk dibenahi. Yang pertama adalah the ABC of public space, yaitu hal-hal yang paling mendasar yang harus tersedia di setiap bangunan publik. Foto-foto berikut ini adalah contohnya.</p>
<p>Contoh pertama adalah toilet. Bagi saya, tempat publik yang bagus adalah tempat publik yang toiletnya bagus. Segala kenangan indah tentang suatu tempat akan terhapus begitu memasuki toilet yang jorok.</p>
<p>Terus terang saya cukup senang melihat toilet yang saya masuki, yaitu di kedatangan internasional, selepas imigrasi sebelum pengambilan bagasi.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/cengkarengwcpintukaca.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-199" title="cengkarengwcpintukaca" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/cengkarengwcpintukaca-300x224.jpg" alt="WC pintu kaca" width="300" height="224" /></a></p>
<p>Lantai bersih, pintu dari kaca.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/cengkarengwastafel.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-200" title="Wastafel" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/cengkarengwastafel-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p>Wastafel juga bersih.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/cengkarengurinoir.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-201" title="Urinoir" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/cengkarengurinoir-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p>Urinoir juga mengkilat.</p>
<p>Keluhan saya hanya satu, yaitu di dalam salah satu WC. Pancuran untuk ceboknya memancarkan air laksana pemadam kebakaran. Kalau dipakai cebok pasti akan basah ke mana-mana. Ini adalah masalah yang selalu saya dapati di banyak WC yang menyediakan selang cebok. Masalah <em>commissioning</em> (atau <em>maintenance</em>) ini saya tuliskan di sini (XXX nanti akan diterbitkan).</p>
<p>Contoh kedua adalah masalah rasa aman, banyak hal di bandara ini yang tidak menimbulkan rasa aman. Kerumunan makelar taksi adalah salah satunya. Dan yang saya alami sendiri adalah foto di bawah ini.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/cengkarengkoridorgelap.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-202" title="Koridor gelap" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/cengkarengkoridorgelap-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p>Yang di atas ini adalah tangga turun dari lantai atas (keberangkatan) menuju ke lantai bawah (kedatangan). Kamera HP saya agaknya merekam lebih indah dari warna aslinya, tapi kenyatannya daerah setelah tikungan ke bawah itu gelap sekali, relatif dibandingkan bagian atas yang benderang. Dari atas kita tidak tahu, gelapnya itu seberapa panjang.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/cengkarengkoridorlampumati.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-203" title="Lampu mati" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/cengkarengkoridorlampumati-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p>Ternyata masalahnya adalah lampu yang mati. Hareeeee genneeeee, di bandara internasional, ternyata masih ada lampu yang mati. Kalau lampu mati tapi masih terang (artinya desain lampunya berlebih) ya masih mendingan lah, tapi ini gelap loh.</p>
<p>Dari kunjungan singkat ini, <em>overall user experience</em> yang saya alami tidaklah mengecewakan. Hanya barangkali itu saya, yang sudah (pernah) terbiasa dengan kerumunan makelar dan lorong-lorong gelap. Bagaimana dengan turis yang selalu berada di bandara yang terang benderang dan tidak ada calo?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/197/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terminal bis pakai AC</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/191</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/191#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 09:35:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[Trips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[Saya sudah lama mendengar tentang yang satu ini, tapi saya belum pernah merasakan bagaimana rasanya naik bis dari terminal yang pakai AC. Sampai semalam, sewaktu saya nyasar di terminal bis Ang Mo Kio di Singapura. Nyaman dan sejuk, sekalipun cukup padat. Dari luar sih tampaknya sama saja seperti terminal bis lainnya. Tapi dari dalamnya baru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sudah lama mendengar tentang yang satu ini, tapi saya belum pernah merasakan bagaimana rasanya naik bis dari terminal yang pakai AC. Sampai semalam, sewaktu saya nyasar di terminal bis Ang Mo Kio di Singapura. Nyaman dan sejuk, sekalipun cukup padat.</p>
<p><span id="more-191"></span></p>
<p>Dari luar sih tampaknya sama saja seperti terminal bis lainnya.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/amkterminaloutside.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-192" title="Ang Mo Kio terminal from outside" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/amkterminaloutside-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Tapi dari dalamnya baru terlihat bedanya.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/amkterminalinside.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-194" title="Ang Mo Kio terminal from inside" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/amkterminalinside-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Apa bisa kita bandingkan konsepnya dengan terminal Blok M di Jakarta?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/191/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kematian blog pribadi?</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/190</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/190#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 09:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Anda punya blog pribadi? Kalau ya, maka ketahuilah bahwa keberadaan blog itu semakin lama akan semakin terancam. Facebook termasuk yang disebut sebagai salah satu pembunuh blog pribadi dalam artikel yang dipublikasi di Wired ini: Writing a weblog today isn&#8217;t the bright idea it was four years ago. The blogosphere, once a freshwater oasis of folksy [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda punya blog pribadi? Kalau ya, maka ketahuilah bahwa keberadaan blog itu semakin lama akan semakin terancam. Facebook termasuk yang disebut sebagai salah satu pembunuh blog pribadi dalam artikel yang dipublikasi di Wired ini:</p>
<p><span id="more-190"></span></p>
<blockquote><p>Writing a weblog today isn&#8217;t the bright idea it was four years ago. The blogosphere, once a freshwater oasis of folksy self-expression and clever thought, has been flooded by a tsunami of paid bilge. Cut-rate journalists and underground marketing campaigns now drown out the authentic voices of amateur wordsmiths. It&#8217;s almost impossible to get noticed, except by hecklers. And why bother? The time it takes to craft sharp, witty blog prose is better spent expressing yourself on Flickr, Facebook, or Twitter.</p></blockquote>
<p>Lengkapnya silakan lihat <a title="The death of personal blog" href="http://www.wired.com/entertainment/theweb/magazine/16-11/st_essay" target="_blank">di sini</a>.</p>
<p>Ada beberapa asumsi yang, IMO, tidak tepat yang dipakai dalam artikel itu:</p>
<ol>
<li>Blog pribadi dibuat hanya untuk mengejar peringkat google.</li>
<li>Atau untuk mendapatkan pembaca sebanyak-banyaknya.</li>
<li>Pembaca blog bukanlah orang yang suka membaca artikel panjang.</li>
<li>Komentar yang tidak cerdas, bahkan yang mengejek, hanya dipandang sebagai pengganggu.</li>
</ol>
<p>Padalah semua asumsi di atas tidaklah selalu benar. Saya sendiri membuat blog tidak untuk mengejar peringkat Google, atau untuk mendapatkan pembaca sebanyak-banyaknya. Well, koreksi: saya suka artikel saya dibaca oleh sebanyak mungkin orang, tapi alasannya sama sekali bukan komersial.</p>
<p>Apalagi saya memang memfokuskan diri untuk menuliskan posting yang relatif panjang. Kalau tidak suka ya jangan dibaca, gitu aja kok repot. Tapi sungguh masih banyak orang yang rentang perhatiannya lebih dari 144 karakter yang jadi batasan Twitter.</p>
<p>Tentang komentar, semua komentar di blog saya pasti akan saya tampilkan, terlepas dari apakah saya setuju atau tidak. Kecuali kalau komentarnya tidak nyambung dengan isi artikel, yaa baru saya hapus.</p>
<p>Memang Facebook menawarkan tampilan multimedia yang sangat menawan, mau video, foto apalagi teks, semua bisa menyatu dengan mudah, dan yang paling penting gratis, tanpa membebani server kita kalau kita memuatnya di blog pribadi.</p>
<p>Tapi inipun bisa diakali. Isi blog pribadi dengan mudah bisa disedot sebagai &#8220;notes&#8221; dalam Facebook. Jadi bagi saya tidak cukup alasan untuk menutup blog pribadi.</p>
<p>Yang lebih penting lagi, saya menulis justru karena ingin memotret isi pikiran saya. Saya ingin semua artikel itu berada sepenuhnya dalam kendali saya, dalam format yang saya inginkan, yang akan dengan mudah dipindahkan ke format apapun.</p>
<p>Bayangkan kalau saya menulis sepenuhnya di dalam Facebook, apakah ini bukan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Facebook? Formatnya pun tidak bisa dengan mudah dikonversi ke format lain, kecuali dengan melakukan copy-and-paste setiap artikel.</p>
<p>Kesimpulannya: blog pribadi saya masih akan bertahan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/190/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sabun sertu: teknologi tepat guna</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/174</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/174#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Dec 2008 08:13:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=174</guid>
		<description><![CDATA[Anda tahu sertu? Bukan, itu bukan sersan satu. Sabun sertu juga bukan sersan satu sedang main sabun. Artikel ini adalah tentang bagaimana teknologi digunakan untuk menghadirkan kemudahan dalam beragama. Sebelum membahas apa itu sabun sertu, ada baiknya saya bahas sedikit tentang najis dari sudut pandang Islam. Najis adalah kotoran dalam pengertian religius. Barang yang terkena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda tahu <em>sertu</em>? Bukan, itu bukan sersan satu. Sabun sertu juga bukan sersan satu sedang main sabun. Artikel ini adalah tentang bagaimana teknologi digunakan untuk menghadirkan kemudahan dalam beragama.</p>
<p><span id="more-174"></span></p>
<p>Sebelum membahas apa itu sabun sertu, ada baiknya saya bahas sedikit tentang najis dari sudut pandang Islam. Najis adalah kotoran dalam pengertian religius. Barang yang terkena najis harus dibersihkan dengan tata cara tertentu, berdasarkan klasifikasi najis. Yang najis yang dimaafkan, cukup dihilangkan saja najisnya. Sementara najis yang ringan, cukup dibasuh dengan air satu kali.</p>
<p>Di dalam sebuah riwayat, ada kejadian di mana Nabi mencuci najis dengan air tujuh kali salah satunya dicampur dengan tanah. Yang dicuci adalah bejana (tempat makan) yang terjilat anjing.</p>
<p>Saya tidak akan masuk ke dalam perdebatan apa yang terkategori sebagai najis berat. Ya, ada banyak sekali pendapat di sini, tapi itu untuk diskusi lain waktu. Yang ingin saya tekankan di sini adalah apa yang sudah disepakati bersama bahwa ada najis yang harus dibasuh dengan air tujuh kali salah satunya dengan air bercampur tanah. Proses bersuci dari najis berat inilah yang disebut dengan <strong><em>sertu</em></strong> (dalam bahasa melayu)</p>
<p>Pertanyaan saya (kepada pembaca muslim) adalah apakah anda pernah melakukan <em>sertu</em>? Mungkin belum pernah ya? Sebabnya adalah salah satu dari dua. Yang pertama karena <em>ignorance</em>, tidak tahu apa yang terkategori sebagai najis berat, serta tidak tahu bagaimana proses mencucinya. Yang kedua adalah karena dalam masyarakat yang cukup homogen seperti di Indonesia, ditambah lagi dengan ketidakjelasan apa yang terkategori sebagai najis berat, kemungkinan kita terkena najis berat juga jadi minim sekali.</p>
<p>Lain kondisinya dengan di Singapura. Ada dua kondisi yang menyebabkan situasinya juga berbeda dengan di Indonesia. Kondisi pertama, secara fikih mereka sangat konservatif, artinya mereka mengambil pendapat yang paling berat dalam menentukan najis berat. Menurut pendapat ini, yang tergolong najis berat termasuk: tersentuh liur anjing (baik badan, barang, ataupun tempat), daging babi dan seluruh derivatifnya. Dengan pendapat seperti ini, maka alat makan yang pernah menghidangkan menu babi haruslah disertu. Kalau ada restoran yang baru mendapatkan sertifikat halal, dan restoran itu sebelumnya menghidangkan babi, maka semua alat masak dan alat makan restoran itu harus disertu. Dengan alasan ini pula, restoran muslim di Singapura memakai alat makan yang berbeda, sekalipun berada di kompleks <em>hawker center</em> yang sama.</p>
<p>Kondisi kedua adalah ada interaksi kehidupan yang sangat intens antara kaum muslim dengan non-muslim. Dan perbedaan itu seringkali sangat diametral, misalnya kedai Muslim bersebelahan dengan kedai Cina yang menjual makanan mengandung babi. Persinggungan diametral ini tidak terelakkan, sehingga ada kebutuhan untuk mengelolanya dengan baik.</p>
<p>Salah satu produknya adalah teknologi tepat guna, dalam hal ini adalah sabun sertu. Perkenalkan: <strong><em>Almughallazoh </em></strong>(ini adalah merek sabun itu, dan kata yang digunakan adalah kata Arab yang berarti &#8220;najis berat&#8221;).</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/12/sabunsertu001.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-175" title="Almughallazoh" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/12/sabunsertu001-144x300.jpg" alt="Sabun Sertu" width="144" height="300" /></a></p>
<p>Coba bayangkan, dengan mazhab fikih yang demikian ketat, bisa dibayangkan betapa seringnya seorang muslim Singapura harus melakukan sertu. Makan di resto yang tidak halal, sekalipun hidangannya vegetarian misalnya, tetap saja mustahil karena alat masaknya dan alat makannya pernah digunakan untuk menghidangkan babi dan belum disertu. Yang lebih hebat adalah kalau orang muslim beli rumah baru dan penghuni sebelumnya adalah non-muslim, dijamin rumahnya harus disertu. Sering ada keluhan di perumnas di Singapura ketika ada penghuni baru muslim, yaitu saluran pipa pembuangan tersumbat lumpur. Kenapa? Ya itulah penghuni baru yang sibuk melakukan sertu di seluruh lantai rumahnya dengan menggunakan tanah yang mengakibatkan air lumpur turun melalui saluran di kamar mandi.</p>
<p>Itu karena mereka belum tahu tentang produk Almughallazoh ini.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/12/sabunsertu003.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-178" title="Almughallazon" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/12/sabunsertu003-300x225.jpg" alt="Sabun Sertu" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Dengan adanya sabun ini, cara mencuci najis berat jadi lebih ringan, tidak perlu lagi susah-susah mencampurnya dengan tanah. Memang masih harus dibasuh tujuh kali, tapi setidaknya proses pencuciannya tidak <strong><em>messy</em></strong> lagi.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/12/sabunsertu004.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-179" title="Cara pemakaian sabun sertu" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/12/sabunsertu004-300x225.jpg" alt="Cara pemakaian sabun sertu" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Sabun ini bisa dibeli di sini:</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/12/sabunsertu005.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-180" title="Fiqh Consultancy Services" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/12/sabunsertu005-300x225.jpg" alt="Fiqh Consultancy Services" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Kesimpulannya?</p>
<p>Saya teringat Almarhum Ama Endang Saefuddin Anshari. Beliau bilang bahwa Islam itu bukanlah budaya, tapi bagaimana orang berislam adalah budaya. Teknologi ini adalah buktinya bahwa akan ada produk-produk budaya baru yang akan kita buat selama kita terlibat secara konstruktif di dalam kehidupan global yang sangat beragam.</p>
<p>Ekspresi keberagamaan akan berkembang justru bila kita dihadapkan dengan situasi-situasi yang seolah membatasi kehidupan beragama kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/174/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemanasan</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/163</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/163#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Nov 2008 00:39:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Dalam menanggapi contoh kasus tentang berenang tanpa pemanasan di posting ini, ada komentar yang dikirim ke milis alumniTF-ITB: p.s berenang gak pemanasan dulu, apa gak bahaya tuh? Jawaban singkatnya: tidak tuh. Seingat saya, sewaktu kami berenang di Amerika, satu-satunya orang yang melakukan peregangan di kolam renang yang hanya saya. Orang-orang lain yang langsung cebur saja. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam menanggapi contoh kasus tentang berenang tanpa pemanasan di posting ini, ada komentar yang dikirim ke milis alumniTF-ITB:</p>
<blockquote><p>p.s berenang gak pemanasan dulu, apa gak bahaya tuh?</p></blockquote>
<p>Jawaban singkatnya: tidak tuh. Seingat saya, sewaktu kami berenang di Amerika, satu-satunya orang yang melakukan peregangan di kolam renang yang hanya saya. Orang-orang lain yang langsung cebur saja.</p>
<p>Berikut kutipan dari artikel tentang pemanasan, yang linknya saya sertakan di bawah ini:</p>
<blockquote><p>“You may feel as if you’re able to stretch farther after holding a stretch for 30 seconds,” McHugh says, “so you think you’ve increased that muscle’s readiness.” But typically you’ve increased only your mental tolerance for the discomfort of the stretch. The muscle is actually weaker.</p></blockquote>
<p>Silakan nikmati artikel berikut dari The New York Times: <a title="Stretching: The Truth" href="http://www.nytimes.com/2008/11/02/sports/playmagazine/112pewarm.html" target="_blank">Stretching: The Truth</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/163/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia Hampir Hilang</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/161</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/161#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Nov 2008 14:37:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Human resource]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[The world as you&#8217;ve never seen it before, begitu kata situs yang satu ini. Dan memang peta-peta yang ditampilkan di sini didistorsi sesuai dengan tema yang dipilih. Yang satu ini adalah peta dunia yang didistorsi sesuai dengan jumlah publikasi masing-masing negara. Hasilnya: Indonesia hampir hilang. sumber: WorldMapper Publikasi ilmiah yang dicakup adalah dari bidang fisika, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>The world as you&#8217;ve never seen it before</em>, begitu kata situs yang satu ini. Dan memang peta-peta yang ditampilkan di sini didistorsi sesuai dengan tema yang dipilih. Yang satu ini adalah peta dunia yang didistorsi sesuai dengan jumlah publikasi masing-masing negara.</p>
<p>Hasilnya: Indonesia hampir hilang.</p>
<p><span id="more-161"></span></p>
<p><img src="http://www.worldmapper.org/images/smallpng/205.png" alt="Peta dunia berdasarkan publikasi ilmiah" width="512" height="256" /><br />
<small>sumber: <a title="WorldMapper" href="http://www.worldmapper.org" target="_blank">WorldMapper</a></small></p>
<p>Publikasi ilmiah yang dicakup adalah dari bidang fisika, biologi, kimia, matematika, kedokteran, biomedik, ilmu kebumian dan kedirgantaraan, yang diterbitkan selama tahun 2001. Publikasi itu dibagi-bagi berdasarkan alamat (afiliasi) penulis. Bila ada dua penulis, maka masing-masing negara mendapatkan setengah. Bila lebih dari dua, maka akan dibagi rata.</p>
<p>Total publikasi yang dihitung adalah 660.000, sekitar 1 paper untuk 10.000 orang. Di negara-negara maju (Eropa Barat, Amerika, dan Jepang) rata-ratanya sekitar 5 artikel untuk setiap 10.000 orang. Ini adalah bias lokasi, di mana negara-negara maju itu rata-rata punya publikasi sekitar tiga kali lipat dibandingkan dengan negara manapun.</p>
<p>Tugas kita: giat membaca dan tetap menulis! Seperti kata David Dorling (beliau ada orang yang mengolah data-data yang digunakan untuk peta ini):</p>
<blockquote><p><em>Scientific research is as much the product of the society that enables it, as of the individuals who author it. </em>(David Dorling 2006)</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/161/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga langkah kaki: pentingnya konsistensi</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/127</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/127#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Feb 2008 03:22:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/127</guid>
		<description><![CDATA[(catatan tentang desain awal sebuah rumah sakit) Lokasi kamar mandi di kamar pasien dalam sebuah rumah sakit bisa diletakkan di sudut terjauh dari pintu (berbatasan dengan dinding luar), atau bisa juga diletakkan di dekat pintu masuk, berbatasan dengan koridor yang membelah gedung. Di salah satu rumah sakit di Idaho, semua kamar mandi di kamar pasien [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(catatan tentang desain awal sebuah rumah sakit)</p>
<p>Lokasi kamar mandi di kamar pasien dalam sebuah rumah sakit bisa diletakkan di sudut terjauh dari pintu (berbatasan dengan dinding luar), atau bisa juga diletakkan di dekat pintu masuk, berbatasan dengan koridor yang membelah gedung. Di salah satu rumah sakit di Idaho, semua kamar mandi di kamar pasien diletakkan di sudut terjauh dari pintu masuk, berbatasan dengan dinding luar.</p>
<p>Ketika Lab kami diundang untuk memberikan komentar terhadap rancangan rumah sakit terbaru mereka, salah satu komentar kami adalah bahwa kamar mandi itu harus dipindah dari dinding luar, karena posisi di dekat dinding luar itu akan mengurangi luas jendela. Akibatnya, jumlah pencahayaan alami yang masuk ke kamar pasien tidak akan optimal. Kami memiliki beberapa rekomendasi lainnya mengenai pencahayaan alami ini, tapi rekomendasi inilah yang ditolak mentah-mentah oleh pihak rumah sakit.<br />
<span id="more-127"></span><br />
Alasannya?</p>
<p>Kalau kamar mandi itu dipindah ke dekat pintu masuk, itu artinya seorang perawat yang sedang melakukan tugas keliling ke kamar pasien akan mendapat tambahan rata-rata <em><strong>tiga langkah</strong></em> untuk mencapai tempat tidur pasien. Ya betul: <em><strong>tiga langkah</strong></em>.</p>
<p>Kalau anda sama seperti saya, maka anda akan bertanya-tanya, apa hebatnya tiga langkah kaki itu sampai bisa membatalkan rekomendasi tentang pencahayaan alami yang berpotensi menghemat ribuan dolar dari penurunan pemakaian lampu listrik? Ternyata kata kuncinya ada di kata &#8220;rata-rata&#8221; itu.</p>
<p>Tiga langkah itu adalah rata-rata per kamar, yang kalau dihitung seluruh rumah sakit yang jumlah kamarnya mencapai seratus, maka jumlahnya sudah cukup besar. Masalahnya ketika jumlah itu di akumulasikan, jangan-jangan dengan tambahan segitu, nantinya pihak rumah sakit harus menambah jumlah perawat untuk mengkompensasi tiga langkah ekstra itu. Hitung-hitungan tepatnya bagaimana saya agak kurang paham, karena ini datangnya dari pihak manajemen rumah sakit, tapi akibatnya mereka secara tegas menolak rekomendasi kami untuk memindahkan kamar mandi menjauh dari dinding luar.</p>
<p>Tanggapan kami?</p>
<p>Kami secara konsisten tetap merekomendasikan hal yang sama. Kalau masalahnya adalah tiga langkah tambahan, kami malah mempertanyakan asumsi dari pihak manajemen. Tambahan tiga langkah itu akan memberatkan kalau suasana lingkungan kerja tidak berubah. Ini adalah asumsi yang salah karena rekomendasi kami justru akan mengubah suasana lingkungan kerja. Pencahayaan alami akam memberikan nuansa yang jauh lebih baik dibandingkan dengan lampu jenis apapun.</p>
<p>Kami berargumen bahwa para perawat itu akan senang sekali menjalani tiga langkah tambahan kalau kita bisa memberi ruang bekerja yang dilimpahi dengan cahaya alami. Kalau tidak percaya, kita uji cobakan saja pada para perawat itu, dan kemudian tanya pendapat mereka.</p>
<p>Tidak ada tanggapan balik dari klien kami itu, yang jelas mereka tidak mengubah rancangan mereka untuk yang satu ini. Ada banyak rekomendasi kami, banyak yang diterima dan ada juga yang ditolak. Lama sekali kami tidak mendengar kabar dari mereka, bahkan proyek yang satu itupun agak tersendat-sendat pembangunannya.</p>
<p>Setelah lama tak mendengar kabar dari mereka, tiba-tiba saja datang sepotong informasi dari orang lain, bahwa mereka benar-benar membangun sebuah mock-up, model skala-penuh dari rekomendasi kami. Mereka mengujicobakan semua yang kami rekomendasikan, dan kemudian mereka menanyakan kepada para perawat jenis kamar yang mana yang lebih mereka sukai.</p>
<p><em>Guess what</em>? Perawat memilih kamar yang sesuai dengan rekomendasi kami, sekalipun dengan tiga langkah ekstra tadi.</p>
<p>Saya hanya bisa geleng-geleng kepada mendengar berita itu. Kenapa mereka dulu mereka mati-matian menolak rekomendasi kami? Apakah karena ide ini berasal dari orang luar? Tapikan mereka mengundang kita untuk jadi konsultan, jadi harus dianggap insider dong, ya nggak?</p>
<p>Dan kemudian kenapa mereka tiba-tiba mengujicobakan rekomendasi kita tanpa berkonsultasi kembali dengan kami? Apakah karena ide dari luar itu perlu waktu untuk menginternalisasi? Ini bukannya masalah gagah-gagahan kalau saya berharap mereka konsultasi kembali ke kami. Saya sih cukup senang kalau ide kami bisa dijalankan dengan baik. Yang jadi masalah adalah mereka sudah keluar uang untuk mengadakan studi itu. Kalau mereka melibatkan kami kembali, maka mereka akan mendapatkan hasil yang jauh lebih banyak dan jauh lebih <em>reliable</em> daripada hasil yang sekarang.</p>
<p>Pelajaran dari kisah ini? Inilah pentingnya konsistensi, atau lebih tepat lagi persistensi. Kata Kevin kawan saya: </p>
<blockquote><p>just release your opinion out in the ether, and it will float around until somebody else picks it up and make it their own idea, and they implement it.</p></blockquote>
<p>Ada dua pesan penting mengenai kalimat di atas:</p>
<ol>
<li>orang perlu menginternalisasi ide baru agar mereka bisa menerima perubahan.</li>
<li>seringkali kita harus melepas &#8220;authorship&#8221; dari ide itu agar ide itu bisa diterima oleh orang banyak.</li>
</ol>
<p>Lepas dari bagaimanapun prosesnya, kalau rekomendasi kami bisa dipakai oleh orang banyak, maka kami sudah mencapai misi Lab kami, yaitu mengadakan transformasi pasar di dalam industri bangunan, terutama di dalam pemasyarakatan metoda rancangan terpadu dalam perancangan bangunan.</p>
<p>Catatan: Adakah yang bisa membantu saya dalam menerjemahkan istilah-istilah berikut ini? Silakan sampaikan melalui komentar di bawah ini.</p>
<ul>
<li>rancangan terpadu = integrated design</li>
<li>desain awal = early design</li>
<li>model skala-penuh = full scale model</li>
<li>mock-up = ?</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/127/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukuman dari Google?</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/122</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/122#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Feb 2008 17:43:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/122</guid>
		<description><![CDATA[Anda pemakai Gmail? [Lhah haree gennee nggak pakai Gmail?] Tentunya anda tahukan kalau penghasilan Google sebagian besar adalah dari iklan? Nah, coba anda perhatikan kolom paling kanan kalau anda membuka Gmail, di situ akan ada iklan sesuai dengan topik email yang sedang anda buka. Tapi ada satu hal yang membuat saya penasaran. Kalau email yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda pemakai Gmail? [Lhah haree gennee nggak pakai Gmail?] Tentunya anda tahukan kalau penghasilan Google sebagian besar adalah dari iklan? Nah, coba anda perhatikan kolom paling kanan kalau anda membuka Gmail, di situ akan ada iklan sesuai dengan topik email yang sedang anda buka.</p>
<p>Tapi ada satu hal yang membuat saya penasaran. Kalau email yang saya buka itu bertopik Indonesia, yang keluar adalah tautan porno. Apa dosa saya sehingga disuguhi tautan yang seram seperti di bawah ini?<br />
<span id="more-122"></span><br />
<a target='_blank' href='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/02/hukumangoogle-cari.jpg' title='Hukuman Google - Cari'><img src='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/02/hukumangoogle-cari.thumbnail.jpg' alt='Hukuman Google - Cari' /></a>       <a target='_blank' href='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/02/hukumangoogle-fieldbusseminar.jpg' title='Hukuman Google - Field Bus Seminar'><img src='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/02/hukumangoogle-fieldbusseminar.thumbnail.jpg' alt='Hukuman Google - Field Bus Seminar' /></a>       <a target='_blank' href='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/02/hukumangoogle-artepolis.jpg' title='Hukuman Google - Arte Polis'><img src='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/02/hukumangoogle-artepolis.thumbnail.jpg' alt='Hukuman Google - Arte Polis' /></a></p>
<p>Gambar sebelah kiri saya dapatkan ketika membaca email bersubyek &#8220;Cari&#8221; (dari milis AlumniTF-ITB). Isinya hanya dua kalimat yang bertanya ttg nomer telepon seorang alumni. Iklan yang keluar? Bagian &#8220;Sponsored Links&#8221;nya sih tidak terlalu bermasalah, tapi bagian bawahnya itu yang bikin kening berkerut. Yang paling atas berjudul &#8220;Artis Indonesia Telanjang&#8221;.</p>
<p>Saya jadi penasaran, apakah karena topiknya Indonesia? Saya coba ganti dengan dengan subyek yang lebih bersifat teknis.</p>
<p>Gambar yang di tengah saya dapatkan ketika membaca email bersubyek &#8220;Reuni TF di Emerson Fieldbus Seminar&#8221; lagi-lagi di milis AlumniTF-ITB. Memang benar, bagian atas yang berjudul &#8220;Sponsored Links&#8221; ternyata berubah sesuai dengan topik FieldBus. Tapi lagi-lagi, bagian bawah yang berjudul &#8220;More about &#8230;&#8221; ternyata masih belum berubah: yang paling atas berjudul &#8220;Artis Indonesia Telanjang&#8221;.</p>
<p>Waah, jangan-jangan karena milis AlumniTF? Mentang-mentang ada PakDhe di milis ini. Saya ganti milis lagi, dan topiknya masih berbau teknis.</p>
<p>Gambar yang di kanan saya dapatkan ketika membaca email bertopik &#8220;CFP Arte-Polis 2 Bandung 8-10 Aug 08&#8243; dari milis IAI-Architect. Bagian atasnya sih canggih, Google bisa langsung menebak tanggal dan menawarkan untuk langsung memasukkan tanggal ini ke kalender. Bagian &#8220;Spronsored Links&#8221; juga masih lumayan, karena menawarkan tiket pesawat dan hotel di Indonesia, walaupun sudah tidak nyambung dengan topik konferensi ini. Di bagian bawahnya &#8230; lagi-lagi masih menyebut &#8220;Telanjang Indonesia&#8221;, bahkan ada &#8220;Indonesia Bugil&#8221;.</p>
<p>Memang sih ada tautan ke &#8220;Academic Conferences&#8221; dan &#8220;Call for Paper&#8221;, tapi ini karena topiknya tentang konferensi. Apakah kalau topiknya Indonesia maka yang ditawarkan adalah telanjang dan bugil?</p>
<p>Apa dosa saya sehingga saya dihukum dan mendapat tawaran tak senonoh seperti ini? Atau lebih parah lagi, apa dosa Indonesia sehingga selalu dikaitkan dengan kata telanjang dan bugil?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/122/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Fisika Bangunan di Indonesia</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/112</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/112#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Dec 2007 18:57:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/112</guid>
		<description><![CDATA[Kita sebut saja namanya Ignatius, seorang arsitek baru lulus dari sebuah universitas ternama. Beliau mengirim email kepada saya setelah membaca artikel saya yang dimuat di Cakrawala PR berjudul &#8220;Memperkenalkan Fisika Bangunan&#8221; (sayang edisi online-nya tidak ada di arsip PR-online). Silakan baca di situs Alumni TF-ITB Dalam email itu Ignatius bertanya bertubi-tubi kepada saya. Bukankah ide-ide [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita sebut saja namanya Ignatius, seorang arsitek baru lulus dari sebuah universitas ternama. Beliau mengirim email kepada saya setelah membaca artikel saya yang dimuat di Cakrawala PR berjudul &#8220;Memperkenalkan Fisika Bangunan&#8221; (sayang edisi online-nya tidak ada di arsip PR-online).  <a target="_blank" href="http://iatf-itb.openesc.com/index.php?option=content&#038;task=view&#038;id=38&#038;Itemid=54">Silakan baca di situs Alumni TF-ITB</a></p>
<p>Dalam email itu Ignatius bertanya bertubi-tubi kepada saya.  Bukankah ide-ide sustainability yang sekarang sedang populer itu sangat berkaitan dengan fisika bangunan? Terus bagaimana peluang kerja di bidang ini, apakah nantinya akan terpakai?</p>
<p>Kawan-kawan Ignatius mengingatkan, &#8220;Ngapain belajar fisika bangunan, bosen gitu-gitu aja, nggak belajar desain, elu kan arsitek!&#8221;, begitu tulisnya di dalam email yang saya terima.<br />
<span id="more-112"></span><br />
Saya membaca email itu di malam hari di tengah-tengah arena retreat yang diadakan oleh SBSE (Society of Building Science Educators &#8211; www.sbse.org) di kampus Islandwood, Bainbridge Island, sekitar setengah jam naik ferry dari Seattle, AS.  Beberapa saat sebelum membaca email di atas, saya masih mendengar diskusi hangat tentang alat bantu pengajaran fisika bangunan dalam kurikulum arsitektur. Kalau kelangsungan hidup planet ini bergantung pada kemampuan anda untuk mengajar mahasiswa arsitektur tentang fisika bangunan, apa yang akan anda ajarkan?</p>
<p>Saya jadi bertanya-tanya, apakah Ignatius ini benar-benar mahasiswa arsitektur di abad 21? Di satu pihak pengajar (dan mahasiswa) arsitektur di luar negeri mulai sangat memperhatikan aspek fisika bangunan, di lain pihak di Indonesia kalangan arsitektur masih sangat tidak peduli dengan aspek fisika bangunan. Ada apa ini?</p>
<p>Di banyak negara, bidang ilmu ini disebut sebagai building science, tapi di Belanda dan Jerman, bidang ini disebut sebagai bouwfysica atau fisika bangunan. Saya lebih suka menyebutnya sebagai fisika bangunan karena istilah ini lebih dikenal di Indonesia ketimbang istilah building science, ataupun teknologi bangunan. Silakan merujuk ke tulisan saya yang disebut di atas untuk mengenal lebih jauh bidang ini.</p>
<p>Artikel ini ingin menjelaskan lebih jauh bahwa saat ini pendidikan fisika bangunan seharusnya menjadi bagian integral dari pendidikan arsitektur, syukur-syukur kalau bisa menjadi pendidikan wajib dalam kurikulum pendidikan teknik.</p>
<p>****</p>
<p>Kalau kita mengsumsikan bahwa sekarang ini terjadi pemanasan global, siapakah yang paling berperan dalam menentukan temperatur pemanasan global ini? Banyak orang akan mengatakan pabrik mobil, karena sebagian besar energi terbuang di jalan raya.</p>
<p>Tapi Ed Mazria berpendapat lain. &#8220;It&#8217;s the architecture, stupid!&#8221; begitu katanya dalam judul sebuah artikel yang ditulisnya dalam majalah Solar Today tahun 2003. Di artikel itu dia berargumen, bahwa di Amerika para arsiteklah bersama dengan industri bangunan yang menghabiskan setengah dari total konsumsi energi, sekaligus bertanggung jawab atas setengah dari produksi gas rumah kaca. Sebagai bandingan, dia menjelaskan bahwa mobil dan truk hanya bertanggung jawab atas seperenam konsumsi energi dan produksi gas rumah kaca.</p>
<p>Ini tentu tidak mengherankan karena manusia hidup di dalam bangunan.  Sekitar 90% kehidupan kita berlangsung di dalam bangunan. Tidaklah terlalu mengherankan kalau kemudian konsumsi energi juga terpusat di sekitar bangunan.</p>
<p>Berapa angka tepatnya untuk Indonesia, belum ada penelitian untuk hal ini. Klasifikasi yang digunakan oleh berbagai laporan penelitian masih menggunakan klasifikasi &#8220;tradisional&#8221;, yaitu industri, residensial, komersial dan transportasi. Menurut laporan Pengkajian Energi Universitas Indonesia (PEUI), di tahun 2006 angkanya adalah sekitar 32%, 40%, 3% dan 25% untuk masing-masing sektor.</p>
<p>Tapi pembagian sektor itu masih menyembunyikan pertanyaan penting, seberapa besar energi di masing-masing sektor yang dihabiskan untuk penggunaaan di seputar bangunan. Untuk sektor residensial hampir semua penggunaannya adalah untuk bangunan (misalnya pendingin ruangan, lampu, kompor, pemanas air, dll). Untuk sektor komersialpun, sebagian besar penggunaan energinya akan berkaitan dengan bangunan, terutama untuk pendinginan ruangan dan lampu. Untuk sektor industri sekalipun, kita masih bisa membelah lebih detil lagi, berapa persen penggunaannya berkaitan dengan bangunan, dan berapa persen terkait dengan konsumsi mesin industri.</p>
<p>Kalau melihat angka di atas (residensial plus komersial sudah mencapai 43%) mestinya bangunan akan memakan sekitar 50% dari total konsumsi energi kita, tidak jauh berbeda dengan kondisi di AS. Masalahnya, melihat bagaimana komunitas industri bangunan bereaksi, akan terlihat ketimpangan yang jauh kalau kita membandingkan antara Indonesia dengan negara-negara maju.</p>
<p>Tidak ada sense of crisis di berbagai kalangan yang terkait, terutama di kalangan industri bangunan, untuk menangani masalah ini. DPR dan pemerintah misalnya, tidak ada keseriusan dalam menangani masalah ini.  Sebagai gambaran, Undang-Undang Bangunan Gedung (UUBG-28-2002) yang mengatur masalah bangunan hanya menyebut kata energi sebanyak empat kali, itupun di dalam bagian penjelasan. PP-36-2005 ttg peraturan pelaksanaan UUBG pun hanya menyebut kata &#8220;energi&#8221; sebanyak lima kali.  Minimnya kata energi dalam peraturan yang menjadi rujukan dalam mendirikan bangunan di tanah air kita, justru ketika konsumsi energi sebagian besar dihabiskan di dalam bangunan, menunjukkan tingkat keseriusan pembesar negeri kita yang masih sangat minim dalam menangani masalah ini.</p>
<p>*****</p>
<p>Tidak adanya dukungan dari pemerintah pusat ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Di AS masalah ini bahkan lebih nyata.  Yang sangat berbeda adalah inisiatif dari pemerintah daerah serta masyarakat. Asosiasi Walikota Se-Amerika sudah sejak beberapa waktu yang lalu menyatakan dukungannya terhadap Protokol Kyoto, yang berusaha memotong produksi gas rumah kaca. Salah satu bentuk dukungan itu adalah dengan menetapkan aturan pendirian bangunan yang mencakup energi sebagai kriteria penting.</p>
<p>Jadi di hampir semua kota di AS, sebuah proyek bisa terjegal IMB-nya hanya karena prediksi penggunaan energinya tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh Balai Kota. Dan ini sudah berjalan selama beberapa tahun sekalipun peraturan federal yang memayunginya tidak ada.</p>
<p>Inisiatif masyarakat, dalam hal ini industri bangunan, sangatlah luar biasa. Arsitek, insinyur, kontraktor, universitas, semuanya bergerak beriringan dalam berupaya menekan konsumsi energi dalam bangunan.  Konsep-konsep baru seperti zero-energy building, going down to 50, dan lain-lain, semuanya diluncurkan praktis tanpa dukungan resmi pemerintah.</p>
<p>Dalam konteks inilah saya ingin memperkenalkan SBSE, sekaligus dukungannya terhadap Imperatif 2010. SBSE adalah perkumpulan dosen dan praktisi di bidang arsitektur yang mendukung pengembangan pengajaran dalam bidang fisika bangunan. Dalam kiprahnya, SBSE terutama berperan dalam mengembangkan alat-alat bantu dalam pengajaran fisika bangunan kepada mahasiswa arsitektur.</p>
<p>Imperatif 2010 adalah bagian dari Tantangan 2030 yang diluncurkan oleh Ed Mazria, dan mendapatkan dukungan dari berbagai pelosok dunia.  Tantangan 2030 pada intinya adalah agar kita bisa punya bangunan yang netral-karbon pada tahun 2030, yaitu bangunan yang tidak menggunakan energi fosil serta tidak mengeluarkan gas rumah kaca. Termasuk dalam tantangan itu adalah tantangan untuk menghasilkan bangunan baru (sejak saat ini) yang hanya mengkonsumsi 50% energi dibandingkan dengan rata-rata bangunan saat ini.</p>
<p>Untuk mencapai hal itu, Imperatif 2010 pun diluncurkan.  Intinya, pada tahun 2010 kita harus mencapai ecological literacy dalam pendidikan desain bangunan. Untuk mencapai hal ini maka sejak tahun 2007 (beberapa bulan lagi akan dimulai tahun ajaran baru) setiap studio desain dalam kurikulum arsitektur haruslah mencantumkan agar desain yang dihasilkan melibatkan lingkungan dalam suatu cara yang secara dramatik akan mengurangi atau bahkan meniadakan kebutuhan akan energi fosil.</p>
<p>Dalam retreat SBSE yang baru lalu, ada beberapa sesi yang ditujukan untuk membangun alat bantu pengajaran (tools-kit) untuk digunakan dalam desain studio yang mendukung Imperatif 2010 ini.</p>
<p>Apa artinya itu semua dalam konteks Indonesia?</p>
<p>Pertama, belum ada keseriusan dalam menggarap bidang fisika bangunan ini dalam tataran pendidikan maupun dalam tataran praktek di industri.  Alih-alih saling mendukung, dalam tataran pendidikan di Indonesia malah masih ada pengkotak-kotakan bidang keilmuan di mana bidang arsitektur (yang dekat dengan seni murni) seringkali memilih memurnikan dirinya dari kontaminasi teknologi (yang barangkali ditekuni oleh jurusan lain di luar jurusan arsitektur). Pernyataan kawan-kawan Ignatius dalam email yang saya sebut di awal tulisan ini sangatlah menggambarkan pengkotakan ini, seolah-olah desain arsitektur itu haruslah imun dari kriteria teknologi.</p>
<p>Yang kemudian terjadi dalam tataran praktek di industri bangunan memang masih mencerminkan pengkotakan ini. Contoh yang paling mudah untuk menggambarkan hal ini adalah bagaimana kita membangun rumah tinggal. Hampir semua rumah tinggal dibangun sebagai bangunan berventilasi alami, dan tidak dirancang untuk menggunakan pendingin ruangan. Tetapi ketika suatu saat sang penghuni rumah merasa harus punya pendingin ruangan (entah karena sudah kepanasan, atau karena adanya perbaikan ekonomi), maka alternatif yang ditempuh adalah menempelkan AC split di dalam ruangan.</p>
<p>Ketika terjadi penambahan AC pada bangunan yang berventilasi alami, hampir tidak pernah  ada perubahan arsitektural pada bangunannya.  Padahal kalau ditelusuri dari awal, perancangan bangunan berventilasi alami dengan bangunan ber-AC, keduanya punya karakteristik yang berbeda. Kalau perancangan fisika bangunannya tidak optimal, maka bangunan berventilasi alami tidak akan menghasilkan ruangan yang nyaman (terlalu panas), dan ketika diubah menjadi bangunan ber-AC maka bangunannya akan boros energi karena tidak dioptimalkan menjadi bangunan ber-AC.</p>
<p>Ketiga, masih dalam konteks pendidikan, pendidikan fisika bangunan sudah waktunya untuk masuk ke dalam kurikulum pendidikan arsitektur, bahkan kalau perlu ke dalam kurikulum pendidikan teknik secara umum.</p>
<p>Dari sisi desainer, terutama arsitek, membangun high-performance building bukanlah hal yang bisa dilakukan dengan pola kerja tradisional, yaitu pola kerja sekuensial arsitek, kemudian sipil/struktural, kemudian mekanikal/elektrikal. Pola kerja desainer haruslah berubah ke arah integrated design method, yang merangkum seluruh aspek bangunan, baik estetika, bentuk, struktur, mekanikal, elektrikal, sejak dari awal perancangan. Untuk perubahan yang fundamental inilah maka pendidikan fisika bangunan harus lebih diintegrasikan ke dalam studio desain dalam kurikulum arsitektur.</p>
<p>Dari sisi pengguna bangunan, high-performance building seringkali memerlukan pengguna bangunan yang tahu bagaimana mengoperasikan bangunannya. Banyak sekali high-performance building yang gagal mencapai target performansinya justru karena pengguna bangunan tidak tahu bagaimana mengoperasikan bangunannya. Memasukkan pendidikan fisika bangunan ke dalam kurikulum dasar teknik adalah hal yang sangat strategis mengingat nantinya insinyur-insinyur kita akan menjadi pengguna bangunan yang tahu bagaimana mengoperasikan bangunannya.</p>
<p>Ketiga, sejauh ini kita masih bisa bermewah-mewah dalam kehidupan kita yang boros energi. Benar sekali: bermewah-mewahan. Anda pernah betah duduk dalam sebuah pertemuan. misalnya, di hotel mewah hanya dengan berbaju lengan pendek? Hampir pasti kita kedinginan karena memang perancang kita sangat mudah untuk merancang berlebihan (over-design).  Sebab utamanya adalah karena murahnya harga energi kita. Harga listrik kita sebanding dengan tarif listrik termurah di AS.</p>
<p>Ada dua skenario yang akan menyebabkan kita tidak mampu lagi bermewah-mewahan membuang energi. Pertama, skenario yang lebih gradual, adalah naiknya harga energi. Apapun yang akan terjadi, harga energi pasti akan naik, sampai suatu saat kita tidak mampu lagi untuk membayar harga energi sesuai dengan standar kemewahan kita saat ini.  Skenario kedua jauh lebih mendadak, yaitu tidak mampunya PLN dalam mengejar lonjakan kebutuhan listrik. Skenario ini bukanlah tidak mungkin, mengingat pemadaman bergilir sudah menjadi kebiasaan saat ini.</p>
<p>Skenario yang sangat mungkin terjadi adalah kombinasi antara keduanya.  PLN akan sangat kewalahan dalam mengikuti lonjakan kebutuhan listrik, dan karena itu PLN juga harus menaikkan tarif listrik. Ujung-ujungnya, pemilik bangunan akan sangat kewalahan dalam mengoperasikan bangunannya yang sudah terlanjur dirancang sebagai bangunan mahal.</p>
<p>Terakhir sekali, sebagai penutup, kepada Ignatius saya titipkan pesan agar tidak ragu-ragu dalam menekuni bidang fisika bangunan. Tidak ada bangunan terkenal yang dirancang tanpa memperhatikan aspek fisika bangunannya. Hanya masalah waktu saja sampai akhirnya nanti bidang profesi ini akan mendapatkan tempatnya yang layak di dunia industri bangunan.  Jangan sampai salah pergaulan. Bila kawan-kawan anda masih mempertentangkan antara &#8220;desain arsitektural murni&#8221; dengan &#8220;fisika bangunan&#8221;, maka anda segeralah lari jauh-jauh dari pandangan yang sudah ketinggalan jaman ini.</p>
<p>Bainbridge Island, WA, 5 Juli 2007</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/112/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

