<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ery.djunaedy &#187; Parenting</title>
	<atom:link href="http://ery.djunaedy.com/cat/parenting/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ery.djunaedy.com</link>
	<description>renung</description>
	<lastBuildDate>Sun, 17 Jul 2011 23:05:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Cerita tentang kemiskinan</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/472</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/472#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Dec 2010 06:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=472</guid>
		<description><![CDATA[Semoga Tuhan tidak meringankan bebannya hari ini, tetapi memberinya, ibunya, dan seluruh keluarganya kelapangan dada. Itulah doa yang kami (saya dan anak-anak) bahas dalam pengajian kami. Dahsyat sekali doa itu, sehingga ketika saya pertama kali membacanya dalam cerita yang dikirim oleh Nash, sobat saya, seketika itu timbul niat untuk membahasnya bersama anak-anak. Berikut cuplikan cerita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<div id="_mcePaste"><strong><em>Semoga Tuhan tidak meringankan bebannya hari ini, tetapi memberinya, ibunya, dan seluruh keluarganya kelapangan dada.</em></strong></div>
</blockquote>
<div>Itulah doa yang kami (saya dan anak-anak) bahas dalam pengajian kami. Dahsyat sekali doa itu, sehingga ketika saya pertama kali membacanya dalam cerita yang dikirim oleh Nash, sobat saya, seketika itu timbul niat untuk membahasnya bersama anak-anak.</div>
<div><span id="more-472"></span></div>
<div>Berikut cuplikan cerita itu:</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Tadi pagi hujan lebat di Padang. Ketika kembali menuju rumah dengan jas hujan di atas sepeda motor, saya berpapasan dengan seorang anak laki-laki berusia kira 10 tahun yang berteriak nyaring menjajakan dagangannya. Sangat mengejutkan bagi saya bahwa di tengah hujan lebat seperti ini, tanpa penahan air apapun di tubuhnya anak itu masih terus berjalan menjunjung dagangannya. Kira-kira 5 meter melewatinya, saya berbalik. Anak ini menjual 3 macam gorengan: pisang goreng, ketela rambat goreng, dan bakwan. Gorengan itu disusun seadanya di sebuah baskom plastik sedang, ditutup dengan plastik putih yang lusuh. Tidak ada pembungkus apapun untuk membawa gorengan ini pulang. Anak ini menawarkan diri untuk pulang ke rumahnya mengambil plastik. &#8220;Rumah awak dakek, Bang&#8221;&#8230;rumahnya dekat katanya. Meskipun saya tidak yakin rumahnya benar-benar dekat, tapi dengan itu, saya mengerti betapa dia sangat berharap saya jadi membeli di tengah hujan lebat ini. Saya menolak dan mencari plastik di bawah jok. Saya menemukan plastik kresek hitam yang berbau ban dalam. Setelah menyerahkan uang, dengan sengaja saya sentuh tangannya sambil berdoa dalam hati semoga Tuhan tidak meringankan bebannya hari ini, tetapi memberinya, ibunya, dan seluruh keluarganya kelapangan dada. Saya membawa gorengannya pulang sambil mengusap mata saya yang basah karena hujan dari langit dan hujan dari hati saya.</div>
</blockquote>
<div>***</div>
<div>&#8220;Kenapa dia tidak berdoa untuk meringankan beban sang anak?&#8221; kupancing anak-anakku dengan pertanyaan ini.</div>
<div>&#8220;What do you mean?&#8221; tanya Abdih.</div>
<div>&#8220;The guy could have made another wish: &#8220;may Allah lessen their burden&#8221;. Which wish do you think is better?&#8221;</div>
<div>Abdih langsung menyimpulkan bahwa seharusnya doa yang meminta keringananlah yang lebih baik.</div>
<div>Hanif ternyata berpendapat lain: doa yang meminta agar bebannya jangan dikurangilah yang lebih baik. &#8220;Kenapa, Nif?&#8221; kejar saya. &#8220;So that if they become successful someday, they will not forget how difficult it is to be poor&#8221;, begitu jawabnya.</div>
<div>Jawaban Hanif sangatlah tipikal pemikiran anak-anak yang cenderung linier dan berasumsi happy-ending. Jawabannya sama sekali tidak salah, hanya mungkin tidak realistik, dalam arti jarang sekali terjadi di dunia nyata.</div>
<div>Sembari menjelaskan bahwa jawabannya benar, tetapi tidak berlaku secara umum, saya mencoba memberikan jawaban lain yang lebih realistis: &#8220;The guy did not ask to lessen the burden of the poor people simply because he did not want them to get less reward from Allah. Instead, he asks Allah to make them stronger to take all the burden so that there is a big reward for them that can be claimed later on&#8221;.</div>
<div>Di titik inilah perbincangan kami mengarah kepada kenapa akhira itu perlu. Sama seperti yang dibincangkan oleh Nash dengan adiknya:</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Di akhir perbincangan kami, adik saya berkata bahwa untuk itulah mungkin Tuhan memberi akhirat untuk kita. Agar mereka-mereka yang hidupnya sangat berat di dunia ini bisa mendapatkan piutang keadilan yang menjadi haknya. Agar orang-orang yang berhutang keadilan di dunia ini, juga dapat membayarnya di sana. Di akhiratlah mungkin segala piutang lebih mudah ditagih dan segala hutang lebih mudah dibayar.</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">&#8220;Hanif tahu apa itu piutang?&#8221; tanya saya. Dia menebak, &#8220;In debt?&#8221;</div>
<div>&#8220;Nope&#8221;, jawab saya, &#8220;it&#8217;s the other way around. Piutang means giving a loan to other people&#8221;.</div>
<div>Hanif dan Abdih agak-agak bingung berusaha meluruskan logika yang agak-agak aneh ini. &#8220;The poor are the ones who give the loan?&#8221; tanya Hanif.</div>
<div>&#8220;Yup&#8221;, jawab saya, &#8220;if they are patient. That is why the guy pray that Allah gives them strength to bear all the burden. If the poor are patient, they are actually giving out loans in this world.&#8221;</div>
<div>&#8220;So who are in debt?&#8221; tanya Hanif.</div>
<div>&#8220;It&#8217;s us&#8221;, jawab saya, &#8220;all of us who are not poor, we are the ones in debt. Remember, that some of our money actually belong to the poor. We have to return it to the rightful owner here in the world. Otherwise, we are in debt, that we need to settle later on after we die.&#8221;</div>
<div>Beberapa lama kami diam, melanjutkan pemikiran yang sama seperti Nash:</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Di dalam hati, saya merenungi seperti apa akhirat yang akan saya jalani nanti, bisakah saya dibangkitkan bersisian dengan orang-orang berpiutang seperti ini?</div>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/472/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang kebapakan</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/74</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/74#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Nov 2006 17:56:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/74</guid>
		<description><![CDATA[Surat tanpa nama pengirim ini dituliskan di Bukom Karisma sekitar tahun 91-93. Ditulis ulang oleh Ery, Singapura, 26-Jan-2000. &#8230; dari surat-surat yang tak terkirimkan &#8230; tentang kebapakan Assalamu&#8217;alaikum, Nak &#8230; Sebelum kulanjutkan surat ini, biarlah kusampaikan betapa aku punya seribu rindu padamu yang aku simpan diam-diam. Betapa aku punya sebuah cinta padamu yang besarnya hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><small>Surat tanpa nama pengirim ini dituliskan di Bukom Karisma sekitar tahun 91-93.<br />
Ditulis ulang oleh Ery, Singapura, 26-Jan-2000.</small></em></p>
<p><strong>&#8230; dari surat-surat yang tak terkirimkan &#8230;<br />
tentang kebapakan<br />
</strong><br />
Assalamu&#8217;alaikum, Nak &#8230;</p>
<p>Sebelum kulanjutkan surat ini, biarlah kusampaikan betapa aku punya seribu rindu padamu yang aku simpan diam-diam. Betapa aku punya sebuah cinta padamu yang besarnya hanya Tuhanlah yang tahu, yang kujadikan pengantar dalam setiap do&#8217;a-do&#8217;aku untukmu.</p>
<p><span id="more-74"></span></p>
<p>Nak, sejak dulu telah menjadi permohonan bagiku, yang kubisikkan tiap kali kulihat Engkau beranjak dewasa &#8230; semoga Allah memberikan waktu dan kesempatan untukku untuk bicara padamu tentang tugas kita sebagai ayah bagi anak-anak kita. Pembicaraan antara Engkau dan aku saja, bukan Engkau sebagai anak, bukan pula aku sebagai ayah. Pembicaraan antara dua laki-laki dewasa yang sama-sama berusaha mendekati Kebenaran, mendekati keilahian.</p>
<p>Alhadulillah, sejak putramu lahir, aku yakin Allah mendengar do&#8217;aku &#8230;</p>
<p>Nak, menjadi ayah itu mulia &#8230; Bacalah kisah rasul-rasul di kitab suci yang berdoa tentang keturunannya, yang mengadukan tugas kebapakannya kepada Allah &#8230; Bacalah betapa do&#8217;a-do&#8217;a dan nasihat terbaik yang diabadikannya dalam AlQur&#8217;an dikutip dari pembicaraan antara ayah dan anaknya.</p>
<p>Nak, menjadi ayah itu indah &#8230; rasakanlah dengan hatimu imbauan Luqman Al-Hakim pada anaknya &#8230; ya bunayya &#8230; ulangilah pula doa Zakariyya &#8216;alaihissalaam yang dibisikkannya di mihrab suci dalam laut harap seorang hamba &#8230; fa hablii min ladunka waliyya &#8230;Nak, saat ini Engkau telah bisa merasakan bagaimana suasana hati mereka ketika mengucapkan kalimat-kalimat sederhana seperti itu. Karena Engkau telah menjadi seorang ayah.</p>
<p>Di atas segalanya, suasananya indah, Nak!</p>
<p>Itulah yang aku rasakan ketika aku coba ulangi dan hayati semuanya.</p>
<p>*** *** ***</p>
<p>Nak, melihatmu, memandangimu, meskipun tak lagi dengan mata fisik, adalah menyenyumi dengan pahit sebagian dari masa laluku. Saat ini, tak sungkan kuakui, aku adalah seorang ayah yang tanpa sejarah. Seorang laki-laki yang menjadi ayah, tetapi tidak punya sesuatu yang patut dikenang dan diteladani oleh laki-laki lain yang ingin menjadi ayah yang baik.</p>
<p>Kusadari, betapa aku dulu tak pernah berpikir dan menyiapkan diri bagaimana menjadi seorang ayah yang baik. Dan, Nak, itulah kelemahan kita, laki-laki, yang paling jarang kita sadari. Kita senantiasa bersiap menjadi suami yang baik tapi belum berpikir menjadi ayah yang teladan.</p>
<p>Ketika Engkau lahir, aku cuma berpikir bahwa Engkau adalah bagian dari kasih sayangku pada ibumu. Bahwa kehadiranmu adalah sebagai penguat ikatan kasih kami.</p>
<p>Tapi kemudian kusadari bahwa engkau adalah engkau. Engkau cuma titipan Allah, karenanya, engkau bukan sesuatu yang bisa aku miliki. Engkau datang dariNya, bukan dari aku dan ibumu. Engkau punya kehidupanmu sendiri, yang akan engkau pertanggung jawabkan sendiri, seperti aku akan lakukan juga nanti. Engkau bukanlah sebuah kemewahan yang bisa aku banggakan di hadapan orang-orang lain. Aku tak pantas bangga dengan penampilan fisikmu, tak pantas bangga dengan kemampuan berpikirmu, tak pantas bangga dengan segala kehebatanmu, atau apapun yang muncul karena kehebatanmu &#8230;</p>
<p>Engkau adalah manusia, Nak &#8230; Engkau adalah milik Tuhan penciptamu.  Karenanya, kalaupun aku boleh berbangga, maka seharusnyalah itu karena kemanusiaanmu, karena Engkau memang terlihat berpikir, merasa, dan berusaha membuktikan Engkau memang cuma dimiliki Tuhan.</p>
<p>*** *** ***</p>
<p>Bagitulah, Nak &#8230; setelah aku malu tak bersiap menjadi ayah, setelah kusadari Engkau bukan milikku karena Engkau pun punya kehidupanmu sendiri, maka kuakui, Nak, betapa aku menangis berkepanjangan di malam-malam setelah itu, kusampaikan rasa maluku, kesedihanku, pada Pemilik Maha Pemilik.</p>
<p>Kemudian, Nak &#8230; kuhisab diriku. Kalau aku harus mengantarkanmu kepada Tuhan, tentulah jarakku dengan Kebenaran Maha Kebenaran harus sedekat mungkin. Agar nantinya, ketika Engkau telah berjalan sendiri, jarak yang harus Engkau tempun tak lagi terlalu mendaki, jurangnya tak lagi terlalu curam, dan persimpangan tak lagi banyak.</p>
<p>Dalam perjalanan kita itu, Nak &#8230; aku tak menggendongmu, aku hanya memegang jemarimu, tubuh kita merapat. Di saat-saat tertentu, pada jalan yang terlalu licin, pada pendakian yang terlalu curam, aku ingat betapa Engkau sering merengek meminta kita mencari jalan yang lebih mudah. Tapi, Nak &#8230;  permintaanmu tak pernah kupenuhi, sekalipun Engkau menangis berurai air mata. Ingatkah apa yang aku katakan &#8230;? Tak ada jalah lain menuju Tuhan.  Tak ada jalan menuju Tuhan yang berpemandangan indah, yang landai, dan enak dilalui.</p>
<p>Di saat-saat lain, sering pula Engkau mengeluh letih dan ingin beristirahat.  Tapi, Nak &#8230; permintaan ini pun tak kukabulkan meski Engkau menarik-narik tanganku. Ingat apa yang kukatakan &#8230;? Perjalanan menuju Tuhan sesungguhnya bukanlah perjalanan fisik. Tak ada kata kelelahan dalam perjalanan seperti ini &#8230; tugas kita adalah terus menerus memperpendek jarak denganNya. Cuma Dia yang menentukan kapan kita berhenti. Berhenti artinya kehambaan kita mati.</p>
<p>*** *** ***</p>
<p>Saat-saat senja bagiku seperti ini, aku masih punya satu do&#8217;a. Mungkin do&#8217;a paling akhir yang akan terus ulang-ulang hingga kita tak lagi bisa bertemu di kefanaan. Itulah, Nak &#8230; doa kekasih Allah, Ibrahim, tentang anak cucunya dibelakang hari &#8230;</p>
<p>Sekarang aku menyadari kebanggaan sebenar-benar kebanggaan yang seharusnya kumiliki sebagai seorang ayah. Betapa aku akan bangga bila melihatmu mampu menjadi ayah yang lebih baik bagi putramu dari pada aku.</p>
<p>Kalaupun nanti, di kebakaan seberang sana, kulihat jarakku jauh dari Tuhan, aku akan ikhlas. Mungkin seperti itu jugalah jarakku dengan Tuhan di dunia.  Tapi betapa aku ingin melihat Engkau berapa di barisan yang lebih depan, anakmu berada lebih depan, dan anak dari anakmu berada lebih dekat lagi denganNya. Demikianlah seterusnya, hingga dari generasi ke generasi, titipan Allah kepada kita dekat kian dekat dengan Pemilik Sebenar Pemilik.</p>
<p>*** *** ***</p>
<p>Akhirnya, Nak &#8230; Setelah Engkau menjadi ayah, jangan lagi pikirkan nama besarmu, rasa hormat makhluk lain padamu &#8230; Karena kalau Engkau bangga dengan itu, anakmu pun akan belajar membanggakan nama besar(mu), rasa hormat makhluk (padamu). Jadilah ayah yang mengajarkan kesederhanaan, kedekatan kepada Tuhan &#8230;</p>
<p>Kudo&#8217;akan Engkau bisa membantunya menjadi manusia, setelah itu membantunya lebih dekat dan hanya bergantung pada Khalik, bukan pada makhluk-makhluk &#8230;</p>
<p>Aku tak kan bicara panjang lagi &#8230; lihatlah, cintaku &#8230; putramu menunggu genggaman jarimu &#8230;</p>
<p>Wassalamu&#8217;alaikum</p>
<p>Ayahmu</p>
<p>*** *** ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/74/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa rojak (bagian 1)</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/79</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/79#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Mar 2004 08:42:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Language]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/79</guid>
		<description><![CDATA[Dari sebuah email: > Mampukah kita,terutama saudara2ku ikhwan? > > Wassalam. > &#8211; Kepada Mbak Xxxxxxxi, mohon maaf kalau saya mengambil contoh di atas. Juga mohon maaf karena ini di luar topik yang didiskusikan. Siapa yang dimaksud dengan &#8220;saudara2ku ikhwan&#8221;? Berikut alternatifnya, dari perspektif pembaca email: Anggota &#8220;Ikhwanul muslimin&#8221;. Anggota organisasi tertentu yang saling menyebut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari sebuah email:</p>
<p>> Mampukah kita,terutama saudara2ku ikhwan?<br />
><br />
> Wassalam.<br />
> &#8211;</p>
<p>Kepada Mbak Xxxxxxxi, mohon maaf kalau saya mengambil contoh di atas. Juga mohon maaf karena ini di luar topik yang didiskusikan.</p>
<p>Siapa yang dimaksud dengan &#8220;saudara2ku ikhwan&#8221;?</p>
<p><span id="more-79"></span> Berikut alternatifnya, dari perspektif pembaca email:</p>
<ol>
<li>Anggota &#8220;Ikhwanul muslimin&#8221;.</li>
<li>Anggota organisasi tertentu yang saling menyebut sesama anggotanya sebagai &#8220;ikhwan&#8221;.Kedua alternatif di atas agak aneh, karena keanggotaan imas_sg adalah terbuka dan tidak terbatas pada suatu organisasi saja.</li>
<li>Secara umum saudara-saudara sesama muslim. Kalau ini yang dimaksud, maka secara bahasa agak aneh, karena &#8220;saudara&#8221; dan &#8220;ikhwan&#8221; mengandung makna yang kurang lebih sama.</li>
<li>Muslim laki-laki. Di sini penggunaan &#8220;ikhwan&#8221; ditujukan untuk membedakannya dengan &#8220;akhwat&#8221;.</li>
</ol>
<p>Alternatif terakhir ini yang paling cocok secara tata bahasa, walaupun akan menimbulkan permasalahan gender.  Kenapa kemampuan untuk menghadapi sekularisme lebih dinisbahkan kepada laki-laki? Bukankah peran perempuan sama kritisnya?</p>
<p>Kembali ke topik posting ini, secara umum, saya melihat adanya gejala penggunaan kata-kata Arab untuk kata-kata yang sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Untuk apa? Wallaahu a&#8217;lam. Tetapi ini sudah menjadi lingo tersendiri. Barangkali untuk mencuatkan identitas sebagai komunitas islami. Barangkali juga sebagai bentuk pemberontakan terhadap bahasa kaum muda yang semakin amburadul.</p>
<p>Akhirnya kita mendengar:</p>
<ul>
<li>saya ==> ana, ane</li>
<li>anda ==> antum, ente</li>
<li>saudara ==> akhi</li>
<li>laki-laki ==> ikhwan</li>
<li>perempuan ==> akhwat, masturah</li>
<li>ayah, bapak, apak ==> abi</li>
<li>ibu, bunda, emak ==> ummi</li>
<li>pakcik, mamang ==> ammi</li>
</ul>
<p>Dalam tataran pribadi, saya termasuk yang sangat khawatir dengan &#8220;bahasa rojak&#8221;. Anak-anak kami sudah mulai mencampur adukkan tiga bahasa. Bahasa campur-campur bukanlah cara yang baik untuk menguasai suatu bahasa.</p>
<p>Dalam tataran yang lebih luas, bahasa kan menunjukkan bangsa. Ada budaya yang menjadi latar belakang bahasa itu.  Saya juga berpindah ke mode &#8220;ane-ente&#8221; ketika berbicara dalam logat &#8220;betawi/arab&#8221;, tapi itu kan memang setting budayanya seperti itu. Kalau berpindah ke logat makassar, ya sudah pasti lain lagi, karena memang lain settingnya.</p>
<p>Akankah budaya kita pelan-pelan tercerabut karena penggunaan bahasa yang acakablak? Ingat, bahasa memang merupakan produk budaya, tapi pada gilirannya, bahasa bisa membentuk budaya.</p>
<p>Saya termasuk yang berpendapat bahwa penggunaan bahasa Arab adalah bagian dari syiar Islam. Tetapi penggunaan bahasa campur-campur bukanlah bagian dari syiar Islam.</p>
<p>Mari kita kuasai bahasa Arab, dan kita didik anak-anak kita untuk tidak memakai bahasa rojak, dimulai dari diri kita sendiri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/79/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

