<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ery.djunaedy &#187; Language</title>
	<atom:link href="http://ery.djunaedy.com/cat/language/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ery.djunaedy.com</link>
	<description>renung</description>
	<lastBuildDate>Sun, 17 Jul 2011 23:05:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Mungsolkanas</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/252</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/252#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Mar 2009 04:44:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Language]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>
		<category><![CDATA[Signage]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=252</guid>
		<description><![CDATA[Mungsolkanas, saudara-saudara, mungsolkanas &#8230;.. Kenapa? anda tidak tahu apa artinya? Aaaah, you are so yesterday. Silakan lihat di bawah ini kalah anda tidak tahu. Mungsolkanas Memang itu nama masjid di Cihampelas, tapi coba baca lebih teliti lagi apa arti Mungsolkanas: Mangga urang ngaos shalawat Ka Kanjeng Nabi Muhammad SAW Cerdas? Agak maksain sih memang, tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungsolkanas, saudara-saudara, mungsolkanas &#8230;.. Kenapa? anda tidak tahu apa artinya? Aaaah, you are so yesterday. Silakan lihat di bawah ini kalah anda tidak tahu.</p>
<p><span id="more-252"></span><img class="size-medium wp-image-253" title="Mungsolkanas" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/03/mungsolkanas-300x219.jpg" alt="Mungsolkanas" width="300" height="219" /></p>
<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_253" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px;">
<dd class="wp-caption-dd">Mungsolkanas</dd>
</dl>
</div>
<p>Memang itu nama masjid di Cihampelas, tapi coba baca lebih teliti lagi apa arti Mungsolkanas:</p>
<blockquote><p>Mangga urang ngaos shalawat Ka Kanjeng Nabi Muhammad SAW</p></blockquote>
<p>Cerdas? Agak maksain sih memang, tapi lumayan kreatif dalam menciptakan kata baru yang bunyinya pun terasa sangat Sunda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/252/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengungkap</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/83</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/83#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 23:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Language]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Anda bisa memaki-maki dalam bahasa Inggris? Kalau saya terus terang tidak bisa. Maklum lah, bahasa Inggris kan bukan bahasa ibu. Betapapun sudah lama tinggal di negara berbahasa Inggris, sudah lama ikut kuliah dalam bahasa Inggris, bahkan sudah lama memberi kuliah dalam bahasa Inggris, saya tetap merasa tidak bisa ekpresif dalam penggunaaan bahasa itu. Untuk komunikasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda bisa memaki-maki dalam bahasa Inggris? Kalau saya terus terang tidak bisa. Maklum lah, bahasa Inggris kan bukan bahasa ibu. Betapapun sudah lama tinggal di negara berbahasa Inggris, sudah lama ikut kuliah dalam bahasa Inggris, bahkan sudah lama memberi kuliah dalam bahasa Inggris, saya tetap merasa tidak bisa ekpresif dalam penggunaaan bahasa itu.</p>
<p>Untuk komunikasi &#8220;biasa&#8221; sih tidak menjadi masalah. Artinya orang lain tidak sulit menangkap apa yang ingin saya sampaikan ketika saya berbicara dalam bahasa Inggris. Tapi unsur-unsur yang lebih luas dalam berbahasa, yang memerlukan ungkapan ekspresi dari dalam, saya masih sering gelagapan. Kalau kata istri saya, &#8220;<em>rek dicarekan ku basa Sunda</em>&#8221; (artinya &#8220;mau kumarahi pakai bahasa Sunda&#8221;), saking tidak bisanya kita mengungkapkan perasaan dalam bahasa Inggris.</p>
<p><span id="more-83"></span></p>
<p>Karena itu saya agak terkejut ketika membaca Warta Berita Radio Nederland Weleldomroep (edisi Bahasa Indonesia, Jumat 08 Desember 2006 13:50 UTC) yang mengutip seorang wartawan di Jakarta yang merasa lebih ekspresif ketika berbicara dalam bahasa Belanda. &#8220;Saya merasa lebih bebas dalam bahasa Belanda, saya bisa lebih baik mengungkapkan diri dalam bahasa itu,&#8221; begitu katanya.</p>
<p>Senang juga ya bisa mengungkapkan diri dengan sempurna dalam bahasa asing. Atau jangan-jangan, hal ini terjadi karena ketidakmampuan beliau dalam berbahasa Indonesia?</p>
<p>Berikut laporan selengkapnya dari Radio Nederland:</p>
<blockquote><p>Kita beralih ke topik Indonesia. Ratusan mahasiswa Indonesia belajar bahasa bekas penjajah: bahasa Belanda buka tabu lagi, demikian tulis harian Belanda Het Parool. Dengan belajar bahasa Belanda, para mahasiswa berharap mendapat pekerjaan sebagai penerjemah atau dosen bahasa Belanda. Mahasiswa hukum dan sejarah bahkan wajib belajar bahasa Belanda supaya bisa memahami sumber-sumber yang kebanyakan dalam bahasa Belanda. Pusat Bahasa Erasmus di Jakarta, yang dibangunkan 25 tahun silam adalah tempat untuk belajar bahasa Belanda di Indonesia. &#8220;Itulah ciri bahasa Belanda sekarang di Indonesia, bahasa asing modern&#8221;, demikian Hans Groot pemimpin lembaga tersebut. Tentulah sejarah penjajahan tidak bisa dilupakan. Dengan menyelenggarakan lomba menyanyi dan bicara dalam bahasa Belanda, Hans Groot berusaha melibatkan lebih banyak mahasiswa dalam lembaga bahasanya. &#8220;Sekarang kita punya 1.500 mahasiswa setahun. Kita berkesimpulan bahwa kebijakan imigrasi keras yang dilakukan Den Haag saat ini, juga berdampak untuk kita,&#8221; demikian Groot.</p>
<p>Untuk warga Indonesia tertentu yang belajar bahasa Belanda, bahasa itu sebenarnya tetap tabu. Sarah Sayekti yang bekerja sebagai wartawan tv <script type="text/javascript"><!--
 D(["mb","dan penerjemah dimarahi orang tuanya ketika dia bilang ingin belajar
bahasa Belanda. &amp;quot;Namun sekarang mereka melihat bahwa saya bisa
mendapat gaji dengan menguasai bahasa Belanda, antara lain karena
pekerjaan saya di acara Spoorloos, yang ditayangkan televisi KRO di
Belanda. Sayekti menang lomba bicara bahasa Belanda. &amp;quot;Saya merasa
lebih bebas dalam bahasa Belanda, saya bisa lebih baik mengungkapkan
diri dalam bahasa itu,&amp;quot; demikian Sayekti.</p>
<p>Kebanyakan mahasiswa tidak memikirkan zaman kolonial lagi jika mereka
mendengar bahasa Belanda. &amp;quot;Tentu ada ikatan sejarah antara Indonesia
dan Belanda,&amp;quot; kata mahasiswa tahun keempat Fajar Nugraha. Namun itu
perlu dilihat lepas dari bahasanya. Apa yang pernah terjadi, sudah
berlalu.&amp;quot;</p>
<p>Demikian harian Het Parool dan demikian pula tinjauan pers hari ini.</p>
<p>* CLINTON MENDESAK PENGEMBANGAN ENERGI BERSIH</p>
<p>Mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton berpidato di Istana
Soestdijk Belanda tentang pelestarian iklim. Clinton berada di Belanda
atas undangan Nasional Postcodeloterij. Lotere Nasional Belanda
tersebut menunjang pelbagai usaha amal di dalam dan luar Belanda dan
belum lama berselang juga menjadi penunjang Clinton Foundation.
Clinton mendapatkan dana satu juta euro untuk Prakarsa Iklim-nya.</p>
<p>Dengan santai Bill Clinton menguraikan tujuan Climate Initiative atau
prakarsa iklimnya, yang merupakan hubungan kerjasama antara 40 kota
dunia, di antaranya Rotterdam, yang merintis pengembangan energi ramah
lingkungan dan penghematan energi. Jika dibandingkan dengan
Johannesburg dan Moskow Rotterdam adalah sebuah kota yang lebih kecil
dalam perhimpunan kota-kota itu. Namun Rotterdam punya pelabuhan yang
terbesar di dunia. Lagi pula pemerintah kota Rotterdam dalam
tahun-tahun mendatang akan mengucurkan dana sebesar enam juta euro
untuk mendirikan pusat pembangkit energi baru, pelabuhan penampungan
",1] );
// --></script>dan penerjemah dimarahi orang tuanya ketika dia bilang ingin belajar bahasa Belanda. &#8220;Namun sekarang mereka melihat bahwa saya bisa mendapat gaji dengan menguasai bahasa Belanda, antara lain karena pekerjaan saya di acara Spoorloos, yang ditayangkan televisi KRO di Belanda. Sayekti menang lomba bicara bahasa Belanda. &#8220;Saya merasa lebih bebas dalam bahasa Belanda, saya bisa lebih baik mengungkapkan diri dalam bahasa itu,&#8221; demikian Sayekti.</p>
<p>Kebanyakan mahasiswa tidak memikirkan zaman kolonial lagi jika mereka mendengar bahasa Belanda. &#8220;Tentu ada ikatan sejarah antara Indonesia dan Belanda,&#8221; kata mahasiswa tahun keempat Fajar Nugraha. Namun itu perlu dilihat lepas dari bahasanya. Apa yang pernah terjadi, sudah berlalu.&#8221;</p>
<p>Demikian harian Het Parool dan demikian pula tinjauan pers hari ini.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/83/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lost in translation</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/91</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/91#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 May 2007 15:24:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Language]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/91</guid>
		<description><![CDATA[Tentang nama kota dan pengajaran bahasa Artikel ini dimuat di Pikiran Rakyat dengan judul: Nama Kota dan Pengajaran Bahasa Hanif anak sulung kami beberapa waktu yang lalu masuk ke dalam putaran final Geography Bee di tingkat sekolah, Collister Elementary di Boise, Idaho. Ini semacam cerdas cermat, tapi soalnya khusus mengenai masalah geografi. Sponsornya tidak tanggung-tanggung: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><small><strong>Tentang nama kota dan pengajaran bahasa</strong></small></p>
<p><small>Artikel ini dimuat di Pikiran Rakyat dengan judul: <a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/052007/22/09-opini.htm">Nama Kota dan Pengajaran Bahasa</a></small></p>
<p>Hanif anak sulung kami beberapa waktu yang lalu masuk ke dalam putaran final Geography Bee di tingkat sekolah, Collister Elementary di Boise, Idaho. Ini semacam cerdas cermat, tapi soalnya khusus mengenai masalah geografi. Sponsornya tidak tanggung-tanggung: National Geographic. Juara pertama tingkat sekolah akan bertanding di tingkat negara bagian, dan nantinya akan bertanding di tingkat nasional.</p>
<p>Hanif berhasil meraih juara kedua setelah berkejar-kejaran angka dengan sang juara pertama, tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan di artikel ini. Artikel ini ingin bercerita tentang pengajaran bahasa dan nama kota.<br />
<span id="more-91"></span><br />
Salah model pertanyaan yang diberikan adalah menyebutkan nama negara disebutkan nama sebuah kota terkenal di dunia. Dan dalam kategori ini, salah satu pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Hanif adalah: The Hague.</p>
<p>Jawaban yang benar tentunya: The Netherlands. Tapi Hanif tidak bisa menjawabnya, dan ini tentu sangat mengenaskan mengingat Hanif pernah tinggal selama tiga tahun di Belanda, dan pernah mengunjungi kota yang disebutkan itu.</p>
<p>Apa sebab Hanif tidak bisa menjawabnya? Sederhana sekali, ternyata. Hanif, dan juga sebagian besar warga Indonesia, mengenal dan menyebut kota itu dengan nama populernya dalam bahasa Belanda: Den Haag. Padahal dalam bahasa Inggris, kota itu disebut The Hague, dan ini luput dari perhatian Hanif ketika dia mulai berbicara dalam bahasa Inggris (ini juga luput dari perhatian kami sampai kejadian di Geography Bee tadi).</p>
<p>The moral of the story: ketika belajar bahasa, jangan lupa mengajarkan nama-nama kota populer dalam bahasa tersebut.</p>
<p>***</p>
<p>Anda pernah ke Guhanisburg? Ini serius. Sewaktu saya tinggal di Emirat, ada selebaran yang menawarkan diskon tiket pesawat dari Abu Dhabi ke kota itu. Dan nama kota itu dituliskan dalam selebaran berbahasa Inggris. Saya jadi bingung ketika membaca nama kota itu, tentu dengan menebak-nebak apakah yang dimaksudkan adalah Johannesburg di Afrika Selatan?</p>
<p>Masalahnya baru jelas setelah saya membaca versi bahasa Arabnya. Ternyata dalam bahasa Arab, kota itu memang ditransliterasikan ke dalam huruf Arab, dan kata itu berbunyi &#8220;Juuhaanisburj&#8221;. Dan kata dalam bahasa Arab inilah yang dituliskan dalam selebaran diskon itu dalam bahasa Arab. </p>
<p>Masalahnya bertambah rumit ketika selebaran itu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Sang penerjemah pasti orang Mesir, karena dialek Mesir membaca huruf &#8220;jiim&#8221; dengan bunyi &#8220;g&#8221;. (Ingat nama Presiden Mesir yang terkenal adalah Gamal, padalah dalam tulisan Arabnya berbunyi Jamal). </p>
<p>Sehingga kata yang seharusnya berbunyi &#8220;Juuhaanisburj&#8221; menjadi &#8220;Guhanisburg&#8221;. Dan kata itulah yang dipakai untuk merujuk kepada kota itu dalam bahasa Inggris.</p>
<p>This is bizarre. Ini adalah perwujudan yang paling rumit dari &#8220;lost in translation&#8221;. Boro-boro menggunakan nama kota itu dalam bahasa Inggris, sang penerjemah bahkan tidak menuliskan kata itu sesuai dengan transliterasi yang semestinya digunakan dalam bahasa Arab. Dia hanya menuliskan nama kota itu seperti apa yang biasa dia sebutkan, dan dia menggunakan nama itu dalam semua bahasa yang dia tuturkan.</p>
<p>The moral of the story is: mari kita bakukan penyebutan nama kota sesuai dengan bahasa yang kita pakai.</p>
<p>***</p>
<p>Untuk mengatasi masalah lost in translation seperti dua kejadian di atas, berikut beberapa tips yang bisa dipakai.</p>
<p>Pertama, gunakan nama kota sesuai dengan bahasa yang kita pakai.</p>
<p>Banyak kota-kota di Eropa yang mempunyai dua nama resmi dalam dua bahasa. Kota Liege atau Luik di Belgia misalnya. Liege (dibaca &#8220;li-esy&#8221;) adalah nama kota tersebut dalam bahasa Perancis. Sedangkan dalam bahasa Belanda kota itu disebut Luik (dibaca mirip dengan bunyi &#8220;lauk&#8221;). Kota itu memang terletak di bagian Belgia yang berbahasa Belanda, jadi untuk mengakomodasi kedua bahasa resmi di Belgia, maka kota itu punya dua bahasa.</p>
<p>Dalam bahasa Inggris, kota itu dipanggil dalam nama Perancisnya, Liege. Entah apa nama kota ini dalam bahasa Indonesia. Kalau ditulis Liege, akan dibaca &#8220;li-ge&#8221; oleh orang Indonesia, tapi kalau ditulis Liesy akan terlihat aneh, sekalipun alternatif kedua ini konsisten dengan kaidah penyerapan bunyi dari bahasa asing.</p>
<p>Contoh lain adalah kota Brusel, ibukota Belgia. Dalam bahasa Perancis kota itu dituliskan sebagai Bruxelles (dibaca &#8220;bru-syel&#8221;), sedangkan dalam bahasa Belanda dituliskan sebagai Brusel (dibaca &#8220;bru-sel&#8221;). Dalam bahasa Inggris, kota itu disebut dengan nama yang lain yaitu Brussels (dibaca &#8220;bras-sels&#8221;). Perhatikan dua &#8220;s&#8221; ditengah dan akhiran &#8220;s&#8221; dalam nama Inggrisnya.</p>
<p>Kita menyerap nama kota itu dari bahasa Belanda, sehinga dalam bahasa Indonesia seharusnya ditulis dan dibaca sebagai Brusel. Tapi banyak orang Indonesia sekarang ini menyebutnya sebagai &#8220;bru-sels&#8221;, yaitu gabungan antara nama kota itu dalam bahasa Belanda dan Inggris. Ini adalah pemakaian yang tidak konsisten.</p>
<p>Kedua, gunakan nama kota atau negara sesuai dengan nama yang ingin digunakan oleh warganya.</p>
<p>Ketika &#8220;Burma&#8221; ganti nama menjagi &#8220;Myanmar&#8221;, saya menganggapnya sebagai trik pemerintah otoriter untuk mengubah citra mereka bagi masyarakat luar. Sampai suatu ketika saya bertemu dengan seorang kawan orang Myanmar, dan bertanya tentang penggantian nama itu.</p>
<p>Dia menjawab, &#8220;Kami selalu menyebutnya dengan kata Myanmar. Hanya karena kata itu susah diucapkan oleh orang Inggris, maka kami harus menjadi Burma.&#8221; Penggantian nama dari Burma ke Myanmar adalah penegasan kembali oleh suatu bangsa bahwa mereka ingin disebut dengan nama aslinya, lepas dari mudah tidaknya nama itu diucapkan oleh lidah asing.</p>
<p>Kota Abu Dhabi, adalah contoh lain. Kalau orang Indonesia membacanya dalam bahasa Arab dan kemudian diminta menuliskannya dengan huruf romawi, maka dia akan menuliskannya sebagai &#8220;Abu Zhabi&#8221;. Huruf Arab &#8220;zha&#8221; diucapkan lebih condong ke bunyi &#8220;z&#8221;. Tetapi kata &#8220;Zhabi&#8221; selalu dituliskan (dan diucapkan) sebagai &#8220;Dhabi&#8221; dalam bahasa Inggris. Karena ini memang diterima dan digunakan sendiri oleh pemerintah Emirat, maka inipun kita gunakan dalam bahasa Indonesia, sekalipun kita tahu bahwa bunyi pengucapannya salah.</p>
<p>Contoh lain adalah kota Kairo. Kita menyerapnya dari bahasa Inggris, Cairo, dan mengganti huruf &#8220;c&#8221; sesuai dengan bunyinya menjadi huruf &#8220;k&#8221;. Kalau kita menyerapnya dari bahasa Arab, maka kota itu mungkin akan ditulis sebagai Qahirah (kota ini disebut sebagai Kaherah dalam bahasa Melayu). Kita menerima Kairo sebagai nama yang diterima oleh penduduknya sendiri, sekalipun kita tahu bahwa bunyinya menjadi tidak tepat.</p>
<p>Bahasa yang menggunakan karakter sendiri (Arab, Mandarin, Jepang, Korea, Urdu, dll) pasti akan menerjemahkan nama kota ke dalam bunyi yang disesuaikan dengan bahasa mereka. Kota Jakarta dalam bahasa Mandarin akan berbunyi seperti &#8220;Ya ta ta&#8221;. Gunakanlah nama-nama kota dalam bahasa masing-masing tanpa perlu bercampur baur dengan bahasa lain.</p>
<p>Masalahnya akan bertambah kompleks kalau kita memperhitungkan nama resmi dan tidak resmi dari suatu kota. Den Haag bukanlah nama resmi kota itu. Nama resminya adalah &#8216;s Gravenhaag, sebuah nama yang jarang terdengar dalam percakapan sehari-hari. Dalam konteks pendidikan, nama asli sebuah kota perlu diajarkan untuk kekayaan bahasa kita.</p>
<p>Memang masih banyak pekerjaan rumah bagi ahli bahasa kita. Kota tempat tinggal kami, Boise, misalnya, apa bahasa Indonesianya? Kata Boise ini diucapkan sebagai &#8220;boi-si&#8221;. Apakah kita akan mengikuti kaidah penyerapan bunyi, sehingga dituliskan sebagai &#8220;Boisi&#8221;? Ataukah tetap dengan ejaan aslinya &#8220;Boise&#8221; dengan resiko akan diucapkan sebagai &#8220;bois&#8221; atau malah &#8220;boi-se&#8221;?</p>
<p>Bahasa menunjukkan bangsa. Mari kita tunjukkan bahwa orang Indonesia bisa berbahasa dengan baik dan benar, dalam hal ini, menyebutkan nama kota dan negara dengan baik dan benar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/91/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My language, your language, our language</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/64</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/64#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Nov 2006 07:38:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Language]]></category>
		<category><![CDATA[Signage]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/64</guid>
		<description><![CDATA[In Indonesia, 28-Oct is commemorated as the Youth Pledge Day. On this day in 1928, there was a congress held in Jakarta attended by various youth organizations in Indonesia. This congress that was seen as an important milestone towards Indonesia&#8217;s independence from the Dutch colonial government, because this congress introduced a new platform in the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>In Indonesia, 28-Oct is commemorated as the Youth Pledge Day. On this day in 1928, there was a congress held in Jakarta attended by various youth organizations in Indonesia. This congress that was seen as an important milestone towards Indonesia&#8217;s independence from the Dutch colonial government, because this congress introduced a new platform in the struggle of independence: Indonesia. The term Indonesia was officially recognized as a uniting entity among different cultures within the archipelago.</p>
<p><span id="more-64"></span></p>
<p>At the end of the congress, the youth made the famous three pledges that despite their different cultures and origins, they pledge for one motherland: Indonesia, one nation: Indonesia, and pledge to uphold the uniting language: the Indonesian language.</p>
<p>I do not actually very interested in the romantic historical overview of the event. What is interesting is how we, as a nation, uphold our national language in the world withough borders as we live today. What <em><strong>upholding </strong></em>means for us?</p>
<p>Two options pop in my mind: (1) guard its purity against linguistic contamination, or (2) use it as we wish.</p>
<p>The first option will see us defend our language against silent attacks by frequent use of foreign language terminologies. Our reaction would be a frantic attempt to translate all absorbed idioms and terminologies to Indonesian. Here are some examples taken from an email sent to a mailing list (words in <em>italics </em>have been absorbed and transliterated into Indonesian):</p>
<blockquote><p><em>akselerasi</em>: percepatan<br />
<em>asimilasi</em>: pembauran<br />
audio visual : pandang dengar<br />
babysitter : pramusiwi, pramubalita.<br />
buffet : prasmanan<br />
briefing : taklimat<br />
coffeebreak : rehat kopi<br />
<em>konsisten </em>: taat asas<br />
<em>komitmen</em>: keikatan<br />
<em>konsepsi</em>: rancangan<br />
cultural gap: senjang budaya<br />
cultural shock: gegar budaya<br />
cross reference : rujuk silang<br />
<em>degradasi</em>: kemunduran<br />
<em>distorsi</em>: pemiuhan<br />
<em>display </em>: peragaan<br />
<em>demonstrasi</em>: unjuk rasa<br />
<em>eksplisit </em>: gamblang<br />
<em>eskalasi</em>: peningkatan<br />
face-to-face : bersemuka<br />
<em>fermentasi</em>: peragian<br />
fly over : jembatan layang<br />
fly pass : jalan layang<br />
<em>frekuensi</em>: kekerapan<br />
<em>infiltrasi</em>: perembesan, peresapan<br />
<em>interpretasi</em>: tafsiran<br />
[and many more]</p></blockquote>
<p>I do not have a particular objection to this kind of interpretation of upholding the language. My only comment is that how pure do we want it to be? Indonesian is a dialect of Malay language, which has long been a <em>lingua franca</em> in the region. Naturally, if a language is spoken by many nations, then there will be absorption of foreign words into the vocabulary. Why couldn&#8217;t we just take those words, especially the ones that has been transliterated into Indonesian spelling, as Indonesian words? After all, some of the English words listed above are given Arabic words as the alternative, not &#8220;pure&#8221; Malay words which is the origin of Indonesian language. Why do we change English words in favor of Arabic, Sanskrit, or Javaneese words?</p>
<p>Another example is the word &#8220;formulir&#8221;, which means &#8220;form&#8221; as in &#8220;application form&#8221;. We took it from the Dutch word &#8220;formulier&#8221;, and we are OK with it even though there is a Malay word for it: &#8220;borang&#8221;. Is it because we do not want to use Malaysian word because it sounds strange, even though it is an original Malay word? Linguistic puritanism should have its own limit as to how pure it is that we want.</p>
<p>The second option for us is to simply use the language. That alone constitutes <strong><em>upholding </em></strong>the language, even if the language transforms in its use. As my Indonesian (language) lecturer said that if you want to know whether a word is Indonesian or not, simply refer to the Indonesian Dictionary published by the Language Center. If the word is used by people, it will be there, she said, and if it is there, it is Indonesian word.</p>
<p>Of course, as in the first option, there should be a limit as to how far the language is allowed to transform.</p>
<p>The Malay language is known to have different versions between the spoken and written form. However, the difference between <em>Melayu Pasar</em> (the spoken &#8220;street&#8221; Malay) and the written Malay is nothing compared to what happened today.<br />
The spoken language has become horribly non-standard. Just listen to the people talking on the streets, especially the teens, and you will be surprised how different they sound from the standard Indonesian language. The younger generation Indonesian seem to feel cool if they can speak strange language.</p>
<p>Even worse, the gap to the standard Indonesian is not only occurs in the spoken language, but started to happen in the written language. An email was sent to a mailing list where the sender put the word &#8220;Piss&#8221; in place of &#8220;Regards&#8221; before her signature. I honestly have to think about what it means before realizing that the word means &#8220;Peace&#8221; transliterated into cool Indonesian word &#8220;Piss&#8221;. Its a swing of association to the extreme. In &#8220;peace&#8221; you would associate sanctity and tranquility with it, while in &#8220;piss&#8221; you can only think about toilet.</p>
<p>The same phenomena is also observed by my friend Judhi in Singapore. He took a picture below that captured the same concern: strange language make us difficult to communicate. Why was &#8220;Nasi Lemark&#8221; written there when it should be &#8220;Nasi Lemak&#8221;? Is it because English speaking people will pronounce it more correctly than the original word? You read Judhi&#8217;s observation <a target="_blank" title="Confused Singaporean" href="http://www.flickr.com/photos/best/279699248/">here</a>. He is spot-on to point out that the food items on the list are not Muslim food. They are Malay food, but they have nothing to do with being Muslim food, or non-Muslim food for that matter. Being a Malay food does not make it a Muslim food.</p>
<div style="text-align: center"><a target="_blank" title="Confused Singaporean" href="http://www.flickr.com/photos/best/279699248/"><img width="395" height="297" title="Resto Pandang" alt="Resto Pandang" style="width: 395px; height: 297px" src="http://static.flickr.com/90/279699248_7a987e244f.jpg?v=0" /></a></div>
<p>The linguistic problem reflects communication problem. We cannot communicate effectively. This is a problem of course, but this is not the scariest part of it. Linguistic problem reflects jumbled thought, this is the monster problem. You cannot think effectively without adequate language capabilities. I do not realize this until I read Oliver Sacks&#8217; book <a title="Seeing Voices" target="_blank" href="http://www.amazon.com/Seeing-Voices-Oliver-Sacks/dp/0375704078/sr=1-1/qid=1163402927/ref=pd_bbs_sr_1/002-6976617-2768019?ie=UTF8&#038;s=books"><em>Seeing Voices</em></a> (I will write another article about this).</p>
<p>What lies ahead of us is the combination of the two options above. Use the language as we wish, and at the same time keep it from abandoning its identity as Indonesian language. Instead of speaking half-Indonesian-half-English, why not just speak English if you feel like it. Like this article <img src='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  discussing Indonesian language in English!</p>
<p>Please enjoy my <a title="Ana hilang shoes" href="http://ery.djunaedy.com/archives/63">older article</a> in this topic (this one is in Indonesian).</p>
<div align="left" style="text-align: center" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/64/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa rojak (bagian 2)</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/80</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/80#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Mar 2004 11:21:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Language]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/80</guid>
		<description><![CDATA[> Kang Ery mau Tanya nih&#8230; > > Dari mana orang betawi dapat istilah ane and ente? > Asimilasi budaya atau lainnya? > > Karena sepertinya Kang Ery tidak keberatan dengan budaya > betawi yang menggunakan ane-ente yang menurut saya akarnya > juga bahasa arab. Mungkin karena sekarang kita tidak > hidup dijaman asimilasi tersebut, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>
> Kang Ery mau Tanya nih&#8230;<br />
><br />
> Dari mana orang betawi dapat istilah ane and ente?<br />
> Asimilasi budaya atau lainnya?<br />
><br />
> Karena sepertinya Kang Ery tidak keberatan dengan budaya<br />
> betawi yang menggunakan ane-ente yang menurut saya akarnya<br />
> juga bahasa arab.  Mungkin karena sekarang kita tidak<br />
> hidup dijaman asimilasi tersebut, entah berapa ratus tahun<br />
> yang lalu, sekarang kita mengatakan hal tersebut sebagai<br />
> budaya Betawi.<br />
><br />
> Dan mungkin masih banyak lagi asimilasi-asimilasi lainnya<br />
> yang sekarang juga tidak kita persoalkan dan mengangapnya<br />
> wajar sebagai bagian dari budaya yang bersangkutan.<br />
> Mungkin itulah budaya, budaya yang terbentuk dari<br />
> asimilasi-asimilasi atau pengaruh dari kelompok, golongan<br />
> atau bahkan bangsa lain.  Saya sendiri juga merasa janggal<br />
> dengan cara penggunaan bahasa seperti yang dilontarkan<br />
> Kang Ery terhadap tulisan Mbak Xxxxxx, tapi bisa jadi hal<br />
> ini justru akan membentuk budaya baru dikemudaian hari,<br />
> terlepas dari kesan esklusif atapun pengelompokan yang<br />
> disinggung oleh Kang Ery.<br />
><br />
> Waallahu`alam<br />
> Shodiq
</p></blockquote>
<p><span id="more-80"></span></p>
<p>Shodiq,</p>
<p>Saya tidak bisa berkomentar ttg asimilasi, karena saya nggak punya ilmu apa-apa ttg hal itu. Tetapi kata kuncinya barangkali ada pada &#8220;ratusan tahun&#8221; itu.</p>
<p>Ketertarikan saya saat ini adalah pengaruh &#8220;bahasa yang terpatah-patah&#8221; (<strong><em>broken language</em></strong>) terhadap cara berpikir seseorang.  Dalam tataran individual efeknya akan terasa sekali karena jangka waktunya adalah belasan (atau puluhan) tahun saja.</p>
<p>Berikut saya kutipkan George Orwell dalam &#8220;Politics and the English Language&#8221;:</p>
<blockquote><p>&#8220;&#8230; But an effect can become a cause, reinforcing the original cause and producing the same effect in an intensified form, and so on indefinitely. A man may take to drink because he feels himself to be a failure, and then fail all the more completely because he drinks. It is rather the same thing that is happening to the English language. It becomes ugly and inaccurate because our thought are foolish, but the slovenliness of our language makes it easier for us to have foolish thoughts.&#8221;</p></blockquote>
<p>Orwell berbicara ttg bahasa Inggris, terutama penggunaannya dalam politik, yang disebutnya sudah merusak cara kita berpikir. Saya berpendapat bahwa hal yang sama (bahkan dalam intensitas yang lebih besar) akan terjadi kalau kita melihat &#8220;<strong><em>broken language</em></strong>&#8220;.</p>
<p>Saya pernah menulis artikel berjudul &#8220;Ana hilang shoes&#8221;, satu kalimat dalam tiga kata dalam tiga bahasa. Coba bayangkan anak ini mencoba mengekspresikan pendapatnya kepada orang lain. Susah sekali orang lain untuk mengerti mereka (kecuali tentu saja mereka yang bercakap dengan &#8220;bahasa&#8221; yang sama).</p>
<p>Ketika orang tidak bisa mengerti maksud mereka, bahkan lama kelamaan tidak bisa mengerti diri mereka, maka lingkaran seperti ini akan mengakibatkan masalah identitas. Awalnya mereka dianggap tidak bisa mengungkapkan pikiran, lama-lama orang akan meragukan apakah mereka memang bisa berpikir. Dan pada gilirannya, mereka sendiri pun meragukan kemampuan mereka untuk berpikir.</p>
<p>[Jadi ingat Naga Bonar, [dalam logat batak] &#8220;Kuperintahkan kau berhenti berpikir, karena kalau kau berpikir, pusing aku!&#8221;]</p>
<p>Ada kaitan yang jelas antara kemampuan berbahasa dengan kemampuan berpikir. Dalam kasus ekstrem, ini bisa kita lihat dalam komunitas tuna rungu. Mereka yang tidak diajar berbahasa akan punya mental terbelakang.</p>
<p>Silakan baca bukunya Oliver Sacks yang berjudul &#8220;<strong><em>Seeing voices</em></strong>&#8221; ttg masalah ini. Ini buku kedua yang saya baca yang menceritakan kehidupan komunitas tuna rungu. Buku ini juga berbicara lebih jauh ttg fungsi bahasa. Ada korelasi langsung antara ketidakmampuan untuk menyusun kalimat dengan kerunutan berpikir. Kalau otak kita tidak mampu menyusun kata-kata (bahasa apapun yang dipakai oleh otak kita), tanpa bahasa yang runut, pikiran menjadi kacau.</p>
<p>Apa hubungannya dengan bahasa campur-campur?</p>
<p>Yaah, barangkali akan ada yang bilang saya mengada-ada. Di milis parakanca malah posting saya jadi lelucon, dianggap ajakan untuk menerjemahkan semua kata, termasuk nama.</p>
<p>Padahal fokus utama saya bukan bahasa sebagai alat komunikasi. Dalam tingkatan ini, barangkali bahasa rojak itu tidak terlalu jadi masalah, kecuali dalam kasus ekstrim, misalnya mengucapkan kalimat lima kata dalam lima bahasa. Dalam tingkatan ini pula, dalam jangka waktu ratusan tahun, akan terjadi proses asimilasi.</p>
<p>Sebagai alat komunikasi memang tidak akan menjadi masalah menggunakan bahasa rojak. [Maaf Kang Ridha, dua kata melayu yang sangat melekat di otak saya adalah rojak dan pengsan. Orang Indonesia akan mengasosiasikan "rojak" dengan "rujak", yaaah, ndak apa-apa wong pengertiannya kurang lebih sama, walaupun wujudnya berbeda].</p>
<p>Namapun ndak perlu diterjemahkan. Najmuddin tidak harus selalu menjadi Necmetin (ala Turki), atau Abdurrahman ndak perlu harus jadi Beddu Amang (ala Bugis). Karena nama ya itulah dia: nama, diterima seperti apa adanya.</p>
<p>Tetapi bahasa sebagi alat berpikir, ini akan lain ceritanya. Bayi yang tidak diajari bahasa (dalam kasus tuna rungu, misalnya), akan menjadi &#8220;mentally retarded&#8221; hanya dalam waktu satu dua tahun. Dalam intensitas yang sedikit berbeda, bahasa yang terpatah-patah akan membangun pemikiran yang tidak runut, bila seseorang tumbuh dalam lingkungan seperti itu.</p>
<p>Sebenarnya ini yang saya khawatirkan. Barangkali psikolog kita (Teh Yeti, Dewi Taruma, atau Ustaz Rahmad van Tilburg) bisa memberikan input ttg masalah ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/80/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa rojak (bagian 1)</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/79</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/79#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Mar 2004 08:42:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Language]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/79</guid>
		<description><![CDATA[Dari sebuah email: > Mampukah kita,terutama saudara2ku ikhwan? > > Wassalam. > &#8211; Kepada Mbak Xxxxxxxi, mohon maaf kalau saya mengambil contoh di atas. Juga mohon maaf karena ini di luar topik yang didiskusikan. Siapa yang dimaksud dengan &#8220;saudara2ku ikhwan&#8221;? Berikut alternatifnya, dari perspektif pembaca email: Anggota &#8220;Ikhwanul muslimin&#8221;. Anggota organisasi tertentu yang saling menyebut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari sebuah email:</p>
<p>> Mampukah kita,terutama saudara2ku ikhwan?<br />
><br />
> Wassalam.<br />
> &#8211;</p>
<p>Kepada Mbak Xxxxxxxi, mohon maaf kalau saya mengambil contoh di atas. Juga mohon maaf karena ini di luar topik yang didiskusikan.</p>
<p>Siapa yang dimaksud dengan &#8220;saudara2ku ikhwan&#8221;?</p>
<p><span id="more-79"></span> Berikut alternatifnya, dari perspektif pembaca email:</p>
<ol>
<li>Anggota &#8220;Ikhwanul muslimin&#8221;.</li>
<li>Anggota organisasi tertentu yang saling menyebut sesama anggotanya sebagai &#8220;ikhwan&#8221;.Kedua alternatif di atas agak aneh, karena keanggotaan imas_sg adalah terbuka dan tidak terbatas pada suatu organisasi saja.</li>
<li>Secara umum saudara-saudara sesama muslim. Kalau ini yang dimaksud, maka secara bahasa agak aneh, karena &#8220;saudara&#8221; dan &#8220;ikhwan&#8221; mengandung makna yang kurang lebih sama.</li>
<li>Muslim laki-laki. Di sini penggunaan &#8220;ikhwan&#8221; ditujukan untuk membedakannya dengan &#8220;akhwat&#8221;.</li>
</ol>
<p>Alternatif terakhir ini yang paling cocok secara tata bahasa, walaupun akan menimbulkan permasalahan gender.  Kenapa kemampuan untuk menghadapi sekularisme lebih dinisbahkan kepada laki-laki? Bukankah peran perempuan sama kritisnya?</p>
<p>Kembali ke topik posting ini, secara umum, saya melihat adanya gejala penggunaan kata-kata Arab untuk kata-kata yang sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Untuk apa? Wallaahu a&#8217;lam. Tetapi ini sudah menjadi lingo tersendiri. Barangkali untuk mencuatkan identitas sebagai komunitas islami. Barangkali juga sebagai bentuk pemberontakan terhadap bahasa kaum muda yang semakin amburadul.</p>
<p>Akhirnya kita mendengar:</p>
<ul>
<li>saya ==> ana, ane</li>
<li>anda ==> antum, ente</li>
<li>saudara ==> akhi</li>
<li>laki-laki ==> ikhwan</li>
<li>perempuan ==> akhwat, masturah</li>
<li>ayah, bapak, apak ==> abi</li>
<li>ibu, bunda, emak ==> ummi</li>
<li>pakcik, mamang ==> ammi</li>
</ul>
<p>Dalam tataran pribadi, saya termasuk yang sangat khawatir dengan &#8220;bahasa rojak&#8221;. Anak-anak kami sudah mulai mencampur adukkan tiga bahasa. Bahasa campur-campur bukanlah cara yang baik untuk menguasai suatu bahasa.</p>
<p>Dalam tataran yang lebih luas, bahasa kan menunjukkan bangsa. Ada budaya yang menjadi latar belakang bahasa itu.  Saya juga berpindah ke mode &#8220;ane-ente&#8221; ketika berbicara dalam logat &#8220;betawi/arab&#8221;, tapi itu kan memang setting budayanya seperti itu. Kalau berpindah ke logat makassar, ya sudah pasti lain lagi, karena memang lain settingnya.</p>
<p>Akankah budaya kita pelan-pelan tercerabut karena penggunaan bahasa yang acakablak? Ingat, bahasa memang merupakan produk budaya, tapi pada gilirannya, bahasa bisa membentuk budaya.</p>
<p>Saya termasuk yang berpendapat bahwa penggunaan bahasa Arab adalah bagian dari syiar Islam. Tetapi penggunaan bahasa campur-campur bukanlah bagian dari syiar Islam.</p>
<p>Mari kita kuasai bahasa Arab, dan kita didik anak-anak kita untuk tidak memakai bahasa rojak, dimulai dari diri kita sendiri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/79/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ana hilang shoes : multilingualisme pada anak</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/63</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/63#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Aug 2002 04:59:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Language]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/63</guid>
		<description><![CDATA[Kawan saya Deen Aljunied menceritakan pengalamannya ketika mengajar di Sekolah Menengah Muhammadiyah Singapura. Suatu ketika seorang muridnya mengatakan kepadanya, &#8220;Ana hilang shoes&#8221;. &#8220;Can you imagine, Bang?&#8221; katanya ketika menceritakan hal itu kepada saya, &#8220;three words from three languages in a single sentence.&#8221; Entah apa yang ada dalam benak kawan saya itu, tapi saya menangkap kegamangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kawan saya Deen Aljunied menceritakan pengalamannya ketika mengajar di Sekolah Menengah Muhammadiyah Singapura. Suatu ketika seorang muridnya mengatakan kepadanya, &#8220;Ana hilang shoes&#8221;.</p>
<p>&#8220;Can you imagine, Bang?&#8221; katanya ketika menceritakan hal itu kepada saya, &#8220;three words from three languages in a single sentence.&#8221; Entah apa yang ada dalam benak kawan saya itu, tapi saya menangkap kegamangan dalam berkomunikasi, yang nantinya akan mengakibatkan rasa tidak percaya diri dalam berekspresi.<span id="more-63"></span></p>
<p>Muridnya yang lain dinyatakan tidak lulus dalam Bahasa Inggris. Hebatnya lagi, pelajaran Bahasa Melayu pun tak lulus. &#8220;Then what language does he speak?&#8221; tanya Deen.</p>
<p>Saya pun terkadang tak tahu. Ketika membantu mengajar di salah satu madrasah mingguan di Singapura, saya sendiri seringkali mengalami kesulitan dalam menjelaskan pelajaran kepada murid-murid saya. Dalam Bahasa Melayu baku, mereka seringkali mengaku sulit menerima. Dijelaskan dalam Bahasa Inggris, pun sebagian merasa kalang kabut.</p>
<p>Ketika harus mengekspresikan diripun, terasa sekali adanya kegamangan dalam berbahasa. Jangankan English, Singlish pun bukan. Melayunya yang jelas tak ada dalam buku. Suatu ketika salah seorang murid saya berkata ttg cita-citanya, &#8220;I want to be a cooker&#8221;, dengan serius sekali, tanpa sadar bahwa sebagian orang meledak tertawa mendengar dia mau jadi periuk.</p>
<p>Dalam kasus anak yang bersekolah di Madrasah, faktornya menjadi lebih rumit karena mereka juga diwajibkan belajar Bahasa Arab. Hasilnya: ana hilang shoes.</p>
<p>Walaupun memang tidak bisa digeneralisir, fenomena itu bukanlah fenomena yang terbatas. Kalau diperhatikan, proporsinya sangatlah signifikan. Cobalah berbicara kepada anak muda Melayu. Perhatikan bahasa apa yang dia pakai. Kalau dia pakai bahasa melayu, berapa lama dia &#8220;tahan&#8221; terus menerus berbahasa melayu.</p>
<p>***</p>
<p>Tulisan ini bukan bertujuan untuk membicarakan orang Melayu, atau menjelek-jelekkan orang Singapura. Tidak perlu diperdebatkan pula apakah pengamatan saya tentang anak muda Melayu itu benar atau salah, atau seberapa parah sebenarnya. Pertanyaan yang perlu kita perhatikan bersama adalah: apakah lingkungan multilingual adalah rahmat, atau malah jadi kutukan?</p>
<p>Sebagai orang awam dalam bidang lingustik, saya cenderung mengatakan itu tentu saja rahmat. Tapi menurut Chester Christian, seorang ahli bahasa, tidak selalu begitu. &#8220;In an important sense, the education of those who speak two languages can never be &#8220;equal&#8221; to the education of monolinguals; it must be inferior or superior. Whether it will be the one or the other depends heavily on whether literacy is provided in only one or in both languages.&#8221;</p>
<p>Menurut beliau, bergantung pada kemampuan membaca. Kalau sang anak dibiasakan membaca dalam multi bahasa, maka itu akan menjadi modal besar bagi perkembangan pendidikan anak.</p>
<p>Tapi pengalaman masa kecil kita kan tidak seperti itu. Berapa banyak di antara kita yang bisa membaca atau menulis dalam bahasa daerah sejak kecil? Membaca yang sama baiknya dengan mendengar?</p>
<p>Belum lagi kalau kita memasukkan variabel baru: aksara yang berbeda. Berapa banyak sih anak-anak di Jawa yang fasih membaca Ha Na Ca Ra Ka sefasih membaca tulisan latin?</p>
<p>Berdasarkan pernyataan Christian di atas, tidaklah heran kalau perkembangan pendidikan kita jadi lambat, relatif terhadap mereka yang &#8220;strictly&#8221; monolingual. Coba bayangkan betapa tertekannya keponakan saya yang berlatar belakang Melayu Aceh, sehari-hari monolingual, tapi &#8220;dipaksa&#8221; belajar bahasa Sunda karena dia tinggal di Depok?</p>
<p>Mungkin sama dengan pengalam pribadi saya ketika dari Jawa pindah sekolah ke Makassar, dan harus berhadapan dengan aksara Ka Ga Nga Pa yang sampai sekarang saya tak paham.</p>
<p>***</p>
<p>Sebelum membaca, ada satu faktor penting yang menjadi dasar bagi kemampuan berbahasa sang anak: kebanggaan sebagai multilingual. Setidaknya kesadaran haruslah ditanamkan sejak dini, bahwa menjadi multilingual adalah suatu kelebihan.</p>
<p>Lebih penting lagi adalah kesadaran dan kebanggaan dalam berbahasa. Bagaimana si anak bisa percaya diri dalam berekspresi kalau dia sendiri malu menggunakan bahasanya sendiri?</p>
<p>Kalau kesadaran dan kebanggaan itu sudah tertanam, akan mudah bagi sang anak untuk mengekspresikan dirinya dalam bahasa(-bahasa) itu. Mudah pula bagi dia untuk mengembangkan kemampuannya berbahasa.</p>
<p>Tanpa adanya kesadaran itu, hasilnya sangat mengerikan. Si anak jadi susah berkomunikasi dengan orang lain. Self-esteem-nya hancur.</p>
<p>Kondisi yang paling parah adalah seperti yang digambarkan oleh Anderson berikut ini, ketika menggambarkan kaum imigran di Amerika:</p>
<blockquote><p>&#8220;One widely held misconception is that there is room in a child&#8217;s head for only one language and one culture. As a result, many immigrant families give up their home language. They talk to their children in English, often broken English, and also make no effort to teach their children to read the mother tongue. It is small wonder, then, that the children feel ashamed rather than proud of thier home language, which falls into disuse. The resulting precarious hold on two languages has been called <strong><em>halvsprakighet </em></strong>(semilingualism) by a Swedish linguist who has observed the same phenomenon in northern Sweden on the frontier with Finland.&#8221;</p></blockquote>
<p>Ketika bahasa inggris tidak lulus, bahasa melayu pun tidak lulus, kemungkinan besar murid kawan saya itu sudah mengidap fenomena semilingualism ini. Anderson mengungkapkan akibat lebih lanjut dari semilingualisme ini. Satu generasi para imigran itu ketika masuk sekolah harus diajari membaca dan menulis dalam bahasa Inggris. Tetapi ketika mereka memasuki sekolah menengah, mereka diberi pilihan untuk kembali belajar bahasa spanyol, yaitu, kembali belajar tata bahasa spanyol, menulis dan membaca seolah-olah bahasa ibu mereka itu adalah bahasa asing.</p>
<p>Sayangnya, keinginan untuk belajar bahasa tersebut sudah lama hilang. Bahkan mereka sudah pun malu untuk bertutur dalam bahasa ibu mereka.</p>
<p>The lost generation?</p>
<p>Semoga tidak. Masih banyak yang bisa kita lakukan sebelum hal seperti ini terjadi pada anak-anak kita, di lingkungan kita.</p>
<p>***</p>
<p>Pertama-tama, tentukan dulu apa bahasa ibu untuk anak-anak kita. Bahasa ibu bagi anak-anak kita bukanlah sesuatu yang tidak bisa dipilih. Apalagi dalam keluarga campuran. Kami sendiri dengan latar belakan Aceh Sunda memilih bahasa melayu sebagai bahasa ibu anak-anak kami. [Saya terkenang Kang Iwan, nih, bekas Ketua Studi Teater Islam Karisma, di mana beliau sekarang ya? Beliaulah yang membuat saya sadar bahwa bahasa melayu baku bisa digunakan dalam percakapan sehari-hari, tanpa harus kehilangan kesan "cool"].</p>
<p>Syaratnya hanya satu: orang tua harus fasih menggunakan bahasa yang dipilih itu. Anderson mencatat ada satu keluarga yang menggunakan bahasa yang bukan bahasa ibu sang suami ataupun istri. Bahasa asing bagi mereka, diputuskan untuk menjadi bahasa ibu bagi anak-anak mereka. Ini bisa terjadi, karena syaratnya ya itu tadi, bahasa tersebut harus dikuasai oleh sang ayah dan ibu.</p>
<p>Kedua, kita dorong anak-anak kita untuk menggunakan dan menguasai bahasa lain yang digunakan di lingkungan kita. Ini tentu saja memerlukan partisipasi aktif orang tua. Jadikan ini sebagai sarana pembelajaran bagi seluruh keluarga.</p>
<p>Ketiga, kita tanamkan kepada anak-anak bahwa bahasa adalah pintu dalam memahami suatu budaya. Bagaimana orang-orang dari budaya yang berbeda mempunyai cara yang berbeda dalam mengekspresikan sesuatu, yang boleh jadi bukan terjemaham letterlijk dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Contoh sederhana misalnya &#8220;how are you going,<br />
man?!&#8221;, tentunya tidak bisa diterjemahkan kata per kata.</p>
<p>Contoh lainnya adalah betapa kata yang sama, ketika diadopsi kepada budaya yang berbeda, bisa memiliki arti yang berbeda. Kata &#8220;dag&#8221; dalam bahasa belanda, diucapkan dengan agak panjang, bisa merupakan ungkapan ketika bertemu atau berpisah. Sedangkan kata yang sama di Indonesia, diucapkan sama tapi dituliskan berbeda, &#8220;daah&#8221; biasanya<br />
hanya digunakan ketika berpisah.</p>
<p>Keempat, tentu saja jangan dilupakan, jangan lupa diajarkan membaca dalam semua bahasa yang digunakan oleh anak. Masalah pelajaran membaca dalam lingkungan multilingual insya Allah akan saya tuliskan dalam artikel yang lain.</p>
<p>Dengan kekayaan bahasa dan budaya yang kita paparkan kepada anak-anak kita, insya Allah, mereka akan punya modal awal lebih besar dalam perkembangan pendidikannya di masa datang. Dalam kondisi seperti itu, kondisi multilingual yang sehari-hari sudah kita alami akan merupakan rahmat dan berkah bagi kita.</p>
<p>Eindhoven, 05.08.2002</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/63/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

