<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ery.djunaedy &#187; Indonesian</title>
	<atom:link href="http://ery.djunaedy.com/cat/indonesian/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ery.djunaedy.com</link>
	<description>renung</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Sep 2010 19:53:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Manajemen Menghafal Quran</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/386</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/386#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 21:49:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=386</guid>
		<description><![CDATA[Berikut posting lama yang pernah saya kirim ke berbagai milis di tahun 2007. ********************************** Sobats sekalian, assalaamu alaikum. Menyambung posting saya sebelumnya, ketika saya mencoba memulai kembali program tahfiz, ternyata memang ada satu kekurangan (yang sangat penting) ketika memulai program tahfiz tanpa seorang guru, yaitu tidak ada yang memberikan petunjuk bagian mana yang harus diulang. Waktu ngaji bersama Ustaz [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut posting lama yang pernah saya kirim ke berbagai milis di tahun 2007.</p>
<p>**********************************</p>
<p>Sobats sekalian, assalaamu alaikum.</p>
<p>Menyambung posting saya sebelumnya, ketika saya mencoba memulai kembali program tahfiz, ternyata memang ada satu kekurangan (yang sangat penting) ketika memulai program tahfiz tanpa seorang guru, yaitu tidak ada yang memberikan petunjuk bagian mana yang harus diulang. Waktu ngaji bersama Ustaz Alaina, beliau selalu memberikan jatah untuk &#8221;yang lama&#8221; dan juga &#8220;yang baru&#8221;. Beliau punya catatan sendiri tentang kemajuan murid-muridnya, dan dari situ beliau menugaskan kita untuk mengulang bagian tertentu dari yang sudah kita hafal.</p>
<p>Masalahnya: bagaimana kalau menghafal tanpa guru? Berikut sekelumit pemikiran saya.</p>
<p><span id="more-386"></span>Fakta 1: Apal kaji karena diulang, begitu pepatah kita. Kalau diulang maka bisa hafal.</p>
<p>Fakta 2: menghafal itu mudah, tapi mengulang supaya tidak lupa itu yang susah</p>
<p>Fakta 3: sesuatu yang kita hafalkan maka suatu saat akan terlupakan, kecuali kalau hafalan itu diulang sebelum lupa.</p>
<p>Fakta 4: semakin banyak ulangan, maka akan semakin kuat hafalan kita, sekalipun hafalannya sudah dihafalkan puluhan tahun yang lalu. Misalnya yang paling gampang adalah surat AlFatihah. Sekalipun ini adalah surat yang pertama kita hafalkan, karena diulang terus maka sekarang ini disuruh lupa pun insya Allah nggak lupa. Sebaliknya, surat Al-Ma&#8217;arij yang baru dihafalkan beberapa tahun yang lalu sudah banyak lupanya.</p>
<p>Fakta 5: karena waktu setiap harinya yang dialokasikan untuk tahfiz terbatas, maka kita perlu pengulangan strategik (strategic repetition), i.e. mengulang bagian dari hafalan sesuai dengan prioritas mana bagian yang paling mudah terlupakan.</p>
<p>Dari kelima fakta tadi, saya membayangkan sebuah metoda untuk program tahfiz (bisa jadi software) yang fungsinya:<br />
1. merekam kemajuan hafalan kita (misal: surat sekian ayat sekian dihafal tanggal sekian)<br />
2. merekam juga bagian mana dari hafalan kita yang dibaca ulang.<br />
3. dari rekaman data tadi, sang software akan membuat perhitungan, dan menyimpulkan bahwa pada hari ini bagian yang paling mudah terlupakan adalah surat sekian. Maka pada hari itu kita baca surat itu, dan kita rekam kembali bahwa kita sudah ulang dengan hasil baik.<br />
4. Perhitungan itu bisa dilakukan dengan membuat sebuah model dengan input:<br />
a. daya ingat =&gt; kuat, agak kuat, sedang, agak pelupa, pelupa<br />
b. waktu suatu bagian dihafalkan<br />
c. berapa kali sejak dihafalkan sudah diulang.</p>
<p>Dari tiga hal ini saja kita sudah bisa membuat model yang cukup baik untuk me-ranking hafalan kita sesuai dengan potensi terlupakan.</p>
<p>Saya bertanya kepada Wak Google mengenai software untuk membantu program tahfiz, ternyata yang keluar adalah software bacaan AlQuran. Tidak ada satupun software yang bisa digunakan untuk mencatat kemajuan hafalan kita. Padahal kalau dibuat dengan PHP dan MySQL kayaknya gampang sekali. (Any takers?)</p>
<p>Hati kecil saya bertanya sebenarnya: why make it so hard, pakai software segala? Padahal toch orang jaman dulu nggak pakai software udah pada jadi hafizh.</p>
<p>Well, orang jaman dulu (dan juga jaman sekarang) yang bisa full-time ikut program tahfizh tentu saja nggak perlu software-software-an. Tapi kalau kita ingin menjalani program tahfizh part-time sambil bekerja full-time, tentu tantangannya jauh berbeda.</p>
<p>Metoda di atas akan tidak relevan lagi kalau kita punya waktu sekian jam sehari (empat-enam jam) untuk tahfiz. Tapi kebanyakan orang tidak bisa mengalokasikan sekian jam sehari untuk tahfiz, karena itu saya memimpikan metode ini.</p>
<p>Segala macam komentar ingin saya dapatkan dari sobats sekalian. Terutama mereka yang konsisten menjalani program tahfiz.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/386/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesan Presiden</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/352</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/352#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 06:14:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=352</guid>
		<description><![CDATA[Hari Selasa besok, Presiden Obama akan memberikan pesan-pesan langsung kepada seluruh siswa sekolah di Amerika, &#8220;back to school message&#8221;. Acaranya bisa diikuti secara langsung lewat televisi maupun internet. Saya kontan membayangkan pengalaman ketika jaman sekolah dulu ketika ada kunjungan pejabat, semua murid akan dikumpulkan di aula untuk mendengarkan amanat dari sang pejabat. Agak-agaknya inilah yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Selasa besok, Presiden Obama akan memberikan pesan-pesan langsung kepada seluruh siswa sekolah di Amerika, &#8220;back to school message&#8221;. Acaranya bisa diikuti secara langsung lewat televisi maupun internet.</p>
<p>Saya kontan membayangkan pengalaman ketika jaman sekolah dulu ketika ada kunjungan pejabat, semua murid akan dikumpulkan di aula untuk mendengarkan amanat dari sang pejabat. Agak-agaknya inilah yang akan terjadi kepada murid-murid sekolah di seluruh Amerika besok Selasa.</p>
<p>Bedanya adalah sekalipun acara ini akan ditayangkan langsung kepada seluruh siswa, orang tua murid diberikan kesempatan untuk menolak (opt-out) agar anaknya tidak mendengarkan pesan Presiden itu. Berikut kutipan email yang dikirimkan ke seluruh orang tua murid di Boise:</p>
<blockquote><p>If you would prefer your child(ren) not view the President&#8217;s speech, you may contact your school to request your child(ren) opt-out of viewing the address. An appropriate alternative activity will be provided for your student until such time as the President&#8217;s address concludes. You may opt-out by simply sending your school a not or email message.</p></blockquote>
<p>Silakan lihat Pesan Presiden melalui situs <a href="http://www.ed.gov" target="_blank">Departemen Pendidikan Amerika Serikat</a> (dirilis sekitar 24 jam sebelum acaranya).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/352/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merawat Fasilitas Umum</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/339</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/339#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2009 05:43:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architecture]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[arsitektur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=339</guid>
		<description><![CDATA[Anda pernah berada di jembatan dan terowongan yang terawat seperti ini? Apa kira-kira kunci keterawatan fasilitas umum seperti ini? Jembatan Terawat Lampu menyala semua, sampah disimpan pada tempatnya, semua orang yang memakai pasti juga senang. Kenapa bisa seperti ini? Salah satu sebabnya adalah kejelasan, seperti foto berikut: Papan seperti itu menunjukkan kepada semua orang bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda pernah berada di jembatan dan terowongan yang terawat seperti ini? Apa kira-kira kunci keterawatan fasilitas umum seperti ini?</p>
<p><span id="more-339"></span><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/06/jembatanterawat.jpg"><img class="size-medium wp-image-335" title="Jembatan Terawat" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/06/jembatanterawat-300x224.jpg" alt="Jembatan Terawat" width="300" height="224" /></a></p>
<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_335" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px;">
<dd class="wp-caption-dd">Jembatan Terawat</dd>
</dl>
</div>
<div id="attachment_338" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/06/tunnelterawat.jpg"><img class="size-medium wp-image-338" title="Terowongan Terawat" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/06/tunnelterawat-300x225.jpg" alt="Terowongan Terawat" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Terowongan Terawat</p></div>
<p>Lampu menyala semua, sampah disimpan pada tempatnya, semua orang yang memakai pasti juga senang.</p>
<p>Kenapa bisa seperti ini? Salah satu sebabnya adalah kejelasan, seperti foto berikut:</p>
<div id="attachment_334" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/06/jembataninformasi.jpg"><img class="size-medium wp-image-334" title="Informasi yang jelas" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/06/jembataninformasi-300x224.jpg" alt="Informasi yang jelas" width="300" height="224" /></a><p class="wp-caption-text">Informasi yang jelas</p></div>
<p>Papan seperti itu menunjukkan kepada semua orang bahwa pemeliharaan jembatan dilakukan dengan serius. Pertama, jelas siapa yang merawat jembatan. Kedua, jelas jembatan ini nomernya berapa sehingga kalau orang lapor tidak akan bingung dalam menjelaskan lokasi jembatan.</p>
<p>Kapan jembatan (penyeberangan) di Indonesia akan seperti ini ya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/339/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Revolusi low-carb</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/321</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/321#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2009 17:16:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Food]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[lowcarb]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/321</guid>
		<description><![CDATA[Dulu revolusi low-fat diet dimulai dengan dimuatnya kandungan lemak dalam setiap kemasan makanan. Sekarang, sudah mulai banyak produk yang menyajikan data karbohidrat total yang dikandung oleh produk makanan ini. Berikut salah satunya, perhatikan label di pojok kiri kemasan:]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu revolusi low-fat diet dimulai dengan dimuatnya kandungan lemak dalam setiap kemasan makanan. Sekarang, sudah mulai banyak produk yang menyajikan data karbohidrat total yang dikandung oleh produk makanan ini.</p>
<p><span id="more-321"></span>Berikut salah satunya, perhatikan label di pojok kiri kemasan:</p>
<div id="attachment_319" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/06/alouette.jpg"><img class="size-medium wp-image-319" title="Produk Keju" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/06/alouette-300x225.jpg" alt="Alouette" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Alouette</p></div>
<div id="attachment_320" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/06/totalcarb.jpg"><img class="size-medium wp-image-320" title="Karbohidrat Total" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/06/totalcarb-300x225.jpg" alt="Karbohidrat Total" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Karbohidrat Total</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/321/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>It takes two to tango</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/309</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/309#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 May 2009 06:01:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=309</guid>
		<description><![CDATA[Bukan, judul di atas bukan tentang joget. Topik posting kali ini masih tentang tipiring alias tindak pidana ringan. Tipiring itu bukan hanya mencakup pelanggaran yang dilakukan sendiri, seperti membuang sampah sembarangan, tetapi juga mencakup pelanggaran yang dilakukan oleh dua pihak. Seperti kata judul di atas, it takes two to tango. Contoh yang paling bagus adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bukan, judul di atas bukan tentang joget. Topik posting kali ini masih tentang tipiring alias tindak pidana ringan. Tipiring itu bukan hanya mencakup pelanggaran yang dilakukan sendiri, seperti membuang sampah sembarangan, tetapi juga mencakup pelanggaran yang dilakukan oleh dua pihak. Seperti kata judul di atas, it takes two to tango.</p>
<p>Contoh yang paling bagus adalah pedagang yang berjualan tidak pada tempatnya. Pelanggaran ini sebenarnya dilakukan oleh dua pihak, yaitu pihak pedagang dan juga pihak pembeli. Yang patut kita ingat adalah bahwa tipiring jenis ini biasanya hukumannya hanya dibebankan kepada satu pihak. Ini tentu tidak bisa dibenarkan setidaknya karena dua alasan.</p>
<p><span id="more-309"></span>Pertama karena alasan keadilan. Kenapa resikonya hanya dibebankan kepada satu pihak sedangkang pelanggarannya dilakukan secara bersama oleh dua pihak? Memang akan ada argumen akal-akalan, misalnya, bahwa yang dilarang adalah <span style="text-decoration: underline;"><em>berjualan</em></span>, sedangkan <span style="text-decoration: underline;"><em>membeli</em></span> sama sekali tidak disebutkan. Argumen ini tentunya tidak bisa dipakai. Bahkan sebenarnya kebalikannyalah yang benar: pedagang berjualan justru karena ada yang membeli. Karenanya, hukuman untuk pembeli seharusnya lebih berat.</p>
<p>Alasan kedua &#8211; barangkali ini yang lebih penting &#8211; adalah karena mungkin kalau dibebankan pada pihak yang satu lagi, atau setidaknya ke kedua belah pihak, maka pelanggaran tipiring itu akan sangat berkurang. Coba bayangkan kalau pembeli tidak membeli di sembarang tempat, maka pasar kaki lima akan bisa ditertibkan dengan tidak terlalu susah.</p>
<p>Contoh lainnya adalah kedisiplinan angkot untuk tidak menaikkan dan menurunkan penumpang di mana saja. Mana ada angkot yang tidak berhenti di setiap pengkolan, kalau penumpangnya saja maunya seperti itu. Jangankan jalan kaki ke halte, begitu keluar gang sudah langsung <em>nyegat</em> angkot sekalipun angkotnya harus berhenti di mulut gang.</p>
<p>Apakah supir angkotnya yang salah? Ya, supir angkotnya salah. Tetapi penumpangnya juga ikut bersalah.</p>
<p>Selama ini penegakan hukum hanya berkutat pada satu pihak saja, yaitu pada pedagang dan supir (dalam dua contoh di atas). Pembeli dan penumpang dibiarkan bebas memaksa para pedagang dan supir untuk melakukan pelanggaran.</p>
<p>Bagaimana solusinya? Ya kenakanlah hukuman bagi pihak kedua, baik itu pembeli ataupun penumpang, dalam contoh di atas.</p>
<p>Ada contohnya? Tentu saja ada. Di daerah CBD di Singapura, anda tidak boleh naik turun taksi di sembarangan tempat, melainkan hanya boleh dari <em>taxi stand</em>. Kalau melanggar, maka yang kena hukuman bukan hanya supirnya, tetapi juga penumpangnya.</p>
<p>Dengan diancamnya pihak kedua, maka penerapan hukuman jadi lebih berimbang. Tipiring akan tertekan dari dua arah, diharapkan pelanggarannya akan menurun</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/309/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masih ada harapan: tipiring</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/294</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/294#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 06:34:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Trips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Anda tahu tipiring kan? Ah itu loh, sesuatu yang saya dan anda kemungkinan sudah pernah melakukannya. Tipiring itu adalah tindak pidana ringan, misalnya buang sampah sembarangan, dan lain-lain. Anda semuakan lebih tahu apa tipiring favorit anda Dalam diskusi politik kecil-kecilan, saya sering bertanya kepada kawan-kawan, kalau anda jadi bupati atau walikota, apa yang akan anda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda tahu tipiring kan? Ah itu loh, sesuatu yang saya dan anda kemungkinan sudah pernah melakukannya. Tipiring itu adalah tindak pidana ringan, misalnya buang sampah sembarangan, dan lain-lain. Anda semuakan lebih tahu apa tipiring favorit anda <img src='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-294"></span>Dalam diskusi politik kecil-kecilan, saya sering bertanya kepada kawan-kawan, kalau anda jadi bupati atau walikota, apa yang akan anda lakukan pertama kali? Wah biasanya diskusi jadi seru sekali. Memang sih banyak yang akan bilang bahwa mereka akan mengumpulkan uang dulu, siapa tahu tidak terpilih lagi.</p>
<p>Setelah berbagai macam perdebatan, biasanya mereka akan balik nanya, kalau kamu mau <em>ngapain</em>? Ada beberapa versi sih, tapi ini yang paling sering saya ajukan. Kalau saya jadi bupati, saya akan fokus pada penanganan tipiring, di antaranya denngan membuat penjara khusus tipiring.</p>
<p>Argumentasi anekdotal yang saya jadikan pegangan adalah sejarah orang Aceh jaman kolonial. Terus terang saya tidak tahu apakah ini benar atau tidak, tetapi melihat kultur budaya Aceh yaaah, bukan tidak mungkin terjadi.</p>
<p>Ceritanya di jaman dulu, ketika jembatan masih sempit, orang harus bergantian untuk melewatinya, apalagi kalau bawa barang banyak. Dasar perangai orang Aceh yang tidak mau mengalah, terjadilah banyak perkelahian di jembatan. Akibatnya penuhlah penjara akibat perkelahian itu. Akhirnya dibuatlah peraturan baru untuk menangani kegawatan ini. Barangsiapa yang kedapatan berantam di jembatan akan dikenakan denda yang cukup besar, dan kalau dia tidak sanggup bayar, maka rumahnya akan dilelang untuk bayar denda.</p>
<p>Ternyata kalau urusannya sudah sampai ke masalah rumah, lelaki Aceh akan mendapatkan lawan yang tak mungkin dikalahkan: istri mereka. Mana ada istri yang mau rumahnya dilelang? Setelah diundangkannya peraturan itu, kontan perkelahian di jembatan bisa dihilangkan.</p>
<p>***</p>
<p>Justifikasi yang lebih serius saya dapatkan ketika membaca buku Malcolm Gladwell &#8220;<em>The Tipping Point</em>&#8220;. Di buku itu beliau bercerita tentang dua contoh kasus di mana pencegahan tipiring bisa menjadi titik balik menuju ke arah yang lebih baik.</p>
<p>Kasus yang pertama adalah kasus operator kereta api bawah tanah di New York City. Mereka ingin menaikkan pendapatan sekaligus meningkatkan citra mereka di mata penumpang. Salah satu terobosan penting yang dilakukan oleh manajemen baru adalah penegakan hukum bagi free-rider. Para free-rider ini dengan berbagai cara bisa naik metro dengan gratis.</p>
<p>Selama ini tidak ada upaya serius dalam menindak para free-riders ini. Siapalah yang ingin menindak tipiring yang disebabkan oleh tiket bernilai satu dua dolar? Tetapi manajemen baru berpendapat bahwa justru di sinilah titik awal perbaikan citra, sekaligus perbaikan pendapatan. Membiarkan para penerabas itu justru memberikan citra yang jelek bagi metro.</p>
<p>Pesan yang baru bagi para free-rider: you can try to get a free ride, but you will not get away with it. Para polisi diminta untuk menindak mereka yang tidak bayar, sekalipun ongkos penindakan (waktu sang polisi, dst) mungkin lebih besar dari denda yang diberikan. Tapi efeknya secara sistemik adalah luar biasa. Pendapatan meningkat dan citranya membaik.</p>
<p>Kasus yang sama adalah terjadi pada kawasan yang tindak kriminalnya tinggi. Salah satu upaya untuk membalik keadaan adalah dengan memperbaiki rumah-rumah yang di-<em>vandalize</em>, yang kaca-kacanya pecah. Ternyata ada lingkaran setan antara kaca-kaca yang pecah dengan tingkat krimnalitas: kaca yang pecah membuat para kriminal merasa <em>at home</em> di lingkungan itu, yang pada gilirannya menambah tingkat kriminalitas.</p>
<p>Karena itu ketika tanda-tanda vandalisme mulai diperbaiki, para kriminal pun tidak betah berada di kawasan itu. Akibatnya tingkat kriminalitasnya turun.</p>
<p>***</p>
<p>&#8220;Apa yang akan kamu lakukan tepatnya?&#8221; begitu biasanya diskusi akan berlanjut. Ayolah mari kita bermimpi.</p>
<p>Contoh pertama: pengendara motor yang jalan seenak udelnya, SIMnya akan dipotong dan motornya akan dilelang. Kalau motornya masih ngutang, maka setelah dipotong denda, kelebihannya akan dikembalikan kepada pemberi kredit. Kalau itupun masih kurang, yaah selesaikanlah sendiri. Kalau si pengendara ternyata bukan pemilik maka si pemilik motor pun akan dikenakan sanksi (peringatan atau denda) karena membiarkan motornya dipakai oleh orang yang tidak bertanggung jawab.</p>
<p>Si pengendara itu tidak boleh punya SIM dan tidak boleh punya motor selama waktu tertentu. <em>Repeat offenders</em> akan mendapatkan penanganan lebih khusus lagi.</p>
<p>Lho, nantikan mereka akan bikin SIM dan STNK di tempat lain? Silakan. SIM luar kota dan STNK luar kota akan mendapatkan hukuman yang lebih tinggi. Bukankah mereka ini &#8220;tamu&#8221;, kan seharusnya mengikuti aturan tuan rumah, malah bikin masalah, jelas hukumannya akah lebih berat.</p>
<p>Bagaimana dengan penjara khusus tipiring itu?</p>
<p>Nah itu contoh kedua: saya akan bikin penjara tipiring, dan meminta kejaksaan dan pengadilan untuk menugaskan jaksa dan hakim khusus di sini. Pelanggar pertama kali akan dikenakan denda. <em>Repeat offenders</em> akan dikenakan kurungan wajib minimal tiga hari.</p>
<p>Lhah dananya dari mana? Ya dari para pelanggar itu. Penjara tipiring ini adalah hotel prodeo, kalau mampir ke sini harus bayar: ongkos tidur, ongkos kamar mandi dan ongkos makan semuanya ditanggung oleh pelanggar dalam bentuk denda. Kalau tidak sanggup bayar denda maka akan dikenakan kerja paksa untuk membayar denda.</p>
<p>Walah, nanti bisa-bisa para pengangguran akan rame-rame jadi pelanggar tipiring, karena akan diberi pekerjaan. Tenang .. tenang .. one step at a time. Ini adalah efek negatif yang memang harus dipikirkan. Solusinya bisa dipikirkan sambil jalan, antara lain kemungkinan transmigrasi dan pengenaan corporal punishment seperti hukuman rotan a la Singapura.</p>
<p>Dan itu contoh ketiga: pelaku vandalisme akan dirotan seperti di Singapura.</p>
<p>***</p>
<p>Mimpi? Sebagian besar ya, memang. Tapi sebagian kecil ada yang bisa memberikan harapan.</p>
<p>Sopir taksi yang membawa saya dari pelabuhan feri ke bandara di Batam bercerita tentang kondisi pelabuhan yang rawan kejahatan. Saya bertanya kok suasanya agak-agak seram ya.</p>
<p>Dia bilang sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik Pak. Dulu di antara para supir seringkali terjadi perkelahian, dengan berbagai alasan di antaranya rebutan pelanggan.</p>
<p>Tapi sekarang sudah jauh berkurang karena ada peraturan baru. Bila anda kena pukul, anda tinggal minta visum dari dokter dan buat laporan ke polisi. Dendanya kontan satu setengah juta rupiah dikenakan kepada yang memukul.</p>
<p>Sekarang jarang sekali orang main pukul di Batam, apalagi main tusuk.</p>
<p>Waktu itu saya turun dari taksi dengan perasaan gembira sekali. Ternyata ide-ide penanganan tipiring bisa dilaksanakan dengan membawa perubahan positif. Sopir taksinya juga senang sekali karena dapat tip yang lumayan gede <img src='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/294/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Child abuse?</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/285</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/285#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 19:17:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Trips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[Apa hukuman yang layak bagi orang seperti ini? [foto koleksi pribadi, dijepret di Batam. Plat nomer sudah disamarkan] Bagi anda mungkin ini pemandangan biasa. Tapi coba perhatikan lagi foto di atas. Orang itu sudah kelewatan sekali. Memegang anak dengan satu tangan sambil naik motor? Belum lagi (foto bawah) ketika sang anak meronta, entah karena pegel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa hukuman yang layak bagi orang seperti ini?</p>
<p><span id="more-285"></span><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/05/childabuse1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-286" title="Child abuse?" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/05/childabuse1-300x225.jpg" alt="Child abuse?" width="300" height="225" /></a><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/05/childabuse2.jpg"> <img class="alignnone size-medium wp-image-287" title="Child abuse?" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/05/childabuse2-300x225.jpg" alt="Child abuse?" width="300" height="225" /></a></p>
<p>[foto koleksi pribadi, dijepret di Batam. Plat nomer sudah disamarkan]</p>
<p>Bagi anda mungkin ini pemandangan biasa. Tapi coba perhatikan lagi foto di atas. Orang itu sudah kelewatan sekali. Memegang anak dengan satu tangan sambil naik motor? Belum lagi (foto bawah) ketika sang anak meronta, entah karena pegel atau karena melihat sesuatu, orang itu harus membenarkan posisi anak sambil memegang kendali motor dengan satu tangan.</p>
<p>Supir taksi yang membawa saya juga setuju bahwa sang bapak sudah sangat keterlaluan. Waktu saya ambil kamera dan siap memotret, beliau langsung memelankan laju taksinya. &#8220;Potret saja, Pak, biar dimuat di koran. Bapak wartawan ya?&#8221; begitu katanya bersemangat. Saya harus memadamkan semangatnya dengan mengatakan bahwa saya bukan wartawan. Cuman blogger kecil-kecilan.</p>
<p>Kembali ke foto itu: ironisnya, dari gelagatnya, tampak sang bapak ingin menghibur anaknya dengan mengajak naik motor. Hiburan sambil membahayakan anak?</p>
<p>Saya serius menanyakan apa hukuman yang layak bagi orang ini, tapi sebelumnya saya ingin menceritakan nasib Miron (bukan nama sebenarnya).</p>
<p>Miron adalah seorang ayah dari tiga anak, pengungsi Afghan yang sudah cukup lama tinggal di Amerika. Suatu ketika beliau mengendarai mobil dalam keadaan mabuk, dan di dalam mobil itu ada anaknya yang masih kecil. Dia diberhentikan oleh polisi, dan ketika diuji napas kadar alkoholnya melebihi batas ambang. Dia langsung di tahan, dan anaknya di ambil oleh Dinas Sosial. Alasannya berlapis: sudahlah <em>driving under the influence</em>, ditambah lagi dengan membahayakan anaknya.</p>
<p>Anaknya itu memang bisa segera dikembalikan ke ibunya, tetapi ternyata setelah diinspeksi oleh Dinas Sosial ada tanda-tanda KDRT, sehingga anak-anaknya diambil oleh Dinas Sosial.</p>
<p>***</p>
<p>Kembali ke kasus bapak sontoloyo di atas. Kenapa kita tidak punya hukum yang tegas dalam masalah transportasi? Janganlah masukkan dulu masalah <em>child-endangerment</em>, masalah keselamatan saja dulu. Kenapa kita biarkan bonceng tiga bahkan bonceng empat? Kenapa kita biarkan anak kecil dibonceng di depan pengendara motor?</p>
<p>Ah ah ah .. jangan .. jangan gunakan argumen bahwa mereka adalah orang yang tidak mampu. Seolah-olah kita harus membiarkan orang-orang yang tidak mampu untuk memakai kendaraan apa saja yang penting <em>nyampe</em>. Janganlah berargumen bahwa kita harus membiarkan mereka mempertaruhkan nyawa seperti itu, <em>simply</em> karena mereka (dan kita semua) tidak bisa memberikan alternatif yang lebih baik.</p>
<p>Justru karena mereka orang kecil, orang yang tidak mampu, maka keselamatan mereka harus kita jaga. Saya jadi ingat gurauan kawan-kawan di Ujung Pandang dulu kalau melihat <em>daeng</em> tukang becak sedang bertengkar. Mereka bilang (degan logat Makassar yang kental) &#8220;Oo <em>daeng</em>, jangan ki bertengkar. Kalau baku tikam nanti malah nggak sanggup bayar ongkos rumah sakit&#8221;.</p>
<p>Dengan perspektif seperti gurauan kawan-kawan saya di atas, bukankah kalau anak kecil ini jatuh dari motor, maka mereka akan lebih terpuruk lagi secara ekonomi karena harus bayar ongkos rumah sakit? Belum lagi kalau anaknya jadi cacat, berapa ongkos sosialnya?</p>
<p>Sekali lagi: apa layaknya hukuman bagi bapak yang membahayakan anaknya seperti di atas?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/285/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kapten itu</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/231</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/231#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2009 14:16:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Human resource]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[Anda masih ingat kapten bis di Singapura? Itu loh, sopir bis yang diberi jabatan sebagai kapten (baca ceritanya di sini). Minggu lalu, ketika saya naik bis, saya dipanggil sang kapten. Saya baru saja bersiap turun, dan sudah menepuk dompet ke mesin pembaca kartu yang akan memotong harga tiket dari kartu elektronik, ketika tiba-tiba sang kapten [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda masih ingat kapten bis di Singapura? Itu loh, sopir bis yang diberi jabatan sebagai kapten (baca ceritanya <a title="The captain of the bus" href="http://ery.djunaedy.com/archives/183" target="_self">di sini</a>).</p>
<p><span id="more-231"></span>Minggu lalu, ketika saya naik bis, saya dipanggil sang kapten. Saya baru saja bersiap turun, dan sudah menepuk dompet ke mesin pembaca kartu yang akan memotong harga tiket dari kartu elektronik, ketika tiba-tiba sang kapten berteriak dari depan &#8220;Hello, hello&#8221; katanya sambil menunjuk ke arah saya.</p>
<p>Mohon dimengerti, bagi orang Singapura, panggilan &#8220;Hello, hello&#8221; itu sudah termasuk sopan untuk memanggil orang yang tidak dikenal. Pelajaran bahasa Inggris rata-rata orang Singapura biasanya tidak pernah sampai kepada teguran &#8220;Excuse me, Sir&#8221; untuk memanggil orang asing, jadi yaah, saya sih mendekat ke arah beliau melayani panggilannya.</p>
<p>Sambil saya berjalan mendekat, beliau sudah bertanya lagi &#8220;Did you pay cash just now?&#8221; Alamak, dari gelagatnya saya bakal dituduh tidak bayar, atau setidaknya bayarannya kurang.</p>
<p>Tentu saja saya jawab, &#8220;No Sir, I have my EZ-link card&#8221;.</p>
<p>Dengan cepat dia kemudian menjelaskan, &#8220;Hey sorry ah, I just cannot recognize the face. Its a malay guy, and I overcharged him, so I want to return the money to him. I thought its you.&#8221;</p>
<p>Dalam hati luar biasa benar ini orang. Urusan uang receh aja dia benar-benar meneliti penumpang yang turun satu per satu, dan menanyai setiap orang melayu kalau-kalau dialah yang kelebihan bayar.</p>
<p>Anda tahu berapa kelebihannya? Lima sen saja. Lima sen, uang yang kalau anda beli koran, si tukang oran akan melotot kalau anda berani memberi uang lima sen-an kepadanya. Lhah orang ini sibuk ingin mengembalikan kepada yang berhak.</p>
<p>Memang tidak salah kalau kualitas seperti ini diganjar dengan panggilan kapten.</p>
<p>Sambil turun saya berkata kepada beliau, &#8220;Happy new year to you, Sir.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/231/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tokoh</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/209</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/209#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 14:53:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Human resource]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[Di akhir Desember saya pergi ke Batam dalam rangka mengantar keluarga yang mau pulang ke Jakarta. Sepulang dari bandara, karena menjelang makan siang, yaah saya mampir dulu ke Mega Mal, tepat di seberang Terminal Feri Batam Center. Saya menyuguhi diri sendiri dengan sebuah hidangan yang sudah lama tidak saya santap: Bakso Lapangan Tembak. Bukan itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di akhir Desember saya pergi ke Batam dalam rangka mengantar keluarga yang mau pulang ke Jakarta. Sepulang dari bandara, karena menjelang makan siang, yaah saya mampir dulu ke Mega Mal, tepat di seberang Terminal Feri Batam Center. Saya menyuguhi diri sendiri dengan sebuah hidangan yang sudah lama tidak saya santap: Bakso Lapangan Tembak. Bukan itu saja, makan siang kali ini saya ditemani oleh para tokoh dan ikon yang dianggap berprestasi selama tahun 2008, sebagaimana yang muat oleh majalah Tempo dan Gatra edisi akhir tahun mereka.<br />
<span id="more-209"></span><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/makansiang.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-210" title="Bakso Lapangan Tembak" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/makansiang-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p>Tokoh Tempo yang menampilkan sepuluh Walikota dan Bupati berprestasi dari seluruh Indonesia, saya lahap bersama dengan bakso. Perjuangan mereka memang berat, dan menurut saya hanya karena pengabdian merekalah Indonesia belum terpuruk menjadi Republik Pisang. Tapi saya masih bisa membaca dengan lancar sampai habis. Sempat berhenti beberapa kali untuk membayangkan titik-titik kritis perjuangan mereka, tetapi masih lancar.</p>
<p>Bacaan saya mulai tersendat-sendat ketika saya membaca Gatra yang menampilkan berbagai ikon. Bidangnya lebih beragam, dan masing-masing menempuh tantangan yang luar biasa beratnya. Di dalam feri, di tengah guncangan ombak yang menghantam kapal kecil itu, saya terhenti ketika membaca kisah Suster Apung.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/susterapung.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-211" title="Andi Rabiah Sang Suster Apung" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/susterapung-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Dialah seorang suster yang bersedia menempuh badai untuk menyediakan layanan kesehatan di pulau-pulau kecil di sekitar Sulawesi Selatan. Suaminya sendiri (yang juga kepala Puskesmas) menjadi korban kurangnya layanan kesehatan di pulau-pulau itu (beliau meninggal karena terjangkit malaria), tetapi itu tidak mengurangi semangat beliau untuk mengabdi.</p>
<p>Dia bukanlah orang yang paling berpendidikan di bidangnya (hanya suster, bukanlah dokter), tetapi justru dari mulut dialah keluar ucapan yang sangat mulia, &#8220;Tidak boleh ada yang meninggal karena melahirkan dan tak ada pula yang boleh meninggal karena diare&#8221;. Sebuah perkataan yang sangat dahsyat yang mungkin Menteri Kesehatan pun tidak berani mengungkapkannya dengan penuh keyakinan.</p>
<p>Dan yang paling penting adalah ini: dedikasi beliaulah yang menjadi bukti keyakinan beliau akan ucapannya itu. Ajal adalah urusan Tuhan, beliau akan mudah berdalih bila ada orang yang tidak tertolong. Apalagi dengan gaji pas-pasan a la pegawai negeri Republik tercinta ini, tidak mungkin ada orang yang akan mengevaluasi baik buruk kinerja beliau sebagai penyedia layanan kesehatan.</p>
<p>Tetapi tidak, dengan sepenuh dedikasi, beliau bekerja dalam mencapai target kinerja yang beliau tetapkan sendiri. Layar patah diterjang badai adalah biasa.</p>
<p>Saya tidak kuat lagi membaca. Saya yang sudah menempuh pendidikan sampai jenjang tertinggi di bidang keilmuan yang saya tekuni, saya belum pernah punya prestasi dan dedikasi seperti Suster Apung. Ketika dia dengan gaji yang ala kadarnya berani membuat target kualitas kelas dunia, saya yang bergaji berlipat-lipat tidak pun pernah melakukannya.</p>
<p>Ada harga diri yang terusik, ada semangat yang tercambuk, banyak pelajaran yang saya petik dan banyak rencana yang saya rancang. Tapi saat itu, detik itu, di tengah goncangan ombak, saya hanya ingin berdoa untuk Suster Apung, semoga terus diberi kekuatan untuk mengabdi. Air mata saya pun tumpah.</p>
<p>***</p>
<p>Beberapa fakta dari kisah Suster Apung yang bisa dijadikan pelajaran:</p>
<ol>
<li>Pendidikan rendah bukanlah halangan untuk mengabdi, apalagi jadi alasan untuk tidak mengabdi. Terkadang orang yang berpendidikan tinggi justru enggan menyentuh bidang-bidang pengabdian yang kurang basah.</li>
<li>Segala rintangan, baik rintangan fisik (layar patah, perahu pecah menabrak karang, obat tinggal yang kadaluarsa, dll) maupun rintangan psikis (orang yang dicintai meninggal justru karena sebab yang ingin diperjuangkan, sepi penghargaan) sebenarnya bisa dilalui dengan ketekunan dan kesabaran.</li>
<li>Endurance counts: beliau sudah lebih tiga puluh tahun menjalani profesi sebagai Suster Apung. Saya mungkin akan lari terbirit-birit setelah mengalami patah layar yang pertama, apalagi kalau sampai mengalami pecah kapal yang karam dihadang karang.</li>
</ol>
<p>***</p>
<p>Ketika sudah bisa melanjutkan bacaan saya, ternyata Gatra menampilkan kejutan bagi saya: kawan saya Fadil (alumnus Teknik Fisika ITB angkatan 90) ternyata terpilih menjadi salah satu ikon iptek. Ini adalah penghargaan prestasinya mengembangkan software akuntansi Zahir. Waah, saya jadi kecipratan bangganya.</p>
<p>Orang-orang kayak saya ini berapa besar sih kemungkinannya jadi ikon? Orang-orang seperti kita kan hanya bisa mengandalkan teman: seberapa besar sih kemungkinan teman kita jadi orang terkenal? Nah, untuk pertanyaan yang terakhir itu, saya bisa dengan bangga mengatakan kawan saya sudah jadi orang!</p>
<p>Kalau ndak percaya nih fotonya di tengah-tengah tokoh kaliber nasional, bahkan internasional.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/fadilditengah.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-212" title="Fadil di tengah Tokoh Nasional" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/fadilditengah-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Yang dibawah ini adalah halaman laporannya di Gatra.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/fadilgatra.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-213" title="Fadil Ikon Iptek Gatra" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/fadilgatra-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Nggak cukup di Gatra, ternyata majalah Tempo pun memuat artikel tentang Fadil di edisi awal Januari. Ini dia gambarnya:</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/fadiltempo.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-214" title="Fadil di Tempo" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/fadiltempo-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Selamat ya Fadil!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/209/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang commissioning (atau tentang WC cebok)</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/204</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/204#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2009 14:27:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architecture]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Anda tahu commissioning? Dalam dunia perancangan bangunan, kata itu merujuk kepada satu fase dari desain bangunan, yaitu fase setelah fase konstruksi selesai tetapi sebelum serah terima kepada pemilik. Di fase commissioning ini semua kriteria desain yang telah dibangun dalam fase konstruksi diperiksa. Ada banyak sekali manfaat dari commisioning ini. Yang paling nyata tentu saja dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda tahu <em>commissioning</em>? Dalam dunia perancangan bangunan, kata itu merujuk kepada satu fase dari desain bangunan, yaitu fase setelah fase konstruksi selesai tetapi sebelum serah terima kepada pemilik. Di fase <em>commissioning</em> ini semua kriteria desain yang telah dibangun dalam fase konstruksi diperiksa.</p>
<p>Ada banyak sekali manfaat dari commisioning ini. Yang paling nyata tentu saja dengan commissioning kita bisa menemukan berbagai kekurangan atau kesalahan dalam desain. Manfaat lain adalah bahwa dengan commissioning ini sang pemilik bangunan mendapatkan jaminan bahwa semua target yang dia tetapkan dalam bangunan itu dapat dicapai (lhah, jangan-jangan di Indonesia pemilik bangunannya nggak punya target apa-apa).</p>
<p>Departemen Energi Amerika memperkirakan bahwa dengan melaksanakan commissioning yang benar saja maka pemborosan pendinginan dan pemanasan (AC dan heater) dapat dipangkas. Saya ulangi lagi begini: sekalipun sistem AC (dan pemanas) sudah dibeli sesuai dengan spesifikasi, sudah dipasang dengan benar, tetapi tidak diuji coba sebelum serah terima, maka sistem itu sebenarnya masih boros. Harus di-commissioning sehingga pemborosan dapat dipangkas.</p>
<p>Tapi saya tidak ingin berbicara tentang penghematan saat ini. Artikel ini sepenuhnya tentang kenyamanan.</p>
<p><span id="more-204"></span></p>
<p>***</p>
<p>Anda tahu WC cebok? Itu loh, WC yang ada selang pancuran yang bisa dipakai untuk cebok. Gambar di bawah ini adalah contohnya. Selang yang ada semprotannya itulah yang digunakan sebagai alat cebok.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/commissioningwc.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-205" title="WC cebok" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/commissioningwc-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p>Hubungannya dengan <em>commissioning</em>? Nah ini dia masalahnya. Semprotannya itu loh, di banyak tempat tidak pernah disetel dengan aliran yang nyaman untuk digunakan.</p>
<p>Bagaimanakan aliran yang nyaman itu? Aliran yang nyaman itu adalah ketika semprotannya ditekan <span style="text-decoration: underline;"><em>penuh</em></span>, aliran air yang keluar seharusnya sedang-sedang saja. Artinya cukup kuat untuk membersihkan kotoran, tetapi tidak akan muncrat ke mana-mana ketika alirannya itu terhalang sesuatu (misalnya terhalang tangan).</p>
<p>Semprotan cebok ini biasanya punya dua keran. Yang pertama di ujung selang plastik, nempel di tembok, yang ini biasanya keran putar. Yang kedua di semprotannya, biasanya berupa katup tekan. Setelan yang sangat umum terjadi adalah keran putarnya dibuka habis, sehingga pengguna diharapkan akan berakrobat dengan katup tekannya, mengira-ngira seberapa banyak harus ditekan supaya airnya tidak muncrat ke mana-mana.</p>
<p>Ini kan namanya setelan seenak perutnya, yang sama sekali tidak berpihak kepada pengguna. Jangan-jangan tukang pasangnya tidak pernah cebok di WC seperti ini, ya?</p>
<p>Setelan yang nyaman seharusnya keran putarnya tidak boleh dibuka terlalu lebar, secukupnya saja, sedemikian sehingga kalau katup tekan di semprotan ditekan habis, maka aliran air yang keluar adalah aliran yang nyaman.</p>
<p>Foto di atas sebenarnya ingin menunjukkan air yang muncrat ke mana-mana. Bekas air di dinding sampai ke pinggang orang dewasa, wah itukan berarti sampai ke kepala orang yang sedang duduk di WC itu. Kasihan benar korban air cebok ini. Ini bukan saya ya, saya tidak jadi pakai WC itu karena WCnya sudah basah kuyub. Akhirnya saya foto saja, tetapi air muncratnya tidak kelihatan.</p>
<p>***</p>
<p>Contoh lainnya (dua foto di bawah ini) adalah dua keran air di tempat cuci tangan yang letaknya bersebelahan. Yang satu alirannya luar biasa deras, sehingga kalau ada yang berani cuci tangan di keran yang ini, dijamin bajunya ikut basah.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/commissioningtap.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-206" title="Water tap - simply too much" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/commissioningtap-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Sedangkan di sebelahnya, aliran airnya cukup kecil, bahkan cenderung kecil. Tetapi cukup deras untuk digunakan.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/commissioningtap2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-207" title="Water tap - just nice" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/01/commissioningtap2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>***</p>
<p>Pertanyaannya tentu saja: ini salah siapa?</p>
<p>Bagi saya, ini adalah kesalahan kontraktor dan juga pemilik, kedua belah pihak bersalah karena tidak melakukan <em>commissioning</em> dengan baik. Pemilik seharusnya bersikeras agar semua fasilitas diuji coba sebelum diserahterimakan. Itu artinya, peralatan cebok itu diuji coba, semprotannya dibuka, alirannya dipegang. Kan tidak perlu menunggu ada yang berak dulu di WC itu untuk menguji aliran semprotan cebok itu. Di pihak kontraktor juga seharusnya memberi peringatan kepada pengguna, kalau memang aliran airnya terlalu keras (dan tidak bisa dikecilkan -  ini agak mengada-ada tapi who knows) agar tidak ada korban baju basah.</p>
<p>Kalau tidak ada commissioning, siapa yang jadi korban? Tentu bukan kontraktor ataupun pemilik bangunan, tetapi yang jadi korban adalah pengguna bangunan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/204/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
