<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ery.djunaedy &#187; Indonesian</title>
	<atom:link href="http://ery.djunaedy.com/cat/indonesian/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ery.djunaedy.com</link>
	<description>renung</description>
	<lastBuildDate>Sun, 17 Jul 2011 23:05:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Cerita Malam Minggu</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/546</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/546#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jul 2011 23:05:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=546</guid>
		<description><![CDATA[Ini cerita jaman dulu ketika tinggal di asrama Wisma Teuku Umar (a.k.a. Asrama Cicendo). Suatu malam minggu, seorang senior memberiku wejangan yang kudengarkan dengan seksama. &#8220;Dek, kau ini harus cepat cari cewek. Jangan tiap malam minggu duduk aja di asrama&#8221;, kata beliau. Dasar anak asrama, wejangan rasanya kurang nikmat kalau tidak disambung dengan ejekan. &#8220;Bek [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini cerita jaman dulu ketika tinggal di asrama Wisma Teuku Umar (a.k.a. Asrama Cicendo). Suatu malam minggu, seorang senior memberiku wejangan yang kudengarkan dengan seksama. &#8220;Dek, kau ini harus cepat cari cewek. Jangan tiap malam minggu duduk aja di asrama&#8221;, kata beliau.</p>
<p><span id="more-546"></span></p>
<p>Dasar anak asrama, wejangan rasanya kurang nikmat kalau tidak disambung dengan ejekan. &#8220;Bek ka turut that si gam nyan,&#8221; katanya sambil menunjuk senior yang lain yang juga sedang nonton TV, &#8220;tiep uroe nyng na ciet peugah haba cewek mantong, tapi troek malam minggu duek di asrama&#8221;. Artinya kurang lebih begini: &#8220;Jangan macam agam yang satu ini, tiap hari cerita cewek tapi giliran malam minggu duduk di asrama&#8221;. Maksudnya, kalau sudah cerita cewek tiap hari mbok ya malam minggu itu jangan cuman di asrama, tapi berangkat apel.</p>
<p>Saya yang waktu itu baru masuk asrama tentunya harus mendengar cerita senior ini dengan takzim.</p>
<p>Tak lama kemudian, datanglah salah satu dedengkot senior asrama ke ruangan TV. Saya tanya, &#8220;Nggak malam mingguan, Bang?&#8221;</p>
<p>Maka bersabdalah senior yang tak kunjung lulus ini:</p>
<blockquote><p>Dek, bek ka dengoe that si gam nyan. Aneuk asrama nyoe ka terkenal, menyoe ka malam minggu mandum jak u lua. Di asrama meusigak mandum peugah jak apel, tahu-tahu ka enteuk ka meusapat bandum bak Mak Icih.</p></blockquote>
<p>&#8220;Dek, jangan terlalu kau dengar apa kata dia&#8221;, katanya sambil menunjuk orang yang tadi menasehati saya, &#8220;Anak asrama ini sudah terkenal, kalau malam minggu dengan lagaknya keluar semua, dari asrama pamit mau apel, ternyata nanti semuanya saling kepergok di warung Mak Icih.&#8221;</p>
<p>***</p>
<p>Sampai lama menjelang saya menikah, saya masih tetap tinggal di asrama waktu malam minggu. Si Abang Senior secara berkala masih tetap dengan petuah lamanya, &#8220;Dek cepatlah kau cari cewek&#8221;. Suatu waktu, ketika saya sudah cukup senior di asrama, dan sudah berani bersuara, saya menjawab singkat, &#8220;Bang, nggak usahlah banyak cakap tentang masalah cewek. Kita buktikan saja nanti, kalau kita sudah menikah, istri siapa yang lebih cantik.&#8221;</p>
<p>Seluruh ruang TV jadi terbahak mendengar tantangan ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/546/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Penjaja</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/527</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/527#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jun 2011 02:34:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Economy]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Human resource]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=527</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Pak, semir Pak?&#8221; katanya menawarkan jasa semir sepatu waktu saya sedang ngobrol menunggu pesawat di Bandara Sukarno-Hatta. &#8220;Kamu temannya Mamad, ya?&#8221; tanya saya. Dia gelagapan mendengar pertanyaan saya, karena mungkin tidak mengharapkan pertanyaan itu. Dia tetap bengong, maka saya tanya lagi, &#8220;Kamu kenal sama Mamad, nggak?&#8221; Dia jawab, &#8220;Nggak, Pak&#8221;. &#8220;Naah&#8221;, sambung saya, &#8220;Mamad itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Pak, semir Pak?&#8221; katanya menawarkan jasa semir sepatu waktu saya sedang ngobrol menunggu pesawat di Bandara Sukarno-Hatta.</p>
<p>&#8220;Kamu temannya Mamad, ya?&#8221; tanya saya. Dia gelagapan mendengar pertanyaan saya, karena mungkin tidak mengharapkan pertanyaan itu. Dia tetap bengong, maka saya tanya lagi, &#8220;Kamu kenal sama Mamad, nggak?&#8221;</p>
<p>Dia jawab, &#8220;Nggak, Pak&#8221;.</p>
<p>&#8220;Naah&#8221;, sambung saya, &#8220;Mamad itu anak sebesar kamu yang baru saja menyemir sepatu saya.&#8221; Dia tersenyum kecut karena kehilangan calon pelanggan, kemudian terus pergi.</p>
<p><span id="more-527"></span></p>
<p>***</p>
<p>Mamad (kita sebut saja begitu namanya) memang sudah menyemir sepatu saya. Dia menghampiri saya untuk meminta menyemir sepatu saya. Ternyata dia berpasangan dengan kawannya.</p>
<div id="attachment_529" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2011/06/MamadSemir_2011-05-20-133606.jpg"><img class="size-medium wp-image-529" title="Mamad Tukang Semir di Bandara" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2011/06/MamadSemir_2011-05-20-133606-300x225.jpg" alt="Mamad Tukang Semir di Bandara" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Mamad Tukang Semir di Bandara</p></div>
<p>Ketika sudah selesai menyemir, mereka saya tanya &#8220;Jadi berapa yang saya harus bayar?&#8221;</p>
<p>Mereka menjawab, &#8220;Terserah bapak saja, seikhlasnya.&#8221;</p>
<div id="attachment_530" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-530" href="http://ery.djunaedy.com/archives/527/mamadsemir_2011-05-20-133557"><img class="size-medium wp-image-530" title="Mamad sedang sibuk nyemir" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2011/06/MamadSemir_2011-05-20-133557-300x225.jpg" alt="Mamad sedang sibuk nyemir" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Mamad sedang sibuk nyemir</p></div>
<p>Itu jawaban yang dari dulu saya tidak suka. Pertama, itu menunjukkan bahwa mereka tidak punya rasa percaya diri dengan layanan yang mereka tawarkan. Kedua, mereka juga bermain dengan perasaan pelanggan dengan menggunakan kata ikhlas. Semua orang juga bingung kalau harus menerjemahkan kata ikhlas menjadi berapa rupiah.</p>
<p>Karena itu saya damprat saja mereka, &#8220;Ya nggak bisa begitu dong, kalian harus bilang saya harus bayar berapa?&#8221;</p>
<p>Baru mereka buka mulut, &#8220;Lima ribu, Pak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu untuk berdua?&#8221; tanya saya. &#8220;Betul, Pak&#8221;, jawab mereka.</p>
<p>Jumlah itu saya rasa cocok dengan tingkat layanan yang mereka berikan. Bahwa mereka dengan berani menyebutkan jumlahnya, saya beri mereka tambahan uang. Bahwa mereka tidak berusaha mengambil kesempatan dalam kesempitan, yaitu dengan melakukan mark-up besar-besaran dengan mengandalkan rasa bersalah pelanggan yang sudah menerima layanan tapi belum bayar, itu juga saya berikan bonus tambahan uang.</p>
<p>Mereka pergi dengan senyum yang mengembang, dan saya pun senang sekali karena sepatu yang sudah kusam jadi tampak lebih terawat.</p>
<p>***</p>
<p>Ini berbeda dengan Sang Penjaja lainnya yang saya temui di pintu tol. Dari jauh sudah kelihatan, ada orang yang menjajakan lampu LED. Lampunya cukup kecil, yang dalam perkiraan saya harganya sekitar 10-15 ribuan.</p>
<p>Ketika dia mendekat, saya membuka jendela mobil. &#8220;Berapa satu, Pak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lima puluh ribu, Pak&#8221;, jawabnya.</p>
<p>&#8220;Hah, mahal amat! Nggak jadi, Pak.&#8221; jawab saya.</p>
<p>Seperti bisa ditebak, Sang Penjaja melesat mengikuti mobil yang sudah maju perlahan, &#8220;Maunya berapa, Pak?&#8221;</p>
<p>Saya bilang, &#8220;Nggak jadi, Pak, kemahalan.&#8221;</p>
<p>Dia terus mengikuti mobil yang bergerak perlahan. Kakak saya yang sedang menyetir sudah merasa tidak enak diikuti seperti itu. Dan tampaknya Sang Penjaja bisa menebak hal ini, dia kemudian memutar ke sisi pengemudi dan kembali berkata, &#8220;Maunya berapa, Pak?&#8221;</p>
<p>Saya bilang, &#8220;Nggak Pak, nggak jadi&#8221;.</p>
<p>Akhirnya Sang Penjaja itu mengeluarkan jurusnya yang terakhir, &#8220;Dua puluh ribu saja bagaimana Pak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak, Pak, nggak jadi.&#8221; jawab saya sebelum mobil kami meluncur ke dalam jalan tol, dan Sang Penjaja itu tidak mengikuti kami lagi.</p>
<p>***</p>
<p>Saya terkena omelan kakak dan ibu saya yang dari tadi hanya diam mengamati. Kenapa tidak dibeli saja, kan sudah murah?</p>
<p>Buat saya, ini bukan masalah harganya sudah murah. Tapi ini masalah mark-up yang tidak masuk akal.</p>
<p>Kalau saja sejak awal Sang Penjaja itu menawarkan barangnya seharga 20 ribu rupiah, saya akan beli tiga. Tetapi ketika dia menawarkannya seharga 50 ribu, maka hati saya bertanya-tanya. Ada dua kemungkinan. Pertama, barangnya memang segitu harganya, tapi kalau memang begitu saya memang tidak berniat membeli. Kemungkinan kedua, ya itu tadi. Dia melakukan mark-up yang luar biasa besarnya, dan sedang memancing di tengah ketidaktahuan pelanggannya.</p>
<p>Buat saya ini tidak jujur. Sekalipun harganya hanya 30 ribu perak, bahkan seribu perakpun, tetaplah tidak jujur. Kenyataan bahwa jumlahnya sangat kecil, justru mempertajam betapa tragisnya kondisi Sang Penjaja itu.</p>
<p>Saya memilih untuk tidak mendukung pola dagang seperti itu dengan tidak membeli dari Sang Penjaja. Sebaliknya, saya mendukung penuh Si Tukang Semir &#8212; Mamad ini ataupun Mamad-Mamad lain &#8212; dengan memberikan bonus berlipat karena kejujurannya dalam memberikan harga.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/527/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tengkleng Bola</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/514</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/514#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Dec 2010 14:27:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Food]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=514</guid>
		<description><![CDATA[Menghadapi pertandingan bola PSSI, saya melakukan persiapan yang cukup panjang. Pertanyaannya, apa sarapan yang sedap untuk menemani acara nonton bola yang berlangsung pukul 5 pagi waktu Amerika? Pilihan saya: tengkleng kepala kambing. Ini dia bahan aslinya, sekitar jam 9 malam: Tentang resepnya, saya ambil dari internet, kombinasi antara resep ini dan ini. Kombinasinya sudah lupa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menghadapi pertandingan bola PSSI, saya melakukan persiapan yang cukup panjang. Pertanyaannya, apa sarapan yang sedap untuk menemani acara nonton bola yang berlangsung pukul 5 pagi waktu Amerika?</p>
<p>Pilihan saya: tengkleng kepala kambing.</p>
<p><span id="more-514"></span></p>
<p>Ini dia bahan aslinya, sekitar jam 9 malam:</p>
<div id="attachment_516" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/TengklengBola_SebelumMasak_201012252028.jpg"><img class="size-medium wp-image-516" title="Tengkleng: persiapan nonton bola" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/TengklengBola_SebelumMasak_201012252028-300x225.jpg" alt="Tengkleng: persiapan nonton bola" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Tengkleng: persiapan nonton bola</p></div>
<p>Tentang resepnya, saya ambil dari internet, kombinasi antara resep <a title="Resep Tengkleng Rumah Wanita" href="http://www.rumahwanita.com/tag/tengkleng" target="_blank">ini</a> dan <a title="Resep Tengkleng Pawon Hani" href="http://pawonhani.blogspot.com/2009/03/resep-tengkleng-solo.html" target="_blank">ini</a>. Kombinasinya sudah lupa lagi nih, hanya resep Pawon Hani pakai santan, sedangkan saya memilih tidak pakai santan versi Rumah Wanita. Anda pasti ingat bahwa ini adalah percobaan kedua saya memasak tengkleng.</p>
<p>Hasilnya? Lihat gambarnya: bola, tengkleng dan kopi. Ini setelah dimasak sekitar delapan jam, dikurangi airnya, dan dibumbui lagi menjelang kick-off.</p>
<div id="attachment_517" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/TengklengBola_SarapanKopiBola_201012260636.jpg"><img class="size-medium wp-image-517" title="Tengkleng: bola dan kopi" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/TengklengBola_SarapanKopiBola_201012260636-300x225.jpg" alt="Tengkleng: bola dan kopi" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Tengkleng: bola dan kopi</p></div>
<p>Sarapan yang nikmat tentunya. Sayangnya, Indonesia dicukur 3-0 oleh pasukan Malaysia. Agak berkurang kenikmatan makan tengkleng ini.</p>
<p>Kesimpulan saya? Susah karena tidak ada referensinya. Dua-duanya baik tengkleng ataupunya bola.</p>
<p>Untuk tengkleng saya benar-benar tidak tahu rasa aslinya seperti apa, karena di Indonesia belum pernah makan. Hanya kali ini rasanya lebih enak dibandingkan percobaan saya yang pertama, karena saya mengurangi air rebusan kepala kambing sebelum dibumbui lagi. Bumbunya cukup sedap rasanya.</p>
<p>Untuk bola, ini pertandingan pertama yang saya tonton sejak adanya euphoria PSSI. Saya tidak punya referensi bagaimana garangnya PSSI yang pernah menggulung squad Malaysia 5-1. Yang saya dapatkan adalah pemain PSSI yang kocar-kacir setelah protes karena diperlakukan curang oleh penonton yang sibuk main petasan sambil menembakkan laser ke mata kiper. Setelah protes, PSSI kocar-kacir, sama sekali tidak fokus.</p>
<p>Kayaknya memang bola tengkleng membuat bolanya nanduk ke sana kemari.</p>
<div id="attachment_518" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/TengklengBola_HabisDah_201012260649.jpg"><img class="size-medium wp-image-518" title="Tengkleng: habis tiga kosong" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/TengklengBola_HabisDah_201012260649-300x225.jpg" alt="Tengkleng: habis tiga kosong" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Tengkleng: habis tiga kosong</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/514/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Renovasi Masjid Salman</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/498</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/498#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Dec 2010 06:26:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Architecture]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=498</guid>
		<description><![CDATA[Ada hal yang menarik perhatian saya ketika menerima proposal renovasi Masjid Salman: ada aspek fisika bangunannya. Apa mungkin karena saya sudah lama tidak melihat proposal pembangunan masjid. Dulu yang namanya proposal pembangunan masjid mana ada komponen untuk peningkatan &#8220;tata suara&#8221; atau &#8220;tata cahaya&#8221;. Tapi di proposal ini ada. Dan yang disebut &#8220;tata suara&#8221; itu bukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada hal yang menarik perhatian saya ketika menerima proposal renovasi Masjid Salman: ada aspek fisika bangunannya. Apa mungkin karena saya sudah lama tidak melihat proposal pembangunan masjid. Dulu yang namanya proposal pembangunan masjid mana ada komponen untuk peningkatan &#8220;tata suara&#8221; atau &#8220;tata cahaya&#8221;. Tapi di proposal ini ada.</p>
<p><span id="more-498"></span></p>
<div id="attachment_502" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/Salman_TampakDalam.png"><img class="size-medium wp-image-502" title="Masjid Salman - Tampak Dalam" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/Salman_TampakDalam-300x200.png" alt="Masjid Salman - Tampak Dalam" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Masjid Salman - Tampak Dalam</p></div>
<p>Dan yang disebut &#8220;tata suara&#8221; itu bukan hanya masalah beli pengeras suara. Berikut kutipan descripsi pekerjaan itu:</p>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Pada beberapa titik di dalam masjid, suara ceramah cenderung bergema dan tak jelas, untuk itu perlu dilakukan penataan ulang suara di dalam masjid agar jamaah bisa menangkap butir-butir ceramah dan presentasi di dalam masjid.</div>
</blockquote>
<p>Ini namanya pelayanan jamaah, memberikan kenyamanan bagi jamaah masjid untuk beribadah, dengan menggunakan teknologi. Dan kalau anda teruskan ke bagian akhir proposal itu, memang rincian biayanya adalah untuk biaya konsultan serta peralatan pengukuran.</p>
<p>Masih ada bagian &#8220;tata cahaya&#8221;, yang permasalahannya sekarang lebih sederhana:</p>
<blockquote><p>Pada 4 pilar di bagian depan masjid, perlu dipasang lampu sorot berkekuatan kecil untuk  melayani jamaah yang akan membaca Al?Quran, sehingga meningkatkan pemanfaatan Al?Quran waqaf, dan menahan lebih banyak jamaah di dalam masjid di antara waktu shalat.</p></blockquote>
<div>Bagi yang pernah ke Masjid Salman, memang bagian depan itu terkadang tidak kondusif (terlalu remang-remang) untuk bisa membaca Al-Quran dengan nyaman. Saya hanya usul supaya lampu sorotnya dipilih yang hemat energi, syukur-syukur bisa LED.</div>
<div>***</div>
<div>Satu lagi yang menarik perhatian saya dari proposal ini, yaitu adanya rencana untuk memberi proyektor dan kamera. Saya yang sudah lama merindukan khutbah-khutbah dari Salman, tentunya berharap bahwa nantinya kita akan bisa mendapatkan rekaman acara-acara di Salman. Siapa tahu bisa siaran langsung.</div>
<div></div>
<div>Tentunya bukan hanya itu (tata cahaya dan tata suara), masih banyak aspek lain dari renovasi yang bisa anda sumbang, tergantung minat anda. WC dan tempat wudhu wanita misalnya, sejak dulu yang cuman sepotong kecil itu saja. Rencananya sekarang mendapat porsi yang cukup besar dari total rencana renovasi ini. Atau tempat bermain anak-anak.</div>
<p>Untuk lebih lengkapnya silakan lihat <a title="Proposal Renovasi Minor Masjid Salman" href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/RencanaRenovasiMinorMasjidSalman20101201.pdf" target="_blank">proposal lengkapnya di sini</a>. Dan tentunya jangan lupa ikutan menyumbang.</p>
<p>***</p>
<p>Bagaimana Masjid Salman sekarang? Berikut seluruh kompleks masjid tampak dari atas.</p>
<div id="attachment_501" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/SalmanBirdView.png"><img class="size-medium wp-image-501" style="padding: 0px; margin: 0px; border: 0px none initial;" title="Masjid Salman - Bird View" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/SalmanBirdView-300x235.png" alt="Masjid Salman - Bird View" width="300" height="235" /></a><p class="wp-caption-text">Masjid Salman - Bird View</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/498/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah preman tobat</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/465</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/465#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Dec 2010 20:08:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=465</guid>
		<description><![CDATA[Anda punya kawan yang jadi penulis buku? Pernah merasa kaget, lho kok dia bisa menulis buku? Nah, itulah yang saya rasakan waktu tahu Andi Bombang sudah menerbitkan buku. Ketika tahu bahwa bukunya adalah sebuah novel, wah, tambah penasaran lagi saya. Bukan apa-apa, saya tahu persis Andi Bombang jaman masih pakai seragam putih biru bercelana pendek. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="clear:both"><div style="float:left;padding-right:10px;padding-bottom:10px;"><a href='http://openlibrary.org/books/OL19141980M/Kun--_fayakun' ><img src='http://covers.openlibrary.org/b/id/6670772-M.jpg' alt='Kun-- fayakun' title='View this title in Open Library' /></a></div><div style="font-size:18px;font-weight:bold;"><a href='http://openlibrary.org/books/OL19141980M/Kun--_fayakun' title='View this title in Open Library' >Kun-- fayakun</a></div><div style="font-size:14px;"><a href='http://openlibrary.org/authors/OL5647750A/Bombang_Andi' title='View this author in Open Library' >Bombang Andi</a>; Diva Press 2007</div><div style="font-size:10px;"><a href="http://worldcat.org/isbn/9799634229" title="View this title at WorldCat">WorldCat</a>&#8226;<a href="http://librarything.com/isbn/9799634229" title="View this title at LibraryThing">LibraryThing</a>&#8226;<a href="http://books.google.com/books?as_isbn=9799634229" title="View this title at Google Books">Google Books</a>&#8226;<a href="http://www.bookfinder.com/search/?st=xl&ac=qr&isbn=9799634229" title="Search for the best price at BookFinder">BookFinder</a></div><span class="Z3988" title="ctx_ver=Z39.88-2004&amp;rft_val_fmt=info%3Aofi%2Ffmt%3Akev%3Amtx%3Abook&amp;rfr_id=info%3Asid%2Fery.djunaedy.com%3AOpenBook&amp;rft.genre=book&amp;rft.btitle=Kun--+fayakun&amp;rft.isbn=9799634229&amp;rft.au=Bombang+Andi&amp;rft.place=Banguntapan%2C+Jogjakarta&amp;rft.pub=Diva+Press&amp;rft.date=2007&amp;rft.tpages=626"></span></div>
<p>Anda punya kawan yang jadi penulis buku? Pernah merasa kaget, lho kok dia bisa menulis buku? Nah, itulah yang saya rasakan waktu tahu Andi Bombang sudah menerbitkan buku. Ketika tahu bahwa bukunya adalah sebuah novel, wah, tambah penasaran lagi saya.</p>
<p><span id="more-465"></span></p>
<p>Bukan apa-apa, saya tahu persis Andi Bombang jaman masih pakai seragam putih biru bercelana pendek. Nilai Bahasa Indonesianya memang selalu tinggi, dia termasuk murid favorit Pak &#8230; aah entah siapa nama Bapak Berambut Keriting itu, guru Bahasa Indonesia kami di SMP. Tapi menulis cerita? Apalagi sebuah novel?</p>
<p>Maka sangat kuatlah tekad saya untuk membuktikan sendiri kedigjayaan Bombang dalam mengolah kata. Bukunya saya cari, dan ternyata tidak terlalu jauh dari kampung saya: ada di perpustakaan University of Washington. Langsung saya pesan melalui Inter-Library Loan.</p>
<p>***</p>
<p>Begitu saya terima kiriman dari perpustakaan, saya langsung berdecak kagum. Ini bukan sembarang novel: ukurannya itu loh &#8212; 623 halaman. Orang kalau sudah bisa menulis cerita sepanjang itu, dan bisa meyakinkan penerbit bahwa ceritanya layak diterbitkan, pastilah bukan penulis sembarangan.</p>
<p>Itu kesan pertama saya.</p>
<div id="_mcePaste">Cap &#8220;spiritual thriller &#8212; citarasa lokal&#8221; terpampang gagah di sampul buku ini. Cita rasanya memang benar-benar lokal, as advertised. Cap &#8220;spiritual thriller&#8221; seperti yang dicantumkan di sampul buku itupun rasanya tidak berlebihan, sekalipun terkesan kurang tepat.</div>
<div id="_mcePaste">Kedua komponen &#8212; spiritual dan thriller &#8212; memang ada dalam buku ini. Tapi saya lebih melihat buku ini sebagai buku perjalanan spiritual, bukan buku thriller. Bahkan boleh dibilang buku ini adalah kisah perjalanan spiritual tokoh-tokoh cerita (bukan hanya tokoh utama) dari berbagai kalangan, yang nantinya mewakili berbagai skenario perjalanan spiritual masing-masing tokoh. Thriller hanyalah bumbu yang sangat tepat untuk kisah-kisah ini, karena bumbu ini akan menampilkan gambaran yang sangat kontras antara awal dan akhir kisah perjalanan spiritual mereka.</div>
<div>Ada dua hal yang menunjukkan kepada buku ini lebih tepat dikategorikan dalam genre spiritual dan bukan thriller. Pertama komposisi cerita. Sembilan bab pertama (260 halaman) buku ini memang berisi kisah aksi petualangan sang preman. Detil memang diceritakan lika-liku kehidupan kelompok preman. Mulai dari cara mereka mencari uang, struktur komando kelompok, sampai ke penyusunan strategi perang. Tetapi semua aksi petualangan itu seolah berhenti setalah bab sembilan. Di lima bab terakhir (sebanyak 360 halaman), mulailah lika-liku perjalanan spiritual sang preman. Benang merahnya adalah perjalanan spiritual, thriller hanyalah bumbu.</div>
<div>Kedua adalah tentang detil cara kerja polisi. Buku thriller tentunya akan memberikan porsi yang sama antara cara kerja preman dengan cara kerja polisi. Tapi tidak di buku ini. Rizal, tokoh polisi yang bertugas memburu Sang Kobra, ingin dikesankan sebagai polisi yang cerdas dan sukses. Tetapi sama sekali tidak ada penjelasan yang sama detilnya tentang mengapa Rizal selalu gagal dalam menangkap Sang Kobra. Yang terbaca adalah bahwa Rizal adalah tokoh simpul, tokoh penting dalam cerita yang akan ditampilkan pada titik-titik tertentu untuk memberikan kontras yang menyilaukan dalam alur cerita. Alur cerita perjalanan spiritual, bukan kisah thirller.</div>
<div>***</div>
<div>Sebagai buku perjalanan spiritual, buku ini merupakan jurnal yang sangat lengkap. Kegelisahan manusia dalam menjalani hidup diungkapkan secara gamblang melalui pertanyaan-pertanyaan Hardi Sang Preman dalam berbagai fase kehidupannya. Jawaban pertanyaan-pertanyaan itupun dibahas secara detil dalam perspektif sufi.</div>
<div>Perjalanan spiritual Hardi berawal ketika dia menemukan buku Al-Hikam karya Ibnu Athaillah di atas kapal tempatnya menyembunyikan diri dari kejaran polisi. Dua tahun dia berada di atas kapal, selama itulah dia mencari. Tentunya, persembunyiannya itu diselingi dengan beberapa aksi heroik Sang Jagoan, dalam menghadapi bajak laut misalnya, atau ketika menanggapi tantangan awak kapal untuk lomba panjat tiang layar. Aksi-aksi ini membuat perjalanan spiritual Hardi jadi lumayan enak dibaca.</div>
<div>Perjalanan spiritual itu sendiri banyak mengandung kebetulan-kebetulan, bahkan kejadian spiritual yang sifatnya gaib. Hardi misalnya mengalami kejadian aneh ketika berduaan dengan seorang pelacur begitu dia mendarat selepas dua tahun berkurung diri di atas kapal. Kejadian aneh yang membuatnya tidak sempat &#8220;menyentuh&#8221; perempuan itu. Atau kejadian jatuhnya handphone Hardi ke dalam kali, yang membuatnya putus hubungan dengan seluruh karib kerabatnya selama bertahun-tahun dia hidup di Karawang. Atau suara-suara gaib yang memanggil namanya ketika berusaha mencari seorang mursyid.</div>
<div>Kejadian-kejadian serta kebetulan-kebetulan itu akan membuat pembaca akan, apakah Hardi ini memang berniat taubat ataukah dia dipilih untuk taubat? Apakah kesadarannya itu timbul atas kemauannya sendiri, ataukah &#8220;takdir&#8221; menggariskannya untuk taubat? Tidak ada jawaban yang penulis tawarkan dalam konteks ini, mungkin sengaja biar pembaca bertambah penasaran.</div>
<div>Tapi untuk hal-hal lainnya penulis memberikan jawaban yang cukup lengkap. Beliau tidak segan-segan menuliskan berbagai masalah sufi dan tarekat dengan detil yang agak berlebihan. Tidak salah, misalnya, kalau dalam blognya <a title="Preman Tauhid" href="http://andibombang.com/preman-tauhid.html" target="_blank">Andi Bombang bercerita bahwa ada preman Bangka yang hafal lika-liku isi novelnya</a>. Novel ini memang bisa dijadikan primbon bagi mereka yang ingin memulai perjalanan dalam dunia tarekat. Tidak lengkap tentunya, tapi detil-detilnya bisa dipakai sebagai bahan dasar untuk bertanya.</div>
<div>Bagaimana proses baiat tarekat misalnya, dibahas cukup detil, bahkan diulang sampai empat kali untuk tokoh-tokoh yang berbeda. Perjalanan masing-masing tokoh ini berbeda, tentunya bisa memberikan ragam skenario yang cukup lengkap bagi mereka yang tertarik untuk memulai praktek tarekat.</div>
<div>***</div>
<div>Secara keseluruhan, buku ini bagus. Saya rekomendasikan sebagai bahan bacaan anda. Lebih dari itu, bagi saya pribadi, sebagai orang yang kenal dengan penulisnya, dan pernah lama sekali mendengar celotehan-celotehannya, saya bisa menyatakan dengan sungguh-sungguh bahwa buku ini sangat Bombang sekali. Bagaimana cerita ini ditulis, begitulah gaya beliau akan bercerita kepada anda. Buat saya, ini adalah nostalgia sekaligus obat kangen mendengar kabar dari Andi Bombang.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/465/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita tentang kemiskinan</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/472</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/472#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Dec 2010 06:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=472</guid>
		<description><![CDATA[Semoga Tuhan tidak meringankan bebannya hari ini, tetapi memberinya, ibunya, dan seluruh keluarganya kelapangan dada. Itulah doa yang kami (saya dan anak-anak) bahas dalam pengajian kami. Dahsyat sekali doa itu, sehingga ketika saya pertama kali membacanya dalam cerita yang dikirim oleh Nash, sobat saya, seketika itu timbul niat untuk membahasnya bersama anak-anak. Berikut cuplikan cerita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<div id="_mcePaste"><strong><em>Semoga Tuhan tidak meringankan bebannya hari ini, tetapi memberinya, ibunya, dan seluruh keluarganya kelapangan dada.</em></strong></div>
</blockquote>
<div>Itulah doa yang kami (saya dan anak-anak) bahas dalam pengajian kami. Dahsyat sekali doa itu, sehingga ketika saya pertama kali membacanya dalam cerita yang dikirim oleh Nash, sobat saya, seketika itu timbul niat untuk membahasnya bersama anak-anak.</div>
<div><span id="more-472"></span></div>
<div>Berikut cuplikan cerita itu:</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Tadi pagi hujan lebat di Padang. Ketika kembali menuju rumah dengan jas hujan di atas sepeda motor, saya berpapasan dengan seorang anak laki-laki berusia kira 10 tahun yang berteriak nyaring menjajakan dagangannya. Sangat mengejutkan bagi saya bahwa di tengah hujan lebat seperti ini, tanpa penahan air apapun di tubuhnya anak itu masih terus berjalan menjunjung dagangannya. Kira-kira 5 meter melewatinya, saya berbalik. Anak ini menjual 3 macam gorengan: pisang goreng, ketela rambat goreng, dan bakwan. Gorengan itu disusun seadanya di sebuah baskom plastik sedang, ditutup dengan plastik putih yang lusuh. Tidak ada pembungkus apapun untuk membawa gorengan ini pulang. Anak ini menawarkan diri untuk pulang ke rumahnya mengambil plastik. &#8220;Rumah awak dakek, Bang&#8221;&#8230;rumahnya dekat katanya. Meskipun saya tidak yakin rumahnya benar-benar dekat, tapi dengan itu, saya mengerti betapa dia sangat berharap saya jadi membeli di tengah hujan lebat ini. Saya menolak dan mencari plastik di bawah jok. Saya menemukan plastik kresek hitam yang berbau ban dalam. Setelah menyerahkan uang, dengan sengaja saya sentuh tangannya sambil berdoa dalam hati semoga Tuhan tidak meringankan bebannya hari ini, tetapi memberinya, ibunya, dan seluruh keluarganya kelapangan dada. Saya membawa gorengannya pulang sambil mengusap mata saya yang basah karena hujan dari langit dan hujan dari hati saya.</div>
</blockquote>
<div>***</div>
<div>&#8220;Kenapa dia tidak berdoa untuk meringankan beban sang anak?&#8221; kupancing anak-anakku dengan pertanyaan ini.</div>
<div>&#8220;What do you mean?&#8221; tanya Abdih.</div>
<div>&#8220;The guy could have made another wish: &#8220;may Allah lessen their burden&#8221;. Which wish do you think is better?&#8221;</div>
<div>Abdih langsung menyimpulkan bahwa seharusnya doa yang meminta keringananlah yang lebih baik.</div>
<div>Hanif ternyata berpendapat lain: doa yang meminta agar bebannya jangan dikurangilah yang lebih baik. &#8220;Kenapa, Nif?&#8221; kejar saya. &#8220;So that if they become successful someday, they will not forget how difficult it is to be poor&#8221;, begitu jawabnya.</div>
<div>Jawaban Hanif sangatlah tipikal pemikiran anak-anak yang cenderung linier dan berasumsi happy-ending. Jawabannya sama sekali tidak salah, hanya mungkin tidak realistik, dalam arti jarang sekali terjadi di dunia nyata.</div>
<div>Sembari menjelaskan bahwa jawabannya benar, tetapi tidak berlaku secara umum, saya mencoba memberikan jawaban lain yang lebih realistis: &#8220;The guy did not ask to lessen the burden of the poor people simply because he did not want them to get less reward from Allah. Instead, he asks Allah to make them stronger to take all the burden so that there is a big reward for them that can be claimed later on&#8221;.</div>
<div>Di titik inilah perbincangan kami mengarah kepada kenapa akhira itu perlu. Sama seperti yang dibincangkan oleh Nash dengan adiknya:</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Di akhir perbincangan kami, adik saya berkata bahwa untuk itulah mungkin Tuhan memberi akhirat untuk kita. Agar mereka-mereka yang hidupnya sangat berat di dunia ini bisa mendapatkan piutang keadilan yang menjadi haknya. Agar orang-orang yang berhutang keadilan di dunia ini, juga dapat membayarnya di sana. Di akhiratlah mungkin segala piutang lebih mudah ditagih dan segala hutang lebih mudah dibayar.</div>
</blockquote>
<div id="_mcePaste">&#8220;Hanif tahu apa itu piutang?&#8221; tanya saya. Dia menebak, &#8220;In debt?&#8221;</div>
<div>&#8220;Nope&#8221;, jawab saya, &#8220;it&#8217;s the other way around. Piutang means giving a loan to other people&#8221;.</div>
<div>Hanif dan Abdih agak-agak bingung berusaha meluruskan logika yang agak-agak aneh ini. &#8220;The poor are the ones who give the loan?&#8221; tanya Hanif.</div>
<div>&#8220;Yup&#8221;, jawab saya, &#8220;if they are patient. That is why the guy pray that Allah gives them strength to bear all the burden. If the poor are patient, they are actually giving out loans in this world.&#8221;</div>
<div>&#8220;So who are in debt?&#8221; tanya Hanif.</div>
<div>&#8220;It&#8217;s us&#8221;, jawab saya, &#8220;all of us who are not poor, we are the ones in debt. Remember, that some of our money actually belong to the poor. We have to return it to the rightful owner here in the world. Otherwise, we are in debt, that we need to settle later on after we die.&#8221;</div>
<div>Beberapa lama kami diam, melanjutkan pemikiran yang sama seperti Nash:</div>
<blockquote>
<div id="_mcePaste">Di dalam hati, saya merenungi seperti apa akhirat yang akan saya jalani nanti, bisakah saya dibangkitkan bersisian dengan orang-orang berpiutang seperti ini?</div>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/472/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebelum mereka menyebutmu &#8220;benda itu&#8221;</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/444</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/444#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Oct 2010 14:31:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=444</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah cerita tentang kematian dan jurang antar generasi. Sekadar mengingatkan bahwa anak-anak kita belum tentu punya kesamaan pandangan dalam melihat masalah kematian. Contohnya adalah seorang kakek tua, seorang muslim pengungsi Bosnia yang sudah lama menetap di Boise, sebut saja namanya Vahim. Di Boise juga dia membesarkan anak-anaknya. Sayangnya tak sekalipun dia berbicara tentang kematian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah cerita tentang kematian dan jurang antar generasi. Sekadar mengingatkan bahwa anak-anak kita belum tentu punya kesamaan pandangan dalam melihat masalah kematian. Contohnya adalah seorang kakek tua, seorang muslim pengungsi Bosnia yang sudah lama menetap di Boise, sebut saja namanya Vahim.</p>
<p><span id="more-444"></span></p>
<p>Di Boise juga dia membesarkan anak-anaknya. Sayangnya tak sekalipun dia berbicara tentang kematian kepada mereka. Apa yang terjadi? Sang anak pun belajar sendiri, menyerap dari lingkungan mereka tentang apa makna kematian.</p>
<p>Tibalah masa sekarat bagi Vahim. Napas sudah tinggal satu dua, bicara pun sudah susah. Anak-anaknya berusaha memberi kenyamanan bagi dia dalam menjalani masa sekaratnya, tentunya sesuai dengan pelajaran yang mereka dapatkan dari lingkungannya.</p>
<p>Yang mereka lakukan? Mereka menidurkan sang Ayah dalam posisi nyaman di tempat tidur, menyediakan makanan yang cukup di sisinya, dan menyalakan TV dengan volume yang cukup besar tepat di kaki tempat tidur. Ini adalah kenyamanan dalam menjalani masa sekarat, dalam versi yang dipahami oleh anak-anaknya.</p>
<p>Dalam kondisi itulah kawan-kawan dari Islamic Center of Boise menemukan keluarga itu, setelah mereka mendapatkan panggilan telepon tentang kondisi Vahim. Anak-anak ada di ruang tamu, juga sedang nonton TV. Sang Ayah sedang sekarat sendirian di kamar tidur, ditemani oleh TV yang membahana.</p>
<p>Segeralah salah seorang kawan mengubah keadaan itu, dan setelah memberi ceramah singkat tentang sekarat dalam Islam, mereka segera mematikan TV dan men-talqin-kan sang Ayah. Tak berapa lama, Vahimpun meninggal, semoga Allah menerima iman islamnya.</p>
<p>Kawan-kawan dari masjid pun keluar untuk berembug dengan anak-anaknya tentang apa yang harus dilakukan setelah ini. Seorang kawan menjelaskan garis besarnya, bahwa masjid akan membantu pengurusan jenazah, tetapi akan jauh lebih afdhal kalau anggota keluarga terdekat yang mengurus jenazahnya, mulai dari memandikan sampai menguburkan. Nanti akan ada seseorang dari masjid yang akan ikut mengawasi.</p>
<p>Berikut jawaban Si Sulung: &#8220;<em>You guys do what you need to do. There is no way that I am going to touch that thing</em>&#8220;.</p>
<p><em>That thing</em> itu beberapa saat yang lalu masih dia sebut sebagai Ayah.</p>
<p>Kejadian ini diceritakan kembali oleh kawan saya itu ketika kami mengadakan kursus memandikan jenazah. Anak-anak kita akan membuat definisi mereka sendiri bila kita tidak pernah berdiskusi dengan mereka. Tentang masalah apa saja: bisa masalah kematian, sekarat, akhirat, narkoba, seks, <em>whatever</em>.</p>
<p><em>Folks, talk to your kids, OK</em>?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/444/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mati air</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/440</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/440#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Oct 2010 19:32:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=440</guid>
		<description><![CDATA[Ini cerita jaman masih kuliah dulu. Kata sobat saya, Kang Budi, miturut perkataan orang Jawa kalau belum sempat be&#8217;ol di tempat kawan, maka hubungan anda dengan kawan itu belum cukup kuat, or something like that. Entah mungkin beliau menghibur saya biar nggak terlalu malu karena sudah hampir kababayan di rumah beliau. Tapi posting ini bukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini cerita jaman masih kuliah dulu. Kata sobat saya, Kang Budi, miturut perkataan orang Jawa kalau belum sempat <em>be&#8217;ol</em> di tempat kawan, maka hubungan anda dengan kawan itu belum cukup kuat, or something like that. Entah mungkin beliau menghibur saya biar nggak terlalu malu karena sudah hampir <em>kababayan</em> di rumah beliau.</p>
<p>Tapi posting ini bukan tentang buang air besar, tapi tentang mandi. Jaman saya kuliah dulu, asrama kami (Asrama Aceh di Cicendo) sering mati air. Kalau mati lampu alhamdulillah jarang sekali, maklum karena kami tetanggaan dengan Gubernuran, jadi listrik terjamin aman. Tapi kalau mati air itu cukup sering.</p>
<p><span id="more-440"></span>Alasannya bisa macam-macam, tapi semuanya adalah variasi dari pompa <em>ngadat</em>. Seperti kebanyakan orang di Bandung, kami punya sumur mata air sendiri, walaupun aliran air PAM sebenarnya ada. Pertama-tama karena pompanya nggak kuat nanjak. Masalah ini terselesaikan karena kami dapat warisan pompa jet bekas. Lumayan sempat beberapa lama tak bermasalah. Tapi masalah tetap saja datang, yang ujung-ujungnya menyebabkan asrama kami mati air.</p>
<p>Akibatnya? Bertebaranlah kami di muka bumi mencari tempat mandi.</p>
<p>Tempat yang paling ideal adalah di rumah ibu angkat kami yang kami panggil dengan sebutan Ibu Sukajadi. Kalau itu sih ueenaknya pol, karena kalau datang mau mandi sore maka paketnya sudah termasuk makan malam gratis. Nggak semua orang berani datang ke tempat Ibu, hanya kami-kami yang sudah putus urat malu saja yang istiqamah nongol setidaknya dua hari sekali.</p>
<p>Mohon dicatatan: mati air itu bisa sampai seminggu, tergantung apakan pengurus ada uang untuk perbaikan pompa atau tidak. Lhah wong uang asrama cuman dua-puluh lima ribu per bulan termasuk makan dua kali sehari, mana ada dana cadangan untuk perbaikan pompa.</p>
<p>Hanya saja, kan nggak mungkin mandi sehari dua kali di tempat Ibu Sukajadi, sekalipun kami sudah tebal muka, tapi tetap saja nggak enak lah kalau sarapan pun harus di rumah Ibu.</p>
<p>Jadinya: bertebaranlah kami di muka bumi untuk mencari tempat mandi.</p>
<p>Solusi paling enak buat kebanyakan kawan: nggak mandi. Ah sori aja, saya mah tidak termasuk kategori yang ini. Jadinya saya harus punya cadangan kamar mandi umum yang bisa didatangi kalau niat mandi pagi datang.</p>
<p>Yang paling sering saya datangi adalah kamar mandi di Masjid Salman dan kamar mandi di parkiran Jurusan Sipil ITB. Kamar mandi di Salman sebenarnya tidak terlalu menunjang untuk tempat mandi, wong namanya juga WC. Bak mandinya kecil, jadi nggak bisa cibang-cibung. Tapi lumayanlah bisa juga dipakai mandi, apalagi kalau habis menginap di Gedung Kayu. Kamar mandi yang di Sipil itu lebih enak karena lebih besar.</p>
<p>Dua kamar mandi populer yang sering disebut oleh mereka yang bertebaran di muka bumi mencari tempat mandi adalah kamar mandi Asrama Salman dan kamar mandi di <em>basement</em> Perpustakaan Pusat. Bertahun-tahun saya aktif di Salman, tak sekalipun saya berkesempatan mandi di Asrama Salman, padahal banyak kawan-kawan yang numpang mandi di sana sekalipun bukan penghuni asrama.</p>
<p>Kamar mandi di <em>basement</em> Perpustakaan Pusat ITB itu adalah <em>rolls-royce</em>-nya kamar  mandi. Nyaman sekali. Tapi tetap saja, yen tak pikir-pikir, kok saya nggak pernah mandi di sana ya? Mungkin karena daerah Timur Jauh ini bukan daerah kekuasaan saya, yaaah, biarlah <em>rolls-royce</em> ini dipakai oleh orang lain.</p>
<p>Demikian sekilat pengalaman hidup di masa lalu. Ngomong-ngomong, apa anda pernah mengalami mati air seperti yang kami alami? Apakah anda termasuk yang merasa lebih baik nggak mandi daripada mandi di toilet umum?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/440/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manajemen Menghafal Quran</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/386</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/386#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 21:49:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=386</guid>
		<description><![CDATA[Berikut posting lama yang pernah saya kirim ke berbagai milis di tahun 2007. ********************************** Sobats sekalian, assalaamu alaikum. Menyambung posting saya sebelumnya, ketika saya mencoba memulai kembali program tahfiz, ternyata memang ada satu kekurangan (yang sangat penting) ketika memulai program tahfiz tanpa seorang guru, yaitu tidak ada yang memberikan petunjuk bagian mana yang harus diulang. Waktu ngaji bersama Ustaz [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut posting lama yang pernah saya kirim ke berbagai milis di tahun 2007.</p>
<p>**********************************</p>
<p>Sobats sekalian, assalaamu alaikum.</p>
<p>Menyambung posting saya sebelumnya, ketika saya mencoba memulai kembali program tahfiz, ternyata memang ada satu kekurangan (yang sangat penting) ketika memulai program tahfiz tanpa seorang guru, yaitu tidak ada yang memberikan petunjuk bagian mana yang harus diulang. Waktu ngaji bersama Ustaz Alaina, beliau selalu memberikan jatah untuk &#8221;yang lama&#8221; dan juga &#8220;yang baru&#8221;. Beliau punya catatan sendiri tentang kemajuan murid-muridnya, dan dari situ beliau menugaskan kita untuk mengulang bagian tertentu dari yang sudah kita hafal.</p>
<p>Masalahnya: bagaimana kalau menghafal tanpa guru? Berikut sekelumit pemikiran saya.</p>
<p><span id="more-386"></span>Fakta 1: Apal kaji karena diulang, begitu pepatah kita. Kalau diulang maka bisa hafal.</p>
<p>Fakta 2: menghafal itu mudah, tapi mengulang supaya tidak lupa itu yang susah</p>
<p>Fakta 3: sesuatu yang kita hafalkan maka suatu saat akan terlupakan, kecuali kalau hafalan itu diulang sebelum lupa.</p>
<p>Fakta 4: semakin banyak ulangan, maka akan semakin kuat hafalan kita, sekalipun hafalannya sudah dihafalkan puluhan tahun yang lalu. Misalnya yang paling gampang adalah surat AlFatihah. Sekalipun ini adalah surat yang pertama kita hafalkan, karena diulang terus maka sekarang ini disuruh lupa pun insya Allah nggak lupa. Sebaliknya, surat Al-Ma&#8217;arij yang baru dihafalkan beberapa tahun yang lalu sudah banyak lupanya.</p>
<p>Fakta 5: karena waktu setiap harinya yang dialokasikan untuk tahfiz terbatas, maka kita perlu pengulangan strategik (strategic repetition), i.e. mengulang bagian dari hafalan sesuai dengan prioritas mana bagian yang paling mudah terlupakan.</p>
<p>Dari kelima fakta tadi, saya membayangkan sebuah metoda untuk program tahfiz (bisa jadi software) yang fungsinya:<br />
1. merekam kemajuan hafalan kita (misal: surat sekian ayat sekian dihafal tanggal sekian)<br />
2. merekam juga bagian mana dari hafalan kita yang dibaca ulang.<br />
3. dari rekaman data tadi, sang software akan membuat perhitungan, dan menyimpulkan bahwa pada hari ini bagian yang paling mudah terlupakan adalah surat sekian. Maka pada hari itu kita baca surat itu, dan kita rekam kembali bahwa kita sudah ulang dengan hasil baik.<br />
4. Perhitungan itu bisa dilakukan dengan membuat sebuah model dengan input:<br />
a. daya ingat =&gt; kuat, agak kuat, sedang, agak pelupa, pelupa<br />
b. waktu suatu bagian dihafalkan<br />
c. berapa kali sejak dihafalkan sudah diulang.</p>
<p>Dari tiga hal ini saja kita sudah bisa membuat model yang cukup baik untuk me-ranking hafalan kita sesuai dengan potensi terlupakan.</p>
<p>Saya bertanya kepada Wak Google mengenai software untuk membantu program tahfiz, ternyata yang keluar adalah software bacaan AlQuran. Tidak ada satupun software yang bisa digunakan untuk mencatat kemajuan hafalan kita. Padahal kalau dibuat dengan PHP dan MySQL kayaknya gampang sekali. (Any takers?)</p>
<p>Hati kecil saya bertanya sebenarnya: why make it so hard, pakai software segala? Padahal toch orang jaman dulu nggak pakai software udah pada jadi hafizh.</p>
<p>Well, orang jaman dulu (dan juga jaman sekarang) yang bisa full-time ikut program tahfizh tentu saja nggak perlu software-software-an. Tapi kalau kita ingin menjalani program tahfizh part-time sambil bekerja full-time, tentu tantangannya jauh berbeda.</p>
<p>Metoda di atas akan tidak relevan lagi kalau kita punya waktu sekian jam sehari (empat-enam jam) untuk tahfiz. Tapi kebanyakan orang tidak bisa mengalokasikan sekian jam sehari untuk tahfiz, karena itu saya memimpikan metode ini.</p>
<p>Segala macam komentar ingin saya dapatkan dari sobats sekalian. Terutama mereka yang konsisten menjalani program tahfiz.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/386/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesan Presiden</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/352</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/352#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 06:14:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=352</guid>
		<description><![CDATA[Hari Selasa besok, Presiden Obama akan memberikan pesan-pesan langsung kepada seluruh siswa sekolah di Amerika, &#8220;back to school message&#8221;. Acaranya bisa diikuti secara langsung lewat televisi maupun internet. Saya kontan membayangkan pengalaman ketika jaman sekolah dulu ketika ada kunjungan pejabat, semua murid akan dikumpulkan di aula untuk mendengarkan amanat dari sang pejabat. Agak-agaknya inilah yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Selasa besok, Presiden Obama akan memberikan pesan-pesan langsung kepada seluruh siswa sekolah di Amerika, &#8220;back to school message&#8221;. Acaranya bisa diikuti secara langsung lewat televisi maupun internet.</p>
<p>Saya kontan membayangkan pengalaman ketika jaman sekolah dulu ketika ada kunjungan pejabat, semua murid akan dikumpulkan di aula untuk mendengarkan amanat dari sang pejabat. Agak-agaknya inilah yang akan terjadi kepada murid-murid sekolah di seluruh Amerika besok Selasa.</p>
<p>Bedanya adalah sekalipun acara ini akan ditayangkan langsung kepada seluruh siswa, orang tua murid diberikan kesempatan untuk menolak (opt-out) agar anaknya tidak mendengarkan pesan Presiden itu. Berikut kutipan email yang dikirimkan ke seluruh orang tua murid di Boise:</p>
<blockquote><p>If you would prefer your child(ren) not view the President&#8217;s speech, you may contact your school to request your child(ren) opt-out of viewing the address. An appropriate alternative activity will be provided for your student until such time as the President&#8217;s address concludes. You may opt-out by simply sending your school a not or email message.</p></blockquote>
<p>Silakan lihat Pesan Presiden melalui situs <a href="http://www.ed.gov" target="_blank">Departemen Pendidikan Amerika Serikat</a> (dirilis sekitar 24 jam sebelum acaranya).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/352/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

