<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ery.djunaedy &#187; Food</title>
	<atom:link href="http://ery.djunaedy.com/cat/food/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ery.djunaedy.com</link>
	<description>renung</description>
	<lastBuildDate>Sun, 17 Jul 2011 23:05:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Kontradiksi</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/522</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/522#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jun 2011 04:28:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Food]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=522</guid>
		<description><![CDATA[Misalkan anda diundang ke sebuah undangan makan malam, dan menunya sangat menjanjikan untuk menjadi pesta besar. Anda diminta datang dengan perut kosong dan nafsu makan yang besar, dan anda diminta untuk melakukan sesuatu untuk memastikan bahwa anda bisa makan banyak sekali nanti malam. Apa yang akan anda lakukan untuk membuat anda bisa makan banyak? Apapun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Misalkan anda diundang ke sebuah undangan makan malam, dan menunya sangat menjanjikan untuk menjadi pesta besar. Anda diminta datang dengan perut kosong dan nafsu makan yang besar, dan anda diminta untuk melakukan sesuatu untuk memastikan bahwa anda bisa makan banyak sekali nanti malam.</p>
<p>Apa yang akan anda lakukan untuk membuat anda bisa makan banyak?</p>
<p><span id="more-522"></span></p>
<p>Apapun yang anda lakukan, mestinya akan tergolong pada dua kategori saja. Pertama: mengurangi makan, misalnya tidak makan siang biar bisa makan banyak nanti malam. Kedua: menambah aktivitas, misalnya berjalan kaki satu dua kilometer menuju ke tempat makan malam.</p>
<p>Betulkan? Bahwa semua alternatif kegiatan yang anda lakukan untuk menambah nafsu makan nanti malam dapat digolongkan menjadi dua kategori itu, kan?</p>
<p>Pasti begitu, dan jawaban anda juga sudah pasti benar.</p>
<p>Yang harus anda sadari adalah bahwa kedua hal tadi, yaitu mengurangi makan dan menambah aktivitas, adalah dua hal yang selalu diulang-ulang oleh banyak orang sebagai solusi masalah kegemukan. Artinya, kalau anda tidak mau gemuk maka anda harus mengurangi makan (atau at least makan secukupnya) dan atau anda harus aktif bergerak dalam arti berolah raga.</p>
<p>Apa yang disarankan oleh banyak orang sebagai solusi masalah kegemukan, sebenarnya sama dengan alternatif kegiatan yang anda lakukan untuk menambah nafsu makan. Artinya apa? Banyak orang mau kurus dengan melakukan dua kegiatan ini, tapi ujung-ujungnya mereka malah tambah lahap makannya.</p>
<p>(credit: disadur dari buku <em>Why we get fat and what to do about it</em>.)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/522/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tengkleng Bola</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/514</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/514#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Dec 2010 14:27:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Food]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=514</guid>
		<description><![CDATA[Menghadapi pertandingan bola PSSI, saya melakukan persiapan yang cukup panjang. Pertanyaannya, apa sarapan yang sedap untuk menemani acara nonton bola yang berlangsung pukul 5 pagi waktu Amerika? Pilihan saya: tengkleng kepala kambing. Ini dia bahan aslinya, sekitar jam 9 malam: Tentang resepnya, saya ambil dari internet, kombinasi antara resep ini dan ini. Kombinasinya sudah lupa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menghadapi pertandingan bola PSSI, saya melakukan persiapan yang cukup panjang. Pertanyaannya, apa sarapan yang sedap untuk menemani acara nonton bola yang berlangsung pukul 5 pagi waktu Amerika?</p>
<p>Pilihan saya: tengkleng kepala kambing.</p>
<p><span id="more-514"></span></p>
<p>Ini dia bahan aslinya, sekitar jam 9 malam:</p>
<div id="attachment_516" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/TengklengBola_SebelumMasak_201012252028.jpg"><img class="size-medium wp-image-516" title="Tengkleng: persiapan nonton bola" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/TengklengBola_SebelumMasak_201012252028-300x225.jpg" alt="Tengkleng: persiapan nonton bola" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Tengkleng: persiapan nonton bola</p></div>
<p>Tentang resepnya, saya ambil dari internet, kombinasi antara resep <a title="Resep Tengkleng Rumah Wanita" href="http://www.rumahwanita.com/tag/tengkleng" target="_blank">ini</a> dan <a title="Resep Tengkleng Pawon Hani" href="http://pawonhani.blogspot.com/2009/03/resep-tengkleng-solo.html" target="_blank">ini</a>. Kombinasinya sudah lupa lagi nih, hanya resep Pawon Hani pakai santan, sedangkan saya memilih tidak pakai santan versi Rumah Wanita. Anda pasti ingat bahwa ini adalah percobaan kedua saya memasak tengkleng.</p>
<p>Hasilnya? Lihat gambarnya: bola, tengkleng dan kopi. Ini setelah dimasak sekitar delapan jam, dikurangi airnya, dan dibumbui lagi menjelang kick-off.</p>
<div id="attachment_517" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/TengklengBola_SarapanKopiBola_201012260636.jpg"><img class="size-medium wp-image-517" title="Tengkleng: bola dan kopi" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/TengklengBola_SarapanKopiBola_201012260636-300x225.jpg" alt="Tengkleng: bola dan kopi" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Tengkleng: bola dan kopi</p></div>
<p>Sarapan yang nikmat tentunya. Sayangnya, Indonesia dicukur 3-0 oleh pasukan Malaysia. Agak berkurang kenikmatan makan tengkleng ini.</p>
<p>Kesimpulan saya? Susah karena tidak ada referensinya. Dua-duanya baik tengkleng ataupunya bola.</p>
<p>Untuk tengkleng saya benar-benar tidak tahu rasa aslinya seperti apa, karena di Indonesia belum pernah makan. Hanya kali ini rasanya lebih enak dibandingkan percobaan saya yang pertama, karena saya mengurangi air rebusan kepala kambing sebelum dibumbui lagi. Bumbunya cukup sedap rasanya.</p>
<p>Untuk bola, ini pertandingan pertama yang saya tonton sejak adanya euphoria PSSI. Saya tidak punya referensi bagaimana garangnya PSSI yang pernah menggulung squad Malaysia 5-1. Yang saya dapatkan adalah pemain PSSI yang kocar-kacir setelah protes karena diperlakukan curang oleh penonton yang sibuk main petasan sambil menembakkan laser ke mata kiper. Setelah protes, PSSI kocar-kacir, sama sekali tidak fokus.</p>
<p>Kayaknya memang bola tengkleng membuat bolanya nanduk ke sana kemari.</p>
<div id="attachment_518" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/TengklengBola_HabisDah_201012260649.jpg"><img class="size-medium wp-image-518" title="Tengkleng: habis tiga kosong" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/TengklengBola_HabisDah_201012260649-300x225.jpg" alt="Tengkleng: habis tiga kosong" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Tengkleng: habis tiga kosong</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/514/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Brunch for My Wife &#8211; Mushroom Jack Fajita</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/477</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/477#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Dec 2010 18:19:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Food]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=477</guid>
		<description><![CDATA[I stayed home this morning to cook brunch for my wife. The menu: Chicken Fajita a-la Chilli&#8217;s. I tried this recipe before, and it was great. So, this is a re-run with a few modifcation. I will not list the whole recipe, but only the modification. Here is link for the recipe: Linda&#8217;s Mushroom Jack [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>I stayed home this morning to cook brunch for my wife. The menu: Chicken Fajita a-la Chilli&#8217;s. I tried this recipe before, and it was great. So, this is a re-run with a few modifcation. I will not list the whole recipe, but only the modification.</p>
<p><span id="more-477"></span></p>
<p>Here is link for the recipe: <a href="http://genaw.com/lowcarb/mushroom_jack_fajitas.html" target="_blank">Linda&#8217;s Mushroom Jack Fajita</a>.</p>
<p>The changes that I made:</p>
<ul>
<li>I use ground chicken instead of chicken breast. It was still halve frozen, so I put the marinade into the zipbag while it is thawing.</li>
<li>I do not use bacon, and I used beef breakfast instead. But this time I skip it altogether.</li>
<li>For the marinade: I skipped the salt and the liquid smode. Instead I used salty ABC soy sauce (Indonesian should know this). I replace the chile powder with ABC Chilli Sauce (Extra Hot).</li>
<li>I cook the veggies into one single step, instead of two as the original recipe.</li>
<li>For the toppings I usually use sour cream and avocado. But just when we are about to eat, we found out that our sour cream has gone bad. So we use mayo and avocado. Two tablespoon of mayo plus half of small avocado, mix it well.</li>
</ul>
<p>Here are some pictures of it:</p>
<div id="attachment_482" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/2010-12-10-1005-BrunchChickenFajita.jpg"><img class="size-medium wp-image-482" title="Mushroom Jack Fajita: On the Stove" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/2010-12-10-1005-BrunchChickenFajita-300x225.jpg" alt="Mushroom Jack Fajita: On the Stove" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Mushroom Jack Fajita: On the Stove</p></div>
<p>Put the veggies in the bottom of the serving plate, pour the shredded cheese, and top it up with the chicken.</p>
<div id="attachment_480" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/2010-12-10-1019-BrunchChickenFajita.jpg"><img class="size-medium wp-image-480" title="Mushroom Jack Fajita: Putting It All Together" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/2010-12-10-1019-BrunchChickenFajita-300x225.jpg" alt="Mushroom Jack Fajita: Putting It All Together" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Mushroom Jack Fajita: Putting It All Together</p></div>
<p>Enjoy:</p>
<div id="attachment_481" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/2010-12-10-1025-BrunchChickenFajita.jpg"><img class="size-medium wp-image-481" title="Mushroom Jack Fajita: On the Plate" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/12/2010-12-10-1025-BrunchChickenFajita-300x225.jpg" alt="Mushroom Jack Fajita: On the Plate" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Mushroom Jack Fajita: On the Plate</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/477/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sumatra in East Asia</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/427</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/427#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 01:17:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Food]]></category>
		<category><![CDATA[Signage]]></category>
		<category><![CDATA[Trips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[On our way home, I found this coffee in one of the gas station: Sumatra Coffee from East Asia Say what? Sumatra coffee grown in East Asia? Is this another trade trick to say that this particular Sumatra coffee was not grown in Sumatra island? I am not geography expert, but I have never heard Sumatra [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>On our way home, I found this coffee in one of the gas station:</div>
<div></div>
<div>
<dl id="attachment_428" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/08/20100804_SumatraEastAsia.jpg"><img class="size-medium wp-image-428" title="Sumatra Coffee from East Asia" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/08/20100804_SumatraEastAsia-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd">Sumatra Coffee from East Asia</dd>
</dl>
</div>
<div>Say what? Sumatra coffee grown in East Asia?</div>
<div></div>
<div>Is this another trade trick to say that this particular Sumatra coffee was not grown in Sumatra island? I am not geography expert, but I have never heard Sumatra is in East Asia.</div>
<div></div>
<div>PS: Sumatra is in South East Asia, in case you do not know.</div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/427/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tengkleng</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/423</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/423#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 04:22:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Food]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=423</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;What is that?&#8221; asked my son. &#8220;Its a soup that can stare back at you&#8221;, thats my answer. Did you see that? Staring back at you? Its a dish of lamb head. We just got a whole lamb from our butcher, and the head is an extra delicacy. I was debating on what should I [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;What is that?&#8221; asked my son.</p>
<p>&#8220;Its a soup that can stare back at you&#8221;, thats my answer.</p>
<p><span id="more-423"></span></p>
<div id="attachment_425" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/07/072010_TengklengStart.jpg"><img class="size-medium wp-image-425" title="Tengkleng - In The Beginning" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/07/072010_TengklengStart-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Tengkleng - In The Beginning</p></div>
<p>Did you see that? Staring back at you?</p>
<p>Its a dish of lamb head. We just got a whole lamb from our butcher, and the head is an extra delicacy. I was debating on what should I make with that head.</p>
<p>In the end I settle with the Tengkleng recipe I found on the net. Tengkleng is a traditional dish from the central part of Java.</p>
<p>Its my big lunch that made me skip dinner, with a bit of left over for breakfast.</p>
<div id="attachment_424" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/07/072010_TengklengTheLastFrontier.jpg"><img class="size-medium wp-image-424" title="Tengkleng - The Last Frontier" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2010/07/072010_TengklengTheLastFrontier-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Tengkleng - The Last Frontier</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/423/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Revolusi low-carb</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/321</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/321#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2009 17:16:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Food]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[lowcarb]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/321</guid>
		<description><![CDATA[Dulu revolusi low-fat diet dimulai dengan dimuatnya kandungan lemak dalam setiap kemasan makanan. Sekarang, sudah mulai banyak produk yang menyajikan data karbohidrat total yang dikandung oleh produk makanan ini. Berikut salah satunya, perhatikan label di pojok kiri kemasan:]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu revolusi low-fat diet dimulai dengan dimuatnya kandungan lemak dalam setiap kemasan makanan. Sekarang, sudah mulai banyak produk yang menyajikan data karbohidrat total yang dikandung oleh produk makanan ini.</p>
<p><span id="more-321"></span>Berikut salah satunya, perhatikan label di pojok kiri kemasan:</p>
<div id="attachment_319" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/06/alouette.jpg"><img class="size-medium wp-image-319" title="Produk Keju" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/06/alouette-300x225.jpg" alt="Alouette" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Alouette</p></div>
<div id="attachment_320" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/06/totalcarb.jpg"><img class="size-medium wp-image-320" title="Karbohidrat Total" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/06/totalcarb-300x225.jpg" alt="Karbohidrat Total" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Karbohidrat Total</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/321/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persaingan usaha</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/236</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/236#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 05:58:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Economy]]></category>
		<category><![CDATA[Food]]></category>
		<category><![CDATA[Signage]]></category>
		<category><![CDATA[Trips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[Anda kenal Mang Oyo?  Saya pernah kenal dulu bertahun yang lalu ketika beliau masih aktif jaga warung. Beliau adalah pedagang bubur ayam yang cukup terkenal di Bandung. Dulu warungnya ada di depan SMP PGII, sekarang entah apa masih ada di sana atau tidak. Yang jelas warungnya sekarang ini cukup mentereng di Jalan Sulanjana tidak jauh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda kenal Mang Oyo?  Saya pernah kenal dulu bertahun yang lalu ketika beliau masih aktif jaga warung. Beliau adalah pedagang bubur ayam yang cukup terkenal di Bandung. Dulu warungnya ada di depan SMP PGII, sekarang entah apa masih ada di sana atau tidak. Yang jelas warungnya sekarang ini cukup mentereng di Jalan Sulanjana tidak jauh dari rektorat ITB.</p>
<p>Saya tidak tahu persis apa yang membuat Mang Oyo menampilkan spanduk seperti ini di depan warungnya:</p>
<p><span id="more-236"></span><img class="size-medium wp-image-237" title="Mang Oyonya masih hidup" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/03/persaingan01-300x225.jpg" alt="Bubur Ayam Mang Oyo" width="300" height="225" /></p>
<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_237" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px;">
<dd class="wp-caption-dd">Bubur Ayam Mang Oyo</dd>
</dl>
</div>
<p>Coba perhatikan tulisan merah di foto di atas: &#8220;<strong><em>Telah terdaftar di hak cipta</em></strong>&#8221;</p>
<p>Terdaftar di hak cipta? <em>Gimme a break!</em> Nama warung <strong>Bubur Ayam Mang H. Oyo Tea</strong> telah terdaftar di hak cipta? Entah bagaimana pendapat anda, tapi menurut saya ini agak kelewatan. Bubur ayam tepi jalan namanya sudah didaftarkan ke hak cipta? Yang tercetus dalam benak saya adalah betapa ketatnya persaingan usaha sampai-sampai warung pinggir jalan (yang nota bene tergolong sektor non-formal) terpaksa harus memformalkan diri dalam bentuk perlindungan hak cipta.</p>
<p>Tulisan merah di bawahnya lebih seru lagi: &#8220;<em><strong>MANG H. OYONYA MASIH HIDUP</strong></em>&#8221; Berarti Mang Oyo pernah dituduh sudah meninggal, kan? Apakah persaingan usaha sudah sebegitu tidak sehatnya sehingga Mang Oyo perlu memberikan pernyataan bahwa beliau masih hidup?</p>
<p>Saya tidak pernah bertemu Mang Oyo lagi dalam beberapa persinggahan saya yang terakhir ke warung beliau. Tetapi dari pernyataan di depan warung itu jelas sekali bahwa:</p>
<ul>
<li>Ada usaha untuk mencontek nama beken Mang Oyo (sehingga beliau mencatatkannya sebagai hak cipta)</li>
<li>Ada usaha untuk mengesankan bahwa beliau sudah meninggal, entah itu berhubungan dengan yang di atas atau berdiri sendiri</li>
</ul>
<p>***</p>
<p>Kembali ke laptop!</p>
<p>Anda pernah makan Surabi Imut? Kalau belum silakan nikmati foto-foto yang ada di sini [to be uploaded]. Dulu, waktu saya masih sering lewat di Jalan Setiabudi, Surabi Imut masih menempati tempat yang cukup mentereng di sebelah kiri jalan (kalau berjalan naik ke arah Lembang). Sekarang Surabi Imut menempati warung yang tidak representatif, tidak sebanding dengan nama Surabi Imut yang sudah cukup terkenal. Warung yang agak butut ini ada di kanan jalan, di seberang lokasi lama.</p>
<p>Pertanyaannya tentu saja: kenapa harus pindah? Apalagi ke tempat yang lebih jelek dibandingkan sebelumnya.</p>
<div id="attachment_238" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-238" title="Surabi Imut: Tempat Baru" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/03/persaingan02-300x225.jpg" alt="Tempat baru Surabi Imut: kurang representatif" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Tempat baru Surabi Imut: kurang representatif</p></div>
<div id="attachment_246" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-246" title="Surabi Imut: Suasana" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/03/persaingan04-300x225.jpg" alt="Suasana tempat baru Surabi Imut" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Suasana tempat baru Surabi Imut</p></div>
<p>Yang terdengar dari jauh sih sengketa dagang. Sang pemilik usaha ternyata bukan pemilik tempat, alias masih berstatus kontraktor. Melihat usaha makin maju, sang pemilik tempat ingin kebagian jatah yang setimpal. Akibatnya uang sewa dinaikkan. Karena adanya ketidaksepakatan, maka Surabi Imut hengkang ke seberang jalan.</p>
<p>Selesai sampai di situ? Ternyata tidak. Sang pemilik rumah meneruskan usaha surabi, entah beliau menjalankannya sendiri atau ada pengusaha surabi yang lain. Yang jelas di tempat lama masih berjualan surabi, sekalipun tanpa nama Surabi Imut, bahkan tidak ada namanya sama sekali. Di warung itu hanya tertulis papan nama &#8220;Surabi&#8221;.</p>
<div id="attachment_239" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-239" title="Surabi" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2009/03/persaingan03-300x225.jpg" alt="Surabi (tanpa nama)" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Surabi (tanpa nama)</p></div>
<p>Apa akibatnya? Semua pihak jadi korban tentu saja. Sang pemilik tempat lama jadi korban, karena konon kabarnya surabi yang di jual rasanya kurang <em>mak nyuss</em> dibandingkan dengan Surabi Imut. Lama-lama pasti akan ditinggalkan pelanggan. Belum lagi bila kita melihat masalah etika. Sang pemilik tempat lama tidak secara jantan menuliskan bahwa surabinya sudah bukan lagi Surabi Imut, sehingga (ini menurut perkiraan saya) banyak pelanggan lama Surabi Imut yang mampir ke sana karena menyangka itu masih Surabi Imut. Ini tentu saja terkategori tidak etis (hampir berderajat penipuan, walaupun secara legal tidak bisa disalahkan).</p>
<p>Bagi Surabi Imut sudah jelas ini merupakan hantaman. Pertama, lokasi adalah aset terbesar warung tepi jalan. Sekali lokasi sudah terdefinisi susah sekali untuk mengubahnya. Pindah lokasi, apalagi ke tempat yang lebih butut, adalah bencana bagi sebuah warung. Kedua, karena banyak pelanggan lama yang mampir ke tempat lama karena menyangka itu masih Surabi Imut, dan kemudian ternyata rasanya sudah lain, maka merek Surabi Imut menjadi terpukul.</p>
<p>Bukan hanya mereka (para pedagang yang bersengketa) yang merugi, pelanggan juga merugi. Kalau mereka pergi ke tempat baru, mereka akan makan surabi enak di tempat butut. Kalau mereka pergi ke tempat lama, akan lebih parah lagi karena surabinya saja sudah tidak enak, mau tempatnya bagus juga jadi butut.</p>
<p>***</p>
<p>Pertanyaan saya sederhana: kenapa persaingan harus berarti saling mematikan? Berapa banyak kita mendengar kisah serupa: ada warung yang harus pindah karena tuan tanah menaikkan harga sewa tak terkira banyaknya.</p>
<p>Padahal solusi menang-menang bisa dicapai dengan mudah dalam kasus-kasus seperti ini. Tuan pemilik tanah menyangka bahwa dia sebagai pemilik tanah berhak atas keuntungan usaha yang dilakukan di tanah miliknya. Kalau memang begitu pemikirannya, maka sang tuan tanah sudah berpikir sebagai <strong><em>pemilik</em></strong> usaha, kalau begitu tidak perlu lagi meminta uang sewa tetapi minta saham yang setimpal dari keuntungan usaha.</p>
<p>Bagi pemilik usaha, bila sang tuan tanah menaikkan nilai kontrak, maka seharusnya dia menawarkan kepemilikan kepada tuan tanah itu. Daripada pindah mencari tempat baru, dan kemungkinan nantinya menghadapi situasi yang sama dengan tuan tanah baru, kenapa tidak manawarkan sebagian saham kepada tuan tanah. Toch memang lokasi adalah modal penting dalam usaha warung makan.</p>
<p>Berapa besar sahamnya itu bisa dibicarakan, dan ini tentunya perlu keterbukaan dan saling percaya. Tapi bukankah itu adalah prinsip keberhasilan usaha? Konon sih katanya, maklum, saya sendiri bukannya pengusaha. Hanya seorang tukang jajan yang ingin menikmati makanan yang <em>mak nyuss </em>di tempat yang nyaman.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/236/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makanan dalam penerbangan: pilih halal, vegetarian atau &#8230;?</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/142</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/142#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Oct 2008 14:52:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Food]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>
		<category><![CDATA[Trips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai muslim, salah satu hal yang sangat penting diputuskan ketika melakukan penerbangan jarak jauh adalah makanan apa yang harus kita santap selama penerbangan. Idealnya tentu saja kita harus menyantap makanan halal. Tapi pada kenyataannya tidak semudah itu. Posting ini membahas beberapa pilihan yang bisa kita ambil, sekaligus membahas kenapa dalam beberapa penerbangan terakhir saya memilih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai muslim, salah satu hal yang sangat penting diputuskan ketika melakukan penerbangan jarak jauh adalah makanan apa yang harus kita santap selama penerbangan. Idealnya tentu saja kita harus menyantap makanan halal. Tapi pada kenyataannya tidak semudah itu. Posting ini membahas beberapa pilihan yang bisa kita ambil, sekaligus membahas kenapa dalam beberapa penerbangan terakhir saya memilih makanan kosher.</p>
<p><span id="more-142"></span></p>
<p>Pilihan <strong>pertama</strong>: <em>do nothing</em>, makan apa yang disediakan. Pilihan ini tentu saja terbatas pada penerbangan yang mengklaim menyediakan makanan halal. Berikut petikan beberapa perusahaan penerbangan (dari situs masing-masing perusahaan).</p>
<p><em><strong>Garuda Indonesia</strong></em>:  ALL MEALS SERVED ON GARUDA INDONESIA ARE <em>HALAL</em>.</p>
<p><em><strong>Malaysian Airlines</strong></em>: All food served on Malaysia Airlines is Halal.</p>
<p><em><strong>Emirates</strong></em>: All meals on Emirates flights are suitable for Muslims and are prepared in accordance with the Halal method.</p>
<p>Yang saya permasalahkan dalam setiap klaim seperti ini adalah:</p>
<ol>
<li>Tidak ada pihak ketiga yang memverifikasi klaim itu. Tanpa adanya verifikasi ini (misalnya dalam bentuk sertifikat halal) maka status klaim ini sama seperti &#8220;<em>self-certified halal</em>&#8221; yang juga banyak kita temukan dalam produk makanan lainnya. Saya pribadi cenderung menghindari produk-produk yang statusnya <em>&#8220;self-certified halal</em>&#8220;.</li>
<li>Produk makanan yang konon halal itu tidak jelas apakah hanya <em>main dish </em>saja, atau juga termasuk <em>side dishes</em>. Yang jelas klaim &#8220;semua makanan&#8221; di situ tidak termasuk minuman, karena semua penerbangan itu menyajikan minuman beralkohol. Pengalaman saya pribadi dengan Garuda, ketika Garuda masih terbang ke Belanda, membuktikan hal ini. Ketika pramugarinya bersikeras bahwa makanannya halal, ternyata makanan itu juga menyajikan keju produk Belanda, yang kami sendiri selama tinggal di Belanda tidak pernah memakan merk itu.</li>
<li>Tidak adanya verifikasi ini semakin membuat kita bertanya-tanya bila pesawat berangkat dari tempat-tempat di mana makanan halal tidak selalu tersedia. Apakah perusahaan penerbangan itu sudah memiliki kerja sama dengan katering lokal di <em><strong>semua </strong></em>tujuan penerbangannya? Apakah pesawat yang terbang dari tempat-tempat tersebut membawa persediaan makanan untuk penerbangan kembalinya? Tidak ada kejelasan di sini.</li>
</ol>
<p>Saya tidak merekomendasikan pilihan pertama ini. Kalaupun anda ingin melakukannya, lakukan dengan sangat selektif. Misalnya, ketika terbang dengan Malaysian dari Kuala Lumpur, karena kateringnya kemungkinan besar sudah bersertifikasi halal. Tapi apakah anda akan melakukannya untuk penerbangan dari, misalnya, Finlandia? I do not think so.</p>
<p>Pilihan <strong>kedua</strong>: minta makanan muslim &#8211; kodenya MOML (moslem meal). Pilihan ini biasanya tersedia di hampir semua perusahaan penerbangan, tapi pilihan ini tergolong sebagai <em>special meals</em>, yang harus dimasukkan ke dalam data reservasi pada saat pemesanan, atau minimal 24 jam sebelum keberangkatan. Kebanyakan <em>airline </em>malah mewajibkan minimal tiga hari sebelumnya.</p>
<p><em>Problem solved</em>? Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Sekali lagi, mari kita lihat apa yang dimaksud dengan MOML dari berbagai perusahaan penerbangan (juga dari situs web masing-masing perusahaan).</p>
<p><strong><span style="color: #888888;"><em>Garuda Indonesia</em></span></strong>: MOML &#8211; Meal doesn&#8217;t contain pork, by product of pork or foodstuff containing alcohols. All meat product such as beef, lamb and chicken must be slaughtered according to Moslem rites. ALL MEALS SERVED ON GARUDA INDONESIA ARE <em>HALAL.</em></p>
<p><strong><em>Malaysian Airlines</em></strong>: MOML &#8211; All food served on Malaysia Airlines is Halal. Alcohol is forbidden; and the use of alcohol in cooking is prohibited. Meat such as beef, lamb and chicken must be slaughtered according to Muslim rites. Pork or pig products are forbidden.</p>
<p><span style="color: #888888;"><em>Emirates</em></span>: MOML &#8211; All meals on Emirates flights are suitable for Muslims and are prepared in accordance with the Halal method. This meal type can only be ordered for passengers routed on other airlines. It contains one or more of these ingredients: lamb, chicken, fish, eggs, vegetables, fruit and dairy products. It does NOT contain pork, alcohol, or non-Halal prepared meats.</p>
<p><strong><em>Singapore Airlines</em></strong>: MOML &#8211; No alcohol/pork/ham/bacon.</p>
<p><em><strong>United Airlines</strong></em>: Muslim meals &#8211; Below are the guidelines United follows when preparing Muslim meals. Prohibited: Pork, sausages, alcohol, eel, animal fats. Allowed: Fresh fruits and vegetables, yogurt, nuts, rice, corn, pasta, eggs, herbs and spices, cheese and dairy products, dried beans and peas. If locally available, poultry is slaughtered according to the specified Halal methods.</p>
<p>Perhatikan dalam definisi Singapore Airlines, tidak disebutkan syarat bahwa daging harus disembelih sesuai ajaran Islam. Dalam definisi United Airlines, daging dzabiha hanya akan disediakan bila &#8220;<em>locally available</em>&#8220;.</p>
<p>Berdasarkan pengamatan saya setelah beberapa kali terbang dengan meminta MOML, keberatan saya adalah:</p>
<ol>
<li> Yang diberikan sebagai MOML hanyalah <em>main dish</em>, sedangkan <em>side dishes </em>persis sama dengan penumpang yang lain.</li>
<li>Lagi-lagi, tidak ada jaminan bahwa yang diberikan kepada kita itu memang benar makanan halal. Apalagi dengan status kondisional a la <em>United </em>di atas, kita tidak tahu apakah pada saat tersebut <em>United </em>punya supplier halal (sehingga makanan yang diberikan adalah halal), ataukah pada saat itu tidak ada supplier halal (sehingga makanan itu sebenarnya tidak halal). Kalaupun kita tanyakan pada <em>cabin crew</em>, mereka sama sekali tidak tahu karena urusan katering kan ditangani oleh <em>ground staff</em>.</li>
</ol>
<p>Pilihan <strong>ketiga</strong>: memesan makanan vegetarian. Saya tidak akan berpanjang lebar dalam kategori ini. Intinya, apa yang terjadi pada pilihan kedua di atas juga terjadi pada pilihan ini. Hanya saja memang makanan vegetarian ini akan dipandang lebih tidak aneh dibandingkan dengan makanan muslim, sehingga kemungkinan kita mendapatkan makanan yang betul-betul vegetarian lebih besar ketimbang makanan muslim. Keberatan saya dengan pilihan ini persis sama dengan keberatan saya dengan pilihan kedua di atas.</p>
<p>Pilihan <strong>keempat</strong>: memesan makanan kosher. Inilah pilihan yang saya ambil dalam beberapa penerbangan terakhir dari Amerika. Berikut apa yang mereka sebutkan dalam situs web masing-masing.</p>
<p><em><strong>Malaysian Airlines</strong></em>: KSML &#8211; These meals must conform to Jewish religious laws. It is important that these rules are strictly adhered to. Pigs, rabbits and their products are forbidden. Animals and poultry such as cows and chicken must be slaughtered in a special manner called Shechita. Processed foods must be prepared under rabbinical supervision. Milk and milk products are not be used in the preparation of meat meals or served with or immediately after meals.</p>
<p><em><strong>Singapore Airlines</strong></em>: Kosher Meal: Pre-packed and sealed; contains meat.</p>
<p><em><strong>Garuda Indonesia</strong></em>: KSML -  These meals are prepared to comply to the Jewish Religious Laws.</p>
<p><em><strong>Emirates</strong></em>: There is no option for this.</p>
<p><em><strong>United Airlines</strong></em>: Kosher Meal &#8211; We purchase all kosher meals from a certified kosher vendor. They are prepared under rabbinical supervision and wrapped and sealed accordingly. During Passover we serve only kosher for Passover meals to customers who request kosher meals. United is working closely with Heart Smart Restaurants International to develop healthier choices for our kosher customers. Prohibited: Pork, sausages, cured meats, shellfish, rabbit meat. Allowed: Poultry, beef, lamb, liver, sweetbreads, eggs, cheese and dairy products, flour ingredient products, fresh fruits and vegetables, sugars and preservatives, potatoes, rice, herring and fish with scales.</p>
<p>***</p>
<p>Karena itu di penerbangan yang lalu dari Amerika, kami sekeluarga memesan makanan kosher. Ternyata memang sangat terjaga kualitasnya. Seperti tertulis di foto di bawah ini:</p>
<ol>
<li>Makanannya dibungkus dua lapis dan disegel.</li>
<li>Hanya penumpang yang boleh membuka segelnya, dan kemudian diserahkan lagi ke pramugari untuk dipanaskan.</li>
<li>Bahkan alat makannya pun (sendok, garpu dan pisau) disediakan di dalam kemasan yang disegel itu (emangnya ada alat makan yang kosher?)</li>
<li>Tidak boleh ditambahkan makanan lain selain yang di dalam kemasan bersegel.</li>
</ol>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/halalkosher013.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-156" title="halalkosher013" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/halalkosher013-300x225.jpg" alt="Cara penyajian" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Dalam penerbangan dari Portland ke Tokyo, makannya disediakan oleh vendor dari New York. Di kemasannya jelas tertulis bahwa makanan itu sudah disertifikasi sebagai makanan kosher. For whatever reason, dalam penerbangan sambungan dari Tokyo ke Singapura, makanannya disediakan oleh vendor dari Antwerp, Belgia. Waah, jauh benar makanan ini terbang untuk disajikan di Tokyo.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/halalkosher011.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-154" title="halalkosher011" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/halalkosher011-300x225.jpg" alt="Dari Antwerp ke Jepang" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Di foto berikut terlihat makanan yang masih dalam kemasan bersegel.  Makanan yang perlu dipanaskan disediakan terpisah, dan memang saya sendiri (penumpang) yang membuka segel kemasannya. Nampan plastik itupun, sekalipun ada tutupnya, juga dibungkus plastik rapat dan bersegel.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/halalkosher001.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-145" title="halalkosher001" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/halalkosher001-300x225.jpg" alt="Makanan Kosher" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Salah satu kekhawatiran yang masih tersisa dalam memilih makanan kosher adalah masih adanya kemungkinan disajikannya alkohol. Memang ada beberapa mazhab kosher yang membolehkan dipakainya minuman beralkohol (seperti wine, rhum, dll) dalam makanan. Tapi ini tetap bisa dijaga, karena dalam kemasannya pun disertakan daftar kandungan makanan, seperti terlihat di foto di bawah ini.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/halalkosher002.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-146" title="halalkosher002" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/halalkosher002-300x225.jpg" alt="Cara penyajian" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Dan akhirnya, makannya lengkap tersaji seperti di bawah ini. Cukup yummi.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/halalkosher007.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-151" title="halalkosher007" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/halalkosher007-300x225.jpg" alt="Siap disantap" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/142/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prata durian</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/143</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/143#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2008 13:49:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Food]]></category>
		<category><![CDATA[Trips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[In terms of roti prata, Singapore has moved a long way since I left in 2001. Now we can have prata with all sorts of flavor: strawberry, cheese and many other. Of course we can still have the classic prata kosong and prata telur. But then, Singapore&#8217;s creativity stops short of inventing the most delicious [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>In terms of <em>roti prata</em>, Singapore has moved a long way since I left in 2001. Now we can have <em>prata </em>with all sorts of flavor: strawberry, cheese and many other. Of course we can still have the classic <em>prata kosong </em>and <em>prata telur</em>.</p>
<p>But then, Singapore&#8217;s creativity stops short of inventing the most delicious flavor of all: <em>prata durian</em>. Well, most delicious, that is, in my not-so-humble opinion.</p>
<p><span id="more-143"></span></p>
<p>Here is what I have for ifthar yesterday: <em>prata kosong</em>, <em>durian</em>, and hot <em>teh tarik</em>. I thought I could have just bought this in a single stop, but no, I still have to buy the <em>prata </em>and the <em>durian </em>separately.</p>
<p><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/14092008005.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-144" title="14092008005" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2008/09/14092008005-150x150.jpg" alt="Prata Durian" width="150" height="150" /></a></p>
<p>In case you are curious, I first have <em>prata durian </em>(or <em>canai durian</em>, as they call it there) more than 15 years ago in the village of Geudong in my hometown Aceh. Since I cannot buy <em>prata durian </em>any place else, this is what I have come up with: buy <em>durian </em>and buy <em>prata</em>, there you have it. Yummmy.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/143/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

