<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ery.djunaedy &#187; Education</title>
	<atom:link href="http://ery.djunaedy.com/cat/education/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ery.djunaedy.com</link>
	<description>renung</description>
	<lastBuildDate>Sun, 17 Jul 2011 23:05:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Sang Penjaja</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/527</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/527#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jun 2011 02:34:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Economy]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Human resource]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=527</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Pak, semir Pak?&#8221; katanya menawarkan jasa semir sepatu waktu saya sedang ngobrol menunggu pesawat di Bandara Sukarno-Hatta. &#8220;Kamu temannya Mamad, ya?&#8221; tanya saya. Dia gelagapan mendengar pertanyaan saya, karena mungkin tidak mengharapkan pertanyaan itu. Dia tetap bengong, maka saya tanya lagi, &#8220;Kamu kenal sama Mamad, nggak?&#8221; Dia jawab, &#8220;Nggak, Pak&#8221;. &#8220;Naah&#8221;, sambung saya, &#8220;Mamad itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Pak, semir Pak?&#8221; katanya menawarkan jasa semir sepatu waktu saya sedang ngobrol menunggu pesawat di Bandara Sukarno-Hatta.</p>
<p>&#8220;Kamu temannya Mamad, ya?&#8221; tanya saya. Dia gelagapan mendengar pertanyaan saya, karena mungkin tidak mengharapkan pertanyaan itu. Dia tetap bengong, maka saya tanya lagi, &#8220;Kamu kenal sama Mamad, nggak?&#8221;</p>
<p>Dia jawab, &#8220;Nggak, Pak&#8221;.</p>
<p>&#8220;Naah&#8221;, sambung saya, &#8220;Mamad itu anak sebesar kamu yang baru saja menyemir sepatu saya.&#8221; Dia tersenyum kecut karena kehilangan calon pelanggan, kemudian terus pergi.</p>
<p><span id="more-527"></span></p>
<p>***</p>
<p>Mamad (kita sebut saja begitu namanya) memang sudah menyemir sepatu saya. Dia menghampiri saya untuk meminta menyemir sepatu saya. Ternyata dia berpasangan dengan kawannya.</p>
<div id="attachment_529" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2011/06/MamadSemir_2011-05-20-133606.jpg"><img class="size-medium wp-image-529" title="Mamad Tukang Semir di Bandara" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2011/06/MamadSemir_2011-05-20-133606-300x225.jpg" alt="Mamad Tukang Semir di Bandara" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Mamad Tukang Semir di Bandara</p></div>
<p>Ketika sudah selesai menyemir, mereka saya tanya &#8220;Jadi berapa yang saya harus bayar?&#8221;</p>
<p>Mereka menjawab, &#8220;Terserah bapak saja, seikhlasnya.&#8221;</p>
<div id="attachment_530" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a rel="attachment wp-att-530" href="http://ery.djunaedy.com/archives/527/mamadsemir_2011-05-20-133557"><img class="size-medium wp-image-530" title="Mamad sedang sibuk nyemir" src="http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2011/06/MamadSemir_2011-05-20-133557-300x225.jpg" alt="Mamad sedang sibuk nyemir" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Mamad sedang sibuk nyemir</p></div>
<p>Itu jawaban yang dari dulu saya tidak suka. Pertama, itu menunjukkan bahwa mereka tidak punya rasa percaya diri dengan layanan yang mereka tawarkan. Kedua, mereka juga bermain dengan perasaan pelanggan dengan menggunakan kata ikhlas. Semua orang juga bingung kalau harus menerjemahkan kata ikhlas menjadi berapa rupiah.</p>
<p>Karena itu saya damprat saja mereka, &#8220;Ya nggak bisa begitu dong, kalian harus bilang saya harus bayar berapa?&#8221;</p>
<p>Baru mereka buka mulut, &#8220;Lima ribu, Pak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu untuk berdua?&#8221; tanya saya. &#8220;Betul, Pak&#8221;, jawab mereka.</p>
<p>Jumlah itu saya rasa cocok dengan tingkat layanan yang mereka berikan. Bahwa mereka dengan berani menyebutkan jumlahnya, saya beri mereka tambahan uang. Bahwa mereka tidak berusaha mengambil kesempatan dalam kesempitan, yaitu dengan melakukan mark-up besar-besaran dengan mengandalkan rasa bersalah pelanggan yang sudah menerima layanan tapi belum bayar, itu juga saya berikan bonus tambahan uang.</p>
<p>Mereka pergi dengan senyum yang mengembang, dan saya pun senang sekali karena sepatu yang sudah kusam jadi tampak lebih terawat.</p>
<p>***</p>
<p>Ini berbeda dengan Sang Penjaja lainnya yang saya temui di pintu tol. Dari jauh sudah kelihatan, ada orang yang menjajakan lampu LED. Lampunya cukup kecil, yang dalam perkiraan saya harganya sekitar 10-15 ribuan.</p>
<p>Ketika dia mendekat, saya membuka jendela mobil. &#8220;Berapa satu, Pak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lima puluh ribu, Pak&#8221;, jawabnya.</p>
<p>&#8220;Hah, mahal amat! Nggak jadi, Pak.&#8221; jawab saya.</p>
<p>Seperti bisa ditebak, Sang Penjaja melesat mengikuti mobil yang sudah maju perlahan, &#8220;Maunya berapa, Pak?&#8221;</p>
<p>Saya bilang, &#8220;Nggak jadi, Pak, kemahalan.&#8221;</p>
<p>Dia terus mengikuti mobil yang bergerak perlahan. Kakak saya yang sedang menyetir sudah merasa tidak enak diikuti seperti itu. Dan tampaknya Sang Penjaja bisa menebak hal ini, dia kemudian memutar ke sisi pengemudi dan kembali berkata, &#8220;Maunya berapa, Pak?&#8221;</p>
<p>Saya bilang, &#8220;Nggak Pak, nggak jadi&#8221;.</p>
<p>Akhirnya Sang Penjaja itu mengeluarkan jurusnya yang terakhir, &#8220;Dua puluh ribu saja bagaimana Pak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak, Pak, nggak jadi.&#8221; jawab saya sebelum mobil kami meluncur ke dalam jalan tol, dan Sang Penjaja itu tidak mengikuti kami lagi.</p>
<p>***</p>
<p>Saya terkena omelan kakak dan ibu saya yang dari tadi hanya diam mengamati. Kenapa tidak dibeli saja, kan sudah murah?</p>
<p>Buat saya, ini bukan masalah harganya sudah murah. Tapi ini masalah mark-up yang tidak masuk akal.</p>
<p>Kalau saja sejak awal Sang Penjaja itu menawarkan barangnya seharga 20 ribu rupiah, saya akan beli tiga. Tetapi ketika dia menawarkannya seharga 50 ribu, maka hati saya bertanya-tanya. Ada dua kemungkinan. Pertama, barangnya memang segitu harganya, tapi kalau memang begitu saya memang tidak berniat membeli. Kemungkinan kedua, ya itu tadi. Dia melakukan mark-up yang luar biasa besarnya, dan sedang memancing di tengah ketidaktahuan pelanggannya.</p>
<p>Buat saya ini tidak jujur. Sekalipun harganya hanya 30 ribu perak, bahkan seribu perakpun, tetaplah tidak jujur. Kenyataan bahwa jumlahnya sangat kecil, justru mempertajam betapa tragisnya kondisi Sang Penjaja itu.</p>
<p>Saya memilih untuk tidak mendukung pola dagang seperti itu dengan tidak membeli dari Sang Penjaja. Sebaliknya, saya mendukung penuh Si Tukang Semir &#8212; Mamad ini ataupun Mamad-Mamad lain &#8212; dengan memberikan bonus berlipat karena kejujurannya dalam memberikan harga.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/527/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mati air</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/440</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/440#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Oct 2010 19:32:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=440</guid>
		<description><![CDATA[Ini cerita jaman masih kuliah dulu. Kata sobat saya, Kang Budi, miturut perkataan orang Jawa kalau belum sempat be&#8217;ol di tempat kawan, maka hubungan anda dengan kawan itu belum cukup kuat, or something like that. Entah mungkin beliau menghibur saya biar nggak terlalu malu karena sudah hampir kababayan di rumah beliau. Tapi posting ini bukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini cerita jaman masih kuliah dulu. Kata sobat saya, Kang Budi, miturut perkataan orang Jawa kalau belum sempat <em>be&#8217;ol</em> di tempat kawan, maka hubungan anda dengan kawan itu belum cukup kuat, or something like that. Entah mungkin beliau menghibur saya biar nggak terlalu malu karena sudah hampir <em>kababayan</em> di rumah beliau.</p>
<p>Tapi posting ini bukan tentang buang air besar, tapi tentang mandi. Jaman saya kuliah dulu, asrama kami (Asrama Aceh di Cicendo) sering mati air. Kalau mati lampu alhamdulillah jarang sekali, maklum karena kami tetanggaan dengan Gubernuran, jadi listrik terjamin aman. Tapi kalau mati air itu cukup sering.</p>
<p><span id="more-440"></span>Alasannya bisa macam-macam, tapi semuanya adalah variasi dari pompa <em>ngadat</em>. Seperti kebanyakan orang di Bandung, kami punya sumur mata air sendiri, walaupun aliran air PAM sebenarnya ada. Pertama-tama karena pompanya nggak kuat nanjak. Masalah ini terselesaikan karena kami dapat warisan pompa jet bekas. Lumayan sempat beberapa lama tak bermasalah. Tapi masalah tetap saja datang, yang ujung-ujungnya menyebabkan asrama kami mati air.</p>
<p>Akibatnya? Bertebaranlah kami di muka bumi mencari tempat mandi.</p>
<p>Tempat yang paling ideal adalah di rumah ibu angkat kami yang kami panggil dengan sebutan Ibu Sukajadi. Kalau itu sih ueenaknya pol, karena kalau datang mau mandi sore maka paketnya sudah termasuk makan malam gratis. Nggak semua orang berani datang ke tempat Ibu, hanya kami-kami yang sudah putus urat malu saja yang istiqamah nongol setidaknya dua hari sekali.</p>
<p>Mohon dicatatan: mati air itu bisa sampai seminggu, tergantung apakan pengurus ada uang untuk perbaikan pompa atau tidak. Lhah wong uang asrama cuman dua-puluh lima ribu per bulan termasuk makan dua kali sehari, mana ada dana cadangan untuk perbaikan pompa.</p>
<p>Hanya saja, kan nggak mungkin mandi sehari dua kali di tempat Ibu Sukajadi, sekalipun kami sudah tebal muka, tapi tetap saja nggak enak lah kalau sarapan pun harus di rumah Ibu.</p>
<p>Jadinya: bertebaranlah kami di muka bumi untuk mencari tempat mandi.</p>
<p>Solusi paling enak buat kebanyakan kawan: nggak mandi. Ah sori aja, saya mah tidak termasuk kategori yang ini. Jadinya saya harus punya cadangan kamar mandi umum yang bisa didatangi kalau niat mandi pagi datang.</p>
<p>Yang paling sering saya datangi adalah kamar mandi di Masjid Salman dan kamar mandi di parkiran Jurusan Sipil ITB. Kamar mandi di Salman sebenarnya tidak terlalu menunjang untuk tempat mandi, wong namanya juga WC. Bak mandinya kecil, jadi nggak bisa cibang-cibung. Tapi lumayanlah bisa juga dipakai mandi, apalagi kalau habis menginap di Gedung Kayu. Kamar mandi yang di Sipil itu lebih enak karena lebih besar.</p>
<p>Dua kamar mandi populer yang sering disebut oleh mereka yang bertebaran di muka bumi mencari tempat mandi adalah kamar mandi Asrama Salman dan kamar mandi di <em>basement</em> Perpustakaan Pusat. Bertahun-tahun saya aktif di Salman, tak sekalipun saya berkesempatan mandi di Asrama Salman, padahal banyak kawan-kawan yang numpang mandi di sana sekalipun bukan penghuni asrama.</p>
<p>Kamar mandi di <em>basement</em> Perpustakaan Pusat ITB itu adalah <em>rolls-royce</em>-nya kamar  mandi. Nyaman sekali. Tapi tetap saja, yen tak pikir-pikir, kok saya nggak pernah mandi di sana ya? Mungkin karena daerah Timur Jauh ini bukan daerah kekuasaan saya, yaaah, biarlah <em>rolls-royce</em> ini dipakai oleh orang lain.</p>
<p>Demikian sekilat pengalaman hidup di masa lalu. Ngomong-ngomong, apa anda pernah mengalami mati air seperti yang kami alami? Apakah anda termasuk yang merasa lebih baik nggak mandi daripada mandi di toilet umum?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/440/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesan Presiden</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/352</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/352#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 06:14:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=352</guid>
		<description><![CDATA[Hari Selasa besok, Presiden Obama akan memberikan pesan-pesan langsung kepada seluruh siswa sekolah di Amerika, &#8220;back to school message&#8221;. Acaranya bisa diikuti secara langsung lewat televisi maupun internet. Saya kontan membayangkan pengalaman ketika jaman sekolah dulu ketika ada kunjungan pejabat, semua murid akan dikumpulkan di aula untuk mendengarkan amanat dari sang pejabat. Agak-agaknya inilah yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Selasa besok, Presiden Obama akan memberikan pesan-pesan langsung kepada seluruh siswa sekolah di Amerika, &#8220;back to school message&#8221;. Acaranya bisa diikuti secara langsung lewat televisi maupun internet.</p>
<p>Saya kontan membayangkan pengalaman ketika jaman sekolah dulu ketika ada kunjungan pejabat, semua murid akan dikumpulkan di aula untuk mendengarkan amanat dari sang pejabat. Agak-agaknya inilah yang akan terjadi kepada murid-murid sekolah di seluruh Amerika besok Selasa.</p>
<p>Bedanya adalah sekalipun acara ini akan ditayangkan langsung kepada seluruh siswa, orang tua murid diberikan kesempatan untuk menolak (opt-out) agar anaknya tidak mendengarkan pesan Presiden itu. Berikut kutipan email yang dikirimkan ke seluruh orang tua murid di Boise:</p>
<blockquote><p>If you would prefer your child(ren) not view the President&#8217;s speech, you may contact your school to request your child(ren) opt-out of viewing the address. An appropriate alternative activity will be provided for your student until such time as the President&#8217;s address concludes. You may opt-out by simply sending your school a not or email message.</p></blockquote>
<p>Silakan lihat Pesan Presiden melalui situs <a href="http://www.ed.gov" target="_blank">Departemen Pendidikan Amerika Serikat</a> (dirilis sekitar 24 jam sebelum acaranya).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/352/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Veel plezier</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/157</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/157#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 06:08:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[Kalimat (yang menjadi judul) di atas seringkali diucapkan oleh para orang tua di Belanda ketika mengantarkan anaknya ke sekolah. Di pintu gerbang sekolah, ketika mereka melepas anaknya untuk belajar seharian, kalimat itulah yang mereka ucapkan, yang kalau diterjemahkan secara letterlijk akan berarti &#8220;bersenang-senanglah sebanyak-banyaknya&#8221;. Posting ini membahas perbedaan (budaya) bagaimana para orang tua melihat sekolah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalimat (yang menjadi judul) di atas seringkali diucapkan oleh para orang tua di Belanda ketika mengantarkan anaknya ke sekolah. Di pintu gerbang sekolah, ketika mereka melepas anaknya untuk belajar seharian, kalimat itulah yang mereka ucapkan, yang kalau diterjemahkan secara <em>letterlijk </em>akan berarti &#8220;bersenang-senanglah sebanyak-banyaknya&#8221;.</p>
<p>Posting ini membahas perbedaan (budaya) bagaimana para orang tua melihat sekolah. Saya merasakan perbedaan itu ketika pada suatu hari saya melepas Hanif bersekolah di Belanda, &#8220;Nak, baik-baik di sekolah, ya?&#8221; demikian pesan saya. Ketika saya berdiri memperhatikan Hanif berjalan dengan tertib masuk ke sekolah, di samping saya datang seorang ibu yang melepas anaknya berlarian ke dalam sekolah sambil setengah berteriak, &#8220;<em>Veel plezieeer </em>…&#8221;, katanya.</p>
<p><span id="more-157"></span>***</p>
<p>Sebelumnya, mari kita lihat dari dalam budaya kita sendiri, bagaimana orang tua melihat perilaku anaknya di sekolah. Bagi saya, tidak ada ungkapan yang lebih mewakili budaya kita dibandingkan dengan lagu yang kita pelajari sejak kecil:</p>
<blockquote><p><strong>[anak]</strong> Oh ibu dan ayah selamat pagi<br />
Ku pergi sekolah sampai kan nanti<br />
<strong>[ayah/ibu]</strong> Selamat belajar nak penuh semangat<br />
Rajin lah selalu tentu kau dapat<br />
Hormati gurumu sayangi temanmu<br />
Itulah tandanya kau murid budiman</p></blockquote>
<p>Setting lagu itu adalah dialog antara sang anak dengan orang tuanya ketika sang anak pamit berangkat sekolah. Jawaban sang ayah/ibu dalam lagu itu mencerminkan apa yang dituntut oleh orang tua terhadap sang anak: jadilah murid budiman. Rajin, hormat, sayang adalah kata kunci yang ditekankan dalam paradigma murid budiman itu.</p>
<p>Itulah juga yang sebenarnya terpatri dalam otak saya ketika saya memberi pesan, &#8220;Nak baik-baik di sekolah, ya?&#8221; Perilaku anak di sekolah itu haruslah rajin, hormat, dan sayang. Tidak ada tuntutan yang mengharuskan bahwa sekolah itu harus menyenangkan.</p>
<p>***</p>
<p>Kedua prinsip itu sebetulnya tidak perlu dipertentangkan. Murid budiman a la Indonesia kan masih berkesempatan untuk mendapatkan sekolah yang menyenangkan. Sebaliknya, sekolah a la Belanda yang sangat fun pun tidak menutup kemungkinan untuk meraih keunggulan murid budiman. Bahkan sebenarnya di sekolah Belanda, nilai-nilai rajin, hormat dan sayang pun (dalam batas-batas yang berbeda karena perbedaan budaya) tetap ditekankan kepada anak didik.</p>
<p>Tetapi pada kenyataannya yang terjadi adalah tarikan ke dua kutub, disertai dengan tabrakan dalam tataran ide. Di tempat yang berbudaya murid budiman, kita temui sekolah-sekolah yang &#8220;bermutu&#8221; dalam arti berdisiplin tinggi dan standar pencapaian akademik yang juga tinggi, tetapi sekolahnya sama sekali tidak menyenangkan. Di lain pihak ada tempat-tempat lain yang sekolahnya adalah tempat untuk bermain sambil belajar, sampai-sampai banyak yang tidak terlalu peduli dengan pencapaian akademik yang penting sang anak bisa belajar dengan menyenangkan.</p>
<p>Untuk lebih menjelaskan poin ini, ada baiknya anda saya kenalkan dengan Meester Leo, guru kelas 1 di SD Zeelsterhof, Veldhoven. (Catatan: Usia SD di Belanda dimulai saat usia empat tahun, jadi kurang lebih sama dengan usia TK di banyak negara lain). Beliau ini guru senior yang spesialis mengajar kelas 1. Anak-anak yang kebagian masuk kelas beliau akan selalu ingat betapa menyenangkan belajar bersama beliau.</p>
<p>Ada saja kelakuan beliau yang luar biasa. Pernah pada suatu hari beliau mengajar dengan pakai kostum dan berperan sebagai <em>Leo de Bouwer</em>, dan memainkan peran layaknya <em>Bob the Builder</em>. Anak-anak disambut dengan musik sejak dari gapura sekolah. Secara bergantian dipanggul satu-satu untuk kemudian bereksperimen dengan berbagai perkakas pertukangan.<br />
Setiap senin pagi, beliau bertanya kepada semua murid satu persatu: apa yang sudah mereka lakukan selama akhir pekan? Bergantung jawabannya, maka sang murid akan mendapatkan giliran untuk show-off. Yang mengaku main bola, akan didaulat untuk menendangkan bola sekencang-kencangnya ke arah beliau (di dalam kelas!). Yang mengaku les menyanyi akan ditanggap bernyanyi. Yang mengaku jalan-jalan akan ditanya ke mana saja dan diminta bercerita ttg pengalamannya.</p>
<p>Kalau main terus, kapan belajar membaca dan menulis? Tidak ada tuh. Anak kelas satu dan dua di Belanda tidak diajari membaca dan menulis.</p>
<p>Bandingkan dengan banyak negara lain (singapura misalnya) di mana anak lulusan TK diharapkan harus sudah bisa membaca untuk masuk ke kelas 1 SD. Guru anak kami malah secara spesifik meminta agar kami tidak mengajari mereka membaca sebelum mereka kelas tiga SD di Belanda (artinya kelas 1 SD di Indonesia dan Singapura).</p>
<p>Jangan salah kira, mereka sangat menggalakkan kita untuk membaca buku bersama anak-anak. Pelajaran sekolah pun dipenuhi dngan kunjungan ke perpustakaan kota. Tapi penekanan untuk usia dini adalah menumbuhkan cinta buku, bukan mengajari membaca.</p>
<p>Kalau sang anak bisa menghubungkan antara bunyi yang kita bacakan dengan huruf yang mereka liha dibuku, itu adalah efek samping yang bagus sekali yang biasa terjadi untuk anak-anak cerdas. Tetapi tetap saja kita diminta untuk tidak mengajari mereka membaca dan menulis, selain membacakan buku sebanyak yang diinginkan oleh sang anak.</p>
<p>Jadilah mereka mengalami masa-masa TK yang full main. Mereka murid SD di Belanda masuk ke kelas 3 tanpa bisa membaca dan menulis. Hebatnya lagi, di akhir kelas 3 mereka sudah menghasilkan satu buklet yang berisi cerita pendek satu paragraf yang mereka karang sendiri.</p>
<p>Di Indonesia atau di Singapura? Kita semua sudah mafhum bagaimana penuh tekanan suasana yang dibuat. Anak TK di Singapura sudah mulai punya PR, dan mereka juga punya ujian di setiap akhir semester/tahun. Setelah selesai TK mereka harus sudah bisa membaca dan menulis untuk bisa diterima di SD.</p>
<p>Pertanyaan yang selalu mengganggu saya adalah kalau hasilnya sama saja, kenapa anak di Belanda bisa mendapatkan TK yang <strong><em>full </em></strong>main sedangkan anak di negara lain harus mengalami TK yang penuh penderitaan?</p>
<p>***</p>
<p>Ceritanya berulang ketika kami pindah ke Amerika. Anak-anak begitu menikmati masa-masa sekolah mereka. Pelajaran musik adalah contohnya.</p>
<p>Ketika masuk ke kelas lima, Hanif diharuskan untuk memilih alat musik yang disukainya. Pilihannya adalah main band atau orkestra. Saya pribadi sih menggiring ke arah orkestra, dan ternyata Hanif memilih biola (yang bagian dari orkestra).</p>
<p>Anak-anak itu praktis hanya belajar di sekolah. Memang ada anak-anak yang sebelumnya sudah belajar main musik, dan ada juga anak-anak yang tetap les musik di luar sekolah, tapi sebagian besar anak-anak itu (1) tidak pernah belajar musik sebelumnya, dan (2) tidak les musik di luar sekolah.</p>
<p>Yang terjadi di tahun itu adalah keajaiban (bagi saya). Tidak banyak ketrampilan (skills) yang kita dapat dari sekolah. Coba ingat pelajaran PKK kita. Saya termasuk yang beruntung punya guru PKK yang mumpuni, sampai saya bisa mengetik dengan sepuluh jari dalam satu semester. Saya pun (hampir) bisa menjahit baju, sayangnya murid lelaki ketika itu hanya diajari teori, sedangkan praktek jahit baju hanya dikhususkan untuk murid perempuan (tanya kenapa?!!!). Ketrampilan main musik? Tidak ada yang murni saya dapatkan dari sekolah.</p>
<p>Yang didapatkan oleh Hanif bukan hanya sekadar menggesek biola sampai mengeluarkan lagi. Gurunya adalah guru yang amat sangat serius dalam mendidik anak-anak itu. Sedemikian serius dia mendidik, sehingga di acara pagelaran akhir tahun (yang juga merupakan pagelaran perpisahan bagi beliau yang memasuki masa pensiun), beliau berkata kepada kami orang tua murid kelas lima, &#8220;Yang saya ajarkan kepada mereka selama kelas lima ini adalah bagaimana caranya <strong><em>memegang</em></strong> biola, sehingga mereka di kelas enam bisa mulai belajar main musik&#8221;.</p>
<p>Saya terus terang hanya sempat melongo mendengar kalimat itu. Yang dia sebut sebagai pelajaran memegang biola adalah pelajaran dari nol, yaitu pelajaran bagaimana menenteng biola tanpa kotaknya (&#8220;hold it like to hold a chicken in the head&#8221;), pelajaran do re mi (yang tentu saja sangat standar), sampai ke pelajaran berorkestra di depan publik (yaitu orang tua murid).</p>
<p>Tidak hanya sampai di situ, sang guru memanggil penguji dari luar sekolah, seorang penguji yang sangat ahli yang sudah bertahun-tahun mengajar orkestra untuk anak-anak. Semua anak diharuskan bermain di depan sang penguji untuk kemudian diberi kritik.</p>
<p>Saya akan ulangi lagi di sini: anak saya yang baru belajar biola selama delapan bulan, diwajibkan bermain di depan penguji yang dia sama sekali tidak kenal, dan kemudian permainan dia dikritik. Lepas dari kritikannya adalah kritikan yang sangat membangun (a la Pak Tino Sidin yang selalu bilang &#8220;bagus sekali gambarnya&#8221;), tetapi setiap kesalahan fundamental akan selalu dikoreksi (misalnya &#8220;do not hold the violin as if it is your growing beard&#8221;).</p>
<p>Seriuskan anak-anak itu dalam menjalani pelajaran biolanya? Sangat serius, setidaknya dari apa yang dialami oleh Hanif. Are they having fun at the same time? Definitely.</p>
<p>Bandingkan dengan apa yang dialami oleh anak kami Abdih ketika ikut CCA (co-curricular activities) paduan suara di MacPherson Primary School di Singapura (cerita lengkapnya <a title="Setengah jam sempat apa" href="http://ery.djunaedy.com/archives/162" target="_blank">di sini</a>). Keseriusan dalam berkesenian di sini diterjemahkan menjadi <strong><em>strict regimentation</em></strong>. Akibatnya, anak-anak jadi bosan dan tertekan terus dengan berbagai macam target dan tuntutan.</p>
<p>***</p>
<p>Anak kami Abdih sejak September lalu sekolah di kelas dua SD di Singapura, setelah pindah dari Amerika. Karena kami beranggapan bahwa materi matematika di Singapura lebih tinggi dari Amerika, maka dia kami ikutkan les privat untuk mengejar ketinggalannya. Tetapi yang terjadi adalah masa-masa penuh tekanan untuk anak kami itu.</p>
<p>Masalah yang pertama tentu saja PR. Jumlahnya sangat banyak. Semakin ada hari libur, semakin banyak PR yang diberikan. Di hari Jumat murid-murid selalu diberi bekal untuk belajar selama ujung minggu. Guru-guru di sekolah seolah tidak rela melihat anak-anak beristirahat dan bermain-main di rumah.</p>
<p>Yang lebih hebat lagi adalah ketika les privat yang dia ikuti ternyata juga punya PR terpisah. Bayangan kami sih les itu hanya mengulang apa yang sudah diberikan di sekolah, sekaligus mengerjakan soal-soal PR dari sekolah. Ternyata tidak. Les itu punya materi sendiri, lengkap dengan PR sendiri.</p>
<p>Akibatnya adalah masa-masa penuh tekanan bagi Abdih. Saya membuat aturan bahwa setelah makan malam tidak ada lagi istilahnya pegang buku pelajaran, kecuali buku bacaan ringan. Bayangkan saja, hari-harinya selalu di mulai jam 6 pagi (padahal shalat subuh saja bisa jam 5.45) karena harus mengejar bis agar bisa sampai di sekolah jam 7 pagi. Jam 7.30 sudah masuk kelas mulai belajar, terus sampai jam 2 siang. Jam 3.30 harus sudah mulai les lagi sampai jam 5 sore. Setelah itu mengerjakan PR dari sekolah, plus PR dari les.</p>
<p>Kalau dia masih bekerja sampai makan malam (sekitar jam 7an) itu artinya dia sudah belajar selama 8-10 jam. Itu sudah sangat banyak dan lebih dari cukup untuk pelajaran sekolah. Kalau setelah makan malam dia masih terus bikin PR, maka kapan dia sempat membaca buku yang lain, kapan dia sempat baca AlQuran, dan berjibun kegiatan lainnya.</p>
<p>Put it another way: kalau dia masih harus bikin PR setelah belajar selama 8 sampai 10 jam, maka itu yang salah yang memberi PR, bukan salah muridnya. Karena itu saya larang anak saya untuk bikin PR setelah makan malam.</p>
<p>Hasilnya? Ya Abdih selalu marah-marah kalau disuruh berhenti bikin PR, karena besok gurunya pasti akan marah-marah lagi. Dia baru tenang kalau saya bilang, &#8220;Besok kalau gurumu marah, suruh telepon ayah biar dia ayah marahin&#8221;.</p>
<p>Pertanyaannya kembali lagi: apakah dengan menyumpalkan beban berlebih ke otak anak maka sang anak akan belajar lebih banyak? Ini akan saya bahas dalam posting lain.</p>
<p>***</p>
<p>Kesimpulannya: homeschool.</p>
<p>Kami sudah sampai pada kesimpulan bahwa anak-anak akan kami homeschool mulai awal Januari besok. Lepas dari segala kelebihan dan kekurangannya, kami melihat bahwa homeschool akan memberi peluang yang lebih baik bagi anak-anak kami untuk berkembang.</p>
<p>Anda setuju dengan kesimpulan kami?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/157/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Setengah Jam Sempat Apa?</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/162</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/162#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Nov 2008 12:09:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Human resource]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[Saya sedang senewen dengan acara-acara (belajar) yang menghabiskan waktu selama berjam-jam. Ngapain belajar selama berjam-jam sekali duduk. Bukankah kata Nabi, kontinuitas itu lebih penting daripada kuantitas? Anda bisa membayangkan kelas kursus setengah jam sehari bisa memupuk ketrampilan apa? Bisa membayangkan setengah jam seminggu bisa digunakan untuk apa? Kalau belum bisa, silakan baca kelanjutan artikel ini, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sedang senewen dengan acara-acara (belajar) yang menghabiskan waktu selama berjam-jam. Ngapain belajar selama berjam-jam sekali duduk. Bukankah kata Nabi, kontinuitas itu lebih penting daripada kuantitas?</p>
<p>Anda bisa membayangkan kelas kursus setengah jam sehari bisa memupuk ketrampilan apa? Bisa membayangkan setengah jam seminggu bisa digunakan untuk apa? Kalau belum bisa, silakan baca kelanjutan artikel ini, saya akan ceritakan apa arti setengah jam seminggu dan apa arti setengah jam sehari.</p>
<p><span id="more-162"></span></p>
<p>***</p>
<p>Anak-anak kami belajar berenang di Boise selama setengah jam seminggu sekali. Setengah jam cukup untuk apa? Ya cukup untuk belajar berenang. Memang tidak ada ba bi bu, yang ada langsung cebur. Tidak seperti biasanya di Indonesia (atau di Singapura) yang kalau kursus berenang selalu diawali dengan pemanasan, di sana tidak ada istilah pemanasan, yang ada langsung cebur. Banyak anak yang datang hanya beberapa menit sebelum latihan dimulai, turun dari mobil sudah pakai swim-trunk sambil bawa handuk, terus langsung lari masuk kolam. Langsung latihan berenang selama setengah jam.</p>
<p>Hasilnya? Dalam waktu tidak terlalu lama (kalau tidak salah hanya dua bulan), anak-anak kami sudah pita hijau, termasuk Abdih yang baru kelas satu ketika itu. Anak-anak di bawah umur 12 tahun kalau masuk kolam renang harus pakai pita dipergelangan tangannya. Yang belum bisa berenang akan diberi pita merah, yang ini harus didampingi orang tuanya terus menerus. Yang bisa sedikit-sedikit akan diberi pita kuning, yang ini belum boleh ke kolam besar.</p>
<p>Yang sudah bisa berenang akan diberi pita hijau. Tapi untuk dapat pita hijau harus diuji oleh <em>lifeguard</em>, disuruh berenang melintasi kolam paling dalam, bolak-balik tidak boleh berhenti di tengah jalan, tanpa bantuan alat atau orang.</p>
<p>Terus terang waktu itu saya baru sadar, setengah jam itu sangat bermanfaat kalau waktunya memang dipakai untuk belajar.</p>
<p>***</p>
<p>Hanif, anak kami yang sulung, belajar main biola di sekolahnya. Sepenuhnya belajar di sekolah, jadi gratis, tanpa harus kursus-kursusan. Mulai dari nol, sampai bisa ikut konser sekolah, dalam waktu satu tahun selama kelas lima. Total waktunya: 180 hari (ini rata-rata waktu sekolah di Amerika selama setahun).</p>
<p>Setengah jam setiap hari selama seratus delapan puluh hari, anakku belajar main biola sejak dari nol sampai ikut konser. Memang belum jadi <em>maestro</em>, karena seperti kata gurunya, selama kelas lima mereka <span style="text-decoration: underline;"><strong><em>hanya</em></strong></span> belajar cara memegang alat musik. Baru nanti di kelas enam mereka akan belajar main musik. Tapi baru bisa pegang alat saja sudah bisa main di konser sekolah, tidak heran kalau di kelas enam sudah ada di antara mereka yang dikirim ikut main di Konser Balai Kota.</p>
<p>Setengah jam memang sangat bermanfaat kalau waktu itu dipakai murni untuk belajar.</p>
<p>***</p>
<p>Saya jadi ingat guru ngaji saya K.H. Turmudzi Taslim. Beliau ini mengajar mengaji di Kampung Glondong, Kauman, Semarang. Saya ikut belajar selepas maghrib, dan beliau mengajar hanya sampai adzan Isya. Muridnya ada puluhan, duduk mengantri menghadap ke meja kecil panjang berbaris sepanjang meja itu, dan Pak Adzi duduk di ujung meja itu, rotan di tangan.</p>
<p>Muridnya membaca AlQuran di kiri dan kanan beliau, bersamaan. Dan rotannya berayun ke arah yang salah baca, tidak pernah salah ayun sekalipun murid-muridnya itu membaca AlQuran di halaman yang berbeda. Seolah-olah telinga kiri dan kanan bisa mendengarkan (dan memperhatikan) dua suara yang berbeda. Kalau muridnya sedang banyak, dan kira-kira tidak akan habis sebelum adzan Isya, maka dipanggillah dua murid yang duduknya paling jauh di ujung meja, agar datang mendekat ke kiri dan kanannya. Dan membacalah mereka, berempat, sekaligus bersama-sama. Dan rotan itu tidak pernah salah harus berayun ke arah mana, seolah telinga kiri dan kanan beliau bisa terbagi jadi empat.</p>
<p>Waktu efektif masing-masing murid: kurang dari sepuluh menit. Sepuluh menit yang sangat berharga, karena dalam sepuluh menit itulah saya belajar apa artinya membaca dengan tartil.</p>
<p>***</p>
<p>Kesenewenan saya tentang masalah belajar yang kelamaan itu bermula dari sistem sekolah di Singapura. Atau yang lebih tepat adalah apa yang sudah diangap wajar oleh orang-orang di Singapura tentang waktu belajar. Anak saya kan baru pindah ke Singapura, jadi kami mengundang seorang tutor menambah dosis pelajaran yang di Amerika memang relatif lebih ketinggalan dibandingkan dengan Singapura.</p>
<p>Tapi ternyata yang terjadi adalah kelebihan beban. Abdih anak kami yang kedua harus sudah berada di sekolah jam 7.15 pagi, dan belajar sampai jam 13.30. Begitu sampai di rumah, dia hanya sempat makan siang dan main sebentar karena sang tutor akan datang mulai jam 15.00, jadi harus belajar lagi sampai jam 17.00.</p>
<p>Selesai? Ternyata belum. Setelah itu dia harus membuka tas sekolah untuk mengerjakan PR dari sekolah. Dan itu bisa berlangsung berjam-jam terkadang sampai lebih jam 21.00.</p>
<p>Selesai? Ternyata belum juga. Tutorial yang seharusnya membantu pelajaran sekolah, ternyata sudah jadi pelajaran sendiri. Dan hebatnya lagi, tutorial itu punya PR sendiri yang harus dikerjakan di luar waktu tutorial.</p>
<p>Hah!?!?</p>
<p>Saya bertanya-tanya kepada kawan-kawan, ternyata memang begitulah beban tipikal anak sekolah di Singapura. Dan hebatnya lagi, kalau guru dan tutor tidak memberikan beban seperti itu, maka orang tuanya justru akan mempertanyakan keampuhan metoda yang mereka pakai.</p>
<p>Akhirnya yang terjadi ya berantem. Saya bersikukuh agar Abdih tidak memegang buku pelajaran setelah makan malam, tetapi Abdih ternyata juga takut sama gurunya di sekolah kalau PR-nya tidak selesai. Akhirnya saya bilang, &#8220;kalau guru kamu marah, bilang sama dia kalau ayah yang memerintahkan kamu untuk tidak bikin PR, suruh dia marah sama ayah&#8221;.</p>
<p>Alasan saya?</p>
<p>Sederhana sekali, kok. Anda pernah dapat jadwal kuliah berturut-turut dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore, kan. Saya sangat yakin, kalau itu kejadiannya, maka yang anda lakukan adalah batalkan salah satu (atau dua) mata kuliah, dan mencari mata kuliah yang kuliahnya di hari lain. Paling-paling kita hanya tahan dapat dua kuliah dalam satu hari.</p>
<p>Kalau kita yang sudah dewasa saja memilih untuk tidak belajar berturut-turut selama delapan jam sehari, lantas mengapa kita membiarkan anak kita belajar selama lebih dari sepuluh jam sehari? Anak kita itu kan baru belajar untuk belajar.</p>
<p>Masih mending kalau mereka menikmati prosesnya. Boro-boro menikmati, <em>stress</em> saja yang ada.</p>
<p>***</p>
<p>Kemarin Abdih baru jam 4.30 keluar dari sekolah. Ternyata dia latihan paduan suara langsung setelah pulang sekolah. Tidak tanggung-tanggung, latihan selama dua jam.</p>
<p>Dua jam menyanyi! Anda pernah mencoba menyanyi selama dua jam? Kalau anda bukan penyanyi impulsif (yang punya karaoke di rumah), maka suara anda akan serak setelah menyanyi dua jam berturut-turut. Buat anak kecil, ini sangatlah berlebihan. Emangnya mau jadi penyanyi profesional?</p>
<p>Hasilnya? Ternyata mereka akan manggung hari Rabu ini. Waaaah, ini adalah berita paling bagus yang saya dengar tentang sekolah. Akhirnya saya bisa melihat anak saya sendiri beraksi di dalam sekolah.</p>
<p>Sungguh, selama dia sekolah di Singapura, saya belum pernah tahu bagaimana Abdih di sekolah: ruang kelasnya yang mana, bangkunya yang mana, bagaimana dia selama belajar di sekolah, apa dia bisa menyanyi, yang selama di Amerika kita selalu diundang untuk memperhatikan perkembangan anak dari dekat. Ternyata sekarang mereka akan konser.</p>
<p>Akhirnya saya bisa nonton? Ya, kan?</p>
<p>Ternyata tidak. Mereka memang akan manggung di sekolah, tetapi ternyata dari 29 anggota paduan suara hanya ada tiga undangan untuk orang tua murid, dan itu diundi.</p>
<p>Abdih ternyata tidak dapat undian, karena itu dia tidak dapat undangan! Akibatnya kamipun tidak boleh datang.</p>
<p>Acaranya sendiri ternyata adalah acara penyerahan hadiah untuk mereka yang berprestasi di kelas masing-masing. Saya tidak habis pikir kenapa mereka tidak mengundang seluruh orang tua kalau memang itu acaranya.</p>
<p>Muridnya terlalu banyak? Itu sih bukan alasan untuk tidak mengadakan konser sekolah. Setidaknya orang tua murid yang anaknya sudah latihan berjam-jam selama beberapa waktu, mereka toch ingin melihat anak mereka beraksi di panggung.</p>
<p>Belum lagi kalau dilihat hasilnya, kok kayaknya belajar berjam-jam itu nggak ada hasilnya sama sekali.</p>
<p>***</p>
<p>Kembali ke laptop.</p>
<p>Masalah yang sama saya dapati dalam acara pengajian yang sering kita adakan. Beberapa waktu yang lalu istriku ikut pengajian bersama ibu-ibu Imas. Setelah saya tanya-tanya ternyata pengajiannya bisa sampai lebih dari tiga jam.</p>
<p>Wah, kalau tiga jam sih, beberapa bulan juga sudah khatam baca Qurannya, kata saya. Ternyata tidak juga, kata istri saya. Dari tiga jam itu ngajinya hanya sebentar. Waktu pengajian itu terbagi tiga, yang pertama untuk menunggu yang terlambat, kedua untuk makan, ketiga baru ngaji.</p>
<p>Pola yang seperti ini tentu saja tidak hanya terjadi di Imas, tidak hanya di Singapura, tetapi kita jumpai di mana-mana. Ini juga tidak terjadi pada pengajian ibu-ibu saja, tapi juga melanda pengajian para suami.</p>
<p>Saya pikir kita sudah harus mulai mengadakan acara pengajian dengan lebih baik. Masalahnya ada tiga.</p>
<p>Yang pertama masalah tepat waktu. Untuk masalah yang satu ini, saya ingat kawan saya Pakcik Khairul. Beliau bilang, kita itu menunggu yang terlambat karena menghormati mereka. Tetapi, kata beliau, kenapa kita tidak menghormati mereka yang sudah datang tepat waktu? Bukankah mereka sudah menghormati kita dengan datang tepat waktu, sehingga mereka lebih berhak dihormati dengan memulai acaranya tepat waktu?</p>
<p>Yang kedua adalah masalah jangka waktu, kebanyakan acara pengajian itu tidak dibatasi waktunya. Undangan pengajian biasanya dituliskan:</p>
<blockquote><p>Waktu: 15.00 &#8211; selesai</p></blockquote>
<p>Selesainya itu bisa molor sampai beberapa jam.</p>
<p>Yang ketiga adalah masalah agenda, urutan acaranya tidak jelas. Kalau ada urutan acaranya, maka acara yang agak panjang pun sebenarnya tidak ada masalah. Misalnya dituliskan agenda sbb:</p>
<blockquote><p>12.00 &#8211; 13.00 Menunggu yang terlambat</p>
<p>13.00 &#8211; 13.30 Shalat zhuhur</p>
<p>13.30 &#8211; 14.30 Makan siang</p>
<p>14.30 &#8211; 15.30 Ceramah</p>
<p>15.30 Penutupan</p></blockquote>
<p>Dengan agenda yang jelas seperti di atas, maka mereka yang ingin mendengarkan ceramah saja bisa datang jam 14.30.</p>
<p>Dengan ketiga masalah di atas, maka pengajian itu susah untuk berjalan terus. Bukan apa-apa, siapa sih yang bisa menyediakan waktu selama tiga jam setiap minggu secara konsisten. Tiga jam untuk acaranya, belum lagi waktu di perjalanan.</p>
<p>Berdasarkan pengalaman selama di Belanda dan Amerika, paling enak mengadakan pengajian itu kalau dipisahkan antara acara makan dan acara ngaji. Ngaji ya ngaji, paling lama satu jam, kalau mau minum bawa sendiri. Ini biasanya akan bertahan lama karena kemajuan belajar akan nampak.</p>
<p>Kalau mau makan ya makan-makannya saja (jangan lupa mengundang saya, ya?). Kalau mau digabung, ya tegaskan agendanya supaya masing-masing orang bisa merencanakan waktunya dengan lebih baik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/162/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia Hampir Hilang</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/161</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/161#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Nov 2008 14:37:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Human resource]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[The world as you&#8217;ve never seen it before, begitu kata situs yang satu ini. Dan memang peta-peta yang ditampilkan di sini didistorsi sesuai dengan tema yang dipilih. Yang satu ini adalah peta dunia yang didistorsi sesuai dengan jumlah publikasi masing-masing negara. Hasilnya: Indonesia hampir hilang. sumber: WorldMapper Publikasi ilmiah yang dicakup adalah dari bidang fisika, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>The world as you&#8217;ve never seen it before</em>, begitu kata situs yang satu ini. Dan memang peta-peta yang ditampilkan di sini didistorsi sesuai dengan tema yang dipilih. Yang satu ini adalah peta dunia yang didistorsi sesuai dengan jumlah publikasi masing-masing negara.</p>
<p>Hasilnya: Indonesia hampir hilang.</p>
<p><span id="more-161"></span></p>
<p><img src="http://www.worldmapper.org/images/smallpng/205.png" alt="Peta dunia berdasarkan publikasi ilmiah" width="512" height="256" /><br />
<small>sumber: <a title="WorldMapper" href="http://www.worldmapper.org" target="_blank">WorldMapper</a></small></p>
<p>Publikasi ilmiah yang dicakup adalah dari bidang fisika, biologi, kimia, matematika, kedokteran, biomedik, ilmu kebumian dan kedirgantaraan, yang diterbitkan selama tahun 2001. Publikasi itu dibagi-bagi berdasarkan alamat (afiliasi) penulis. Bila ada dua penulis, maka masing-masing negara mendapatkan setengah. Bila lebih dari dua, maka akan dibagi rata.</p>
<p>Total publikasi yang dihitung adalah 660.000, sekitar 1 paper untuk 10.000 orang. Di negara-negara maju (Eropa Barat, Amerika, dan Jepang) rata-ratanya sekitar 5 artikel untuk setiap 10.000 orang. Ini adalah bias lokasi, di mana negara-negara maju itu rata-rata punya publikasi sekitar tiga kali lipat dibandingkan dengan negara manapun.</p>
<p>Tugas kita: giat membaca dan tetap menulis! Seperti kata David Dorling (beliau ada orang yang mengolah data-data yang digunakan untuk peta ini):</p>
<blockquote><p><em>Scientific research is as much the product of the society that enables it, as of the individuals who author it. </em>(David Dorling 2006)</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/161/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Setahun kemudian</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/158</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/158#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2008 15:59:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[November 2007 adalah saat saya mencoba balik kampung dengan melamar jadi dosen di ITB. Selama ujian CPNS saya menuliskan laporan pandangan mata (yang diterbitkan di blog ini) yang ternyata menyedot perhatian banyak orang. Sejak saat itu sampai sekarang, saya sering kali bertemu dengan kenalan baru yang tiba-tiba mengatakan, &#8220;Oooh ini Ery yang dulu melamar ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>November 2007 adalah saat saya mencoba balik kampung dengan melamar jadi dosen di ITB. Selama ujian CPNS saya menuliskan laporan pandangan mata (yang diterbitkan di blog ini) yang ternyata menyedot perhatian banyak orang. Sejak saat itu sampai sekarang, saya sering kali bertemu dengan kenalan baru yang tiba-tiba mengatakan, &#8220;Oooh ini Ery yang dulu melamar ke ITB ya?&#8221; Saya sudah tidak pernah bertanya lagi mereka tahunya dari mana <img src='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Posting ini saya tulis karena ternyata banyak sekali komentar &#8220;negatif&#8221; tentang ITB akibat posting saya itu. Kalau saat kenalan yang bertemu langsung, bila ada yang berkomentar seru tentang &#8220;kok ITB masih seperti itu ya?&#8221;, maka saya masih bisa menjelaskan posisi saya. Posting ini saya tujukan untuk mereka yang tidak sempat bertemu dengan saya secara langsung, dengan pesan singkat dari saya: mari kita majukan ITB (dan Indonesia) dengan cara kita masing-masing. Penjelasan panjangnya sih, silakan baca di bawah ini.</p>
<p><span id="more-158"></span></p>
<p>Ungkapan Patsy (yang dikirim ke milis Alumni-TF-ITB) di bawah ini akan saya jadikan contoh kasus. Memang banyak variasinya, tapi nadanya serupa. (Patsy, maaf ya paragrafnya saya abused jadi contoh kasus).</p>
<blockquote><p>&gt; Contoh nyata saja sulitnya diterima jadi dosen ITB spt yang dialami<br />
&gt; Kang Ery Djunedy, padahal pengalaman sudah banyak di luar negeri.<br />
&gt;<br />
&gt; ITB itu menurut saya, secara kasat mata, sudah institut yang paling<br />
&gt; intelek di Indonesia, dengan stafnya yang luusan PhD dari negara2<br />
&gt; Barat yang katanya progresif, open minded dsb, ternyata masih sangat<br />
&gt; konservatif. Jadi bayangkan saja tantangannya di sistem dengan orang<br />
&gt; yang far less educated.</p></blockquote>
<p>Kesimpulan umum yang dibuat oleh kawan-kawan adalah:</p>
<ol>
<li>Ery sudah berpengalaman di luar negeri sebagai peneliti dan pengajar, seharusnya itu saja sudah cukup untuk membuatnya diterima di ITB, atau (ada yang berpendapat) di perguruan tinggai manapun di Indonesia.</li>
<li>Ery itu mau pulang kampung untuk membawa perubahan dari dalam ITB. Bahwa ITB kemudian menolak lamaran Ery, itu artinya ITB masih sangat konservatif, tidak open-minded, kurang progresif.</li>
</ol>
<p>Kalau ada kawan yang menyimpulkan hal ini di depan saya, terus terang duduk saya pun jadi miring-miring karena tiba-tiba perut ini rasanya seperti ditusuk-tusuk. Ada beberapa hal penting yang perlu saya ungkapkan dari sudut pandang saya pribadi.</p>
<p>Pertama, ketika orang menuduh sangat konservatif, tidak open-minded, kurang progresif, bagi mereka ini adalah ITB sebagai institusi yang jauh dari sentuhan manusia. Tapi bagi saya, ketika mereka mengatakan hal itu, yang tampak adalah wajah guru-guru saya yang dulu memperkenalkan ilmu fisika bangunan kepada saya untuk pertama kalinya.</p>
<p>Wong saya melamar untuk menjadi bagian dari Lab Fisika Bangunan di ITB, ketika banyak orang menyimpulkan (dan mengatakan di depan saya) bahwa ITB masih sangat konservatif (dst dst), yang terbayang adalah wajah Prof Soegijanto (pembimbing TA saya), Pak Ardhana (dosen wali saya), Pak Nugroho, Pak Aman dan juga Kang Joko (senior saya yang dulu ngasistenin waktu praktikum fisbang).</p>
<p>Folks, for me its personal. Saya tidak berani melekatkan kata-kata sifat itu (konservatif, kurang progresif, tidak open-minded) kepada figur-figur yang dulu sudah mendidik saya. Alasannya sederhana: saya mengenal mereka dan sifat-sifat yang dituduhkan itu sama sekali tidak tampak dalam diri beliau-beliau ini. Alasan lain yang lebih sederhana: takut kualat. Apa yang saya lakukan di dunia fisika bangunan belum ada apa-apanya dengan apa yang sudah mereka lakukan.</p>
<p>Karena itu, ketika nama saya tidak ada dalam daftar yang diterima, saya menerimanya dengan <em>legowo</em>, tanpa berusaha memberikan label apapun pada kejadian ini. Kalaupun saya dipaksa memberikan alasan, biasanya jawaban saya hanya satu: belum rejeki.</p>
<p>Kedua, ITB adalah mesin yang besar sekali. Kalau pun saya tidak ingin menyalahkan guru-guru dan senior-senior saya di Lab Fisbang, apakah kita perlu menuding kepada birokrasi di atasnya? Saya berpendapat bahwa inipun tidak perlu. Untuk apa menyalahkan orang lain atas suatu kejadian yang bisa dianggap sebagai kegagalan saya pribadi?</p>
<p>Ketiga, lagipula emangnya perlu ada yang disalahkan? Merujuk kepada dua kesimpulan umum yang saya sebut di atas, kalau Ery punya pengalaman banyak di luar negeri, emangnya pengalaman itu akan relevan bagi perkembangan ITB? Siapakah kita dalam menilai ITB? Kita, alumni sekalipun, mahasiswa sekalipun, adalah orang luar. ITB-lah yang berhak menentukan pengalaman apa yang mereka perlukan, bahkan ITB pun berhak menentukan kalau ITB tidak perlu pengalaman.</p>
<p>Coba lihat kesimpulan kedua di atas. Janganlah menyimpulkan seolah-olah dengan menolak lamaran Ery, berarti ITB menolak kemajuan dan tidak open-minded? Inikan sama dengan menumpuk kemajuan di atas pundak saya, sebuah beban yang saya sama sekali tidak mampu memikulnya.</p>
<p>ITB membuat kriteria sendiri dan bergerak dengan caranya sendiri. Walaupun kriteria itu masih misteri buat saya, walaupun gerakannya pun masih sangat misterius bagi saya pribadi, marilah kita hargai keputusan itu, dengan penghargaan yang tidak <em>ngalelewe</em>.</p>
<p>Keempat, beberapa FAQ:</p>
<ul>
<li><strong><em>Emang kenapa sih dulu tidak diterima jadi dosen ITB?</em></strong><br />
Saya sendiri tidak tahu kenapa saya ditolak jadi dosen ITB. Eh maaf, bukannya ditolak, karena surat penolakan dari ITB tidak pernah ada. Tepatnya, nama saya tidak ada dalam daftar yang lulus. Dari daftar itulah saya tahu kalau saya tidak diterima. Yaah, karena hanya itulah bentuk pemberitahuannya, saya juga tidak tahu apa sebabnya.<br />
Secara informal memang ada yang mencoba memberi penjelasan. Tapi karena sifatnya informal, maka itu tidak layak untuk dituliskan di sini.</li>
<li><strong><em>Terus kenapa sekarang tidak mengajar lagi?</em></strong><br />
Sejak bulan lalu saya memang pindah bekerja sebagai konsultan, setelah sekian lama bekerja di lingkungan universitas. Kepindahan saya dari lingkungan universitas ini tidak ada hubungannya dengan ditolaknya lamaran saya oleh ITB, juga bukan upaya melarikan diri dari tugas mengajar.<br />
Profesor saya pernah mengatakan bahwa lebih mudah untuk berpindah dari lingkungan riset/praktis ke lingkungan pengajaran (teaching) daripada sebaliknya. Waktu baru lulus doktor saya pernah mengabaikan anjuran ini dan memilih jadi profesor ketimbang peneliti. Baru kemudian saya sadar bahwa memang selagi muda sebaiknya jangan dulu terperangkap dalam dunia mengajar. Makanya saya tidak melewatkan kesempatan untuk bekerja di tempat di mana saya bisa belajar terus seperti di <a title="Arup" href="http://www.arup.com" target="_blank">Arup</a> ini.<br />
Dan lagi, beberapa kolega saya juga menyempatkan diri untuk jadi pengajar tamu di <em>National University of Singapore</em>. Nanti kalau saya sudah menyesuaikan diri dengan tempat baru, dan sudah gatal ingin mengajar, saya yakin banyak profesor di NUS akan menyediakan slot waktu untuk jadi dosen tamu.</li>
<li><strong><em>Jadi pundung nih, nggak mau mengajar di ITB lagi?<br />
</em></strong> Wah nggak lah ya, masak gitu aja pundung. Kalau setiap ditolak kerja saya pundung, saya sudah marahan dengan banyak orang <img src='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Tentang kemungkinan mengajar di ITB di masa depan, yaah, kita lihat saja nanti. Kan tidak bertepuk tidak bisa sebelah tangan.</li>
<li><strong><em>Lho itu ada kawan saya waktu itu keterima jadi dosen ITB, tapi sampai sekarang masih belum pulang. Kata anda di blog salah satu syaratnya adalah sudah berada di Indonesia sejak 1 Januari 2008 dan harus mengisi daftar hadir selama setahun. Kan anda ditolak karena tidak bersedia memenuhi syarat ini kan? Terus kok kawan saya itu diterima tapi masih terus di luar negeri? Dan itu ada kawan saya yang lain ternyata malah beberapa bulan yang lalu pergi ke luar negeri untuk penelitian?</em></strong><br />
Tenang, Mas, tenang. Pertama-tama, saya tidak tahu kenapa saya ditolak. Mungkin karena menolak syarat itu, mungkin juga karena sebab lain. Terus mengenai masalah kawan anda itu, yaaah, itu mah sudah rejekinya. Tentang kawan anda yang lain itu, yaah, itu malah rejeki yang lebih bagus lagi. Masalah saya tidak diterima, itu mah jangan dihubung-hubungkan dengan rejeki orang lain.</li>
</ul>
<p><em>edit</em>: Saya sudah tidak bekerja lagi di Arup.</p>
<ul></ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/158/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengungkap</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/83</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/83#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 23:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Language]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Anda bisa memaki-maki dalam bahasa Inggris? Kalau saya terus terang tidak bisa. Maklum lah, bahasa Inggris kan bukan bahasa ibu. Betapapun sudah lama tinggal di negara berbahasa Inggris, sudah lama ikut kuliah dalam bahasa Inggris, bahkan sudah lama memberi kuliah dalam bahasa Inggris, saya tetap merasa tidak bisa ekpresif dalam penggunaaan bahasa itu. Untuk komunikasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda bisa memaki-maki dalam bahasa Inggris? Kalau saya terus terang tidak bisa. Maklum lah, bahasa Inggris kan bukan bahasa ibu. Betapapun sudah lama tinggal di negara berbahasa Inggris, sudah lama ikut kuliah dalam bahasa Inggris, bahkan sudah lama memberi kuliah dalam bahasa Inggris, saya tetap merasa tidak bisa ekpresif dalam penggunaaan bahasa itu.</p>
<p>Untuk komunikasi &#8220;biasa&#8221; sih tidak menjadi masalah. Artinya orang lain tidak sulit menangkap apa yang ingin saya sampaikan ketika saya berbicara dalam bahasa Inggris. Tapi unsur-unsur yang lebih luas dalam berbahasa, yang memerlukan ungkapan ekspresi dari dalam, saya masih sering gelagapan. Kalau kata istri saya, &#8220;<em>rek dicarekan ku basa Sunda</em>&#8221; (artinya &#8220;mau kumarahi pakai bahasa Sunda&#8221;), saking tidak bisanya kita mengungkapkan perasaan dalam bahasa Inggris.</p>
<p><span id="more-83"></span></p>
<p>Karena itu saya agak terkejut ketika membaca Warta Berita Radio Nederland Weleldomroep (edisi Bahasa Indonesia, Jumat 08 Desember 2006 13:50 UTC) yang mengutip seorang wartawan di Jakarta yang merasa lebih ekspresif ketika berbicara dalam bahasa Belanda. &#8220;Saya merasa lebih bebas dalam bahasa Belanda, saya bisa lebih baik mengungkapkan diri dalam bahasa itu,&#8221; begitu katanya.</p>
<p>Senang juga ya bisa mengungkapkan diri dengan sempurna dalam bahasa asing. Atau jangan-jangan, hal ini terjadi karena ketidakmampuan beliau dalam berbahasa Indonesia?</p>
<p>Berikut laporan selengkapnya dari Radio Nederland:</p>
<blockquote><p>Kita beralih ke topik Indonesia. Ratusan mahasiswa Indonesia belajar bahasa bekas penjajah: bahasa Belanda buka tabu lagi, demikian tulis harian Belanda Het Parool. Dengan belajar bahasa Belanda, para mahasiswa berharap mendapat pekerjaan sebagai penerjemah atau dosen bahasa Belanda. Mahasiswa hukum dan sejarah bahkan wajib belajar bahasa Belanda supaya bisa memahami sumber-sumber yang kebanyakan dalam bahasa Belanda. Pusat Bahasa Erasmus di Jakarta, yang dibangunkan 25 tahun silam adalah tempat untuk belajar bahasa Belanda di Indonesia. &#8220;Itulah ciri bahasa Belanda sekarang di Indonesia, bahasa asing modern&#8221;, demikian Hans Groot pemimpin lembaga tersebut. Tentulah sejarah penjajahan tidak bisa dilupakan. Dengan menyelenggarakan lomba menyanyi dan bicara dalam bahasa Belanda, Hans Groot berusaha melibatkan lebih banyak mahasiswa dalam lembaga bahasanya. &#8220;Sekarang kita punya 1.500 mahasiswa setahun. Kita berkesimpulan bahwa kebijakan imigrasi keras yang dilakukan Den Haag saat ini, juga berdampak untuk kita,&#8221; demikian Groot.</p>
<p>Untuk warga Indonesia tertentu yang belajar bahasa Belanda, bahasa itu sebenarnya tetap tabu. Sarah Sayekti yang bekerja sebagai wartawan tv <script type="text/javascript"><!--
 D(["mb","dan penerjemah dimarahi orang tuanya ketika dia bilang ingin belajar
bahasa Belanda. &amp;quot;Namun sekarang mereka melihat bahwa saya bisa
mendapat gaji dengan menguasai bahasa Belanda, antara lain karena
pekerjaan saya di acara Spoorloos, yang ditayangkan televisi KRO di
Belanda. Sayekti menang lomba bicara bahasa Belanda. &amp;quot;Saya merasa
lebih bebas dalam bahasa Belanda, saya bisa lebih baik mengungkapkan
diri dalam bahasa itu,&amp;quot; demikian Sayekti.</p>
<p>Kebanyakan mahasiswa tidak memikirkan zaman kolonial lagi jika mereka
mendengar bahasa Belanda. &amp;quot;Tentu ada ikatan sejarah antara Indonesia
dan Belanda,&amp;quot; kata mahasiswa tahun keempat Fajar Nugraha. Namun itu
perlu dilihat lepas dari bahasanya. Apa yang pernah terjadi, sudah
berlalu.&amp;quot;</p>
<p>Demikian harian Het Parool dan demikian pula tinjauan pers hari ini.</p>
<p>* CLINTON MENDESAK PENGEMBANGAN ENERGI BERSIH</p>
<p>Mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton berpidato di Istana
Soestdijk Belanda tentang pelestarian iklim. Clinton berada di Belanda
atas undangan Nasional Postcodeloterij. Lotere Nasional Belanda
tersebut menunjang pelbagai usaha amal di dalam dan luar Belanda dan
belum lama berselang juga menjadi penunjang Clinton Foundation.
Clinton mendapatkan dana satu juta euro untuk Prakarsa Iklim-nya.</p>
<p>Dengan santai Bill Clinton menguraikan tujuan Climate Initiative atau
prakarsa iklimnya, yang merupakan hubungan kerjasama antara 40 kota
dunia, di antaranya Rotterdam, yang merintis pengembangan energi ramah
lingkungan dan penghematan energi. Jika dibandingkan dengan
Johannesburg dan Moskow Rotterdam adalah sebuah kota yang lebih kecil
dalam perhimpunan kota-kota itu. Namun Rotterdam punya pelabuhan yang
terbesar di dunia. Lagi pula pemerintah kota Rotterdam dalam
tahun-tahun mendatang akan mengucurkan dana sebesar enam juta euro
untuk mendirikan pusat pembangkit energi baru, pelabuhan penampungan
",1] );
// --></script>dan penerjemah dimarahi orang tuanya ketika dia bilang ingin belajar bahasa Belanda. &#8220;Namun sekarang mereka melihat bahwa saya bisa mendapat gaji dengan menguasai bahasa Belanda, antara lain karena pekerjaan saya di acara Spoorloos, yang ditayangkan televisi KRO di Belanda. Sayekti menang lomba bicara bahasa Belanda. &#8220;Saya merasa lebih bebas dalam bahasa Belanda, saya bisa lebih baik mengungkapkan diri dalam bahasa itu,&#8221; demikian Sayekti.</p>
<p>Kebanyakan mahasiswa tidak memikirkan zaman kolonial lagi jika mereka mendengar bahasa Belanda. &#8220;Tentu ada ikatan sejarah antara Indonesia dan Belanda,&#8221; kata mahasiswa tahun keempat Fajar Nugraha. Namun itu perlu dilihat lepas dari bahasanya. Apa yang pernah terjadi, sudah berlalu.&#8221;</p>
<p>Demikian harian Het Parool dan demikian pula tinjauan pers hari ini.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/83/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hafizh without tajwid?</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/109</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/109#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Dec 2007 19:23:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/109</guid>
		<description><![CDATA[Tajwid is a set of rules on how to read the Quran properly. Can you imagine that a person can memorize the quran (being a hafizh) without knowing how to read the Quran properly (tajwid)? Until not so long ago, I cannot. But that has changed. The picture above shows an advertisement from a school [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tajwid is a set of rules on how to read the Quran properly. Can you imagine that a person can memorize the quran (being a <em>hafizh</em>) without knowing how to read the Quran properly (<em>tajwid</em>)? Until not so long ago, I cannot. But that has changed.<br />
<span id="more-109"></span><br />
<a target="_blank" href='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2007/12/tahfizhwithtajwid_small.jpg' title='Tahfizh with tajwid'><img src='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-content/uploads/2007/12/tahfizhwithtajwid_small.thumbnail.jpg' alt='Tahfizh with tajwid' /></a></p>
<p>The picture above shows an advertisement from a school in Maryland. If you look on the right hand side, there is an immediate opening for &#8220;FT Hifzh Teacher&#8221; which requires &#8220;having memorized the Quran <strong><em>with</em></strong> tajwid&#8221;. This requirement suggest that there are cases where people memorize the Quran <em><strong>without</strong></em> tajwid.</p>
<p>[The name and the address of the school in the above advert is not important, and in the picture above have been blurred.]</p>
<p>Apparently it is a common practice in many places (including Arab-speaking countries) for people to memorize the Quran even if the person cannot read the Quran properly. I have personally joined a congregation prayer (here in the US) where the <em>imaam</em> recites the Quran without <em>tajwid</em>. When I asked, that <em>imaam</em> is known to be a <em>hafizh</em> (having memorized the Quran).</p>
<p>This will usually not happen in Indonesia.</p>
<p>As a non-Arab speaking country (we speak Indonesian, a dialect of Malay), most of the people do not understand Arabic. Arab-speaking people might not understand this, but many people in Indonesia can read Arabic text (the Quran especially) without understanding the meaning.</p>
<p>When we start learning the Quran (which in most cases happen during childhood) we start to learn to read the Arabic text. But the process is totally different from a child in Arab world learning Arabic text.</p>
<p>In Arab speaking countries, learning Arabic text is part of the school curriculum, similar to any other children learning to read in their respective languages. When they read, <strong>the text is a sign to produce <em>meaning</em></strong>. Similar to &#8220;<em><strong>a</strong> as in <strong>a</strong>pple</em>&#8221; kind of learning process.</p>
<p>Because arabic text is introduced as part of the literacy program, of course the advantage of this system is that the understanding of the meaning develops together with their ability to read. On the other hand, because this learning process is for a general arabic text, the specific rules on how to read the Quran (the <em>tajwid</em>) is missing from this learning process.</p>
<p>In Indonesia, though, <strong>the text is understood as a sign to produce <em>sound</em></strong>, it does not matter what the meaning is. The students learn the Quranic text since from the very beginning, and because of that the strict rules on how to read the Quran is inherently contained within the curriculum.</p>
<p>After this program, the students in Indonesia would be able to read any arabic text (with diacritics), and they will pronounce any Arabic text (like song or newspaper article, as long as the text has diacritics) as they pronounce the verses in the Quran. However, they will not understand what they read.</p>
<p>Despite the shortcomings on the understanding part, I will argue that the Indonesian style of learning the arabic text is much better for the non-Arabic speaking people, because of two reasons:</p>
<ol>
<li>The students can focus on how to produce sound only, without the burden to understand the meaning of the text. This will make the learning process faster.</li>
<li>After the students can read the Arabic text, they will be able to learn Arabic faster because they can read the text without difficulty.</li>
</ol>
<p>In a way, this method decouples between reciting the text and reading the text as two separate process. Reciting is producing sound from a text, while reading is producing meaning from a text. In approaching the Quran as non-Arabic speaker, we should see this as two separate process.</p>
<p>If we are consistent with this pattern, <em>insha Allah</em>, we will not have to require &#8220;hafizh with tajwid&#8221; as all the hafizh should be able to read the Quran with tajwid.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/109/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Fisika Bangunan di Indonesia</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/112</link>
		<comments>http://ery.djunaedy.com/archives/112#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Dec 2007 18:57:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/112</guid>
		<description><![CDATA[Kita sebut saja namanya Ignatius, seorang arsitek baru lulus dari sebuah universitas ternama. Beliau mengirim email kepada saya setelah membaca artikel saya yang dimuat di Cakrawala PR berjudul &#8220;Memperkenalkan Fisika Bangunan&#8221; (sayang edisi online-nya tidak ada di arsip PR-online). Silakan baca di situs Alumni TF-ITB Dalam email itu Ignatius bertanya bertubi-tubi kepada saya. Bukankah ide-ide [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita sebut saja namanya Ignatius, seorang arsitek baru lulus dari sebuah universitas ternama. Beliau mengirim email kepada saya setelah membaca artikel saya yang dimuat di Cakrawala PR berjudul &#8220;Memperkenalkan Fisika Bangunan&#8221; (sayang edisi online-nya tidak ada di arsip PR-online).  <a target="_blank" href="http://iatf-itb.openesc.com/index.php?option=content&#038;task=view&#038;id=38&#038;Itemid=54">Silakan baca di situs Alumni TF-ITB</a></p>
<p>Dalam email itu Ignatius bertanya bertubi-tubi kepada saya.  Bukankah ide-ide sustainability yang sekarang sedang populer itu sangat berkaitan dengan fisika bangunan? Terus bagaimana peluang kerja di bidang ini, apakah nantinya akan terpakai?</p>
<p>Kawan-kawan Ignatius mengingatkan, &#8220;Ngapain belajar fisika bangunan, bosen gitu-gitu aja, nggak belajar desain, elu kan arsitek!&#8221;, begitu tulisnya di dalam email yang saya terima.<br />
<span id="more-112"></span><br />
Saya membaca email itu di malam hari di tengah-tengah arena retreat yang diadakan oleh SBSE (Society of Building Science Educators &#8211; www.sbse.org) di kampus Islandwood, Bainbridge Island, sekitar setengah jam naik ferry dari Seattle, AS.  Beberapa saat sebelum membaca email di atas, saya masih mendengar diskusi hangat tentang alat bantu pengajaran fisika bangunan dalam kurikulum arsitektur. Kalau kelangsungan hidup planet ini bergantung pada kemampuan anda untuk mengajar mahasiswa arsitektur tentang fisika bangunan, apa yang akan anda ajarkan?</p>
<p>Saya jadi bertanya-tanya, apakah Ignatius ini benar-benar mahasiswa arsitektur di abad 21? Di satu pihak pengajar (dan mahasiswa) arsitektur di luar negeri mulai sangat memperhatikan aspek fisika bangunan, di lain pihak di Indonesia kalangan arsitektur masih sangat tidak peduli dengan aspek fisika bangunan. Ada apa ini?</p>
<p>Di banyak negara, bidang ilmu ini disebut sebagai building science, tapi di Belanda dan Jerman, bidang ini disebut sebagai bouwfysica atau fisika bangunan. Saya lebih suka menyebutnya sebagai fisika bangunan karena istilah ini lebih dikenal di Indonesia ketimbang istilah building science, ataupun teknologi bangunan. Silakan merujuk ke tulisan saya yang disebut di atas untuk mengenal lebih jauh bidang ini.</p>
<p>Artikel ini ingin menjelaskan lebih jauh bahwa saat ini pendidikan fisika bangunan seharusnya menjadi bagian integral dari pendidikan arsitektur, syukur-syukur kalau bisa menjadi pendidikan wajib dalam kurikulum pendidikan teknik.</p>
<p>****</p>
<p>Kalau kita mengsumsikan bahwa sekarang ini terjadi pemanasan global, siapakah yang paling berperan dalam menentukan temperatur pemanasan global ini? Banyak orang akan mengatakan pabrik mobil, karena sebagian besar energi terbuang di jalan raya.</p>
<p>Tapi Ed Mazria berpendapat lain. &#8220;It&#8217;s the architecture, stupid!&#8221; begitu katanya dalam judul sebuah artikel yang ditulisnya dalam majalah Solar Today tahun 2003. Di artikel itu dia berargumen, bahwa di Amerika para arsiteklah bersama dengan industri bangunan yang menghabiskan setengah dari total konsumsi energi, sekaligus bertanggung jawab atas setengah dari produksi gas rumah kaca. Sebagai bandingan, dia menjelaskan bahwa mobil dan truk hanya bertanggung jawab atas seperenam konsumsi energi dan produksi gas rumah kaca.</p>
<p>Ini tentu tidak mengherankan karena manusia hidup di dalam bangunan.  Sekitar 90% kehidupan kita berlangsung di dalam bangunan. Tidaklah terlalu mengherankan kalau kemudian konsumsi energi juga terpusat di sekitar bangunan.</p>
<p>Berapa angka tepatnya untuk Indonesia, belum ada penelitian untuk hal ini. Klasifikasi yang digunakan oleh berbagai laporan penelitian masih menggunakan klasifikasi &#8220;tradisional&#8221;, yaitu industri, residensial, komersial dan transportasi. Menurut laporan Pengkajian Energi Universitas Indonesia (PEUI), di tahun 2006 angkanya adalah sekitar 32%, 40%, 3% dan 25% untuk masing-masing sektor.</p>
<p>Tapi pembagian sektor itu masih menyembunyikan pertanyaan penting, seberapa besar energi di masing-masing sektor yang dihabiskan untuk penggunaaan di seputar bangunan. Untuk sektor residensial hampir semua penggunaannya adalah untuk bangunan (misalnya pendingin ruangan, lampu, kompor, pemanas air, dll). Untuk sektor komersialpun, sebagian besar penggunaan energinya akan berkaitan dengan bangunan, terutama untuk pendinginan ruangan dan lampu. Untuk sektor industri sekalipun, kita masih bisa membelah lebih detil lagi, berapa persen penggunaannya berkaitan dengan bangunan, dan berapa persen terkait dengan konsumsi mesin industri.</p>
<p>Kalau melihat angka di atas (residensial plus komersial sudah mencapai 43%) mestinya bangunan akan memakan sekitar 50% dari total konsumsi energi kita, tidak jauh berbeda dengan kondisi di AS. Masalahnya, melihat bagaimana komunitas industri bangunan bereaksi, akan terlihat ketimpangan yang jauh kalau kita membandingkan antara Indonesia dengan negara-negara maju.</p>
<p>Tidak ada sense of crisis di berbagai kalangan yang terkait, terutama di kalangan industri bangunan, untuk menangani masalah ini. DPR dan pemerintah misalnya, tidak ada keseriusan dalam menangani masalah ini.  Sebagai gambaran, Undang-Undang Bangunan Gedung (UUBG-28-2002) yang mengatur masalah bangunan hanya menyebut kata energi sebanyak empat kali, itupun di dalam bagian penjelasan. PP-36-2005 ttg peraturan pelaksanaan UUBG pun hanya menyebut kata &#8220;energi&#8221; sebanyak lima kali.  Minimnya kata energi dalam peraturan yang menjadi rujukan dalam mendirikan bangunan di tanah air kita, justru ketika konsumsi energi sebagian besar dihabiskan di dalam bangunan, menunjukkan tingkat keseriusan pembesar negeri kita yang masih sangat minim dalam menangani masalah ini.</p>
<p>*****</p>
<p>Tidak adanya dukungan dari pemerintah pusat ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Di AS masalah ini bahkan lebih nyata.  Yang sangat berbeda adalah inisiatif dari pemerintah daerah serta masyarakat. Asosiasi Walikota Se-Amerika sudah sejak beberapa waktu yang lalu menyatakan dukungannya terhadap Protokol Kyoto, yang berusaha memotong produksi gas rumah kaca. Salah satu bentuk dukungan itu adalah dengan menetapkan aturan pendirian bangunan yang mencakup energi sebagai kriteria penting.</p>
<p>Jadi di hampir semua kota di AS, sebuah proyek bisa terjegal IMB-nya hanya karena prediksi penggunaan energinya tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh Balai Kota. Dan ini sudah berjalan selama beberapa tahun sekalipun peraturan federal yang memayunginya tidak ada.</p>
<p>Inisiatif masyarakat, dalam hal ini industri bangunan, sangatlah luar biasa. Arsitek, insinyur, kontraktor, universitas, semuanya bergerak beriringan dalam berupaya menekan konsumsi energi dalam bangunan.  Konsep-konsep baru seperti zero-energy building, going down to 50, dan lain-lain, semuanya diluncurkan praktis tanpa dukungan resmi pemerintah.</p>
<p>Dalam konteks inilah saya ingin memperkenalkan SBSE, sekaligus dukungannya terhadap Imperatif 2010. SBSE adalah perkumpulan dosen dan praktisi di bidang arsitektur yang mendukung pengembangan pengajaran dalam bidang fisika bangunan. Dalam kiprahnya, SBSE terutama berperan dalam mengembangkan alat-alat bantu dalam pengajaran fisika bangunan kepada mahasiswa arsitektur.</p>
<p>Imperatif 2010 adalah bagian dari Tantangan 2030 yang diluncurkan oleh Ed Mazria, dan mendapatkan dukungan dari berbagai pelosok dunia.  Tantangan 2030 pada intinya adalah agar kita bisa punya bangunan yang netral-karbon pada tahun 2030, yaitu bangunan yang tidak menggunakan energi fosil serta tidak mengeluarkan gas rumah kaca. Termasuk dalam tantangan itu adalah tantangan untuk menghasilkan bangunan baru (sejak saat ini) yang hanya mengkonsumsi 50% energi dibandingkan dengan rata-rata bangunan saat ini.</p>
<p>Untuk mencapai hal itu, Imperatif 2010 pun diluncurkan.  Intinya, pada tahun 2010 kita harus mencapai ecological literacy dalam pendidikan desain bangunan. Untuk mencapai hal ini maka sejak tahun 2007 (beberapa bulan lagi akan dimulai tahun ajaran baru) setiap studio desain dalam kurikulum arsitektur haruslah mencantumkan agar desain yang dihasilkan melibatkan lingkungan dalam suatu cara yang secara dramatik akan mengurangi atau bahkan meniadakan kebutuhan akan energi fosil.</p>
<p>Dalam retreat SBSE yang baru lalu, ada beberapa sesi yang ditujukan untuk membangun alat bantu pengajaran (tools-kit) untuk digunakan dalam desain studio yang mendukung Imperatif 2010 ini.</p>
<p>Apa artinya itu semua dalam konteks Indonesia?</p>
<p>Pertama, belum ada keseriusan dalam menggarap bidang fisika bangunan ini dalam tataran pendidikan maupun dalam tataran praktek di industri.  Alih-alih saling mendukung, dalam tataran pendidikan di Indonesia malah masih ada pengkotak-kotakan bidang keilmuan di mana bidang arsitektur (yang dekat dengan seni murni) seringkali memilih memurnikan dirinya dari kontaminasi teknologi (yang barangkali ditekuni oleh jurusan lain di luar jurusan arsitektur). Pernyataan kawan-kawan Ignatius dalam email yang saya sebut di awal tulisan ini sangatlah menggambarkan pengkotakan ini, seolah-olah desain arsitektur itu haruslah imun dari kriteria teknologi.</p>
<p>Yang kemudian terjadi dalam tataran praktek di industri bangunan memang masih mencerminkan pengkotakan ini. Contoh yang paling mudah untuk menggambarkan hal ini adalah bagaimana kita membangun rumah tinggal. Hampir semua rumah tinggal dibangun sebagai bangunan berventilasi alami, dan tidak dirancang untuk menggunakan pendingin ruangan. Tetapi ketika suatu saat sang penghuni rumah merasa harus punya pendingin ruangan (entah karena sudah kepanasan, atau karena adanya perbaikan ekonomi), maka alternatif yang ditempuh adalah menempelkan AC split di dalam ruangan.</p>
<p>Ketika terjadi penambahan AC pada bangunan yang berventilasi alami, hampir tidak pernah  ada perubahan arsitektural pada bangunannya.  Padahal kalau ditelusuri dari awal, perancangan bangunan berventilasi alami dengan bangunan ber-AC, keduanya punya karakteristik yang berbeda. Kalau perancangan fisika bangunannya tidak optimal, maka bangunan berventilasi alami tidak akan menghasilkan ruangan yang nyaman (terlalu panas), dan ketika diubah menjadi bangunan ber-AC maka bangunannya akan boros energi karena tidak dioptimalkan menjadi bangunan ber-AC.</p>
<p>Ketiga, masih dalam konteks pendidikan, pendidikan fisika bangunan sudah waktunya untuk masuk ke dalam kurikulum pendidikan arsitektur, bahkan kalau perlu ke dalam kurikulum pendidikan teknik secara umum.</p>
<p>Dari sisi desainer, terutama arsitek, membangun high-performance building bukanlah hal yang bisa dilakukan dengan pola kerja tradisional, yaitu pola kerja sekuensial arsitek, kemudian sipil/struktural, kemudian mekanikal/elektrikal. Pola kerja desainer haruslah berubah ke arah integrated design method, yang merangkum seluruh aspek bangunan, baik estetika, bentuk, struktur, mekanikal, elektrikal, sejak dari awal perancangan. Untuk perubahan yang fundamental inilah maka pendidikan fisika bangunan harus lebih diintegrasikan ke dalam studio desain dalam kurikulum arsitektur.</p>
<p>Dari sisi pengguna bangunan, high-performance building seringkali memerlukan pengguna bangunan yang tahu bagaimana mengoperasikan bangunannya. Banyak sekali high-performance building yang gagal mencapai target performansinya justru karena pengguna bangunan tidak tahu bagaimana mengoperasikan bangunannya. Memasukkan pendidikan fisika bangunan ke dalam kurikulum dasar teknik adalah hal yang sangat strategis mengingat nantinya insinyur-insinyur kita akan menjadi pengguna bangunan yang tahu bagaimana mengoperasikan bangunannya.</p>
<p>Ketiga, sejauh ini kita masih bisa bermewah-mewah dalam kehidupan kita yang boros energi. Benar sekali: bermewah-mewahan. Anda pernah betah duduk dalam sebuah pertemuan. misalnya, di hotel mewah hanya dengan berbaju lengan pendek? Hampir pasti kita kedinginan karena memang perancang kita sangat mudah untuk merancang berlebihan (over-design).  Sebab utamanya adalah karena murahnya harga energi kita. Harga listrik kita sebanding dengan tarif listrik termurah di AS.</p>
<p>Ada dua skenario yang akan menyebabkan kita tidak mampu lagi bermewah-mewahan membuang energi. Pertama, skenario yang lebih gradual, adalah naiknya harga energi. Apapun yang akan terjadi, harga energi pasti akan naik, sampai suatu saat kita tidak mampu lagi untuk membayar harga energi sesuai dengan standar kemewahan kita saat ini.  Skenario kedua jauh lebih mendadak, yaitu tidak mampunya PLN dalam mengejar lonjakan kebutuhan listrik. Skenario ini bukanlah tidak mungkin, mengingat pemadaman bergilir sudah menjadi kebiasaan saat ini.</p>
<p>Skenario yang sangat mungkin terjadi adalah kombinasi antara keduanya.  PLN akan sangat kewalahan dalam mengikuti lonjakan kebutuhan listrik, dan karena itu PLN juga harus menaikkan tarif listrik. Ujung-ujungnya, pemilik bangunan akan sangat kewalahan dalam mengoperasikan bangunannya yang sudah terlanjur dirancang sebagai bangunan mahal.</p>
<p>Terakhir sekali, sebagai penutup, kepada Ignatius saya titipkan pesan agar tidak ragu-ragu dalam menekuni bidang fisika bangunan. Tidak ada bangunan terkenal yang dirancang tanpa memperhatikan aspek fisika bangunannya. Hanya masalah waktu saja sampai akhirnya nanti bidang profesi ini akan mendapatkan tempatnya yang layak di dunia industri bangunan.  Jangan sampai salah pergaulan. Bila kawan-kawan anda masih mempertentangkan antara &#8220;desain arsitektural murni&#8221; dengan &#8220;fisika bangunan&#8221;, maka anda segeralah lari jauh-jauh dari pandangan yang sudah ketinggalan jaman ini.</p>
<p>Bainbridge Island, WA, 5 Juli 2007</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ery.djunaedy.com/archives/112/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

