<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Menuju kelas dunia dengan sistem PNS: laporan hari kedua</title>
	<atom:link href="http://ery.djunaedy.com/archives/98/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ery.djunaedy.com/archives/98</link>
	<description>renung</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 18:55:14 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<item>
		<title>By: Ery</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/98/comment-page-1#comment-16003</link>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Sep 2011 17:19:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/98#comment-16003</guid>
		<description>Mas Bentang, pemerintah memang investor terbesar ITB, tapi tidak harus ikut cawe-cawe dalam masalah rekrutmen. Saya ini adalah state employee di Amerika, tetapi surat pengangkatan saya cukup ditandatangani oleh wakil rektor, tidak perlu gubernur apalagi menteri. Rekrutmen dosen di Amerika sangatlah lokal sifatnya, dan ini yang saya pikir jadi masalah terbesar ITB.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Bentang, pemerintah memang investor terbesar ITB, tapi tidak harus ikut cawe-cawe dalam masalah rekrutmen. Saya ini adalah state employee di Amerika, tetapi surat pengangkatan saya cukup ditandatangani oleh wakil rektor, tidak perlu gubernur apalagi menteri. Rekrutmen dosen di Amerika sangatlah lokal sifatnya, dan ini yang saya pikir jadi masalah terbesar ITB.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Bentang</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/98/comment-page-1#comment-14131</link>
		<dc:creator>Bentang</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Jun 2011 13:56:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/98#comment-14131</guid>
		<description>Pak Ery ysh, 

saya ingin ikut nimbrung, meskipun artikel ini telah 3 tahun lebih. mungkin ITB (khususnya) dan Indonesia (umumnya) harus memperbaiki semua fasilitas (terutama fasilitas komunikasi) yang ada terlebih dahulu sebelum merekrut tipe dosen seperti Bapak. 

Selama menjadi mahasiswa di ITB, saya sendiri merasa sangat kesulitan saat dosen tidak ada secara fisik. mungkin sebaiknya kita juga melihat dari perspektif lain, terutama dari sisi mahasiswa..

kalau saya perhatikan ITB saat ini, kebanyakan dosen mengajar memang karena kecintaannya terhadap pendidikan dan ITB.. meskipun minim fasilitas dan banyak tawaran yang menggiurkan..

mengenai PNS, satu hal yang harus diakui bersama, bahwa investor terbesar ITB saat ini adalah pemerintah dengan segala fasilitas dan dukungan dananya. sehingga permasalahannya tidak sesederhana yang dijabarkan, perubahan tidak bisa hanya dari pihak ITB.

Salam

Bentang AB</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Ery ysh, </p>
<p>saya ingin ikut nimbrung, meskipun artikel ini telah 3 tahun lebih. mungkin ITB (khususnya) dan Indonesia (umumnya) harus memperbaiki semua fasilitas (terutama fasilitas komunikasi) yang ada terlebih dahulu sebelum merekrut tipe dosen seperti Bapak. </p>
<p>Selama menjadi mahasiswa di ITB, saya sendiri merasa sangat kesulitan saat dosen tidak ada secara fisik. mungkin sebaiknya kita juga melihat dari perspektif lain, terutama dari sisi mahasiswa..</p>
<p>kalau saya perhatikan ITB saat ini, kebanyakan dosen mengajar memang karena kecintaannya terhadap pendidikan dan ITB.. meskipun minim fasilitas dan banyak tawaran yang menggiurkan..</p>
<p>mengenai PNS, satu hal yang harus diakui bersama, bahwa investor terbesar ITB saat ini adalah pemerintah dengan segala fasilitas dan dukungan dananya. sehingga permasalahannya tidak sesederhana yang dijabarkan, perubahan tidak bisa hanya dari pihak ITB.</p>
<p>Salam</p>
<p>Bentang AB</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Firman</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/98/comment-page-1#comment-10659</link>
		<dc:creator>Firman</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Nov 2010 05:03:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/98#comment-10659</guid>
		<description>teu nyangka pisan pribados mah ITB teh siga kitu,pdahal eta universitas jadi cita2 ampir semua insan akademik...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>teu nyangka pisan pribados mah ITB teh siga kitu,pdahal eta universitas jadi cita2 ampir semua insan akademik&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: FIRDA</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/98/comment-page-1#comment-8317</link>
		<dc:creator>FIRDA</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 07:44:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/98#comment-8317</guid>
		<description>luar biasa ! suatu univ yang diagung2kan di luar Jawa, sampai2 lebih milih ITB dari pada univ di Jakarta, tapi ternyata...... . ITB, berbenah dong, jadilah contoh karena u sdh punya nama &quot;besar&quot;.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>luar biasa ! suatu univ yang diagung2kan di luar Jawa, sampai2 lebih milih ITB dari pada univ di Jakarta, tapi ternyata&#8230;&#8230; . ITB, berbenah dong, jadilah contoh karena u sdh punya nama &#8220;besar&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: theodolite</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/98/comment-page-1#comment-412</link>
		<dc:creator>theodolite</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 07:28:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/98#comment-412</guid>
		<description>salam kenal, informasi yang menarik. 


thanx :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>salam kenal, informasi yang menarik. </p>
<p>thanx <img src='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ery</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/98/comment-page-1#comment-327</link>
		<dc:creator>Ery</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Dec 2007 05:16:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/98#comment-327</guid>
		<description>@Dimas: Ha ha ha .... lucu sekali. Tapi sungguh, saya sadar ini Indonesia. Masak Malaysia saja &lt;em&gt;boleh&lt;/em&gt;, kenapa kita tidak bisa?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@Dimas: Ha ha ha &#8230;. lucu sekali. Tapi sungguh, saya sadar ini Indonesia. Masak Malaysia saja <em>boleh</em>, kenapa kita tidak bisa?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dimas</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/98/comment-page-1#comment-326</link>
		<dc:creator>dimas</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Dec 2007 03:34:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/98#comment-326</guid>
		<description>mas..mas...sadar (mengguncang-guncangkan badan).....ini Indonesia...;p</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mas..mas&#8230;sadar (mengguncang-guncangkan badan)&#8230;..ini Indonesia&#8230;;p</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: T. Djamal</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/98/comment-page-1#comment-325</link>
		<dc:creator>T. Djamal</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Dec 2007 11:02:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/98#comment-325</guid>
		<description>Terusik juga saya menanggapi di sini (setelah di milis), setelah membaca tanggapan pembaca tentang kehadiran fisik. Infra struktur kita (termasuk ITB) belum siap kerja tanpa kehadiran fisik. Andaikan kehadiran fisik bukan prasyarat penilaian kinerja dosen, bayangkan bila kita sendiri jadi mahasiswanya. Saya ingin punya dosen luar biasa, tidak ingin punya dosen yang &quot;biasa di luar&quot; :-)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terusik juga saya menanggapi di sini (setelah di milis), setelah membaca tanggapan pembaca tentang kehadiran fisik. Infra struktur kita (termasuk ITB) belum siap kerja tanpa kehadiran fisik. Andaikan kehadiran fisik bukan prasyarat penilaian kinerja dosen, bayangkan bila kita sendiri jadi mahasiswanya. Saya ingin punya dosen luar biasa, tidak ingin punya dosen yang &#8220;biasa di luar&#8221; <img src='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Vivi Fauzia</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/98/comment-page-1#comment-321</link>
		<dc:creator>Vivi Fauzia</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 08:11:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/98#comment-321</guid>
		<description>Kang Erry, baru tahu ya kalo Indonesia masih jaman purba ... he he he...

Sebenarnya ITB masih lumayan lebih baik daripada PTN lain, baik dari sisi managemen keuangan, pendidikan maupun risetnya. Kalo lihat yang lain, misalnya tempat kerjaku.. wualllah... lebih lucu lagi

Aturan penerimaan CPNS seperti puncak gunung es dari sekian aturan purba yang mungkin akan sangat terasa aneh.  Seperti tempat kerjaku, sistem kehadiran gaya buruh pabrik memang masih digunakan karena itulah yang paling gampang dan cepat terutama untuk perhitungan honor tambahan.  Banyak usaha dilakukan bukan untuk membentuk parameter mengukur kinerja, tetapi yang diutak-atik justru sifatnya teknis banget, misalnya dari &#039;ceklok&#039; ke fingerprint, karena banyak yang suka titip absen sama yang pulang sore , kemudian jam kerja juga dibatasi cuma dari jam 7 hingga jam 5 walaupun dosen kerja lembur juga nggak dianggap kerja, atau jumlah total jam kerja minimum agar dapat honor, ah pokoknya aneh bin ajaib... tapi ada yang lebih aneh.... koq mau-maunya ya saya masih tetap kerja sampai sekarang.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kang Erry, baru tahu ya kalo Indonesia masih jaman purba &#8230; he he he&#8230;</p>
<p>Sebenarnya ITB masih lumayan lebih baik daripada PTN lain, baik dari sisi managemen keuangan, pendidikan maupun risetnya. Kalo lihat yang lain, misalnya tempat kerjaku.. wualllah&#8230; lebih lucu lagi</p>
<p>Aturan penerimaan CPNS seperti puncak gunung es dari sekian aturan purba yang mungkin akan sangat terasa aneh.  Seperti tempat kerjaku, sistem kehadiran gaya buruh pabrik memang masih digunakan karena itulah yang paling gampang dan cepat terutama untuk perhitungan honor tambahan.  Banyak usaha dilakukan bukan untuk membentuk parameter mengukur kinerja, tetapi yang diutak-atik justru sifatnya teknis banget, misalnya dari &#8216;ceklok&#8217; ke fingerprint, karena banyak yang suka titip absen sama yang pulang sore , kemudian jam kerja juga dibatasi cuma dari jam 7 hingga jam 5 walaupun dosen kerja lembur juga nggak dianggap kerja, atau jumlah total jam kerja minimum agar dapat honor, ah pokoknya aneh bin ajaib&#8230; tapi ada yang lebih aneh&#8230;. koq mau-maunya ya saya masih tetap kerja sampai sekarang.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: AUGI</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/98/comment-page-1#comment-319</link>
		<dc:creator>AUGI</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 02:23:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/98#comment-319</guid>
		<description>Ass.Wr.Wb. 

Membandingkan Universitas kelas dunia, paling cocok negara yang mempunyai populasi banyak, Amerika Serikat dan India. Prasyaratan pertemuan dan tatap muka lebih banyak, jadi seorang dosen harus mudah ditemui oleh mahasiswa, masyarakat, bisnis, industri dan regulator. 

Bila seorang dosen terlalu sering berpindah tempat akan sulit dijangkau masyarakat. Pemanfaatan video conference merupakan alat bantu apabila sedang melakukan lawatan ke suatu tempat, menjadi utama seorang dosen dekat dengan kampus.

Pengembangan infrastrukktur di kampus untuk menyediakan hotspot broadband, ruang web conference, warnet, perpustakaan+PC bisa dimanfaatkan mahasiswa yg tidak memiliki notebook.

Wallahu Alam B

Wass.Wr.Wb.
A U G I</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ass.Wr.Wb. </p>
<p>Membandingkan Universitas kelas dunia, paling cocok negara yang mempunyai populasi banyak, Amerika Serikat dan India. Prasyaratan pertemuan dan tatap muka lebih banyak, jadi seorang dosen harus mudah ditemui oleh mahasiswa, masyarakat, bisnis, industri dan regulator. </p>
<p>Bila seorang dosen terlalu sering berpindah tempat akan sulit dijangkau masyarakat. Pemanfaatan video conference merupakan alat bantu apabila sedang melakukan lawatan ke suatu tempat, menjadi utama seorang dosen dekat dengan kampus.</p>
<p>Pengembangan infrastrukktur di kampus untuk menyediakan hotspot broadband, ruang web conference, warnet, perpustakaan+PC bisa dimanfaatkan mahasiswa yg tidak memiliki notebook.</p>
<p>Wallahu Alam B</p>
<p>Wass.Wr.Wb.<br />
A U G I</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

