December 1st, 2007
# 4:37 pm
25 comments
Menuju kelas dunia dengan sistem PNS: laporan hari kedua
Saya sangat terkejut mendengar berita sekaligus pertanyaan dari pewawancara. Kata beliau: “Seleksi CPNS kali mewajibkan semua pelamar yang terpilih untuk mulai bekerja pada 1 Januari. Semua CPNS wajib hadir dan menandatangani absen setiap hari selama setahun. Setelah setahun baru kemudian akan diangkat menjadi PNS bila hasil evaluasi kinerjanya baik. Apakah anda siap untuk hadir pada tgl 1 Januari?”.
Saya benar-benar termenung mendengar informasi baru ini. Kok ITB melakukan rekrutmen dosen sama seperti melakukan rekrutmen sopir, hari ini wawancara besok mulai kerja? Artikel ini masih melanjutkan topik kemarin, yaitu mengulas masalah status PNS yang menghambat laju ITB menjadi pemain kelas dunia.
Siklus rekrutmen universitas
Kalau saja benar bahwa aturan itu (bahwa CPNS dosen ITB harus hadir pada 1 Januari 2008) memang ada, maka siapapun yang membuat aturan ini memang terbiasa merekrut sopir, tapi belum pernah merekrut dosen. Universitas di manapun selalu mempunyai siklus utama yang sama yaitu tahun ajaran/akademik. Dalam rekrutmen dosen di manapun (kecuali rekrutmen dosen CPNS), kalau wawancaranya bulan November maka kandidat akan diminta mulai bekerja paling cepat tahun ajaran berikutnya, yaitu bulan Agustus/September berikutnya. Itu minimal.
Di universitas kelas dunia yang terkenal seperti Harvard, waktu tunggu dua tahun itu biasa. Kenapa biasa? Universitas kelas dunia seperti itu, yang mereka terima pun kandidat yang reputasinya kelas dunia. Kandidat seperti itu tidak akan mungkin bisa bergabung di tempat baru dalam hitungan dua-tiga bulan.
Bagaimana mungkin bisa? Ketika menghadiri wawancara, sang kandidat masih terdaftar sebagai staf pengajar di universitasnya saat itu. Di semester berikutnya pun dia masih punya kuliah yang harus diajarkan. Kuliah itu tidak mungkin bisa dibatalkan begitu saja semata-mata hanya karena sang kandidat dapat kerja di ITB. Baru di tahun ajaran berikutnya dia tidak lagi tercantum sebagai pengajar mata kuliah.
Tapi urusannya tidak selesai di situ, masih ada proyek penelitian. Sebagian besar penyandang dana ingin agar sang kandidat menyelesaikan proyek penelitian itu di institusi yang lama. Apalagi kalau institusi yang lama juga terlibat dalam pendanaan. Proyek penelitian ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Kalau sang kandidat melarikan diri dari proyek sebelum selesai, tentu saja namanya jadi jelek di kalangan dunia penelitian. Kalau ini terjadi, ITB pun tidak ingin menerima kandidat yang seperti itu.
Karena itu jawaban saya kepada pewawancara adalah tegas: tidak bisa! Tidak mungkin saya hadir secara fisik di ITB pada mulai tanggal 1 Januari 2008 sementara saya masih harus memberi kuliah di spring semester yang dimulai bulan Januari mendatang.
Kalau benar memang ada aturan seperti itu, coba anda bayangkan siapa sih yang bisa memenuhi aturan itu? Kelompok pertama adalah kelompok “maganger”, yaitu mereka yang memang sudah “magang” jadi staf pengajar di ITB walaupun tanpa status PNS. Mereka ini tanpa disuruh pun memang sudah ada di ITB. Kelompok kedua adalah mereka yang memang baru lulus S3 dan masih mencari kerja. Di luar kedua kelompok ini, sulit rasanya membayangkan ada seseorang dengan kualifikasi S3 dan bisa dengan mudah hadir untuk mulai bekerja pada tanggal 1 Januari 2008.
Sekali lagi, kalau memang benar ada aturan seperti itu. Bisa jadi pertanyaan itu adalah karangan pewawancara yang ditanyakan sebagai trik wawancara. Tapi sekalipun itu adalah trik wawancara, saya ingin menggarisbawahi satu hal tentang sistem rekrutmen dosen CPNS: bahwa kerangka waktu dan tata cara rekrutmen tidak sepenuhnya dikontrol oleh ITB, tetapi masih diatur oleh sistem seleksi CPNS.
Ini tentu saja menghambat langkah ITB untuk menjadi pemain kelas dunia. Banyak sekali sebenarnya ilmuwan Indonesia yang bekerja di berbagai institusi di seluruh dunia yang ingin pulang untuk bekerja di ITB. Tetapi aturan-aturan yang dibuat oleh sistem seleksi CPNS sungguh sangat merepotkan bagi mereka yang sudah terbiasa mengirimkan lamaran lewat email dan wawancara lewat video conference.
Hari gini masih tanda tangan absen?
Hal kedua yang membuat saya terkejut dari informasi pewawancara adalah masalah tanda tangan absen. Apa benar ITB masih mewajibkan tanda tangan daftar hadir bagi para dosen? Di jaman internet ini masih tanda tangan absen?
Saya sejak bekerja sebagai asisten di National University of Singapore hampir sepuluh tahun yang lalu, dan kemudian pindah ke beberapa universitas lain di tiga benua, saya tidak pernah lagi menandatangani daftar hadir setiap hari. Lhah, kok di ITB masih aturan jaman baheula ini ternyata masih berlaku?
Yang membuat saya lebih terperangah adalah pendapat sang pewawancara yang mengatakan bahwa kehadiran secara fisik itu tentu agar kinerjanya bisa dinilai. Sejak kapan kinerja itu dikaitkan dengan kehadiran secara fisik. Mungkin untuk supir ini masih berlaku, tetapi untuk dosen ini aturan jaman purba yang sudah harus ditinggalkan.
Dalam teori SDM kontemporer, kinerja seseorang itu tidak berkaitan dengan kehadirannya secara fisik di suatu tempat tertentu. Teori ini diimplementasikan di banyak negera maju yang membolehkan pegawainya untuk bekerja di rumah, tidak perlu pergi ke kantor.
Di Belanda, pegawai universitas termasuk dosen diberi kemudahan dalam bentuk kredit komputer, agar pegawai tersebut dapat thuiswerken, bekerja di rumah. Di Amerika bahkan ada program yang membolehkan pegawai negeri (state employee) untuk bekerja di rumah untuk mengurangi kemacetan lalu lintas.
Dalam kesempatan kali inipun, ketika harus pulang ke Indonesia untuk seleksi CPNS, status saya adalah tetap bekerja (tidak cuti). Saya bisa bekerja di mana saja asal ada komputer dan koneksi internet. Kalau harus meeting bagaimana? Tinggal cari hubungan internet yang cukup kencang, terus pakai fasilitas conference call dari Skype, gratis lagi. Dengan cara begitu saya bisa asik bekerja sambil ngopi di Starbucks di BIP, sambil menikmati koneksi internet gratis dari Melsa.
Tentu saja bukan berarti saya bisa seenaknya saja bekerja tanpa laporan. Saya tetap harus melaporkan, lagi-lagi lewat internet (tanpa perlu hadir dan tanda tangan), sudah berapa jam saya bekerja dan untuk proyek yang mana.
Untuk kalangan profesional seperti dosen, sudah tidak jamannya lagi mengisi daftar hadir dengan tanda tangan setiap hari. Kinerja dosen bisa dengan mudah diukur tanpa harus memakai tanda tangan. Bukankah kita sudah punya standar output yang dijadikan ukuran kinerja?
Mari kita lihat. Output di bidang pengajaran adalah kehadiran di kelas. Sekali lagi, kehadiran di kelas pun tidak mengharuskan dosen dan mahasiswa berada di ruangan yang sama. Mahasiswa bisa di Bandung, dosen bisa di rumahnya di Amerika (sambil pakai piyama karena di Amerika sudah malam kalau di Bandung siang). Di Amerika pun, bahkan dalam universitas yang sama, lab kami di Boise mengadakan kuliah yang dihadiri oleh mahasiswa di kota lain lewat video streaming.
Mahasiswa tetap wajib menghadiri kuliah, dosen tetap wajib memberi kuliah, tetapi keduanya tidak harus berada di ruangan yang sama. Lhah, inikan jaman internet.
Bagaimana mengukur kinerjanya? Kan sudah ada evaluasi mahasiswa, di mana mahasiswa wajib melakukan evaluasi terhadap kinerja dosen sebelum sang mahasiswa mengikuti ujian. Dosen yang sering membatalkan kuliah akan kena hajar dalam evaluasi. Kan juga ada hasil ujian, yang bisa dievaluasi oleh dosen yang lain (peer-review).
Output di bidang penelitian tentu lebih mudah lagi dalam melihat kinerjanya. Ada tidak laporan penelitiannya, baik laporan perkembangan maupun laporan akhir? Ada tidak publikasi yang dihasilkan dari penelitian itu? Kalau ada bagaimana kualitas medium publikasinya? Kalau hasil penelitiannya dimuat di jurnal internasional, tentu sudah jelas bahwa penelitian itu berhasil dengan baik, karena artikel di jurnal internasional sudah di-review oleh reviewer internasional pula.
Output di bidang pengabdian masyarakat pun tidak sulit untuk mengukur kinerjanya. Dan yang paling penting, kesemua kinerja itu bisa diukur tanpa perlu hadir dan menandatangani daftar hadir setiap hari.
Kontribusi jarak jauh
Sang pewawancara masih kurang puas dan terus mengejar dengan pertanyaan, “Kalau ITB memerlukan anda sebelum anda bisa hadir di Bandung, apa yang akan anda lakukan?” Di titik ini kita semua harus bertanya, apa tugas dosen ITB yang tidak bisa dilakukan dari luar Bandung?
Mari kita ambil contoh: bimbingan tugas akhir. Di jaman internet ini, bimbingan tugas akhir bisa dilakukan online dari mana saja. Tanpa diketahui sang pewawancara pun, saya sudah melakukan bimbingan tugas akhir untuk mahasiswa ITB sejak semester lalu. Dan itu saya lakukan sementara saya bekerja di Amerika.
Dengan fasilitas dari Skype, saya hanya perlu sekitar empat dolar untuk berbicara selama seratus menit ke Bandung, sedikit lebih mahal dibandingkan dengan segelas kopi di Starbucks. Selama berbicara, sayapun dapat melihat layar komputer mereka, dan mereka bisa melihat layar komputer saya, sehingga diskusi bisa lancar.
Contoh yang lain: kuliah jarak jauh. Ini sudah dibahas di atas, secara teknologi sudah mungkin dilakukan dengan harga murah. ITB punya banyak alumni yang jadi pakar di bidangnya masing-masing yang tersebar di seluruh dunia. Kalau ITB sampai saat ini belum pernah meminta mereka untuk menjadi dosen tamu, ini saja sudah menjadi suatu kemubaziran.
Fungsi administratif sajalah yang mungkin paling sulit dilakukan dari jarak jauh, walaupun tidak mustahil. Sudah banyak contoh-contoh yang menunjukkan bahwa fungsi administratif bisa dilakukan secara jarak jauh.
Bahwa kemungkinan kontribusi jarak jauh seperti ini masih dipertanyakan di ITB, ini justru menjadi tanda tanya besar. Misalnya, mengapa ITB belum punya pusat komunikasi yang memungkinkan kuliah dan pertemuan jarak jauh? Semuanya ini harus sudah menjadi perlengkapan standar bila ITB ingin menjadi universitas kelas dunia.
Sebagai penutup saya perlu menjelaskan satu hal, yaitu mengapa saya menuliskan semua hal di atas? Jawabannya tentu saja bukan untuk menjustifikasi agar saya diterima sebagai dosen ITB sekalipun tidak bisa segera mulai bekerja dalam waktu dekat. (Walaupun saya akan bersyukur sekali kalau bisa diterima). Alasan yang lebih penting lagi adalah karena saya ingin menunjukkan bahwa sistem CPNS lebih banyak menjadi penghambat bagi ITB dalam meraih cita-citanya menjadi universitas kelas dunia.
Tanpa terkait dengan sistem PNS, ITB akan lebih terbuka dalam menentukan sistem seleksi, sistem promosi, serta sistem SDM secara umum, yang lebih mencerminkan praktek-praktek terbaik dari universitas kelas dunia. Bukan mencerminkan sistem yang sangat tidak efisien, seperti sistem SDM a la pegawai negeri sipil.
This entry receives 25 comments.
tampaknya sistem rekrutmen PNS nya yang mesti diubah. Karena PNS berarti digaji oleh APBN.
Btw, apakah ITB juga merekrut staf dosen BHMN (non PNS)?
Daripada ikut prosedur ajaib PNS, mungkin lebih baik ikut rekrutmen BHMN karena (seharusnya) lebih logis karena dibawah kontrol BHMN ybs sendiri.
salam buat lintang ya..
Dec 9, 2007 at 1:14 am
Oom Ery,
simpel jawapannya…
sekali lagi krn satu hal: miskin!
Dec 9, 2007 at 2:35 am
Cerita-cerita seperti ini perlu dilempar ke forum seperti IA ITB. Salah satu program ketua (yang baru) terpilih adalah menjadikan ITB sebagai world class university. Boleh diforward Kang Ery?
Dec 9, 2007 at 3:04 am
kerennya pendapat Pak Eri, menyedihkannya sistem pendidikan di Indonesia. Itu ITB, bayangkan yang terjadi di Sekolah2 dari SD – SMA. Pasti lebih parah kan?
Selamat berjuang!!!!
Dec 9, 2007 at 5:32 am
@fau: sistem PNS memang harus diubah, anyway. Tapi kalau ITB harus menunggu itu, kan sayang waktunya. Apakah ITB akan merekrut dosen BHMN? Eventually yes, tapi saya tidak tahu kapan. Sekarangpun, semua kandidat CPNS harus menandatangani pernyataan di atas segel bersedia dialihkan statusnya dari PNS menjadi pegawai ITB.
Dec 9, 2007 at 6:51 am
@Zalfany: silakan!
Dec 9, 2007 at 6:51 am
Wakakak…! Ternyata ITB yang menjadi gudangnya orang pintar se Indonesia dikelola oleh birokrat kelas kacangan. Pantas selama ini tidak bunyi di tataran internasional. Sudahlah! Lupakan bicara muluk tentang world class university. Kalau ini almamater saya maka saya akan malu berat. Untungnya saya bukan alumni ITB.
Mosok manajemen yang katanya mau menuju world class university tidak bisa belajar tata cara rekrutmen dari universitas kelas dunia lainnya dan justru melanjutkan tatacara kelas kambing yang sudah terbukti gagal macam begitu.
Saya berduka untuk Anda dan ITB, Kang Ery. Tapi saya harap Anda tidak patah arang dan justru menganggap ini sebagai tantangan untuk mulai mengadakan perubahan di ITB. Never retreat! Sebarkan ini dan galang opini. Ajak para alumni untuk mulai menggerakkan perubahan dari luar.
Salam
Satria
Dec 9, 2007 at 6:46 pm
nggak heran pakar internet Onno W Purbo mengundurkan diri dari ITB
Dec 9, 2007 at 8:14 pm
he he he, tulisan yang menarik bang ery.
mudah2an pas aku ngelamar ke-itb, system-nya sudah berubah, jadi ndak perlu ngerasain proses yang laiknya menerima “sopir”
Dec 9, 2007 at 9:00 pm
Kenapa sih kok kehadiran dipentingkan banget?
Mesti ada apa-apanya. Mungkin di masa dulu banyak dosen tidak hadir, tidak pamit, dan juga tidak ada laporan alias ‘mabal’.
Mungkin loooh… maklum saya ndak kuliah di ITB
Dec 10, 2007 at 2:30 am
Kang,
ane turut prihatin. saya pernah menulis unek2 yg sama di milist ia-itb.tapi tak ada yg menanggapi.dibagian akhir tulisan saya tulis, itb adalah salah satunya universitas ‘kelas dunia’ yg mewajibkan calon ass.professornya membawa pinsil dan rautan dalam seleksi.
ahdar
maastricht
Dec 10, 2007 at 7:09 am
Tulisan seperti ini *pasti* dibaca oleh rekan-rekan di ITB. Tapi, soal ditanggapi atau bahkan dimengerti … lain soal. he he he.
Dec 10, 2007 at 4:08 pm
Sabar, Kang….tetep semangat!
Oh ya, selamat ketemu kembali, sekalipun “tidak secara fisik”. Jaman internet gitu loh!
Kapan-kapan ketemu secara fisik ya, nostalgia jaman dulu waktu di KARISMA. Masih ingat “kuliah malam” yang heboh itu?
Dec 10, 2007 at 6:37 pm
Mas Ery,
saya pikir recruiter dosen ITB harus belajar banyak, dan terutama, harus menyeragamkan visi, kalo itb mau maju, harus berubah. Fleksibel.
Banyak kesenjangan2 (selain finansial) yang terjadi antara dunia alumni yg sudah keluar dari kampus dengan dunia kampus ITB. Terutama “cara”.
So, mungkin ini bisa diforward ke pak KK atau rektor saat ini Pak Djoko, barangkali bisa mengubah arah untuk bisa menjadi lebih maju dan profesional.
Salam
Mukhlason
T Penerbangan 1999
Dec 10, 2007 at 7:06 pm
ya begini lah pak…. welcome to our lovely republik..
Dec 10, 2007 at 7:16 pm
Ass.Wr.Wb.
Membandingkan Universitas kelas dunia, paling cocok negara yang mempunyai populasi banyak, Amerika Serikat dan India. Prasyaratan pertemuan dan tatap muka lebih banyak, jadi seorang dosen harus mudah ditemui oleh mahasiswa, masyarakat, bisnis, industri dan regulator.
Bila seorang dosen terlalu sering berpindah tempat akan sulit dijangkau masyarakat. Pemanfaatan video conference merupakan alat bantu apabila sedang melakukan lawatan ke suatu tempat, menjadi utama seorang dosen dekat dengan kampus.
Pengembangan infrastrukktur di kampus untuk menyediakan hotspot broadband, ruang web conference, warnet, perpustakaan+PC bisa dimanfaatkan mahasiswa yg tidak memiliki notebook.
Wallahu Alam B
Wass.Wr.Wb.
A U G I
Dec 10, 2007 at 7:23 pm
Kang Erry, baru tahu ya kalo Indonesia masih jaman purba … he he he…
Sebenarnya ITB masih lumayan lebih baik daripada PTN lain, baik dari sisi managemen keuangan, pendidikan maupun risetnya. Kalo lihat yang lain, misalnya tempat kerjaku.. wualllah… lebih lucu lagi
Aturan penerimaan CPNS seperti puncak gunung es dari sekian aturan purba yang mungkin akan sangat terasa aneh. Seperti tempat kerjaku, sistem kehadiran gaya buruh pabrik memang masih digunakan karena itulah yang paling gampang dan cepat terutama untuk perhitungan honor tambahan. Banyak usaha dilakukan bukan untuk membentuk parameter mengukur kinerja, tetapi yang diutak-atik justru sifatnya teknis banget, misalnya dari ‘ceklok’ ke fingerprint, karena banyak yang suka titip absen sama yang pulang sore , kemudian jam kerja juga dibatasi cuma dari jam 7 hingga jam 5 walaupun dosen kerja lembur juga nggak dianggap kerja, atau jumlah total jam kerja minimum agar dapat honor, ah pokoknya aneh bin ajaib… tapi ada yang lebih aneh…. koq mau-maunya ya saya masih tetap kerja sampai sekarang.
Dec 11, 2007 at 1:11 am
Terusik juga saya menanggapi di sini (setelah di milis), setelah membaca tanggapan pembaca tentang kehadiran fisik. Infra struktur kita (termasuk ITB) belum siap kerja tanpa kehadiran fisik. Andaikan kehadiran fisik bukan prasyarat penilaian kinerja dosen, bayangkan bila kita sendiri jadi mahasiswanya. Saya ingin punya dosen luar biasa, tidak ingin punya dosen yang “biasa di luar”
Dec 13, 2007 at 4:02 am
mas..mas…sadar (mengguncang-guncangkan badan)…..ini Indonesia…;p
Dec 13, 2007 at 8:34 pm
@Dimas: Ha ha ha …. lucu sekali. Tapi sungguh, saya sadar ini Indonesia. Masak Malaysia saja boleh, kenapa kita tidak bisa?
Dec 13, 2007 at 10:16 pm
salam kenal, informasi yang menarik.
thanx
Mar 27, 2008 at 12:28 am
luar biasa ! suatu univ yang diagung2kan di luar Jawa, sampai2 lebih milih ITB dari pada univ di Jakarta, tapi ternyata…… . ITB, berbenah dong, jadilah contoh karena u sdh punya nama “besar”.
Apr 19, 2010 at 12:44 am
teu nyangka pisan pribados mah ITB teh siga kitu,pdahal eta universitas jadi cita2 ampir semua insan akademik…
Nov 4, 2010 at 10:03 pm
Pak Ery ysh,
saya ingin ikut nimbrung, meskipun artikel ini telah 3 tahun lebih. mungkin ITB (khususnya) dan Indonesia (umumnya) harus memperbaiki semua fasilitas (terutama fasilitas komunikasi) yang ada terlebih dahulu sebelum merekrut tipe dosen seperti Bapak.
Selama menjadi mahasiswa di ITB, saya sendiri merasa sangat kesulitan saat dosen tidak ada secara fisik. mungkin sebaiknya kita juga melihat dari perspektif lain, terutama dari sisi mahasiswa..
kalau saya perhatikan ITB saat ini, kebanyakan dosen mengajar memang karena kecintaannya terhadap pendidikan dan ITB.. meskipun minim fasilitas dan banyak tawaran yang menggiurkan..
mengenai PNS, satu hal yang harus diakui bersama, bahwa investor terbesar ITB saat ini adalah pemerintah dengan segala fasilitas dan dukungan dananya. sehingga permasalahannya tidak sesederhana yang dijabarkan, perubahan tidak bisa hanya dari pihak ITB.
Salam
Bentang AB
Jun 14, 2011 at 6:56 am
Mas Bentang, pemerintah memang investor terbesar ITB, tapi tidak harus ikut cawe-cawe dalam masalah rekrutmen. Saya ini adalah state employee di Amerika, tetapi surat pengangkatan saya cukup ditandatangani oleh wakil rektor, tidak perlu gubernur apalagi menteri. Rekrutmen dosen di Amerika sangatlah lokal sifatnya, dan ini yang saya pikir jadi masalah terbesar ITB.
Sep 5, 2011 at 10:19 am
Your feedback, please...