<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Menuju kelas dunia dengan sistem PNS: laporan hari pertama</title>
	<atom:link href="http://ery.djunaedy.com/archives/97/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ery.djunaedy.com/archives/97</link>
	<description>renung</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 18:55:14 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<item>
		<title>By: Masboko</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/97/comment-page-1#comment-15529</link>
		<dc:creator>Masboko</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 02:36:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/97#comment-15529</guid>
		<description>Alhamdulillah ada pencerahan bagi saya, yang sudah lebih dari 25 tahun mengabdi menjadi PNS di Bengkulu. Proses lamaran seperempat abad yang lalu seingat saya sama dengan yang dialamai oleh Pak Ery. Hanya waktu itu belum ada TBS. Ee..sekarang saya ikut mengurusi kepanitiaan CPNS, bagian tes. Kebanyakan yang dilihat adalah Ijazah (bidang keahliannya), jika instansi membutuhkan biasanya ybs, dipanggil untuk mengikuti tes CPNS sesuai prosedur yang ditetapkan.Ada dua tes yaitu tertulis dan wawancara. Test tertulis mencakup TPU dan TBS (dari PUSAT), sedangkan wawancara dan tes psikologi dilakukan untuk mengetahui syarat minimal bagi pelamar, apakah pelamar, &quot;pantas&quot; untuk mengajar &quot;mahasiswa&quot;, dan apakah komitmennya bagus. Komitmen diperlukan agar pelamar, jika diterima tidak &#039;melarikan&quot; diri. Namun intinya saya SANGAT SETUJU dengan &quot;komplin&quot; Pak Ery, karena eranya sudah teknologi informasi yang begitu canggih,kok masih konvensional caranya, yang ujung-ujungnya, sangat boros, dan proses lama... DAN SANGAT SETUJU JIKA  SISTEM PENERIMAAN CPNS DIUBAH SEGERA..!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah ada pencerahan bagi saya, yang sudah lebih dari 25 tahun mengabdi menjadi PNS di Bengkulu. Proses lamaran seperempat abad yang lalu seingat saya sama dengan yang dialamai oleh Pak Ery. Hanya waktu itu belum ada TBS. Ee..sekarang saya ikut mengurusi kepanitiaan CPNS, bagian tes. Kebanyakan yang dilihat adalah Ijazah (bidang keahliannya), jika instansi membutuhkan biasanya ybs, dipanggil untuk mengikuti tes CPNS sesuai prosedur yang ditetapkan.Ada dua tes yaitu tertulis dan wawancara. Test tertulis mencakup TPU dan TBS (dari PUSAT), sedangkan wawancara dan tes psikologi dilakukan untuk mengetahui syarat minimal bagi pelamar, apakah pelamar, &#8220;pantas&#8221; untuk mengajar &#8220;mahasiswa&#8221;, dan apakah komitmennya bagus. Komitmen diperlukan agar pelamar, jika diterima tidak &#8216;melarikan&#8221; diri. Namun intinya saya SANGAT SETUJU dengan &#8220;komplin&#8221; Pak Ery, karena eranya sudah teknologi informasi yang begitu canggih,kok masih konvensional caranya, yang ujung-ujungnya, sangat boros, dan proses lama&#8230; DAN SANGAT SETUJU JIKA  SISTEM PENERIMAAN CPNS DIUBAH SEGERA..!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: iman</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/97/comment-page-1#comment-13623</link>
		<dc:creator>iman</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 May 2011 01:28:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/97#comment-13623</guid>
		<description>kalau mau mengabdi pasti ikhlas, kalau ikhlas pasti gak sakit hati.
jabatan akademik, status dkk hanya penghambat yang diciptakan para penyembah peodalisme.
jadi semangat aja pak gak usah kabur lagi keluar negri. saya dah hampil 10 tahun ngajar tanpa jabatan akademik, tanpa status PNS, baik-baik aja, bisa makan, bisa minum dan bisa marahin rektor tanpa takut dipecat, karena gak pernah diangkat :))</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kalau mau mengabdi pasti ikhlas, kalau ikhlas pasti gak sakit hati.<br />
jabatan akademik, status dkk hanya penghambat yang diciptakan para penyembah peodalisme.<br />
jadi semangat aja pak gak usah kabur lagi keluar negri. saya dah hampil 10 tahun ngajar tanpa jabatan akademik, tanpa status PNS, baik-baik aja, bisa makan, bisa minum dan bisa marahin rektor tanpa takut dipecat, karena gak pernah diangkat <img src='http://ery.djunaedy.com/blog/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Arif</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/97/comment-page-1#comment-10927</link>
		<dc:creator>Arif</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Nov 2010 15:33:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/97#comment-10927</guid>
		<description>@anton
1. Memang sebagai aparat pemerintah yang &#039;bekerja untuk rakyat&#039;, pengenalan akan kebangsaan itu penting. Namun sebagai calon dosen bukankah lebih baik &#039;pengetahuan umum&#039; tersebut lebih dikaitkan dengan bidang ilmunya. Toh, dengan niat berbagi ilmu dari &#039;negeri seberang&#039; itu sudah hal yang mulia.
2. Tes TBS itu memang tes yang bagus. Sayangya untuk level perekrutan dosen apakah itu bukan tindakan membuang-buang uang saja? Saya yakin mendapat titel &#039;master&#039; apalagi &#039;doktor&#039; sudah bukti kemampuan logika maupun analisis seseorang. Apalagi dengan pengakuan universitas dunia, sudah cukup itu.

Kesimpulannya memang ITB sebaiknya menjadi BHMN mandiri. Sehingga tidak perlu mengikuti cara perekrutan PNS. Jangan sampai menjadi dosen ITB saja ada &#039;&#039;bimbingan belajar&#039;&#039; nya juga....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@anton<br />
1. Memang sebagai aparat pemerintah yang &#8216;bekerja untuk rakyat&#8217;, pengenalan akan kebangsaan itu penting. Namun sebagai calon dosen bukankah lebih baik &#8216;pengetahuan umum&#8217; tersebut lebih dikaitkan dengan bidang ilmunya. Toh, dengan niat berbagi ilmu dari &#8216;negeri seberang&#8217; itu sudah hal yang mulia.<br />
2. Tes TBS itu memang tes yang bagus. Sayangya untuk level perekrutan dosen apakah itu bukan tindakan membuang-buang uang saja? Saya yakin mendapat titel &#8216;master&#8217; apalagi &#8216;doktor&#8217; sudah bukti kemampuan logika maupun analisis seseorang. Apalagi dengan pengakuan universitas dunia, sudah cukup itu.</p>
<p>Kesimpulannya memang ITB sebaiknya menjadi BHMN mandiri. Sehingga tidak perlu mengikuti cara perekrutan PNS. Jangan sampai menjadi dosen ITB saja ada &#8221;bimbingan belajar&#8221; nya juga&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: anton ganesha</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/97/comment-page-1#comment-798</link>
		<dc:creator>anton ganesha</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Jan 2009 01:14:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/97#comment-798</guid>
		<description>Suatu alat tes disusun punya tujuan dan metode pengukuran juga sudah sisusn sedemikian rupa. 
1. Untuk Materi TPU (ada Pancasila, UUD, Kebijakan Pemerintah, Sejarah Indonesia dll) maksudnya adalah kalau anda sebagai PNS yang ditempatkan berkarya di ITB setidaknya harus tahu negara negara anda karena memang anda calon abdi negara (ibarat melamar gadis tapi tidak kenal dengan ybs maka bisa diusir sama orang tuanya dan diumpat sama sang gadis pujaan karena tidak kenal kok berani melamar).
2. Tes Bakat Skolastik itu diambil dari amerika yang aslinya namanya SAT yang tujuannya untuk mengetahui sejauh mana kemampuan logika dan analisis anda dalam hal analisis verbal, analisis kuantitatif dan logika/penalaran. Banyak lho lulusan dari PTN dan IPK tinggi tapi hanya hafalan saja dan jadi dosen ternyata tidak berkembang. coba klik gpsjakarta.com saya alumni sana</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu alat tes disusun punya tujuan dan metode pengukuran juga sudah sisusn sedemikian rupa.<br />
1. Untuk Materi TPU (ada Pancasila, UUD, Kebijakan Pemerintah, Sejarah Indonesia dll) maksudnya adalah kalau anda sebagai PNS yang ditempatkan berkarya di ITB setidaknya harus tahu negara negara anda karena memang anda calon abdi negara (ibarat melamar gadis tapi tidak kenal dengan ybs maka bisa diusir sama orang tuanya dan diumpat sama sang gadis pujaan karena tidak kenal kok berani melamar).<br />
2. Tes Bakat Skolastik itu diambil dari amerika yang aslinya namanya SAT yang tujuannya untuk mengetahui sejauh mana kemampuan logika dan analisis anda dalam hal analisis verbal, analisis kuantitatif dan logika/penalaran. Banyak lho lulusan dari PTN dan IPK tinggi tapi hanya hafalan saja dan jadi dosen ternyata tidak berkembang. coba klik gpsjakarta.com saya alumni sana</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Teddy Ardiansyah</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/97/comment-page-1#comment-411</link>
		<dc:creator>Teddy Ardiansyah</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 01:53:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/97#comment-411</guid>
		<description>Wah kalah dong waktu saya dulu ikut seleksi menjadi asisten laboratorium deteksi dan pengukuran radiasi. Saya dulu disuruh mempresentasikan di hadapan para dosen dan pengurus lab tentang materi deteksi dan pengukuran radiasi. Dari hal tersebut para dosen tahu apakah kita bisa menjadi asisten lab atau tidak. Well, saya harap pemimpin kita yang di atas bisa mendengar keluhan-keluhan kita yang ada di bawah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah kalah dong waktu saya dulu ikut seleksi menjadi asisten laboratorium deteksi dan pengukuran radiasi. Saya dulu disuruh mempresentasikan di hadapan para dosen dan pengurus lab tentang materi deteksi dan pengukuran radiasi. Dari hal tersebut para dosen tahu apakah kita bisa menjadi asisten lab atau tidak. Well, saya harap pemimpin kita yang di atas bisa mendengar keluhan-keluhan kita yang ada di bawah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ardja</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/97/comment-page-1#comment-365</link>
		<dc:creator>Ardja</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Jan 2008 01:08:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/97#comment-365</guid>
		<description>Erry,
Mohon kritik anda ini disampaikan juga ke Rektor ITB, otherwise dia pikir everything goes well. 
Untuk mengubah sistim test PNS di ITB tak semudah membalikan tangan karena sudah ditetapkan oleh DepDikBud dan kementrian PAN (masih ada enggak yah?) utk seluruh PNS dimanapun. Jadi tahapan formalitas itu terpaksa harus dilakukan
Saran saya ikutin aja deh, team seleksi ITB pun pasti kumpulan orang yg benalar tinggi, tak mungkin hanya gara2 tak lulus tes awal yang seperti itu anda tak bisa melangkah maju ketahapan  berikutnya, kan mereka lihat cv  atau transcript academic record anda juga.
Tekad anda utk mengabdi di ITB jangan sampe pudar gara2 proses tersebut, anggap saja bagian dari uji nyali . karena ada pekerjaan dan tugas mulia yg lebih besar dan menantang didepan anda  daripada hanya merengek soal test tsb.
Bandingkan dengan test PNS atau BUMN di era orde baru berupa security clearence , anda bisa dimaki oleh para interogator krn tak hafal Pancasila, atau enggak ngerti DwiFungsi ABRI, Monoloyalitas Golkar, lalu ditelusuri apakah anda bersih lingkungan (tak ada indikasi PKI dalam keluarga, paman, kakek, mertua). Lebih konyol dan lebih gawat jika  gagal dpt security clearence ini jangan harap anda bisa diterima di Departemen lain, bahkan di BUMN lainnya sekalipun.

Anggap semua ini kerikil kecil dalam perjuangan Erry, nanti kalau sudah diterima di ITB silahkan obrak-abrik sistim ini.
Selamat berjuang</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Erry,<br />
Mohon kritik anda ini disampaikan juga ke Rektor ITB, otherwise dia pikir everything goes well.<br />
Untuk mengubah sistim test PNS di ITB tak semudah membalikan tangan karena sudah ditetapkan oleh DepDikBud dan kementrian PAN (masih ada enggak yah?) utk seluruh PNS dimanapun. Jadi tahapan formalitas itu terpaksa harus dilakukan<br />
Saran saya ikutin aja deh, team seleksi ITB pun pasti kumpulan orang yg benalar tinggi, tak mungkin hanya gara2 tak lulus tes awal yang seperti itu anda tak bisa melangkah maju ketahapan  berikutnya, kan mereka lihat cv  atau transcript academic record anda juga.<br />
Tekad anda utk mengabdi di ITB jangan sampe pudar gara2 proses tersebut, anggap saja bagian dari uji nyali . karena ada pekerjaan dan tugas mulia yg lebih besar dan menantang didepan anda  daripada hanya merengek soal test tsb.<br />
Bandingkan dengan test PNS atau BUMN di era orde baru berupa security clearence , anda bisa dimaki oleh para interogator krn tak hafal Pancasila, atau enggak ngerti DwiFungsi ABRI, Monoloyalitas Golkar, lalu ditelusuri apakah anda bersih lingkungan (tak ada indikasi PKI dalam keluarga, paman, kakek, mertua). Lebih konyol dan lebih gawat jika  gagal dpt security clearence ini jangan harap anda bisa diterima di Departemen lain, bahkan di BUMN lainnya sekalipun.</p>
<p>Anggap semua ini kerikil kecil dalam perjuangan Erry, nanti kalau sudah diterima di ITB silahkan obrak-abrik sistim ini.<br />
Selamat berjuang</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Harianto Hardjasaputra</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/97/comment-page-1#comment-364</link>
		<dc:creator>Harianto Hardjasaputra</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Jan 2008 03:32:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/97#comment-364</guid>
		<description>Apakah pak Ery sekarang sudah menyandang jadi dosen ITB? Sy kagum akan kecintaan Bpk akan ITB. Alumni ITB ya. Sekarang kan jaman global, kalu sudah melalang buana ke berbagai UNI di LN, apa yang menarik Bpk untuk kembali kesini. Bukan kah bisa saja Bpk tetap disana, tapi membangun jejaring dan bantu ITB spy lebih maju. Semoga Bpk tidak kecewa dan bisa survive di tanah air.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah pak Ery sekarang sudah menyandang jadi dosen ITB? Sy kagum akan kecintaan Bpk akan ITB. Alumni ITB ya. Sekarang kan jaman global, kalu sudah melalang buana ke berbagai UNI di LN, apa yang menarik Bpk untuk kembali kesini. Bukan kah bisa saja Bpk tetap disana, tapi membangun jejaring dan bantu ITB spy lebih maju. Semoga Bpk tidak kecewa dan bisa survive di tanah air.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Setia</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/97/comment-page-1#comment-356</link>
		<dc:creator>Setia</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Jan 2008 15:57:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/97#comment-356</guid>
		<description>Sedih melihatnya...untung nya aku udah jadi PNS dulu baru sekolah lagi skrg...
tapi memang itu peraturan PNS harus dirubah..
saya yang jadi dosen di sebuah institusi pendidikan dari sebuah lembaga non departemen di Indonesia mengalami hal yang sama...
lebih banyak birokrasinya dibandingkan sikap akademik membuat saya menjadi malas kembali ke Indonesia...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sedih melihatnya&#8230;untung nya aku udah jadi PNS dulu baru sekolah lagi skrg&#8230;<br />
tapi memang itu peraturan PNS harus dirubah..<br />
saya yang jadi dosen di sebuah institusi pendidikan dari sebuah lembaga non departemen di Indonesia mengalami hal yang sama&#8230;<br />
lebih banyak birokrasinya dibandingkan sikap akademik membuat saya menjadi malas kembali ke Indonesia&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: khairulu</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/97/comment-page-1#comment-348</link>
		<dc:creator>khairulu</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Dec 2007 00:37:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/97#comment-348</guid>
		<description>saya turut mendoakan Ery lulus. ITB memang tampaknya kebingungan merekrut dosen yg bagus, ketika good will pemerintah ini untuk memajukan pendidikan masih meragukan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya turut mendoakan Ery lulus. ITB memang tampaknya kebingungan merekrut dosen yg bagus, ketika good will pemerintah ini untuk memajukan pendidikan masih meragukan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ardhana</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/97/comment-page-1#comment-331</link>
		<dc:creator>Ardhana</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Dec 2007 06:29:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/archives/97#comment-331</guid>
		<description>Halo Ery, ketika saya ketemu anda ditangga LabTek VI, walaupun saya sangat terburu-buru tapi tidak nampak wajah anda se-kecewa tulisan anda. Mungkin waktu itu belum menjalani tes ? Kekecewaan anda saya dengar dari berbagai pihak oleh karena itu saya memutuskan mengunjungi blog anda. Kalau saya bandingkan dengan jaman saya melamar jadi dosen ITB yang notabene juga PNS, tidak ada berbagai macam tes seperti itu. Prosesnya sangat simple, saya hanya diwawancarai oleh beberapa (3 orang) senior TF ITB dan beliau-beliau kemudian memutuskan apakah saya layak jadi dosen atau tidak, malah ketika itu saya baru lulus S1, tanpa menyandang gelar S3 atau pengalaman segepok seperti yang Ery miliki. Kalau pendekatan trust dan recognition yang anda anggap berkorelasi dengan citra PT kelas dunia dalam mekrekrut pegawainya mungkin dulu-dulu ITB sudah bisa dianggap berkelas dunia....jadi perubahan yang seperti anda alami sekarang mungkin lebih bijak kalau kita lihat dari sudut pandang yang lebih luas, ketingkat model rekuitmen PNS di Indonesia. Bahwa ITB dalam kondisi saat ini, belum sepenuhnya dapat mengatur dirinya sendiri (BHMN penuh) maka aturan-aturan yang diberlakukan pun tidak dapat sepenuhnya ditentukan sendiri, termasuk pola penerimaan pegawainya. Isu akuntabilitas juga memojokkan ITB utk harus mengikuti segala aturan dan perundangan yang berlaku, kemudian disparitas kualitas badan-badan dan institusi di Indonesia memungkinkan terjadi penyamaan yang tidak realistis tersebut....jadi semoga anda tidak kehilangan spirit untuk tetap menyumbangkan tenaga di ITB. Salam TF...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Halo Ery, ketika saya ketemu anda ditangga LabTek VI, walaupun saya sangat terburu-buru tapi tidak nampak wajah anda se-kecewa tulisan anda. Mungkin waktu itu belum menjalani tes ? Kekecewaan anda saya dengar dari berbagai pihak oleh karena itu saya memutuskan mengunjungi blog anda. Kalau saya bandingkan dengan jaman saya melamar jadi dosen ITB yang notabene juga PNS, tidak ada berbagai macam tes seperti itu. Prosesnya sangat simple, saya hanya diwawancarai oleh beberapa (3 orang) senior TF ITB dan beliau-beliau kemudian memutuskan apakah saya layak jadi dosen atau tidak, malah ketika itu saya baru lulus S1, tanpa menyandang gelar S3 atau pengalaman segepok seperti yang Ery miliki. Kalau pendekatan trust dan recognition yang anda anggap berkorelasi dengan citra PT kelas dunia dalam mekrekrut pegawainya mungkin dulu-dulu ITB sudah bisa dianggap berkelas dunia&#8230;.jadi perubahan yang seperti anda alami sekarang mungkin lebih bijak kalau kita lihat dari sudut pandang yang lebih luas, ketingkat model rekuitmen PNS di Indonesia. Bahwa ITB dalam kondisi saat ini, belum sepenuhnya dapat mengatur dirinya sendiri (BHMN penuh) maka aturan-aturan yang diberlakukan pun tidak dapat sepenuhnya ditentukan sendiri, termasuk pola penerimaan pegawainya. Isu akuntabilitas juga memojokkan ITB utk harus mengikuti segala aturan dan perundangan yang berlaku, kemudian disparitas kualitas badan-badan dan institusi di Indonesia memungkinkan terjadi penyamaan yang tidak realistis tersebut&#8230;.jadi semoga anda tidak kehilangan spirit untuk tetap menyumbangkan tenaga di ITB. Salam TF&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

