November 30th, 2007
# 4:03 pm
19 comments
Menuju kelas dunia dengan sistem PNS: laporan hari pertama
Pagi kemarin saya duduk di warung bubur ayam Mang Oyo di dekat Rektorat ITB. Saya sedang menunggu tibanya jam 7.30, saatnya datang ke Rektorat ITB untuk menghadiri tes seleksi penerimaan CPNS. Saya memang sedang melamar untuk menjadi dosen ITB.
Sungguh, pengalaman melamar menjadi CPNS adalah pengalaman unik yang baru saya alami setelah sekian lama mengembara di beberapa universitas di berbagai belahan dunia. Catatan singkat ini hanyalah ungkapan kegelisahan saya dalam menatap cita-cita ITB untuk menjadi universitas kelas dunia, mungkinkah itu dicapai di dalam kerangka sistem pegawai negeri?
Persyaratan sistem seleksi yang mengada-ada
Pertama-tama, banyak aturan sistem seleksi CPNS yang mengada-ada, yang dibuat seolah-olah ingin menyulitkan pelamar. Ambil contoh surat lamaran yang harus ditulis tangan dengan tinta hitam. Memang panitia akan bisa memberi banyak alasan untuk aturan ini, tetapi tujuannya toch bisa dicapai dengan cara lain.
Belum lagi surat lamaran yang sangat tidak personal. Baru kali ini saya menuliskan surat lamaran pekerjaan ditujukan kepada orang yang tidak akan membaca surat itu. Surat lamaran saya itu ditujukan kepada Menteri Pendidikan melalui Rektor ITB. Kedua orang sibuk ini kemungkinan besar tidak akan pernah membaca surat lamaran saya.
Selama melamar di universitas lain di berbagai belahan dunia, saya belum pernah menujukan surat lamaran saya kepada Rektor ataupun Chancellor atau siapapun pimpinan universitas tersebut. Surat lamaran saya selalu ditujukan kepada Ketua Panitia Seleksi (The Chair of The Search Committee).
Kesulitan ini memang belum apa-apa dibandingkan dengan aturan tahun 2005 yang lalu. Ketika itu, surat lamaran dan berkasnya harus diantarkan sendiri oleh yang bersangkutan. Di jaman internet seperti ini tentu aturan seperti itu akan terlihat absurd. Belum lagi akan terlihat sangat menyulitkan mengingat ITB mensyaratkan pendidikan S3 bagi pelamar, yang tentu saja banyak dari mereka yang sedang bekerja di luar negeri. Tidak mungkin mereka pulang untuk sekadar jadi tukang pos, dan kemudian kembali lagi minggu berikutnya untuk wawancara.
Kedua adalah persyaratan lain yang mengada-ada yaitu surat keterangan berbadan sehat dan surat keterangan bebas narkoba. Di kalangan universitas dunia, ini adalah persyaratan yang sangat unik. Lagi-lagi, tidak jelas apa keuntungan yang didapatkan oleh panitia seleksi dalam meminta persyaratan ini.
Kalau ITB memang ingin kandidat yang sehat, ITB bisa mewajibkan semua kandidat untuk menjalani pemeriksaan kesehatan khusus di klinik milik ITB. Hasilnya akan jauh lebih baik.
Di negara lain, tidak ada universitas yang mensyaratkan surat berbadan sehat ini. Kalaupun ada aturan kesehatan yang dikenakan dalam proses rekrutmen, yang meminta biasanya bukanlah universitas tetapi kantor imigrasi.
Surat keterangan bebas narkoba pun tidak jelas untuk apa. Bukan apa-apa, biayanya itu seratus ribu rupiah. Bukankah semua pelamar sudah menandatangani pernyataan tidak pernah melakukan tindakan kriminal? Ini kan sudah cukup dijadikan payung hukum untuk menyaring pecandu narkoba. Untuk apa lagi surat keterangan seratus ribu ini?
Sistem seleksi yang tidak nyambung
Kita lihat permasalahan yang lebih serius. Dalam teori SDM manapun, adanya proses seleksi adalah untuk meyakinkan bahwa orang terbaiklah yang menempati sebuah lowongan pekerjaan. Tetapi sistem seleksi CPNS justru membuat prinsip ini kabur.
Hal ini bisa dilihat dari prosedur seleksi CPNS di lingkungan ITB. Pertama adalah Tes Pengetahuan Umum (TPU) dan Tes Bakat Skolastik (TBS). Kedua adalah wawancara dengan fakultas yang dilamar. Ketiga adalah Tes Psikologi.
Kalau dibandingkan dengan universitas kelas dunia lainnya, maka tes pertama (TPU dan TBS) statusnya adalah bikin malu, tes kedua adalah tes standar, sedangkan tes ketiga statusnya dipertanyakan untuk apa.
Cobalah bayangkan apa pentingnya TPU dan TBS ini dalam menilai potensi kinerja seorang dosen? Kalau saya tidak tahu apa agenda KTT ASEM di Finlandia, apakah saya akan menjadi dosen yang jelek? Kalau saya tidak tahu mengapa kurs rupiah melemah selama semester pertama 2007, apa berarti saya tidak punya pengetahuan yang cukup untuk menjadi dosen? Kalau saya tidak tahu apa program pemerintah untuk menangani anak jalanan, apa saya tidak punya dasar pengetahuan yang cukup untuk jadi dosen?
Sungguh, saya tidak tahu lagi apa kedudukan MPR sekarang setelah tidak jadi lembaga tertinggi negara. Tetapi kenapa itu harus dijadikan sebagai acuan utama untuk menilai kemampuan saya untuk jadi dosen ITB?
Bahwa ITB mewajibkan tes ini kepada seluruh kandidat, bahkan menjadikannya sebagai pra-syarat bagi tes yang lain, tentu ini menimbulkan tanda tanya tentang kesungguhan ITB untuk menjadi universitas kelas dunia. Bukan apa-apa, keponakan saya yang sedang mempersiapkan diri untuk SPMB akan mengerjakan tes itu dengan hasil yang lebih baik dari saya. Tentu bukan hanya karena itu, tetapi yang lebih penting lagi adalah karena TPU dan TBS ini tidak memberi kesimpulan apapun tentang potensi kinerja seorang kandidat dalam menjadi seorang dosen. Dalam tataran ini, kita akan melihatnya sebagai sebuah pemborosan. Maksudnya, tes ini hanya dilaksanakan sebagai kewajiban saja karena sistem seleksi di ITB adalah bagian dari sistem seleksi CPNS secara nasional.
Bagaimana bukan pemborosan, lihat saja kualitas soal-soalnya. Pasti ada tim yang solid untuk menghasilkan soal-soal seperti itu. Pasti ada jumlah rupiah yang besar untuk membayar tim itu. Dan semua itu untuk apa? Untuk menghasilkan soal tes yang tidak bisa dipakai untuk mengukur kinerja seorang dosen. Kalau ITB memang memakainya sebagagi kriteria seleksi, ah well, tidak ada komentar dari saya. (Tapi apa kata dunia?!)
Saya berpendapat demikian bukan karena ingin agar hasil TPU dan TBS ini diabaikan saja karena saya tidak bisa mengerjakannya. Kalau mengingat-ingat soal-soal yang keluar Kamis pagi kemarin, dan mengingat-ingat apa yang saya jawab, memang I blew it. Hasilnya bagaimana, panitia seleksi yang lebih tahu. Tapi apapun hasilnya, saya tetap berpendapat bahwa TPU dan TBS tidak sepatutnya diletakkan dalam proses seleksi dosen di universitas kelas dunia.
Bagaimana dengan tes psikologi? Lagi-lagi, tidak ada universitas kelas dunia yang melakukan hal ini. Untuk apa? Kalau alasannya untuk mengetahui kecocokan kandidat dengan tugas-tugas dosen, maka hal itu bisa dilakukan dengan cara lain.
Di universitas kelas dunia, biasanya semua kandidat diminta memberikan kuliah umum yang dihadiri oleh semua staf pengajar di jurusan yang dilamar. Dalam banyak kasus bahkah kuliahnya terbuka untuk mahasiswa. Dengan cara itu, gambaran umum tentang kemampuan kandidat untuk mengajar dan berinteraksi dengan mahasiswa di kelas dapat dilihat secara langsung.
Setelah kuliah umum, biasanya sang kandidat akan diminta untuk menemui beberapa (kalau tidak semua) staf pengajar untuk berdiskusi tentang berbagai masalah akademik. Diskusi yang panjang dengan banyak orang ini akan lebih efektif dalam mengungkap profil akademik sang kandidat bila dibandingkan dengan tes psikologi.
Baru setelah itu semua diadakanlah wawancara formal dengan ketua jurusan atau dekan yang disertai oleh semua anggota Panitia Seleksi. Semua staf pengajar akan dimintai masukannya sebelum Panitia Seleksi membuat keputusan.
Menuju kelas dunia dengan sistem PNS?
Yang di atas itu baru sistem seleksi, bagaimana dengan sistem PNS itu sendiri, apakah mampu mendukung ITB menuju kelas dunia? Jawaban singkatnya adalah tidak. Mari kita lihat sistem promosi dan penilain kinerja. Sudah bukan berita baru lagi bahwa dalam sistem PNS, sistem promosinya adalah urut kacang, dan penilaian kinerjanya sama sekali tidak jelas.
Dalam universitas papan atas dunia, penilaian kinerja dosen selalu dikaitkan dengan output yaitu berupa publikasi dan jumlah dana eksternal yang berhasil dikumpulkan. Semakin papan atas, akan semakin ketat kriteria publikasi yang dihitung. Di universitas papan atas, artikel di seminar nasional tidak masuk hitungan. Bahkan artikel di seminar internasional yang tidak peer-reviewed pun tidak masuk hitungan.
Bagaimana caranya untuk promosi jadi professor? Mari kita lihat kasusnya di National University of Singapore. Bila ada seorang dosen yang merasa layak untuk menjadi professor, maka dia diminta untuk mengajukan enam nama yang dikenal sebagai pakar di bidang ilmu yang ditekuninya. Keenam nama ini tidak boleh pembimbing tesis doktornya, tidak pernah melakukan penelitian bersama, dan tidak pernah menulis paper bersama. Setelah itu universitas akan memilih tiga dari enam orang itu, dan meminta mereka menilai semua publikasi yang sudah dihasilkan oleh sang kandidat. Mereka dipersilakan menilai apakah dengan kontribusi saintifik seperti itu, sang kandidat sudah berhak menyandang gelas professor. Dalam pandangan saya, itulah kelas dunia.
Dalam sistem PNS? Ah saya tak ingin banyak berkomentar. Yang jelas rumit sekali pengurusannya, yang melibatkan banyak sekali tata tertib administratif yang siap menjegal. Tanpa sistem PNS, tentu ITB akan menghasilkan lebih banyak lagi profesor kelas dunia.
Maju bersama ITB
Banyak sekali orang yang bertanya kepada saya, kenapa anda mendaftar jadi dosen ITB? Banyak juga jawabannya baik di tataran personal, keluarga maupun komunitas. Tidak semua layak dituliskan di ruang publik ini. Membaca artikel ini, tentu pembaca juga akan bertanya, kenapa anda ikut mendaftar dalam seleksi CPNS kalau sudah tahu begitu keadaannya?
Jawaban inilah yang bisa dijadikan konsumsi publik, dan inilah yang ingin saya teriakkan kepada dunia, dan semoga didengar oleh Rektor ITB dan Menteri Pendidikan, serta seluruh sivitas akademika ITB: saya percaya bahwa ITB akan bisa berkembang menjadi universitas kelas dunia, dan saya ingin ikut hanyut dalam gelombang kerja keras untuk mewujudkannya.
Tetapi untuk itu, saya sangat percaya bahwa ITB harus segera melepaskan diri dari birokrasi pegawai negeri sipil. Kaitan manajemen SDM ITB dengan PNS haruslah dilihat sebagai kutukan yang menghambat kemajuan. Karenanya saya sangat berharap agar ITB segara terjun ke era baru sebagai BHMN yang bebas dari kungkungan birokrasi PNS.
Saya bersedia hadir ikut melamar sebagai dosen ITB karena dalam salah satu persyaratannya saya harus membuat pernyataan bahwa saya bersedia dialihkan statusnya dari PNS ke pegawai ITB. Saya menandatangani pernyataan itu dengan senang hati, diiringi dengan doa semoga bisa terjadi secepatnya.
Saya memang tidak tahu apa konsekuensi yang harus dihadapi oleh ITB ketika berpindah status menjadi BHMN, termasuk seberapa besar konsekuensi finansialnya. Tapi apapun konsekuensinya, saya pikir ITB sudah siap untuk menghadapi persaingan kelas dunia, masak untuk melepas diri dari sistem PNS masih berpikir tujuh kali?
This entry receives 19 comments.
Pak Ery,
turut berduka cita. hehehe…
kalah sama sekolah ya (pendidikan menengah). Ketika saya mendaftar jadi guru, saya diminta mengajar di depan beberapa guru. Ketika saya menjadi asisten mata kuliah di Univ. Brawijaya yang salah satu tanggungjawabnya adalah berurusan dengan laboratorium, mereka tahu bahwa saya mengerti peralatan yang ada, bisa menggunakannya, dan dapat membantu mahasiswa yang akan bekerja di lab.
saya teringat dengan pelajaran statistik:
alat ukur yang baik adalah yang mengukur dengan presisi apa yang harus diukur.
semoga Pak Ery bisa membuat perubahan ke arah yang baik, sekecil apapun.
Dec 9, 2007 at 4:48 am
Sy lepas status PNS sy di PMS/Polman (saat itu masih berafiliasi dibawah “pembinaan” ITB,) setelah 13 tahun jadi Dosen (Instruktur istilah Polman) dengan berat hati, karena masalah ekonomi, birokrasi dan sakit hati.
Anda sudah melanglangbuana ke mancanegara untuk kembali jadi Dosen lokal. Kuatkan dan mantapkan hati, yakini bahwa saat ini prediksi saya lebih baik dibanding 7 tahun lalu.
Apresiasi tinggi sy sampaikan buat anda yang pasti “sudah bulat” untuk menabdikan diri ke dunia pendidikan dalam negeri. Semoga sukses
Dec 9, 2007 at 5:41 am
Selamat berjuang den Ery, semoga ditabahkan.
Kalau sudah masuk sistem, apakah anda sanggup untuk memperbaikinya ….. ?
Walahualam …..
Semoga sukses.
Dec 9, 2007 at 10:47 pm
Subhanallah … kang, i deeply appreciate your WILL buat kembali ke Indonesia.
Dec 10, 2007 at 12:23 am
Salut buat Ery yang rasa nasionalisme (atau ITBisme) nya masih kental. Saya sendiri masih memilih untuk lebih pragmatis. Kalau di tanah kelahiran sendiri lebih susah ya lebih baik hidup di tanah kelahiran orang lain. Toh di mana-mana bumi milik Allah yang disediakan untuk umatnya.
Dec 10, 2007 at 2:15 am
Itu semua belum apa-apa Kang Ery…
Mungkin tahun depan syaratnya, selain disuruh bikin lamaran pake tulisan tangan, jangan-jangan disuruh pake kaos kaki merah di kaki kanan, kaos kaki biru di kaki kiri… rambut dikasih pita warna-warni… atau rambut potongan 3-2-1…
Rasanya syarat nulis tangan buat surat lamaran itu lebih menunjukkan semangat ospek daripada semangat mencari orang terbaik… Feodalisme masih kuatttttt…
Dec 10, 2007 at 2:33 am
Selamat datang di ITB, kalau keterima euy. he he he. URL ini sudah saya sirkulasikan ke milisnya Dosen ITB. Mudah-mudahan ditanggapi dengan positif.
Saya sih hanya bisa mengelus dada.
Dec 10, 2007 at 2:59 am
Pengalaman nyata yang anda sampaikan merupakan sebuah fakta keadaan yang berlangsung di negeri ini. Standar dunia yang ingin kita gapai masih jauh dari pelukan. Perjuangan panjang ternyata harus kembali ke dasar. Institusi yang dianggap memiliki “prestisenya” ternyata diluar ekspektasi. Kesedihan tidak hanya di bahagian keilmuan dan teknologi. Karakter bangsa kita pun merasa tak berdaya didepan bangsa-bangsa Asean sekalipun. Atlet-atlet kita di ajang Asean pun mengalami pertarungan dengan modal dasar yang seadanya. Bangsa lain bergiat dengan modal dasar yang kuat yang mereka miliki secara kebangsaan. Maju terus Bung Ery dimana[un anda berada.
Dec 10, 2007 at 4:25 am
Ass wr wb,
Mas Ery, saya gak pernah ketemu anda mungkin, namun sering dengar cerita positip tentang anda. Belum lama saya cerita ke ponakan yang di tendang dari ortopedi UI kemudian ke UNPAD dan di tendang lagi oleh orang UI yang di UNPAD dan akhirnya terdampar di UNHAS, kalau hal itu kecil kemungkinan terjadi di ITB yang di amini oleh ponakan yang lain yg sekolah di ITB ………….eeeeeee kok malah dengar berita sedih dari anda. Jangan sedih Mas, ambil hikmatnya Mikhail Gorbachev melihat kakeknya di hukum oleh Komunis selama 9 tahun di GULAG. Dan dia berhasil menghancurkan komunis dengan cara sebagai seorang komunis tulen hingga sampai pucuk pimpinan. Mas Ery, saya doakan semoga anda gak putus asa dan kalau nanti sukses cobalah benahin dari dalam seperti cara Gorbachev……..walau saya yakin arus nya deras.
Salam,
HT
Dec 10, 2007 at 11:22 pm
Dua tahun yang lalu saya menjalani tes PNS di salah satu Univ Negeri di Sumatera, berbekal tekad yang sama seperti Bapak. Tes tahap I lulus, tahap II lulus, tahap III lulus, Alhamdulillah. Namun ketika wawancara yang ditanyakan: Apakah saya punya kenalan atau merupakan saudara/famili dari salah satu pejabat di Universitas ini? Saya sempat terdiam, sekedar menganalisis pertanyaan, lalu langsung down karena memang tidak mengenal dan tidak punya hubungan keluarga dengan satupun pejabat di Universitas tersebut. Saya jawab apa-adanya. Hopeless….
Tapi Allah Maha Berkehendak, Alhamdulillah sekarang saya sudah diangkat menjadi PNS di Universitas tersebut dan sedang mencoba melakukan perubahan untuk kemajuan di unit kerja saya, sekecil apapun itu. Sedihnya, saya pernah saya ditanya oleh seorang dosen senior: berapa yang saya bayar untuk bisa mendapatkan soal-soal sebelum pelaksanaan ujian PNS waktu itu, karena ada yang memang membayar dan mendapatkan soal pada malam sebelumnya tetapi akhirnya tidak lulus….
Selamat berjuang pak, semoga Allah SWT senantiasa memudahkan dan meridhoi langkah-langkah Bapak
Dec 11, 2007 at 1:28 am
@Kang Judhi, ini sih bukan masalah nasionalisme atau ITB-isme. Tapi memperbesar impact factor dalam menebar manfaat bagi tanah air.
Dec 11, 2007 at 11:43 pm
“…Tidak mungkin mereka pulang untuk sekadar jadi tukang pos, dan kemudian kembali lagi minggu berikutnya untuk wawancara….”
Ini alasan utama saya nggak bisa ikutan tes kemaren…
Dec 14, 2007 at 2:25 am
Halo Ery, ketika saya ketemu anda ditangga LabTek VI, walaupun saya sangat terburu-buru tapi tidak nampak wajah anda se-kecewa tulisan anda. Mungkin waktu itu belum menjalani tes ? Kekecewaan anda saya dengar dari berbagai pihak oleh karena itu saya memutuskan mengunjungi blog anda. Kalau saya bandingkan dengan jaman saya melamar jadi dosen ITB yang notabene juga PNS, tidak ada berbagai macam tes seperti itu. Prosesnya sangat simple, saya hanya diwawancarai oleh beberapa (3 orang) senior TF ITB dan beliau-beliau kemudian memutuskan apakah saya layak jadi dosen atau tidak, malah ketika itu saya baru lulus S1, tanpa menyandang gelar S3 atau pengalaman segepok seperti yang Ery miliki. Kalau pendekatan trust dan recognition yang anda anggap berkorelasi dengan citra PT kelas dunia dalam mekrekrut pegawainya mungkin dulu-dulu ITB sudah bisa dianggap berkelas dunia….jadi perubahan yang seperti anda alami sekarang mungkin lebih bijak kalau kita lihat dari sudut pandang yang lebih luas, ketingkat model rekuitmen PNS di Indonesia. Bahwa ITB dalam kondisi saat ini, belum sepenuhnya dapat mengatur dirinya sendiri (BHMN penuh) maka aturan-aturan yang diberlakukan pun tidak dapat sepenuhnya ditentukan sendiri, termasuk pola penerimaan pegawainya. Isu akuntabilitas juga memojokkan ITB utk harus mengikuti segala aturan dan perundangan yang berlaku, kemudian disparitas kualitas badan-badan dan institusi di Indonesia memungkinkan terjadi penyamaan yang tidak realistis tersebut….jadi semoga anda tidak kehilangan spirit untuk tetap menyumbangkan tenaga di ITB. Salam TF…
Dec 14, 2007 at 11:29 pm
saya turut mendoakan Ery lulus. ITB memang tampaknya kebingungan merekrut dosen yg bagus, ketika good will pemerintah ini untuk memajukan pendidikan masih meragukan.
Dec 26, 2007 at 5:37 pm
Sedih melihatnya…untung nya aku udah jadi PNS dulu baru sekolah lagi skrg…
tapi memang itu peraturan PNS harus dirubah..
saya yang jadi dosen di sebuah institusi pendidikan dari sebuah lembaga non departemen di Indonesia mengalami hal yang sama…
lebih banyak birokrasinya dibandingkan sikap akademik membuat saya menjadi malas kembali ke Indonesia…
Jan 10, 2008 at 8:57 am
Apakah pak Ery sekarang sudah menyandang jadi dosen ITB? Sy kagum akan kecintaan Bpk akan ITB. Alumni ITB ya. Sekarang kan jaman global, kalu sudah melalang buana ke berbagai UNI di LN, apa yang menarik Bpk untuk kembali kesini. Bukan kah bisa saja Bpk tetap disana, tapi membangun jejaring dan bantu ITB spy lebih maju. Semoga Bpk tidak kecewa dan bisa survive di tanah air.
Jan 15, 2008 at 8:32 pm
Erry,
Mohon kritik anda ini disampaikan juga ke Rektor ITB, otherwise dia pikir everything goes well.
Untuk mengubah sistim test PNS di ITB tak semudah membalikan tangan karena sudah ditetapkan oleh DepDikBud dan kementrian PAN (masih ada enggak yah?) utk seluruh PNS dimanapun. Jadi tahapan formalitas itu terpaksa harus dilakukan
Saran saya ikutin aja deh, team seleksi ITB pun pasti kumpulan orang yg benalar tinggi, tak mungkin hanya gara2 tak lulus tes awal yang seperti itu anda tak bisa melangkah maju ketahapan berikutnya, kan mereka lihat cv atau transcript academic record anda juga.
Tekad anda utk mengabdi di ITB jangan sampe pudar gara2 proses tersebut, anggap saja bagian dari uji nyali . karena ada pekerjaan dan tugas mulia yg lebih besar dan menantang didepan anda daripada hanya merengek soal test tsb.
Bandingkan dengan test PNS atau BUMN di era orde baru berupa security clearence , anda bisa dimaki oleh para interogator krn tak hafal Pancasila, atau enggak ngerti DwiFungsi ABRI, Monoloyalitas Golkar, lalu ditelusuri apakah anda bersih lingkungan (tak ada indikasi PKI dalam keluarga, paman, kakek, mertua). Lebih konyol dan lebih gawat jika gagal dpt security clearence ini jangan harap anda bisa diterima di Departemen lain, bahkan di BUMN lainnya sekalipun.
Anggap semua ini kerikil kecil dalam perjuangan Erry, nanti kalau sudah diterima di ITB silahkan obrak-abrik sistim ini.
Selamat berjuang
Jan 16, 2008 at 6:08 pm
Wah kalah dong waktu saya dulu ikut seleksi menjadi asisten laboratorium deteksi dan pengukuran radiasi. Saya dulu disuruh mempresentasikan di hadapan para dosen dan pengurus lab tentang materi deteksi dan pengukuran radiasi. Dari hal tersebut para dosen tahu apakah kita bisa menjadi asisten lab atau tidak. Well, saya harap pemimpin kita yang di atas bisa mendengar keluhan-keluhan kita yang ada di bawah.
Mar 10, 2008 at 6:53 pm
Suatu alat tes disusun punya tujuan dan metode pengukuran juga sudah sisusn sedemikian rupa.
1. Untuk Materi TPU (ada Pancasila, UUD, Kebijakan Pemerintah, Sejarah Indonesia dll) maksudnya adalah kalau anda sebagai PNS yang ditempatkan berkarya di ITB setidaknya harus tahu negara negara anda karena memang anda calon abdi negara (ibarat melamar gadis tapi tidak kenal dengan ybs maka bisa diusir sama orang tuanya dan diumpat sama sang gadis pujaan karena tidak kenal kok berani melamar).
2. Tes Bakat Skolastik itu diambil dari amerika yang aslinya namanya SAT yang tujuannya untuk mengetahui sejauh mana kemampuan logika dan analisis anda dalam hal analisis verbal, analisis kuantitatif dan logika/penalaran. Banyak lho lulusan dari PTN dan IPK tinggi tapi hanya hafalan saja dan jadi dosen ternyata tidak berkembang. coba klik gpsjakarta.com saya alumni sana
Jan 26, 2009 at 6:14 pm
Your feedback, please...