Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Ritus Antik Cambridge

Ritus Antik Cambridge

Artikel ini sudah diterbitkan di Pikiran Rakyat dengan judul: Andai PT Kita Seperti Cambridge.

Malam itu saya duduk di ruang makan di St. John’s College, Universitas Cambridge, Inggris. Di belakang saya duduk tergambar Lady Margareth yang menghibahkan seluruh warisannya untuk mendirikan college ini. Di dinding samping berderet anggota college yang menjadi nama-nama besar tingkat dunia sepanjang sejarahnya yang ratusan tahun. Ada Dirac dan Abdussalam yang fisikawan terkenal itu. “Seluruhnya ada sembilan anggota college ini yang pernah meraih hadiah nobel”, kata seorang fellow yang duduk di samping saya.

Dari ruang duduk tempat kami semua berkumpul menunggu saatnya makan malam, kami semua berbaris di belakang fellow senior, berprosesi masuk ke dalam ruang makan. Semua fellow mengenakan toga, berbaris rapi memasuki ruang makan. Para mahasiswa telah terlebih dulu berdiri berjajar di belakang tempat duduknya masing-masing di ruang makan.

Seorang pelayan membunyikan lonceng, dan seorang mahasiswa membacakan kutipan dari Injil. Setelah itu semuanya duduk siap menyantap hidangan yang disajikan dengan sigap oleh para pelayan.

Tidak ada Professor Dumbledore yang berteriak “Let the feast begin!”, dan tidak ada makanan yang berterbangan dan tiba-tiba secara ajaib tersaji di atas meja, tapi suasananya memang mirip sekali dengan adegan di film Harry Potter. Di satu pihak agak komikal memang, bahwa aturan-aturan yang antik ini masih dipertahankan. Tapi di lain pihak, inilah warisan budaya mereka yang sudah bertahan selama ratusan tahun.

Jelas sekali kelihatan bahwa mereka bangga dengan segala budaya, ritual, prosesi yang mereka miliki. Tapi bukan hanya sekadar kebanggaan pada ritus saja yang mereka miliki. Di balik itu semua, ada kebanggaan dan kesungguhan untuk mempertahankan reputasi mereka sebagai pusat kemajuan (center of excellence).

Seolah mereka berkata kepada para tamu (dan kepada dunia), anda boleh tersenyum simpul melihat ritual dan prosesi jaman baheula ini, tapi kebiasaan seperti inilah yang membuat kami mendunia.

Tentu bukan prosesi makan malam itu yang membuat Cambridge menjadi salah satu universitas terbaik di dunia. Banyak kebiasaan lain yang membuatnya mencapai posisi terhormat dalam mendidik mahasiswanya. Artikel ini membahas dua kebiasaan yang penting pencapaian akademik universitas tersebut.

Kebiasaan pertama adalah program bimbingan (supervision) di college yang dilakukan oleh fellow kepada mahasiswanya. Pertama-tama harus dipahami bahwa college punya posisi penting dalam struktur universitas. College sebenarnya “hanyalah” rumah tinggal bagi para mahasiswa, terutama mahasiswa S1. Mahasiswa S1 semuanya tinggal di college. College ini dikelola oleh para fellow, yang biasanya juga merangkap pengajar di universitas.

Mohon dimaklumi, college ini posisinya independen dari universitas. Strukturnya terpisah, keuangannya pun terpisah. Jumlah college pun banyak, puluhan, yang kesemuanya membangun satu Universitas Cambridge. Antara berbagai college dan universitas terjalin dalam jalinan yang padu dan saling mempengaruhi. Universitas tidak menerima mahasiswa secara langsung. Untuk bisa belajar di Universitas Cambridge, seorang mahasiswa harus melamar melalui college. Tapi college tidak memberikan gelas akademik, melainkan universitaslah yang berhak memberikan gelar sarjana, master dan doktor.

Setiap mahasiswa akan mengambil mata kuliah di universitas. Untuk setiap mata kuliah itu dia akan mendapatkan seorang dosen di universitas. Tapi tidak hanya itu. Ketika dia pulang ke college, dia akan belajar bersama seorang fellow selama dua jam seminggu. Inilah yang disebut dengan progaram bimbingan.

Fellow itu kemungkinan besar bukan dosen yang mengajar mata kuliahnya di universitas. Tapi mungkin profesor lain, yang kebetulan dipercaya membimbing dia oleh college. Bimbingan ini sangat intensif karena hanya dihadiri oleh seorang fellow dan maksimal dua mahasiswa.

Dalam pandangan saya, di sinilah letak keunggulan Cambridge. Untuk mahasiswa yang tidak terlalu cemerlang (tentu saja tidak terlalu cemerlang ukuran Cambridge), maka program bimbingan akan diisi dengan pembahasan PR dan latihan soal. Tapi untuk mahasiswa cemerlang, program bimbingan akan dipakai untuk menelusuri minat dan imajinasi mereka untuk mencapai tujuan-tujuan jauh di atas tujuan mata kuliah itu.

Dan dari sinilah kemajuan Cambridge dipupuk. Semuanya dilakukan dengan kesadaran untuk belajar demi penguasaan ilmu. Program bimbingan di college ini terlepas sama sekali dengan mata kuliah di universitas. Artinya, kalaupun seorang mahasiswa tidak aktif dalam program bimbingan di college, dia tidak akan bermasalah dengan mata kuliah yang dia ambil di universitas. Tentu saja dia akan bermasalah dengan college-nya, tapi toch yang memberi nilai dan memberi gelar bukan college. Jadi apa yang berlangsung di college semata-mata belajar demi ilmu pengetahuan.

Kegiatan belajar mengajar intensif antara fellow dengan mahasiswanya inilah yang akan menghasilkan lulusan handal dengan mutu terjaga. Mahasiswa kurang cemerlang akan terangkat, dan mahasiswa cemerlang akan bertambah maju.

ITB sebenarnya punya sistem ini, yaitu program tutorial. Seingat saya, sewaktu kuliah di ITB dulu, ada waktu-waktu tertentu di luar waktu kuliah, di mana mahasiswa senior akan masuk kelas membahas soal-soal yang ditanyakan dalam kuliah.

Tapi ada dua perbedaan penting antara program bimbingan di Cambridge, dengan program tutorial di ITB. Pertama, program bimbingan dilakukan oleh fellow yang sekaligus merupakan dosen universitas, bukan oleh mahasiswa senior. Memang tidak semua mahasiswa bisa dibimbing oleh fellow (mengingat keterbatasan jumlah fellow), ada yang akhirnya harus dibimbing oleh peneliti post-doktoral atau bahkan mahasiswa doktoral. Tapi keterlibatan dosen secara langsung dalam program bimbingan ini membuat kredibilitasnya meningkat.

Kedua, program bimbingan dilakukan hampir secara one-on-one, maksimal dua mahasiswa untuk satu orang fellow. Sebaliknya program tutorial dilakukan secara massal layaknya perkuliahan. Akibatnya, program tutorial tidak bisa dijadikan ajang penelusuran bakat dan kemampuan mahasiswa ITB.

Ada tradisi kedua yang juga penting dalam menopang keberhasilan pengajaran di Cambridge, yaitu sistem penerimaan mahasiswa. Semua mahasiswa yang melamar harus melalui proses wawancara. Semua calon mahasiswa diwawancara satu persatu.

Ujian akhir SMA di Inggris kan memang disusun oleh Cambridge, melalui program GCSE. Tapi tidak semata-mata hasil GCSE saja yang dilihat, tetapi semua pelamar harus diwawancara untuk melihat kemampuannya secara lebih utuh.

Ujian Nasional SMA di Indonesia memang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan standar GCSE untuk memasuki Universitas Cambridge. Memang bisa dipahami mengapa sejak dulu universitas di Indonesia sudah memiliki ujian saringan khusus yang lebih ketat dibandingkan dengan Ebtanas, atau UN, atau apapun namanya.

Hanya saja, ujian penerimaan saja tidak akan bisa mengungkapkan semua potensi calon mahasiswa. Alternatif yang dipilih oleh Cambridge bukanlah tidak percaya kepada GCSE dna kemudian membuat ujian sendiri, tetapi menerima GCSE tetapi ditambah dengan wawancara. Dengan demikian seluruh potensi mahasiswa akan bisa tereksplorasi.

Saya pikir sudah saatnya ITB, dan universitas lain di Indonesia, memasukkan wawancara dalam proses penerimaan mahasiswa baru.

This entry receives 4 comments.

Gea

Mas Ery,

Satu feature lain yang ditawarkan di luar negeri tapi belum tersedia di ITB: ujian lisan. Ujian jenis ini lebih mampu mengeksplorasi kemampuan mahasiswa, tidak sekedar kemampuan hafalan dan hitungan melainkan juga kemampuan pemahaman dan kreatifitas dalam memecahkan masalah.
Saya bayangkan, kalau di ITB biasanya dosen-dosen menjaga jarak dan berusaha terlihat berwibawa. Sedangkan para dosen di luar negeri justru lebih humanis, dan saat melayani ujian lisan justru mengeluarkan kalimat pertama seperti ini: “Selamat pagi. Anda mau minum apa?”
Kapan ya, ITB bisa seperti itu?

Jun 12, 2007 at 3:19 am

zalfany

@Gea,

Ujian lisan di ITB ada :). Tergantung pada dosennya. Waktu di TPB, saya pernah ditakut-takuti kalau kuliah ini ujiannya lisan, jadinya tidak berani untuk ngambil sub-jurusan yang ada dosen tersebut :D.

Soal menjaga jarak dan jaga wibawa, entah mungkin hanya kasus saya yang beruntung, saya tidak pernah merasa ada masalah dengan ini. Jadi ingat, pada waktu sidang TA saya, saat menunggu salah satu penguji yang terlambat datang, kita malah ngobrolin rencanan penggusuran kebun binatang untuk nambah luas lahan ITB :D.

Jun 12, 2007 at 4:38 am

ika

Mas Ery,

ada beasiswa buat lulusan SMA dan dari keluarga yang mampu untuk masuk Cambridge nggak? Kalo ada gimana caranya? Buat masuk Cambridge syaratnya apa aja, selain wawancara dan ujian lisan? Jurusan yang paling bagus apa? :)

Apr 29, 2008 at 11:01 pm

Ery

Waduh, Ika, mohon maaf nih, saya sama sekali nggak tahu tentang masalah beasiswa, apalagi untuk mahasiswa asing. Saran saya sih, mendingan tanya saja langsung ke berbagai college di Cambridge.

May 1, 2008 at 2:46 pm

Your feedback, please...

*
To prove you're a person (not a spam script), type the answer to the math equation shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the equation.
Click to hear an audio file of the anti-spam equation

This entry was posted on Monday, June 11th, 2007 at 9:54 pm and is filed under Education, Indonesian. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Recent Comments

  • Riza: Bukannya di paspor ada pernyataan alamat luar negeri? Kan kita bisa bebas fiskal 4 kali setahun sebagai...
  • AgUStiAn: Artikelnya sangat baik sebagai cermin diri selaku pembaca. Yang sangat penting tujuan akhir dari suatu...
  • A. Aji: Oh ya .. saya tambahkan NPWP itu diterbitkan dari kantor tempat tinggal (dalam hal ini adalah KTP). Dan untuk...
  • A. Aji: Boss, TKI itu adalah WPDN, bukan WPLN. WPDN — Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak atas penghasilan...
  • A. Aji: Boss, Sepengertianku sih nggak begitu — semua warga negara Indonesia yang sudah mendapatkan penghasilan...

Asides

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.

From NYTimes: Without big noise, Netherlands goes open source. What about Indonesia’s IGOS? I think its going ngos-ngosan!

Dari detik.com: beberapa karyawan Carrefour keracunan CO. Gubernur mencurigai adanya kesalahan desain. Komentar Pak Gubernur ini ibarat menepuk air di dulang, yang kena kan pejabat Pemda sendiri, karena semua desain ventilasi kan sudah disetujui oleh Pemda. Mari kita tunggu kelanjutannya.