<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Mengungkap</title>
	<atom:link href="http://ery.djunaedy.com/archives/83/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ery.djunaedy.com/archives/83</link>
	<description>renung</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Jul 2010 05:42:57 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
	<item>
		<title>By: Rush Mania</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/83/comment-page-1#comment-5703</link>
		<dc:creator>Rush Mania</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 03:27:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=83#comment-5703</guid>
		<description>Kalau saya lebih bisa mengucapkan sumpah serapah (meskipun jarang sekali dilakukan) dalam bahasa Jepang. Saya lahir dan dibesarkan di Indonesia. Kedua orang tua juga asli orang Indonesia (Jawa-Sulawesi).
Tapi karena 11 tahun tinggal di Jepang dan karena ada budaya &quot;Bakayaro&quot; di sana, jadi lebih gamblang dalam mengeskpresikan kemarahan dalam bahasa Jepang. Bukan berarti saya tidak bisa berantem dalam bahasa Indonesia, namun keleluasaan arti dan keragaman makna lebih luas dalam bahasa Jepang.
Contoh: &quot;Baka&quot; bisa berarti bodoh, dungu, bego, goblok, tolol, dsb. Namun di Osaka (Kansai), mereka mengucapkan kata &quot;Baka&quot; bukan untuk membodohi orang lain, namun untuk membodohi diri sendiri ataupun hanya sekadar mengomentari ucapan dari orang lain.

Jadi sebetulnya, lebih baik kita sebagai sesama makhluk Tuhan, jangan saling memaki saja, deh...!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau saya lebih bisa mengucapkan sumpah serapah (meskipun jarang sekali dilakukan) dalam bahasa Jepang. Saya lahir dan dibesarkan di Indonesia. Kedua orang tua juga asli orang Indonesia (Jawa-Sulawesi).<br />
Tapi karena 11 tahun tinggal di Jepang dan karena ada budaya &#8220;Bakayaro&#8221; di sana, jadi lebih gamblang dalam mengeskpresikan kemarahan dalam bahasa Jepang. Bukan berarti saya tidak bisa berantem dalam bahasa Indonesia, namun keleluasaan arti dan keragaman makna lebih luas dalam bahasa Jepang.<br />
Contoh: &#8220;Baka&#8221; bisa berarti bodoh, dungu, bego, goblok, tolol, dsb. Namun di Osaka (Kansai), mereka mengucapkan kata &#8220;Baka&#8221; bukan untuk membodohi orang lain, namun untuk membodohi diri sendiri ataupun hanya sekadar mengomentari ucapan dari orang lain.</p>
<p>Jadi sebetulnya, lebih baik kita sebagai sesama makhluk Tuhan, jangan saling memaki saja, deh&#8230;!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nash</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/83/comment-page-1#comment-616</link>
		<dc:creator>Nash</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Aug 2008 10:10:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=83#comment-616</guid>
		<description>Bahasa Belandanya Bahasa Belanda itu apa, Ri? (kikikikikikikikikikikik)

kikikikik mungkin bukan ketawa orang Belanda (jeledug!)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bahasa Belandanya Bahasa Belanda itu apa, Ri? (kikikikikikikikikikikik)</p>
<p>kikikikik mungkin bukan ketawa orang Belanda (jeledug!)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sarah</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/83/comment-page-1#comment-611</link>
		<dc:creator>Sarah</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Jul 2008 04:53:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=83#comment-611</guid>
		<description>Hallo bang Ery,

Saya rasa setiap manusia itu unik. Gak bisa di generalisir antara manusia yang satu dengan 
yang lain. Saya memang lebih sreg mengungkapkan perasaan 
dan sumpah serapah dalam bahasa asing, dalam hal ini bahasa belanda. Mungkin karena lebih banyak
pilihan kata untuk hal tersebut dalam bahasa belanda. Maklumlah, orang indonesia sendiri 
kan tidak terlalu terbiasa untuk mengungkapkan perasaan mereka secara verbal. Paling tidak
saya jadi tidak terbiasa dengan hal itu. 
Tentu saja kemampuan bahasa Indonesia saya masih di atas kemampuan saya berbahasa
Belanda atau bahasa asing lain. Salam hangat, sarah</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hallo bang Ery,</p>
<p>Saya rasa setiap manusia itu unik. Gak bisa di generalisir antara manusia yang satu dengan<br />
yang lain. Saya memang lebih sreg mengungkapkan perasaan<br />
dan sumpah serapah dalam bahasa asing, dalam hal ini bahasa belanda. Mungkin karena lebih banyak<br />
pilihan kata untuk hal tersebut dalam bahasa belanda. Maklumlah, orang indonesia sendiri<br />
kan tidak terlalu terbiasa untuk mengungkapkan perasaan mereka secara verbal. Paling tidak<br />
saya jadi tidak terbiasa dengan hal itu.<br />
Tentu saja kemampuan bahasa Indonesia saya masih di atas kemampuan saya berbahasa<br />
Belanda atau bahasa asing lain. Salam hangat, sarah</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Lutfi</title>
		<link>http://ery.djunaedy.com/archives/83/comment-page-1#comment-606</link>
		<dc:creator>Lutfi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 18:41:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://ery.djunaedy.com/?p=83#comment-606</guid>
		<description>Ery,

Kalau dulu dosen Fisika ITB, Pantur Silaban, konon pernah berkelakar bahwa orang Indonesia itu sudah &quot;pandai&quot; bahasa inggris kalau mimpi pun sdh dalam bahasa inggris.  Entahlah kalau itu memang ada benarnya.

Memang penjiwaan dalam satu bahasa itu sulit sekali, terbentuk dari lingkungan sejak kecil.  Saya sendiri kalau lagi kesal dengan banyaknya telemarketing di telpon, menjawabnya dengan bahasa Indonesia, bahkan bahasa slang daerah (bahasa Palembang asli).  Sering mereka kapok, lho!

Kalau orang Indonesia (yang lahir dan dibesarkan di Indonesia) lebih lancar berbahasa asing, itu benar-benar aneh.  Dimana-mana pun di pelosok dunia, mother tongue pasti lebih &#039;sreg&#039; bagi orang, terutama kalau &#039;misu&#039; [jawa/palembang: memaki] atau menyumpah serapahi orang lain.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ery,</p>
<p>Kalau dulu dosen Fisika ITB, Pantur Silaban, konon pernah berkelakar bahwa orang Indonesia itu sudah &#8220;pandai&#8221; bahasa inggris kalau mimpi pun sdh dalam bahasa inggris.  Entahlah kalau itu memang ada benarnya.</p>
<p>Memang penjiwaan dalam satu bahasa itu sulit sekali, terbentuk dari lingkungan sejak kecil.  Saya sendiri kalau lagi kesal dengan banyaknya telemarketing di telpon, menjawabnya dengan bahasa Indonesia, bahkan bahasa slang daerah (bahasa Palembang asli).  Sering mereka kapok, lho!</p>
<p>Kalau orang Indonesia (yang lahir dan dibesarkan di Indonesia) lebih lancar berbahasa asing, itu benar-benar aneh.  Dimana-mana pun di pelosok dunia, mother tongue pasti lebih &#8216;sreg&#8217; bagi orang, terutama kalau &#8216;misu&#8217; [jawa/palembang: memaki] atau menyumpah serapahi orang lain.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
