July 5th, 2008
# 4:00 pm
2 comments
Mengungkap
Anda bisa memaki-maki dalam bahasa Inggris? Kalau saya terus terang tidak bisa. Maklum lah, bahasa Inggris kan bukan bahasa ibu. Betapapun sudah lama tinggal di negara berbahasa Inggris, sudah lama ikut kuliah dalam bahasa Inggris, bahkan sudah lama memberi kuliah dalam bahasa Inggris, saya tetap merasa tidak bisa ekpresif dalam penggunaaan bahasa itu.
Untuk komunikasi “biasa” sih tidak menjadi masalah. Artinya orang lain tidak sulit menangkap apa yang ingin saya sampaikan ketika saya berbicara dalam bahasa Inggris. Tapi unsur-unsur yang lebih luas dalam berbahasa, yang memerlukan ungkapan ekspresi dari dalam, saya masih sering gelagapan. Kalau kata istri saya, “rek dicarekan ku basa Sunda” (artinya “mau kumarahi pakai bahasa Sunda”), saking tidak bisanya kita mengungkapkan perasaan dalam bahasa Inggris.
Karena itu saya agak terkejut ketika membaca Warta Berita Radio Nederland Weleldomroep (edisi Bahasa Indonesia, Jumat 08 Desember 2006 13:50 UTC) yang mengutip seorang wartawan di Jakarta yang merasa lebih ekspresif ketika berbicara dalam bahasa Belanda. “Saya merasa lebih bebas dalam bahasa Belanda, saya bisa lebih baik mengungkapkan diri dalam bahasa itu,” begitu katanya.
Senang juga ya bisa mengungkapkan diri dengan sempurna dalam bahasa asing. Atau jangan-jangan, hal ini terjadi karena ketidakmampuan beliau dalam berbahasa Indonesia?
Berikut laporan selengkapnya dari Radio Nederland:
Kita beralih ke topik Indonesia. Ratusan mahasiswa Indonesia belajar bahasa bekas penjajah: bahasa Belanda buka tabu lagi, demikian tulis harian Belanda Het Parool. Dengan belajar bahasa Belanda, para mahasiswa berharap mendapat pekerjaan sebagai penerjemah atau dosen bahasa Belanda. Mahasiswa hukum dan sejarah bahkan wajib belajar bahasa Belanda supaya bisa memahami sumber-sumber yang kebanyakan dalam bahasa Belanda. Pusat Bahasa Erasmus di Jakarta, yang dibangunkan 25 tahun silam adalah tempat untuk belajar bahasa Belanda di Indonesia. “Itulah ciri bahasa Belanda sekarang di Indonesia, bahasa asing modern”, demikian Hans Groot pemimpin lembaga tersebut. Tentulah sejarah penjajahan tidak bisa dilupakan. Dengan menyelenggarakan lomba menyanyi dan bicara dalam bahasa Belanda, Hans Groot berusaha melibatkan lebih banyak mahasiswa dalam lembaga bahasanya. “Sekarang kita punya 1.500 mahasiswa setahun. Kita berkesimpulan bahwa kebijakan imigrasi keras yang dilakukan Den Haag saat ini, juga berdampak untuk kita,” demikian Groot.
Untuk warga Indonesia tertentu yang belajar bahasa Belanda, bahasa itu sebenarnya tetap tabu. Sarah Sayekti yang bekerja sebagai wartawan tv dan penerjemah dimarahi orang tuanya ketika dia bilang ingin belajar bahasa Belanda. “Namun sekarang mereka melihat bahwa saya bisa mendapat gaji dengan menguasai bahasa Belanda, antara lain karena pekerjaan saya di acara Spoorloos, yang ditayangkan televisi KRO di Belanda. Sayekti menang lomba bicara bahasa Belanda. “Saya merasa lebih bebas dalam bahasa Belanda, saya bisa lebih baik mengungkapkan diri dalam bahasa itu,” demikian Sayekti.
Kebanyakan mahasiswa tidak memikirkan zaman kolonial lagi jika mereka mendengar bahasa Belanda. “Tentu ada ikatan sejarah antara Indonesia dan Belanda,” kata mahasiswa tahun keempat Fajar Nugraha. Namun itu perlu dilihat lepas dari bahasanya. Apa yang pernah terjadi, sudah berlalu.”
Demikian harian Het Parool dan demikian pula tinjauan pers hari ini.
This entry receives 2 comments.
Ery,
Kalau dulu dosen Fisika ITB, Pantur Silaban, konon pernah berkelakar bahwa orang Indonesia itu sudah “pandai” bahasa inggris kalau mimpi pun sdh dalam bahasa inggris. Entahlah kalau itu memang ada benarnya.
Memang penjiwaan dalam satu bahasa itu sulit sekali, terbentuk dari lingkungan sejak kecil. Saya sendiri kalau lagi kesal dengan banyaknya telemarketing di telpon, menjawabnya dengan bahasa Indonesia, bahkan bahasa slang daerah (bahasa Palembang asli). Sering mereka kapok, lho!
Kalau orang Indonesia (yang lahir dan dibesarkan di Indonesia) lebih lancar berbahasa asing, itu benar-benar aneh. Dimana-mana pun di pelosok dunia, mother tongue pasti lebih ’sreg’ bagi orang, terutama kalau ‘misu’ [jawa/palembang: memaki] atau menyumpah serapahi orang lain.
Jul 16, 2008 at 11:41 am
Hallo bang Ery,
Saya rasa setiap manusia itu unik. Gak bisa di generalisir antara manusia yang satu dengan
yang lain. Saya memang lebih sreg mengungkapkan perasaan
dan sumpah serapah dalam bahasa asing, dalam hal ini bahasa belanda. Mungkin karena lebih banyak
pilihan kata untuk hal tersebut dalam bahasa belanda. Maklumlah, orang indonesia sendiri
kan tidak terlalu terbiasa untuk mengungkapkan perasaan mereka secara verbal. Paling tidak
saya jadi tidak terbiasa dengan hal itu.
Tentu saja kemampuan bahasa Indonesia saya masih di atas kemampuan saya berbahasa
Belanda atau bahasa asing lain. Salam hangat, sarah
Jul 28, 2008 at 9:53 pm
Your feedback, please...