March 30th, 2004
# 1:21 pm
No comments
Bahasa rojak (bagian 2)
> Kang Ery mau Tanya nih…
>
> Dari mana orang betawi dapat istilah ane and ente?
> Asimilasi budaya atau lainnya?
>
> Karena sepertinya Kang Ery tidak keberatan dengan budaya
> betawi yang menggunakan ane-ente yang menurut saya akarnya
> juga bahasa arab. Mungkin karena sekarang kita tidak
> hidup dijaman asimilasi tersebut, entah berapa ratus tahun
> yang lalu, sekarang kita mengatakan hal tersebut sebagai
> budaya Betawi.
>
> Dan mungkin masih banyak lagi asimilasi-asimilasi lainnya
> yang sekarang juga tidak kita persoalkan dan mengangapnya
> wajar sebagai bagian dari budaya yang bersangkutan.
> Mungkin itulah budaya, budaya yang terbentuk dari
> asimilasi-asimilasi atau pengaruh dari kelompok, golongan
> atau bahkan bangsa lain. Saya sendiri juga merasa janggal
> dengan cara penggunaan bahasa seperti yang dilontarkan
> Kang Ery terhadap tulisan Mbak Xxxxxx, tapi bisa jadi hal
> ini justru akan membentuk budaya baru dikemudaian hari,
> terlepas dari kesan esklusif atapun pengelompokan yang
> disinggung oleh Kang Ery.
>
> Waallahu`alam
> Shodiq
Shodiq,
Saya tidak bisa berkomentar ttg asimilasi, karena saya nggak punya ilmu apa-apa ttg hal itu. Tetapi kata kuncinya barangkali ada pada “ratusan tahun” itu.
Ketertarikan saya saat ini adalah pengaruh “bahasa yang terpatah-patah” (broken language) terhadap cara berpikir seseorang. Dalam tataran individual efeknya akan terasa sekali karena jangka waktunya adalah belasan (atau puluhan) tahun saja.
Berikut saya kutipkan George Orwell dalam “Politics and the English Language”:
“… But an effect can become a cause, reinforcing the original cause and producing the same effect in an intensified form, and so on indefinitely. A man may take to drink because he feels himself to be a failure, and then fail all the more completely because he drinks. It is rather the same thing that is happening to the English language. It becomes ugly and inaccurate because our thought are foolish, but the slovenliness of our language makes it easier for us to have foolish thoughts.”
Orwell berbicara ttg bahasa Inggris, terutama penggunaannya dalam politik, yang disebutnya sudah merusak cara kita berpikir. Saya berpendapat bahwa hal yang sama (bahkan dalam intensitas yang lebih besar) akan terjadi kalau kita melihat “broken language“.
Saya pernah menulis artikel berjudul “Ana hilang shoes”, satu kalimat dalam tiga kata dalam tiga bahasa. Coba bayangkan anak ini mencoba mengekspresikan pendapatnya kepada orang lain. Susah sekali orang lain untuk mengerti mereka (kecuali tentu saja mereka yang bercakap dengan “bahasa” yang sama).
Ketika orang tidak bisa mengerti maksud mereka, bahkan lama kelamaan tidak bisa mengerti diri mereka, maka lingkaran seperti ini akan mengakibatkan masalah identitas. Awalnya mereka dianggap tidak bisa mengungkapkan pikiran, lama-lama orang akan meragukan apakah mereka memang bisa berpikir. Dan pada gilirannya, mereka sendiri pun meragukan kemampuan mereka untuk berpikir.
[Jadi ingat Naga Bonar, [dalam logat batak] “Kuperintahkan kau berhenti berpikir, karena kalau kau berpikir, pusing aku!”]
Ada kaitan yang jelas antara kemampuan berbahasa dengan kemampuan berpikir. Dalam kasus ekstrem, ini bisa kita lihat dalam komunitas tuna rungu. Mereka yang tidak diajar berbahasa akan punya mental terbelakang.
Silakan baca bukunya Oliver Sacks yang berjudul “Seeing voices” ttg masalah ini. Ini buku kedua yang saya baca yang menceritakan kehidupan komunitas tuna rungu. Buku ini juga berbicara lebih jauh ttg fungsi bahasa. Ada korelasi langsung antara ketidakmampuan untuk menyusun kalimat dengan kerunutan berpikir. Kalau otak kita tidak mampu menyusun kata-kata (bahasa apapun yang dipakai oleh otak kita), tanpa bahasa yang runut, pikiran menjadi kacau.
Apa hubungannya dengan bahasa campur-campur?
Yaah, barangkali akan ada yang bilang saya mengada-ada. Di milis parakanca malah posting saya jadi lelucon, dianggap ajakan untuk menerjemahkan semua kata, termasuk nama.
Padahal fokus utama saya bukan bahasa sebagai alat komunikasi. Dalam tingkatan ini, barangkali bahasa rojak itu tidak terlalu jadi masalah, kecuali dalam kasus ekstrim, misalnya mengucapkan kalimat lima kata dalam lima bahasa. Dalam tingkatan ini pula, dalam jangka waktu ratusan tahun, akan terjadi proses asimilasi.
Sebagai alat komunikasi memang tidak akan menjadi masalah menggunakan bahasa rojak. [Maaf Kang Ridha, dua kata melayu yang sangat melekat di otak saya adalah rojak dan pengsan. Orang Indonesia akan mengasosiasikan "rojak" dengan "rujak", yaaah, ndak apa-apa wong pengertiannya kurang lebih sama, walaupun wujudnya berbeda].
Namapun ndak perlu diterjemahkan. Najmuddin tidak harus selalu menjadi Necmetin (ala Turki), atau Abdurrahman ndak perlu harus jadi Beddu Amang (ala Bugis). Karena nama ya itulah dia: nama, diterima seperti apa adanya.
Tetapi bahasa sebagi alat berpikir, ini akan lain ceritanya. Bayi yang tidak diajari bahasa (dalam kasus tuna rungu, misalnya), akan menjadi “mentally retarded” hanya dalam waktu satu dua tahun. Dalam intensitas yang sedikit berbeda, bahasa yang terpatah-patah akan membangun pemikiran yang tidak runut, bila seseorang tumbuh dalam lingkungan seperti itu.
Sebenarnya ini yang saya khawatirkan. Barangkali psikolog kita (Teh Yeti, Dewi Taruma, atau Ustaz Rahmad van Tilburg) bisa memberikan input ttg masalah ini.
Your feedback, please...