Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Bahasa rojak (bagian 1)

Bahasa rojak (bagian 1)

Dari sebuah email:

> Mampukah kita,terutama saudara2ku ikhwan?
>
> Wassalam.
> –

Kepada Mbak Xxxxxxxi, mohon maaf kalau saya mengambil contoh di atas. Juga mohon maaf karena ini di luar topik yang didiskusikan.

Siapa yang dimaksud dengan “saudara2ku ikhwan”?

Berikut alternatifnya, dari perspektif pembaca email:

  1. Anggota “Ikhwanul muslimin”.
  2. Anggota organisasi tertentu yang saling menyebut sesama anggotanya sebagai “ikhwan”.Kedua alternatif di atas agak aneh, karena keanggotaan imas_sg adalah terbuka dan tidak terbatas pada suatu organisasi saja.
  3. Secara umum saudara-saudara sesama muslim. Kalau ini yang dimaksud, maka secara bahasa agak aneh, karena “saudara” dan “ikhwan” mengandung makna yang kurang lebih sama.
  4. Muslim laki-laki. Di sini penggunaan “ikhwan” ditujukan untuk membedakannya dengan “akhwat”.

Alternatif terakhir ini yang paling cocok secara tata bahasa, walaupun akan menimbulkan permasalahan gender. Kenapa kemampuan untuk menghadapi sekularisme lebih dinisbahkan kepada laki-laki? Bukankah peran perempuan sama kritisnya?

Kembali ke topik posting ini, secara umum, saya melihat adanya gejala penggunaan kata-kata Arab untuk kata-kata yang sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia.

Untuk apa? Wallaahu a’lam. Tetapi ini sudah menjadi lingo tersendiri. Barangkali untuk mencuatkan identitas sebagai komunitas islami. Barangkali juga sebagai bentuk pemberontakan terhadap bahasa kaum muda yang semakin amburadul.

Akhirnya kita mendengar:

  • saya ==> ana, ane
  • anda ==> antum, ente
  • saudara ==> akhi
  • laki-laki ==> ikhwan
  • perempuan ==> akhwat, masturah
  • ayah, bapak, apak ==> abi
  • ibu, bunda, emak ==> ummi
  • pakcik, mamang ==> ammi

Dalam tataran pribadi, saya termasuk yang sangat khawatir dengan “bahasa rojak”. Anak-anak kami sudah mulai mencampur adukkan tiga bahasa. Bahasa campur-campur bukanlah cara yang baik untuk menguasai suatu bahasa.

Dalam tataran yang lebih luas, bahasa kan menunjukkan bangsa. Ada budaya yang menjadi latar belakang bahasa itu. Saya juga berpindah ke mode “ane-ente” ketika berbicara dalam logat “betawi/arab”, tapi itu kan memang setting budayanya seperti itu. Kalau berpindah ke logat makassar, ya sudah pasti lain lagi, karena memang lain settingnya.

Akankah budaya kita pelan-pelan tercerabut karena penggunaan bahasa yang acakablak? Ingat, bahasa memang merupakan produk budaya, tapi pada gilirannya, bahasa bisa membentuk budaya.

Saya termasuk yang berpendapat bahwa penggunaan bahasa Arab adalah bagian dari syiar Islam. Tetapi penggunaan bahasa campur-campur bukanlah bagian dari syiar Islam.

Mari kita kuasai bahasa Arab, dan kita didik anak-anak kita untuk tidak memakai bahasa rojak, dimulai dari diri kita sendiri.

This entry receives one comment.

sita

Setuju pak….kalau mau memakai bahasa arab ya bahasa arab semua, kalau mau pake bahasa indonesia ya indonesia….jangan mencla mencle
apakah dengan memakai campuran bahasa itu lantas otomatis jadi orang sholeh? gak kann…
label muslim taat itu yang menentukan Allah
bukan dari pemakaian kata kata ana, antum, anti, ummi dll saja.

Apr 8, 2008 at 4:30 am

Your feedback, please...

This entry was posted on Monday, March 29th, 2004 at 10:42 am and is filed under Education, Language, Parenting, Religion. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Asides

If Moses had gotten the Ten Commandments on a floppy disk, it would never have made it to today. (Dag Spicer, curator of the Computer History Museum in Silicon Valley, The NYTimes Circuit, 26-Mar-2009)

“The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore all progress depends on the unreasonable man.”
George Bernard Shaw, Maxims for Revolutionists

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.