March 29th, 2004
# 10:42 am
1 comment
Bahasa rojak (bagian 1)
Dari sebuah email:
> Mampukah kita,terutama saudara2ku ikhwan?
>
> Wassalam.
> –
Kepada Mbak Xxxxxxxi, mohon maaf kalau saya mengambil contoh di atas. Juga mohon maaf karena ini di luar topik yang didiskusikan.
Siapa yang dimaksud dengan “saudara2ku ikhwan”?
Berikut alternatifnya, dari perspektif pembaca email:
- Anggota “Ikhwanul muslimin”.
- Anggota organisasi tertentu yang saling menyebut sesama anggotanya sebagai “ikhwan”.Kedua alternatif di atas agak aneh, karena keanggotaan imas_sg adalah terbuka dan tidak terbatas pada suatu organisasi saja.
- Secara umum saudara-saudara sesama muslim. Kalau ini yang dimaksud, maka secara bahasa agak aneh, karena “saudara” dan “ikhwan” mengandung makna yang kurang lebih sama.
- Muslim laki-laki. Di sini penggunaan “ikhwan” ditujukan untuk membedakannya dengan “akhwat”.
Alternatif terakhir ini yang paling cocok secara tata bahasa, walaupun akan menimbulkan permasalahan gender. Kenapa kemampuan untuk menghadapi sekularisme lebih dinisbahkan kepada laki-laki? Bukankah peran perempuan sama kritisnya?
Kembali ke topik posting ini, secara umum, saya melihat adanya gejala penggunaan kata-kata Arab untuk kata-kata yang sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia.
Untuk apa? Wallaahu a’lam. Tetapi ini sudah menjadi lingo tersendiri. Barangkali untuk mencuatkan identitas sebagai komunitas islami. Barangkali juga sebagai bentuk pemberontakan terhadap bahasa kaum muda yang semakin amburadul.
Akhirnya kita mendengar:
- saya ==> ana, ane
- anda ==> antum, ente
- saudara ==> akhi
- laki-laki ==> ikhwan
- perempuan ==> akhwat, masturah
- ayah, bapak, apak ==> abi
- ibu, bunda, emak ==> ummi
- pakcik, mamang ==> ammi
Dalam tataran pribadi, saya termasuk yang sangat khawatir dengan “bahasa rojak”. Anak-anak kami sudah mulai mencampur adukkan tiga bahasa. Bahasa campur-campur bukanlah cara yang baik untuk menguasai suatu bahasa.
Dalam tataran yang lebih luas, bahasa kan menunjukkan bangsa. Ada budaya yang menjadi latar belakang bahasa itu. Saya juga berpindah ke mode “ane-ente” ketika berbicara dalam logat “betawi/arab”, tapi itu kan memang setting budayanya seperti itu. Kalau berpindah ke logat makassar, ya sudah pasti lain lagi, karena memang lain settingnya.
Akankah budaya kita pelan-pelan tercerabut karena penggunaan bahasa yang acakablak? Ingat, bahasa memang merupakan produk budaya, tapi pada gilirannya, bahasa bisa membentuk budaya.
Saya termasuk yang berpendapat bahwa penggunaan bahasa Arab adalah bagian dari syiar Islam. Tetapi penggunaan bahasa campur-campur bukanlah bagian dari syiar Islam.
Mari kita kuasai bahasa Arab, dan kita didik anak-anak kita untuk tidak memakai bahasa rojak, dimulai dari diri kita sendiri.
This entry receives one comment.
Setuju pak….kalau mau memakai bahasa arab ya bahasa arab semua, kalau mau pake bahasa indonesia ya indonesia….jangan mencla mencle
apakah dengan memakai campuran bahasa itu lantas otomatis jadi orang sholeh? gak kann…
label muslim taat itu yang menentukan Allah
bukan dari pemakaian kata kata ana, antum, anti, ummi dll saja.
Apr 8, 2008 at 4:30 am
Your feedback, please...