November 16th, 2006
# 7:56 pm
2 comments
Tentang kebapakan
Surat tanpa nama pengirim ini dituliskan di Bukom Karisma sekitar tahun 91-93.
Ditulis ulang oleh Ery, Singapura, 26-Jan-2000.
… dari surat-surat yang tak terkirimkan …
tentang kebapakan
Assalamu’alaikum, Nak …
Sebelum kulanjutkan surat ini, biarlah kusampaikan betapa aku punya seribu rindu padamu yang aku simpan diam-diam. Betapa aku punya sebuah cinta padamu yang besarnya hanya Tuhanlah yang tahu, yang kujadikan pengantar dalam setiap do’a-do’aku untukmu.
Nak, sejak dulu telah menjadi permohonan bagiku, yang kubisikkan tiap kali kulihat Engkau beranjak dewasa … semoga Allah memberikan waktu dan kesempatan untukku untuk bicara padamu tentang tugas kita sebagai ayah bagi anak-anak kita. Pembicaraan antara Engkau dan aku saja, bukan Engkau sebagai anak, bukan pula aku sebagai ayah. Pembicaraan antara dua laki-laki dewasa yang sama-sama berusaha mendekati Kebenaran, mendekati keilahian.
Alhadulillah, sejak putramu lahir, aku yakin Allah mendengar do’aku …
Nak, menjadi ayah itu mulia … Bacalah kisah rasul-rasul di kitab suci yang berdoa tentang keturunannya, yang mengadukan tugas kebapakannya kepada Allah … Bacalah betapa do’a-do’a dan nasihat terbaik yang diabadikannya dalam AlQur’an dikutip dari pembicaraan antara ayah dan anaknya.
Nak, menjadi ayah itu indah … rasakanlah dengan hatimu imbauan Luqman Al-Hakim pada anaknya … ya bunayya … ulangilah pula doa Zakariyya ‘alaihissalaam yang dibisikkannya di mihrab suci dalam laut harap seorang hamba … fa hablii min ladunka waliyya …Nak, saat ini Engkau telah bisa merasakan bagaimana suasana hati mereka ketika mengucapkan kalimat-kalimat sederhana seperti itu. Karena Engkau telah menjadi seorang ayah.
Di atas segalanya, suasananya indah, Nak!
Itulah yang aku rasakan ketika aku coba ulangi dan hayati semuanya.
*** *** ***
Nak, melihatmu, memandangimu, meskipun tak lagi dengan mata fisik, adalah menyenyumi dengan pahit sebagian dari masa laluku. Saat ini, tak sungkan kuakui, aku adalah seorang ayah yang tanpa sejarah. Seorang laki-laki yang menjadi ayah, tetapi tidak punya sesuatu yang patut dikenang dan diteladani oleh laki-laki lain yang ingin menjadi ayah yang baik.
Kusadari, betapa aku dulu tak pernah berpikir dan menyiapkan diri bagaimana menjadi seorang ayah yang baik. Dan, Nak, itulah kelemahan kita, laki-laki, yang paling jarang kita sadari. Kita senantiasa bersiap menjadi suami yang baik tapi belum berpikir menjadi ayah yang teladan.
Ketika Engkau lahir, aku cuma berpikir bahwa Engkau adalah bagian dari kasih sayangku pada ibumu. Bahwa kehadiranmu adalah sebagai penguat ikatan kasih kami.
Tapi kemudian kusadari bahwa engkau adalah engkau. Engkau cuma titipan Allah, karenanya, engkau bukan sesuatu yang bisa aku miliki. Engkau datang dariNya, bukan dari aku dan ibumu. Engkau punya kehidupanmu sendiri, yang akan engkau pertanggung jawabkan sendiri, seperti aku akan lakukan juga nanti. Engkau bukanlah sebuah kemewahan yang bisa aku banggakan di hadapan orang-orang lain. Aku tak pantas bangga dengan penampilan fisikmu, tak pantas bangga dengan kemampuan berpikirmu, tak pantas bangga dengan segala kehebatanmu, atau apapun yang muncul karena kehebatanmu …
Engkau adalah manusia, Nak … Engkau adalah milik Tuhan penciptamu. Karenanya, kalaupun aku boleh berbangga, maka seharusnyalah itu karena kemanusiaanmu, karena Engkau memang terlihat berpikir, merasa, dan berusaha membuktikan Engkau memang cuma dimiliki Tuhan.
*** *** ***
Bagitulah, Nak … setelah aku malu tak bersiap menjadi ayah, setelah kusadari Engkau bukan milikku karena Engkau pun punya kehidupanmu sendiri, maka kuakui, Nak, betapa aku menangis berkepanjangan di malam-malam setelah itu, kusampaikan rasa maluku, kesedihanku, pada Pemilik Maha Pemilik.
Kemudian, Nak … kuhisab diriku. Kalau aku harus mengantarkanmu kepada Tuhan, tentulah jarakku dengan Kebenaran Maha Kebenaran harus sedekat mungkin. Agar nantinya, ketika Engkau telah berjalan sendiri, jarak yang harus Engkau tempun tak lagi terlalu mendaki, jurangnya tak lagi terlalu curam, dan persimpangan tak lagi banyak.
Dalam perjalanan kita itu, Nak … aku tak menggendongmu, aku hanya memegang jemarimu, tubuh kita merapat. Di saat-saat tertentu, pada jalan yang terlalu licin, pada pendakian yang terlalu curam, aku ingat betapa Engkau sering merengek meminta kita mencari jalan yang lebih mudah. Tapi, Nak … permintaanmu tak pernah kupenuhi, sekalipun Engkau menangis berurai air mata. Ingatkah apa yang aku katakan …? Tak ada jalah lain menuju Tuhan. Tak ada jalan menuju Tuhan yang berpemandangan indah, yang landai, dan enak dilalui.
Di saat-saat lain, sering pula Engkau mengeluh letih dan ingin beristirahat. Tapi, Nak … permintaan ini pun tak kukabulkan meski Engkau menarik-narik tanganku. Ingat apa yang kukatakan …? Perjalanan menuju Tuhan sesungguhnya bukanlah perjalanan fisik. Tak ada kata kelelahan dalam perjalanan seperti ini … tugas kita adalah terus menerus memperpendek jarak denganNya. Cuma Dia yang menentukan kapan kita berhenti. Berhenti artinya kehambaan kita mati.
*** *** ***
Saat-saat senja bagiku seperti ini, aku masih punya satu do’a. Mungkin do’a paling akhir yang akan terus ulang-ulang hingga kita tak lagi bisa bertemu di kefanaan. Itulah, Nak … doa kekasih Allah, Ibrahim, tentang anak cucunya dibelakang hari …
Sekarang aku menyadari kebanggaan sebenar-benar kebanggaan yang seharusnya kumiliki sebagai seorang ayah. Betapa aku akan bangga bila melihatmu mampu menjadi ayah yang lebih baik bagi putramu dari pada aku.
Kalaupun nanti, di kebakaan seberang sana, kulihat jarakku jauh dari Tuhan, aku akan ikhlas. Mungkin seperti itu jugalah jarakku dengan Tuhan di dunia. Tapi betapa aku ingin melihat Engkau berapa di barisan yang lebih depan, anakmu berada lebih depan, dan anak dari anakmu berada lebih dekat lagi denganNya. Demikianlah seterusnya, hingga dari generasi ke generasi, titipan Allah kepada kita dekat kian dekat dengan Pemilik Sebenar Pemilik.
*** *** ***
Akhirnya, Nak … Setelah Engkau menjadi ayah, jangan lagi pikirkan nama besarmu, rasa hormat makhluk lain padamu … Karena kalau Engkau bangga dengan itu, anakmu pun akan belajar membanggakan nama besar(mu), rasa hormat makhluk (padamu). Jadilah ayah yang mengajarkan kesederhanaan, kedekatan kepada Tuhan …
Kudo’akan Engkau bisa membantunya menjadi manusia, setelah itu membantunya lebih dekat dan hanya bergantung pada Khalik, bukan pada makhluk-makhluk …
Aku tak kan bicara panjang lagi … lihatlah, cintaku … putramu menunggu genggaman jarimu …
Wassalamu’alaikum
Ayahmu
*** *** ***
This entry receives 2 comments.
Assalamualaikum,
nuhun bang ery, mo izin ‘copy paste’ postingan yg ini,
wassalamualaikum,
Dini
Dec 10, 2006 at 7:45 pm
Wah.. subhanallah, tulisan yang benar-benar bagus,
Ternyata ada yang pandai menulis di Karisma.
Boleh ya saya sebarkan ke saudara-saudara yg lain.
Terimakasih sebelumnya,
Dec 11, 2007 at 1:26 am
Your feedback, please...