Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → A small world?

A small world?

Saya ingin melakukan percobaan kecil-kecilan untuk membuktikan bahwa dunia memang kecil: bisakah saya menyampaikan foto berikut ini kepada yang bersangkutan, hanya dengan mengirimkan posting ini? Ini saya lakukan tanpa bermaksud menyaingi penelitian Roby Muhamad (is he the only Indonesian ever published in Nature?) yang dilakukan dengan jauh lebih metodik (klik di sini untuk melihat ringkasan penelitiannya).

Alasan saya sebenarnya sederhana sekali. Waktu kami pergi ke Dufan beberapa waktu yang lalu, saya ingin bereksperimen dengan kamera saya, bisakah saya menangkap ekspresi wajah yang begitu candid tapi hanya bisa ditangkap dalam waktu yang sangat singkat? Tambahan lagi: tanpa tripod (maklum lupa bawa).

Akhirnya saya bereksperimen sambil menunggu anak dan keponakan saya antri berjam-jam untuk naik Kora-kora. Ketika saya selesai mengambil beberapa gambar (termasuk gambar di bawah ini), saya melihat betapa serunya mereka membahas petualangan mereka begitu mereka turun. Petualangan mereka naik Kora-kora ini merupakan family time, sayang sekali mereka tidak punya rekaman visual justru di saat kejadian. Hati saya tergerak untuk memberikan gambar ini kepada mereka, tapi sayang sekali mereka lewat begitu cepat tanpa sempat saya sapa.

Keinginan itu pasti akan terlupakan begitu saja kalau saya tidak teringat dengan penelitian yang dilakukan oleh Roby Muhamad. Inti penelitian itu adalah bahwa kita bisa menemukan hubungan antara kita dengan orang lain (yang sama sekali tidak kita kenal, dan tinggal di negara manapun) dengan membuat rantai kenalan dengan jumlah tertentu. Gampangnya: kenalannya kenalan saya adalah kenalannya kenalan kenalan dia (entah ada berapa orang dalam rantai kenalan itu). Silakan baca deskripsi singkatnya di sini.

Dari situ timbullah ide, kenapa saya tidak umumkan saja di internet, dan meminta bantuan semua orang (yang bisa menerima email saya dan membaca posting ini) untuk menemukan keluarga di bawah ini. Mestinya, dunia saya dan mereka tidaklah terlalu besar. Setidaknya, dunia kami pernah beririsan ruang dan waktu ketika kami sama-sama di sekitar wahana Kora-kora di Dufan.
Yang ingin saya ketahui ada dua:

  1. Siapakah keluarga ini dan di mana mereka tinggal?
  2. Berapa orang rantai kenalan antara saya dan mereka?

Setelah ketemu, keinginan saya hanya ingin menghadiahkan foto ini kepada mereka.

Inilah foto mereka. Orang-orang yang duduk di baris terdepan (kalau saya tidak salah tebak) adalah satu keluarga. Kalau ternyata mereka bukan satu keluarga, yaaah, siapa saja dalam foto inilah.

Exhilarating DufanExhilarating Dufan

Kepada siapapun yang menerima email ini, tolong tekan tombol “forward” dan teruskan email ini kepada kenalan anda. Siapa tahu kenalan anda kenal orang-orang ini. Jangan lupa tuliskan komentar anda di situs web saya.

This entry receives 3 comments.

Gea

“Roby Muhamad (is he the only Indonesian ever published in Nature?)”

No, RM is not the only Indonesian ever published in Nature. Several others have done it even before him. To pick a popular example: visit the article about the small-bodied hominin at http://www.nature.com/nature/journal/v431/n7012/abs/nature02999.html

Nov 13, 2006 at 2:42 pm

dini

Kalo udah ketemu keluarga itu dan memberikan foto ini, apa mereka ntar gak malah panik, kok ada orang yang bisa punya foto mereka. Ntar disangka penguntit lagi… :D

Feb 13, 2007 at 4:06 am

Ery

Dini, walaupun disangka penguntit, itu akan saya anggap sebagai resiko. Kan yang penting niat baiknya.

Feb 13, 2007 at 9:14 am

Your feedback, please...

*
To prove you're a person (not a spam script), type the answer to the math equation shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the equation.
Click to hear an audio file of the anti-spam equation

This entry was posted on Monday, November 13th, 2006 at 1:26 am and is filed under Indonesian, Trips. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Recent Comments

  • Riza: Bukannya di paspor ada pernyataan alamat luar negeri? Kan kita bisa bebas fiskal 4 kali setahun sebagai...
  • AgUStiAn: Artikelnya sangat baik sebagai cermin diri selaku pembaca. Yang sangat penting tujuan akhir dari suatu...
  • A. Aji: Oh ya .. saya tambahkan NPWP itu diterbitkan dari kantor tempat tinggal (dalam hal ini adalah KTP). Dan untuk...
  • A. Aji: Boss, TKI itu adalah WPDN, bukan WPLN. WPDN — Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak atas penghasilan...
  • A. Aji: Boss, Sepengertianku sih nggak begitu — semua warga negara Indonesia yang sudah mendapatkan penghasilan...

Asides

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.

From NYTimes: Without big noise, Netherlands goes open source. What about Indonesia’s IGOS? I think its going ngos-ngosan!

Dari detik.com: beberapa karyawan Carrefour keracunan CO. Gubernur mencurigai adanya kesalahan desain. Komentar Pak Gubernur ini ibarat menepuk air di dulang, yang kena kan pejabat Pemda sendiri, karena semua desain ventilasi kan sudah disetujui oleh Pemda. Mari kita tunggu kelanjutannya.