June 19th, 2011
# 7:34 pm
No comments
Sang Penjaja
“Pak, semir Pak?” katanya menawarkan jasa semir sepatu waktu saya sedang ngobrol menunggu pesawat di Bandara Sukarno-Hatta.
“Kamu temannya Mamad, ya?” tanya saya. Dia gelagapan mendengar pertanyaan saya, karena mungkin tidak mengharapkan pertanyaan itu. Dia tetap bengong, maka saya tanya lagi, “Kamu kenal sama Mamad, nggak?”
Dia jawab, “Nggak, Pak”.
“Naah”, sambung saya, “Mamad itu anak sebesar kamu yang baru saja menyemir sepatu saya.” Dia tersenyum kecut karena kehilangan calon pelanggan, kemudian terus pergi.
***
Mamad (kita sebut saja begitu namanya) memang sudah menyemir sepatu saya. Dia menghampiri saya untuk meminta menyemir sepatu saya. Ternyata dia berpasangan dengan kawannya.
Ketika sudah selesai menyemir, mereka saya tanya “Jadi berapa yang saya harus bayar?”
Mereka menjawab, “Terserah bapak saja, seikhlasnya.”
Itu jawaban yang dari dulu saya tidak suka. Pertama, itu menunjukkan bahwa mereka tidak punya rasa percaya diri dengan layanan yang mereka tawarkan. Kedua, mereka juga bermain dengan perasaan pelanggan dengan menggunakan kata ikhlas. Semua orang juga bingung kalau harus menerjemahkan kata ikhlas menjadi berapa rupiah.
Karena itu saya damprat saja mereka, “Ya nggak bisa begitu dong, kalian harus bilang saya harus bayar berapa?”
Baru mereka buka mulut, “Lima ribu, Pak.”
“Itu untuk berdua?” tanya saya. “Betul, Pak”, jawab mereka.
Jumlah itu saya rasa cocok dengan tingkat layanan yang mereka berikan. Bahwa mereka dengan berani menyebutkan jumlahnya, saya beri mereka tambahan uang. Bahwa mereka tidak berusaha mengambil kesempatan dalam kesempitan, yaitu dengan melakukan mark-up besar-besaran dengan mengandalkan rasa bersalah pelanggan yang sudah menerima layanan tapi belum bayar, itu juga saya berikan bonus tambahan uang.
Mereka pergi dengan senyum yang mengembang, dan saya pun senang sekali karena sepatu yang sudah kusam jadi tampak lebih terawat.
***
Ini berbeda dengan Sang Penjaja lainnya yang saya temui di pintu tol. Dari jauh sudah kelihatan, ada orang yang menjajakan lampu LED. Lampunya cukup kecil, yang dalam perkiraan saya harganya sekitar 10-15 ribuan.
Ketika dia mendekat, saya membuka jendela mobil. “Berapa satu, Pak?”
“Lima puluh ribu, Pak”, jawabnya.
“Hah, mahal amat! Nggak jadi, Pak.” jawab saya.
Seperti bisa ditebak, Sang Penjaja melesat mengikuti mobil yang sudah maju perlahan, “Maunya berapa, Pak?”
Saya bilang, “Nggak jadi, Pak, kemahalan.”
Dia terus mengikuti mobil yang bergerak perlahan. Kakak saya yang sedang menyetir sudah merasa tidak enak diikuti seperti itu. Dan tampaknya Sang Penjaja bisa menebak hal ini, dia kemudian memutar ke sisi pengemudi dan kembali berkata, “Maunya berapa, Pak?”
Saya bilang, “Nggak Pak, nggak jadi”.
Akhirnya Sang Penjaja itu mengeluarkan jurusnya yang terakhir, “Dua puluh ribu saja bagaimana Pak?”
“Nggak, Pak, nggak jadi.” jawab saya sebelum mobil kami meluncur ke dalam jalan tol, dan Sang Penjaja itu tidak mengikuti kami lagi.
***
Saya terkena omelan kakak dan ibu saya yang dari tadi hanya diam mengamati. Kenapa tidak dibeli saja, kan sudah murah?
Buat saya, ini bukan masalah harganya sudah murah. Tapi ini masalah mark-up yang tidak masuk akal.
Kalau saja sejak awal Sang Penjaja itu menawarkan barangnya seharga 20 ribu rupiah, saya akan beli tiga. Tetapi ketika dia menawarkannya seharga 50 ribu, maka hati saya bertanya-tanya. Ada dua kemungkinan. Pertama, barangnya memang segitu harganya, tapi kalau memang begitu saya memang tidak berniat membeli. Kemungkinan kedua, ya itu tadi. Dia melakukan mark-up yang luar biasa besarnya, dan sedang memancing di tengah ketidaktahuan pelanggannya.
Buat saya ini tidak jujur. Sekalipun harganya hanya 30 ribu perak, bahkan seribu perakpun, tetaplah tidak jujur. Kenyataan bahwa jumlahnya sangat kecil, justru mempertajam betapa tragisnya kondisi Sang Penjaja itu.
Saya memilih untuk tidak mendukung pola dagang seperti itu dengan tidak membeli dari Sang Penjaja. Sebaliknya, saya mendukung penuh Si Tukang Semir — Mamad ini ataupun Mamad-Mamad lain — dengan memberikan bonus berlipat karena kejujurannya dalam memberikan harga.


Your feedback, please...