Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Cinta Nabi dan Makar Allah

Cinta Nabi dan Makar Allah

Ketika masih tinggal di Belanda, seorang kawan bertanya kepada saya dengan pertanyaan retoris, “Mas, bukankah kita harus cinta kepada Nabi melebihi cinta kita kepada istri?”

Saya kan harus menjawab, “Tentu saja”.

Ini terjadi jauh sebelum adanya kasus kartun Nabi Muhammad yang dimuat di koran Denmark yang menghebohkan dunia itu. Beliau bertanya dalam konteks tuduhan keji yang dikemukakan oleh beberapa orang di Belanda. Tuduhan itu antara lain mengatakan bahwa Nabi adalah paedofil karena menikah dengan anak-anak, serta menyimpulkan bahwa Islam itu adalah budaya terbelakang.

“Lantas kenapa kita diam saja ketika ada orang yang menghina Nabi. Bukankah kita akan berantem kalau ada orang yang menghina istri kita?” lanjut beliau sampai kehabisan nafas dengan kalimat yang panjang itu.

Ketika itu saya terdiam mendengar pertanyaan itu, bukan karena tidak bisa menjawab, tetapi karena saya merasa bahwa jawaban saya nantinya akan dianggap sebagai kelemahan. Nada pertanyaan itu (semoga bukan prasangka buruk) adalah keinginan untuk membalas penghinaan dengan kekerasan.

Saya tidak setuju dengan penggunaan kekerasan untuk membalas penghinaan agama (blasphemy) karena dua alasan. Pertama dan utama adalah bahwa kita diperintahkan untuk mencontoh Nabi, sedangkan Nabi tidak pernah melakukan kekerasan kecuali dalam keadaan terpaksa. Bahkan betapa banyak contoh ketika beliau sendiri dihina, semuanya dihadapinya dengan perilaku yang luar biasa luhurnya.

Nabi kita adalah orang yang paling mengerti makna firman Allah bahwa tak ada yang bisa menghinakan seseorang kecuali Allah, dan tak ada yang bisa memuliakan seseorang kecuali Allah. Perilaku Nabi sebagai manusia agung yang dimuliakan Allah tidak akan bisa dihinakan oleh manusia lain dengan tuduhan-tuduhan yang tidak masuk akal.

Ketika Nabi tidak pernah menggunakan kekerasan dalam menghadapi penghinaan terhadap dirinya, bagaimana mungkin kita menggunakan kekerasan ketika beliau dihina di masa sekarang?

Ini bukan berarti kita tidak boleh marah. Kita harus tidak rela melihat Nabi kita dihina, karena itulah tanda kecintaan kita kepada beliau. Tapi bagaimana kita mewujudkan ketidakrelaan kita itulah yang paling penting, dan ini menjadi sebab kedua mengapa saya tidak setuju dengan kekerasan dalam menghadapi kasus penghinaan.

Sebab kedua adalah karena kita tinggal di negara hukum, yang mempunyai aturan khusus tentang penghinaan agama (blasphemy). Wujud ketidakrelaan kita harus kita salurkan pada upaya-upaya hukum melalui pengadilan, serta penggalangan opini publik agar posisi kita sebagai umat Islam justru menguat dengan adanya kasus ini.

Komunitas muslim di Belanda belum punya nilai tawar yang kuat dalam proses bermasyarakat, dan itu tentu akan diperburuk bila kita melakukan kekerasan sebagai wujud ketidakrelaan kita terhadap penghinaan atas diri Nabi. Kita justru harus menunjukkan kepada dunia bahwa kaum muslim itu adalah kaum yang taat aturan.

Sayang sekali ketika itu harapan saya tidak terwujud. Theo van Gogh, sutradara yang membuat film dokumenter tentang kawin paksa seorang wanita muslimah yang juga menyuguhkan tubuh wanita bertatokan ayat AlQuran, dibunuh oleh seorang muslim sebagai balasan atas penghinaan terhadap Nabi dan Islam.

Akibatnya, Ayan Hirsi Ali, seorang Anggota Parlemen Belanda yang bersama van Gogh ikut membuat film tadi, menjadi leluasa untuk menyuarakan pendapatnya yang memang sejak awal sudah membenci Islam. Tinggallah saya dalam kegeraman membaca pernyataan-pernyataannya, hanya bisa mengutuk dalam hati.

Jauh dilubuk, saya hanya bisa meminta pertolongan Allah agar penghinaan ini segara berakhir.

***

Akhir itu datang tadi pagi ketika saya membaca laporan Kang Eddie Santosa di detik.com. Ayan Hirsi Ali ternyata seorang penipu, yang berbohong untuk mendapatkan status pengungsi ketika dia dulu datang dari Somalia. Status pengungsi itu menjadi tidak sah. Karena itu pula, status kewarganegaraan Belanda yang dia dapatkan beberapa tahun kemudian juga tidak sah. Dan karena itu pula, kedudukannya sebagai Anggota Parlemen juga harus dibatalkan.

Yang tercetus dalam hati saya ketika pertama kali membaca laporan itu adalah betapa mudahnya Allah membalas menimpakan kehinaan kepada siapapun yang dikehendakinya. Dalam waktu semalam, derajat Ayan Hirsi Ali terjatuh dari seorang liberal yang dipuja keberaniannya menyuarakan kata hatinya menjadi seorang penipu.

Terlepas dari apakah kehinaan yang ditimpakan Allah kepadanya adalah balasan atas kelakuannya menghina Nabi, ini adalah bukti betapa mudahnya Allah membalikkan keadaan dari kehinaan kepada kemuliaan, dan sebaliknya dari kemuliaan kepada kehinaan. Kita memang tidak pernah bisa meramalkan apa rencana dan makar Allah terhadap seseorang.
Sebagai penutup, saya kutipkan email dari seorang sahabat dalam menanggapi penghinaan terhadap Nabi:

Semoga sakit hati kita atas bencana munculnya kartun ini nantinya dapat membuahkan rahmat dan ampunanNya untuk kita semua, yang telah sadar atau tidak sadar telah lama ‘tidak’ mencintai beliau saw. Masing-masing kitalah yang mengerti benar, sejauh mana dan sedalam apa kecintaan kita pada beliau itu. Seseorang mencintai seseorang yang lain dapat dilihat dari seringnya orang itu membicarakan yang dicintainya, menirunya sebisa-bisanya, menghormatinya, mendoakannya, selalu mengingatinya, membisikkannya dalam kesendirian dan membincangkannya dalam keramaian.

Apabila hal-hal ini tidak dilakukan, atau dilakukan dengan setengah hati, atau dilakukan kadang-kadang saja, maka tidaklah dapat disebut bahwa ia mencintai yang dicintainya itu. Demikian sebaliknya. Bila seseorang mencintai rasulullah saw, maka tidaklah lewat satu haripun dalam hidupnya kecuali bibirnya basah mengucapkan sholawat, hatinya merunduk dibawah kebesaran rasul, dan lakunya meneladani beliau dari detik ke detik.

Berikut ini laporan Kang Eddie Santosa di detik.com:

  1. Politik Belanda Gempar: Anggota Parlemen Hirsi Ali Ternyata Ilegal
  2. Skandal Hirsi Ali: Hampir Pasti Paspor Belanda Hirsi Ali Dicabut
  3. Skandal Hirsi Ali: Karir Politiknya di Belanda Tamat
  4. Skandal Hirsi Ali: Dari Klitoris Hingga Akhir Tragis
  5. Skandal Politik di Belanda: Hirsi Ali akan Hengkang ke AS

Your feedback, please...

This entry was posted on Tuesday, May 16th, 2006 at 7:40 pm and is filed under Indonesian, Religion. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Asides

If Moses had gotten the Ten Commandments on a floppy disk, it would never have made it to today. (Dag Spicer, curator of the Computer History Museum in Silicon Valley, The NYTimes Circuit, 26-Mar-2009)

“The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore all progress depends on the unreasonable man.”
George Bernard Shaw, Maxims for Revolutionists

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.