Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Kisah preman tobat

Kisah preman tobat

Anda punya kawan yang jadi penulis buku? Pernah merasa kaget, lho kok dia bisa menulis buku? Nah, itulah yang saya rasakan waktu tahu Andi Bombang sudah menerbitkan buku. Ketika tahu bahwa bukunya adalah sebuah novel, wah, tambah penasaran lagi saya.

Bukan apa-apa, saya tahu persis Andi Bombang jaman masih pakai seragam putih biru bercelana pendek. Nilai Bahasa Indonesianya memang selalu tinggi, dia termasuk murid favorit Pak … aah entah siapa nama Bapak Berambut Keriting itu, guru Bahasa Indonesia kami di SMP. Tapi menulis cerita? Apalagi sebuah novel?

Maka sangat kuatlah tekad saya untuk membuktikan sendiri kedigjayaan Bombang dalam mengolah kata. Bukunya saya cari, dan ternyata tidak terlalu jauh dari kampung saya: ada di perpustakaan University of Washington. Langsung saya pesan melalui Inter-Library Loan.

***

Begitu saya terima kiriman dari perpustakaan, saya langsung berdecak kagum. Ini bukan sembarang novel: ukurannya itu loh — 623 halaman. Orang kalau sudah bisa menulis cerita sepanjang itu, dan bisa meyakinkan penerbit bahwa ceritanya layak diterbitkan, pastilah bukan penulis sembarangan.

Itu kesan pertama saya.

Cap “spiritual thriller — citarasa lokal” terpampang gagah di sampul buku ini. Cita rasanya memang benar-benar lokal, as advertised. Cap “spiritual thriller” seperti yang dicantumkan di sampul buku itupun rasanya tidak berlebihan, sekalipun terkesan kurang tepat.
Kedua komponen — spiritual dan thriller — memang ada dalam buku ini. Tapi saya lebih melihat buku ini sebagai buku perjalanan spiritual, bukan buku thriller. Bahkan boleh dibilang buku ini adalah kisah perjalanan spiritual tokoh-tokoh cerita (bukan hanya tokoh utama) dari berbagai kalangan, yang nantinya mewakili berbagai skenario perjalanan spiritual masing-masing tokoh. Thriller hanyalah bumbu yang sangat tepat untuk kisah-kisah ini, karena bumbu ini akan menampilkan gambaran yang sangat kontras antara awal dan akhir kisah perjalanan spiritual mereka.
Ada dua hal yang menunjukkan kepada buku ini lebih tepat dikategorikan dalam genre spiritual dan bukan thriller. Pertama komposisi cerita. Sembilan bab pertama (260 halaman) buku ini memang berisi kisah aksi petualangan sang preman. Detil memang diceritakan lika-liku kehidupan kelompok preman. Mulai dari cara mereka mencari uang, struktur komando kelompok, sampai ke penyusunan strategi perang. Tetapi semua aksi petualangan itu seolah berhenti setalah bab sembilan. Di lima bab terakhir (sebanyak 360 halaman), mulailah lika-liku perjalanan spiritual sang preman. Benang merahnya adalah perjalanan spiritual, thriller hanyalah bumbu.
Kedua adalah tentang detil cara kerja polisi. Buku thriller tentunya akan memberikan porsi yang sama antara cara kerja preman dengan cara kerja polisi. Tapi tidak di buku ini. Rizal, tokoh polisi yang bertugas memburu Sang Kobra, ingin dikesankan sebagai polisi yang cerdas dan sukses. Tetapi sama sekali tidak ada penjelasan yang sama detilnya tentang mengapa Rizal selalu gagal dalam menangkap Sang Kobra. Yang terbaca adalah bahwa Rizal adalah tokoh simpul, tokoh penting dalam cerita yang akan ditampilkan pada titik-titik tertentu untuk memberikan kontras yang menyilaukan dalam alur cerita. Alur cerita perjalanan spiritual, bukan kisah thirller.
***
Sebagai buku perjalanan spiritual, buku ini merupakan jurnal yang sangat lengkap. Kegelisahan manusia dalam menjalani hidup diungkapkan secara gamblang melalui pertanyaan-pertanyaan Hardi Sang Preman dalam berbagai fase kehidupannya. Jawaban pertanyaan-pertanyaan itupun dibahas secara detil dalam perspektif sufi.
Perjalanan spiritual Hardi berawal ketika dia menemukan buku Al-Hikam karya Ibnu Athaillah di atas kapal tempatnya menyembunyikan diri dari kejaran polisi. Dua tahun dia berada di atas kapal, selama itulah dia mencari. Tentunya, persembunyiannya itu diselingi dengan beberapa aksi heroik Sang Jagoan, dalam menghadapi bajak laut misalnya, atau ketika menanggapi tantangan awak kapal untuk lomba panjat tiang layar. Aksi-aksi ini membuat perjalanan spiritual Hardi jadi lumayan enak dibaca.
Perjalanan spiritual itu sendiri banyak mengandung kebetulan-kebetulan, bahkan kejadian spiritual yang sifatnya gaib. Hardi misalnya mengalami kejadian aneh ketika berduaan dengan seorang pelacur begitu dia mendarat selepas dua tahun berkurung diri di atas kapal. Kejadian aneh yang membuatnya tidak sempat “menyentuh” perempuan itu. Atau kejadian jatuhnya handphone Hardi ke dalam kali, yang membuatnya putus hubungan dengan seluruh karib kerabatnya selama bertahun-tahun dia hidup di Karawang. Atau suara-suara gaib yang memanggil namanya ketika berusaha mencari seorang mursyid.
Kejadian-kejadian serta kebetulan-kebetulan itu akan membuat pembaca akan, apakah Hardi ini memang berniat taubat ataukah dia dipilih untuk taubat? Apakah kesadarannya itu timbul atas kemauannya sendiri, ataukah “takdir” menggariskannya untuk taubat? Tidak ada jawaban yang penulis tawarkan dalam konteks ini, mungkin sengaja biar pembaca bertambah penasaran.
Tapi untuk hal-hal lainnya penulis memberikan jawaban yang cukup lengkap. Beliau tidak segan-segan menuliskan berbagai masalah sufi dan tarekat dengan detil yang agak berlebihan. Tidak salah, misalnya, kalau dalam blognya Andi Bombang bercerita bahwa ada preman Bangka yang hafal lika-liku isi novelnya. Novel ini memang bisa dijadikan primbon bagi mereka yang ingin memulai perjalanan dalam dunia tarekat. Tidak lengkap tentunya, tapi detil-detilnya bisa dipakai sebagai bahan dasar untuk bertanya.
Bagaimana proses baiat tarekat misalnya, dibahas cukup detil, bahkan diulang sampai empat kali untuk tokoh-tokoh yang berbeda. Perjalanan masing-masing tokoh ini berbeda, tentunya bisa memberikan ragam skenario yang cukup lengkap bagi mereka yang tertarik untuk memulai praktek tarekat.
***
Secara keseluruhan, buku ini bagus. Saya rekomendasikan sebagai bahan bacaan anda. Lebih dari itu, bagi saya pribadi, sebagai orang yang kenal dengan penulisnya, dan pernah lama sekali mendengar celotehan-celotehannya, saya bisa menyatakan dengan sungguh-sungguh bahwa buku ini sangat Bombang sekali. Bagaimana cerita ini ditulis, begitulah gaya beliau akan bercerita kepada anda. Buat saya, ini adalah nostalgia sekaligus obat kangen mendengar kabar dari Andi Bombang.

Your feedback, please...

This entry was posted on Saturday, December 11th, 2010 at 1:08 pm and is filed under Books, Indonesian. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Asides

If Moses had gotten the Ten Commandments on a floppy disk, it would never have made it to today. (Dag Spicer, curator of the Computer History Museum in Silicon Valley, The NYTimes Circuit, 26-Mar-2009)

“The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore all progress depends on the unreasonable man.”
George Bernard Shaw, Maxims for Revolutionists

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.