October 30th, 2010
# 7:31 am
14 comments
Sebelum mereka menyebutmu “benda itu”
Ini adalah cerita tentang kematian dan jurang antar generasi. Sekadar mengingatkan bahwa anak-anak kita belum tentu punya kesamaan pandangan dalam melihat masalah kematian. Contohnya adalah seorang kakek tua, seorang muslim pengungsi Bosnia yang sudah lama menetap di Boise, sebut saja namanya Vahim.
Di Boise juga dia membesarkan anak-anaknya. Sayangnya tak sekalipun dia berbicara tentang kematian kepada mereka. Apa yang terjadi? Sang anak pun belajar sendiri, menyerap dari lingkungan mereka tentang apa makna kematian.
Tibalah masa sekarat bagi Vahim. Napas sudah tinggal satu dua, bicara pun sudah susah. Anak-anaknya berusaha memberi kenyamanan bagi dia dalam menjalani masa sekaratnya, tentunya sesuai dengan pelajaran yang mereka dapatkan dari lingkungannya.
Yang mereka lakukan? Mereka menidurkan sang Ayah dalam posisi nyaman di tempat tidur, menyediakan makanan yang cukup di sisinya, dan menyalakan TV dengan volume yang cukup besar tepat di kaki tempat tidur. Ini adalah kenyamanan dalam menjalani masa sekarat, dalam versi yang dipahami oleh anak-anaknya.
Dalam kondisi itulah kawan-kawan dari Islamic Center of Boise menemukan keluarga itu, setelah mereka mendapatkan panggilan telepon tentang kondisi Vahim. Anak-anak ada di ruang tamu, juga sedang nonton TV. Sang Ayah sedang sekarat sendirian di kamar tidur, ditemani oleh TV yang membahana.
Segeralah salah seorang kawan mengubah keadaan itu, dan setelah memberi ceramah singkat tentang sekarat dalam Islam, mereka segera mematikan TV dan men-talqin-kan sang Ayah. Tak berapa lama, Vahimpun meninggal, semoga Allah menerima iman islamnya.
Kawan-kawan dari masjid pun keluar untuk berembug dengan anak-anaknya tentang apa yang harus dilakukan setelah ini. Seorang kawan menjelaskan garis besarnya, bahwa masjid akan membantu pengurusan jenazah, tetapi akan jauh lebih afdhal kalau anggota keluarga terdekat yang mengurus jenazahnya, mulai dari memandikan sampai menguburkan. Nanti akan ada seseorang dari masjid yang akan ikut mengawasi.
Berikut jawaban Si Sulung: “You guys do what you need to do. There is no way that I am going to touch that thing“.
That thing itu beberapa saat yang lalu masih dia sebut sebagai Ayah.
Kejadian ini diceritakan kembali oleh kawan saya itu ketika kami mengadakan kursus memandikan jenazah. Anak-anak kita akan membuat definisi mereka sendiri bila kita tidak pernah berdiskusi dengan mereka. Tentang masalah apa saja: bisa masalah kematian, sekarat, akhirat, narkoba, seks, whatever.
Folks, talk to your kids, OK?
This entry receives 14 comments.
Astaghfirullah… terima kasih sudah mengingatkan, kang Ery.
Oct 30, 2010 at 12:09 pm
Assalaamu’alaykum,
Mas Edy,
Mohon ijin crossposting. Kisahnya nelangsa sekali. Ane harap banyak saudara2 seiman kita yg membaca dan mencamkannya.
Wassalaam.
Oct 30, 2010 at 12:23 pm
Abu Azhar: silakan.
Oct 30, 2010 at 12:52 pm
Tulisan yang sangat mengingatkan kang.
Terima kasih.
Oct 30, 2010 at 2:16 pm
Astaghfirulloh.. Shocking reminder.. Boleh repost di FB note kang?
Oct 30, 2010 at 2:37 pm
Monggo Kang Nur
Oct 30, 2010 at 4:06 pm
subhanallah, kalo di kampung peristiwa meninggal, memandikan jenazah, menguburkan, menalqin adalah peristiwa yang akrab dgn kita, semoga secara ndak langsung memberi pelajaran ke anak anak. Itu di Amrik, nilai nilai guyub, kebersamaan sdh hilang. mrk nafsi nafsi
Oct 30, 2010 at 5:03 pm
mas Ery, mohon ijin reposting. tks
Oct 30, 2010 at 6:57 pm
izin reposting ya pak Ery…makasi..
Oct 30, 2010 at 8:05 pm
Subhanallah, terima kasih pak Ery. Akan selalu ingat pesan ini.
Oct 30, 2010 at 11:54 pm
Ijin Co-pas untuk share, ya pak…..
Oct 31, 2010 at 10:44 pm
kalo anak saya belum lahir, gimana…
Nov 2, 2010 at 8:20 am
Nash, mulailah bercakap dengan calon ibu yang bakal melahirkannya ..
Nov 2, 2010 at 8:22 am
kang ery, ikut menyebarkan boleh ya …
Nov 8, 2010 at 2:13 am
Your feedback, please...