Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Sebelum mereka menyebutmu “benda itu”

Sebelum mereka menyebutmu “benda itu”

Ini adalah cerita tentang kematian dan jurang antar generasi. Sekadar mengingatkan bahwa anak-anak kita belum tentu punya kesamaan pandangan dalam melihat masalah kematian. Contohnya adalah seorang kakek tua, seorang muslim pengungsi Bosnia yang sudah lama menetap di Boise, sebut saja namanya Vahim.

Di Boise juga dia membesarkan anak-anaknya. Sayangnya tak sekalipun dia berbicara tentang kematian kepada mereka. Apa yang terjadi? Sang anak pun belajar sendiri, menyerap dari lingkungan mereka tentang apa makna kematian.

Tibalah masa sekarat bagi Vahim. Napas sudah tinggal satu dua, bicara pun sudah susah. Anak-anaknya berusaha memberi kenyamanan bagi dia dalam menjalani masa sekaratnya, tentunya sesuai dengan pelajaran yang mereka dapatkan dari lingkungannya.

Yang mereka lakukan? Mereka menidurkan sang Ayah dalam posisi nyaman di tempat tidur, menyediakan makanan yang cukup di sisinya, dan menyalakan TV dengan volume yang cukup besar tepat di kaki tempat tidur. Ini adalah kenyamanan dalam menjalani masa sekarat, dalam versi yang dipahami oleh anak-anaknya.

Dalam kondisi itulah kawan-kawan dari Islamic Center of Boise menemukan keluarga itu, setelah mereka mendapatkan panggilan telepon tentang kondisi Vahim. Anak-anak ada di ruang tamu, juga sedang nonton TV. Sang Ayah sedang sekarat sendirian di kamar tidur, ditemani oleh TV yang membahana.

Segeralah salah seorang kawan mengubah keadaan itu, dan setelah memberi ceramah singkat tentang sekarat dalam Islam, mereka segera mematikan TV dan men-talqin-kan sang Ayah. Tak berapa lama, Vahimpun meninggal, semoga Allah menerima iman islamnya.

Kawan-kawan dari masjid pun keluar untuk berembug dengan anak-anaknya tentang apa yang harus dilakukan setelah ini. Seorang kawan menjelaskan garis besarnya, bahwa masjid akan membantu pengurusan jenazah, tetapi akan jauh lebih afdhal kalau anggota keluarga terdekat yang mengurus jenazahnya, mulai dari memandikan sampai menguburkan. Nanti akan ada seseorang dari masjid yang akan ikut mengawasi.

Berikut jawaban Si Sulung: “You guys do what you need to do. There is no way that I am going to touch that thing“.

That thing itu beberapa saat yang lalu masih dia sebut sebagai Ayah.

Kejadian ini diceritakan kembali oleh kawan saya itu ketika kami mengadakan kursus memandikan jenazah. Anak-anak kita akan membuat definisi mereka sendiri bila kita tidak pernah berdiskusi dengan mereka. Tentang masalah apa saja: bisa masalah kematian, sekarat, akhirat, narkoba, seks, whatever.

Folks, talk to your kids, OK?

This entry receives 14 comments.

Arya

Astaghfirullah… terima kasih sudah mengingatkan, kang Ery.

Oct 30, 2010 at 12:09 pm

Abu Azhar

Assalaamu’alaykum,

Mas Edy,

Mohon ijin crossposting. Kisahnya nelangsa sekali. Ane harap banyak saudara2 seiman kita yg membaca dan mencamkannya.

Wassalaam.

Oct 30, 2010 at 12:23 pm

Ery

Abu Azhar: silakan.

Oct 30, 2010 at 12:52 pm

Basuki

Tulisan yang sangat mengingatkan kang.
Terima kasih.

Oct 30, 2010 at 2:16 pm

Muhnur

Astaghfirulloh.. Shocking reminder.. Boleh repost di FB note kang?

Oct 30, 2010 at 2:37 pm

Ery

Monggo Kang Nur

Oct 30, 2010 at 4:06 pm

ayndrijanto kangkung

subhanallah, kalo di kampung peristiwa meninggal, memandikan jenazah, menguburkan, menalqin adalah peristiwa yang akrab dgn kita, semoga secara ndak langsung memberi pelajaran ke anak anak. Itu di Amrik, nilai nilai guyub, kebersamaan sdh hilang. mrk nafsi nafsi

Oct 30, 2010 at 5:03 pm

Budhi

mas Ery, mohon ijin reposting. tks

Oct 30, 2010 at 6:57 pm

dianti

izin reposting ya pak Ery…makasi..

Oct 30, 2010 at 8:05 pm

catur

Subhanallah, terima kasih pak Ery. Akan selalu ingat pesan ini.

Oct 30, 2010 at 11:54 pm

Arman

Ijin Co-pas untuk share, ya pak…..

Oct 31, 2010 at 10:44 pm

nash

kalo anak saya belum lahir, gimana… :)

Nov 2, 2010 at 8:20 am

Ery

Nash, mulailah bercakap dengan calon ibu yang bakal melahirkannya .. :)

Nov 2, 2010 at 8:22 am

dani

kang ery, ikut menyebarkan boleh ya …

Nov 8, 2010 at 2:13 am

Your feedback, please...

This entry was posted on Saturday, October 30th, 2010 at 7:31 am and is filed under Indonesian, Religion. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Asides

If Moses had gotten the Ten Commandments on a floppy disk, it would never have made it to today. (Dag Spicer, curator of the Computer History Museum in Silicon Valley, The NYTimes Circuit, 26-Mar-2009)

“The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore all progress depends on the unreasonable man.”
George Bernard Shaw, Maxims for Revolutionists

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.