Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Mati air

Mati air

Ini cerita jaman masih kuliah dulu. Kata sobat saya, Kang Budi, miturut perkataan orang Jawa kalau belum sempat be’ol di tempat kawan, maka hubungan anda dengan kawan itu belum cukup kuat, or something like that. Entah mungkin beliau menghibur saya biar nggak terlalu malu karena sudah hampir kababayan di rumah beliau.

Tapi posting ini bukan tentang buang air besar, tapi tentang mandi. Jaman saya kuliah dulu, asrama kami (Asrama Aceh di Cicendo) sering mati air. Kalau mati lampu alhamdulillah jarang sekali, maklum karena kami tetanggaan dengan Gubernuran, jadi listrik terjamin aman. Tapi kalau mati air itu cukup sering.

Alasannya bisa macam-macam, tapi semuanya adalah variasi dari pompa ngadat. Seperti kebanyakan orang di Bandung, kami punya sumur mata air sendiri, walaupun aliran air PAM sebenarnya ada. Pertama-tama karena pompanya nggak kuat nanjak. Masalah ini terselesaikan karena kami dapat warisan pompa jet bekas. Lumayan sempat beberapa lama tak bermasalah. Tapi masalah tetap saja datang, yang ujung-ujungnya menyebabkan asrama kami mati air.

Akibatnya? Bertebaranlah kami di muka bumi mencari tempat mandi.

Tempat yang paling ideal adalah di rumah ibu angkat kami yang kami panggil dengan sebutan Ibu Sukajadi. Kalau itu sih ueenaknya pol, karena kalau datang mau mandi sore maka paketnya sudah termasuk makan malam gratis. Nggak semua orang berani datang ke tempat Ibu, hanya kami-kami yang sudah putus urat malu saja yang istiqamah nongol setidaknya dua hari sekali.

Mohon dicatatan: mati air itu bisa sampai seminggu, tergantung apakan pengurus ada uang untuk perbaikan pompa atau tidak. Lhah wong uang asrama cuman dua-puluh lima ribu per bulan termasuk makan dua kali sehari, mana ada dana cadangan untuk perbaikan pompa.

Hanya saja, kan nggak mungkin mandi sehari dua kali di tempat Ibu Sukajadi, sekalipun kami sudah tebal muka, tapi tetap saja nggak enak lah kalau sarapan pun harus di rumah Ibu.

Jadinya: bertebaranlah kami di muka bumi untuk mencari tempat mandi.

Solusi paling enak buat kebanyakan kawan: nggak mandi. Ah sori aja, saya mah tidak termasuk kategori yang ini. Jadinya saya harus punya cadangan kamar mandi umum yang bisa didatangi kalau niat mandi pagi datang.

Yang paling sering saya datangi adalah kamar mandi di Masjid Salman dan kamar mandi di parkiran Jurusan Sipil ITB. Kamar mandi di Salman sebenarnya tidak terlalu menunjang untuk tempat mandi, wong namanya juga WC. Bak mandinya kecil, jadi nggak bisa cibang-cibung. Tapi lumayanlah bisa juga dipakai mandi, apalagi kalau habis menginap di Gedung Kayu. Kamar mandi yang di Sipil itu lebih enak karena lebih besar.

Dua kamar mandi populer yang sering disebut oleh mereka yang bertebaran di muka bumi mencari tempat mandi adalah kamar mandi Asrama Salman dan kamar mandi di basement Perpustakaan Pusat. Bertahun-tahun saya aktif di Salman, tak sekalipun saya berkesempatan mandi di Asrama Salman, padahal banyak kawan-kawan yang numpang mandi di sana sekalipun bukan penghuni asrama.

Kamar mandi di basement Perpustakaan Pusat ITB itu adalah rolls-royce-nya kamar  mandi. Nyaman sekali. Tapi tetap saja, yen tak pikir-pikir, kok saya nggak pernah mandi di sana ya? Mungkin karena daerah Timur Jauh ini bukan daerah kekuasaan saya, yaaah, biarlah rolls-royce ini dipakai oleh orang lain.

Demikian sekilat pengalaman hidup di masa lalu. Ngomong-ngomong, apa anda pernah mengalami mati air seperti yang kami alami? Apakah anda termasuk yang merasa lebih baik nggak mandi daripada mandi di toilet umum?

This entry receives 2 comments.

Arman

Emang paling enak kalo bicara nostalgia….. ;-) . Salam kenal bung Edy.

Oct 31, 2010 at 11:33 pm

Arman

Upps…sori. Bung Ery. Wassalaam

Oct 31, 2010 at 11:34 pm

Your feedback, please...

This entry was posted on Tuesday, October 26th, 2010 at 12:32 pm and is filed under Education, Indonesian. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Asides

If Moses had gotten the Ten Commandments on a floppy disk, it would never have made it to today. (Dag Spicer, curator of the Computer History Museum in Silicon Valley, The NYTimes Circuit, 26-Mar-2009)

“The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore all progress depends on the unreasonable man.”
George Bernard Shaw, Maxims for Revolutionists

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.