Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Manajemen Menghafal Quran

Manajemen Menghafal Quran

Berikut posting lama yang pernah saya kirim ke berbagai milis di tahun 2007.

**********************************

Sobats sekalian, assalaamu alaikum.

Menyambung posting saya sebelumnya, ketika saya mencoba memulai kembali program tahfiz, ternyata memang ada satu kekurangan (yang sangat penting) ketika memulai program tahfiz tanpa seorang guru, yaitu tidak ada yang memberikan petunjuk bagian mana yang harus diulang. Waktu ngaji bersama Ustaz Alaina, beliau selalu memberikan jatah untuk ”yang lama” dan juga “yang baru”. Beliau punya catatan sendiri tentang kemajuan murid-muridnya, dan dari situ beliau menugaskan kita untuk mengulang bagian tertentu dari yang sudah kita hafal.

Masalahnya: bagaimana kalau menghafal tanpa guru? Berikut sekelumit pemikiran saya.

Fakta 1: Apal kaji karena diulang, begitu pepatah kita. Kalau diulang maka bisa hafal.

Fakta 2: menghafal itu mudah, tapi mengulang supaya tidak lupa itu yang susah

Fakta 3: sesuatu yang kita hafalkan maka suatu saat akan terlupakan, kecuali kalau hafalan itu diulang sebelum lupa.

Fakta 4: semakin banyak ulangan, maka akan semakin kuat hafalan kita, sekalipun hafalannya sudah dihafalkan puluhan tahun yang lalu. Misalnya yang paling gampang adalah surat AlFatihah. Sekalipun ini adalah surat yang pertama kita hafalkan, karena diulang terus maka sekarang ini disuruh lupa pun insya Allah nggak lupa. Sebaliknya, surat Al-Ma’arij yang baru dihafalkan beberapa tahun yang lalu sudah banyak lupanya.

Fakta 5: karena waktu setiap harinya yang dialokasikan untuk tahfiz terbatas, maka kita perlu pengulangan strategik (strategic repetition), i.e. mengulang bagian dari hafalan sesuai dengan prioritas mana bagian yang paling mudah terlupakan.

Dari kelima fakta tadi, saya membayangkan sebuah metoda untuk program tahfiz (bisa jadi software) yang fungsinya:
1. merekam kemajuan hafalan kita (misal: surat sekian ayat sekian dihafal tanggal sekian)
2. merekam juga bagian mana dari hafalan kita yang dibaca ulang.
3. dari rekaman data tadi, sang software akan membuat perhitungan, dan menyimpulkan bahwa pada hari ini bagian yang paling mudah terlupakan adalah surat sekian. Maka pada hari itu kita baca surat itu, dan kita rekam kembali bahwa kita sudah ulang dengan hasil baik.
4. Perhitungan itu bisa dilakukan dengan membuat sebuah model dengan input:
a. daya ingat => kuat, agak kuat, sedang, agak pelupa, pelupa
b. waktu suatu bagian dihafalkan
c. berapa kali sejak dihafalkan sudah diulang.

Dari tiga hal ini saja kita sudah bisa membuat model yang cukup baik untuk me-ranking hafalan kita sesuai dengan potensi terlupakan.

Saya bertanya kepada Wak Google mengenai software untuk membantu program tahfiz, ternyata yang keluar adalah software bacaan AlQuran. Tidak ada satupun software yang bisa digunakan untuk mencatat kemajuan hafalan kita. Padahal kalau dibuat dengan PHP dan MySQL kayaknya gampang sekali. (Any takers?)

Hati kecil saya bertanya sebenarnya: why make it so hard, pakai software segala? Padahal toch orang jaman dulu nggak pakai software udah pada jadi hafizh.

Well, orang jaman dulu (dan juga jaman sekarang) yang bisa full-time ikut program tahfizh tentu saja nggak perlu software-software-an. Tapi kalau kita ingin menjalani program tahfizh part-time sambil bekerja full-time, tentu tantangannya jauh berbeda.

Metoda di atas akan tidak relevan lagi kalau kita punya waktu sekian jam sehari (empat-enam jam) untuk tahfiz. Tapi kebanyakan orang tidak bisa mengalokasikan sekian jam sehari untuk tahfiz, karena itu saya memimpikan metode ini.

Segala macam komentar ingin saya dapatkan dari sobats sekalian. Terutama mereka yang konsisten menjalani program tahfiz.

This entry receives 9 comments.

Sigit Ary

Apa bisa konsep di atas digunakan untuk anak-anak dibawah 7 tahun ya.. :)

Jun 25, 2010 at 9:11 am

Ery

Bisa, Mas. Sama bapaknya sekalian juga bisa :)

Jul 2, 2010 at 3:06 pm

hermawan k dipojono

Pendekatan metodologis yang diusulkan sudah sistematik dan bagus. Moga-moga ada yang dapat mewujudkannya. Sampai saat ini saya sendiri sudah sangat terbantu dengan AlQuran yang ada di dalam mobile phone/hp, jadi di manapun dan kapanpun dapat dengan mudah mendengar sambil mengecek hapalan. Dengan sistematika di atas mungkin akan lebih terbantu.

Jul 7, 2010 at 6:22 pm

Ery

Mas Her: Matur nuwun. Mobile phone memang sangat membantu. Masalah yang saya hadapi adalah kecenderungan untuk mengulang bagian yang paling saya hapal. Bahkan kalau disuruh menyebut, bagian mana yang paling saya lupakan, saya nggak bisa. Wong namanya sudah hampir terlupakan. Padahal bagian yang ini yang harus jadi prioritas untuk diulang. Software yang saya mimpikan ini adalah untuk itu.

Jul 7, 2010 at 7:21 pm

Bagus Tjahjoko Nugroho

assalamu ‘alaikum wr.wb
pertama, hormat saya pada mas hermawan.. sudah lama tak jumpa.
kedua, selama ini saya tak terlalu concern dengan kegiatan (sengaja) menghafal. Menikmati orang lain membaca itu mugkin yang lebih tepat. Faktor yang mendukung kenikmatan ini adalah mengerti arti dan bahkan maksud dari firman yang dikumandangkan. Untuk mengerti arti, dahulu (semasa sma) pernah belajar mengartikan ayat per ayat,tanpa dipersusah dengan urusan grammer (layaknya kita berbahasa sehari-hari), akan tetapi yang agak spesial adalah memahami maksud. Untuk yang satu ini saya melaluinya lewat jalur “harakah” dengan mengerti kemana kita membawa dan atau dibawa Islam. Yang saya rasakan “harakah” memberi kita acuan apa yang menjadi tujuan pokok dan apa yang menjadi tujuan antara.
Tentu saja niat seperti kang ery ini akan sangat bermanfaat dan saya fikir kang ery tak perlu khawatir dengan yang namanya “lupa”, karena Al-Quran ini kan “wahyu”, dia akan “tertanam’ dalam Qolbu mu’minien untuk memancarkan cahayanya. Artinya yang penting Cahaya itu dari pada hafalnya (ansich) toh ada ayat yang menyebutkan ” ma nansakh min ayatin au nunsiha na’ti bi khairin minha au mistliha”

shodaqallahu_ladziem.

Jul 7, 2010 at 8:29 pm

AUGI JD

Asslm.Wr.Wb.

Baik juga program tahfidz AlQuran. Saya kesulitan menghafal Juz Amma. Bila dikaji diulang-ulang tertinggal mempelajari tafsir Alquran.

AlQuran sebagai petunjuk harian. Koran sebagai tambahan.

Mengutip ayat suci AlQuran
[87:6] Kami akan membacakan (Al Quraan) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa.

Saya tidak mendapatkan tafsir juz 30 untuk ayat tersebut, tersimpan di rumah belum diketemukan.

Metoda lain menurut hemat saya mengkaji ulang membaca 1 juz satu hari. Sebulan sekali terulang kembali. Metoda ingatan fotografi 1 lembar maupun 2 lembar ayat alquran menggunakan mushaf yang sama akan membantu.

Berbeda dengan huruf Latin, bahasa Injilis, bahasa Inggris cenderung rekaman audio.
Huruf Arab dan bahasa Arab cenderung simbol fotografis, rekaman huruf Alquran tetap terekam, masih terbayang, saat mata dipejamkan.

Wass.Wr.Wb.
Semoga bermanfaat.

Jul 8, 2010 at 9:44 am

Ery

Kang Bagus, kalau tidak perlu dikhawatirkan, kan Kanjeng Nabi tidak akan mempertingatkan kita ttg lupa. Dan lupa yang saya khawatirkan ini tidak tercakup dalam ayat yang anda kutip. Memang setiap orang akan punya pandangan yang berbeda ttg nilai penting tahfizh. Bagi saya, tahfizh adalah cara Allah menjaga kemurniah Quran. Kalau bagi anda tidak terlalu penting, yaa ndak apa-apa. My point is, anda tidak akan bisa memahami kesulitan saya bila anda tidak sedang menghafal Quran.

Jul 8, 2010 at 10:53 am

Bagus Tjahjoko Nugroho

Ya maaf kalau begitu, sepertinya tak banyak yang dapat saya sampaikan lebih jauh, semoga diberi kemudahan ..Inna maal “usri…yusron.

‘alalllah ..ilallah..wa maallah

Jul 8, 2010 at 12:32 pm

Andi Bombang

Ustadz, saya kok nggak hapal2, ya..? Padahal kita temenan sudah lama, kan? Kayaknya saya deh yang belet, soalnya nggak mungkin kalau temennya. Lha, dia itu dulu subuh2 sudah berangkat ngaji. Kalo nggak, dimarahin sama Mama seharian, hahaha…
:D

Aug 29, 2010 at 9:06 am

Your feedback, please...

This entry was posted on Friday, June 18th, 2010 at 2:49 pm and is filed under Indonesian, Religion. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Asides

You either write something that you will be remembered for or do something that people will write about. Other than that, you are just passing TIME.

– Deen Aljunied

If Moses had gotten the Ten Commandments on a floppy disk, it would never have made it to today. (Dag Spicer, curator of the Computer History Museum in Silicon Valley, The NYTimes Circuit, 26-Mar-2009)

“The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore all progress depends on the unreasonable man.”
George Bernard Shaw, Maxims for Revolutionists

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

online pharmacy