June 18th, 2010
# 2:49 pm
8 comments
Manajemen Menghafal Quran
Berikut posting lama yang pernah saya kirim ke berbagai milis di tahun 2007.
**********************************
Sobats sekalian, assalaamu alaikum.
Menyambung posting saya sebelumnya, ketika saya mencoba memulai kembali program tahfiz, ternyata memang ada satu kekurangan (yang sangat penting) ketika memulai program tahfiz tanpa seorang guru, yaitu tidak ada yang memberikan petunjuk bagian mana yang harus diulang. Waktu ngaji bersama Ustaz Alaina, beliau selalu memberikan jatah untuk ”yang lama” dan juga “yang baru”. Beliau punya catatan sendiri tentang kemajuan murid-muridnya, dan dari situ beliau menugaskan kita untuk mengulang bagian tertentu dari yang sudah kita hafal.
Masalahnya: bagaimana kalau menghafal tanpa guru? Berikut sekelumit pemikiran saya.
Fakta 1: Apal kaji karena diulang, begitu pepatah kita. Kalau diulang maka bisa hafal.
Fakta 2: menghafal itu mudah, tapi mengulang supaya tidak lupa itu yang susah
Fakta 3: sesuatu yang kita hafalkan maka suatu saat akan terlupakan, kecuali kalau hafalan itu diulang sebelum lupa.
Fakta 4: semakin banyak ulangan, maka akan semakin kuat hafalan kita, sekalipun hafalannya sudah dihafalkan puluhan tahun yang lalu. Misalnya yang paling gampang adalah surat AlFatihah. Sekalipun ini adalah surat yang pertama kita hafalkan, karena diulang terus maka sekarang ini disuruh lupa pun insya Allah nggak lupa. Sebaliknya, surat Al-Ma’arij yang baru dihafalkan beberapa tahun yang lalu sudah banyak lupanya.
Fakta 5: karena waktu setiap harinya yang dialokasikan untuk tahfiz terbatas, maka kita perlu pengulangan strategik (strategic repetition), i.e. mengulang bagian dari hafalan sesuai dengan prioritas mana bagian yang paling mudah terlupakan.
Dari kelima fakta tadi, saya membayangkan sebuah metoda untuk program tahfiz (bisa jadi software) yang fungsinya:
1. merekam kemajuan hafalan kita (misal: surat sekian ayat sekian dihafal tanggal sekian)
2. merekam juga bagian mana dari hafalan kita yang dibaca ulang.
3. dari rekaman data tadi, sang software akan membuat perhitungan, dan menyimpulkan bahwa pada hari ini bagian yang paling mudah terlupakan adalah surat sekian. Maka pada hari itu kita baca surat itu, dan kita rekam kembali bahwa kita sudah ulang dengan hasil baik.
4. Perhitungan itu bisa dilakukan dengan membuat sebuah model dengan input:
a. daya ingat => kuat, agak kuat, sedang, agak pelupa, pelupa
b. waktu suatu bagian dihafalkan
c. berapa kali sejak dihafalkan sudah diulang.
Dari tiga hal ini saja kita sudah bisa membuat model yang cukup baik untuk me-ranking hafalan kita sesuai dengan potensi terlupakan.
Saya bertanya kepada Wak Google mengenai software untuk membantu program tahfiz, ternyata yang keluar adalah software bacaan AlQuran. Tidak ada satupun software yang bisa digunakan untuk mencatat kemajuan hafalan kita. Padahal kalau dibuat dengan PHP dan MySQL kayaknya gampang sekali. (Any takers?)
Hati kecil saya bertanya sebenarnya: why make it so hard, pakai software segala? Padahal toch orang jaman dulu nggak pakai software udah pada jadi hafizh.
Well, orang jaman dulu (dan juga jaman sekarang) yang bisa full-time ikut program tahfizh tentu saja nggak perlu software-software-an. Tapi kalau kita ingin menjalani program tahfizh part-time sambil bekerja full-time, tentu tantangannya jauh berbeda.
Metoda di atas akan tidak relevan lagi kalau kita punya waktu sekian jam sehari (empat-enam jam) untuk tahfiz. Tapi kebanyakan orang tidak bisa mengalokasikan sekian jam sehari untuk tahfiz, karena itu saya memimpikan metode ini.
Segala macam komentar ingin saya dapatkan dari sobats sekalian. Terutama mereka yang konsisten menjalani program tahfiz.
This entry receives 8 comments.
Apa bisa konsep di atas digunakan untuk anak-anak dibawah 7 tahun ya..
Jun 25, 2010 at 9:11 am
Bisa, Mas. Sama bapaknya sekalian juga bisa
Jul 2, 2010 at 3:06 pm
Pendekatan metodologis yang diusulkan sudah sistematik dan bagus. Moga-moga ada yang dapat mewujudkannya. Sampai saat ini saya sendiri sudah sangat terbantu dengan AlQuran yang ada di dalam mobile phone/hp, jadi di manapun dan kapanpun dapat dengan mudah mendengar sambil mengecek hapalan. Dengan sistematika di atas mungkin akan lebih terbantu.
Jul 7, 2010 at 6:22 pm
Mas Her: Matur nuwun. Mobile phone memang sangat membantu. Masalah yang saya hadapi adalah kecenderungan untuk mengulang bagian yang paling saya hapal. Bahkan kalau disuruh menyebut, bagian mana yang paling saya lupakan, saya nggak bisa. Wong namanya sudah hampir terlupakan. Padahal bagian yang ini yang harus jadi prioritas untuk diulang. Software yang saya mimpikan ini adalah untuk itu.
Jul 7, 2010 at 7:21 pm
assalamu ‘alaikum wr.wb
pertama, hormat saya pada mas hermawan.. sudah lama tak jumpa.
kedua, selama ini saya tak terlalu concern dengan kegiatan (sengaja) menghafal. Menikmati orang lain membaca itu mugkin yang lebih tepat. Faktor yang mendukung kenikmatan ini adalah mengerti arti dan bahkan maksud dari firman yang dikumandangkan. Untuk mengerti arti, dahulu (semasa sma) pernah belajar mengartikan ayat per ayat,tanpa dipersusah dengan urusan grammer (layaknya kita berbahasa sehari-hari), akan tetapi yang agak spesial adalah memahami maksud. Untuk yang satu ini saya melaluinya lewat jalur “harakah” dengan mengerti kemana kita membawa dan atau dibawa Islam. Yang saya rasakan “harakah” memberi kita acuan apa yang menjadi tujuan pokok dan apa yang menjadi tujuan antara.
Tentu saja niat seperti kang ery ini akan sangat bermanfaat dan saya fikir kang ery tak perlu khawatir dengan yang namanya “lupa”, karena Al-Quran ini kan “wahyu”, dia akan “tertanam’ dalam Qolbu mu’minien untuk memancarkan cahayanya. Artinya yang penting Cahaya itu dari pada hafalnya (ansich) toh ada ayat yang menyebutkan ” ma nansakh min ayatin au nunsiha na’ti bi khairin minha au mistliha”
shodaqallahu_ladziem.
Jul 7, 2010 at 8:29 pm
Asslm.Wr.Wb.
Baik juga program tahfidz AlQuran. Saya kesulitan menghafal Juz Amma. Bila dikaji diulang-ulang tertinggal mempelajari tafsir Alquran.
AlQuran sebagai petunjuk harian. Koran sebagai tambahan.
Mengutip ayat suci AlQuran
[87:6] Kami akan membacakan (Al Quraan) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa.
Saya tidak mendapatkan tafsir juz 30 untuk ayat tersebut, tersimpan di rumah belum diketemukan.
Metoda lain menurut hemat saya mengkaji ulang membaca 1 juz satu hari. Sebulan sekali terulang kembali. Metoda ingatan fotografi 1 lembar maupun 2 lembar ayat alquran menggunakan mushaf yang sama akan membantu.
Berbeda dengan huruf Latin, bahasa Injilis, bahasa Inggris cenderung rekaman audio.
Huruf Arab dan bahasa Arab cenderung simbol fotografis, rekaman huruf Alquran tetap terekam, masih terbayang, saat mata dipejamkan.
Wass.Wr.Wb.
Semoga bermanfaat.
Jul 8, 2010 at 9:44 am
Kang Bagus, kalau tidak perlu dikhawatirkan, kan Kanjeng Nabi tidak akan mempertingatkan kita ttg lupa. Dan lupa yang saya khawatirkan ini tidak tercakup dalam ayat yang anda kutip. Memang setiap orang akan punya pandangan yang berbeda ttg nilai penting tahfizh. Bagi saya, tahfizh adalah cara Allah menjaga kemurniah Quran. Kalau bagi anda tidak terlalu penting, yaa ndak apa-apa. My point is, anda tidak akan bisa memahami kesulitan saya bila anda tidak sedang menghafal Quran.
Jul 8, 2010 at 10:53 am
Ya maaf kalau begitu, sepertinya tak banyak yang dapat saya sampaikan lebih jauh, semoga diberi kemudahan ..Inna maal “usri…yusron.
‘alalllah ..ilallah..wa maallah
Jul 8, 2010 at 12:32 pm
Your feedback, please...