Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Ttg pernikahan: setelah sembilan tahun

Ttg pernikahan: setelah sembilan tahun

Anda tahu berapa harga tiket dari Eindhoven ke London (waktu tempuhnya kurang lebih sekitar satu jam)? Yaaah, memang bervariasi, tetapi kalau booking agak lama sebelumnya biasanya sekitar EUR 5.00. Lima euro, sedikit lebih mahal dari harga kebab di toko Turki. Di masa discount bahkan harganya bisa 50 sen.

Memang itu belum termasuk pajak, yang besarnya bisa mencapai 25an euro per airport. Jadi jatuhnya sekitar 100an euro pulang pergi. Tetapi ini masih jauh lebih murah dibandingkan dengan harga pesawat yang biasa dipesan oleh Universitas untuk perjalanan dinas.

Begitulah kisahnya, ketika saya akan ke Glasgow musim panas tahun lalu, saya memutuskan untuk mengajak keluarga untuk sekalian jalan-jalan ke sana. Lumayan, mumpung harga pesawat sangat murah. Kalau dihitung-hitung, biaya tiket kami sekeluarga kurang lebih sama dengan biaya tiket saya sendiri bila dipesankan oleh agen perjalanan di kampus.

Apakah boleh, dengan sedikit perubahan di-invoice, saya meng-claim tiket kami sekeluarga sebagai tiket saya sendirian? Toch tidak ada yang dirugikan, wong harganya sama.

Ketika hal itu saya tanyakan kepada istriku, orang yang paling tahu ttg keadaan keuangan kami, yang selalu senang kalau ada tambahan penghasilan dari kiri kanan, dengan dinginnya dia menjawab, “Abang, that’s cheating!”

***

Menjelang peringatan ulang tahun Sinterklaas, Hanif sangat antusias sekali menyambutnya, layaknya anak-anak lain di Belanda. Tidak seperti di Indonesia, acara Sinterklaas diperingati jauh sebelum perayaan Natal, dan tidak ada hubungannya dengan Natal. Acara Sinterklaas adalah peringatan ulang tahun seorang Uskup dari Turki, yang datang ke Belanda dengan menggunakan kapal dari Spanyol. Sang Uskup menurut riwayat adalah orang yang suka membagi-bagi hadiah, dan beliau tidak ada hubungannya dengan Santa Claus yang tinggal di kutub seperti yang dikenal oleh orang-orang Amerika.

Semakin Hanif antusias menyambut Sinterklaas datang ke sekolahnya, semakin memuncaklah kekhawatiran istri saya. Di hari H, ketika melihat saya tidak berkomentar apapun, dia bertanya dengan nada sangat kesal, “Jadi hari ini Hanif boleh sekolah, nggak?!”

“Emang kenapa?” saya balik bertanya tanpa merasa bersalah.

Dengan pertanyaan itu, meledaklah semua kemarahan yang barangkali sudah terpendam sejak berhari-hari sebelumnya.

Dengan amarah yang bercampur air mata, dia mengatakan bahwa saya adalah suami yang seharusnya memberi kejelasan kepada keluarga. Apakah acara Sinterklaas itu termasuk ibadah (agama lain) atau bukan? Kalau itu ibadah, maka saya sebagai suami seharusnya melarang Hanif untuk ikut serta. Kalau itu bukan ibadah, seharusnya saya memberi penjelasan kepada semuanya, termasuk kepada Hanif.

Saya hanya bisa termangu mendengarkan tanggung jawab saya diingatkan dengan begitu gamblangnya.

***

Malam itu kami menonton acara “25 minuten”, terjemahan dari acara “25 minutes” dari Amerika. Episode kali itu menceritakan kehidupan seksual remaja. Yang masih menempel di ingatan saya adalah penuturan seorang gadis kecil berumur 13 tahun, “Saya tidak bisa tenang dan selalu gelisah menghadapi ajakan untuk berhubungan seks. Apakah saya harus menolak? Apakah saya harus “menyerah”? Sampai kapan saya harus menolak?”

Cukup lama kami mendiskusikan acara itu. Kesimpulan kami tertumpuk dalam kata “kasihan”. Kasihan sekali gadis itu, yang baru berumur 13 tahun harus dihantui terus menerus dengan berbagai pertanyaan itu. Saya teringat apa yang disebut Wendy Shalit (dalam bukunya “A Return to Modesty”) sebagai “childhood innocence”. Mungkin bahasa anak muda sekarang akan menyebutnya sebagai “culun”, tetapi ke-culun-an inilah yang sebenarnya berlaku sebagai mekanisme perlindungan bagi anak. Perlindungan dari peer pressure, dari kemungkinan sexual harassment, bahkan dari indicent proposal. Seharusnya anak-anak remaja dapat bermain dan berhubungan secara “innocent” tanpa harus dibayang-bayangi oleh nuansa seksual.

Kami jadi sangat khawatir terhadap “keselamatan” Hanif (dan adik-adiknya). Sampai kapan dia bisa terus “innocent”, di negeri di mana usia legal untuk berhubungan seks (consentual sex) adalah 12 tahun. Berarti 4 tahun lagi Hanif boleh mengajak atau menerima ajakan untuk berhubungan sex, menurut peraturan perundangan Belanda. Kondom sudah menjadi peralatan standar dalam pesta perpisahan anak-anak SD. Parahnya, masih kata Shalit, “Loss of innocence is nothing new, but it is our assumption that there is now nothing to loose.”

Dalam dunia yang semakin tidak mengenal apa itu malu, saya dibebani kewajiban untuk mengajarkan kepada anak-anakku bahwa malu adalah bagian dari iman Islam.

Di kala saya terlalu khawatir membayangkan tekanan teman-teman (peer pressure) yang dihadapi anak saya, istrikulah yang menenangkanku sambil menerangkan bahwa anak-anak harus diajari untuk membuat kesimpulan sendiri, berargumen sendiri, menghadapi lingkungannya sendiri. Tugas kita hanyalah mengamati dari dekat, jangan sampai si anak terperosok masuk jurang, selebihnya biarkan sang anak menciptakan ruang geraknya sendiri.

Malam itu kami duduk lama berdua berdiskusi memikirkan anak kami. Saya sendiri lupa bahwa keesokan harinya adalah hari ulang tahun perkawinan kami.

***

“That is simply unacceptable”, kata professor saya ketika saya menceritakan kepadanya bahwa saya melupakan hari ulang tahun perkawinan kami. “You need a major catch up here. Take some days off.”

Hari ulang tahun perkawinan bukanlah sesuatu yang terlalu besar buat kami berdua. Tetapi kalau dirasa-rasakan memang ada perubahan dalam kami memandang pernikahan. Ulang tahun perkawinan sudah bukan lagi tentang “saya” dan “kamu”. Barangkali memang ada masa-masanya ketika prioritas pemikiran berpindah dari “saya”, “kamu”, “kita berdua”, ke masa depan yang lebih jauh: “anak-anak”.

Menjadi suami itu berarti memikul beban sebagai kepala rumah tangga. Semua orang juga tahu. Tetapi seringkali tanggung jawab itu terlupakan dalam kehidupan sehari-hari. Saya termasuk yang beruntung sekali memiliki istri yang selalu mengingatkan saya, bahwa saya punya tanggung jawab terhadap keluarga. Pertama dan utama adalah tanggung jawab untuk menyelamatkan kami sekeluarga dari api neraka.

Happy anniversary, Dik! Walaupun terlambat sebulan, yaaah, ndak apa-apa kan. Sembilan tahun telat sebulan kan ndak terasa. Wong memang tadinya terlupakan :) Thank you for being such a wonderful wife.

Eindhoven, 28 Februari 2004

PS1. Ketika saya memasukkan klaim tiket untuk sendiri, Manajer Keuangan di Fakultas bertanya, “Kok kecil sekali? Kok mau-maunya kamu naik pesawat murah?” No regrets. Kami bahagia dengan keputusan kami untuk menjauhi praktek-praktek korup, sekalipun biaya liburan musim panas baru lunas tercicil di akhir tahun :)

PS2. Hanif masih saya izinkan untuk mengikuti acara Sinterklaas dan Carnaval.

PS3. Saya sebarkan ke Personal Distribution List:

  • semoga bisa menjadi tambahan input untuk diskusi ttg “wonderful husband” dan “wonderful wife” di parakanca.
  • untuk memberi selamat kepada sahabatku yang pada hari ini kembali mengembangkan layar. Don’t worry about what people say, Brother, just watch out the following sea.

Your feedback, please...

*
To prove you're a person (not a spam script), type the answer to the math equation shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the equation.
Click to hear an audio file of the anti-spam equation

This entry was posted on Saturday, February 28th, 2004 at 12:09 pm and is filed under General, Indonesian. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Recent Comments

  • Riza: Bukannya di paspor ada pernyataan alamat luar negeri? Kan kita bisa bebas fiskal 4 kali setahun sebagai...
  • AgUStiAn: Artikelnya sangat baik sebagai cermin diri selaku pembaca. Yang sangat penting tujuan akhir dari suatu...
  • A. Aji: Oh ya .. saya tambahkan NPWP itu diterbitkan dari kantor tempat tinggal (dalam hal ini adalah KTP). Dan untuk...
  • A. Aji: Boss, TKI itu adalah WPDN, bukan WPLN. WPDN — Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak atas penghasilan...
  • A. Aji: Boss, Sepengertianku sih nggak begitu — semua warga negara Indonesia yang sudah mendapatkan penghasilan...

Asides

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.

From NYTimes: Without big noise, Netherlands goes open source. What about Indonesia’s IGOS? I think its going ngos-ngosan!

Dari detik.com: beberapa karyawan Carrefour keracunan CO. Gubernur mencurigai adanya kesalahan desain. Komentar Pak Gubernur ini ibarat menepuk air di dulang, yang kena kan pejabat Pemda sendiri, karena semua desain ventilasi kan sudah disetujui oleh Pemda. Mari kita tunggu kelanjutannya.