Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Kurban

Kurban

Pak Imam tersenyum melihat banyaknya kambing yang terkumpul untuk ibadah kurban tahun ini. Enam belas ekor. Rekor yang belum pernah tercapai dalam sejarah masjid ini. Itupun masih ditambah dengan seekor sapi. Alhamdulillah.

Pak RW pun tersenyum melihat laporan perkembangan terakhir acara kurban. Tidak akan ada antrian tahun ini. Daging kurban akan dibagikan langsung ke rumah-rumah mereka yang berhak menerimanya. Lima puluh kepala keluarga sudah terdata sebagai penerima yang berada di wilayahnya. Kali ini kita bisa membagi daging kurban keluar wilayah RW 09. Alhamdulillah.

Cak Nur juragan sapi pun tersenyum ketika dia menggiring seekor sapi memasuki halaman belakang masjid. Lengkap sudah hewan kurban untuk masjid ini. Masih ada tiga sapi lagi yang harus diantarkan ke masjid di kampung sebelah. Alhamdulillah.

Kang Agus pun tersenyum ketika keesokan paginya ia menyembelih satu-satunya sapi dengan parang yang sudah diasahnya sejak beberapa hari yang lalu.Dia tidak bisa membiarkan sapinya disembelih orang lain. Dialah yang berhasil membujuk beberapa kerabatnya untuk urunan berkurban bersama. Alhamdulillah.

Remaja masjid pun tersenyum ketika mereka memotong-motong daging kurban untuk dimasukkan ke dalam kantong plastik. Mereka tidak salah ketika memilih hewan kurban yang ternyata gemuk-gemuk. Pasti lebih banyak kantong plastik yang dihasilkan tahun ini. Alhamdulillah.

Ibu-ibu majelis taklim pun tersenyum sumringah ketika mereka mendampingi Pak RW berkeliling ke rumah-rumah warga yang kurang mampu untuk membagikan daging kurban. Terharu mereka melihat binar-binar kebahagiaan di mata bapak-bapak dan ibu-ibu ketika mereka menerima pemberian daging. Jabat tangan mereka erat sekali. Alhamdulillah.

Bi Icih juga tersenyum bahagia ketika masuk ke dalam rumah setelah menerima pemberian daging kurban. Anak-anaknya sudah lama tidak merasakan daging. Hidup terasa amat berat sepeninggal suaminya, dan daging tiba-tiba menjadi barang yang amat mewah, yang tidak akan bisa dinikmati kecuali kalau ada orang yang memberi. Dipeluknya kantong plastik itu sambil menatap anak-anaknya dengan penuh senyum.

Ketiga anaknya melompat-lompat sambil mencoba meraih kantong plastik itu. “Bu, pengen pegang,” kata yang satu.

“Sudah, sabar dulu,” jawabnya sambil tersenyum terharu. Hidupnya memang sejak dulu pas-pasan, tapi semasih ada suaminya, mereka masih sanggup beli daging sebulan sekali.

“Bu, kita masak kari, ya?” kata yang satu lagi.

“Jangan, Bu. Dimasak gule saja, seperti kesukaan Bapak dulu,” kata anaknya yang tertua.

Air mata Bi Icih menggenang di pelupuk matanya. Tidak tahan dia terus menerus melihat keinginan anak-anaknya tidak terpenuhi. Dagingnya memang sudah ada, tapi kan untuk bikin gule harus ada kelapa untuk santannya, belum bumbu-bumbu yang lain. Darimana dia harus mencari uangnya.

“Sudah, sudah, terima saja apa yang ibu siapkan,” katanya sambil segera berbalik ke dapur agar anaknya tidak melihat air matanya yang mulai menetes. Dia tidak tega mengatakan jawaban itu sambil melihat mata anaknya. Sinar mata kekecewaan yang begitu sering ia lihat di mata anak-anaknya, karena permintaan mereka yang sederhana tidak terpenuhi.

Dan anak-anaknya tahu, dengan jawaban seperti itu, mereka hanya bisa mengharapkan daging rebus berbumbu garam. Agak keras karena dimasak tidak terlalu lama untuk menghemat minyak tanah. Seperti tahun lalu.

Alhamdulillah, kata mereka dalam hati, sebagaimana yang diajarkan oleh ibu mereka, sambil menunggu sang ibu merebus daging.

Eindhoven, 28.01.2002

This entry receives 5 comments.

Juwakhid

Wah, ngenes juga ya!

May 20, 2006 at 7:02 pm

Wanda Y

Subhanallah…

Daging rebus pake garam…Keluarga Bi Icih kreatif kang dalam kondisi apapun tetep bisa ngolah daging… Mumtaz

Dec 18, 2007 at 9:51 pm

Ayahnya Hasan

Saya sedih sekaligus senang dan terharu.
Sedih karena hingga hari ini belum bisa ikut ber qurban… 8-(
Senang karena bisa ikut membantu orang-2 yang berkurban, dan alhamdulillah semua kebagian.
terharu, karena dalam kesederhanaannya, anak-anak bi Icih tak lupa ber syukur.

Dec 24, 2007 at 10:10 pm

Diah

mengingatkan kita bahwa di sekeliling kita masih ada orang2 seperti Bi Icih…

Dec 25, 2007 at 1:57 am

samsi

subhanallah,,inget ketika hidup amat susah,,makasih mas, kita diingetin lagi tentang “bi icih”..
semoga anak2 bi icih nantinya menjadi orang sukses..amin

Dec 25, 2007 at 8:37 am

Your feedback, please...

This entry was posted on Monday, January 28th, 2002 at 11:52 am and is filed under Indonesian, Religion. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Asides

If Moses had gotten the Ten Commandments on a floppy disk, it would never have made it to today. (Dag Spicer, curator of the Computer History Museum in Silicon Valley, The NYTimes Circuit, 26-Mar-2009)

“The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore all progress depends on the unreasonable man.”
George Bernard Shaw, Maxims for Revolutionists

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.