January 28th, 2002
# 11:52 am
5 comments
Kurban
Pak Imam tersenyum melihat banyaknya kambing yang terkumpul untuk ibadah kurban tahun ini. Enam belas ekor. Rekor yang belum pernah tercapai dalam sejarah masjid ini. Itupun masih ditambah dengan seekor sapi. Alhamdulillah.
Pak RW pun tersenyum melihat laporan perkembangan terakhir acara kurban. Tidak akan ada antrian tahun ini. Daging kurban akan dibagikan langsung ke rumah-rumah mereka yang berhak menerimanya. Lima puluh kepala keluarga sudah terdata sebagai penerima yang berada di wilayahnya. Kali ini kita bisa membagi daging kurban keluar wilayah RW 09. Alhamdulillah.
Cak Nur juragan sapi pun tersenyum ketika dia menggiring seekor sapi memasuki halaman belakang masjid. Lengkap sudah hewan kurban untuk masjid ini. Masih ada tiga sapi lagi yang harus diantarkan ke masjid di kampung sebelah. Alhamdulillah.
Kang Agus pun tersenyum ketika keesokan paginya ia menyembelih satu-satunya sapi dengan parang yang sudah diasahnya sejak beberapa hari yang lalu.Dia tidak bisa membiarkan sapinya disembelih orang lain. Dialah yang berhasil membujuk beberapa kerabatnya untuk urunan berkurban bersama. Alhamdulillah.
Remaja masjid pun tersenyum ketika mereka memotong-motong daging kurban untuk dimasukkan ke dalam kantong plastik. Mereka tidak salah ketika memilih hewan kurban yang ternyata gemuk-gemuk. Pasti lebih banyak kantong plastik yang dihasilkan tahun ini. Alhamdulillah.
Ibu-ibu majelis taklim pun tersenyum sumringah ketika mereka mendampingi Pak RW berkeliling ke rumah-rumah warga yang kurang mampu untuk membagikan daging kurban. Terharu mereka melihat binar-binar kebahagiaan di mata bapak-bapak dan ibu-ibu ketika mereka menerima pemberian daging. Jabat tangan mereka erat sekali. Alhamdulillah.
Bi Icih juga tersenyum bahagia ketika masuk ke dalam rumah setelah menerima pemberian daging kurban. Anak-anaknya sudah lama tidak merasakan daging. Hidup terasa amat berat sepeninggal suaminya, dan daging tiba-tiba menjadi barang yang amat mewah, yang tidak akan bisa dinikmati kecuali kalau ada orang yang memberi. Dipeluknya kantong plastik itu sambil menatap anak-anaknya dengan penuh senyum.
Ketiga anaknya melompat-lompat sambil mencoba meraih kantong plastik itu. “Bu, pengen pegang,” kata yang satu.
“Sudah, sabar dulu,” jawabnya sambil tersenyum terharu. Hidupnya memang sejak dulu pas-pasan, tapi semasih ada suaminya, mereka masih sanggup beli daging sebulan sekali.
“Bu, kita masak kari, ya?” kata yang satu lagi.
“Jangan, Bu. Dimasak gule saja, seperti kesukaan Bapak dulu,” kata anaknya yang tertua.
Air mata Bi Icih menggenang di pelupuk matanya. Tidak tahan dia terus menerus melihat keinginan anak-anaknya tidak terpenuhi. Dagingnya memang sudah ada, tapi kan untuk bikin gule harus ada kelapa untuk santannya, belum bumbu-bumbu yang lain. Darimana dia harus mencari uangnya.
“Sudah, sudah, terima saja apa yang ibu siapkan,” katanya sambil segera berbalik ke dapur agar anaknya tidak melihat air matanya yang mulai menetes. Dia tidak tega mengatakan jawaban itu sambil melihat mata anaknya. Sinar mata kekecewaan yang begitu sering ia lihat di mata anak-anaknya, karena permintaan mereka yang sederhana tidak terpenuhi.
Dan anak-anaknya tahu, dengan jawaban seperti itu, mereka hanya bisa mengharapkan daging rebus berbumbu garam. Agak keras karena dimasak tidak terlalu lama untuk menghemat minyak tanah. Seperti tahun lalu.
Alhamdulillah, kata mereka dalam hati, sebagaimana yang diajarkan oleh ibu mereka, sambil menunggu sang ibu merebus daging.
Eindhoven, 28.01.2002
This entry receives 5 comments.
Wah, ngenes juga ya!
May 20, 2006 at 7:02 pm
Subhanallah…
Daging rebus pake garam…Keluarga Bi Icih kreatif kang dalam kondisi apapun tetep bisa ngolah daging… Mumtaz
Dec 18, 2007 at 9:51 pm
Saya sedih sekaligus senang dan terharu.
Sedih karena hingga hari ini belum bisa ikut ber qurban… 8-(
Senang karena bisa ikut membantu orang-2 yang berkurban, dan alhamdulillah semua kebagian.
terharu, karena dalam kesederhanaannya, anak-anak bi Icih tak lupa ber syukur.
Dec 24, 2007 at 10:10 pm
mengingatkan kita bahwa di sekeliling kita masih ada orang2 seperti Bi Icih…
Dec 25, 2007 at 1:57 am
subhanallah,,inget ketika hidup amat susah,,makasih mas, kita diingetin lagi tentang “bi icih”..
semoga anak2 bi icih nantinya menjadi orang sukses..amin
Dec 25, 2007 at 8:37 am
Your feedback, please...