Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Kualitas akustik bangunan sekolah

Kualitas akustik bangunan sekolah

Beberapa fakta yang belum kita perhatikan

Maria Montessori adalah yang pertama kali memperkenalkan perabot kecil untuk taman kanak-kanak (TK), dulu di tahun 30-an. Menurut beliau, kursi dan meja yang sesuai dengan ukuran tubuh mereka akan membuat mereka lebih nyaman ketika mereka bermain (dan belajar) di sekolah. Beliaulah yang memulai melihat lingkungan sekolah dari kacamata anak-anak. Sekarang, meja dan kursi yang kecil sudah merupakan bagian “normal” dari taman kanak-kanak.

Tetapi sayangnya, cara pandang seperti di atas seringkali dilupakan ketika kita merancang bangunan sekolah. Di bidang akustik, hal ini akan terasa sekali akibatnya.

“Ketika kita merancang ruang kelas untuk anak-anak, kualitas akustik yang “cukup baik” untuk orang dewasa tidaklah cukup”, kata Peggy Nelson, dosen Universitas Minnesota, anggota kelompok kerja Acoustical Society of America (ASA) yang merancang standar nasional ANSI S12.60-2002 ttg kualitas akustik bangunan sekolah. Anak-anak memerlukan kualitas akustik yang lebih ketat ketimbang orang dewasa.

Kualitas akustik ruangan

Setidaknya ada dua syarat agar murid dapat mendengarkan pelajaran dengan baik:

Pertama adalah lingkungan yang tidak bising. Bising latar belakang ini bisa datang dari lalu lintas di jalan, aktivitas di sekitar sekolah, suara dari kelas sebelah, dan juga bising dari mesin penyejuk udara (air conditioner/AC).

Kekuatan suara untuk sampai ke telinga kita diukur dengan satuan desibel (dB), yang besarnya bergantung pada kekuatan sumber suara dan jaraknya dari telinga kita. Semakin kuat dan semakin dekat sumber bunyi, semakin tinggilah angka dB-nya.

Sebagai gambaran, suara mesin pesawat jet pada jarak sekitar 50 meter akan menghasilkan suara berkekuatan 140 dB, yang akan merusak telinga manusia, sedangkan suara bisikan kekuatannya sekitar 20 dB. “Penjumlahan” dua sumber bunyi berkekuatan sama, akan menghasilkan angka 3 dB lebih tinggi. Misalnya dua sumber suara berkekuatan masing-masing 60 dB akan terdengar sebagai suara 63 dB.

Untuk menggambarkan kejelasan suatu sumber suara relatif terhadap bising lingkungan biasanya digunakan kriteria SNR (Signal-to-Noise Ratio) yaitu perbandingan antara kekuatan sumber suara dibagi dengan kekuatan bising lingkungan. SNR bernilai 0 dB ketika kekuatan suara sama dengan kekuatan bising. Semakin positif berarti tingkat kebisingan rendah, dan sebaliknya semakin negatif berarti tingkat kebisingan semakin tinggi.

Syarat kedua adalah waktu dengung yang rendah. Waktu dengung adalah ukuran menunjukkan seberapa cepat suara akan menghilang. Semakin tinggi waktu dengung akan semakin lama suara itu bertahan di dalam ruangan.

Ketika gelombang suara mencapai suatu permukaan benda, maka sebagian gelombang akan diserap dan sebagian lagi akan dipantulkan kembali ke ruangan. Bagian yang dipantulkan ini akan kembali memperkuat bunyi suara itu di dalam ruangan dan akan terdengar sebagai dengung. Bila dengung ini mencapai telinga dalam waktu yang relatif lama setelah suara aslinya, maka ini akan sangat mengganggu kejelasan suara asli.

Ada dua kriteria yang digunakan oleh ANSI-S12.60 untuk mematok kualitas akustik ruang kelas. Pertama, bising lingkungan yang tidak boleh melebihi 35 dBA dan 55 dBC di seluruh bagian ruangan kelas. (dBA dan dBC adalah satuan kekuatan suara yang sudah memperhitungkan kandungan frekwensi sumber suara). Kedua, waktu dengung yang tidak boleh lebih dari 0.6 detik.

Meningkatkan kualitas lingkungan belajar

Banyak sekali hasil penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh normal kurang dapat memisahkan antara bunyi suara dengan bising latar belakang. Dalam kondisi bising, anak-anak cenderung tidak dapat menangkap makna ucapan yang didengarnya.

Memang akhirnya anak-anak akan dapat mengembangkan kemampuan mereka dalam mendengarkan percakapan dalam kondisi bising dan dengung. Tapi kemampuan itu baru akan sempurna ketika mereka mencapai usia remaja.

Dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa orang dewasa akan mudah memahami makna ucapan ketika kekuatan bising sama dengan kekuatan suara ucapan, yaitu ketika nilai SNR kurang lebih nol dB. Tetapi, anak-anak yang berusia 13 tahun ke bawah memerlukan tingkat bising yang jauh lebih rendah untuk dapat memahami ucapan yang mereka dengar.

Pada tingkat SNR 0 dB (kondisi bising), anak-anak hanya memahami 46% makna ucapan yang mereka dengar. Artinya kalau mereka mendengar 10 kata, kemungkinan mereka akan memahami hanya 4 atau 5 kata saja.

Dalam tingkat SNR +6 dB (agak bising), tingkat pemahaman naik menjadi sekitar 80%. Sedangkan dalam kondisi tenang (SNR +12 dB), tingkat pemahaman anak-anak terhadap ucapan menjadi lebih dari 90%.

Dengung atau gema dalam ruangan memperburuk tingkat pemahaman di atas. Dalam kondisi hening, dalam ruangan bebas dengung (waktu dengung = 0), maka tingkat pemahaman bisa mencapai sekitar 95%. Dalam ruangan yang agak berdengung (waktu dengung = 0.4 detik), maka tingkat pemahaman akan turun menjadi 83%. Dalam kondisi dengung yang tinggi (waktu dengung = 1.2 detik), tingkat pemahaman menjadi sekitar 76%.

Semua data di atas adalah penelitian berdasarkan kata-kata sederhana. Hasilnya tentu akan lebih buruk bila kata-kata yang didengar oleh anak-anak lebih kompleks dari yang digunakan di penelitian itu.

Apalagi kalau kita memperhitungkan gangguan pendengaran pada anak. Hasilnya tentu akan lebih parah lagi. Gangguan pendengaran ini bisa permanen ataupun sementara. Data di Amerika Serikat menunjukkan bahwa “otitis media”, suatu infeksi bakteri di dalam telinga, adalah keluhan terbanyak yang dialami oleh anak-anak. Jumlahnya meningkat dua kali lipat dalam dekade lalu.

Lingkungan belajar yang tenang adalah kebutuhan dasar dalam pendidikan. Data-data di atas menunjukkan bahwa kualitas lingkungan belajar dapat ditingkatkan dengan menjaga kualitas akustik bangunan sekolah.

Bukan hanya untuk murid, tetapi juga untuk guru. Ruang kelas yang bising menyebabkan para guru harus berteriak ketika mengajar. Ini akan menyebabkan keluhan kesehatan seperti suara yang lelah, serak, bahkan menyebabkan stress. Dalam kelas yang hening, para guru tidak perlu berteriak dan suaranya akan dapat didengarkan sampai ke belakan kelas.

Bagaimana kondisi sekarang?

Di Amerika Serikat, Kantor Akuntansi Pemerintah pada tahun 1995 mengadakan studi ttg kondisi fisik bangunan sekolah. Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah mengenai keadaan lingkungan yang tidak mendukung pengajaran. Jawaban terbanyak terhadap pertanyaan ini adalah “kondisi bising yang harus diturunkan”. Penelitian tadi juga menyimpulkan bahwa dana yang diperlukan untuk memperbaiki bangunan sekolah ke tingkat yang baik (bukan hanya akustik, tapi semua aspek) adalah sekitar 100 milyar dolar.

Di Indonesia kondisi akustik ini tentu saja belum sepenuhnya diperhatikan. Kita masih berkutat dengan kualitas struktur bangunan, sambil berharap agar bangunannya tidak runtuh.

Depdiknas memperkirakan sekitar 60-70 persen bangunan SD rusak berat, dan sekitar 20-30 persen bangunan SLTP dan SMU juga rusak. Untuk biaya perbaikan kerusakan itu, diperkirakan akan membutuhkan biaya sekitar Rp. 13,5 triliun. Sedangkan tahun ini pemerintah hanya menganggarkan sekitar Rp. 10,8 triliun untuk biaya pendidikan SD hingga SMU, yang tentu saja tidak hanya untuk perbaikan gedung.

Dalam kondisi seperti ini, tentu saja inisiatif para guru dan orang tua murid sangatlah diharapkan. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas akustik ruang kelas:

1. Hilangkan bising yang paling dominan

Sumber bising yang paling dominan akan mudah diketahui. Bising lalu lintas dapat dikurangi dengan menutup jendela yang mengarah ke jalan, kalau perlu diberi tambahan karet untuk menambal rongga antara jendela dan kusen. Tentu saja harus ada jendela lain (yang menghadap ke arah lain) yang dibuka untuk kebutuhan ventilasi.

Bila sumber bising adalah mesin pendingin udara (AC), maka barangkali perlu dipertimbangkan untuk menggunakan AC split yang sumber bisingnya bisa diletakkan jauh dari kelas.

2. Kurangi dengung ruangan

Dengung ruangan dapat dikurangi dengan mengurangi permukaan dinding yang keras. Hal ini dapat dilakukan dengan menutup dinding dengan tirai yang agak tebal. Menutup dinding belakan kelas dengan tirai ini sudah cukup membantu mengurangi dengung. Mengganti plafon dengan bahan akustik adalah hal lain yang bisa dilakukan, bila dananya mencukupi.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah menambah bahan yang menyerap suara di dalam ruangan. Semua bahan yang berpermukaan lunak dan berpori sebenarnya dapat digunakan untuk ini. Kalau ada dananya, tentunya bahan akustik akan lebih baik.

3. Kurangi jarak dengan murid

Dalam model pengajaran tradisional, guru selalu berdiri di depan kelas sehingga anak-anak yang duduk di belakang akan sulit mendengarkan pelajaran bila kondisi lingkungan sangat bising. Hal ini dapat dihindari bila guru tidak lagi berdiri di depan kelas, tetapi di tengah, dengan formasi bangku yang melingkar atau setengah lingkaran.

Ada banyak lagi cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas akustik dalam proses belajar-mengajar. Tulisan ini hanyalah ajakan bagi kita semua (guru, orang tua murid, pengurus sekolah, pemerintah) untuk lebih memperhatikan lingkungan akustik ruang kelas.

This entry receives 2 comments.

anis

selamat meneliti

Aug 20, 2006 at 8:13 am

Astri

terimakasih infonya…sangat membantu dalam pengerjaan tugas akhir saya…:)

Oct 12, 2011 at 1:29 am

Your feedback, please...

This entry was posted on Monday, October 20th, 2003 at 11:34 am and is filed under Education, Indonesian, Technology. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Asides

If Moses had gotten the Ten Commandments on a floppy disk, it would never have made it to today. (Dag Spicer, curator of the Computer History Museum in Silicon Valley, The NYTimes Circuit, 26-Mar-2009)

“The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore all progress depends on the unreasonable man.”
George Bernard Shaw, Maxims for Revolutionists

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.