September 25th, 2001
# 11:28 am
1 comment
Peran dan Kompetensi
Pernah dengar nama Muhammad Kasim Arifin? Sewaktu menjadi mahasiswa IPB, beliau mendapat jatah KKN (kuliah kerja nyata, maksudnya) di Waimital, Pulau Seram, Maluku. Itu tahun 1964. Entah apa yang membuatnya betah, KKN yang hanya beberapa bulan ternyata molor menjadi bertahun-tahun.
Dan bukannya tanpa hasil. Keberadaannya di kampung itu bukannya seperti mahasiswa sekarang mengenal KKN. Tepian hutan di babat untuk jadi daerah pertanian. Pohon-pohon dari hutan perawan itu berhasil di cabut tanpa bantuan buldozer. Sistem irigasipun dibangun untuk mengairi lahan yang baru dibuka itu. Sekolah pun dia buka untuk memajukan pendidikan anak-anak di sana. Semuanya dilakukan tanpa perlu anggaran proyek dari hutang luar negeri.
Gelar sarjana baginya menjadi sesuatu yang tidak berarti. Bekerja dan berkarya agaknya sudah cukup baginya. Utusan dari IPB yang membujuknya untuk pulang dan menyelesaikan studinya tidak digubris. Baru setelah utusan itu menyampaikan pesan orang tuanya untuk menyelesaikan studinya, maulah dia “turun gunung” sekadar untuk wisuda.
Setelah 15 tahun dan setelah sempat jadi lurah di kampung orang.
Kawan sekuliahnya, Taufik Ismail, sampai membuat satu puisi khusus untuknya, yang dibacakan di hari wisudanya. Dalam buku kumpulan puisi Malu Aku Jadi Orang Indonesia-lah kutemukan puisi ini, lengkap dengan catatan kaki yang menjelaskan secara singkat latar belakang puisi ini.
Kisah hidup dalam puisi inilah yang memberi inspirasi pemikiran saya ttg peran dan kompetensi.
***
Kawan saya Kelik pernah bilang, “Orang yang berhasil itu adalah orang hidup berdasarkan pilihan-pilihan, bukan keterpaksaan-keterpaksaan.” Saya sangat terkesan dengan kata-kata sederhana ini, mengingat betapa kadangkala kita tidak bisa membuat pilihan.
Betapa membuat pilihan itu diperlukan keberanian. Teringat saya kepada junjungan kita Muhammad s.a.w., yang memilih untuk hidup miskin. Kemiskinan beliau adalah pilihan, bukan keterpaksaan. Teringat pula betapa banyaknya kaum muslimin yang “terpaksa” menjadi kaya, dan membiarkan ribuan, bahkan jutaan, orang kelaparan. Kalau sekiranya mereka berani membuat pilihan untuk hidup “cukupan” saja – bukan miskin – pastilah banyak orang yang bisa diselamatkan dari kemiskinan.
Keberanian untuk membuat pilihan inilah yang saya lihat dalam kehidupan Muhammad Kasim Arifin. Di saat para mahasiswa berlomba untuk mencari pekerjaan yang bergaji tinggi di dunia industri, dia lebih memilih untuk “mengubur” dirinya di tempat asing, boleh dibilang “tempat jin buang anak”. Padahal bisa saja dia mencari pekerjaan yang lebih menggiurkan. Tapi dia memilih peran yang sama sekali berbeda.
Yang menarik untuk diperhatikan adalah bahwa peran yang dipilihnya ternyata didukung dengan kompetensi. Nggak sembarangan orang bisa membuka hutan, membuat tanah pertanian, membuat sistem irigasi, dst, dst. Yang lebih penting lagi, semuanya dilakukan boleh dibilang dengan modal dengkul. Tanpa kompetensi, mustahil itu semua bisa dilakukannya.
Ada dua jenis kompetensi yang secara umum bisa kita bedakan.
Pertama adalah kompetensi profesional, yaitu kompetensi yang berhubungan dengan peran yang kita pilih. Dokter, petani, tukang becak, pedagang, wartawan, guru, semuanya punya kompetensi masing- masing.
Kedua adalah kompetensi umum, yaitu kompetensi yang harus kita miliki sebagai seorang manusia. Misalnya kompetensi untuk menjadi suami atau istri yang baik. Kompetensi untuk mendidik anak. Kompetensi untuk menjadi team leader atau untuk menjadi bawahan yang baik. Kompetensi untuk bisa beribadah (mahdhah) dengan baik dan benar.
Memang benar bahwa kedua jenis kompetensi itu tidak selalu berhubungan dengan sekolah. Banyak jenis kompetensi yang bisa didapatkan secara otodidak. Menulis, misalnya, adalah kompetensi yang bisa dibangun dari nol sampai ke tingkat advanced secara otodidak.
***
Yang menarik untuk kita renungkan saat ini adalah, apa sebenarnya kaitan antara kompetensi dan sekolah (formal)?
Pertama-tama harus diingat bahwa ada kompetensi yang memang harus dibangun lewat sekolah. Kedokteran misalnya, harus by training.
Tetapi kan tidak semuanya begitu. Betapa banyak orang yang menekuni bidang keahlian di luar bidang yang ditekuninya semasa sekolah. Kelik misalnya, seorang sarjana teknik di bidang teknik fisika, tapi jadi wartawan. Taufik Ismail kuliah di IPB sekarang jadi sastrawan.
Saya terus terang tidak berani menyalahkan mereka yang menekuni bidang keahlian di luar bidang yang dipelajarinya di sekolah. Alasannya ada tiga.
Pertama, karena masyarakat kita masih sangat menghargai gelar. Manager SDM yang sarjana teknik tentunya lebih “fancy” dan “sophisticated” ketimbang yang “hanya” lulusan manajeman. Gelar “Doktor” tentunya akan sangat laku kalau harus banting setir jadi politisi. Ustaz yang punya gelar “MSc.” akan terdengar lebih mumpuni ketimbang alumni pesantren tanpa gelar. Saya tidak bisa menyalahkan mereka yang menganggap “gelar” sebagai komoditi, yang dijadikan modal untuk menempuh karier di bidang lain.
Kedua, yang lebih penting, adalah karena sekolah lebih menawarkan kerangka berpikir ketimbang alat untuk memecahkan satu masalah khusus. Keahlian di bidang khusus biasanya hanya dibentuk di akhir tahap pendidikan. Sehingga kerangka berpikir yang dibentuk selama sekolah dapat diterapkan di semua bidang keahlian. Mungkin ini yang disebut dengan metode ilmiah.
Ketiga, yang paling penting, adalah karena saya tidak berani menyalahkan kaum ibu yang memilih meniti peran sebagai ibu rumah tangga full-time. Kalau melihat alasan ini, saya berpikir, alangkah baiknya kalau ibu rumah tangga itu sarjana semua, dengan asumsi bahwa mereka akan menerapkan kerangka berpikir ilmiah dalam mengurus rumah tangga dan mendidik anak.
Tapi kan tidak berarti bahwa semua orang boleh memilih peran apapun setelah mereka tamat sekolah. Coba bayangkan kalau 90% lulusan kedokteran memilih tidak praktek? Memang terlalu ekstrem. Tapi coba bayangkan kalau 80% lulusan sipil memilih untuk tidak menjadi kontraktor bangunan, siapa yang akan menandatangani design bangunan sebagai tanda layak bangun?
Ada unsur mubazir di situ. Apalagi kalau mereka ternyata harus lulus tanpa kompetensi di bidang apapun. Lulusan astronomi yang bisa jadi programmer masih bisa di terima, juga ketika sarjana teknik harus jadi wartawan, (ya, Lik?), ketimbang sarjana yang “nggak bisa apa- apa”.
***
Untuk menghindar kemubaziran itulah saya melihat pentingnya keberanian untuk membuat keputusan mengenai peran yang akan kita pilih. Semakin lama kita menunda pemilihan peran hidup kita, semakin banyak kemungkinan kita untuk memubazirkan kesempatan untuk menempa kompetensi yang relevan dengan peran itu.
Di titik inilah kata-kata Kelik kembali terngiang. Kalau kita memilih untuk menjadi guru, buatlah pilihan itu sesegera mungkin, by choice, bukan karena keterpaksaan. Kemudian mari kita tempa kompetensi kita di bidang yang kita pilih itu, sekalipun kita sedang kuliah di jurusan teknik, ekonomi atau filsafat atau apapun.
Setelah primary role kita jelas, maka kita akan punya kejelasan apakah masih ada jatah untuk secondary role, atau bahkan tertiary role yang akan secara bersamaan kita jalani. Dengan begini kita akan punya kejelasan, kompetensi apa yang perlu kita bangun.
Eindhoven, 25.09.2001
ps. Catatan pra dan pasca diskusi yang disampaikan pada acara kendurian bulanan di Delft 15.09.2001
This entry receives one comment.
Betul, mengharukan kisahnya M. Kasim Arifin. Mudah2an ada yg terinspirasi dg kisah tersebut.
Aug 18, 2009 at 2:25 am
Your feedback, please...