Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Uncle Tungsten: ttg pendidikan sains pada anak

Uncle Tungsten: ttg pendidikan sains pada anak

Pernah dengar “spinthariscope”? Itu adalah sebuah alat sederhana yang terdiri dari sebuah layar fluoresens dan sebuah kaca pembesar, dan di dalamnya, sejumput kecil radium. Melalui kaca pembesar, kita dapat melihat lusinan scintillasi per detik, bagaikan melihat lintasan meteor yang tak pernah berhenti.

Kemungkinan besar anda juga sama seperti saya. Belum pernah melihat sendiri alat itu. Bahkan mendengarpun belum pernah.

Alat itu sudah diiklankan di sampul thesis doktor Marie Curie di tahun 1903, di tahun yang sama ketika beliau (bersama Piere, suaminya, dan Becquerel) dianugerahi hadiah Nobel. Di kala itu, alat tersebut adalah mainan saintifik yang sedang trendy.

Ya betul, mainan. Tetapi sekalipun tampil sebagai mainan, nilainya sangatlah fundamental. Setiap scintilasi atau kilatan kecil yang terlihat adalah sebuah atom radium yang sedang terpecah. Belum pernah terbayangkan, di kala itu, bahwa seseorang dapat melihat dengan mata telanjang, visualisasi dari sesuatu yang diakibatkan oleh sebutir atom.

Kilatan itu kelak dikenal sebagai partikel alfa. Di kala itu, efek negatif radioaktivitas belumlah dikenal, sehinggal bahan-bahan radioaktif masih bebas ditemukan, bahkan sebagai mainan.

***

Kita barangkali kurang beruntung (atau malah beruntung?) karena tidak sempat bermain dengan “sphinthariscope” di waktu kecil. Tetapi Oliver Sacks sangatlah beruntung dengan masa kecil yang penuh dengan petualangan saintifik.

“Anyone familiar with Oliver Sacks’ work might guess that he had an unsual upbringing. Just how unusual, though, is revealed in this extraordinary memoir”, begitu kata kutipan di halaman depan buku “Uncle Tungsten — Memories of a chemical boyhood” yang ditulis oleh Oliver Sacks.

Anda barangkali tidak pernah mendengar nama Oliver Sacks, kecuali kalau anda adalah psikiater, atau psikolog, atau neorologis, atau peminat neuro-science amatiran seperti saya. Beliau adalah seorang neurologis yang terkenal dengan karyanya yang monumental “Awakenings” (sudah difilmkan dan diperankan dengan ciamik oleh Robin Williams). Juga karya-karya lainnya yang sangat “inspiring” seperti “The man who mistook his wife for a hat” dan “Seeing voices”.

Saya membeli buku “Uncle Tungsten” lebih karena nama Oliver Sacks. Namun ketika membaca komentar yang ditulis di halaman pertama buku itu, saya langsung tertarik, dan menduga-duga dalam lingkungan seperti apakah dia dibesarkan.

***

Paman Tungsten sebenarnya adalah Dave, paman Oliver yang mempunyai pabrik bola lampu. Sang paman inilah yang memperkenalkan Oliver dengan dunia kimia yang sangat menakjubkan bagi anak-anak. Di mulai dari memperkenalkan berbagai logam yang digunakan untuk filamen bola lampu, sang paman membuka pintu untuk Oliver untuk memasuki dunia sifat-sifat dan struktur material. Mencoba berbagai logam untuk filamen lampu, dan melihat seberapa lama bahan tersebut menyala. Kurang lebih mengulang apa yang sudah dilakukan oleh Edison ketika menemukan bola lampu.

Saya bisa merasakan betapa mengasikkannya “penemuan-penemuan” yang dialami oleh Oliver. Membayangkannya saja sudah menjebak saya dalam sebuah pesona yang sulit dihilangkan. Saya membandingkan ini dengan perjalanan awal kehidupan saintifik saya di bidang kimia. Sangat membosankan. Bahkan pun ketika sudah lulus dari mata kuliah Kimia Dasar (1 dan 2) dan juga mata kuliah Sifat dan Struktur Material, pun bidang ini masih terasa membosankan.

Paman Tungsten memperlihatkan bagaimana proses pemurnian tungsten. Gumpalan tungsten oksida dicampur dengan serbuk aluminium. Kemudian ditambah dengan gula dan potasium perklorat dan sedikit asam sulfat. Ini adalah salah satu reaksi yang paling berbahaya karena campuran itu langsung terbakar. Tapi kalau kondisinya tepat, maka cara ini bisa mengisolasi berbagai logam penting, termasuk tungsten. Alumuniun dan tungsten oksida terbakar dengan menghasilkan bunga api yang indah.

Sejak itu, kehidupan Oliver tidak pernah lepas dari kimia. Orang tuanya mengijinkannya untuk membuka laboratorium pribadi di ruang bawah tanah di rumahnya. Salah satu primbonnya adalah Chemical Recreations, sebuah buku yang ditulis pada tahun 1850an oleh Griffins (saya menemukan buku ini di katalog salah satu perpustakaan di Belanda, tapi tidak boleh lagi dipinjamkan).

Dalam bab “Stinks and Bangs” Oliver menceritakan bagaimana dia mengeksplorasi sifat-sifat bahan dasar kimia. “Bangs” adalah ledakan yang terjadi ketika dia membandingkan reaksi 5 elemen dari keluarga alkali dengan air. Satu kejadian yang kelewatan adalah ketika dia melemparkan bongkahan potasium dari atas jembatan, dan memperhatikan ledakan yang terjadi ketika bongkahan itu menyentuh permukaan sungai. Sedangkan “stinks” adalah bau yang terjadi ketika dia mencoba berbagai reaksi yang menghasilkan berbagai bau mulai dari bau seperti kentut, sampai bau yang benar-benar tidak tertahankan.

Sampai-sampai sejarah dan geografi pun, bagi si kecil Oliver, lebih banyak berkaitan dengan kimia daripada perang dan peristiwa-peristiwa lain.

***

Ada tiga hal yang dapat kita pelajari dari pengalaman masa kecil Oliver Sacks untuk menanamkan kecintaan kepada dunia sains pada anak. Pertama, sejarah ilmu pengetahuan memainkan peranan cukup penting dalam memperkokoh fondasi pengetahuan seseorang. Stanislao Canizzaro, seorang ilmuwan Italia jaman dulu, selalu menekankan pentingnya sejarah kimia dipahami oleh anak didiknya, sehinga dia akan memperkenalkan mereka “endeavoring to place them on the same level with the contemporaries of Lavoisier.” Sehingga setelah beberapa lama anak muridnya akan dapat mengalami “the full revolutionary force, the wonder of his thought; and then a few years ahead, they could experience the sudden, blinding illumination of Dalton.” Arti penting Dalton tidak akan bisa dihargai tanpa mengenal Lavoisier. Canizzaro kemudian mengatakan, “It often happens that the mind of a person who is learning a new science has to pass through all the phases which the science itself has exhibited in its historical evolution.”

Pernak-pernik kecil dalam sejarah sains sangatlah menarik untuk diceritakan. Betapa dulu spinthariscope sempat jadi mainan. Juga betapa dulu sinar X biasa didapatkan di toko sepatu, untuk melihat bagaimana posisi kaki di dalam sepatu baru. Mengapa kedua hal itu tidak kita dapati lagi sekarang, tentu ini merupakan hal yang menarik untuk dikemukakan.

Kedua, kehidupan para ilmuwan sangatlah penting untuk digambarkan kepada anak didik. Paman Tungsten selalu bercerita kepada Oliver ttg Carl Wilhelm Scheele, penemu tungsten. Scheele adalah penemu oksigen, bukan secara kebetulan, tapi membuatnya dengan berbagai cara. Dia juga menemukan klorin, dan membuka jalan ke arah penemuan mangan, barium, dan beberapa penemuan lain. Semua itu dilakukan tanpa bantuan, tanpa jabatan di universitas, tanpa gaji. Dia bekerja sendirian, dan hidup dari usaha apotek kecil yang dikelolanya. Dedikasinya hanyalah untuk pekerjaannya, bukan ketenaran. Dia mau berbagi hasil kerjanya, semua hasil yang dimilikinya, dengan siapapun. Diapun rela “memberikan” predikat penemu kepada murid-murid dan teman-temannya, seperti penemuan mangan kepada Johan Gahn, penemuan molybdenum kepada Peter Hjelm, dan penemuan tungsten kepada d’Elhuyar bersaudara. Nama Scheele sendiri masih melekat pada “scheelite”, hasil tambang yang menjadi bahan dasar tungsten. Scheele, bagi Oliver, adalah lambang romantika sains. Ada integritas, kebaikan abadi, ttg hidup dalam sains, kisah cinta sepanjang hidup.

Atau ttg Marie Curie, betapa beliau “plunging her hands into the sacks of pitchblende residue, still mixed with pine needles from the Joachimsthal mine; inhaling acid fumes as she stood amid vast steaming vats and crucibles, stirring them with an iron rod almost as big as herself; transforming the huge, tarry masses to tall vessels of colorless solutions, more and more radioactive, and steadily concentrating these, in turn, in her drafty shed, with dust and grit continually getting into the solutions and undoing the endless work.”

Atau ttg Rutherford muda, betapa dia harus bertentangan dengan pendapat Kelvin yang terkenal itu. Lord Kelvin, ketika itu sudah berumur 80 tahun dan sudah menjadi dedengkotnya para ilmuwan, berpendapat bahwa berdasarkan pada laju pendinginan bumi, dengan asumsi bahwa matahari adalah satu-satunya sumber panas, maka umur bumi tidak akan lebih dari 20 juta tahun. Rutherford mengatakan bahwa perhitungan Kelvin dilakukan dengan asumsi yang salah. Matahari bukanlah satu-satunya sumber panas bagi bumi. Ada sumber panas lain, yaitu bahan-bahan radioaktif yang bisa menjaga panas bumi selama milyaran tahun tanpa harus mengalami “premature heat-death” seperti yang diramalkan Kelvin. Rutherford menunjukkan sebongkah batu, dan berdasarkan pada kandungan helium di batu itu, dia mengatakan bahwa umur batu ini setidaknya sekitar 500 juta tahun.

Daftar ilmuwan itu tentu saja bisa kita perluas sampai ke jaman Archimedes dan Ibnu Sina.

Ketiga, bahwa imajinasi ilmiah anak didik haruslah dibiarkan. Romantika kehidupan ilmuwan seringkali membuat anak-anak ingin menjalani kehidupan seperti mereka, sama seperti Oliver ingin menjadi Scheele. Dan mereka ingin mengulang apa-apa yang sudah mereka lakukan. Ini haruslah dibiarkan, bahkan harus dipupuk. Tentu saja, dalam batas-batas yang tidak membahayakan mereka.

Jauh lebih baik mereka bermimpi jadi Faraday, dan mencoba menemukan batere, daripada mereka bermimpi menjadi Ash (atau Ali dalam dubbing di Indonesia) yang setiap hari bekerja melatih Pokemon. Kalau ini terjadi, paling jauh mereka akan mencoba untuk mengadu ayam atau ikan cupang.

Seringkali imajinasi anak harus mati prematur gara-gara orang tuanya berpendapat, “Ngapain kamu buat yang nggak-nggak, Nak?!” Padahal mereka hanya ingin memotong-motong ikan untuk melihat isi perut dan insangnya, atau mereka ingin tidur di tenda di depan rumah, misalnya.

Oliver sangat beruntung mempunyai orang tua yang membiarkan imajinasinya hidup di dunia kimia, sekalipun mereka ingin Oliver menjadi dokter. Mereka memperkenalkan dunia medik tanpa harus mematikan imajinasi sang anak yang ingin menjadi penemu elemen-elemen dasar. Beruntung Oliver mempunyai ayah seorang dokter yang sering mengajaknya berkeliling ketika harus mendatangi pasien di rumahnya. Beruntung Oliver mempunyai ibu yang merujuk Oliver kepada seorang profesor anatomi di rumah sakit, semata-mata agar Oliver dapat bermain-main dengan kaki manusia untuk melihat bagian-bagiannya, kaki seorang gadis kecil yang sudah jadi mayat.

Saya? Seumur-umur belajar biologi, belum pernah saya membelah katak, apalagi membelah kaki manusia. Apalagi kemudian mendiskusikan bagian-bagian kaki dan bagaimana kaki bergerak dan menopang. Apalagi mendiskusikan itu semua dengan orang tua sendiri.

Tapi saya (dan juga anda) masih terkategori beruntung, kalau kita teringat berjuta anak Indonesia yang harus terputus imajinasinya, dan secara kejam dihadapkan kepada realitas kehidupan. Jangankan berimajinasi menjadi ilmuwan, mereka bahkan harus berpikir keras untuk bisa bertahan hidup.

Eindhoven, 19 Januari 2003

PS. Banyak tulisan selalu berakhir dengan keluhan ttg kondisi Indonesia yang kacau balau. Artikel saya ini ditulis untuk menghargai mereka yang melupakan besarnya beban yang tengah kita alami, dan berusaha sedikit demi sedikit untuk mulai mengurai simpul kesulitan ini dari lingkungan mereka masing-masing, betapapun kecilnya kontribusi mereka. Mereka sudah berhenti mengeluh, dan mulai berkarya untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia, seperti bisa kita ikuti perkembangannya di beberapa mailing list pendidikan. Mari kita ikuti jejak langkah mereka, dan kita mulai dari anak-anak kita sendiri.

This entry receives 2 comments.

cahya

saya sangat berterima kasih, artikel bapak ttg sains anak menambah referensi saya. kebetulan saya sedang mulai menyusun TA ttg sains anak usia dini. saya harap P’ Ery tidak sungkan memberikan referensi lain kepada saya. terima kasih.

Jul 7, 2008 at 7:05 pm

rhe

Terimakasih banyak Pak…
sy benar2 berterimakasih atas tulisan bapak ini

Oct 14, 2011 at 12:46 am

Your feedback, please...

This entry was posted on Sunday, January 19th, 2003 at 11:01 am and is filed under Education, Indonesian, Technology. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Asides

You either write something that you will be remembered for or do something that people will write about. Other than that, you are just passing TIME.

– Deen Aljunied

If Moses had gotten the Ten Commandments on a floppy disk, it would never have made it to today. (Dag Spicer, curator of the Computer History Museum in Silicon Valley, The NYTimes Circuit, 26-Mar-2009)

“The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore all progress depends on the unreasonable man.”
George Bernard Shaw, Maxims for Revolutionists

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

online pharmacy