Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Masih ada harapan: tipiring

Masih ada harapan: tipiring

Anda tahu tipiring kan? Ah itu loh, sesuatu yang saya dan anda kemungkinan sudah pernah melakukannya. Tipiring itu adalah tindak pidana ringan, misalnya buang sampah sembarangan, dan lain-lain. Anda semuakan lebih tahu apa tipiring favorit anda :)

Dalam diskusi politik kecil-kecilan, saya sering bertanya kepada kawan-kawan, kalau anda jadi bupati atau walikota, apa yang akan anda lakukan pertama kali? Wah biasanya diskusi jadi seru sekali. Memang sih banyak yang akan bilang bahwa mereka akan mengumpulkan uang dulu, siapa tahu tidak terpilih lagi.

Setelah berbagai macam perdebatan, biasanya mereka akan balik nanya, kalau kamu mau ngapain? Ada beberapa versi sih, tapi ini yang paling sering saya ajukan. Kalau saya jadi bupati, saya akan fokus pada penanganan tipiring, di antaranya denngan membuat penjara khusus tipiring.

Argumentasi anekdotal yang saya jadikan pegangan adalah sejarah orang Aceh jaman kolonial. Terus terang saya tidak tahu apakah ini benar atau tidak, tetapi melihat kultur budaya Aceh yaaah, bukan tidak mungkin terjadi.

Ceritanya di jaman dulu, ketika jembatan masih sempit, orang harus bergantian untuk melewatinya, apalagi kalau bawa barang banyak. Dasar perangai orang Aceh yang tidak mau mengalah, terjadilah banyak perkelahian di jembatan. Akibatnya penuhlah penjara akibat perkelahian itu. Akhirnya dibuatlah peraturan baru untuk menangani kegawatan ini. Barangsiapa yang kedapatan berantam di jembatan akan dikenakan denda yang cukup besar, dan kalau dia tidak sanggup bayar, maka rumahnya akan dilelang untuk bayar denda.

Ternyata kalau urusannya sudah sampai ke masalah rumah, lelaki Aceh akan mendapatkan lawan yang tak mungkin dikalahkan: istri mereka. Mana ada istri yang mau rumahnya dilelang? Setelah diundangkannya peraturan itu, kontan perkelahian di jembatan bisa dihilangkan.

***

Justifikasi yang lebih serius saya dapatkan ketika membaca buku Malcolm Gladwell “The Tipping Point“. Di buku itu beliau bercerita tentang dua contoh kasus di mana pencegahan tipiring bisa menjadi titik balik menuju ke arah yang lebih baik.

Kasus yang pertama adalah kasus operator kereta api bawah tanah di New York City. Mereka ingin menaikkan pendapatan sekaligus meningkatkan citra mereka di mata penumpang. Salah satu terobosan penting yang dilakukan oleh manajemen baru adalah penegakan hukum bagi free-rider. Para free-rider ini dengan berbagai cara bisa naik metro dengan gratis.

Selama ini tidak ada upaya serius dalam menindak para free-riders ini. Siapalah yang ingin menindak tipiring yang disebabkan oleh tiket bernilai satu dua dolar? Tetapi manajemen baru berpendapat bahwa justru di sinilah titik awal perbaikan citra, sekaligus perbaikan pendapatan. Membiarkan para penerabas itu justru memberikan citra yang jelek bagi metro.

Pesan yang baru bagi para free-rider: you can try to get a free ride, but you will not get away with it. Para polisi diminta untuk menindak mereka yang tidak bayar, sekalipun ongkos penindakan (waktu sang polisi, dst) mungkin lebih besar dari denda yang diberikan. Tapi efeknya secara sistemik adalah luar biasa. Pendapatan meningkat dan citranya membaik.

Kasus yang sama adalah terjadi pada kawasan yang tindak kriminalnya tinggi. Salah satu upaya untuk membalik keadaan adalah dengan memperbaiki rumah-rumah yang di-vandalize, yang kaca-kacanya pecah. Ternyata ada lingkaran setan antara kaca-kaca yang pecah dengan tingkat krimnalitas: kaca yang pecah membuat para kriminal merasa at home di lingkungan itu, yang pada gilirannya menambah tingkat kriminalitas.

Karena itu ketika tanda-tanda vandalisme mulai diperbaiki, para kriminal pun tidak betah berada di kawasan itu. Akibatnya tingkat kriminalitasnya turun.

***

“Apa yang akan kamu lakukan tepatnya?” begitu biasanya diskusi akan berlanjut. Ayolah mari kita bermimpi.

Contoh pertama: pengendara motor yang jalan seenak udelnya, SIMnya akan dipotong dan motornya akan dilelang. Kalau motornya masih ngutang, maka setelah dipotong denda, kelebihannya akan dikembalikan kepada pemberi kredit. Kalau itupun masih kurang, yaah selesaikanlah sendiri. Kalau si pengendara ternyata bukan pemilik maka si pemilik motor pun akan dikenakan sanksi (peringatan atau denda) karena membiarkan motornya dipakai oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Si pengendara itu tidak boleh punya SIM dan tidak boleh punya motor selama waktu tertentu. Repeat offenders akan mendapatkan penanganan lebih khusus lagi.

Lho, nantikan mereka akan bikin SIM dan STNK di tempat lain? Silakan. SIM luar kota dan STNK luar kota akan mendapatkan hukuman yang lebih tinggi. Bukankah mereka ini “tamu”, kan seharusnya mengikuti aturan tuan rumah, malah bikin masalah, jelas hukumannya akah lebih berat.

Bagaimana dengan penjara khusus tipiring itu?

Nah itu contoh kedua: saya akan bikin penjara tipiring, dan meminta kejaksaan dan pengadilan untuk menugaskan jaksa dan hakim khusus di sini. Pelanggar pertama kali akan dikenakan denda. Repeat offenders akan dikenakan kurungan wajib minimal tiga hari.

Lhah dananya dari mana? Ya dari para pelanggar itu. Penjara tipiring ini adalah hotel prodeo, kalau mampir ke sini harus bayar: ongkos tidur, ongkos kamar mandi dan ongkos makan semuanya ditanggung oleh pelanggar dalam bentuk denda. Kalau tidak sanggup bayar denda maka akan dikenakan kerja paksa untuk membayar denda.

Walah, nanti bisa-bisa para pengangguran akan rame-rame jadi pelanggar tipiring, karena akan diberi pekerjaan. Tenang .. tenang .. one step at a time. Ini adalah efek negatif yang memang harus dipikirkan. Solusinya bisa dipikirkan sambil jalan, antara lain kemungkinan transmigrasi dan pengenaan corporal punishment seperti hukuman rotan a la Singapura.

Dan itu contoh ketiga: pelaku vandalisme akan dirotan seperti di Singapura.

***

Mimpi? Sebagian besar ya, memang. Tapi sebagian kecil ada yang bisa memberikan harapan.

Sopir taksi yang membawa saya dari pelabuhan feri ke bandara di Batam bercerita tentang kondisi pelabuhan yang rawan kejahatan. Saya bertanya kok suasanya agak-agak seram ya.

Dia bilang sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik Pak. Dulu di antara para supir seringkali terjadi perkelahian, dengan berbagai alasan di antaranya rebutan pelanggan.

Tapi sekarang sudah jauh berkurang karena ada peraturan baru. Bila anda kena pukul, anda tinggal minta visum dari dokter dan buat laporan ke polisi. Dendanya kontan satu setengah juta rupiah dikenakan kepada yang memukul.

Sekarang jarang sekali orang main pukul di Batam, apalagi main tusuk.

Waktu itu saya turun dari taksi dengan perasaan gembira sekali. Ternyata ide-ide penanganan tipiring bisa dilaksanakan dengan membawa perubahan positif. Sopir taksinya juga senang sekali karena dapat tip yang lumayan gede :)

Your feedback, please...

This entry was posted on Monday, May 25th, 2009 at 11:34 pm and is filed under General, Indonesian, Trips. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Asides

You either write something that you will be remembered for or do something that people will write about. Other than that, you are just passing TIME.

– Deen Aljunied

If Moses had gotten the Ten Commandments on a floppy disk, it would never have made it to today. (Dag Spicer, curator of the Computer History Museum in Silicon Valley, The NYTimes Circuit, 26-Mar-2009)

“The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore all progress depends on the unreasonable man.”
George Bernard Shaw, Maxims for Revolutionists

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

online pharmacy