Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Child abuse?

Child abuse?

Apa hukuman yang layak bagi orang seperti ini?

Child abuse? Child abuse?

[foto koleksi pribadi, dijepret di Batam. Plat nomer sudah disamarkan]

Bagi anda mungkin ini pemandangan biasa. Tapi coba perhatikan lagi foto di atas. Orang itu sudah kelewatan sekali. Memegang anak dengan satu tangan sambil naik motor? Belum lagi (foto bawah) ketika sang anak meronta, entah karena pegel atau karena melihat sesuatu, orang itu harus membenarkan posisi anak sambil memegang kendali motor dengan satu tangan.

Supir taksi yang membawa saya juga setuju bahwa sang bapak sudah sangat keterlaluan. Waktu saya ambil kamera dan siap memotret, beliau langsung memelankan laju taksinya. “Potret saja, Pak, biar dimuat di koran. Bapak wartawan ya?” begitu katanya bersemangat. Saya harus memadamkan semangatnya dengan mengatakan bahwa saya bukan wartawan. Cuman blogger kecil-kecilan.

Kembali ke foto itu: ironisnya, dari gelagatnya, tampak sang bapak ingin menghibur anaknya dengan mengajak naik motor. Hiburan sambil membahayakan anak?

Saya serius menanyakan apa hukuman yang layak bagi orang ini, tapi sebelumnya saya ingin menceritakan nasib Miron (bukan nama sebenarnya).

Miron adalah seorang ayah dari tiga anak, pengungsi Afghan yang sudah cukup lama tinggal di Amerika. Suatu ketika beliau mengendarai mobil dalam keadaan mabuk, dan di dalam mobil itu ada anaknya yang masih kecil. Dia diberhentikan oleh polisi, dan ketika diuji napas kadar alkoholnya melebihi batas ambang. Dia langsung di tahan, dan anaknya di ambil oleh Dinas Sosial. Alasannya berlapis: sudahlah driving under the influence, ditambah lagi dengan membahayakan anaknya.

Anaknya itu memang bisa segera dikembalikan ke ibunya, tetapi ternyata setelah diinspeksi oleh Dinas Sosial ada tanda-tanda KDRT, sehingga anak-anaknya diambil oleh Dinas Sosial.

***

Kembali ke kasus bapak sontoloyo di atas. Kenapa kita tidak punya hukum yang tegas dalam masalah transportasi? Janganlah masukkan dulu masalah child-endangerment, masalah keselamatan saja dulu. Kenapa kita biarkan bonceng tiga bahkan bonceng empat? Kenapa kita biarkan anak kecil dibonceng di depan pengendara motor?

Ah ah ah .. jangan .. jangan gunakan argumen bahwa mereka adalah orang yang tidak mampu. Seolah-olah kita harus membiarkan orang-orang yang tidak mampu untuk memakai kendaraan apa saja yang penting nyampe. Janganlah berargumen bahwa kita harus membiarkan mereka mempertaruhkan nyawa seperti itu, simply karena mereka (dan kita semua) tidak bisa memberikan alternatif yang lebih baik.

Justru karena mereka orang kecil, orang yang tidak mampu, maka keselamatan mereka harus kita jaga. Saya jadi ingat gurauan kawan-kawan di Ujung Pandang dulu kalau melihat daeng tukang becak sedang bertengkar. Mereka bilang (degan logat Makassar yang kental) “Oo daeng, jangan ki bertengkar. Kalau baku tikam nanti malah nggak sanggup bayar ongkos rumah sakit”.

Dengan perspektif seperti gurauan kawan-kawan saya di atas, bukankah kalau anak kecil ini jatuh dari motor, maka mereka akan lebih terpuruk lagi secara ekonomi karena harus bayar ongkos rumah sakit? Belum lagi kalau anaknya jadi cacat, berapa ongkos sosialnya?

Sekali lagi: apa layaknya hukuman bagi bapak yang membahayakan anaknya seperti di atas?

This entry receives 3 comments.

Surachmat

kata kuncinya adalah:
- pemahaman akan pentingnya keselamatan (safety first) –> harus menjadi budaya.
- penegakan hukum yang tegas.

saya pernah naik taxi dan kesulitan memakai safety belt (sudah rusak).
sopirnya malah bilang, “gak usah dipake pak, gak ada polisi kok.”
padahal saya mau pake safety belt untuk keamanan saya.
bukan karena takut sama polisi.

banyak lah yang bawa anak seperti ini dengan motor.
di jalan raya pula (kalo di komplek sih saya masih ok lah).

sekarang malah lebih menyedihkan lagi adalah menelpon/menulis sms sambil bawa motor.
yang seperti ini tidak pantes bawa motor dan hp.
mending disita saja semuanya.

May 25, 2009 at 10:20 pm

Gene

Bapak dalam foto di atas distop sama Polisi.
Kata Polisi, “Bapak sendang menyiksa anak kandung sendiri. Anak anda menjadi korban child abuse!”
Kata bapak yang membawa motor, “Kenapa? Kepalanya masih di atas kok! Kalau badannya dibalikin begini (sambil balikin badannya), nah itu baru child abuse!”
hehehehe

May 26, 2009 at 5:21 am

ahmad junaedi

tapi pak, kalo anaknya ditinggal sendirian dirumah sementara ibunya kerja apa nggak tambah berabe urusanya……

May 27, 2010 at 6:31 pm

Your feedback, please...

This entry was posted on Monday, May 25th, 2009 at 12:17 pm and is filed under General, Indonesian, Trips. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Asides

If Moses had gotten the Ten Commandments on a floppy disk, it would never have made it to today. (Dag Spicer, curator of the Computer History Museum in Silicon Valley, The NYTimes Circuit, 26-Mar-2009)

“The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore all progress depends on the unreasonable man.”
George Bernard Shaw, Maxims for Revolutionists

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.