Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Menawar Agama

Menawar Agama

Saya sangat tertarik mendengar pernyataan seseorang mengenai modus beragama (atau lebih tepatnya, modus berislam) yang dipilihnya. “Saya mah mau jadi muslim yang biasa-biasa saja.”

Bagi dia, mungkin pernyataan itu biasa-biasa saja. Bahkan mungkin sudah sewajarnya. Tapi bagi saya, itu pernyataan yang bombastis.

Kalau ada islam yang “biasa-biasa” saja, lalu apakah ada yang “luar biasa”? Apakah ada yang “tidak biasa”? Pertanyaan yang paling penting sebenarnya adalah, memangnya islam itu ada berapa macam?

***

Secara normatif, kita ini diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah dengan (1) “haqqa tuqaatihi” atau “sebenar-benarnya takwa” dan (2) “mas tatha’tum” atau “semampu kamu”.

Walaupun mungkin akan terlihat dua kutub dari dua modus ketakwaan yang disebutkan dalam AlQuran di atas, saya akan tetap berargumen bahwa keduanya sebenarnya merujuk kepada pengertian yang sama.

Manusia diberi potensi yang sama untuk bisa bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa. Ingat, bahwa Allah Maha Adil, dan Dia tidak pernah membebankan sesuatu kepada hambaNya lebih dari yang mampu dipikul oleh sang hamba.

Jadi, bila kita bertakwa dengan “semampu kita”, tanpa ada tendensi untuk bermain-main dengan aturan agama, insya Allah, itulah “sebenar-benarnya takwa”. Dengan ini, sebenarnya kita harus melihat bahwa modus ketakwaan itu sebenarnya satu.

Kalau yang satu itu mau disebut yang “biasa-biasa saja”, yang “standar”, maka memang begitulah berislam yang benar. Dengan ini juga kita harus menolak modus ketakwaan kaum ekstremis yang “luar biasa”, dan juga modus ketakwaan kaum permisif yang “sub-standard”.

***

Masalahnya akan lebih menarik kalau kita melihat di luar kaidah-kaidah normatif. Seperti misalnya, mengapa orang itu mengeluarkan pernyataan seperti itu, bahwa dia ingin berislam secara biasa-biasa saja?

Biasanya, pernyataan itu dikeluarkan sebagai reaksi terhadap perilaku orang lain yang dianggap “terlalu ekstrem”. Misalnya ketika seorang wanita ditanya, “Mengapa tidak pakai jilbab?”. Dia menjawab, “Ah, saya mah yang biasa-biasa saja?”.

Lhah, apakah berjilbab itu luar biasa?

Atau seringkali, pernyataan itu digunakan untuk menolak suatu ajakan yang dianggap “terlalu berlebihan”. Misalnya ketika diajak, “Kita perlu mengaji setiap hari, minimal sekian ayat harus dibaca.” Dia akan menjawab, “Waah, saya mah yang biasa-biasa saja.”

Lhah, apakah baca AlQuran setiap hari dengan jatah sekian ayat adalah sesuatu yang luar biasa?

Mungkin dia akan berargumen lebih jauh bahwa mengingat Allah kan bisa dilakukan kapan saja, ndak perlu diatur dan dibatasi. Subhanallah, saya jadi teringat hubungan antara mahasiswa dan pembimbing. Seringkali pembimbing akan menjawab, “No need. You can come and see me anytime” ketika sang mahasiswa minta jatah waktu untuk ketemu secara periodik. Only to find out that the professor is always too busy for him every time he comes to see him.

Allah akan selalu punya waktu untuk kita. Tapi justru kita yang tidak bisa meluangkan waktu yang cukup untuk mengingatNya, karena beranggapan bahwa mengingatNya bisa dilakukan kapan saja.

Akhirnya kita mendapati diri kita terhanyut dalam kesibukan yang tidak akan berhenti sampai mati, tanpa menyadari bahwa hati kita semakin lama semakin keras dengan kesibukan-kesibukan tadi.

Dan kita akan terus berusaha menawar …

Eindhoven, 18.10.2001

This entry receives 2 comments.

geekgirl

hmm.. yah mungkin orang2 itu pakai komentar “saya mah biasa2 aja” krn menurut mereka, bertaqwa kepada allah itu gak perlu dihitung2 atau ditawar2.

bertaqwa beda dengan beragama. kalau beragama memang harus ngikutin aturan agama yg who knows bikin sampe ruwet macem2 detil2 gitu. kalau udah gitu, emang harus itung2an atau tawar2an. kita kalo mo beli barang aja pengennya yg murah, tapi dapet barang bagus. justru sebagai manusia, malah munafik kalau mengaku beragama gak pake nawar.

bertaqwa bukan beragama. bertaqwa kuncinya adalah ikhlas. mereka yg bilang “saya biasa2 saja” *mungkin* adalah mereka yg tidak melihat adanya hitung2an dalam agama. mereka gunakan qalbu utk menyapa allah.

wajar saja kita anggap berjilbab adalah luar biasa, membaca ayat quran setiap hari minimal sekian ayat adalah luar biasa. kenapa? karena pakai hitung2an. siapa yg suruh bikin hitung2an itu? harus dan tidak harus? sekian sekian? kalau mau baca quran (quran saja lho, bukan tulisan manusia), dengan pikiran terbuka (tanpa bias dari opini2 manusia lain), insyallah kita lihat apa esensi taqwa kepada allah yg diajarkan lewat islam.

Apr 23, 2006 at 11:09 am

tintin

Hummm, mereka yang mengatakan ingin beragama biasa² saja apa maksudnya ? bukankah Agama ISLAM ini telah sempurna da perintah ada larangan, dimana yang diperintah selama tidak wajib maka dikerjakan semampunya, dan selama itu larang harus di hindari dan tidak ada kata semampunya.

IMO, mereka yang mengatakan seperti itu melihat bahwa orang2x yang terlihat secara dhohir seperti orang alim adalah orang2x yang kelihatan menghabiskan waktunya untuk akherat dan seperti tidak memperdulikan dunia, dan ini adalah pandangan yang salah, selain itu mereka menganggap bahwa ada hal yang ekstrem, seperti memakai celana cingkrang, bathuk belang, dan berjenggot mereka bilang ekstrem padahal hal2x yang dilakukan tadi adalah ada sunnahnya ada tuntunannya dan bukan tergolong biasa.

@geekgirl untuk berjilbab, ini adalah perintah dan hukumnya adalah wajib bagi seorang wanita muslimah yang sudah baligh, dan tidak bisa ditawar² lagi harus nunggu qolbu siap ato tidak. Kalo saya tanyakan ada nggak perintah tentang berhijab yang mengatakan “berhijablah kalau hatimu sudah siap” ??
tetapi perintah wajib dikerjakan dahulu, setelah itu baru dilihat ikhlash apa tidak melakukannya, dan agar ikhlash maka kita harus mempelajari ilmunya dulu, dalil tentang perintahnya, hukuman di akherat dan dosa bagi yang tidak melaksanakannya, akibat tidak berhijab, hikmahnya berhijab, keuntungannya dll. Sehingga kita lebih mantap dalam mengamalkan sesuatu.

Apr 11, 2008 at 2:40 am

Your feedback, please...

*
To prove you're a person (not a spam script), type the answer to the math equation shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the equation.
Click to hear an audio file of the anti-spam equation

This entry was posted on Thursday, October 18th, 2001 at 10:49 am and is filed under Indonesian, Religion. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Recent Comments

  • Riza: Bukannya di paspor ada pernyataan alamat luar negeri? Kan kita bisa bebas fiskal 4 kali setahun sebagai...
  • AgUStiAn: Artikelnya sangat baik sebagai cermin diri selaku pembaca. Yang sangat penting tujuan akhir dari suatu...
  • A. Aji: Oh ya .. saya tambahkan NPWP itu diterbitkan dari kantor tempat tinggal (dalam hal ini adalah KTP). Dan untuk...
  • A. Aji: Boss, TKI itu adalah WPDN, bukan WPLN. WPDN — Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak atas penghasilan...
  • A. Aji: Boss, Sepengertianku sih nggak begitu — semua warga negara Indonesia yang sudah mendapatkan penghasilan...

Asides

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.

From NYTimes: Without big noise, Netherlands goes open source. What about Indonesia’s IGOS? I think its going ngos-ngosan!

Dari detik.com: beberapa karyawan Carrefour keracunan CO. Gubernur mencurigai adanya kesalahan desain. Komentar Pak Gubernur ini ibarat menepuk air di dulang, yang kena kan pejabat Pemda sendiri, karena semua desain ventilasi kan sudah disetujui oleh Pemda. Mari kita tunggu kelanjutannya.