December 9th, 2001
# 8:48 am
No comments
Dan Gubernurpun Datang
Gubernur akan datang berkunjung ke masjid kita. Itulah yang diumumkan oleh pengurus masjid pada hari Jumat itu. Pesannya kepada jamaah singkat saja, mari kita sambut beramai-ramai. Jamaah yang tidak memiliki kesibukan diminta datang.
Saya tidak menganggap penting pengumuman itu, sampai keesokan harinya seorang pengurus masjid datang menemui saya. “Begini Dik, Gubernur itu kan orang sibuk sehingga kedatangannya tidak bisa dipastikan. Acaranya sih mulai jam 5 sore, tapi kalau beliau belum datang, saya diminta untuk mempersiapkan seseorang yang bisa mengisi ceramah, sekadar mengisi waktu sampai beliau datang.”
Wah, serius ternyata. Jadilah saya diminta untuk mempersiapkan ceramah untuk mengganjal waktu yang lowong.
***
Kesibukan semakin terlihat pada hari H. Pagi-pagi sudah terlihat beberapa orang berseragam Pemda mulai datang untuk mengkoordinasikan pembersihan masjid. Masjid dan jalanan sekitar di sapu. Spanduk dipasang di depan masjid dan di pintu masuk kompleks perumahan. Umbul-umbul pun dipasang di sepanjang jalan menuju masjid.
Selepas shalat ashar, kesibukan mulai menjadi jadi. Satu regu pasukan Tramtib mulai disiapkan di sekitar masjid. Ibu-ibu mulai berdatangan dengan pakaian seragam baju kurung warna ungu. Makanan untuk berbuka puasa pun mulai disiapkan. Pengurus masjid tumplek semuanya sibuk.
Jam 4 sore, satu jam sebelum kedatangan Gubernur, jalan masuk menuju masjid ditutup untuk kendaraan. Grup tajidor mulai ber-tak-tung-tak-tung memuku rebana, latihan terakhir sebelum kedatangan Gubernur.
Jam 4.30, protokol Pemda mulai mengambil alih koordinasi acara. Ternyata acara berubah total. Nggak perlu ada ceramah sebelum Gubernur datang. Kalau terlambat yang ditunggu saja. Tugas saya diganti menjadi kuliah tujuh menit menjelang berbuka, “kalau masih ada waktu”.
“Aduh, maaf lho dik, acaranya tiba-tiba diganti”, kata pak pengurus.
“Oh, nggak apa-apa, pak,” jawab saya. Dalam hati sebenarnya saya bersyukur juga. Setidaknya, sekarang waktu ceramahnya jadi lebih pasti dan lebih singkat. Semoga saja nggak jadi.
Sepuluh menit menjelang pukul lima, jamaah sudah memenuhi masjid. Semuanya membawa satu kotak makanan untuk berbuka puasa. Di bagian depan sudah disediakan satu deret makanan yang disiapkan untuk Sang Gubernur, para pengurus masjid, dan juga undangan penting lainnya.
Dan datanglah sang Gubernur setelah terlambat lima belas menit. Gendang dan rebana pun dipukul bertalu-talu. Payung dilarikan menyambut turunnya sang Gubernur dari bis. Selembar sorban dikalungkan di leher Gubernur tanda selamat datang ke masjid kami.
***
Seorang anak pengurus masjid berbisik kepada saya, “Bang, padahal yang datang kan hanya seorang manusia biasa.” Apa yang terlihat memang terkesan sangat berlebihan. Dan yang datang “hanya” seorang Gubernur. Bagaimana lagi kalau yang datang seorang menteri, atau bahkan presiden?
Saya teringat riwayat yang menceritakan ketika seorang Gubernur datang kepada Umar membawa hadiah makanan. Pertanyaan pertama kepada sang Gubernur adalah, “apakah makanan ini yang dimakan oleh sebagian besar penduduk di propinsimu?” Umar sangat marah karena ternyata makanan itu bukanlah makanan rakyat banyak. Saya sangat berharap agar sang Gubernur mau bertanya, “apakah makanan yang disediakan di hadapannya ini adalah makanan kebanyakan warga Jakarta Timur?” Dan saya tahu pasti bahwa jawabannya adalah tidak. Tapi sang Gubernur tidak bertanya.
Saya juga teringat riwayat yang menceritakan kegemaran Umar untuk berkeliling malam-malam hanya dengan ditemani oleh seorang ajudan. Kehidupan nyata warga masyarakat dapat dilihatnya dengan jernih dan jelas, tanpa ditutup-tutupi oleh bawahannya.
Hanya dengan kunjungan yang seperti inilah beliau dapat menjumpai keluarga janda yang merebus batu untuk membohongi anak-anaknya yang masih kecil. Anak-anak kecil itu akan tertidur dalam keadaan lapar karena tidak sanggup lagi menunggu masakan yang tidak kunjung masak.
Terbayang dibenakku kegeraman di wajah Umar mendapat kejadian seperti ini. Terbayang di wajahku ketakutan di wajahnya karena takut ditanya oleh Allah mengenai hal ini. Terbayang olehku bagaimana beliau bergegas kembali ke gudang negara untuk memikul sendiri tepung gandum untuk dihadiahkan kepada sang janda. Terbayang olehku betapa geramnya beliau ketika sang ajudan mencoba membantunya mengangkat karung itu. “Apakah nanti di akhirat kau mau memikul dosaku karena kesalahan ini?” begitu beliau menghardik ajudannya.
Terbayang pula olehku betapa beliau sibuk menyalakan api sampai wajahnya kotor berdebu bercampur arang. Terbayang olehku betapa beliau mengaduk-aduk sendiri bubur tepung itu. Terbayang oleh betapa wajahnya bertambah kotor oleh linangan air mata ketika melihat kegembiraan anak-anak yatim itu ketika dibangunkan oleh ibunya ketika makanan sudah siap. Terbayang olehku betapa lega perasaannya ketika sang janda mengatakan kepadanya, “anda lebih cocok menjadi khalifah daripada Umar.”
Dengan model inspeksi mendadak yang selalu dilakukan oleh pejabat kita, riwayat di atas seolah-olah menjadi dongeng yang tidak pernah terjadi.
***
Sang Gubernur pun duduk di tempat yang sudah disediakan. Kata sambutan pun diucapkan. Bantuan pun diserahkan. Akhirnya Gubernur pun berceramah. Selesai berceramah, ternyata waktunya tinggal tiga menit. Saya bilang kepada protokol, sebaiknya saya tidak usah ceramah saja. Akhirnya, para jamaah diajak berdzikir sambil menyambut waktu berbuka.
Aku pun larut dalam lamunanku membayangkan kalau Umar berkunjung ke Cipinang.
Jakarta, 09.12.01
Your feedback, please...