September 5th, 2003
# 10:31 am
No comments
Most of shoe-makers don’t wear shoes
Namanya Valeri, orang Rusia yang menjadi trainer kami ketika saya mengikuti training ttg inovasi sistematik. Inti trainingnya sendiri adalah pemecahan masalah (dengan inovasi) secara sistematik.
Ketika makan siang, terjadilah pembicaraan di seputar masalah pribadi. Beliau bercerita ttg bagaimana kehidupannya yang harus mengurus tiga rumah di tiga negara, tapi kebanyakan waktunya justru dihabiskan di hotel atau di pesawat terbang. “Akibatnya, pernikahan saya gagal dua kali”, katanya.
Lhah?! Dengan iseng kami bertanya, “apakah teknik pemecahan masalah ini tidak bisa diterapkan dalam lingkup personal?”
Dia terdiam beberapa saat, sambil kemudian menjawab, “Bergantung pada cara kita memandangnya.”
“Dalam teknik pemecahan masalah yang saya ajarkan, kita dilatih untuk menghilangkan kontradiksi. Dalam konteks saya, istri saya adalah kontradiksi.”
“Bayangkan saja. Dia bekerja sebagai inspektor di PBB. Dan saya selalu terbang ke sana kemari. Pernikahan kami hanyalah pertemuan beberapa hari untuk kemudian saling menghilang beberapa lama.”
“Jadi, akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri pernikahan kami. Akhir yang baik-baik, bukan karena bertengkar, but simply because it did not make sense.”
“Saya lebih suka melihatnya sebagai cara untuk menghilangkan kontradiksi. Tapi kebanyakan orang akan melihatnya sebagai kegagalan. Well, most of the shoemakers dont wear shoes,” katanya mengakhiri jawabannya. Semacam justifikasi dari beliau ketika terlihat gagal menerapkan teknik pemecahan masalah (yang diajarkannya kepada orang lain) dalam kehidupan pribadinya.
***
Kawan saya orang Serbia ikut tertawa mendengar kalimat terakhirnya. “Kakek saya dulu adalah seorang pembuat sepatu,” katanya.
“Apakah dia tidak memakai sepatu?” tanya saya.
“Yaah, pakai sih, tapi jelek sekali, sehingga boleh dibilang perkataan tadi benar.”
Saya sendiri terkejut mendengar kalimat tadi. Dan lebih terkejut lagi mendengar penjelasan bahwa kalimat tadi cukup populer di kalangan masyarakat Eropa. Saya terdiam dan tidak melanjutkan diskusi itu.
Memang barangkali banyak pembuat sepatu yang tidak bersepatu. Barangkali sama seperti tukang jam yang tidak pernah pakai jam. Tetapi seharusnya ada tataran yang berbeda antara tukang sepatu dan tukang jam, dengan guru.
***
Stephen Covey mengatakan bahwa pribadi kita dibangun oleh semua peran yang kita jalani. Kesemua peran itu haruslah saling menunjang. Pribadi kita tidak utuh bila kita berhasil dalam karir, tetapi gagal menjadi ayah. Pribadi kita tidak utuh bila kita berhasil menjalani peran sebagai ustad, tetapi keluarga berantakan.
Tukang sepatu tidak mengajari orang bagaimana harus memilih sepatu. Sama seperti tukang jam tidak mengajari orang untuk menghargai waktu.
Guru menjalani peran yang sama sekali berbeda dengan tukang sepatu dan tukang jam. Dia mengajak orang untuk berbuat sesuatu.
Saya dibesarkan dalam lingkungan yang sangat menghormati guru. Semata-mata karena guru dilihat sebagai orang yang selalu melakukan apa yang dia ucapkan. Ketika guru tidak melakukan apa yang dia ucapkan, runtuhlah kepercayaan orang kepadanya.
Tapi barangkali Eropa adalah dunia yang sama sekali berbeda. Konsep guru sebagai orang yang “digugu lan ditiru” barangkali sama sekali tidak dikenal. Atau setidaknya, sudah lama sekali dilupakan.
Apakah ini juga akan dilupakan di tanah air?
Eindhoven, 5 September 2003
Your feedback, please...