Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Most of shoe-makers don’t wear shoes

Most of shoe-makers don’t wear shoes

Namanya Valeri, orang Rusia yang menjadi trainer kami ketika saya mengikuti training ttg inovasi sistematik. Inti trainingnya sendiri adalah pemecahan masalah (dengan inovasi) secara sistematik.

Ketika makan siang, terjadilah pembicaraan di seputar masalah pribadi. Beliau bercerita ttg bagaimana kehidupannya yang harus mengurus tiga rumah di tiga negara, tapi kebanyakan waktunya justru dihabiskan di hotel atau di pesawat terbang. “Akibatnya, pernikahan saya gagal dua kali”, katanya.

Lhah?! Dengan iseng kami bertanya, “apakah teknik pemecahan masalah ini tidak bisa diterapkan dalam lingkup personal?”

Dia terdiam beberapa saat, sambil kemudian menjawab, “Bergantung pada cara kita memandangnya.”

“Dalam teknik pemecahan masalah yang saya ajarkan, kita dilatih untuk menghilangkan kontradiksi. Dalam konteks saya, istri saya adalah kontradiksi.”

“Bayangkan saja. Dia bekerja sebagai inspektor di PBB. Dan saya selalu terbang ke sana kemari. Pernikahan kami hanyalah pertemuan beberapa hari untuk kemudian saling menghilang beberapa lama.”

“Jadi, akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri pernikahan kami. Akhir yang baik-baik, bukan karena bertengkar, but simply because it did not make sense.”

“Saya lebih suka melihatnya sebagai cara untuk menghilangkan kontradiksi. Tapi kebanyakan orang akan melihatnya sebagai kegagalan. Well, most of the shoemakers dont wear shoes,” katanya mengakhiri jawabannya. Semacam justifikasi dari beliau ketika terlihat gagal menerapkan teknik pemecahan masalah (yang diajarkannya kepada orang lain) dalam kehidupan pribadinya.

***

Kawan saya orang Serbia ikut tertawa mendengar kalimat terakhirnya. “Kakek saya dulu adalah seorang pembuat sepatu,” katanya.

“Apakah dia tidak memakai sepatu?” tanya saya.

“Yaah, pakai sih, tapi jelek sekali, sehingga boleh dibilang perkataan tadi benar.”

Saya sendiri terkejut mendengar kalimat tadi. Dan lebih terkejut lagi mendengar penjelasan bahwa kalimat tadi cukup populer di kalangan masyarakat Eropa. Saya terdiam dan tidak melanjutkan diskusi itu.

Memang barangkali banyak pembuat sepatu yang tidak bersepatu. Barangkali sama seperti tukang jam yang tidak pernah pakai jam. Tetapi seharusnya ada tataran yang berbeda antara tukang sepatu dan tukang jam, dengan guru.

***

Stephen Covey mengatakan bahwa pribadi kita dibangun oleh semua peran yang kita jalani. Kesemua peran itu haruslah saling menunjang. Pribadi kita tidak utuh bila kita berhasil dalam karir, tetapi gagal menjadi ayah. Pribadi kita tidak utuh bila kita berhasil menjalani peran sebagai ustad, tetapi keluarga berantakan.

Tukang sepatu tidak mengajari orang bagaimana harus memilih sepatu. Sama seperti tukang jam tidak mengajari orang untuk menghargai waktu.

Guru menjalani peran yang sama sekali berbeda dengan tukang sepatu dan tukang jam. Dia mengajak orang untuk berbuat sesuatu.

Saya dibesarkan dalam lingkungan yang sangat menghormati guru. Semata-mata karena guru dilihat sebagai orang yang selalu melakukan apa yang dia ucapkan. Ketika guru tidak melakukan apa yang dia ucapkan, runtuhlah kepercayaan orang kepadanya.

Tapi barangkali Eropa adalah dunia yang sama sekali berbeda. Konsep guru sebagai orang yang “digugu lan ditiru” barangkali sama sekali tidak dikenal. Atau setidaknya, sudah lama sekali dilupakan.

Apakah ini juga akan dilupakan di tanah air?

Eindhoven, 5 September 2003

Your feedback, please...

*
To prove you're a person (not a spam script), type the answer to the math equation shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the equation.
Click to hear an audio file of the anti-spam equation

This entry was posted on Friday, September 5th, 2003 at 10:31 am and is filed under Education, Indonesian. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Recent Comments

  • Riza: Bukannya di paspor ada pernyataan alamat luar negeri? Kan kita bisa bebas fiskal 4 kali setahun sebagai...
  • AgUStiAn: Artikelnya sangat baik sebagai cermin diri selaku pembaca. Yang sangat penting tujuan akhir dari suatu...
  • A. Aji: Oh ya .. saya tambahkan NPWP itu diterbitkan dari kantor tempat tinggal (dalam hal ini adalah KTP). Dan untuk...
  • A. Aji: Boss, TKI itu adalah WPDN, bukan WPLN. WPDN — Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak atas penghasilan...
  • A. Aji: Boss, Sepengertianku sih nggak begitu — semua warga negara Indonesia yang sudah mendapatkan penghasilan...

Asides

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.

From NYTimes: Without big noise, Netherlands goes open source. What about Indonesia’s IGOS? I think its going ngos-ngosan!

Dari detik.com: beberapa karyawan Carrefour keracunan CO. Gubernur mencurigai adanya kesalahan desain. Komentar Pak Gubernur ini ibarat menepuk air di dulang, yang kena kan pejabat Pemda sendiri, karena semua desain ventilasi kan sudah disetujui oleh Pemda. Mari kita tunggu kelanjutannya.