April 9th, 2003
# 10:29 am
No comments
Kembali ke Sekolah Lokal
Ttg Pemerataan dan Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar
Sudah sejak lama para orang tua berlomba-lomba untuk memasukkan anaknya ke sekolah unggulan. Tak sedikit yang bersusah payah mengantarkan anaknya setiap pagi ke sekolah unggulan yang lokasinya jauh dari rumah. Jalanan yang macet bukanlah halangan. Stress akibat macet pun sudah dianggap harga yang wajar untuk pendidikan yang baik.
Sekarang ada kecenderungan baru. Dengan semakin terbukanya arus informasi, dan kecenderungan deregulasi, makin banyak kita temui kaum terdidik yang berkumpul bersama untuk membuat sekolah sendiri.
Dengan beragam alasan dan tujuan, kita temui akhir-akhir ini berbagai macam sekolah “baru” yang dimotori oleh kaum terdidik yang hampir semuanya mempunyai semacam ketidakpuasan dengan sistem pendidikan yang ada.
Tetapi, bukannya mengangkat mutu pendidikan (dasar) kita, sekolah-sekolah tersebut “hanya” akan menjadi sekolah unggulan lainnya, yang menjadi semacam kerucut baru bermutu tinggi di tengah dataran pendidikan dasar kita yang rendah. Wajah pendidikan kita malah semakin bopeng karenanya.
Sebelum berbicara lebih jauh, perlu saya tegaskan di sini, saya sama sekali tidak bermaksud mengecilkan peranan mereka yang berani mendirikan sekolah sendiri. Apalagi mencela. Mereka sudah memberikan kontribusi mereka terhadap usaha perbaikan mutu pendidikan.
Tapi masalahnya apa kontribusi saya? Anda? Terutama mereka yang tergolong pada “kaum terdidik”?
Sebagian besar dari kita justru ikut berlomba-lomba menyekolahkan anak kita ke sekolah unggulan, yang pada akhirnya ikut memperparah kondisi pendidikan secara umum karena sekolah lokal jadi semakin tertinggal.
Kembali ke sekolah lokal
Karena itulah saya ingin mengajak kepada seluruh masyarakat, terutama kaum terdidik, agar kita sama-sama bekerja memperbaiki pendidikan dasar kita. Sekali lagi: SAMA-SAMA BEKERJA.
Tidak perlulah memikirkan KERJA SAMA dulu, yang penting semua bekerja, punya kontribusi. Kerja sama nanti insya Allah akan muncul kalau semua sudah bekerja.
Lantas apa wujud nyata yang bisa dilakukan oleh SEMUA orang, terutama kaum terdidik Indonesia?
Yang bisa dilakukan adalah mengirimkan anak kita ke sekolah lokal. Yang saya maksud dengan sekolah yang dekat dengan rumah kita. Kalau diambil ukuran, paling jauh sekolah yang ada di kelurahan tetangga.
Ada beberapa manfaat langsung dari hal ini:
- Anak dan orang tua tidak perlu ikut terlibat dalam memacetkan jalan raya, pun tidak perlu ikut stress karena masalah transportasi.
- Perkembangan anak jadi lebih terjaga, karena sesama orang tua murid di sekolah juga saling kenal.
- Daftar ini bisa anda perpanjang sendiri.
Hasil yang bisa diharapkan adalah bahwa mutu pendidikan dasar akan menjadi lebih baik karena akan terjadi pemerataan taraf pendidikan orang tua murid di semua sekolah. Sekarangkan semua orang tua berlomba mendaftarkan anak-anaknya ke sekolah unggulan. Tetapi karena seleksi “alam”, anak dari orang tua yang terdidik akan mempunyai kesempatan lebih besar untuk diterima di sekolah unggulan.
Akibatnya, bukan saja sekolah unggulan mendapatkan murid-murid unggulan, tetapi juga orang tua murid yang relatif lebih terdidik. Bila proses ini berulang selama puluhan tahun, tentu saja akhirnya sekolah unggulan akan semakin unggul, dan sekolah lokal akan semakin terpuruk.
Maaf, kalau terlihat membingungkan. Seolah-olah saya sedang mendiskusikan sekolah unggulan vs sekolah lokal. Per definisi memang keduanya tidak bertentangan. Tapi yang terjadi sekarang ini adalah sekolah lokal biasanya terpuruk. Sebaliknya, sekolah unggulan biasanya bukan sekolah lokal, karena murid-muridnya sebagian besar tidak tinggal di sekitar sekolah.
Asumsi
Saya belum pernah melakukan penelitian mengenai kaitan antara taraf pendidikan orang tua murid dengan mutu sekolah. Tetapi saya yakin bahwa inilah salah satu jalan untuk meningkatkan mutu pendidikan dasar kita. Keyakinan saya itu berdasarkan pada kenyataan bahwa pemerataan orang tua murid terdidik adalah salah satu cara untuk memutuskan lingkaran setan yang dijelaskan di atas.
Tentu saja, usulan saya — agar kita mengirimkan anak kita ke sekolah lokal — didasari beberapa asumsi agar usulan ini bisa efektif untuk memperbaiki kondisi pendidikan dasar.
Asumsi pertama adalah bahwa yang diharapkan menjadi motor gerakan ini adalah para orang tua terdidik. Agak terlalu abstrak memang, tapi kalau harus dicarikan batasannya, saya pikir pendidikan sarjana sudah cukup untuk masuk kategori ini. Walaupun saya sendiri cenderung untuk tidak terlalu mengaitkan kata “terdidik” dengan pendidikan formal.
Asumsi kedua, bahwa orang tua terdidik memiliki kemampuan yang cukup untuk menjaga agar prestasi anaknya tidak “terkorbankan” dengan menyekolahkannya ke sekolah lokal. Bahkan presasi anaknyalah yang diharapkan dapat mengangkat mutu sekolah ini.
Asumsi ini penting untuk dikemukakan untuk menjawab kekhawatiran (yang tentu saja normal) bahwa gerakan kembali ke sekolah lokal ini sebagai ajakan konyol. Karena yang dikhawatirkan terjadi adalah mutu pendidikan anak kita jadi turun, alih-alih mutu sekolah yang naik.
Asumsi ini tidaklah terlalu berlebihan, karena orang tua terdidik akan paham, bahwa pendidikan anak yang pertama dan utama adalah di rumah. Dari segi materi pelajaran, orang tua terdidik (dengan asumsi sarjana) tidak akan keteteran karena bahasan pelajaran SD tidaklah rumit. Yang perlu dijaga adalah suasana “belajar dan bermain” yang harus selalu hidup di rumah.
Asumsi ketiga, bahwa para orang tua itu aktif ikut dalam kegiatan sekolah. Asumsi inilah yang agaknya paling penting untuk mencapai tujuan, yaitu perbaikan mutu pendidikan dasar.
Peran aktif orang tua
Ketika baru masuk sekolah di SD ‘t Karregat, Eindhoven, di Belanda, Hanif anak kami (6th) dikategorikan sebagai anak yang “kemungkinan akan tertinggal” dibandingkan dengan kawan-kawannya. Sebabnya semata-mata karena kendala bahasa karena dia sama sekali tidak bisa berbahasa Belanda.
Solusi yang ditawarkan oleh sekolah adalah, bahwa setiap pagi selama 15 menit, Hanif mendapatkan pelajaran khusus tentang bagaimana mengungkapkan berbagai hal dalam bahasa Belanda. Dan sebagai tambahan, Hanif diikutkan dalam program “Opstap Opnieuw”.
Program ini disponsori oleh pemerintah untuk mempercepat adaptasi bagi anak-anak pendatang agar mereka bisa cepat mengikuti program sekolah (dasar) sebagaimana anak-anak Belanda lainnya. Koordinator program ini adalah sebuah LSM bernama Averroes (dari nama Ibn Rusyd, ilmuwan muslim terkemuka), tetapi pemain utama dalam program ini adalah orang tua.
Averroes akan menunjuk seorang koordinator linkungan yang akan berkunjung ke rumah-rumah untuk mendistribusikan material program ini (hand-out, buku, kaset, mainan, dll), sekaligus memantau perkembangan anak. Orang tua diminta menjalankan program-program belajar sambil bermain yang sudah disiapkan. Semuanya dalam bahasa Belanda. Dan dilakukan oleh orang tua yang juga tidak bisa berbahasa Belanda.
Metode ini cukup efektif dalam mengejar ketertinggalan Hanif dalam bahasa Belanda. Selain itu, ini juga menunjukkan betapa kerja sama segi empat (pemerintah, sekolah, LSM dan orang tua) bisa meningkatkan mutu pendidikan. Orang tua adalah mata rantai yang terputus dalam kasus Indonesia. Keterlibatan mereka selama ini sangatlah tereduksi dalam bentuk Sumbangan BP3. Padahal orang tua murid bisa memberikan lebih dari sekadar uang.
Kita punya banyak LSM yang bergerak di bidang pendidikan. Beberapa mailing list di internet sangatlah aktif menyuarakan kegiatan-kegiatan mereka. Di Bandung ada SiDik (Simpul Pendidikan) yang salah satu kegiatan utamanya adalah meningkatkan kualitas pengajaran bagi guru. Ada juga CBE, dan banyak LSM lain. Masjid Salman-ITB pun sudah ikut terlibat dalam dunia pendidikan, diantaranya dengan memfasilitasi Expo Pendidikan.
Mereka inilah yang boleh dikatakan sebagai motor penggerak. Tapi motor itu tetap tidak akan bergerak tanpa keterlibatan orang tua.
Sejauh manakah keterlibatan orang tua?
Tentu saja saya tidak mengusulkan agar orang tua ikut mengajar di sekolah. Sayapun tidak mengusulkan agar orang tua ikut menatar para guru.
Mohon diingat bahwa saya membatasi diskusi ini pada pendidikan dasar. Dalamt tahapan ini, orang tua adalah guru yang pertama dan utama. Peran inilah yang tidak boleh ditinggalkan oleh orang tua.
Bila orang tua secara konsisten menjalankan peran ini, maka sang anak akan menjadi satu simpul yang menghubungkan orang tua di rumah dengan guru di sekolah. Keterlibatan orang tua akan menjadi sesuatu yang alami.
Memang tidak bisa diharapkan keterlibatan ini akan terjadi begitu saja. Tentu harus ada yang memulai. Di sinilah saya berharap agar orang tua dari kalangan terdidik dapat menjadi katalis yang memungkinkan terjadinya proses keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak.
Wujud nyatanya bisa diambilkan dari beragam contoh, baik dari pengalaman di luar negeri, ataupun dari dalam negeri sendiri. Di SD anak kami di Eindhoven, setiap tahun ajaran baru orang tua akan mendapatkan edaran ttg berbagai komite yang ada di sekolah. Kita diminta untuk terlibat di salah satu komite itu.
Komitenya sangat beragam, mulai dari urusan makan siang murid (jam belajar di sekolah dasar di Belanda adalah dari jam 8.30 pagi sampai 15.00 sore, dengan break makan siang. Makan siang ini diorganisir oleh komite khusus gabungan antara sekolah dan orang tua), urusan kunjungan wisata (tugasnya menemani guru untuk menjaga anak-anak saat kunjungan wisata), sampai menjadi administrator sistem komputer di sekolah.
Masing-masing orang tua terlibat dalam kapasitasnya sendiri-sendiri. Dan contoh-contoh sejenis dari berbagai tempat di tanah air juga tidak sedikit.
Penutup
Bila kaum terdidik secara konsisten mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah lokal, maka (dengan asumsi yang saya kemukakan di atas) kita optimis bahwa pendidikan dasar kita akan meningkat. Saya tidak mengajak para orang tua untuk “merusak” masa depan anak dengan menyekolahkannya ke sekolah lokal (bukan ke sekolah unggulan). Saya sadar bahwa memang ada sekolah yang mutunya sangat jelek. Tapi sekolah dasar kan banyak sekali terdapat di sekeliling kita. Kita bisa memilih sekolah lokal yang kita anggap terbaik.
Dengan meratanya tingkat pendidikan orang tua murid, maka diharapkan mutu pendidikan di sekolah akan meningkat. Tentu saja diperlukan keterbukaan dari pihak guru dan manajemen sekolah untuk ikut melibatkan orang tua dalam semua aktivitas sekolah. Baik kegiatan pendukung, bahkan kalau perlu dalam kegiatan akademik.
Bila ini terjadi, dengan sendirinya mutu pendidikan kita akan meningkat.
Your feedback, please...