Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Kapten itu

Kapten itu

Anda masih ingat kapten bis di Singapura? Itu loh, sopir bis yang diberi jabatan sebagai kapten (baca ceritanya di sini).

Minggu lalu, ketika saya naik bis, saya dipanggil sang kapten. Saya baru saja bersiap turun, dan sudah menepuk dompet ke mesin pembaca kartu yang akan memotong harga tiket dari kartu elektronik, ketika tiba-tiba sang kapten berteriak dari depan “Hello, hello” katanya sambil menunjuk ke arah saya.

Mohon dimengerti, bagi orang Singapura, panggilan “Hello, hello” itu sudah termasuk sopan untuk memanggil orang yang tidak dikenal. Pelajaran bahasa Inggris rata-rata orang Singapura biasanya tidak pernah sampai kepada teguran “Excuse me, Sir” untuk memanggil orang asing, jadi yaah, saya sih mendekat ke arah beliau melayani panggilannya.

Sambil saya berjalan mendekat, beliau sudah bertanya lagi “Did you pay cash just now?” Alamak, dari gelagatnya saya bakal dituduh tidak bayar, atau setidaknya bayarannya kurang.

Tentu saja saya jawab, “No Sir, I have my EZ-link card”.

Dengan cepat dia kemudian menjelaskan, “Hey sorry ah, I just cannot recognize the face. Its a malay guy, and I overcharged him, so I want to return the money to him. I thought its you.”

Dalam hati luar biasa benar ini orang. Urusan uang receh aja dia benar-benar meneliti penumpang yang turun satu per satu, dan menanyai setiap orang melayu kalau-kalau dialah yang kelebihan bayar.

Anda tahu berapa kelebihannya? Lima sen saja. Lima sen, uang yang kalau anda beli koran, si tukang oran akan melotot kalau anda berani memberi uang lima sen-an kepadanya. Lhah orang ini sibuk ingin mengembalikan kepada yang berhak.

Memang tidak salah kalau kualitas seperti ini diganjar dengan panggilan kapten.

Sambil turun saya berkata kepada beliau, “Happy new year to you, Sir.”

This entry receives 2 comments.

eric

Itu bedanya kapten bis di Singapore dan pejabat parlemen di Indonesia..
tulisan2 Pak Ary sangat menarik, salute..

eric

Jun 26, 2009 at 5:07 pm

ahmad junaedi

kalo di singapore dipanggil kapten, kalo di indONEsia dipanggil “aku seorang kapiten”…he2

May 27, 2010 at 6:57 pm

Your feedback, please...

This entry was posted on Thursday, January 29th, 2009 at 7:16 am and is filed under Human resource, Indonesian. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Asides

If Moses had gotten the Ten Commandments on a floppy disk, it would never have made it to today. (Dag Spicer, curator of the Computer History Museum in Silicon Valley, The NYTimes Circuit, 26-Mar-2009)

“The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore all progress depends on the unreasonable man.”
George Bernard Shaw, Maxims for Revolutionists

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.