Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Cerita Di Bawah Pohon

Cerita Di Bawah Pohon

Sewaktu sedang aktif-aktifnya di Salman dulu, ada istilah “di bawah pohon” yang populer di kalangan kawan-kawan Karisma, terutama pengurus. Artinya ada dua macam.

Yang pertama, “di bawah pohon” berarti aktivis Karisma yang terlambat mengakhiri aktivitasnya, sehingga shalat jum’atnya terdampar di bawah pohon, karena tidak kebagian lagi tempat di dalam Masjid. Setelah shalat jum’at, biasanya kita akan menyindir mereka, “di bawah pohon lagi, nih?”

Yang kedua, makna yang populer di kalangan yang lebih terbatas lagi, “di bawah pohon” berarti pembicaraan serius yang “tidak bisa diganggu”. Tempatnya memang di bawah pohon, atau tepatnya di depan Gedung Kayu, di tembok tebal yang menghubungkan masjid dengan menara.

Kamilah yang memulai istilah itu. Saya dengan saudara saya Teddy Tedjakusuma, untuk menyebut pembicaraan-pembicaraan serius kami. Bisa masalah Karisma, bisa juga masalah pribadi. Setiap sebuah isu penting muncul, pertanyaannya adalah “bawah pohon dulu, nih?”

Pembicaraan “di bawah pohon” biasanya sangat emosional. Mang Uted bahkan pernah menyebut saya tidak becus mengurus Karisma. Tentu saja, standar tata krama beliau tidak sampai membuat kata-kata “tidak sopan” itu tercetus. Tapi saya bisa merasakan tuduhan itu. And that’s fine. Yang menjadi masalah adalah apa yang bisa kita kerjakan setelah keluar “dari bawah pohon”.

Pengurus yang lain pun mulai ikut menyebut bahwa kami sedang “di bawah pohon”. Lama kelamaan, tanpa saya sadari, saya sering terlibat pembicaraan “di bawah pohon” dengan beberapa orang yang sangat dekat dengan saya.

***

Setiap orang biasanya akan mempunyai caranya tersendiri untuk membangun persahabatan atau persaudaraan. Cerita di bawah pohon hanyalah satu cara. Satu cara untuk membangun kesepahaman, dan kalau bisa, memecahkan masalah.

Adalah menarik untuk mengamati betapa sistem kemasyarakatan dalam Islam sebenarnya dibangun oleh jalinan hubungan yang bersifat personal. Titik yang paling menarik adalah ketika sedang membahas sebuah jabatan “publik”, yang dalam kacamata modern, seharusnya bersifat impersonal.

Saya mengalami pengalaman yang sangat berharga dalam masalah ini ketika dalam Sidang Umum Karisma, yang “paling” menentang pencalonan saya sebagai Ketua Karisma adalah Nash, saudara saya.

Saya dan Nash juga terlibat dalam pembicaraan di bawah pohon sebelum Sidang Umum itu. Dalam bentuk yang terkadang membuat mata kami berkaca-kaca selama bercerita. Acara pemilihan ketua umum itu adalah ujian bagi hubungan kami, dan alhamdulillah, selepas acara itu kami masih tetap bisa bercerita di bawah pohon, dengan intensitas yang barangkali lebih dari sebelumnya. Saya jadi bisa memanfaatkan hubungan personal kami ketika bekerja dalam kepengurusan.

***

Yang selalu saya tanyakan dalam diri saya ketika aktif di Karisma adalah “what next?” Terutama kepada para “adik” dalam grup mentoring yang saya pimpin, pertanyaan saya adalah, bagaimana hubungan kita nanti pasca karisma?

Ini juga pernah saya tanyakan kepada saudara-saudara saya, Latif, Faisal, Edwin, Khair dan Ridwan (dan mungkin Irwan?), ketika berkumpul di rumah kos mereka di kawasan Tubagus. Bagaimanakah hubungan kita lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, dst?

Pertanyaan yang sama pun pernah saya lontarkan kepada Grup F AlFurqan, juga kepada “Kelik and the gank” (atau hanya kepada Kelik?).

***

Barangkali saya memang terlalu idealistik dalam memandang persaudaraan. Fine. But we have called “brothers” to each other, as passionate as it could be, and now we dont even know where they are. That is just not right, isnt it?

It takes two. Harus ada kesamaan pandangan yang resiprokal dalam melihat masa lalu kita bersama. Saya memandang kehidupan saya sebagai mahasiswa Salman (ini meminjam istilah Bang SIP, mahasiswa Salman yang sedang ekstra kurikuler di ITB), sebagai masa-masa indah, lepas dari baik dan buruknya kejadian yang menimpa saya ketika itu.

Saya hanya tersadar, bahwa barangkali tidak semua orang memandang begitu. Barangkali — ini barangkali — ada di antara orang-orang yang saya kenal, bahkan dekat dengan saya, bahkan saling menyebut saudara dengan saya, yang ingin melupakan saya sebagai irisan masa lalunya. For whatever reason. It could be nothing personal. It could have nothing to do with me. Tapi yang jelas, forget it.

[Ini juga yang membuat saya berpendapat, bahwa seseorang harus mengungkapkan sendiri keinginannya untuk bergabung di baitnet@. Saya agak jengah melihat kebanyakan anggota baru sekarang ini "diusulkan" oleh orang lain. Kalau sudah bilang dulu, ndak apa-apa. Tapi kalau tidak bilang-bilang dulu. Bisa repot.]

***

Hidup saya (atau kami, ya dik, ya?) sebagai perantau adalah menanam pohon di mana saja kami tinggal, agar kami bisa menikmati cerita di bawah pohon. Meminta bantuan kalau sedang perlu, dan mencoba memberi kalau diperlukan.

Kami menanam pohon di Singapura, bersama shahabat-shahabat kendurian, shahabat-shahabat imas, dan juga tentera_usrah, bersama saudara-saudaraku di Johor. Dan sekarang sedang menanam pohon di Eindhoven.

Kami hanya terkadang sedih memikirkan pohon-pohon yang sudah kami tinggalkan. Pohon-pohon itu masih ada di sana, dan mungkin, masih ada orang lain yang punya cerita mereka sendiri.

Tapi bagaimana dengan cerita kita? Kami sadar, jarak biasanya sangat kejam terhadap persaudaraan. Internet boleh jadi bisa mengubah keadaan, tapi tidaklah semudah itu. One reason, it takes two. Another reason, what can you do with “apa kabar?” once every two months?

Anyway, saya membiasakan diri untuk mengenang cerita-cerita di bawah pohon ketika saya berdoa. Saya berdoa kepada Allah, bahwa inilah hati yang pernah Engkau ikat dalam kenikmatan bercerita, sambil sedikit-sedikit menolong agamaMu. Harapan saya, ijinkan kami melanjutkan cerita kami kelak, ketika kami sudah berkumpul kembali. Bercerita “as passionate as it used to be”. Di dunia ini. Kalau tidak mungkin, aku bermohon agar Engkau tanamkan kami sebuah pohon di surga.

Eindhoven 19.02.02

Teriring doa kepada shahabatku Khair dan Feri, semoga Allah melapangkan kuburnya, menerima iman dan islamnya.

This entry receives one comment.

Dyah

Salam’alaykum kang Ery. Sy dulu anak bawang di Karisma, kalem2 aja, jd kemungkinan besar kang Ery tidak ingat sy :) . Tetapi somehow, sy ada di multiplynya teh Lintang :) .
Sy baru saja nemu blog kang Ery ini dan membaca artikel yang ini. Cukup terkejut sy dg kalimah yang terakhir. Smoga Allah menyayangi dan memuliakan mereka berdua.
Kadang sy jg menduga2 di mana abang2 sy: bang Latif, bang Faisal, bang Erwin. Mereka dulu abang2 sy di Salman dan juga di kampus. Sy jg jadi ingat, dulu bang Khair -yang rasanya dulu suka pake jaket warna kehijauan-adalah bagian yg tidak terpisahkan dari rombongan TK itu ^_^
Sy memang tidak sekuat kang Ery, yang krn keaktifannya, pantas menobatkan diri sebagai mahasiswa Salman yang ekskul di ITB. Tetapi sy masih merasa Salman adalah salah satu rumah untuk saya, yang sy masih ingin singgahi, kapan sj sy berkesempatan.
Sy yakin ada hati2 yang lain yang merasakan hal yang sama pula dg yang sy rasakan, walaupun mereka tidak saling berbicara. Sy berharap, hati2 itu masih bertemu dalam doa

May 20, 2008 at 10:56 pm

Your feedback, please...

This entry was posted on Tuesday, February 19th, 2002 at 10:15 am and is filed under General, Indonesian. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Asides

If Moses had gotten the Ten Commandments on a floppy disk, it would never have made it to today. (Dag Spicer, curator of the Computer History Museum in Silicon Valley, The NYTimes Circuit, 26-Mar-2009)

“The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore all progress depends on the unreasonable man.”
George Bernard Shaw, Maxims for Revolutionists

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.