March 23rd, 2002
# 10:02 am
No comments
Ttg Pembelajaran Dini
Never test your child: ttg pembelajaran dini
Kalimat itu diulang berkali-kali dalam format yang berbeda-beda oleh Dr. Glenn Doman di dalam berbagai bukunya dalam serial The Gentle Revolution. Dalam kaitannya dengan pendidikan dini, “no testing” adalah satu prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar dalam metode yang dikembangkannya.
Prinsip sederhana ini ternyata sulit sekali untuk ditaati. Dalam berbagai bentuk dan motivasinya, kita seringkali tanpa sadar menguji anak kita yang baru belajar, misalnya, membaca.
Terkadang, kita “nanggap” anak kita untuk membaca di hadapan tamu, untuk show-off bahwa anak kita sudah bisa membaca. Atau lebih sering lagi, kita menyuruh dia membaca semata untuk meyakinkan bahwa pelajaran yang diberikan sudah “nyerap”.
Padahal, di dalam bukunya “How to teach your baby to read”, metodanya adalah memperlihatkan satu kata, yang ditulis besar-besar, kepada sang anak sambil _kita_ (bukan sang anak) mengucapkan kata itu. Jangan sekali-kali, kata Doman, meminta anak untuk mengucapkan kata itu, karena itu terkategori “menguji”.
Kami menerapkan prinsip ini dengan cukup konsisten ketika mengajarkan anak-anak kami membaca. Dan memang, pelajaran membaca menjadi lebih menyenangkan.
***
Bagaimana dengan mengaji? Bagi anak-anak, mengaji adalah belajar _membaca_ AlQur’an. Ternyata, apa yang saya pahami dari konsep belajar “membaca”, seolah tersekat dan tidak berlaku ketika saya mengajar anak saya mengaji.
Gambaran saya ttg mengaji masih sangat konservatif. Murid membaca, dibawah pengawasan telinga tajam seorang ustadz. Rotan siap di tangan. Walaupun saya sudah lama menghapus rotan (dan bentakan) dari perangkat mengaji, tapi pola ketat seperti yang diajarkan oleh guru saya dulu masih terbawa.
Guru saya menuntut bacaan yang benar dan tartil. Tanpa itu, bacaan akan disuruh ulang, dan kalau tak kunjung bisa, rotan pun beraksi disertai dengan bentakan. Saya membuang bentakan (apalagi rotan) ketika mengajar anak saya, tapi bacaan yang benar dan tartil tetap saya tuntut dengan tanpa pandang bulu. Kalau mood si anak sedang baik, ya biasanya tak akan ada insiden. Tapi kalau mood anak sedang tidak baik, apalagi ketika diingatkan harus mengaji dia sedang enak main, biasanya pola yang saya terapkan akan menghasilkan tangisan sang anak, sekalipun tanpa bentakan dan rotan.
Suatu ketika, istri saya bilang, “kenapa sih pelajaran mengaji harus berbeda bentuk dan suasananya dengan belajar membaca?” Sambil merujuk pada metode Doman yang kami pakai untuk pelajaran membaca, dia bertanya mengapa seringkali belajar mengaji harus diselingi dengan tangisan, atau at least rasa desperate dari anak kami, sementara belajar membaca bisa sangat menyenangkan?
***
Tiba-tiba saya tersadar, bahwa betapapun berbeda, pelajaran mengaji tetaplah pelajaran membaca.
Kesalahan utama saya adalah terlalu terpaku kepada metode konvensional yang sangat kaku, dan menerapkannya untuk pembelajaran dini. Saya lupa bahwa ustadz saya dulu tidak pernah mengajar membaca AlQuran kepada anak kecil. Kalaupun ada anak kyai yang berumur tiga tahun sudah menghafal juz amma, maka itulah dia, menghafal, bukan membaca. Anak itu bisa mengucapkan juz amma di luar kepala, tapi biasanya belum bisa membaca AlQuran (dengan lancar).
Saya segera membuka buku “Metode Pengajaran Buku Iqra” untuk melihat, kesalahan apa yang telah saya lakukan. Di situ dituliskan:
1. Situasi di dalam kelas harus dibuat ceria.
2. Tidak dibenarkan guru bersikap keras terhadap anak didik.
3. Jangan menuntun baca pada anak.
4. Lakukan sesuatu yang diperhatikan anak.
Tidak ada penjelasan mengenai masing-masing poin, karena mungkin diasumsikan bahwa masing-masing sudah sangat jelas. Padahal, poin 4 misalnya, masih perlu penjelasan lebih rinci. Bagaimana kalau perhatian anak sedang tertuju pada balon?
***
Saya sadar bahwa pelajaran mengaji memiliki perbedaan mendasar dengan pelajaran membaca. Perbedaan utama adalah bahwa dalam mengaji dikenal istilah makhraj, tartil, dan lain-lain, yang mengatur standar pengucapan/pembacaan.
Dalam hal ini, seorang anak akan dituntut untuk mengucapkan setiap kata dalam buku. Ini tentu saja bertentangan dengan metoda Doman yang mengharamkan kita untuk menyuruh anak menyebutkan kata yang sedang dipelajari. Instruksinya jelas, tunjukkan tulisannya, dan beri tahu bahwa ini bacanya begini. Sang anak tetap diam.
Tapi hal ini tentu saja harus diubah untuk kasus mengaji. Sang anak tetap harus diminta untuk mengucapkan kata yang sedang dipelajari, untuk diperbaiki cara pengucapannya.
Selebihnya, metoda Doman tetap saja dapat dipergunakan sepenuhnya. Dan ini boleh jadi bertentangan dengan metoda pengajaran Iqra’ yang saya kutipkan di atas.
Di antaranya, jangan menuntun baca pada anak (poin 3). Bagi saya, tuntunlah setiap kali sang anak tersangkut bacaannya. Tentu saja jenis “hints” yang diberikan setiap kali berbeda, bergantung pada kadar kesulitan, maupun kondisi anak. Mulai dari beberapa pertanyaan yang mengarah, sampai kepada dituntun cara membacanya.
Kenapa kita tidak boleh menuntun? Kata Doman, “Knowledge is the most precious gift you can give your child. Give it as generously as you give him food.”
Menuntun anak membaca, dan tidak persistently menuntut anak mengucapkan dengan benar, adalah bentuk generosity dalam memberikan ilmu kepada anak. Sang anak akan menjadi percaya diri dalam menyebutkan kata itu setiap kata itu diulang.
Yang menjadi masalah turunannya adalah bagaimana kita bisa menilai bahwa sang anak sudah layak untuk lanjut ke pelajaran berikutnya. Saya berkesimpulan bahwa di sinilah seninya.
Kendatipun begitu, saya setuju dengan Doman, bahwa “do not test your child and do not allow anybody else to do so either.” Karena “the intention of the test is a negative one - it is to expose what the child does not know”. Sehingga, “the result of testing is to decrease learning and willingness to learn.”
Di titik inilah diperlukan kebijaksanaan seorang guru (yang juga ayah atau ibu) untuk menilai kemampuan sang anak, tanpa perlu melakukan testing, tanpa perlu mengekspos apa yang dia tidak bisa. Kalau apa yang dia tidak bisa sekarang dapat dikejar di tahapan selanjutnya, mengapa kita tidak naikkan saja dia?
***
Metoda Doman ini menjadi sangat menarik untuk diterapkan dalam pengajaran mengaji, karena prinsipnya adalah semakin dini semakin baik. Tantangannya adalah, bisakah kita mengajar anak membaca AlQuran, sebelum sang anak bisa berbicara?
Secara teoritis bisa, seperti yang telah diuraikan oleh Doman. Hanya tentu saja dibutuhkan ketekunan yang luar biasa karena sang anak harus diekspos kepada dua sistem alphabet dalam waktu bersamaan.
Sang anak sih insya Allah mampu. Tapi mampukah kita?
Eindhoven, 23.03.2002
AyahHanif
Your feedback, please...