February 19th, 2002
# 3:58 pm
No comments
Patutkah?
Kawan ayah saya di Jakarta bercerita ketika beliau mengunjungi anaknya yang sekolah di Selandia Baru, dulu di awal tahun 90an, sekalian membelikan mobil untuk anaknya tersayang. Untuk gampangnya, uang untuk keperluan itu dikirimkan melalui rekening anaknya di sana.
Sesampainya di sana, ternyata anaknya mendapatkan beberapa kesulitan dengan pihak bank. Anaknya tidak bisa begitu saja menarik uang yang jumlahnya “hanya” 30.000 dolar. Dia sebagai ayah harus datang ke bank untuk menjelaskan duduk perkaranya. Kepada petugas bank dia menjelaskan, “bukankah ini uang saya dan saya boleh menggunakannya untuk apa saja?”
Sang petugas bank menjawab dengan pertanyaan yang membuat dia terhenyak, “apakah pantas anak sekolah punya uang puluhan ribu dolar di rekeningnya?” Ternyata di kota kecil di Selandia Baru itu, tabungan terbesar di bank itu “hanya” berjumlah 80.000 dolar. Sehingga ketika sang anak mempunyai tabungan 30.000 dolar, dan akan menarik uang tunai belasan ribu dolar untuk membeli mobil, itu sudah menjadi skandal di bank itu.
Kejadiannya berlanjut ketika mereka tiba di show room mobil. Rencananya, sang ayah akan membelikan mobil seharga mobil Jeep Rocky di Jakarta. Ternyata uang segitu sudah bisa membeli mobil yang sangat bagus, yang di kota kecil itu hanya ada lima biji.
“Baru pertama kali itulah saya ketemu dengan pedagang yang nggak suka barang mahalnya dibeli,” kata sang ayah. Alasannya, ya itu tadi, apakah pantas anak sekolah naik mobil sebagus itu?
***
Membayangkan kondisi saat ini, dengan pertanyaan ttg kepatutan, kita jadi bingung. Betapa kehidupan masyarakat kita seolah terkotak-kotak dalam labirin yang tidak saling berhubungan.
Syamril dan Sudar kawan saya mengajak saya makan siang ketika saya sedang di Bandung. “Asli sunda kang, pakai saung, di tengah taman”. Saya sih sudah siap-siap diajak ke restoran sunda yang agak fancy, dan cukup berdebar-debar takut nggak bawa uang yang cukup.
“Di mana?” tanya saya.
“Oh, nggak jauh kok, cuman jalan kaki dari Masjid Salman.”
Sambil bertanya-tanya, saya mengikuti mereka berjalan, sambil agak curiga karena Syaril senyum-senyum.
Ternyata, rumah makan yang dimaksud adalah sebuah warung di tepi Jalan Gelap Nyawang, seberang jalan dari Bank Muamalat sekarang. Kalau nggak salah, di dekatnya ada tempat tambal ban. Tapi yang jelas, di juga dijual tanaman. Jadi, memang di situ ada dua saung di tengah “taman”, di tengah tanaman yang menunggu pembeli, maksudnya.
Alhamdulillah, cukup nikmat juga makan di sana. Dan yang paling penting, harganya nggak akan jauh dari 2500 rupiah per orang.
Beberapa hari kemudian, saya diajak ke Plaza Senayan untuk makan malam. Pukul rata, akhirnya saya mengeluarkan tidak kurang dari 25.000 rupiah per orang malam itu.
Selera makan saya hilang ketika berkeliling dan mengamati harga yang terpampang. Ketika itu saya memilih untuk tidak makan, diiringi pandangan “penuh kebencian” dari istri saya karena dianggap merusak suasana.
Tapi sungguh, saya nggak bisa makan makanan yang begitu mahal. Saya terbayang orang-orang yang sering makan di warung “di tengah taman” itu. Mungkin nggak termasuk Syamril dan Sudar yang eksekutif. Tapi bagaimana dengan mereka yang memang harus makan dengan standar 2500 sekali makan, bahkan kurang dari itu?
Patutkah saya memakan makanan yang sedemikian mahal?
Pertanyaan itu hanya bergema di hati saya di tengah keramaian Plaza Senayan. Pertanyaan itu pulalah yang saya ungkapkan kepada istri saya setelah kami kembali di rumah. Patutkah?
Plaza Senayan, dan banyak tempat-tempat lainnya, sudah menjadi labirin yang membuat kita terasing. Terasing dari ribuan, jutaan tempat seperti warung “di tengah taman” itu.
***
Ketika kita makan, berjalan, bepergian, dan seterusnya, mari kita selalu bertanya dalam hati, patutkah?
Eindhoven, 19.02.02
Your feedback, please...