January 21st, 2009
# 7:53 am
2 comments
Tokoh
Di akhir Desember saya pergi ke Batam dalam rangka mengantar keluarga yang mau pulang ke Jakarta. Sepulang dari bandara, karena menjelang makan siang, yaah saya mampir dulu ke Mega Mal, tepat di seberang Terminal Feri Batam Center. Saya menyuguhi diri sendiri dengan sebuah hidangan yang sudah lama tidak saya santap: Bakso Lapangan Tembak. Bukan itu saja, makan siang kali ini saya ditemani oleh para tokoh dan ikon yang dianggap berprestasi selama tahun 2008, sebagaimana yang muat oleh majalah Tempo dan Gatra edisi akhir tahun mereka.

Tokoh Tempo yang menampilkan sepuluh Walikota dan Bupati berprestasi dari seluruh Indonesia, saya lahap bersama dengan bakso. Perjuangan mereka memang berat, dan menurut saya hanya karena pengabdian merekalah Indonesia belum terpuruk menjadi Republik Pisang. Tapi saya masih bisa membaca dengan lancar sampai habis. Sempat berhenti beberapa kali untuk membayangkan titik-titik kritis perjuangan mereka, tetapi masih lancar.
Bacaan saya mulai tersendat-sendat ketika saya membaca Gatra yang menampilkan berbagai ikon. Bidangnya lebih beragam, dan masing-masing menempuh tantangan yang luar biasa beratnya. Di dalam feri, di tengah guncangan ombak yang menghantam kapal kecil itu, saya terhenti ketika membaca kisah Suster Apung.
Dialah seorang suster yang bersedia menempuh badai untuk menyediakan layanan kesehatan di pulau-pulau kecil di sekitar Sulawesi Selatan. Suaminya sendiri (yang juga kepala Puskesmas) menjadi korban kurangnya layanan kesehatan di pulau-pulau itu (beliau meninggal karena terjangkit malaria), tetapi itu tidak mengurangi semangat beliau untuk mengabdi.
Dia bukanlah orang yang paling berpendidikan di bidangnya (hanya suster, bukanlah dokter), tetapi justru dari mulut dialah keluar ucapan yang sangat mulia, “Tidak boleh ada yang meninggal karena melahirkan dan tak ada pula yang boleh meninggal karena diare”. Sebuah perkataan yang sangat dahsyat yang mungkin Menteri Kesehatan pun tidak berani mengungkapkannya dengan penuh keyakinan.
Dan yang paling penting adalah ini: dedikasi beliaulah yang menjadi bukti keyakinan beliau akan ucapannya itu. Ajal adalah urusan Tuhan, beliau akan mudah berdalih bila ada orang yang tidak tertolong. Apalagi dengan gaji pas-pasan a la pegawai negeri Republik tercinta ini, tidak mungkin ada orang yang akan mengevaluasi baik buruk kinerja beliau sebagai penyedia layanan kesehatan.
Tetapi tidak, dengan sepenuh dedikasi, beliau bekerja dalam mencapai target kinerja yang beliau tetapkan sendiri. Layar patah diterjang badai adalah biasa.
Saya tidak kuat lagi membaca. Saya yang sudah menempuh pendidikan sampai jenjang tertinggi di bidang keilmuan yang saya tekuni, saya belum pernah punya prestasi dan dedikasi seperti Suster Apung. Ketika dia dengan gaji yang ala kadarnya berani membuat target kualitas kelas dunia, saya yang bergaji berlipat-lipat tidak pun pernah melakukannya.
Ada harga diri yang terusik, ada semangat yang tercambuk, banyak pelajaran yang saya petik dan banyak rencana yang saya rancang. Tapi saat itu, detik itu, di tengah goncangan ombak, saya hanya ingin berdoa untuk Suster Apung, semoga terus diberi kekuatan untuk mengabdi. Air mata saya pun tumpah.
***
Beberapa fakta dari kisah Suster Apung yang bisa dijadikan pelajaran:
- Pendidikan rendah bukanlah halangan untuk mengabdi, apalagi jadi alasan untuk tidak mengabdi. Terkadang orang yang berpendidikan tinggi justru enggan menyentuh bidang-bidang pengabdian yang kurang basah.
- Segala rintangan, baik rintangan fisik (layar patah, perahu pecah menabrak karang, obat tinggal yang kadaluarsa, dll) maupun rintangan psikis (orang yang dicintai meninggal justru karena sebab yang ingin diperjuangkan, sepi penghargaan) sebenarnya bisa dilalui dengan ketekunan dan kesabaran.
- Endurance counts: beliau sudah lebih tiga puluh tahun menjalani profesi sebagai Suster Apung. Saya mungkin akan lari terbirit-birit setelah mengalami patah layar yang pertama, apalagi kalau sampai mengalami pecah kapal yang karam dihadang karang.
***
Ketika sudah bisa melanjutkan bacaan saya, ternyata Gatra menampilkan kejutan bagi saya: kawan saya Fadil (alumnus Teknik Fisika ITB angkatan 90) ternyata terpilih menjadi salah satu ikon iptek. Ini adalah penghargaan prestasinya mengembangkan software akuntansi Zahir. Waah, saya jadi kecipratan bangganya.
Orang-orang kayak saya ini berapa besar sih kemungkinannya jadi ikon? Orang-orang seperti kita kan hanya bisa mengandalkan teman: seberapa besar sih kemungkinan teman kita jadi orang terkenal? Nah, untuk pertanyaan yang terakhir itu, saya bisa dengan bangga mengatakan kawan saya sudah jadi orang!
Kalau ndak percaya nih fotonya di tengah-tengah tokoh kaliber nasional, bahkan internasional.
Yang dibawah ini adalah halaman laporannya di Gatra.
Nggak cukup di Gatra, ternyata majalah Tempo pun memuat artikel tentang Fadil di edisi awal Januari. Ini dia gambarnya:
Selamat ya Fadil!




This entry receives 2 comments.
saya juga sangat bangga punya temen mas Ery dan saya udah alhamdulillah banget kalo anak sendiri udah bangga dengan ayahnya
Jan 21, 2009 at 5:36 pm
Dengan gampang dapat kita temui orang-orang yang berhasil membawa diri dan keluarga
nya ke tahap ‘sukses’ seperti definisi umum. Namun agak susah mencari orang-orang
yang juga berusaha keras menjadikan diri dan segala potensi di dalamnya dapat bermanfaat
bagi orang lain disekitarnya. Mengenali beberapa orang seperti itu sangat melecut kesadaran
diri.. thx atas tulisannya pak..
Jan 21, 2009 at 6:19 pm
Your feedback, please...