Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Tentang commissioning (atau tentang WC cebok)

Tentang commissioning (atau tentang WC cebok)

Anda tahu commissioning? Dalam dunia perancangan bangunan, kata itu merujuk kepada satu fase dari desain bangunan, yaitu fase setelah fase konstruksi selesai tetapi sebelum serah terima kepada pemilik. Di fase commissioning ini semua kriteria desain yang telah dibangun dalam fase konstruksi diperiksa.

Ada banyak sekali manfaat dari commisioning ini. Yang paling nyata tentu saja dengan commissioning kita bisa menemukan berbagai kekurangan atau kesalahan dalam desain. Manfaat lain adalah bahwa dengan commissioning ini sang pemilik bangunan mendapatkan jaminan bahwa semua target yang dia tetapkan dalam bangunan itu dapat dicapai (lhah, jangan-jangan di Indonesia pemilik bangunannya nggak punya target apa-apa).

Departemen Energi Amerika memperkirakan bahwa dengan melaksanakan commissioning yang benar saja maka pemborosan pendinginan dan pemanasan (AC dan heater) dapat dipangkas. Saya ulangi lagi begini: sekalipun sistem AC (dan pemanas) sudah dibeli sesuai dengan spesifikasi, sudah dipasang dengan benar, tetapi tidak diuji coba sebelum serah terima, maka sistem itu sebenarnya masih boros. Harus di-commissioning sehingga pemborosan dapat dipangkas.

Tapi saya tidak ingin berbicara tentang penghematan saat ini. Artikel ini sepenuhnya tentang kenyamanan.

***

Anda tahu WC cebok? Itu loh, WC yang ada selang pancuran yang bisa dipakai untuk cebok. Gambar di bawah ini adalah contohnya. Selang yang ada semprotannya itulah yang digunakan sebagai alat cebok.

Hubungannya dengan commissioning? Nah ini dia masalahnya. Semprotannya itu loh, di banyak tempat tidak pernah disetel dengan aliran yang nyaman untuk digunakan.

Bagaimanakan aliran yang nyaman itu? Aliran yang nyaman itu adalah ketika semprotannya ditekan penuh, aliran air yang keluar seharusnya sedang-sedang saja. Artinya cukup kuat untuk membersihkan kotoran, tetapi tidak akan muncrat ke mana-mana ketika alirannya itu terhalang sesuatu (misalnya terhalang tangan).

Semprotan cebok ini biasanya punya dua keran. Yang pertama di ujung selang plastik, nempel di tembok, yang ini biasanya keran putar. Yang kedua di semprotannya, biasanya berupa katup tekan. Setelan yang sangat umum terjadi adalah keran putarnya dibuka habis, sehingga pengguna diharapkan akan berakrobat dengan katup tekannya, mengira-ngira seberapa banyak harus ditekan supaya airnya tidak muncrat ke mana-mana.

Ini kan namanya setelan seenak perutnya, yang sama sekali tidak berpihak kepada pengguna. Jangan-jangan tukang pasangnya tidak pernah cebok di WC seperti ini, ya?

Setelan yang nyaman seharusnya keran putarnya tidak boleh dibuka terlalu lebar, secukupnya saja, sedemikian sehingga kalau katup tekan di semprotan ditekan habis, maka aliran air yang keluar adalah aliran yang nyaman.

Foto di atas sebenarnya ingin menunjukkan air yang muncrat ke mana-mana. Bekas air di dinding sampai ke pinggang orang dewasa, wah itukan berarti sampai ke kepala orang yang sedang duduk di WC itu. Kasihan benar korban air cebok ini. Ini bukan saya ya, saya tidak jadi pakai WC itu karena WCnya sudah basah kuyub. Akhirnya saya foto saja, tetapi air muncratnya tidak kelihatan.

***

Contoh lainnya (dua foto di bawah ini) adalah dua keran air di tempat cuci tangan yang letaknya bersebelahan. Yang satu alirannya luar biasa deras, sehingga kalau ada yang berani cuci tangan di keran yang ini, dijamin bajunya ikut basah.

Sedangkan di sebelahnya, aliran airnya cukup kecil, bahkan cenderung kecil. Tetapi cukup deras untuk digunakan.

***

Pertanyaannya tentu saja: ini salah siapa?

Bagi saya, ini adalah kesalahan kontraktor dan juga pemilik, kedua belah pihak bersalah karena tidak melakukan commissioning dengan baik. Pemilik seharusnya bersikeras agar semua fasilitas diuji coba sebelum diserahterimakan. Itu artinya, peralatan cebok itu diuji coba, semprotannya dibuka, alirannya dipegang. Kan tidak perlu menunggu ada yang berak dulu di WC itu untuk menguji aliran semprotan cebok itu. Di pihak kontraktor juga seharusnya memberi peringatan kepada pengguna, kalau memang aliran airnya terlalu keras (dan tidak bisa dikecilkan -  ini agak mengada-ada tapi who knows) agar tidak ada korban baju basah.

Kalau tidak ada commissioning, siapa yang jadi korban? Tentu bukan kontraktor ataupun pemilik bangunan, tetapi yang jadi korban adalah pengguna bangunan.

This entry receives one comment.

Surachmat

wah susah pak.
kalo pake tangki air sih standard tekanan air ke setiap titik bisa diprediksi dengan baik.
lah kalo pake PDAM (di Batam = ATB): kadang kenceng sekali sampe bisa dipake
cuci mobil. seringnya kecil sekali sampai mati.
capek bener kalo harus buka tutup keran depan meteran supaya alirannya pas.
paling enak ya pake tangki air, tapi ini barang mewah lho buat sebagian besar rumah RSH.
silahkan dicek kalau mau.

May 25, 2009 at 11:49 pm

Your feedback, please...

This entry was posted on Thursday, January 15th, 2009 at 7:27 am and is filed under Architecture, Indonesian, Technology. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Asides

If Moses had gotten the Ten Commandments on a floppy disk, it would never have made it to today. (Dag Spicer, curator of the Computer History Museum in Silicon Valley, The NYTimes Circuit, 26-Mar-2009)

“The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore all progress depends on the unreasonable man.”
George Bernard Shaw, Maxims for Revolutionists

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.