October 13th, 2001
# 10:55 am
No comments
Dari George Square ke Afghan
Ketika datang ke alun-alun kota Glasgow, saya hanya berniat untuk menunggu kawan saya datang dari Aberdeen. Tapi begitu mendekati George Square, saya mulai mendengar riuh rendahnya musik jalanan. Suara gendang bertalu-talu, diiringi ecek-ecek yang ramai, diselang seling suara peluit.
Ada sirkus?
Bukan. Ternyata akan ada demonstrasi, dan musik jalanan ini digunakan sebagai penarik perhatian.
Spanduk besar mulai dibentang. Ternyata demonstrasi anti perang memprotes serangan Amerika di Afghan. Pesertanya amat beragam. Mulai dari World Development Movement yang selalu bikin ribut di setiap pertemuan G7, partai politik Scottish Socialist Party, sampai organisasi islam Islamic Society of Britain. Semuanya bergabung dalam satu payung Glasgow Coalition for Justice Not War.
***
Keragaman itu tampak jelas dari isi pidato-pidato yang disampaikan dalam acara itu. Seorang anak muda tampil mewakili orang Afghan, yang sudah beberapa tahun tinggal di Inggris karena dikejar-kejar Taliban. Dia mengatakan, “We dont have any terrorist training camp because we dont have the resources for that. There are two terrorist training camps in Afghanistan, one is run by the British SAS, and the other one is run by the American CIA.”
Tepuk tangan pun membahana menyambut kalimat itu.
Dan point ini begitu melekat di kepala saya. Pertanyaannya sederhana. Apakah benar Usamah Bin Ladin dilatih oleh Amerika dan Inggris?
Point ini sebenarnya tidak akan begitu menarik bagi saya kalau tidak diulang-ulang oleh berbagai pihak akhir-akhir ini. Pertama, kata-kata demonstran tadi.
Kedua adalah sebuah buku yang saya temukan di toko buku Borders di Glasgow berjudul “Jihad!”. Buku itu adalah catatan seorang tentara Inggris dari kesatuan SAS yang terkenal itu ketika melakukan operasi rahasia untuk melatih mujahidin Afghan dalam melawan tentara Rusia.
Secara provokatif ringkasan di sampul belakang buku itu bertanya: “The British has never been in war with the Russian?” Yang kemudian dijawab sendiri bahwa Margaret Thatcher pernah mengirim pasukan elit Inggris untuk melatih tentara Afghan. Perhatikan bahwa kesan yang ingin ditonjolkan adalah Inggris pernah berperang melawan Rusia, dengan memakai tangan mujahidin Afghan.
Dan ketika Mujahidin Afghan berhasil memukul mundur Rusia, tentu saja itu berkat kehandalan tim dari Inggris. Begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikan. Dan pesan inilah yang membuat saya termenung.
Sebegitu lemahkan kekuatan militer kaum muslimin?
Apakah ini fakta, atau propaganda perang?
Sudah lama memang terdengar bahwa Usamah adalah bekas agen CIA. Sebuah buku menyebutkan bahwa di kalangan intelijen, Usamah dikenal sebagai “our man in Kandahar”. Kita perlu sekali mengetahui sejauh mana kebenaran cerita sinyalemen tersebut.
***
Menyedihkan sekali memang melihat peta perjuangan kaum muslimin. Wilayah konflik tidak hanya terjadi antara muslim dan anti-muslim, tetapi juga terjadi di antara sesama kelompok kaum muslimin.
Permasalahannya kembali kepada masalah yang sangat klasik. Ada satu jamaah yang mengaku “the jamaah” tanpa bisa mengakui keberadaan jamaah lain. Dengan paradigma seperti ini, apapun yang mereka lakukan tidak pernah mereka memikirkan apa yang akan terjadi kepada jamaah “lain” akibat perbuatan yang mereka lakukan atau kebijakan yang mereka ambil.
Saya bukanlah orang yang terkategori pro-Taliban. Tetapi sejauh ini saya selalu berusaha untuk bersikap husnuzh-zhan dengan apa yang mereka lakukan. Saya coba berikan penjelasan alternatif terhadap siapapun yang mengkritik kebijakan Taliban.
Tapi lama kelamaan saya merasa sangat lelah untuk selalu mengukur jarak antara saya dengan Taliban. Saya kehabisan tenaga untuk mengajukan pembelaan-pembelaan yang tidak bisa saya pahami. Sampai kepada satu titik bahwa Taliban memang tidak pernah memakai jamaah lain sebagai referensi kebijakannya karena mungkin tidak ada jamaah lain dalam kacamatanya.
Well then, life goes on.
***
Di tengah hari yang cerah dan sejuk itu, alun-alun kota Glasgow terbelah dua. Sebagian penuh dengan demonstran dengan tepuk tangan riuh rendah, setengah yang lain orang-orang pun sibuk menikmati ketenangan dalam keramaian. Anak-anak sibuk mengejar merpati sambil dengan sengaja menginjak genangan air. Seorang juggler sibuk berlatih sirkus melempar lima enam bola sekaligus, ditingkahi tepuk tangan anak-anak yang menonton dan mencoba menirukan. Sekelompok ibu-ibu duduk melingkar sambil memejamkan mata berlatih yoga.
What a life.
Saya pun duduk di bangku kayu melepas penat di kaki. Perang boleh menderu-deru, tapi kehidupan tetap berjalan seolah tak peduli dengan apa yang terjadi di sana.
Siapa yang sebenarnya peduli dengan penduduk di Afghan?
Bahkan koalisi ini, yang tengah ramai berdemonstrasi, pun tidak sepenuhnya menyuarakan kepentingan penduduk Afghan. Mana mungkin mereka melupakan kepentingan mereka sendiri.
Terpampang jelas dari papan kecil yang diusung oleh para demonstran itu. Di satu sisi terpampang garang: “Stop War”. Ketika dia berbalik, tampaklah tulisan di sisi lain papan yang sama: “Legalise Cannabis”.
Glasgow 13 Oktober 2001
Your feedback, please...