January 14th, 2009
# 7:05 am
1 comment
Bandara yang menyedihkan?
Beberapa waktu yang lalu ada artikel di koran gratisan Today yang terbit di Singapura tentang Bandara Cengkareng dengan judul yang cukup provokatif: “A sad downward spiral, Jakarta’s airport leaves a poor impression“. Waktu membaca judulnya saya langsung mengira kalau artikel ini ditulis oleh orang Singapura, biasa ngalelewe. Tapi ternyata penulisnya Chappy Hakim, dari namanya pasti orang Indonesia.
Artikel itu sendiri menyoroti dari sisi infrastruktur keselamatan dan keamanannya, sekalipun beliau juga bilang bahwa kenyamanan penumpang jauh dari mencukupi. Bahkan tingkat kejorokannya melebihi Stasiun Gambir. Selengkapnya silakan baca di sini, dan selanjutnya saya akan mengulas pengalaman penumpang sebagai pengguna bandara (yaitu saya sendiri waktu pulang akhir desember lalu).
***
Ada tiga hal yang bagi saya sangat penting untuk dibenahi. Yang pertama adalah the ABC of public space, yaitu hal-hal yang paling mendasar yang harus tersedia di setiap bangunan publik. Foto-foto berikut ini adalah contohnya.
Contoh pertama adalah toilet. Bagi saya, tempat publik yang bagus adalah tempat publik yang toiletnya bagus. Segala kenangan indah tentang suatu tempat akan terhapus begitu memasuki toilet yang jorok.
Terus terang saya cukup senang melihat toilet yang saya masuki, yaitu di kedatangan internasional, selepas imigrasi sebelum pengambilan bagasi.
Lantai bersih, pintu dari kaca.
Wastafel juga bersih.
Urinoir juga mengkilat.
Keluhan saya hanya satu, yaitu di dalam salah satu WC. Pancuran untuk ceboknya memancarkan air laksana pemadam kebakaran. Kalau dipakai cebok pasti akan basah ke mana-mana. Ini adalah masalah yang selalu saya dapati di banyak WC yang menyediakan selang cebok. Masalah commissioning (atau maintenance) ini saya tuliskan di sini (XXX nanti akan diterbitkan).
Contoh kedua adalah masalah rasa aman, banyak hal di bandara ini yang tidak menimbulkan rasa aman. Kerumunan makelar taksi adalah salah satunya. Dan yang saya alami sendiri adalah foto di bawah ini.
Yang di atas ini adalah tangga turun dari lantai atas (keberangkatan) menuju ke lantai bawah (kedatangan). Kamera HP saya agaknya merekam lebih indah dari warna aslinya, tapi kenyatannya daerah setelah tikungan ke bawah itu gelap sekali, relatif dibandingkan bagian atas yang benderang. Dari atas kita tidak tahu, gelapnya itu seberapa panjang.
Ternyata masalahnya adalah lampu yang mati. Hareeeee genneeeee, di bandara internasional, ternyata masih ada lampu yang mati. Kalau lampu mati tapi masih terang (artinya desain lampunya berlebih) ya masih mendingan lah, tapi ini gelap loh.
Dari kunjungan singkat ini, overall user experience yang saya alami tidaklah mengecewakan. Hanya barangkali itu saya, yang sudah (pernah) terbiasa dengan kerumunan makelar dan lorong-lorong gelap. Bagaimana dengan turis yang selalu berada di bandara yang terang benderang dan tidak ada calo?






This entry receives one comment.
Ketika saya & suami tiba di bandara international Abuja (ibukota Nigeria) tgl 26 Juli 2008, listrik sempat padam sekitar 10 menit. Pikir saya: Gimana di Jos (kota kecil), tempat kami akan tinggal selanjutnya, wong di ibukota aja begini? Eh, benar juga. Ternyata di Jos listrik tersedia rata2 hanya 4 jam sehari. Jadi Cengkareng sudah sangat-sangat bagus kalau dibandingkan dengan bandara di Nigeria (termasuk di Lagos, kota metropolitannya). Tapi masak sih membandingkan Indonesia dengan Nigeria???
Thanks kang Ery.
Jan 19, 2009 at 8:50 am
Your feedback, please...