Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Mau merokok?

Mau merokok?

Singapura adalah negara, yang tanpa banyak gembar-gembor, cukup sukses dalam menurunkan angka perokok di negaranya. Sebabnya bisa dilihat dari gambar berikut ini.

Pertama: pajaknya ditinggikan. Harga sebungkus bisa mencapai 11 dolar lebih, yaitu sekitar 80 ribuan rupiah dengan kurs hari ini.

Kedua: peringatan visual. Ini adalah terobosan yang, saya pikir, hanya dilakukan oleh Singapura. Anda tahukan peringatan pemerintah di Indonesia, yang bisa kita baca di kotak rokok, atau di papan reklame, atau bisa kita dengar setelah iklan rokok, bla bla bla, semua dengar semua lupa.

Coba tempelkan berbagai jenis kanker yang diakibatkan oleh rokok, seperti gambar di atas. Saya sekali melihatnya saja sudah seram. Silakan nikmati gambar-gambar itu, smoking will not be the same after that.

Jangan salah kira, industri rokok protes keras kepada pemerintah Singapura ketika peringatan visual ini mulai diberlakukan. Tapi ya itulah, hanya pemerintah Singapura yang punya kebijakan yang sangat hostile kepada industri rokok.

Bagaimana dengan pemerintah Indonesia? Yaaaaah, boro-boro hostile kepada industri rokok, malah kayaknya disayang-sayang, dengan dalih mempertahankan pekerjaan ribuan orang. Padahal ongkos biaya kesehatan yang ditanggung oleh generasi mendatang ketika kanker akibat rokok datang, mestinya jauh lebih besar dibandingkan dengan lapangan pekerjaan yang disediakan oleh industri rokok.

This entry receives 6 comments.

Arnold

Gambar-gambar itu apa ndak diprotes masyarakat ya ? saya membayangkan kalau di setiap kasir yang umumnya dekat pintu masuk atau etalase2 kaca penjual rokok terpampang foto-foto itu … lumayan menggangu pemandangan kan. Mengenai efeknya, memang bener sih, ‘smoking will not be the same …’

Apakah di indonesia bisa se-vulgar itu, saya kira saat ini belum bisa, dengan alasan : 1. para penentu kebijakan sebagian besar masih perokok, 2. belum terbangun pabrik-pabrik lain yang dapat menampung ribuan pekerja rokok itu :) .

Jan 6, 2009 at 8:34 am

Ery

Arnold: Yang protes malah pabrik rokok. Masyarakat sih kayaknya nggak protes tuh. Apalagi semua produk rokok biasanya diletakkan di luar jangkauan pengunjung (walaupun kelihatan), jadi harus bilang ke kasir baru dia yang mengambil.

Jan 6, 2009 at 5:56 pm

Muhnur

saya yakin alasan pertama yg lebih efektif karena saya termasuk korbannya setelah menjadi perokok selama 15 tahun dan brenti total th 2003.

alasan ke-2, kayaknya ngerokok tetep aja sama enaknya wong emang enak…

Jan 6, 2009 at 8:02 pm

cp

Di indonesia, jangan harap jumlah perokok turun. Makin bertambah mungkin. Pas balik ke malang kemarin, sepanjang jalan Surabaya-Malang penuh dengan baliho, reklame rokok berbagai merek. Lah penerangan jalan-jalan di kota kan juga banyak tuh yang disponsori pabrik rokok. Kampus brawijaya pun lampu jalannya sama juga! Konser musik kampus pun sponsor utamanya pabrik rokok. Rokok masuk kampus….. hmmm…. padahal di NUS sini kan dilarang merokok ya.

Jan 7, 2009 at 2:03 am

dahlia

Kalau orang sini mah nekat Ry…biar kata banyak tampilan visual yg menakutkan tetap saja dianggap angin lalu. Tetep ndableg. Salah satu cara yg mungkin ampuh ya menaikkan harga rokok minimum 10xlipat dr harga skr. Tapi taruhan, mereka tak akan berhenti merokok. Melainkan beralih ke rokok klobot kayak orang2 tua jadoel:-P

Jan 7, 2009 at 5:43 am

Ier

banyak lho.. akhwat yang ragu nerima lamaran seorang laki-laki yang sholeh, tapi.. ngerokok..
hehe..
-penggemar tulisan-tulisan kang ery, jadi saya link di blog saya ya kang-
JazakaLlah

Jan 7, 2009 at 10:21 am

Your feedback, please...

This entry was posted on Tuesday, January 6th, 2009 at 3:53 am and is filed under Indonesian, Signage. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Asides

If Moses had gotten the Ten Commandments on a floppy disk, it would never have made it to today. (Dag Spicer, curator of the Computer History Museum in Silicon Valley, The NYTimes Circuit, 26-Mar-2009)

“The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore all progress depends on the unreasonable man.”
George Bernard Shaw, Maxims for Revolutionists

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.