Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Kematian blog pribadi?

Kematian blog pribadi?

Anda punya blog pribadi? Kalau ya, maka ketahuilah bahwa keberadaan blog itu semakin lama akan semakin terancam. Facebook termasuk yang disebut sebagai salah satu pembunuh blog pribadi dalam artikel yang dipublikasi di Wired ini:

Writing a weblog today isn’t the bright idea it was four years ago. The blogosphere, once a freshwater oasis of folksy self-expression and clever thought, has been flooded by a tsunami of paid bilge. Cut-rate journalists and underground marketing campaigns now drown out the authentic voices of amateur wordsmiths. It’s almost impossible to get noticed, except by hecklers. And why bother? The time it takes to craft sharp, witty blog prose is better spent expressing yourself on Flickr, Facebook, or Twitter.

Lengkapnya silakan lihat di sini.

Ada beberapa asumsi yang, IMO, tidak tepat yang dipakai dalam artikel itu:

  1. Blog pribadi dibuat hanya untuk mengejar peringkat google.
  2. Atau untuk mendapatkan pembaca sebanyak-banyaknya.
  3. Pembaca blog bukanlah orang yang suka membaca artikel panjang.
  4. Komentar yang tidak cerdas, bahkan yang mengejek, hanya dipandang sebagai pengganggu.

Padalah semua asumsi di atas tidaklah selalu benar. Saya sendiri membuat blog tidak untuk mengejar peringkat Google, atau untuk mendapatkan pembaca sebanyak-banyaknya. Well, koreksi: saya suka artikel saya dibaca oleh sebanyak mungkin orang, tapi alasannya sama sekali bukan komersial.

Apalagi saya memang memfokuskan diri untuk menuliskan posting yang relatif panjang. Kalau tidak suka ya jangan dibaca, gitu aja kok repot. Tapi sungguh masih banyak orang yang rentang perhatiannya lebih dari 144 karakter yang jadi batasan Twitter.

Tentang komentar, semua komentar di blog saya pasti akan saya tampilkan, terlepas dari apakah saya setuju atau tidak. Kecuali kalau komentarnya tidak nyambung dengan isi artikel, yaa baru saya hapus.

Memang Facebook menawarkan tampilan multimedia yang sangat menawan, mau video, foto apalagi teks, semua bisa menyatu dengan mudah, dan yang paling penting gratis, tanpa membebani server kita kalau kita memuatnya di blog pribadi.

Tapi inipun bisa diakali. Isi blog pribadi dengan mudah bisa disedot sebagai “notes” dalam Facebook. Jadi bagi saya tidak cukup alasan untuk menutup blog pribadi.

Yang lebih penting lagi, saya menulis justru karena ingin memotret isi pikiran saya. Saya ingin semua artikel itu berada sepenuhnya dalam kendali saya, dalam format yang saya inginkan, yang akan dengan mudah dipindahkan ke format apapun.

Bayangkan kalau saya menulis sepenuhnya di dalam Facebook, apakah ini bukan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Facebook? Formatnya pun tidak bisa dengan mudah dikonversi ke format lain, kecuali dengan melakukan copy-and-paste setiap artikel.

Kesimpulannya: blog pribadi saya masih akan bertahan.

This entry receives 3 comments.

mala

Bagi seorang yang hobi menulis, kecil kemungkinan blog pribadinya scr tragis menemui ajalnya karena imbasan FB, Flickr dkk.
Beda kasus dgn niat seseorang yang memiliki blog pribadi semata2 untuk ‘gaul’. FB, FS memang pilihan yang sangat mengiurkan!

Kalo saya mah simpel aja. niat punya blog pribadi adalah untuk tetap merangsang sel2 otak saya agar tetap aktif. Ga direspon orang gpp, bs bermanfaat bagi pembaca..alhamdulillah:)

Publish or perish! Bukan begitu Om?! he he he….

Jan 4, 2009 at 3:39 am

BlogPribadi

Saya beranggapan betapa pentingnya menulis, saya sangat ingin bisa menulis,salah satunya dengan memiliki blog pribadi. Agar saya tetap terangsang untuk menulis, dan akan lebih berbahagia lagi jika ada yg membaca dan memberikan komentar.

Salam kenal

Sep 26, 2009 at 5:22 pm

Ery

Salam kenal juga. Ayo teruskan menulis.

Sep 27, 2009 at 11:08 pm

Your feedback, please...

This entry was posted on Sunday, January 4th, 2009 at 2:00 am and is filed under Indonesian, Technology. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Asides

If Moses had gotten the Ten Commandments on a floppy disk, it would never have made it to today. (Dag Spicer, curator of the Computer History Museum in Silicon Valley, The NYTimes Circuit, 26-Mar-2009)

“The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore all progress depends on the unreasonable man.”
George Bernard Shaw, Maxims for Revolutionists

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.