Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → George Square

George Square

Kawan saya Syed menggambarkan alun-alun kota Glasgow sebagai berikut: “Kalau Abang keluar dari stesen lalu memusing kanan, sana Abang boleh lihat George Square yang penuh dengan patung patung”.

Dan patung-patung itulah yang pertama kali terlihat ketika melewatinya. Baru setelah benar-benar melihat ke sekeliling, saya menyadari bahwa ini adalah alun-alun yang cukup lapang di kota yang sempit ini.

Di sanalah saya berkeliling memperhatikan satu per satu patung-patung itu. Dua belas patung semuanya, dari berbagai kalangan. Ada politisi, ada dosen, ada penyair, ada tentara. Ada Ratu Victoria naik kuda diiringi oleh Pangeran Albert. Ada yang duduk merenung, ada yang berpose penuh wibawa. Yang paling tinggi di antara mereka adalah Walter Scott, berdiri di atas tugu sekitar 15 meter, sedikit berjamur, bercampur kotoran merpati, sudah dilengkapi dengan penangkal petir di belakang lehernya.

Sambil duduk di bangku kayu, saya memperhatikan semuanya. Ini adalah monumen. Sesuatu yang dibangun oleh manusia untuk memperingati suatu kejadian, atau seseorang, atau apapun. Dalam sejarah manusia, berbagai monumen tampil dalam berbagai bentuk. Tugu sudah dikenal manusia sejak jaman pra-sejarah. Kemudian ada prasasti atau batu tulis. Ada juga monumen dalam bentuk bangunan, seperti menara atau istana. Di dalam AlQuran ada peringatan ttg kebiasaan kaum terdahulu yang membangun masjid untuk memperingati kehidupuan (atau kematian) orang shaleh. Tapi yang paling sering tampil dalam sejarah adalah monumen dalam bentuk patung. Mungkin manusia lebih bisa melihat apa yang ingin ditampilkan oleh patung dengan melihat kepada diri sendiri.

Sebab-sebab didirikannya monumen pun beragam. Ada yang dibangun untuk memperingati kedatangan raja atau ratu ke suatu wilayah, seperti patung Ratu Victoria di George Square ini. Ada yang dibangun untuk mengingat figur seseorang. Ada yang dibangun sebagai ungkapan rasa cinta, seperti Taj Mahal.

Pesan-pesan inilah sebenarnya yang ingin diabadikan dalam bentuk monumen. Sayangnya, seringkali nilai kebendaan dari monumen itu lebih menonjol dan diperhatikan ketimbang pesan spiritualnya. Inilah barangkali yang terjadi ketika Unesco lebih memperhatikan restorasi patung Budha yang melibatkan dana jutaan dolar, tetapi membiarkan jutaan penduduk Afghanistan kelaparan. [Dan barangkali inipula yang membuat pemerintahan Taliban berkeputusan menghancurkan patung itu].

Ironisnya, nilai “kebendaan” monumen bisa saja terjadi kepada sesuatu yang bersifat spiritual. Betapa orang bisa mengkeramatkan kuburan, sehingga membuat berbagai aturan yang berkaitan dengan kuburan itu. Tidak boleh merokoklah, tidak boleh bercandalah, harus menutup auratlah (padahal kalau nggak ke kuburan boleh buka-bukaan), dst, dst, demi menghargai kuburan. Padahal pesan yang termuat dalam monumen kuburan itu (seharusnya) adalah ketaatan kepada Allah.

Mungkin karena kecenderungan inilah maka Rasul mengharamkan patung, yang pada intinya adalah pengharaman terhadap segala bentuk keberhalaan. Yang diharamkan bukan monumennya, tapi keberhalaannya, walaupun patung adalah spesies yang disebutkan secara spesifik.

***

Dan di George Square ini, bahkan bangku kayu buruk yang saya duduki inipun adalah monumen. Label di bangku kayu ini bertuliskan: “Presented by Dorothy to the memory of her beloved husband Walter Nelson Thomson 1st November 1989.”

Lhah, bangku kayu jadi berhala? Mungkin saja.

Saya mendapatkan kesan yang sama sekali berbeda ketika berpindah ke bangku yang lain dan mendapati label berikut: “Please enjoy your rest in George Square as did Maggie (West) McAuley, a Bristonian who loved Glasgow. From husband Willie and daughters Margaret, Ruby and Shirley.”

Ada limpahan kerendahan hati dan semangat untuk melayani. Dan sayapun duduk dengan nyaman di bangku itu, sambil mengamati ragam tingkah Glaswegian di hari yang cerah ini.

Monumen yang sama. Perbuatan yang sama. Amal kita bisa menjadi pahala nan tak terputus. Tapi mudah saja berubah menjadi monumen keberhalaan kita.

Glasgow, 13 Oktober 2001

Your feedback, please...

*
To prove you're a person (not a spam script), type the answer to the math equation shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the equation.
Click to hear an audio file of the anti-spam equation

This entry was posted on Saturday, October 13th, 2001 at 10:51 am and is filed under Indonesian, Trips. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Recent Comments

  • Riza: Bukannya di paspor ada pernyataan alamat luar negeri? Kan kita bisa bebas fiskal 4 kali setahun sebagai...
  • AgUStiAn: Artikelnya sangat baik sebagai cermin diri selaku pembaca. Yang sangat penting tujuan akhir dari suatu...
  • A. Aji: Oh ya .. saya tambahkan NPWP itu diterbitkan dari kantor tempat tinggal (dalam hal ini adalah KTP). Dan untuk...
  • A. Aji: Boss, TKI itu adalah WPDN, bukan WPLN. WPDN — Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak atas penghasilan...
  • A. Aji: Boss, Sepengertianku sih nggak begitu — semua warga negara Indonesia yang sudah mendapatkan penghasilan...

Asides

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.

From NYTimes: Without big noise, Netherlands goes open source. What about Indonesia’s IGOS? I think its going ngos-ngosan!

Dari detik.com: beberapa karyawan Carrefour keracunan CO. Gubernur mencurigai adanya kesalahan desain. Komentar Pak Gubernur ini ibarat menepuk air di dulang, yang kena kan pejabat Pemda sendiri, karena semua desain ventilasi kan sudah disetujui oleh Pemda. Mari kita tunggu kelanjutannya.