October 13th, 2001
# 10:51 am
No comments
George Square
Kawan saya Syed menggambarkan alun-alun kota Glasgow sebagai berikut: “Kalau Abang keluar dari stesen lalu memusing kanan, sana Abang boleh lihat George Square yang penuh dengan patung patung”.
Dan patung-patung itulah yang pertama kali terlihat ketika melewatinya. Baru setelah benar-benar melihat ke sekeliling, saya menyadari bahwa ini adalah alun-alun yang cukup lapang di kota yang sempit ini.
Di sanalah saya berkeliling memperhatikan satu per satu patung-patung itu. Dua belas patung semuanya, dari berbagai kalangan. Ada politisi, ada dosen, ada penyair, ada tentara. Ada Ratu Victoria naik kuda diiringi oleh Pangeran Albert. Ada yang duduk merenung, ada yang berpose penuh wibawa. Yang paling tinggi di antara mereka adalah Walter Scott, berdiri di atas tugu sekitar 15 meter, sedikit berjamur, bercampur kotoran merpati, sudah dilengkapi dengan penangkal petir di belakang lehernya.
Sambil duduk di bangku kayu, saya memperhatikan semuanya. Ini adalah monumen. Sesuatu yang dibangun oleh manusia untuk memperingati suatu kejadian, atau seseorang, atau apapun. Dalam sejarah manusia, berbagai monumen tampil dalam berbagai bentuk. Tugu sudah dikenal manusia sejak jaman pra-sejarah. Kemudian ada prasasti atau batu tulis. Ada juga monumen dalam bentuk bangunan, seperti menara atau istana. Di dalam AlQuran ada peringatan ttg kebiasaan kaum terdahulu yang membangun masjid untuk memperingati kehidupuan (atau kematian) orang shaleh. Tapi yang paling sering tampil dalam sejarah adalah monumen dalam bentuk patung. Mungkin manusia lebih bisa melihat apa yang ingin ditampilkan oleh patung dengan melihat kepada diri sendiri.
Sebab-sebab didirikannya monumen pun beragam. Ada yang dibangun untuk memperingati kedatangan raja atau ratu ke suatu wilayah, seperti patung Ratu Victoria di George Square ini. Ada yang dibangun untuk mengingat figur seseorang. Ada yang dibangun sebagai ungkapan rasa cinta, seperti Taj Mahal.
Pesan-pesan inilah sebenarnya yang ingin diabadikan dalam bentuk monumen. Sayangnya, seringkali nilai kebendaan dari monumen itu lebih menonjol dan diperhatikan ketimbang pesan spiritualnya. Inilah barangkali yang terjadi ketika Unesco lebih memperhatikan restorasi patung Budha yang melibatkan dana jutaan dolar, tetapi membiarkan jutaan penduduk Afghanistan kelaparan. [Dan barangkali inipula yang membuat pemerintahan Taliban berkeputusan menghancurkan patung itu].
Ironisnya, nilai “kebendaan” monumen bisa saja terjadi kepada sesuatu yang bersifat spiritual. Betapa orang bisa mengkeramatkan kuburan, sehingga membuat berbagai aturan yang berkaitan dengan kuburan itu. Tidak boleh merokoklah, tidak boleh bercandalah, harus menutup auratlah (padahal kalau nggak ke kuburan boleh buka-bukaan), dst, dst, demi menghargai kuburan. Padahal pesan yang termuat dalam monumen kuburan itu (seharusnya) adalah ketaatan kepada Allah.
Mungkin karena kecenderungan inilah maka Rasul mengharamkan patung, yang pada intinya adalah pengharaman terhadap segala bentuk keberhalaan. Yang diharamkan bukan monumennya, tapi keberhalaannya, walaupun patung adalah spesies yang disebutkan secara spesifik.
***
Dan di George Square ini, bahkan bangku kayu buruk yang saya duduki inipun adalah monumen. Label di bangku kayu ini bertuliskan: “Presented by Dorothy to the memory of her beloved husband Walter Nelson Thomson 1st November 1989.”
Lhah, bangku kayu jadi berhala? Mungkin saja.
Saya mendapatkan kesan yang sama sekali berbeda ketika berpindah ke bangku yang lain dan mendapati label berikut: “Please enjoy your rest in George Square as did Maggie (West) McAuley, a Bristonian who loved Glasgow. From husband Willie and daughters Margaret, Ruby and Shirley.”
Ada limpahan kerendahan hati dan semangat untuk melayani. Dan sayapun duduk dengan nyaman di bangku itu, sambil mengamati ragam tingkah Glaswegian di hari yang cerah ini.
Monumen yang sama. Perbuatan yang sama. Amal kita bisa menjadi pahala nan tak terputus. Tapi mudah saja berubah menjadi monumen keberhalaan kita.
Glasgow, 13 Oktober 2001
Your feedback, please...