January 16th, 2009
# 6:45 am
4 comments
Biaya tersembunyi
Waktu saya bekerja di TU Eindhoven, semua urusan perjalanan diserahkan ke agen (Carlson Wagonlit) yang punya kantor di kampus. Biasanya kita hanya memberikan jadwal bahwa kita harus berada di kota tujuan mulai hari ini sampai hari ini, terkadang bahkan sampai jamnya pun diminta. Kapan berangkatnya, berapa hari di sana, serta kapan kembalinya, semuanya diserahkan sepenuhnya kepada sang agen.
Ternyata kebijakannya adalah bahwa agen perjalanan harus menghitung biaya perjalanan termurah, yaitu total biaya pesawat dan biaya hotel. Harga pesawat, seperti kita tahu, kan berubah-ubah dan berbeda-beda. Ada rute yang week-end lebih murah, ada rute yang week-days lebih murah. Terus ada aturan berapa lama harus menginap di kota tujuan sebelum terbang kembali.
Akibatnya, terkadang saya harus pergi selama lima hari untuk menghadiri konferensi yang hanya tiga hari. Artinya, total biaya tiket dan hotel selama lima hari itu lebih murah dibandingkan dengan total biaya selama tiga hari.
Waktu itu saya merasa gembira sekali bisa mendapat pelajaran yang berharga seperti ini.
Tapi pelajaran itu langsung terhapus nilai pentingnya, ketika di kota tujuan (di Copenhagen waktu itu) saya ngobrol dengan co-supervisor saya. Saya bertanya, “berapa lama di sini?” Ternyata dia hanya ada di sana pas selama tiga hari, selama waktu konferensi. Itupun harus terbirit-birit mengejar pesawat di sore hari ketiga.
Wah, nggak sempat jalan-jalan dong, kata saya. Kalau saya masih tinggal di sini over the week-end, sambung saya.
Kenapa bisa begitu, tanya dia. Maka saya jelaskanlah kepada dia ilmu yang baru saya dapat dari pengalaman berurusan dengan travel agent.
Setelah mendengar cerita saya, dia (sambil cengar-cengir) menjawab, “Oo, pantas saja kalau begitu. Billable rate kamu per hari masih belum tinggi sehingga pihak universitas tidak akan mempermasalahkan tambahan dua hari. Sedangkan kalau saya nambah dua hari di sini, yang dua hari itu akan jauh lebih mahal dibandingkan dengan total biaya perjalanan saya”.
Yaaah, maklumlah, berapalah billable rate seorang PhD candidate? Paling-paling sekitar 30an euro per jam. Dibandingkan dengan billable rate seorang konsultan tentu saja jauh, bisa di atas seratus euro per jam. Tambahan dua hari itu bisa lebih mahal dari total biaya perjalanan, memang.
***
Ada dua kejadian yang menyebabkan saya teringat peristiwa lima tahun yang lalu itu. Kejadian yang pertama adalah ketika saya beberapa waktu yang lalu ingin menghadiri seminar sehari di Jakarta. Kepada boss saya saya kirim email lengkap dengan segala justifikasi dan juga perhitungan biaya. Saya sampai bersedia naik pesawat murah dengan jadwal yang tidak terlalu nyaman, demi mengirit ongkos, biar diberi izin untuk pergi.
Tanpa ba bi bu, beliau mengirim jawaban bahwa seminar ini cukup penting jadi saya boleh pergi, tetapi tidak boleh lebih dari satu hari. That means only eight billable hours. Delapan jam, tidak lebih. Itu juga berarti bahwa saya juga harus mengalokasikan sebagian waktu pribadi untuk dihabiskan dalam perjalanan ini, tanpa dibayar. Singapura-Jakarta, plus seminar, pasti lebih dari delapan jam, dan itu dibebankan kepada waktu pribadi saya.
Sekalipun itu artinya saya harus naik pesawat yang harganya bisa dua kali lipat, ndak masalah. Karena komponen biaya yang paling mahal ternyata bukan di biaya perjalanan, bukan di biaya seminar. Tetapi yang paling mahal adalah biaya waktu. Waktu saya yang tersita untuk seminar, kalau dipakai untuk mengerjakan proyek sudah menghasilkan uang berapa, itulah komponen biaya terbesar.
Sama seperti BCA (Building Construction Authority) mensyaratkan kursus selama 140an jam untuk mencapai brevet Green Mark Professional, yaitu konsultan yang boleh melakukan assessment bangunan hijau di Singapura. Kami semua terfokus pada biaya untuk mengikuti berbagai modul yang ditawarkan, yang kalau dijumlah bisa mencapai sekitar delapan ribu dolar. Boss saya mengatakan, delapan ribu itu bukan yang paling mahal. Titik yang paling mahal adalah di 140 jam itu, yang bisa menghasilkan 20,000 sampai 25,000 dolar kalau mengerjakan proyek.
***
Kejadian lainnya adalah tentang mesin pengering baju. Kami ingin menjual mesin pengering milik kami karena kami berencana mau pindah. Ketika saya menawarkan mesin pengering baju itu kepada kawan-kawan di Singapura, respon yang saya dapat adalah “waah, berapa biaya listriknya?”
Mari kita hitung biaya listriknya. Untuk kami sekeluarga lima orang, rata-rata per minggu cucian kami adalah tiga load (satu load masing-masing untuk yang putih, berwarna, dan hitam), maksimal kalau lagi numpuk ya lima load. Artinya, mesing pengering juga akan bekerja rata-rata tiga load per minggu.
Satu load rata-rata satu jam sampai kering. Jadi total waktu sekitar tiga jam. Supaya aman, kita anggaplah satu load itu satu setengah jam. Kalau mesin itu berkapasitas 2,000 W, maka hitungannya adalah:
kWh = 2 kW x 3 load x 1 hour/load = 6 kWh per minggu = 24 kWh per bulan
Dengan memasukkan margin maksimal:
kWh = 2 kW x 5 load x 1.5 hour/load = 15 kWh per minggu = 60 kWh per bulan
Anggap saja tarif listrik itu 10 sen per kWh (ini tentu saja terlalu besar, aslinya lihat saja tagihan bulanan anda), jadinya antara $2.40 dolar sampai $6.00 dolar tambahan biaya listrik untuk memakai mesin pengering baju.
Saya menghitung biaya listrik ini sekadar untuk memuaskan mereka yang merasa sangat terbebani dengan biaya listrik untuk mesin pengering. Tetapi sekali lagi, sesuai dengan judul posting ini, biaya yang terbesar bukanlah biaya listrik.
Di manakan biaya terbesar? Ya, anda benar: biaya waktu kita.
***
Saya berasumsi bahwa pekerjaan mencuci baju kita lakukan sendiri. Harap maklum, kami tidak mampu menyewa “mesin” pengering yang bisa menyetrika sambil sekaligus memasak. Kalau anda mempekerjakan pembantu, ya perhitungannya jadi lain.
Tambahan lagi, berdasarkan pembagian tugas di keluarga kami, saya kebagian jatah untuk mencuci baju. Yaah akhirnya perhitungan dagang a la perusahaan juga harus saya pakai.
Tanpa mesin pengering, maka saya harus mencuci baju setidaknya tiga hari, kalau lima load berarti lima hari, karena tempat jemurannya paling hanya cukup untuk satu load sekali jemur. Belum lagi baju yang kering di jemuran cenderung kusut, jadi tidak bisa langsung di lipat tanpa di setrika. Total waktu untuk urusan cuci baju jadi lebih dari lima jam per minggu.
Yang paling memberatkan dari alternatif di atas adalah bahwa semuanya itu harus dilakukan di hari kerja sebelum atau sepulang dari kantor. Padahal seringkali saya hanya bisa ketemu selama dua jam dengan anak-anak, yaitu sepulang saya dari kantor sebelum mereka tidur. Kalau dua jam yang sangat berharga ini juga dipakai untuk cuci baju, apa kata dunia. Belum lagi kalau di malam-malam itu anak-anak harus belajar (kan mereka homeschooler) sama saya, waaah. Kalau kata iklan MasterCard, “priceless“.
Jadilah mesin pengering baju itu bagian penting dari keluarga kami. Dengan mesin itu, acara cuci baju bisa dijadwalkan selama tiga jam berturut-turut, bisa hari Sabtu atau Ahad, dan bisa digeser-geser sesukanya tanpa harus memperhatikan cuaca mendung atau hujan atau mencrang.
Bukan lima jam, bukan disebar jadi beberapa hari, tapi tiga jam berturut-turut di satu waktu. Sangat efisien.
Apalagi dengan mesin pengering, baju yang masih panas sebagian besar tidak perlu disetrika. Langsung lipat, selesai masalah. Apalagi saya bisa membujuk Hanif (dengan bujukan yang agak garang) agar dia yang menyortir baju sampai mencuci baju sampai loading ke mesin pemanas, baru saya yang akhirnya melipat dan membereskan semuanya. Acara mencuci baju jadi sangat efisien dan sangat menyenangkan, karena bisa sambil melakukan kegiatan lain (misalnya nyapu dan ngepel dan cuci piring).
Sangat efisien. Berapa price tag-nya? Priceless!
Jadi? Ada yang mau beli mesin pengering saya nggak
This entry receives 4 comments.
Pindah ke mana bang? Masih di Singapura kan?
Jan 16, 2009 at 4:28 pm
Wah hebat pak Ery, efisien banget hidupnya, bisa memanfaatkan waktu dengan aktivitas yang selalu bermanfaat.
Pak Ery, gimana nich cara memanfaatkan waktu luang kami di Emirat, sepertinya banyak waktu kami yang terbuang percuma.
Kami kerja dengan sift 12 jam, gampangnya dalam sebulan saya kerja rata-rata 15 hari dan libur 15-16 hari. Pas liburan..kalau musim panas kita nggak bisa kemana-mana, pas musim dingin enakan tidur, parah kan…apa kata dunia?
Mohon sarannya…
Imam Handoko (Al Ain)
Jan 17, 2009 at 12:16 am
Assalam’muallaikum, Wr.Wb. kang Ery
Wah…Menarik sekali posting-ny. Saya jd tringat dgn apa yg saya pelajari di kampus bahwa “opportunity cost” jg hrs diperhitungkan dan sangat penting. Point-ny adalah hal apa saja yg bisa kita lakukan pada slot waktu yg tersedia (bisa jadi uang ato interaksi dgn keluarga sbg parameter), bukan pada seberapa byk uang yg akan kita keluarkan.
Wass.Wr.Wb.
Agni (Ehv)
Jan 18, 2009 at 7:57 am
Menarik!
Terutama bagian hitung2an mesin pengering:)
Karena selama ini pandangan umum orang2 awam seperti saya adalah cukup mahal. Sedikit koreksi, di sg sejak 1 jan 2009 tarif listrik menjadi 22.93 sen per kWh.
Terlepas besar/kecilnya jumlah nominal si mesin pengering kembali lagi kepada kultur masing2 individu/keluarga atas ‘price-tag’ akan biaya waktu kita yang digunakan. Mana yang dianggap ternyaman, terefektif dan terefisien yang bs diaplikasikan pada masing2 tipikal individu/keluarga.
Jadi…saat ini si mesin pengering sudah punya majikan yang baru, Om?
Feb 22, 2009 at 3:19 am
Your feedback, please...