Aliquam condimentum eleifend dolor. Duis semper lectus ac nisi. Fusce gravida placerat enim. Mauris eget nulla. Aliquam erat volutpat. Sed est. Maecenas pharetra, metus in accumsan eleifend, dolor dui malesuada nunc, non fringilla mauris purus sed magna.Etiam leo velit, condimentum in, molestie eget, dignissim nec, turpis.

You're here: Home → Boston Public

Boston Public

Boston Public adalah serial baru di televisi yang bercerita mengenai sebuah sekolah menengah di Amerika. Tipikal Hollywood sebenarnya, dengan ritmenya yang tinggi, tetapi banyak sekali hal “baru” bisa ditemukan di film itu, yang tidak bisa kita temukan di sekolah-sekolah di Indonesia. Tentu saja, bisa jadi hal-hal tersebut hanya bisa ditemukan di film, tidak di dunia nyata.

Lepas dari semua itu, kehidupan sekolah yang digambarkan di sana sangatlah luar biasa. Sejauh ini memang tidak (belum) terlihat bagaimana para guru berkiprah dalam mendidik murid-murid mereka dalam satu bidang ilmu tertentu. Tapi film itu menggambarkan dengan jelas betapa serius mereka menggarap pendidikan nilai (values) kepada anak didik mereka.

Seorang gadis murid tahun pertama (freshman) datang mendatangi gurunya untuk berdiskusi. Setelah mendapat jaminan bahwa pembicaraan mereka akan bersifat confidential, sang murid bertanya kontrasepsi apa yang sebaiknya dia pakai, pil, IUD atau condom? Tanpa memperhatikan gurunya yang ternganga mulutnya, dia terus berbicara mengapa dia tidak menyukai pil, tidak suka IUD, tidak suka kondom, dan karena itu dia perlu pendapat gurunya. Dia terdiam setelah sadar bahwa gurunya tidak berkata sepatah pun.

“You are only fourteen”, kata gurunya.

“Oh, stop that,” kata sang murid. Dia bilang, bahwa di rumahnya ada bapaknya yang bisa memberikan segala macam kuliah seperti itu. Dia tidak perlu kuliah itu lagi dari gurunya, dan yang diperlukannya adalah pendapat gurunya mengenai kontrasepsi yang terbaik yang harus dipakainya.

Adegan-adegan selanjutnya menjadi menarik karena dijalin dengan tiga atau empat plot yang terjadi dalam waktu bersamaan. Sang guru melalui kedekatannya dengan murid-murid lainnya, akhirnya menemukan suatu perlombaan di kalangan murid tahun akhir (senior) untuk berlomba mencari “daun muda”. Angka tertinggi diberikan kepada mereka yang berhasil berhubungan seksual dengan murid tahun pertama yang rata-rata berusia di bawah umur. Padahal setiap hubungan seksual dengan wanita di bawah umur adalah “statutory rape”, sekalipun suka sama suka. Ketika sang guru berusaha memperingatkan si gadis, ternyata semuanya sudah terjadi, dan memang si senior hanya perlu satu kali itu saja, untuk memenangkan nilai tertinggi di dalam perlombaan itu.

Yang paling mengesankan film itu adalah keterbukaan seorang murid kepada gurunya, dan konsistensi gurunya dalah menanamkan nilai kepada anak didiknya. Guru-guru di sekolah kita di Indonesia pun berupaya menanamkan nilai-nilai itu kepada para murid. Tetapi nilai-nilai itu “hanya” diajarkan sebagai sesuatu yang normatif, sehingga seringkali kehilangan relevansinya bagi sang murid, tidak diperhatikan. Akibatnya, ketika sang murid dihadapkan kepada suatu permasalahan, nilai-nilai normatif tadi malah dilupakan, padahal berulang kali diajarkan.

Permasalahannya terletak kepada momen. Suatu ketika Nabi menegur seorang perempuan yang meratapi kematian. Sang perempuan, entah tidak kenal atau karena begitu sedih menjadi tidak kenal bahwa itu Nabi, menjawab dengan pedas, bahwa kamu tidak bisa merasakan kehilangan ini. Beberapa waktu kemudian, mungkin setelah ingat (atau diingatkan) bahwa itu adalah Nabi, wanita itu datang dan mendatangi beliau untuk meminta maaf. Nabi menjawab (dengan redaksi dari saya) bahwa yang namanya kesabaran itu digunakan ketika kesedihan memuncak.

Nilai-nilai akan kehilangan relevansinya kalau diajarkan pada momen-momen yang tidak tepat. Yang paling penting untuk disampaikan adalah agar sang murid dapat menggunakan nilai-nilai tertentu ketika ia dihadapkan kepada suatu keadaan. Ada banyak cara memang untuk menciptakan momen itu, tapi yang paling efektif adalah dengan menyelami kehidupan sang murid, dan berusaha menawarkan berbagai nilai yang seharusnya dia pakai dalam menghadapi berbagai cobaan kehidupannya sebagai remaja. Dan ini, menyelami kehidupan sang murid, adalah yang paling sulit dilakukan. Tidak akan berhasil tanpa keterbukaan dari sang murid.

Dan keterbukaan itu adalah buah dari kepercayaan. Berapa banyak sih guru-guru kita yang mendapatkan kepercayaan dari murid-muridnya?

Saya jadi teringat murid-murid saya di sebuah Madrasah Minggu di Singapura. Ada Nur (bukan nama sebenarnya) yang selalu mengulang kesalahan yang sama sekalipun diperingati setiap minggu. Ada Wan (bukan nama sebenarnya) yang bercita-cita menjadi pemain bola. Sekalipun hubungan informal sudah sampai ke kedai kopi, dan berbual-bual sambil minum teh tarik.

Betapa sulit untuk bercerita kepada Nur mengenai sesuatu yang disebut self-respect, bahwa kalau dia tidak bisa menghargai dirinya sendiri, maka bagaimana orang lain tidak akan bisa menghargainya. “Alaah, Cikgu, saya ni dah tak guna lah”. And he is only fifteen. Mau jadi apa ummat ini kalau generasi mudanya berpikiran seperti itu.

Bahkan berbicara mengenai hal yang kongkret seperti karir dan uang kepada Wan saja selalu ditanggapi dengan berbagai dalih. Kalau dia ingin menjadi “another Fandi Ahmad”, sedangkan dia di usia 17 tahun belum masuk klub bola yang mengikuti kompetisi secara teratur, bagaimana dia berharap akan menggantungkan hidupnya dengan bermain bola.

Meraih kepercayaan dan keterbukaan adalah satu hal, menanamkan nilai-nilai ternyata merupakan hal yang lain yang tidak secara otomatis mudah dilakukan begitu kepercayaan didapatkan.

Di Singapura, betapa banyak sekali remaja yang perlu diraih, semata-mata karena mereka gamang dalam menghadapi kehidupan yang demikian berbeda dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh orang tua dan cikgu mereka di madrasah. Permasalahan mereka sebenarnya masalah klasik, tipikal masalah remaja. Masalah pacaran, nggak lulus pelajaran di sekolah, obat terlarang. Tapi permasalahan klasik itu, dalam bentuknya di abad yang baru ini, efeknya jauh lebih mengerikan. Lihatlah berapa banyak anak gadis yang berhubungan seks pertama kali di sekolah menengah (right after primary school, for God’s sake).

Apa yang salah dalam dunia pendidikan kita?

Membaca buku Toto Chan tentang sekolahnya yang sangat luar biasa, kita semakin menyadari betapa kita tidak memiliki figur-figur guru yang bisa mendengar dan meraih, jauh menjangkau ke dalam kehidupan seorang murid. Tanpa figur-figur itu, remaja kita akan menjadi semakin terasing dengan nilai-nilai yang selalu didengarnya, yang semakin hari akan semakin tidak relevan dengan kehidupan yang tengah dijalaninya.

Wallaahu a’lam,

AyahHanif

PS. Deen, how are the PADA boys?

This entry receives one comment.

yudit

aww.
Topik yang sungguh menarik. Saya sendiri belum mengalami dosen/guru yang menarik di fakultas anda seperti pak The. Hanya masa SMA saja. Akan saya cari film Boston Public untuk mengingatkan saya akan murid2. Aniwei, salam kenal dan Blognya, sekali lagi, amat menarik.

salam

yudi

Aug 18, 2006 at 8:28 am

Your feedback, please...

This entry was posted on Sunday, March 2nd, 2003 at 8:31 pm and is filed under Education, Indonesian. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

← Previous · Next →

Asides

If Moses had gotten the Ten Commandments on a floppy disk, it would never have made it to today. (Dag Spicer, curator of the Computer History Museum in Silicon Valley, The NYTimes Circuit, 26-Mar-2009)

“The reasonable man adapts himself to the world; the unreasonable one persists in trying to adapt the world to himself. Therefore all progress depends on the unreasonable man.”
George Bernard Shaw, Maxims for Revolutionists

“The wrath of God is the only way I can describe it. I’m used to seeing roofs off houses, houses blown over. These houses were down to their foundations, stripped clean.” said Governor Phil Bredesen of Tennessee, after surveying tornado damage there.

James Madison said, “If there be a principle that ought not to be questioned within the United States, it is that every man has a right to abolish an old government and establish a new one.” In Indonesia, …, well no comment.

Setelah empat belas hari menunggu, akhirnya saya bisa menikmati kembali berita-berita dari Bandung. Harian PR tampil dengan wajah baru dengan koneksi yang tampaknya lebih kencang.